Kisah Cinta Rendy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 3 May 2018

Namaku Rendy, aku ingin menceritakan atau lebih tepatnya curhat terkait pengalaman asmaraku di tempat kerja, aku bekerja di salah satu perusahaan ternama di Indonesia yang berlokasi di Tanah Abang Jakarta, perusahaan yang bergerak dibidang perbankan, aku berprofesi sebagai karyawan call center. Di bagian call center sendiri memiliki banyak karyawan, aku sangat menikmati pekerjaanku meskipun hanya berstatus sebagai pegawai outsourcing, sudah hampir satu tahun aku bekerja di tempat tersebut tapi dari sisi asmara belum ada wanita yang menggugah hati ini, namun semua berubah ketika ada salah satu karyawan baru bernama Ismi, dia adalah karyawan baru yang baru saja selesai training, sebenarnya dia tidak sendiri ada sekitar 15 karyawan wanita dan 15 karyawan pria yang baru lolos seleksi dan lolos training yang satu angkatan dengannya.

Ismi adalah wanita yang sangat cantik matanya lentik dan bibirnya tipis imut, wajahnya mirip artis-artis genre dewasa film-film jepang, hhe. meski berkerudung dia tetap terlihat sensual karena perawakannya tidak gemuk namun tidak kurus. Aku sangat mengaguminya sejak pandangan pertama, mungkin ini yang namanya rasa suka, aku pun tidak tinggal diam dan langsung bereaksi, aku mencoba sebisa mungkin untuk berkenalan dengannya, mulai dari “ngebecandain” pada saat jam istirahat sampai meminta langsung nomor hapenya.

Sudah satu minggu setelah dia bekerja di tempat tersebut aku sudah mulai dekat dengannya, chatingan antara aku dan Ismi sudah mulai menghiasi hapeku, nampaknya semua berjalan sesuai rencana, kebetulan pada hari rabu aku dan Ismi satu shift, yah maklum saja bekerja di call center itu harus mengikuti jadwal shifting. Kesempatan ini tidak kusia-siakan, “hai Ismi, kamu sibuk ya?” kataku, “Gak kok bang, ada apa” jawab Ismi dengan nada yang genit, “nanti sore kalau kamu gak sibuk, aku anterin kamu pulang yah” sambil penuh harap, “boleh, aku gak sibuk kok bang” jawab Ismi ditambah lirikan matanya yang lentik itu, membuat hatiku makin deg-deg serrr tidak karu-karuan tak sabar rasanya ingin cepat pulang kerja agar bisa berdua bersama Ismi.

Tiba saatnya jam pulang aku langsung bergegas kekamar mandi untuk berdandan dan merapihkan penampilanku karena kencan pertama harus menimbulkan kesan yang baik, dengan motor bebeku yang tidak seberapa keren, aku mengantarkan Ismi pulang ke rumah, ouh, hari itu rasanya sangat romantis sekali sore yang mendung angin yang sepoi-sepoi ditambah lampu jalanan yang sudah mulai menyala menambah indah suasana sore itu, aaah, memang beginilah rasanya jatuh cinta, semuanya serba indah. Aku dan Ismi sesekali bercanda genit membuatku semakin kegirangan, di tengah perjalanan pulang tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, aku langung menuju halte terdekat untuk berteduh, kebetulan halte tersebut sudah dipenuhi oleh banyak orang, aku dan Ismi berteduh sambil berdiri, kulihat wajah Ismi sepertinya dia menggigil kedinginan, kulepaskan jaket yang kupakai dan mulai kututupi badanya, dia nampak menatap malu-malu, begitu romantis persis seperti kisah cinta di sinetron-sinetron, hmm, so sweet. Setelah hujan reda aku langsung mengantarkan Ismi pulang.

Tak terasa sudah 1 bulan berlalu, perlahan tapi pasti aku dan Ismi sudah semakin dekat, aku bahagia dengannya sampai pada suatu hari tepatnya pada hari kamis aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku, tepat pada jam istihat aku mengajaknya makan bersama disebuah tempat makan yang tidak jauh dari kantor, kebetulan tempat makan tersebut agak lumayan romantis, pas untuk mengutarakan perasaanku yang sudah sebulan ini meledak-ledak. Setelah bercakap-cakap kesana kemari akhirnya kunyatakan perasaan itu, “Ismi, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu” kataku, “ya bang mau ngomong apa” jawabnya, “aku cinta sama kamu, kamu mau khan jadi pacar abang?” nyataku sambil sedikit gemetar. Ismi sempat terdiam dan berfikir selama beberapa menit, dilihat dari ekspresi wajahnya dia nampaknya tidak terkejut dengan perasaan suka yang baru saja kunyatakan, dan tak lama dia memberikan jawaban “bang, maaf yah, aku gak pengen pacaran karena aku pengen fokus kerja dulu, lagian aku baru sebulan kerja di sini, kita temenan aja yah” jawab Ismi dengan nada yang tenang. Mendengar kata-kata Ismi entah kenapa hatiku jadi begitu hancur, mataku mulai berkaca-kaca, mendadak selera makanku hilang, nasi ayam panggang yang baru kumakan setengahnya kubiarkan begitu saja tapi aku tetap berusaha tenang di hadapannya dengan apa yang baru saja terjadi. Aku tetap berusaha tegar dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa sampai akhirnya acara makan siangpun berakhir dengan sebuah cerita yang sebetulnya tidak mengenakan.

Keesokan harinya seperti biasa aku menjalankan rutinitasku sebagai karyawan, namun hari ini rasanya begitu berbeda, semangat yang sebulan terakhir ini bergejolak tiba-tiba menghilang begitu saja, aku terus memikirkan ismi meski dia sudah menolaku, aku terus bertanya-tanya kenapa dia menolaku, apakah benar dia ingin tetap fokus bekerja?, apakah dia tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku sebuah perasaan cinta yang mendalam?, atau apakah ada pria lain yang dia sukai?, entahlah, yang pasti aku berharap dia merubah pendiriannya dan menerima cintaku.

Tak terasa aku sudah 2 jam melamun di depan komputerku dan tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara sorak sorai dari ruangan meeting sebelah, aku pun tersadar dari lamunan, “hmms, sepertinya ada yang ulang tahun”, pikirku. Aku pun penasaran dan mencoba menghampiri dan ternyata benar dugaanku ada pesta kecil-kecilan di ruangan tersebut, aku mencoba mendekat di antara keramaian karena penasaran, aku bertanya kepada rekan kerjaku bernama Asef yang berada dikeramaian tersebut “bang, ini ada acara apa yah? seru bener”, tanyaku, “oh, ini ada acara katakan cinta”, jawab Asef, “mmh, katakan cinta toh, pantesan seru, btw, siapa nembak siapa?”, tanya lagi diriku, “itu bang Nikolas mau nembak anak baru namanya Ismi” balas kembali Asef. Mendengar jawaban Asef membuat perasaanku semakin campur aduk, Nikolas seorang pria tampan, nakal namun populer mau menembak Ismi, huft, aku berharap Ismi tetap pada pendiriannya yaitu ingin tetap fokus bekerja.

Aku melihat keduanya dari sela-sela keramaian teman-temannya, aku mencoba mendengar percakapan keduanya ketika Nikolas menyatakan perasaan cintanya “Ismi, kamu mau nggak jadi pacar abang” dengan lembut Nikolas menyatakan perasaannya, “ya bang aku mau banget jadi pacar abang, aku juga cinta sama abang” jawab Ismi dengan nada lembut dan manja. Tepuk tangan dan langsung menghiasi ruangan tersebut, Nikolas nampak menggandeng tangan Ismi tanda mereka sudah berpacaran, semuanya nampak bersuka cita tapi tidak denganku, aku seperti tersambar petir hebat disiang bolong, hatiku seperti disayat-sayat oleh samurai yang sangat tajam, aku tak kuasa melihat keduanya, aku langsung pergi menuju ruang toilet sambil menahan sakit, kubilas wajahku dengan air sambil menghadap cermin, mencoba menerka kembali apa yang baru saja terjadi, badanku mulai gemetaran, wajahku mulai pucat layu, aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, “ini mimpi kan?”, sambil kutampar pipi kiriku dan rasanya sakit ternyata ini nyata, Ismi apa yang kamu lakukan?, padahal kamu kemarin bilang, kamu mau fokus bekerja?, katamu tak ingin pacaran?, tapi kenapa?, kenapa kamu melakukan itu. Aku berbicara pada diriku sendiri di hadapan cermin toilet, tak terasa air mata membasahi pipiku ini, aku terluka.

Hari itu menjadi hari yang paling berat bagiku, aku ingin semuanya cepat berlalu, tepat pada saat jam pulang aku tak sengaja berpapasan dengan Nikolas dan Ismi, aku pun mendadak gugup, tangan ini mendadak gemetar mata ini tak kuasa ingin menangis ketika tepat di depan mataku Nikolas sedang menggandeng Ismi, Aku berusaha tenang sebisa mungkin, “hai bro, selamat yah udah jadian”, kataku sambil menyalami Niko, “Thanks my bro”, timpal Niko, Sepertinya Nikolas sudah mengetahui kalau aku punya perasaan dengan Ismi, tapi dia nampak mengacuhkan hal tersebut. Mataku dan mata Ismi sekilas sempat bertatapan namun bibir ini mendadak membisu, ingin rasanya aku berteriak di depan Ismi tentang apa sudah dia lakukan tapi tak sepatah katapun keluar dari mulut ini pun dari bibir manisnya dia hanya sedikit melempar senyum kemudian berlalu dari hadapanku bersama dengan Nikolas yang menggandeng tangannya, rasanya aku ingin menangis, sungguh cinta ini membunuhku.

Aku segera menuju ke parkiran motor dan beranjak pulang. Sore itu nampak mendung, di tengah perjalanan pulang aku terus memikirkan Ismi dan terus bertanya-tanya, apakah tuhan tidak adil?, kenapa Ismi begitu mudahnya menerima cinta Nikolas?, apa karena dia tampan dan populer?, bukankan dia karyawan yang bandel dan suka mempermainkan hati wanita?, lalu kenapa Ismi menolakku, apa karena aku jelek, tidak keren, tidak punya reputasi, tidak sekeren Niko. Tanya demi tanya terus menghantui pikiranku.

Tak lama hujan pun turun menguyur sore itu disertai kilatan petir, aku memutuskan untuk berhenti sejenak di halte terdekat, tapi ternyata halte yang kusambangi adalah halte pas pertama kali berteduh dengan Ismi, aku sempat terdiam sejenak dan tak terasa air mata mengalir dari pipiku namun akhirnya kuurungkan niatku berteduh di Halte tersebut dan kulanjutkan perjalanan.

Aku sengaja tidak mengenakan jas hujan bahkan helmku yang “Half Face” kubiarkan kaca depannya terbuka dan kubiarkan derasnya air hujan menghujani wajahku dan menyatu dengan derasnya air mata ini, aku tidak merasa kedinginan sama sekali yang kurasakan hanya sakit hati ini seperti ditusuk-tusuk samura yang tajam, tatapan mata ini tarasa hampa, pernak-pernik lampu jalanan tak mampu menghiasi hati ini yang hancur, keramaian jalanan tak mampu menghilangkan perasaan gundah gulana, selama perjalanan pulang aku terus menangis dan menangis. Sesampainya aku di rumah, segera aku bersih-bersih dan langsung merebahkan badan ini di tempat tidur. Maafkan aku Ismi, maafkan perasaan ini, kalian berdua memang cocok, kalian seperti putri dan pangeran, sedangkan aku, aku hanya pria biasa yang suka mencari-cari perhatian tapi tak pernah diperhatikan, selamat yah Ismi dan Niko semoga kalian sampai ke jenjang pernikahan dan langgeng sampai tua nanti, amiin. Kemudian aku pun tertidur.

Cerpen Karangan: Shigie Shabetila
Facebook: Shigie Shabetilla
Nama saya Shigie Shabetila
panggilan Sigi
saya senang menulis
kali ini saya ingin menceritakan kisah cinta salah satu rekan kerjaku

Cerpen Kisah Cinta Rendy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Relationship Make Stupid

Oleh:
Pacaran. Kadang menyakitkan, kadang bikin melayang. Aku sudah setengah tahun pacaran sama si Mawar. Aku kenal dia karena aku satu sekolah sama dia. Tapi, beda kelas. Dia IPA dan

Malam pun Menangis

Oleh:
Aku menyayanginya, entah? apa yang ada di pikiranku sehingga aku terlalu tergila-gila dengannya, atau aku yang terlalu bodoh untuk mencintainya? Kurasa tidak. Karena aku, sangat menyayanginya. Tak pernah kulepas

Cinta Mikha

Oleh:
23 Desember 2014 merupakan hari perpisahan antara aku dan dia. Namaku Mikhaila Putri, biasa dipanggil Mikha, aku kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta. Dia adalah mantan pacarku

Mesin Penenun Hujan

Oleh:
Tersenyum lemah, pucat. “Kau sakiti aku kau gerami aku,” menahan napas panjang, terdiam sejenak, tangan gemetar, seolah berat di angkat di pindahkan ke nada selanjutnya. “Kau sakiti gerami kau

Berubah Menjadi Buruk

Oleh:
Pagi ini aku bersiap untuk pergi ke sekolah… Di kelas, Ada seseorang cowok yang menurutku itu ganteng, baik, dan lain lain deh dia sempurna! Aku sangat menyukainya hingga saat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *