I Wanna Reset

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 16 January 2017

Malam semakin larut meninggalkan senja yang kuratapi hari ini. Entah mengapa sulit bagiku untuk sekedar memejamkan mata. Pikirku melayang jauh membayangkan hari-hari yang kulalui hampir 3 bulan ini.

Hari itu, 20 Juni 2016. Aku bergegas pergi ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Dengan semangat aku melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah yang masih sepi. Hari ini hari pertama aku akan melaksanakan PSG. Ya, aku adalah siswi SMK kelas XII yang akan melaksanakan PSG di suatu perusahaan swasta, dan hari ini awal dari semuanya.

“Wanda!!” Sapa Rahma, sahabatku.
“tumben datang pagi-pagi? Semangat banget ya?” godanya padaku.
“Ah, kamu.. iya nih, aku gak sabar praktekin ilmu yang kita dapat di sekolah selama ini. Hehe”
“Kok aku malah deg-degan ya, gak kayak kamu semangat banget”
Kami pun hanyut dalam pembicaraan sederhana.

Tak lama kemudian..
“Hey kalian, bentar lagi kita mau upacara pelepasan nih! Ayo ke lapangan” teriak Silva, teman satu tempat PSG dengan ku. Dia juga yang menginginkan kami PSG di satu tempat yang sama.
“Ayo” sahutku dan Rahma hampir bersamaan.

Kami pun berjalan beriringan menuju lapangan utama sekolah. Sampai disana, semua siswa kelas XII dan OSIS telah berkumpul dan bersiap melakukan upacara pelepasan. Terlihat juga beberapa guru dan wakil kepala sekolah di sudut lapangan.
“Baik anak-anak, silahkan berkumpul sesuai kelas masing-masing. Kita akan mulai upacaranya” kata Pak Fahri, Kepala Sekolah kami.

Tanpa menunggu lagi semua siswa pun berbaris sesuai kelas seperti yang diperintahkan Pak Fahri. Tak lama kemudian upacara pun berlangsung. Kami semua mengikuti upacara dengan hikmat dan serius. Usai upacara, banyak dari teman-temanku berfoto bersama. Mengabadikan moment pelepasan dan banyak dari mereka yang mengupload moment ini ke sosmed untuk berbagi.

“Wanda, ayo selfie dulu bareng kita!! Kita pisah 3 bulan lho.. buat kenang-kenangan” ajak Grace, teman satu kelasku.
“Iya, aku mau ambil absen buat PSG di Bu Alice dulu ya. Kalian duluan aja” sahutku.
“Ok, nitip ya”
“Sip!!”
Aku mengacungkan jempol tanda setuju dan berlari menuju Teacher Room’s untuk mengambil absen.

Setelah semua rangkaian pelepasan hari ini, semua siswa diantar ke tempat PSG Masing-masing oleh guru pembimbing. Kebetulan, Bu Alice adalah pembimbingku dan Silva.

Pukul 09.00 kami diantar ke perusahaan tempatku dan silva melaksanakan PSG. Rona bahagia dan penuh harap memancar dari diriku. Aku telah menunggu hari ini sejak lama. Ya, aku telah mempersiapkan semuanya untuk PSG yang akan kujalani, trik dan tips telah kupelajari agar aku sukses dan mendapat nilai sempurna di akhir nanti. Setidaknya itulah yang kupikirkan. Yup! PSG lancar dan sempurna.

Hari pertama PSG biasa saja bagiku, karena aku dan Silva hanya diperkenalkan pada karyawan dan denah perusahaan. Tujuannya tentu saja agar kami mengenali lingkungan kerja.

Hari ke dua, ketiga, hingga hari ke tujuh aku mulai menghafal beberapa nama karyawan. Terutama staf satu ruangan denganku dan Silva. Jujur saja, sebenarnya aku berharap bisa terpisah ruangan dengan Silva, aku ingin menonjolkan kemampuanku tanpa ada Silva. Mungkin aku memang jahat, tetapi aku berfikir akan lebih baik dan lebih terlatih bila Silva terpisah dariku. Dan yang ku takutkan adalah, Silva lebih bersinar dariku.

Dua minggu setelah itu, aku mulai akrab dengan beberapa karyawan. Begitu juga dengan Silva. Kami sering berbicara dan sharing ketika waktu istirahat. Hingga Silva meminta bantuanku untuk mengerjakan pekerjaannya.

“Wanda, bisa tolongin aku gak? Ini gimana sih? Aku gak paham”
“Yang mana yang gak paham, Va?” tanyaku.
“Ini form nya susah bikinnya, rincian keuangan nih lagi. Bantuin dong” rengeknya.
“Iya, sini”
Aku pun membantunya hingga pekerjaannya selesai. Setelah itu jam istirahat, aku dan Silva keluar kantor untuk makan siang di sebuah rumah makan dekat kantor. Jam masuk adalah jam 1 siang. Jadi fikirku, tak apa aku keluar kantor karna sekarang masih jam 11.45 waktu yang panjang untuk makan siang.

“Kita makan di situ aja yuk, baksonya enak deh!” Ajakku.
“Ayo deh, habis ini kamu temenin aku ya, aku mau ketemu Erik”
“Siapa Erik?” aku mengernyitkan kening.
“Temen baru. Baru kenal dari BBM. Dia ngajak ketemuan katanya”
“Hhmm..”

Aku dan Silva makan siang dengan menu bakso dan es jeruk manis di rumah makan tersebut. Sembari makan, kami berbincang.
“Va, bukannya bentar lagi udah jam kerja ya? Besok aja yuk kita temui Eriknya. Aku takut dimarahin nih” kataku memperingatkan.
“Ah.. gak papa lah, kita di ruangan juga gak ada kerjaan kok. Kita temui Erik dulu. Bentar aja. Ya?”
“Hmm..”

Setelah makan siang akhirnya kami menemui teman baru Silva. Erik. Cukup lama kami bertiga berbincang bersama Erik. Dalam hati aku merasa takut karena kami berbincang tak kenal waktu. 1 jam sudah kami bersama Erik, dan akhirnya Silva pun mengajakku kembali ke kantor.
“Ayo kita balik, Wanda”
“Iya”
‘Erik, kami duluan ya. Dadah..” ujar Silva
“Iya, hati-hati ya” balas Erik.

Sampai di kantor kami terlambat. Jam sudah menunjukkan pukul 13.24. Ya. 24 menit kami sia-sia kan hanya untuk menemui seorang Erik. Begitulah. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Silva semakin berani mengajakku datang terlambat. Dan bodohnya aku, kuturuti kemauannya karna rasa setia kawanku padanya. Mulai dari berangkat ke kantor bersama, istirahat bersama kami lakukan dengan tidak disiplin. Tak jarang kami bermain internet menggunakan Wi-Fi kantor. Bahkan Silva pernah memutar mp3 dengan volume suara yang cukup nyaring.

Tak terasa sudah hampir 3 bulan aku menjalani PSG dengan ketidak disiplinan. Dan tak terasa, tinggal menghitung hari masa PSG yang kujalani berakhir. Rasa sesal yang amat dalam tak bisa kutahan lagi. Setelah tak sengaja mendengar pembicaraan beberapa karyawan tentangku, hancur sudah harapanku mendapat nilai sempurna dalam PSG.
“Kamu tau, Wanda. Anak magang yang suka internetan di ruangannya itu? Mau dikasih nilai berapa dia kalau bisanya hanya internetan” kata Kak Brytney, karyawan di kantor.
“Iya. Dia juga selalu siang datang ke kantor. Dikiranya ini kantor punya Bapak dia kali, ya” sambung karyawan lain
“Mau belajar apa mau main dia kalo kayak gini?!” kata Kak Brytney lagi.
“Tenang aja, semua orang juga tau dia dapat nilai berapa kalo etos kerjanya kayak gitu” timpal Kak Sony.
Kak Sony adalah karyawan yang satu ruangan denganku dan Silvi. Dia juga yang selalu memperhatikan kami, tapi tak pernah sekalipun mengingatkan kami bahwa perilaku kami tidak baik.
“Deg..”
jantungku berdegup kencang setelah mendengar pembicaraan mereka. Rasa sesalku timbul menyesakkan dada. Kugigit bibir bawahku menahan diri untuk tak berteriak. Terlambat sudah bagiku tuk menyesal. Waktu yang telah berlalu tak akan kembali lagi. Rasa sesalku tak akan mampu mengganti semuanya. Tak terasa menetes air mataku. Membayangkan bagaimana nasib nilaiku. Andai waktu bisa kembali. Aku ingin mengulang semuanya. Tak akan kulakukan kesalahan bodoh yang merugikanku.

Aku sadar, Silva tak sepenuhnya bersalah. Salahku sendiri yang tak bisa tegas. Tak bisa disiplin. Tak bisa menolak apa yang Silva minta. Kini sesalku tinggal perasaan yang tak berguna semata. Hanya menimbulkan sakit dan sesak di hati ini. Hancur sudah harapanku menjadi sempurna menjalani praktek kerjaku.

Air mata kembali menetes di pipiku. Semakin menambah pilu sesalku malam ini. Andai waktu bisa kembali, aku ingin mengulang semuanya. Aku ingin mengulang tiga bulanku, yang telah berlalu..

Cerpen Karangan: Waroh Matul Nurkhoimah
Facebook: Warohmatul Nurkhoimah
Nama: Waroh Matul Nurkhoimah
Umur: 17 Tahun
Tempat Tinggal: Kota Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah

Cerpen I Wanna Reset merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dari Rahim Yang Sama

Oleh:
Seharian penuh mentari menyinari bumi pertiwi. Kini ia telah kembali ke peraduannya, bercumbu dengan belahan bumi lainnya. Pendarnya yang memancar dari sela-sela awan sore di petala langit senja, kini

Titip Rindu Buat Ayah

Oleh:
Menjadi siswa kelas X semester 2 di SMA Negeri 2 Ngawi tidaklah mudah, apalagi menjelang UAS seperti ini. Pikiran dan tenaga seakan terkuras habis hanya untuk berkutat dengan tugas,

Mengenang Sebuah Mimpi

Oleh:
Semalam aku bermimpi. Dan kuanggap itu mimpi indah. Mimpi namun terasa nyata. 7 tahun lalu, aku mengenal seorang gadis. Berwajah indo, bertubuh tinggi dan langsing bak model catwalk. Kita

Musuh Dalam Selimut

Oleh:
Hari ini adalah hari yang cerah secerah hati cinta. Cinta adalah seorang gadis yang rajin, pandai dan baik hati. Saat ini cinta sedang menyusuri koridor sekolahnya untuk sampai di

Ibuku Cintaku

Oleh:
Pagi hari itu burung burung berkicau dengan suara indah, ayam berkokok, ibukku membangunkanku dari mimpiku, bintang yang masih TK ini mulet mulet seperti masih ingin tidur. Saat persiapan sekolah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *