Playboy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 April 2018

Siang ini begitu terik. Matahari menyengat kulitku tanpa ampun. Sedari tadi aku mengusap keringat yang menetes di dahiku dengan dasi sekolahku. “Angkotnya pada ke mana sih? Sepi banget,” gumamku sambil melihat kanan kiri jalan. Berharap ada kendaraan umum yang bisa mengantarku pulang. Setelah capek menunggu, aku putuskan untuk berjalan pulang. Baru beberapa langkah aku pergi, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.

“Hey!”
“Uuwaaa!” Aku terkejut. Ia membungkam mulutku. “Hey, jangan takut! Ini Rafa. Bukan pencopet.” Katanya.
Aku tersenyum tipis. “Oh Rafa. Kirain siapa.”
“Iya,” ia tersenyum. “Maaf sudah membuatmu terkejut.”
Aku mengangguk. “Nggak papa kok. Tumben?” Kataku heran. “Tumben apanya?” Tanyanya.
“Maksudku tumben bawa sepeda sendiri. Biasanya dianterin.” Aku menunjuk sepeda gunungnya. Ia nyengir, “iya. Nggak pulang?”
“Ya pulang. Tapi nggak ada angkotan umum.”
“Nebeng aku yuk!” Tawarnya.
Aku menggeleng, “nggak usah, Fa. Aku jalan aja.”
“Ayolah,” paksanya. “Kalau nggak mau, nggak usah temenan sama aku!” Ancamnya.
“Ih.. ngancem. Emang aku harus naik di mana?” Tanyaku.
Ia menunjuk bagian belakang sepedanya. “Tuh.. tapi berdiri.”
Hah? Berdiri? Capek-capek gini trus aku harus berdiri? Rafa memandangku yang hanya menatapnya tak percaya. “Nggak mau ya udah!” Katanya.
“Eh, iya deh. Daripada jalan kaki.”

Aku mulai naik berdiri di belakangnya. “Pegang pundakku, Nindha. Biar nggak jatuh.” Katanya. Aku mulai memegang pundaknya. “Siap?” Tanyanya.
“Iya,” kataku. Kemudian ia mengayuh sepedanya meluncur ke jalan raya.

Rafa adalah kakak laki-laki sahabat karibku, April. Rafa duduk di kelas X. Sedangkan aku dan April masih kelas 3 SMP. Meskipun aku dan Rafa sering bertemu, tapi kami berdua tidak terlalu akrab. Tapi saat aku ke rumah April, dia selalu punya alasan untuk menggangguku. Untung saja aku bertemu dengannya, kalau tidak terpaksa aku harus jalan kaki.

Saat di kompleks rumahku dan rumah Rafa, aku lihat ada Gadis, anak dari seorang dokter di kompleks perumahanku, Rafa langsung berhenti. Karena berhentinya mendadak, jadi tubuhku terdorong ke depan. “Aduhh… gimana sih kamu, Fa? Jangan ngerem mendadak donk!” Keluhku kesal. Namun Rafa tak mempedulikanku. Ia malah asyik berbicara dengan Gadis. “Ayo pulang, Fa!” Ajakku. Tetap saja Rafa asyik berbicara, bahkan aku seperti tak dianggap ada!
Sudah aku pukul-pukul, aku cubit punggungnya, tapi tetep aja!

Karena kelamaan menunggu Rafa, akhirnya aku putuskan untuk turun dari sepedanya dan berjalan kaki. Aku pulang tanpa pamit dan berterima kasih kepada Rafa. Saat sudah melewati dua rumah aku menoleh ke belakang dan Rafa tak mengejarku!
“Dasar playboy! Ada maunya aja deketin aku. Kalau ada cewek lain pasti ganti cewek itu yang dideketi! Huh, playboy bau kencur!” Umpatku kesal. Sesampainya di rumah aku langsung mengucap salam, ganti baju, mencuci kaki dan tidur siang.

“Pagi Minggu yang cerah!” Sapaku pada hari Minggu ini setelah bangun tidur. Aku menuju kamar mandi dan mandi. Setelah mandi, aku sarapan. Selesai sarapan, aku hendak menonton televisi. Namun kuurungkan setelah mendengar suara ramai-ramai di depan rumahku. Aku lihat keluar. Ada Rafa, April, dan Ega sedang bermain bulu tangkis. Aku segera mengambil raket dan bergabung. Aku bertanding dengan Rafa, sedangkan April dengan Ega. Kami bermain tunggal bukan ganda. Setelah lama bermain, ada Nova, adik kelasku yang masih kelas 2 SMP. Rafa langsung menyuruh Nova untuk menggantikanku bermain. Awalnya aku tidak mau karena masih belum capek. Tapi, Rafa memaksa. Akhirnya dengan berat hati aku memberikan raketku kepada Nova. Aku duduk dan memandang mereka. “Huh!” Dengusku.

Setelah lama bermain akhirnya mereka semua capek dan duduk di sebelahku. Tapi sedari tadi Rafa mengganggu Nova. Seperti menjambak rambut Nova, memukulnya, mencubitinya, dan banyak lagi seperti yang biasanya Rafa lakukan saat menggangguku. Aku mendengus. Sedangkan April dan Ega bercanda. Aku semakin kesal saja. “Cemburu ya?” Kata Ega pelan.
“Nggak. Buat apa cemburu sama playboy?” Tanyaku. Ega hanya tersenyum mengejek.

Sore harinya..
Aku sedang ada di rumah April. Kebetulan Rafa lagi keluar. Nggak tahu ke mana. Saat aku lagi bersantai dengan April, tiba-tiba ada suara telepon berbunyi. Terdengar dari kamar Rafa yang sedang terbuka agak lebar. April mengambilnya. “Nin, telepon dari ‘Wulan’ nih. Apa diangkat?” Tanya April. “Ya siapa tahu penting.” Kataku. Akhirnya April mengangkatnya. Setelah bebicara sebentar, April berkata, “pacarnya Rafa, Nin.”
“Oh” kataku cuek. Tak lama kemudian ada telepon lagi di handphone Rafa. April mengangkat lagi teleponnya. Kali ini dengan nama yang berbeda. “Ressa, Nin.” Kata April.
“Beda lagi?” Tanyaku. April mengangguk pelan. “Ya udah angkat aja.” Kataku. Kemudian April mengangkatnya. Setelah berbicara sebentar, akhirnya April mengakhiri pembicaraannya. “Siapa, Pril?” Tanyaku.
“Pacarnya Rafa lagi.” Kata April pelan.
“Ya ampun! Tuh anak playboy ya?” Kataku kesal. April hanya mendengus.

Tak berapa lama kemudian, Rafa datang. “Fa, dari mana?” Tanya April.
“Dari jalan-jalan,” kata Rafa santai. April diam tapi tak menjelaskan bahwa pacar Rafa baru saja menelepon.

Beberapa hari ini, sikap Rafa terlihat berbeda kepadaku. Ia lebih sering mendekatiku, aku jadi heran dengan sikapnya. Setelah ada seminggu ia mendekatiku, tiba-tiba ia berbisik kepadaku. Berbisiknya sangat pelan hampir tak terdengar.
“Apa?” Tanyaku saat ia berbisik.
“Nin, kamu mau nggak jadi pacarku?” Tanyanya.
“Mmm…” gumamku.
“Bilang, Nin? Mau apa enggak?” Tanyanya.
“Beri aku waktu.” Kataku. Jadi ini maksudnya mendekatiku? Aku harus memastikan bahwa ia benar-benar serius atau tidak.

Tiga hari berlalu, namun aku belum memberi jawaban kepadanya. Hingga sikap Rafa kembali berubah. Ia seperti menghindar dariku. Saat tidak sengaja aku bertemu dengan Rafa, ia sedang duduk bersama cewek di cafe. Aku menceritakan kegelisahanku kepada April.
“Ya ampun, Nindha. Apa kamu lupa kalau Rafa itu punya dua pacar? Dia, kan, playboy.”
Aku menepuk jidatku. Oh ya. Rafa, kan, sudah punya pacar. Sejak saat itu aku menghindari Rafa. Aku masih bersyukur kepada Tuhan karena telah menyelamatkanku dari korban keplayboyan Rafa.

END

Cerpen Karangan: Ida Febrianty
Facebook: Ida Febrianty
Maaf kalau ceritanya tidak terlalu menarik. Sedikit kurang penghayatan saat menulisnya. Ini berdasarkan kisah nyata tapi dengan banyak perubahan. Tetap dengan tema yang sama.

Cerpen Playboy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Boyfriend

Oleh:
“hei, kan sudah kubilang kalau yang itu jangan pasang di sudut sana tapi pasang di atas, ngerti nggak sih kalian!” “udahlah Sel, hampir seluruh anggota panitia yang ada disini

Citarasa Cinta Masa SMA (Part 1)

Oleh:
Namanya Aldiara Sanjaya. Begitu sempurna untuk dikagumi para kaum hawa di sekolahku. Secara fisik, ia tinggi, atletis dan jelas saja tampan. Seorang yang berotak encer dalam bidang akademik dan

Bukan Karena Cinta Kak

Oleh:
Percayalah kak, ini bukan kisah cinta, dan bukan pula karena aku mencintaimu. Memang teman-teman sering menafsiriku bahwa aku tengah jatuh cinta sama kamu. Tidak…! Itu salah kak, jangan pernah

Beauty and Not The Beast (Part 2)

Oleh:
Tawa seseorang menggelegar ke seluruh ruangan diikuti tawa beberapa anak buahnya. “Hey, kenapa kalian ikut tertawa? Hanya aku yang boleh tertawa.” Bentak orang itu. “Bodoh, bodoh untuk Haryono karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *