Momen Yang Tak Terlupakan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Covid 19 (Corona), Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 23 July 2021

Tepat dua tahun lamanya sejak Covid-19 ini menampakan dirinya dan mulai mencari inang untuk berkembang. Aku masih ingat betul bagaimana suamiku kehilangan nyawanya karena virus mematikan ini. Memang virus ini sangat ganas, tidak memandang ras, kelamin maupun usia. Tetapi kenapa harus suamiku yang kau jadikan tempat untuk berkembang?

Sebelum virus ini hadir, aku sedang mengandung sebuah pemberian dari Tuhan. Seseorang yang beruntung untuk menjadi pasangan seumur hidupku adalah Hadio Ali Khazatsin. Aku menikah dengan seseorang yang sangat mulia sekali pekerjaannya. Membantu orang untuk menyembuhkan penyakit yang mereka derita. Aku sudah lama menikah dengannya. Setiap pulang dari tempat dia bekerja, aku selalu tertawa melihatnya yang lusuh, kusam, tatapan yang kosong dan terlihat sekali bahwa dia sedang kelaparan. Tetapi seketika semuanya berubah, saat aku memanggil kedua anakku tuk memberitahukan mereka bahwa ayahnya sudah pulang dari bekerja. Terlihat wajahnya seketika berubah, tak ada lagi muka lusuh seakan hal itu luput ditelan bumi karena ada dua malaikat kecil didepan mata yang menyambut kepulangannya.

Aku mempunyai suami berparas tampan dan mempunyai hati bak malaikat. Ia tak kenal lelah membantu orang yang sedang melawan penyakitnya. Semenjak virus baru memakan lebih banyak korban, suamiku ditugaskan di Rumah Sakit Priemier dikawasan Bintaro. Pulang pun semakin larut, aku selalu menunggu kedatangan dirinya selepas dari pekerjaan yang mulia itu. Namun sayangnya buah hatiku sudah tertidur lelap karena waktu menunjukan sudah tengah malam. Aku selalu menemani dia makan malam, hanya berdua saja sembari bercerita tentang kejadian apa saja yang dialaminya di hari itu. Salah satu yang aku ingat adalah rumah sakit tempat ia bekerja menjadi penerima pasien yang menderita Covid terbanyak dan ia ikut turun tangan menyelamatkan penderita Covid-19 tersebut.

Aku yang mendengar perkataannya sontak dibuat kaget dan takut. Tanpa berfikir panjang aku pun menanyakannya bagaimana bila dia juga ikut terpapar virus tersebut? Tetapi jawaban yang aku dapatkan hanyalah sebuah senyuman dan perkataan yang mampu membuatku diam membisu, ia mengatakan bahwa itu sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai dokter. Perasaanku bercampur aduk antara bangga dan takut. Aku bangga karena mempunyai seorang suami yang rela berkorban demi menyelamatkan pasiennya, dan juga takut kalau ia harus merelakan dirinya direnggut oleh virus tersebut.

Suatu hari ketakutanku benar benar terjadi, entah apa salahku pada dunia ini sehingga Tuhan menjatuhiku hukuman yang tak bisa diterima oleh batin dan juga pikiranku. Dipagi hari yang cerah aku selalu salim pada saat dia berangkat kerja. Pada saat ingin mencium tangannya, kurasakan hangat yang tidak seperti biasanya. Kutempelkan langsung tanganku di dahinya dan benar saja, lumayan panas tidak seperti biasanya. Kuminta dirinya untuk langsung memeriksakan diri apabila sudah sampai di rumah sakit dan langsung meneleponku apabila hasilnya sudah keluar. Dia pun hanya tersenyum dan memberitahuku bahwa ia tidak apa apa, itu hanya demam biasa jangan terlalu dikhawatirkan. Dia pun langsung memberi salam kepada dua buah hatinya dan langsung saja berangkat.

Selang beberapa jam setelah itu ada telepon masuk dan akupun langsung mengangkatnya dan ternyata benar bahwa dia sudah terpapar Covid-19 dan akan diisolasi di RS Persahabatan. Aku yang mendengar perkataan itu seketika terduduk diam. Dari seberang telepon suaranya terdengar samar samar yang intinya tidak perlu khawatir, ia akan segera sembuh dan menemuiku di rumah. Aku hanya bisa berdoa agar diberi kesembuhan dan segera diangkat penyakitnya.

Setelah beberapa minggu terisolasi, anak-anak pun bertanya mengapa ayah tak kunjung pulang. Aku yang tidak tega hanya bisa memberi tahu bahwa ayah sedang bekerja untuk menolong orang lain yang sedang sakit. Sungguh ironi karena sebenernya suamiku sendiri lah yang sedang sakit.

Setiap sore aku berkomunikasi dengannya, mengobrol banyak hal dan tentu saja menanyakan perkembangan kesehatannya selama di rumah sakit. Tak lupa juga aku memberitahukan bahwa kedua malaikat kecilnya mulai mulai rindu akan kehadiran sosok ayahnya.

Keesokan harinya saat petang hari, aku sedang menunggu dimana ia biasa meneleponku. Kutarik kursi di ruang makan sambil meminum teh hangat dan melihat jam yang ada di ruang tamu. Telepon berdering, dengan sigap aku menjawab telepon tersebut dan ternyata dia sudah ada di depan rumah kami. Langsung saja aku mengajak kedua anakku dan langsung menuju ke pintu depan rumahku. Kupegang tangan kedua anakku disamping kiri dan kanan. Dari teras rumah kupandangi suamiku dari atas sampai bawah, kantung mata terlihat mulai menghitam, pipi gembilnya terkikis menjadi tyrus, dibalik masker yang dikenakan terlihat memang rada pucat. Sedih rasanya melihat keadaanya sekarang. Tetapi aku tersenyum dan tak mau menunjukan kesedihan itu didepannya dan anak-anakku.

Aku hanya bisa memandangnya. Dia pun melakukan yang sama. Ingin sekali aku memeluknya tapi terhalang oleh pagar yang menjadi pembatas. Ingin aku membuka penghalang tersebut dan segera menyuruhnya masuk. Tetapi itu semua tidak bisa aku lakukan. Segera aku kembali kedalam dan mengambil handphoneku untuk memotretnya agar bisa kutunjukan ke buah hatiku apabila suatu saat mereka rindu akan ayah mereka. Aku mendengar dia berbicara dari jarak yang cukup jauh, “Selamat tinggal sayang, jaga anak-anak kita ya. I love you”. Begitu ucapnya. Tak lama kemudian dia pun kembali masuk ke mobil dan kembali untuk menjalani isolasi. Dan yang tak kusangka itulah pertemuan terakhir yang sangat singkat bersamanya.

Cerpen Karangan: Paulus Dhiwanto

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 23 Juli 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Momen Yang Tak Terlupakan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga Untuk Bunda

Oleh:
Matanya tak kuasa menahan air mata setiap kali ia mengingat kejadian itu. kejadian yang hingga saat ini masih membuatnya menyesal. Rasa kehilangan itu baru terasa jika orang yang kita

Kebakaran Yang Membawa Bahagia

Oleh:
Nama saya wahyuni, panggilan keluarga & sahabat saya umi. Saya dilahirkan di tj priok daerah jakarta utara tepatnya di kelurahan lagoa. Kehidupan memang tidak bisa kita tebak dan kadang

Aku Memilih Setia

Oleh:
Aku terbangun di pagi yang cerah. Hari ini mungkin hari bahagia dalam hidupku. Perkenalkan, namaku Dea Melinda. Biasa dipanggil Dea. Aku kelas XI IPA 2, di salah satu SMA

Disukai Setan

Oleh:
Pada satu ketika fauzi yang baru berusia 23 tahun itu pertama kali mempunyai niatan serius untuk melamar satu wanita yang ia cintai dan sudah cukup lama dekat itu. Nama

Kesandiwaraan Semata

Oleh:
Malam itu, aku duduk termenung di sudut kamar. Pesan singkat dari Rossi sahabat Merry kekasihku, telah membuat ku termenung diam seribu bahasa. Tatapan mataku seakan tak kuat membendung air

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *