Tahun Yang Menyedihkan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 6 January 2017

Hans adalah seorang mahasiswa sosiologi di universitas ternama di kota manado, dia tinggal di sebuah asrama yang letaknya tidak jauh dari fakultasnya. Karena waktu tempuh dari asrama ke fakultas hanya 20 menit, maka hans memilih untuk berjalan kaki. Selain menyehatkan, berjalan kaki juga membuat hans lebih leluasa untuk menghirup udara pagi sembari melihat paras cantik mahasiswi fakultas kedokteran dan fakultas ekonomi. yang menurut hans, paras mereka bagai bidadari surga yang tersesat di bumi.

Sesampainya di kampus hans akan berkumpul dengan teman sekelasnya, mereka akan membicarakan semua hal yang diawali dengan omong kosong belaka lalu ditutup dengan pertanyaan “eh ada tugas tidak?”. hidup di perantauan, hans dituntut untuk selalu hemat dalam keuangan terlebih orangtua hans hanya pensiunan tentara yang bergantung pada uang tunjangan. Untuk menopang kehidupan sehari-hari, hans selalu menerima tawaran dari teman-temannya untuk membuat tugas, pengetikan dan berbagai pekerjaan lainnya. Hans tidak pernah merasa sungkan dengan apa yang dia lakukan karena baginya selama itu halal dan tidak merugikan orang lain maka lanjutkan saja.

Suatu hari, dosen kuliah hans memberi tugas untuk meringkas pemikiran tokoh-tokoh sosiologi dalam waktu seminggu. Hans dan teman-temannya pun menyanggupi.

Derbi kemudian menghampiri hans “hans, sekalian bikin punyaku yah!” Hans yang sedang merapikan perlengkapannya pun bertanya “oke, tapi kali ini harganya 2 kali lipat, bagaimana?” derbi menganggukkan kepala “mmm.. baiklah kalo barangnya sudah siap yah!” hans tersenyum dan berkata “oke, saya senang bekerja sama dengan anda hahaha!” hans dan derbi kemudian berjabat tangan sebagai lambang kesepakatan. Hans merasa beruntung karena bisa mencari nafkah dengan cara seperti ini. Derbi dan teman-teman yang lain sebenarnya bisa mengerjakan tugas mereka sendiri, namun karena sifat pemalas maka semua diberikan ke hans. Kemalasan mereka adalah keuntungan bagi hans.

Seminggu setelah tugas selesai, hans pun menerima imbalan sesuai dengan kesepakatan, kepada teman yang kurang mampu hans membantu dengan ikhlas tanpa meminta apa-apa. Yah begitulah, kebaikan dan kelicikan adalah konsep keseimbangan yang harus dijaga oleh hans. Seiring waktu berjalan, hans mulai merasa ada yang lain dengan kesehatannya. Muncul bintik-bintik kecil di sekujur badannya. awalnya hans merasa bahwa bintik itu akan hilang dengan sendirinya. Aktifitas hans masih berjalan biasa, hingga suatu hari bintik itu mulai menyerang bagian leher dan wajah. Berbagai pertanyaan pun berdatangan mulai dari teman asrama hingga teman kampus. “ada kamu sakit?” Tanya sufran saat mereka di kampus. “Iya hans, kamu alergi ya?” sambung evans. “Aku gak tahu, apa penyebabnya. Aku merasa sehat kok!” jawab hans dengan heran. Semua kemungkinan yang ditujukan pada hans membuat hans pergi memeriksakan kesehatannya ke dokter. Pemeriksaan dimulai dari klinik kampus, disana mereka menanyakan makanan seperti apa yang dikonsumsi hans, lingkungan tempat hans tinggal pun tidak luput dari pertanyaan.

Setelah melewati proses check up, dokter pun mengatakan “dari hasil pemeriksaan kami menyimpulkan bahwa anda menderita penyakit kusta!” sontak hans terkejut mendengar ucapan dokter. Hans merasa seperti menara Eiffel baru saja menindih kepalanya. “APA? KUSTA? COBA TELITI LAGI. SAYA MERASA SEHAT DAN TIDAK ADA SATU PUN KETURUNAN KELUARGA SAYA MENDERITA PENYAKIT ITU!” jawab hans dengan nada tinggi. Suasana dalam klinik mendadak hening, semua mata tertuju pada hans. Hans lalu pulang dengan kepala tertunduk.

Malamnya hans tidak bisa tidur, dia masih meraba setiap bentol yang ada di seluruh tubuhnya. Hans bertanya-tanya dalam hening apa yang menyebabkan dia seperti ini. Keesokan harinya di kampus hans menemui seorang dosen yang pernah mengalami hal serupa, kata pak dosen kepada hans “mungkin kamu tidak boleh menkonsumsi biji-bijian seperti kacang, jagung atau kamu jangan makan telur dan ikan-ikan seperti tuna dan tongkol!, bapak dulu juga seperti ini dan bapak dilarang mengkonsumsi makanan tersebut!”. Hans tidak berkata apa-apa, pikirannya kosong yang ada hanya bagaimana agar kulitnya bisa kembali normal.

Rasa takut akan perkataan dokter membuat hans menelepon orangtuanya, hans harus segera kembali ke kampung halamannya. Sebulan menjelang liburan semester, penderitaan hans dimulai. penyakit kulit hans semakin parah. Bentol di sekujur tubuhnya semakin besar, wajah hans terlihat menyeramkan. Telinga kanan, kaki dan tangan membengkak. Hans terlihat seperti monster batu. Teman sekamar hans pun memilih pindah ke kamar yang lain karena takut tertular. Tak sampai disitu, akibat penyakitnya nyaris semua teman hans mulai menjauh. Serangan psikologis ini membuat hans putus asa. Hans kemudian mendirikan sholat dan diakhir sholatnya hans bertanya “tuhan, cobaan macam apa yang kau beri pada hamba? Kenapa seperti ini tuhan? Kenapa hamba harus menanggung semua ini tuhan?”

Airmata pun tumpah membasahi sajadah biru miliknya. Badan hans terasa lemas tak berdaya, tak ada lagi yang bisa dia lakukan, kecuali berdiam diri di kamar sembari berharap datangnya keajaiban. Segala usaha yang dilakukan hans untuk memulihkan kesehatan nampaknya sia-sia, terlebih orang yang dulunya dekat dengan hans pelan-pelan mulai menghilang seperti gumpalan asap yang lenyap terbawa angin. Untungnya, ada beberapa teman asrama hans yang berasal dari papua masih setia padanya. seperti Yohanes, herman dan Charles mereka adalah orang yang selalu mengurus segala kebutuhan hans terutama dalam hal asupan gizi. Hans bersyukur kehadiran mereka bagai secercah cahaya ditengah kegelapan. Mereka bagai malaikat yang diutus tuhan untuk mengurus hans. Persahabatan mereka lebih berharga dari emas dan permata.

Karena merasa sudah cukup merepotkan ke tiga sahabatnya, hans memaksakan diri untuk pulang ke kampung halamannya. “kawan, saya doakan semoga ko cepat sembuh” tutur Charles saat mengantar hans ke depan pintu gerbang asrama. Herman dan yohanes pun memeluknya, “kalo ko sudah tiba disana telpon saya e, supaya kami tidak khawatir” ucap herman dengan logat papuanya. Hans pun berangkat, menembus rintik hujan yang membasahi jalanan kota tinutuan. Di bandara, hans memakai jaket pemberian herman. Saat melakukan check-in, petugas bandara sam ratulangi menaruh curiga pada hans karena hans terkesan menyembunyikan sesuatu. Saat petugas bandara mengembalikan tiket pesawat pada hans dia lalu berkata “pak, silahkan ikut saya ke ruang kesehatan!” kalimat itu membuat hans memaki dalam hati, jaket pemberian herman tidak mampu menyembunyikan penyakitnya. Petugas melihat bejolan dari tangan hans saat hans mengambil tiket. Hans terpaksa mengikuti petugas bandara itu menuju ke ruang kesehatan. Di sana hans mendapat pertanyaan seperti yang dia dapatkan sebelumnya. Saya mau Tanya sama dokter yang mengijinkan kamu keluar kota, jadi silahkan tunggu sebentar!” kata perawat kepada hans. “tapi bu, pesawat saya sudah datang!” jawab hans dengan suara putus asa. Sang perawat tidak menghiraukan ucapan hans, dia sibuk menunggu jawaban dokter dari handphone miliknya.

Sayup-sayup terdengar percakapan antara perawat dan dokter ditelepon.
Perawat: selamat pagi dokter evi, saya vania petugas kesehatan bandara sam ratulangi manado. ada penumpang sekaligus pasien ibu yang menderita penyakit kulit bernama hans! Apa benar dia diperbolehkan keluar kota?” kata sang petugas sambil menatap tajam ke arah hans. Di ujung telepon, dokter berkata: kamu lihat, dia bisa jalan apa tidak? Sikapnya normal apa tidak? Kalau 2 hal itu berjalan baik maka pasien tersebut bisa melanjutkan perjalanan. Dan satu hal lagi, jangan menghambat keberangkatan pasien saya. Penyakitnya tidak akan menular pada orang lain!” Jawaban dokter membuat wajah petugas kesehatan itu memerah, entah karena malu atau marah yang jelas dia hanya menjawab “baiklah dok, terimakasih dan selamat pagi”. Petugas tersebut lalu mengizinkan hans untuk naik ke pesawat. Hans meninggalkan ruangan itu dengan senyum kemenangan.

Dalam pesawat, hans hanya duduk sambil berdoa dalam hati agar bisa sembuh secepatnya. Selama di rumah hans hanya berdiam diri di kamar, dia tidak berani ke luar rumah akibat penyakit yang menggerogotinya. Dia hanya berbaring, menatap seisi kamar dengan berlinang airmata. Ibu dan adiknya selalu setia memotivasi hans, agar lebih tabah menghadapi cobaan ini.

Karena pengobatan dokter tidak menunjukkan perubahan, maka ibu hans memilih pengobatan alternatif. Setiap hari ibu hans pergi mengendarai motor maticnya untuk mencari orang yang bisa menyembuhkan penyakit hans. Satu demi satu orang dibawa ke rumah untuk mengobati hans namun nihil, tak ada perubahan yang terlihat. Sang ibu rela berjalan jauh memasuki hutan, menaiki bukit demi kebaikan hans. Bahkan ibunya hans pernah terjatuh dari motor saat mencari orang yang bisa menyembuhkan penyakit hans, penyebabnya tidak lain karena pikiran akan kesehatan hans. Setiap malam, ibu hans tak hentinya berdoa agar diberi kemudahan dalam pencarian ini.

Sampai suatu siang, tuhan memberi jawaban atas doa sang ibu. Ketika ibu hans pergi ke kios dekat rumahnya untuk membeli susu, sang ibu sempat bertanya pada sang pemilik warung, sekiranya ada yang bisa menolong anaknya hans. sang pemilik warung dengan antusias mengantar ibunya hans pergi ke sebuah rumah seorang buruh pelabuhan. beliau bernama hardi atau yang kerap disapa pak adi. Ayah dari 4 orang anak ini dengan mantap berjanji akan memulihkan kesehatan hans sampai selesai. “tapi ibu harus menyiapkan segala sesuatu yang saya butuhkan!” kata pak adi kepada ibu hans. “syaratnya apa pak?” pak adi kemudian menjawab “ibu siapkan kain putih, sebatang rok*k filter, kemenyan, daun sirih, pinang, kapur dan bunga gambir!” jawab pak adi. Sang ibu kemudian pulang dan menyiapkan segala yang diminta.

Keesokan harinya pengobatan dimulai, selesai membakar menyan pak adi berdoa dengan ayat Al-Quran di tangannya. Air suci yang sudah dicampur dengan bunga gambir dan daun sirih itu lantas disiramkan ke tubuh hans. kemudian beliau menengadahkan tangannya dan berucap “Amin”. dalam waktu 3 hari, perubahan terlihat. Semua benjolan di tubuh hans menurun drastis, pembengkakan di bagian kaki, tangan dan telinga lenyap begitu saja. Meski baru 30 %, perubahan ini sudah cukup membuat hans sumringah. Pak adi menasehati hans agar rajin sholat dan berdoa agar semua ini segera berakhir.

Setahun sudah hans meninggalkan kuliah dan barang-barang miliknya di asrama. dan setahun itu juga teman-teman hans di kampus sudah mulai wisuda. Hans masih bergelut dalam proses pemulihan, kesehatannya pun berangsur membaik. Dalam masa tersebut hans menghabiskan waktu untuk mengasah keahliannya dalam bidang sastra. Dia mulai membuat blog pribadi, menulis dan membaca buku-buku sastra. Cobaan ini seolah menyadarkan hans, agar dia lebih dekat dengan yang Maha Kuasa. Berkah yang diterima melalui sakit yang dideritanya menyadarkan hans, bahwa banyak hal yang dia lewatkan selama dia sehat. Hans berjanji pada ibu dan adiknya, jika dia akan segera menyelesaikan tugas sebagai mahasiswa dan mencari nafkah untuk keluarga tercintanya. Terlebih kesehatan adalah hal yang penting dalam kehidupan, hans berjanji akan menjaga kesehatannya.

Di hari minggu, tepatnya di bulan September hujan turun membasahi kota ternate, kota kelahiran orangtuanya. Sang paman datang dan berjanji akan membantu proses pemulangan hans ke manado dalam waktu dekat. sampai detik ini, tak ada yang tahu secara pasti penyakit misterius apa yang menyerang hans, kini semua itu hanya menjadi cerita di masa lalu.

Malamnya, dia menulis sebuah cerpen tentang hari dimana dia jatuh dan bangkit kembali. Cerpen yang terbuat dari kepedihan dan motivasi itu diberi judul “Tahun Yang Menyedihkan”.

Cerpen Karangan: Rizal
Blog: rizalistis.blogspot.com
Seorang mahasiswa sosiologi, Pecandu Kopi, Pecinta Sastra. Suka ngoceh ditwitter @rizalistis

Cerpen Tahun Yang Menyedihkan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan yang Tak Berarti

Oleh:
Hari-hari seperti biasanya dan tidak ada yang berubah. Seperti biasa, setiap sore aku habiskan waktu untuk bermain sepeda bersama teman-teman seusiaku. Maklumlah, pada saat itu bersepeda sore sedang nge-trend

Cinta Tak Bisa Dipaksakan

Oleh:
Kehidupan seperti sebuah roda yang berputar, ya kita semua bisa merasakannya. Bahkan kebahagian bisa berubah menjadi duka dalam sedetik yang tak pernah kita duga sebelumnya. Itulah yang kualami ketika

Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)

Oleh:
“Kalau kalian mau, kalian bisa bantu-bantu berdagang bersama kami, dari pada kalian menjadi gelandangan di luar sana,” sahut Ibu Rain lagi. Joe tersenyum. “Terima kasih, anda baik sekali,” katanya.

Cerita Tentang Sahabatku

Oleh:
Sahabat adalah segalanya dalam hidup. Dia yang selalu memberi kita semangat, perhatian, cinta dan kasih sayang. Aku akan menceritakan kepada kalian tentang sahabatku. Dia sangat baik, sosok yang periang,

Pedang Kehidupan

Oleh:
Bocah itu bernama Kochi, hanya Kochi. Banyak orang mengalamatkan pertanyaan prihal nama itu. Kochi membisu. Mana sempat ia bersapa apa lagi bertanya prihal asal-usul namanya, orang tuanya saja ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *