Jerawat Puber

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 May 2020

Tepat jam 05.00 WIB, aku segera mandi, karena ini hari pertamaku sekolah di tingkat SMU. Selesai mandi, aku bergegas untuk berangkat ke sekolah.

“Eeehhh…!” Kataku berbisik. Aku hampir lupa menysisir rambutku yang menawan ini, seketika akupun memandangi wajahku di cermin.
“Woow..!” Kataku di depan cermin. Aku ternyata begitu tampan dengan baju putih abu-abu, mukaku yang mulus, putih dan bersih menambah kegagahanku. Asyiknya bercermin, tanpa sadar aku hampir terlambat, berlari-lari kecil aku menghampiri mama.
“Ma, aku berangkat dulu yah..!” Dengan wajah yang begitu ceria. Mama heran melihatku dengan tatapan yang tidak biasanya.
“Al, ada apa denganmu hari ini? Mama lihat anak mama yang satu ini, ada yang berbeda?”. Mama menanyakan dengan rasa penasaran.
“Ahh biasa saja mah. Aku pamit yah Mah! Assalamualaikum”. ucapku dan langsung berangkat ke sekolah dengan motor baruku.

“Selamat pagi anak-anak! sebelum kita belajar sebaiknya kita perkenalan dulu yah nama Bapak moccot bapak wali kelas kalian” ucap pak guru dengan raut wajah yang ceria. Setelah itu pak Moccot menyuruh kami untuk perkenalkan diri satu-satu maju kedepan dan dimulai dari depan sebelah kiri. Dan kami memperkenalkan diri setelah itu kami lanjut belajar. Bel berbunyi tanda istirahat. Aku keluar kelas dan melihat-lihat suasana di sekolah baruku aku melihat ada Budi, pangot, cutara temanku sewaktu aku masih SMP. Aku menghampiri mereka dan berbincang bincang tentang sekolah baru kami.

“Cut ini pensilmu. Makasih yah!”. Ucap seorang gadis yang sangat cantik, tinggi, putih dan punya gigi taring bercabang seperti artis terkenal di korea yang kudamba-dambakan selama ini. Mataku tak berkedip melihat kecantikannya aku melihat mulai dari ujung jilbabnya yang rucing seperti peluru laras panjang sampai ujung sepatunya. Aku tak tau kenapa aku tidak bosan melihatnya sehingga teman-teman SMP ku tercengang melihat aku memandangi teman baru mereka.

“Al. Sudah lama kita gak hunting lagi, ayok hunting Al. Tapi biasa yah kamu yang bawa kameranya. Kemaren itu aku kurang puas”. ucap Budi kepadaku dengan serius.
“Ayok..! aku sih Bud oke-oke aja. Tapi kapan Bud aku emang belakangan ini banyak kerjaan”.
“Kapan kamu bisa Al. Jangan lama-lama lah soalnya aku udah kepengen kali ini”.
“Hari ini lah Bud aku gak ada job hari ini”.
“Ehh kamu bisa Cut”. Ucap Budi sama Cutara
“Bisa Bud. Nanti kamu datang ke rumahku aja yah. Ani kamu ikut yah sama kami sekalian aku perkenalkan kota Rantau Prapat ini sama kamu yah kan?” Ucap Cutara sambil menyenggol bahunya
“Hmhm Iya deh, nanti aku izin sama Wakku di rumah. Tapi kalau Wakku tidak mengizinkanku pergi dengan kalian aku tidak jadi ikut. Tidak apa-apa yah”. Ucap Ani dengan serius.

Bel berbunyi. Waktunya pulang sekolah. Aku jadi semangat untuk pulang. Sampai di rumah aku langsung memarkirkan motorku depan rumah. Saat itu rumahku kosong. Mamaku belum pulang mengajar di sekolah aku mengambil kunci pintu rumahku di jendela yang biasa diletakkan mama disitu. aku melempar seragam baruku aku langsung bergegas mandi. Selesai mandi aku memakai baju yang paling keren dibelikkan mama untukku. Aku harus terlihat tampan nantinya karena aku akan berjumpa dengan Ani lagi. Tidak lupa aku juga menyisir rambutku dan aku memandangi wajahku yang tampan ini
“Shhit..! apa ini? Ini wajahku? Ini gak mungkin sejak kapan ini kok jadi kek gini sihh kenapa dengan wajahku yang tampan. Putih bersih ini ada jerawatnya. Ini gak adil kenapa saat aku mau bertemu gadis yang kusuka itu mukaku jadi seperti ini tp ya udah lah gak terlalu terlihat kok… Alaaah lagian kalau sudah tampan yah tampan”. Ucapku dengan percaya diri sambil memegang rambutku di depan cermin.

Aku langsung bergegas pergi ke rumah cutara tak sabar ingin bertemu lagi dengan Ani. Sampailah aku di rumah cutara. tiba-tiba kulihat Ani sangat cantik ia memakai baju kemeja biru dengan jilbab runcing bibir yang merah. Ia senyum kepadaku dengan senyuman yang terlihat gigi bercabangnya. Hatiku semakin berdetak kencang tapi gak terlalu kencang lah. Ani duduk bersama temanku di pondok itu. Kemudian aku langsung turun dari motorku dan segera menghampiri mereka.

“Al, kok lama sih. Udah jam berapa ini”. Ucap Budi dengan raut wajah cemberut.
“Maaf. Tadi di rumahku mati lampu jadi susah nyari kameranya. Oh iya Bud memori di kameranya sudah penuh. Memori hp mu bisa kan?
“Belum tau Al coba aja lah!”
“Memomu berapa gb?”
“Udah-udah pakai memori hpku saja 16gb ini.” Ucap Ani tiba-tiba
“Yok lah. Mau jam berapa lagi udah mau sore pun. Udah ayok lah. Ani kamu sama Al yah. Aku sama budi oke!” ucap cutara sambil tersenyum.

Aku langsung terdiam mukaku pucat seketika. Aku akan berboncengan dengan wanita yang kusukai ini bersama motor baruku. Hatiku berdetak lagi. itu saja lah yang dilakukan hatiku tanpa ada rasa lelah saat di dekat Ani. Kami pun berangkat pergi hunting. Selama di perjalanan mulutku terdiam mataku separuh berkedip bahkan rambutku tak bergoyang walaupun terkena angin. Cuma tangan dan kakiku yang bergerak untuk mengendarai motorku. Tak tau mengapa itu terjadi kepadaku. Padahal ada banyak hal yang mau kupertanyakan kepadanya karena aku suka dengannya.

“Al! Kok diam saja, ada apa?” Ucap Ani dengan lembut kepadaku.
“Hmhm tidak apa-apa ani”. Ucapku sambil memegang rambutku.
“Rumah kamu dimana Al?”
“Di sigambal. Oh iya tadi rumah mewah itu rumahmu yah Ani?”
“Bukan, itu rumah Wakku. Rumahku di Negri Baru”.
“Loh! Jadi kamu tinggal sama Wakmu yah?”
“Iya”. Ucap Ani.

Kami sampai ditujuan. Padahal aku tidak tau tujuannya mau kemana temanku yang tiba-tiba berhenti. Kami berada di gedung olahraga yang sangat terkenal di rantau prapat. Kami hunting dan Ani memintaku untuk foto bersamanya hatiku merasa senang gak nyangka Ani mau Makan dan kemudian kami pulang tak ada hal yang menarik.

Aku sampai di rumah segera lah aku mandi karena sudah sore sebelum mandi sebelum mandi kusempatkan untuk bercermin lagi. “Tapi astaga.. inikah wajahku?. Kenapa jerawatku jadi makin banyak?. Tadi kan gak ada”. Kupejamkan mataku sambil mengkuceknya dan kupandangi lagi mukaku. Tapi sama saja. Aku segera mandi sekaligus kucuci mukaku dengan sabun muka yang biasa kupakai. Kugosok mukaku dengan tanganku, mukaku begitu kasar heheh… aku menangis.

“Assalamualaikum. Al! Al…!”. Mama memanggilku karena mendengar suara tangisanku.
“Ada apa Ma, Al di kamar mandi”. Dengan suara merengek.
“Ada apanya kok nangis-nangis”. Ada khawatir di hati Mama. Kupakai handuk. kubuka pintu kamar mandi. Ternyata Mama berdiri di depan pintu.
“Ma lihat ini”
“Ohhh anak Mama udah jatuh cinta yah?”. Sahut Mama sambil tersenyum.
“Apanya Ma kok jatuh cinta ahh. Yang ada jatuh tertimpa tangga ahh”
“Udah ahk cepat pakai bajumu. Biasanya itu. Ayahmu dulu lebih parah lagi di leher sampai punggungpun berjerawat”.
Aku diam dan melihat Mama dengan kesal karena Mama tidak peduli. Aku langsung ke kamar pakai baju dan tidur-tidur sambil main gitar sampai malam setelah itu aku langsung tidur. Sebelum tidur aku memegang jerawatku saja. Ohh kasarnya bisikku dalam hati.

“Al..! Bangun-bangun udah pagi. Sekolah..!” Mama mengguncang tubuhku.
“Uuuuaah…” aku menguap. “Huffft.. malas sekolah Ma”.
“Baru satu hari udah malas kenapa?”
“Jerawat ini ha makin banyak kemaren gak ada Ma. Tiba-tiba udah makin banyakk”. Ucapku sambil merengek seperti menangis.
“Mana coba Mama Lihat. Ihhh Al kok makin banyaknya”
“Tuhh kan udah ahk malas sekolah”.
“Nang seusiamu sedang dalam kondiri berjerawat itu akibat hormonmu yang tidak seimbang. Lagian anak Mama tampan kok jadi jerawatnya kalah deh. Udah ahk sekolah yah. Mama udah siapin nasi goreng kesukaanmu”. Ucap mama untuk meyakinkanku.
“Yaudah iya. Al mandi dulu”. Aku segera mandi. Sebelum mandi aku sempatkan untuk bercermin lagi. “oiiidah muka. Ada apanya

Saat di sekolah semua wanita melirikku dengan wajah jijik terhadapku. Saat istirahat aku mendengar mereka, menggosipi aku. Karena jerawatku parah.
“Hey.. hey tengok Al mukanya penuh jerawat kek kodokkan” ucap mereka sambil berbisik-bisik. Aku menemui teman SMPku. Saat aku menghampiri mereka langsung bubar. Ada ini apa salahku terhadap mereka, apakah gara-gara jerawatku ini mereka jadi tak mau aku ikut gabung dengan mereka. “Oh Tuhan kuatkan aku”.

Tiba-tiba Ani menghampiriku.
“Ada apa Al kenapa kamu sendirian mana Budi, cutara dengan yang lainnya?” ucap Ani saat melihatku dengan menutupi wajahku.
“Gak kenapa, mungkin mereka ada tugas” dengan menutupi wajahku dengan tangan.
“Kenapa Al mukanya ditutupi seperti itu”. menatapku dengan heran. Saat aku membuka tanganku dan melihat Ani. Tapi pandangan Ani biasa saja tak seperti teman-teman lainnya. “Ohhh jadi itu makanya kamu menuutup wajahmu. Biasa aja sih kenapa harus ditutup gitu namanya juga masa pubertas wajar sih Al. udah udah”. Aku heran kenapa Ani berbicara seolah kami sudah teman dekat.
“Lohh kamu apa gak ngeri ngeliat mukaku yang penuh dengan jerawat ini”
“Gak lah, lagian jerawatmu kalah dengan wajah tampanmu. Tenang saja” ucap Ani menggodaku.
“Hmhm.. makasih yah Ani. Tapi Ani temanku tak mau berteman lagi padaku”.
“Aku kan ada Al… hmhm aku jadi teman barumu yah kan”.
“Hmhm.. teman labih lah?”
“Hmhm., kamu ini Al bisa saja”.
“Ani karena kamu sekarang jadi teman baruku. Aku boleh gak minta nomor hpmu”. ucapku sambil tersenyum kepadanya. Ani tersenyum kepadaku. Membuatku jadi percaya diri lagi.

Setelah beberapa hari aku tak memikirkan jerawat yang kontrak di wajahku ini. karena aku punya teman yang aku sukai. Sebenarnya aku mau berhubungan dengan Ani lebih dari teman saja. Tapi aku malu. Tapi hatiku tak sabar lagi. Saat di sekolah pada saat jam istirahat aku melihat Ani duduk di taman tempat biasa kami berbincang. Tapi entah mengapa aku tidak menghampirinya. Ani melihatku dari kejauhan. Melihatku lantaran kenapa tak menghampirinya seperti biasanya. Kemudian Ani masuk ke lokalnya.

Bel berbunyi waktunya pulang sekolah. Tepat pada pukul 14.00 WIB. Aku melihat Ani di pagar masuk sekolah. Aku mengejar Ani. Disitu semua murid berjalan hendak mau pulang.
“Ani maafin aku. Tapi aku mau bicara samamu” ucapku dengan tegang.
“Ada apa”. Dijawabnya cetuss

Kemudian aku bersimpuh di hadapanya. Semua orang melihatku. Tapi aku tak memikirnya. Aku memegang tangannya.
“Ani tak tau mengapa saat pertama kali melihatmu aku langsung jatuh cinta samamu. Aku sudah lama menyimpan perasaan ini. lantaran aku takut kau jijik melihat mukaku yang seperti ini. Terserahmu Ani tapi aku sudah bilang apa yang kupendam selama ini. mau kah kamu jadi pacarku”.
“Ehhmmhmm… iyaiya aku mau. Kamu gak usah kek gitu ah malu dilihat orang”.

Hufft aku menarik nafas panjang. Ada selaka bahagia di dada ini. disitu aku berpikir fisik tak menghalangi semuanya. Hmhm… makasih jerawat

Cerpen Karangan: Ghozali Hasibuan
Blog / Facebook: Ghozali Hasibuan

Cerpen Jerawat Puber merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menikmati Rasa Syukur

Oleh:
Kawa, sahabatku adalah sosok perempuan yang anggun dengan kekurangannya yang mudah mengeluh dan sulit berterima kasih. Namun, kekurangan itu terutup di mataku dengan rasa sayang terhadapnya yang sudah kuanggap

And At Last, We’re Together

Oleh:
Pagi ini adalah pagi yang indah untuk Arsha. Akhirnya ia bisa bersekolah di SMU Sumpah Pemuda yang selalu ia idam-idamkan. Dengan penuh semangat, ia berangkat ke sekolah bersama Ayahnya.

Ujung Ujungnya LDRan (Part 2)

Oleh:
Saat itu, kita sudah berada di ujung masa SMA. Keadaan hujan gerimis, Aku Lilly Marika adalah pacar dari seorang Maulana Idham. Saat itu, Idham sudah pulang duluan karena aku

Jangan Pinjemin HP Sembarangan

Oleh:
Siapa yang gak tau Smartphone?. Ya, tentu saja pasti semua tahu. Benda ajaib yang bisa mengeluarkan suara dan gambar melalui layar mungil ini hampir semua orang memilikinya. Dari yang

Detak Berdetak

Oleh:
Kenalkan, aku Jean. Aku anak yang paling nakal dari banyak siswa nakal yang kalian tau! Hei, jangan remehkan aku! Aku pernah memecahkan pot bunga kesayangan guru biologiku, aku pernah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *