Keseharian di Kantor

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 15 December 2017

Printer berbunyi nyaring meramaikan suasana pagi yang sepi di kantor. Secarik kertas HVS ukuran F4 keluar perlahan dari dalam mesin itu. Pamela baru saja print out laporan stock periode on hand dari sistem. Ia memegang tanggung jawab untuk mengurus stock gudang dan ATK. Laporan hasil print out itu lalu diambilnya dan ia segera ke gudang.

Ruang produksi di dalam sana masih sepi. Belum ada aktivitas produksi sama sekali. Beberapa karyawan gudang sudah datang dan tampak bersantai. Pak Teguh selaku asisten manager gudang sedang duduk di kursinya memeriksa laporan produksi kemarin yang tertumpuk di meja. Pamela lalu membuka pintu dan menutupnya kembali. Kemudian menghampiri atasannya dan berdiri sangat dekat di sampingnya.

“Laporan stock periode untuk hari ini,” kata Pamela sambil menyodorkan laporan itu ke Pak Teguh. Pria berusia 42 tahun itu lalu menoleh ke laporan tersebut. Mengambilnya dengan santai dan memeriksanya.
“Oke,” kata Pak Teguh singkat.

Baru beranjak beberapa langkah dari tempatnya berdiri, langkah gadis berkulit putih cerah itu terhenti ketika mendengar pertanyaan menggelitik baginya. Terkesan romantis dan genit untuk pria beristeri mengatakan hal itu kepada seorang daun muda.
“Kamu udah makan, say?” tanya Pak Teguh lembut seraya memutar kursinya ke arah anak buah tercintanya.
Pamela berbalik badan dan tertawa kecil. Lalu mendekat ke pria berbadan gemuk itu dan berdiri di depannya.
“Kalo belum makan?” Pamela bertanya balik. Tangannya dilipat dan badannya agak dicondongkan. Ini memang gaya khasnya.
Pak Teguh tertarik melihat gaya anak itu. Ditariknya kursi yang didudukinya dan mendekat ke Pamela. Menyadari sikap atasannya, ia mengubah posisi badannya, berdiri tegak dan kedua tangannya masih dilipatnya.
“Saya masak sayur asem. Kamu mau? Kalo mau, saya bawain ke meja kamu,” tanya Pak Teguh sambil bersandar di kursinya.
Kedua alis Pamela terangkat ke atas. Ia tidak percaya. “Beneran?”
Laki-laki itu mengangguk pelan seraya tersenyum.
“Nggak ah. Takut sayur buatan bapak rasanya asin.” Pamela senyum-senyum.
“Ya enggak lah. Kalo menurut saya itu enak.”
“Itu kalo menurut bapak. Belum tentu menurut aku. Siapa tau rasanya asin, tawar, hambar. Nggak enak deh pokoknya.” Pamela pura-pura mencibir.
“Dasar…” Pak Teguh mencubit pinggang Pamela.
Gadis itu pura-pura terkejut. Cepat-cepat ia mengubah ekspresi wajahnya. “Insyaf, Pak…” Pamela menasehati.
Pak Teguh tertawa.

Hari semakin siang. Sinar matahari siang menyilaukan mata staf-staf admin yang bekerja di dalam lobi. Dinding lobi depan kesemuanya terbuat dari kaca, termasuk pintunya. Dari dalam sini bisa melihat pintu gudang dan aktivitas karyawan di luar lobi. General manager, Pak Rieco, baru saja datang dan memarkir mobil kantornya di depan lobi.
“Fan, Pak Rieco dateng!” Lina memberi tahu. Ia jadi kerepotan sendiri menyimpan snacknya ke laci.

Fanny tampak kelabakan. Rupanya ia sedang berdandan sambil menyetel musik di handphonenya. Musik itu segera dimatikan. Make up miliknya cepat-cepat ia masukan ke dalam tasnya. Sementara Albert segera close komik online yang dibacanya sejak tadi pagi di komputer. Ia salah satu karyawan malas yang senang makan gaji buta. Cepat-cepat ketiga staf itu pura-pura sibuk.

Pak Rieco pun masuk ke lobi, lalu absen, dan berjalan masuk ke ruangannya. Wajahnya tampak serius. Melihat GM sudah datang, Pamela segera menelepon pihak gudang.
“Pak.”
“Apa?” Suara dari seberang sana terdengar halus. Rupanya Pak Teguh yang mengangkat telepon.
“Stock bahan baku gabah sariwangi tinggal sedikit. Mau keluarin purchase requisition nggak? Biar bisa tambah stock,” tanya Pamela melihat-lihat laporan stock bahan baku di sistem komputernya.
“Hmm.. Jangan dulu, Nak. Keluarin PR (purchase requisition) gabah premium aja. Jual beras premium lumayan banyak soalnya,” usul Pak Teguh.
“Ya, udah, bapak bikin PR-nya. Nanti kasih ke aku. Biar aku yang ajuin ke Pak Rieco.”
“Oke.”

Pamela lalu menutup telepon. Ia kemudian mengotak-atik sistem komputer. Ini adalah salah satu kebiasaannya menunggu datangnya dokumen sampai ke tangannya. Tak berapa lama, Pak Teguh membuka pintu lobi. Ia berjalan menghampiri admin stock yang sejak tadi menunggunya dan berdiri sangat dekat di sampingnya. PR itu ditaruhnya di atas meja. Pamela mengambilnya dan memeriksanya.
“Aku ke Pak Rieco dulu.”

Ruang GM tidak jauh dari meja kerjanya. Berjalan sepuluh langkah pun sudah sampai di depan pintu. Ia lalu mengetuk pintu sambil membuka pintu yang tertutup rapat itu sedikit lebar.
“Permisi, Pak.”
Pak Rieco mengangguk pertanda diperbolehkan masuk. Ia tampak serius. Pamela kemudian masuk ke ruang GM dan berdiri di samping meja lalu memberikan PR.
“PR gabah premium, Pak.”
GM mengambilnya dan memeriksa. “Lima ton?” Pak Rieco agak terkejut.
Pamela terdiam melihat ekspresi pimpinannya itu.

Ia paham. Perusahaan tempat ia bekerja memang masih tergolong kecil. Untuk beli lima ton gabah saja sudah termasuk lumayan banyak. Walaupun lumbung mampu menyimpan 100 ton gabah, tetapi keuangan perusahaan tidak sanggup membeli sebanyak itu. Kadang PT. Mentari harus berhutang ke pusat untuk membeli bahan baku yang persediaannya tinggal sedikit. Bukan hanya beli bahan baku saja, kadang untuk beli komputer yang rusak pun, PT. Mentari harus mengemis-ngemis ke pusat untuk pinjam uang.

GM masih berpikir di kursi kebesarannya. Matanya terpaku pada angka 5 ton yang tertulis di PR tersebut. Kemudian ia menelepon staf piutang.
“Berapa pemasukan hingga hari ini?” tanya Pak Rieco.
“Lima ratus juta, Pak,” jawab Herlin dari seberang sana.
“Sambungin ke Susi. Saya mau bicara,” pinta Pak Rieco.

Tak berapa lama, terdengar suara Susi, “Halo, Pak.”
“Ada rencana pembayaran utang, Sus?”
“Ada, Pak. Dua hari lagi saya mau bayar utang ke Rakasiwi, 40 juta. Terus bayar ke pusat 50 juta plus bunga dua persen. Jadi totalnya 91 juta, Pak,” jawab Susi di seberang sana.
“Herry ada transaksi beli nggak?”
“Ada, Pak. Dia beli dua troli yang rusak. Sama beli bindex, persediaan bindex tinggal sedikit soalnya.”
“Duit sekarang cukup buat pengeluaran seminggu, nggak?”
“Hmm.. Cukup, Pak.”
“Kita mau beli gabah premium lima ton. Atur duitnya, ya.”
“Baik, Pak.”
Pak Rieco lalu menutup telepon itu. Ia kemudian menandatangani PR tersebut dan mengembalikannya ke Pamela.
“Terima kasih, Pak. Permisi.” Pamela lalu keluar ruangan dan menutup pintu. Ia menghampiri Herry, staf purchasing yang sedang berkutat dengan PO itu.
“Kak, PR gabah premium, ya,” kata Pamela sambil menaruh PR tersebut di atas surat penawaran harga yang ada di samping komputer Herry. Herry lalu memeriksanya.

Hari semakin sore. Jam dinding di atas pintu lobi itu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Bunyi printer milik Lina dan Pamela itu cukup meramaikan keheningan. Mereka sedang sibuk print out dokumen penjualan dan stock. Begitu juga staf-staf admin lainnya tampak serius dengan pekerjaan mereka.

Pamela tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya. Membawa setumpuk form produksi yang tadi diprint-nya. Pulpen hitamnya ia selipkan di sakunya. Lalu keluar lobi dan berjalan menuju gudang.

Ruang produksi di dalam sana sangat bising. Proses produksi belum juga selesai hingga sore ini. Suara-suara mesin memekakan telinga hingga siapa pun yang berbicara harus keras-keras biar kedengaran. Terlihat beberapa karyawan produksi sedang bertugas di depan mesin. Anak-anak packing sibuk mengepak beras yang sudah dikeluarkan sebagian dari dalam mesin. Begitu juga anak-anak muat barang tampak kelelahan bolak-balik ke rak inventory untuk memindahkan kardus berisi beras hasil packing yang sudah siap jual. Sisanya adalah bagian persediaan, Pak Harun, ia sibuk mendata beras yang sudah masuk rak inventory. Tampak juga Pak Yulianto selaku manager gudang sedang sibuk memilah beras returan yang ia taruh di atas conveyor. Sementara Pak Teguh sedang duduk di dalam kantornya mengawasi semua transaksi di ruang produksi dari balik dinding kaca kantor. Pamela datang membuka pintu lebar-lebar. Lalu berdiri di tengah-tengah pintu sambil tolak pinggang.

“Waaduuuhh..” Pamela menggeleng, “Enak-enakan ya di dalem kantor.. Dingin.. Nggak panas..” Pamela pura-pura mengejek. Ia sendiri pun sudah tahu bahwa di dalam sini para atasan bisa mengamati langsung proses produksi, mengamati kinerja anak-anak gudang, mengamati proses muat barang, dan lain-lain.
Pak Teguh tersenyum, “Aku lagi ngawasin proses produksi, Nak.”
Tak ingin membalas ucapan atasannya, Pamela lalu menghampiri asisten manager itu dan berdiri di depannya.
“Tanda tangan dulu, Pak,” pinta Pamela seraya menyerahkan setumpuk form produksi.
Pak Teguh lalu mengambil form-form itu. Kursinya diputar ke mejanya yang ada di belakangnya. Ia mengambil pulpen yang diselipkan disakunya dan menandatangani satu per satu form itu.
“Besok mau stock opname jam berapa, Pak?” tanya Pamela yang berdiri di samping Pak Teguh.
“Jam setengah sembilan aja, Nak.”
“Ya udah. Entar aku bilang ke Pak Yuli.”
Selesai menandatangani form, Pak Teguh mengambil lembar ketiga dari form itu. Sisanya dikembalikan ke Pamela.
“Aku ke Pak Yuli dulu.”
Pak Teguh mengangguk.

Pamela lalu keluar ruangan. Pintu ruang kantor itu ia tutup rapat. Pemandangan masih tampak sama di dalam ruang produksi tersebut. Masih bising dengan suara mesin-mesin dan segala aktivitas yang sama seperti yang ia lihat tadi. Ia lalu menghampiri Pak Yuli yang sejak tadi masih berkutat dengan beras returannya.
“Pak!” Pamela mencoba mengeraskan suaranya biar terdengar Pak Yuli. Suara mesin-mesin itu mampu mengalahkan suara halusnya.
Pak Yuli menoleh ke samping kirinya. “Apa?” tanya Pak Yuli. Ia pun sama seperti Pamela, mencoba mengeraskan suaranya biar kedengaran.
“Besok kita stock opname jam setengah sembilan pagi.”
“Ya udah. Besok pagi jam setengah sembilan, luh kasih form stock opname ke gua.”
“Oke.”
“Luh lagi sibuk, nggak, Pamela?” tanya Pak Yuli yang sedang sibuk memisahkan beras bagus dan jelek ke dalam kardus yang terpisah yang ada di atas conveyor.
“Nggak, Pak.”
“Ya udah luh bantuin gua pilihin beras returan yang masih bisa direpacking.”
“Oke..”

Semua form produksi yang ditumpuknya jadi satu itu ditaruh di atas rak barang retur yang ada di belakangnya dan ditindih dengan barang retur tersebut. Ia lalu membantu Pak Yuli memilah-milah beras returan dan memisahkannya ke dalam kardus bagus dan jelek. Sambil ditemani suara bising mesin-mesin, Pamela menikmati pekerjaan barunya itu.

Cerpen Karangan: Lianna Dewi
Facebook: Li

Cerpen Keseharian di Kantor merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Memori

Oleh:
Hari masih gelap, tetapi sekolah sudah terlihat ramai. Hari itu murid-murid kelas 3 akan berdarmawisata, sekaligus akan mengadakan acara perpisahan di Sukabumi. Aku dan teman-teman pagi-pagi sekali sudah tiba

Find a New Love

Oleh:
Aku dulu menyukai seseorang yang usianya lebih tua dan jaraknya jauh dari usiaku yaitu 10 tahun. Dan setiap harinya aku selalu dirundung dengan harapan yang tak pasti. Keseringan galau

Perjalanan

Oleh:
Jumat pagi pun tiba, merdunya panggilan Allah pada saat pagi itu. Suara ayam pun terdengar matahari pun muncul tanpa rasa malu memancarkan cahayanya. Perkenalkan namaku Asri navitri, aku gadis

Kagum

Oleh:
Mentari pagi bersinar menunjukan sinarnya yang terang dan hangat. Aku yang sedari tadi duduk di bawah pohon mengenakan headphone sambil membaca buku dengan santai, suasana taman yang masih segar

Tatapan Pertama, Benarkah?

Oleh:
Hujan turun membasahi pelataran. Udara dingin dari tadi terus menusuk. Menembus kulit. Aku menikmati hujan sore ini di depan toko, berteduh di sana. Aku baru saja pulang dari kantor

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *