Luka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 2 March 2015

Menatap langit-langit atap kamarku membayangkan semua peristiwa yang terjadi, kenangan yang kau tinggalkan dan luka yang kau goreskan dalam hatiku. Masih sampai terasa perih sampai detik ini.

Flashback.
19 januari 2014
Hpku berdering sms masuk dari no yang tak kenal..
Hay… From 0878589xxxxxxx

Hay juga cpa ni??? Blasku..

Aku rahmad kamu temannya rini ea.. From 0878589xxxxxxx

Ea knpa?

Boleh kenalan gag.. 0878589xxxxxxx

Bolehh… Asalkan kamu sellu jujur qlo berteman sama aku..

Perkenalanku dimulai dari sejak itu awalnya aku cuek dengan dia tapi lama kelamaan sikapnya yang baik, sopan, perhatian sama aku menarik perhatian aku dan membuat aku luluh padanya..

22 januari 2014
Aku dan dia semakin dekat bahkan aku dan dia saling memangil dengan panggilan sayang padahal jelas jelas aku dan dia belum pernah bertemu dan hanya tahu dari foto saja.

24 januari 2014
Rasa kagum ke dia berubah menjadi rasa cinta dan dia juga mersakan hal yang sama katanya dia sering mengucapakan kata cinta dan berjanji tidak akan pernah meninggalkanku.

10 februari 2014
Kami sudah dekat bahkan mungkin sudah pacaran meski belum pernah bertemu hari dia pulang hanya untuk menemuiku betapa senangnya aku bisa bertemu dengan pujaan hatiku orang yang selama ini aku tunnguu.. Aku berjanji akan menerima dia apa adanya karena aku menyukainya bukan dari fisiknya tapi dari hatinya. Aku berharap dia juga bisa menerima aku apa adanya.. Aku bersiap siap dan berdandan supaya kelihatan cantik di depannya..

Aku dan dia pun bertemu namun sikapnya sedikit dingin namun tetap berpikir positif aja kalau dia pasti tetap cinta sama aku tapi harapan gak sesuai harapan ternyata dia tak bisa menerima aku apa adanya mungkin aku kurang cantik bagi dia..

Semuanya janjinya itu hanya ucapan kosong yang tak ada gunanya. Setelah kita bertemu dia hanya meminta untuk berteman saja. Membaca pesan darinya rasanya bagai tersambar petir lemas tubuh ini dan hati ini radanya sakit banget.. Namun aku tak bisa berbuat apa apa yang aku bisa hanya menangisi semua yang terjadi ini. Sejak hari itu aku bukanlah aku yang dulu lagi. Diriku berubah menjadi 180 derajat yang dulunya aku ceria, ramah tamah sekarang aku menjadi seorang gadis yang sangat dingin dan acuh pada orang di sekitarku..

Setiap hari yang aku lakukan hanya kerja, mendengarkan musik, mengurung diri di kamar. Sampai akhirnya sahabatku suudah tak bisa melihatku seperti ini.
“risaa kenapa sih loe jadi gini, loe berubah loe gak seperti risa yang dulu mana risa yang dulu risa yang selalu ceria, risa yang selalu tersenyum.. Aku tahu ris semua ini pasti karena rahmad. Sudahlah ris lupakan dia masih banyak cowok yang lebih baik dari dia.. Masih banyak yang mau sama kamu ris lihatlah dirimu kamu itu cantik, baik pasti kamu akan dapat cowok yang lebih baik dari dia”.
Aku mendengarkan ucapan vita sahabatku tapi aku hanya diam membisu. Vita mulai bosan dengan sikapku dan dia memelih untuk pergi dan meninggalkanku sendiri.

‘seandainya loe tahu vit apa yang aku rasakan, bagaimana sakitnya pasti loe bakal ngelakuin hal yang sama.. Tapi semua itu gak semudah seperti yang kamu katakan vit’. Kataku dalam hati..

Aku melewati hari-hariku dengan luka yang ia beri yang masih belum bisa terobati. Hatiku sekrang seperti sudah mati rasa. Aku mencoba meneriam dengan ikhlas namun luka ini masih belum bisa sembuh masih terasa sakit dan biarlah aku menajdi diriku yang sekrang karena aku nyaman dengan sikapku yang sekarang. Karena aku tak mau terluka terus menerus.. Saat aku mengenal cinta dan saat itu pula aku harus merasakan bagaimana rasa sakitnya luka.

Cerpen Karangan: Dita
Facebook: rdhitasari30[-at-]gmail.com
cerita ini adalah kisah yang dialami temenku..
akibat diphpin cowok sekrang dia jadi pendiam dan dingin..

Cerpen Luka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perasaan Yang Terdiam

Oleh:
Seperti biasa malam ini pun terasa sunyi di sebuah kota kecil yang hampir mati tak ada hal baru yang bisa dilakukan disini. Edo biasanya teman temanku memanggil namaku. Ntah

Indahnya Hanya Sebulan

Oleh:
Di kantor RW yang saat itu disulap menjadi warung kecil. Pak…pik…puk… krek..krek.. Suara meja, kursi yang digusur di lantai hendak dikeluarkan, lengkap dengan peralatan lainnya. “Vi, sapuin tuh ruangan

Adakah Bahagia Untukku? (Part 3)

Oleh:
“Apa pedulimu pada nyawaku? Aku nggak berhutang apapun padamu,” katanya, seolah meremehkan cewek yang ada di depannya. “Dicka!” Ada sekelumit rasa jengkel di hati Ann, “tunggu dulu!” Dia pun

Berakhir Mengenaskan

Oleh:
Tepat pada waktu hari pertama aku melaksanakan MOS (Masa Orientasi Siswa). Di situlah aku mulai mulai merasakan sesuatu yang aneh. Dan aku tak mengetahui perasaan apakah itu. Apakah aku

Nilai Sebuah Keridloan

Oleh:
Menjadi ustadz TPQ memang mempunyai keunikan tersendiri. Satu sisi gelar ini sangat mulia, dihormati orang, dipanggil Ustaaad… oleh santri-santri, dan mempunyai kenikmatan batin tersendiri ketika bisa menyampaikan ilmu membaca

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Luka”

  1. nur maria acha says:

    lumayan mirip bgt sama kisah hidup aku aku juga pernah ngalamin kaya giniemang sakit bgt klo di perlakuin kaya gini orang yg aku sayang hanya menganggap aku adalah sobatnya dia… tapi kelakuannya lebih parah dari cerita diatas… udah ahh aku males klo flasback masa lalu jadi pengen nangis…. thank ya trs berkarya bkn cerpen yg bnyk lagi ya… nice

  2. boleh kasih saran sedikit? kalau bisa sih, dalam pemakaian katanya harus konsisten… di akhir cerita aku baca, habis pakai kata “kamu”, tiba-tiba jadi “loe” … seharusnya kalau udah pakai “kamu”, ya seterusnya “kamu”… hihihihhii… maaf.. terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *