Lepas Tangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 23 May 2013

Pagi itu Mei meninggalkan rumah, sapaan udara dingin pagi sukses mengenai tubuhnya. Ia Bergegas menuju sepeda, lalu mengkayuh secepat mungkin. Sekolah masuk pukul 07.00 tepat. Tapi pukul 06.55 ia masih berada di jalan. Ia tak ingin terlambat seperti yang lalu.

Mei datang bersama dengan berderingnya bel tanda KBM di mulai. Ia segera berlari menuju kelasnya. Nasib baik, belum ada guru yang masuk. Ia dapat bernapas lega.
“Mei, kamu baru datang?” Nia menepuk bahu Mei.
“Iya, alarmku tadi pagi tak membangunkanku, payah!” sahutnya.
“Tidurmu pulas mungkin Mei, jadi kamu tak mendengarnya” Nia menebak-nebak.
“Ah tidak, saat ku lihat wekerku ternyata mati, he he” Mei tertunduk sambil menggaruk kepalanya.

Mei melangkah dan duduk di tempatnya. Dengan langkah hati-hati secara perlahan Udin mendekati Mei dengan tujuan ingin mengagetkannya.
“Hei bangsawan!” sapa Udin dengan nada menyentak
“Eh, kamu mengagetkanku saja, ada apa?” Mei bangkit dari tempatnya lalu duduk di bangku sebelahnya.
Udin duduk di tempat yang tadi diduduki Mei.
“Tadi berangkat sekolah aku mengendarai sepeda lepas tangan selama satu menit, kamu pasti tidak dapat melakukannnya”, ucap Udin dengan setengah mengejek.
“Hanya satu menit? Aku dapat melakukan lebih dari apa yang tadi kau ceritakan!” balas Mei ejek Udin.
“Omong kosong, buktikan sepulang sekolah” Udin bersungguh-sungguh.
“Oke, akan kubuktikan!” Mei berkacak pinggang merasa tertantang.
Mei tak tahu apa yang dilakuakannya dan apa yang akan terjadi padanya nanti sepulang sekolah. Ia tak mahir mengendarai sepeda. Tapi karena masalah gengsi, ia menyanggupi perkataan Udin.

Tak terasa bel pulang berbunyi. Semua murid berlari berhamburan keluar kelas, tak terkecuali Mei.
“Mei, kamu membawa sepeda bukan? Boleh aku ikut?” Tanya Anis penuh harap.
“Oh tentu, ayo” Mei menjawab spontan.
Mei sudah siap dengan sepedanya, tapi sepertinya Udin tak terlihat batang hidungnya. Sepertinya dia sudah pulang, bahkan lupa akan janjinya.
“Dasar Udin penyok!” gumam Mei pelan.
Anis yang mendengarnya kebingungan.
“Ada apa?” Tanya Anis heran.
“Oh, tadi Udin mengajakku balapan sepeda” jawab Mei
“Bukannya Udin sudah pulang? Tadi katanya ingin bertanding sepakbola melawan SD sebelah di Lapangan Nyi Mas Gandasari” ucap Anis.

Kemudian Mei mengkayuh sepedanya, tak ingin berlama-lama lagi. Jalanan Nampak begitu lengang. Terlihat sawah begitu hijau bak permadani dari kejauhan. Mei berfikir ingin mengendarai sepeda lepas tangan. Bila terjatuhpun mungkin dirinya akan terjatuh di permadani, anggapnya simpel.

Tanpa berfikir panjang, Mei mencobanya. Kesan pertama memang sungguh mengasyikkan, namun hanya bertahan beberapa detik. Selanjutnya ia mencoba lagi. Karena jalanan menurun, sepeda meluncur kencang tak terkendali dan Mei masih melepas kedua tangannya. Dengan keadaan panik Anis memukul-mukul punggung Mei. Dugaannya benar, sepeda beserta keduanya meluncur menuju permadani hijau. Keduanya spontan berteriak. Lalu bangkit bagai putri lumpur.

Cerpen Karangan: Ratih Maulida Pratiwi
Blog: http://ingatanyangmenjauh.blogspot.com/

Cerpen Lepas Tangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


One and One (Part 1)

Oleh:
“Woy Ido! Tungguin gue!!!” Teriak Dio sambil lari ngejar Ido. “Halah lo lelet banget jadi cowok” Ejek Ido dari jauh. “Ayo coba kejar gue!!” Lanjutnya lalu berlari. “Eh jahat

Selamat Jalan Kepala Puskesmas!

Oleh:
Ruangan itu memang tidak terlalu luas, sehingga tidak cukup menampung semua staf puskesmas yang siang itu hadir, sebagian terpaksa berdiri di luar sambil sesekali mengintip dari balik pintu. Bahkan

Dikejar Bencong

Oleh:
Hari ini Ilham dan kelima temannya yaitu Rafael, Rangga, Bisma, Dicky dan juga Reza sedang asik berjalan-jalan di kota Jakarta. Ibukota negara Indonesia. Tapi mereka bukan naik mobil atau

Kesah Awalnya Kaitu (Part 1)

Oleh:
Di bawah pohon beringin, aku duduk bersembunyi dari sinar matahari yang nampaknya sedang on fire hari ini. Sebatang rok*k ku hisap pelan-pelan sambil menikmati suasana di bawah daun-daun yang

Cinta Bersaudara

Oleh:
Jesica mendekatkan dirinya pada Prayoga di sofa. Prayoga kelihatan aneh dan kikuk. Selain itu dia masih capek baru saja pulang kerja. Mungkin karena mereka duduk saling berdekatan. Memang saat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *