Kuning Keemasan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 May 2017

Kuning keemasan. Satu persatu daun kiara payung itu jatuh, melenggang, bergoyang hingga akhirnya bersatu dengan tanah. Lalu berhasil menghiasi sekelilingnya dengan warna kuning, kuning, semuanya kuning. Hari itu sekolahku penuh dengan dedauan kering yang menguning, apalagi daun kiara payung yang tak pandang musim untuk menumpahkan sampahnya. Padahal, besok adalah hari H acara sekolahku.

“Aaahh, lihatlah boy kalau aku adalah Joko Tingkir, atau Pak cik Duayu akan aku tantang Dewa Hujan itu sekarang, lihatlah semua ini, jangankan mengadakan acara bahkan sekolah kita ini tidak layak disebut sekolah”, Ijal mulai geram.
“Sudahlah jal, ini bukan hanya gara-gara badai semalam. Tapi kau taulah sendiri daun kiara payung itu, macam tamu tak diundang saja”, Ali menanggapi.
Aku hanya melirik mereka sekejap, lalu kembali memungut dedaunan yang jatuh di sekitar Hall sekolahku yang hanya beratap, dinding-dindingnya hanya setngah, selebihnya terbuka. Benar kami adalah pengurus OSIS sekolah, yang kadangkala dicibir siswa lainya karena dianggap asisten, pembantu, atau sekelas kacung sekolah. Sebenarnya secara pribadi sama kesalku dengan pengurus OSIS lainya.

Entah badai itu mengisyaratkan atau menyuratkan apakah, tapi kami sungguh memusuhi badai yang datang tadi malam. Persiapan dan kesiapan sekolah yang sudah mencapai angka 90%, akhirnya menurun drastis ke angka 60%.
Bagaimana tidak, belumlah masalah sampah yang melimpah. Sungguh ironis memang, tenda-tenda yang gagah nan megah harus reot dalam semalam, penataan bunga, tatarias panggung, susunan kursi, dan spanduk-spanduk centang perenang. Compang camping. Hari ini kami pontang panting, terpogoh pogoh, bahkan terseok-seok, memperbaiki itu semua. Hendak rasanya aku menangis dan menyerah, melupakan semua jerih payah yang sudah diakukan, begitu juga yang dirasakan pengurus OSIS yang lain.
Terlebih lagi usaha yang kami lakukan hanya mendapat sindiran, bahkan jadi guyonan teman-teman lain yang tidak tergabung dalam OSIS.

“Rasain tu, siapa suruh masuk OSIS”, “Heleeh-heleeh, selamat menikmati yaa”, “Waah rajinn sekali, tapi sayangnya dengan begitu belum tentu kalian akan diterima PTN, yang ada malah nilai kalian yang turun, hahah”. Begitulah tangggapan mereka, acuh, menghinakan malah.

Rasa sedih tentu ada, kecewa jelaas, namun kami seluruh pengurus OSIS SMAN 2 Bengkulu Selatan yakin, suatu saat pengalaman ini, caci maki ini, kepedihan ini, kekecewaan ini akan menjadi penolong bagi kami suatu saat nanti. Kami yakin melalui organisasi inilah kami dapat belajar apa yang tidak kami dapatkan dalam pembelajaran formal, kami yakin organisasi ini akan menjadikan kami pribadi yang terampil, kokoh, tahan banting dan bermartabat. Karena kami sudah dilatih untuk terus bekerja, beraksi, menunjukkan siapa diri kami sebenarnya.

Hening, senyap seketika. Pukul 13.00, suara tapakan kaki perlahan mendekat menghadap ke arah kami, tepat di depanku.
“Kaliaan belum boleehh pulaaaaang!!! Apaa-apaan ini, semuanya belum beres, saya tau semalam badai, tapi kalian harus bergerak cepat, dari pagi tadi saya perhatikan kalian, tapi hasil kerja kalian nihil. Sampah dedaunan masih berserakan di sebelah ruang guru, tenda-tenda hanya setengah jadi, kursi-kursi, tata panggung, semuanya belum selesai sampai sekarang, belum lagi urusan konsumsi, dan kesiapan untuk hal yang tak terduga lainya, semuanya belumm. Kalau kalian tidak mau bekerja silahkan keluaarrr dari siniii!!!”, ungkap Kepala Sekolah dengan nada tinggi. Padahal kami sudah terseok-seok seperti ayam usai disembelih, bekerja demi sekolah ini. Tapi tetap saja dikatakan tidak bekerja, sungguh pedih rasanya.

Kawan, coba kalian bayangkan dengan keadaan sekolah yang porak poranda. Apakah bisa 50 siswa mebereskan semuanya dalam waktu 6 jam? ditambah lagi kondisi kami yang sudah diambang kelelahan. Sulit bukan? tapi begitulah semangat kami, sebenarnya persiapan yang tadinya turun menjadi 60% sudah berhasil naik menjadi 80%. Tapi tetap saja hati kami pedih akan perkataan itu, seluruh semangat kami seakan hilang bersama kata terakhir Kepala Sekolah. Kami lesu, layu, persis daun kiara payung yang berjatuhan.

Kemarahan Kepala Sekolah bagai pukulan telak yang menjatuhkan kami sampai ke dasar keputusasaan. Terlebih diriku, yang tiap hari harus bermalam di sekolah dalam seminggu ini untuk urusan administrasi, kerja lembur. Pantang menyerah, namun tak berbekas kerja itu.

Kami rebahkan bahu kami satu persatu di dinding belakang laboratorium bahasa, lalu duduk pasrah, semua tampak lelah. Dari 50 siswa-siswi terpilih, tidak ada satupun yang tersenyum, bersenang senang, atau bahagia. Wajah kami layaknya pasukan Quraisy yang kocar kacir menghadapi umat Islam dalam perang Badr. Berjumlah banyak, namun bernyali kura-kura. Bermuka masam, berambut kusut, berpakaian lusuh, dan tak punya semangat, begitulah kami sekarang. Kami sengaja bersembunyi dari keramaian, kami ingin menyerah, kami bahkan sudah sepakat untuk itu.

Laboratorium bahasa mungkin ia yang paling mengerti apa yang kami rasakan. Di sampingnyalah kami menangis, berteriak, bahkan menumpahkan amarah dengan memukul dirinya. Berbagai macam reaksi temanku ada yang menatap dengan tatapan kosong, ada yang merintih, ada yang termenung diam seribu bahasa. Ini bukanlah sekedar kesedihan. Ini adalah keputusasaan sekelompok orang yang sudah berjuang namun tak dihargai. Kami niatkan dalam hati serentak untuk mensukseskan acara pentas seni yang akan dilakukan esok. Kami tata rapi kursi-kursi, kami hias panggung, kami siapkan alat dan suluruh pernak pernik kesenian, kami sebar undangan ke seluruh penjuru Bengkulu Selatan, kami bersihkan semua halaman sekolah dari sampah dedaunan yang setiap hari terus berguguran, kami angkat soundsystem yang beratnya mencapai 80 Kg kemudian kami tata rapi, kami buat lalu pasang spanduk-spanduk raksasa bertuliskan nama sekolah, kami siapkan konsumsi, kami tebang pohon pisang untuk dijadikan hiasan, kami rajut pelepah kelapa sebagai pemanisnya, dan itu kami lakukan tanpa mengharap imbalan. Kami lakukan segalanya untuk sekolah ini walau harus terpontang panting melakukannya. Kawan begitu besar kecintaan kami terhadap sekolah ini. Namun hanya tiga, tiga kata saja yang meruntuhkan semua sendi-sendi tubuh kami, kami lumpuh, hilanglah semangat yang tadinya menggebu-gebu. “Kalian tidak bekerja”.

Cerpen Karangan: Adib Al-Fikhri
Facebook: Adib A-Fikhri
Seorang Pelajar SMAN 2 Bengkulu Selatan, Menulis adalah cara mengamalkan ilmu terindah. Satu Tulisan dapat menembak seribu kepala.
Intagram : @adibalfikhri1

Cerpen Kuning Keemasan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Persahabatan Bulu Ketek

Oleh:
Gua adalah makhluk ciptaan tuhan dengan segepok kelebihan. Salah satunya kelebihan bulu ketek. yap, bulu ketek gua memang sangat amat ramai dan selalu menimbulkan bau harum Yap, bau harum..

Please Forgive Me

Oleh:
Tangan itu masih terus memencet nomor telepon yang ada di layar handphone. Lagi dan lagi nomor yang dituju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Intan tampak mulai sebal

Talk Love

Oleh:
“Albitari Diandra dan Reyhan Andriano.” “What? Nggak mau!” Suara seorang manusia terdengar menggelegar di dalam kelas. Gadis itu tak terima dengan keputusan yang diberikan Bu Anita —wali kelas mereka.

Ternyata Kau Dekat (Part 1)

Oleh:
“Eh liz, bagiamana keadaan ibu kamu, masih sehat kan?” tanya kak edo sewaktu makan bersama dalam acara reunian SMA di sebuah restoran, mereka ada 6 laki-laki dan 7 perempuan,

I’m Telatan Not Teladan

Oleh:
Senin pagi seperti biasa Indah berangkat sekolah dengan tergesa-gesa. Karena, lagi-lagi dia harus mengalami suatu kejadian yang membuatnya gelisah, Terpepet Waktu! “Pukul 06.45,” desis Indah sambil mempercepat langkah setengah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *