Yang Terakhir Kalinya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 31 May 2018

Kuawali pagi yang cerah ini dengan puji syukurku kepada Tuhan, masih bisa kulihat betapa indah dan besarnya kuasa yang menciptakan segala isinya dengan sangat sempurna. Tidak kusia-siakan pula liburanku yang hanya tinggal 2 hari lagi di kota Melayu Deli ini. Kota Medan terkenal dengan julukan Kota Melayu Deli. Banyak tempat wisata yang bisa menjadi Destinasi saat berlibur. Hari ini ku mulai melangkahkan kaki menuju persimpangan jalan untuk menunggu Angkutan kota (AngKot). Saat berada di dalam Angkot, aku melihat kiri dan kanan banyak sekali perubahan saat meninggalkan kota ini pada tahun 2014 yang lalu. Pemerintah Kota Medan ternyata sudah mulai menata taman kota sehingga indah dipandang.

Hiruk pikuk manusia dan kendaraan bermotor terjadi di sepanjang perlintasan. Mereka sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Aku melihat ada seorang remaja yang memakai baju seragam yang sepertinya dia masih bersekolah, ada juga seorang ibu dengan keranjang bawaannya seperti ingin berbelanja di pasar, ada juga ku melihat seorang memakai setelan baju yang rapi dengan paduan celana bahan sepertinya dia seorang yang bekerja di kantor. Asap kendaraan bermotor menjadi santapan pagiku saat ini. Di persimpangan lampu merah aku melihat banyak pengguna kendaraan beroda dua dan beroda empat tidak mematuhi peraturan lalu lintas. Apapun yang menjadi alasan mereka, tidak seharusnya mendahului kepentingan pribadi, karena semua punya tujuan ke tempatnya masing-masing.

Kualihkan sorot mataku kepada sepasang anak yang jauh dibawah usiaku. Dari dulu sampai sekarang mereka masih saja bernyanyi saat lampu merah berhenti. Kulihat penampilan mereka begitu kumuh dengan berbagai aksesoris dan hiasan yang berada di tubuhnya. Aku merasa terenyuh, saat memikirkan dimana orangtua mereka, bagaimana dengan sekolahnya, pertanyaan itu sampai sekarang masih belum terjawab. Begitu sangat menikmatinya alunan lagu yang mereka nyanyikan, aku sampai lupa ternyata lampunya sudah berganti warna. Aku sangat menghargai usaha mereka dengan memberikan suaranya di pagi ini, akhirnya kuambil satu lembar uang dari saku celana dan memberikannya kepada anak itu. Mereka tidak lupa mengucapkan terima kasih.

Di sepanjang perjalanan, aku terus memperhatikan setiap sudut kota ini. Kota yang begitu banyak menyimpan kenangan buat aku pribadi. Ya sebuah kenangan. Tanpa sadar aku melewati sebuah kenangan itu. Aku melewati sebuah gedung 5 lantai. Spontan saja aku bersuara “Pinggir depan ya Pak” seruku kepada supir Angkot tersebut agar menghentikan laju Angkotnya. Aku segera turun dan membayar sesuai jarak tempuh yang dilalui. Kupandangi sejenak bangunan itu. Sudah hampir 3 tahun ternyata aku Lulus dari kampus ini. Ya bangunan yang kupandangi itu adalah Kampus yang selama 4 tahun aku mencari Ilmu.

Perlahan tapi pasti aku mulai melangkahkan kaki menyusuri setiap sudut bangunan ini. Aku mulai dari kantin bawah. Aku melihat begitu banyak mahasiswa dan mahasiswi untuk makan ataupun sekedar menikmati WiFi gratis dan ada juga yang sekedar bermain game. Krik… krik.. krik, suara dari dalam perutku memanggil menandakan dia sudah lapar. Akhirnya dengan rasa lapar aku juga ikut menikmati makan di kantin tempat biasa kami dulu makan bersama teman sekelas. Aku mulai memesan dengan menu favoritku waktu dulu. “Nasi sotonya satu ya Buk”, mintaku kepada ibu penjual. “Baik, silahkan ditunggu sebentar ya”, jawab si Ibu dengan ramahnya. Sifat ramahnya itu yang selalu membuat kami sering nongkrong di kantin saat Dosen tidak hadir. Aku mulai mencari tempat duduk yang masih kosong. Aku duduk di antara para mahasiwa mahasiswi ini seolah aku kembali menjadi seorang anak kuliahan.

Tiba tiba si Ibu penjual tadi datang sembari menyodorkan nasi soto yang kupesan tadi darinya.
“Silahkan dek,” kata si Ibu dengan begitu lembutnya.
“Terima kasih Bu,” sambungku dengan melempar senyum kepadanya.

Aku mulai menikmati nasi soto buatan ibu tadi, sungguh rasanya tidak berbeda walaupun sudah 3 tahun aku tidak pernah mencicipinya kembali. Sambil menikmati santapan makan siang, aku juga melihat suasana di kantin ini semakin ramai saja. Ini bisa dilihat dari meja dan bangku yang bertambah dari 3 tahun lalu. Wajar saja, mahasiswa mahasiswi yang mendaftar tiap tahunnya bertambah.

Selesai kusantap nasi soto dan merasa sudah kenyang, aku kembali berjalan memasuki lobby. Begitu membuka pintu Lobby, suasana masih sama seperti dulu. Banyak yang berkumpul sambil menonton televisi, ada juga yang berkumpul menikmati WiFi gratis sambil menunggu pergantian kelas.

Aku kembali menaiki satu per satu anak tangga menyusuri lantai kedua dari gedung ini. Aku melihat sepanjang jalan lorong ini nampaklah sepi. Ternyata mereka sedang melaksanakan perkuliahan di dalam kelas. Di sini juga tersimpan kenangan yang tak bisa dilupakan. Masih kuingat jelas saat masih semester 1, di lantai kedua inilah yang menjadi ruangan kelas kami. Saat itu kami masih begitu polos, masih sangat malu untuk memulai percakapan satu dengan yang lainnya. Tak banyak suara yang terdengar saat masih semester 1. Maklum saja, masih belum mengenal satu dengan yang lainnya. Aku seolah terbawa oleh kenangan tersebut saat melihat Dosen yang mengajar di depan sementara ada saja mahasiswa yang asyik juga bersama Handphone miliknya. Kupandangi dari luar ruangan saat Dosen tersebut memberikan materi. Tidak jauh berbeda saat aku masih mahasiswa dulu. Aku bertanya dalam hati, sudah berapa usianya, dan aku mencoba untuk menebaknya, mungkin usianya sudah menginjak angka 40 tahun atau mungkin lebih kurang sedikit. Tapi intinya beliau masih keliatan sehat. Dan mudah-mudahan akan selalu sehat.

Aku merasa lelah karena menaiki anak tangga tersebut. Kaki ku terhenti dan duduk bersandar di bangku yang berada di luar ruangan. Sambil beristirahat aku mulai mengambil sebuah Handphone dari dalam tasku. Aku kembali membuka galeri foto saat masih bersama teman-teman seperjuangan dulu. Aku berpikir sejenak dan memandangi foto demi foto. Ku pandangi sebuah foto dan bertanya dalam hati, di manakah kalian sekarang Regina, Mesita, Hartati, Melky, Raya, Efrisno, Williyam, Dodi, mungkin kalian sudah sukses sekarang, atau mungkin kalian sudah ada yang menikah. Huft… semoga suatu saat kita bisa dipertemukan dalam sebuah kegiatan atau perayaan, kataku sambil menghela nafas.

Tanpa sadar, aku dikejutkan dengan suara “kamu Vera ya,” Tanya seorang wanita yang ternyata Beliau adalah Dosen Pengujiku saat aku Sidang Meja Hijau. Melihat Beliau, ingin sekali aku memelunya. “Iya Bu, ini Vera,” jawabku dengan spontan.
Beliau bertanya lagi, “Bagaimana kabarnya, sudah kerja dimana sekarang, sudah menikah belum?” Tanyanya hingga panjang lebar sampai aku bingung untuk menjawab yang mana.
“Saya sehat bu, sekarang saya bekerja di salah satu perusahaan migas di Riau, dan saya masih belum menikah,” jawabku dengan melempar sedikit senyum kepadanya.
Bagus kalau begitu, ternyata kamu sudah sukses sekarang, sambung beliau dengan perasaan senangnya. “Di tempat kerja kamu yang sekarang, kamu masih sering menangis?” tanyanya kembali kepadaku.
“Hahahaha…” aku tertawa lepas. Ternyata beliau tidak lupa saat itu. Aku sendiri juga tidak bisa melupakan hal konyol yang pernah kulakukan.

Saat itu, tepatnya Sidang Meja Hijau pada tanggal 18 Juli 2014 merupakan hari yang bersejarah bagiku dan tidak bisa dilupakan. Seperti biasa aku mempresentasikan skripsi di depan 2 Dosen Pembimbing dan 1 Dosen Penguji. Setelah selesai mempresentasikan hasil skripsiku, Dosen Penguji mulai mengevaluasi. Di skripsi itu aku melakukan kesalahan yang sangat fatal. Ternyata ada beberapa data yang aku salah memasukkan. Dosen Pengujiku spontan menyerang seperti sedang berperang.

“Data seperti apa yang kamu masukkan ini, data sampah,” kata Beliau dengan nada tinggi. Seketika itu suasana benar-benar hening. Aku pun terdiam seolah tak sanggup untuk membela diri. Dia kembali melanjutkan, apakah kamu mau nilai meja hijau ini saya pending karena kamu salah memasukkan data? aku semakin tertunduk dan mulai menjatuhkan air mata. Aku merasa sedih, aku cuma bisa bilang saat itu “saya minta maaf”, dengan nada terisak-isak. Akhirnya dengan berbagai diskusi dan pertimbangan diumumkanlah bahwa nilai sidang meja hijauku saat A. Beliau mengatakan “nilai ini saya keluarkan dengan syarat kamu tidak boleh lagi menangis dengan alasan apapun.” Hahahaha… dengan spontan aku pun tertawa.

Setelah lama berbincang dengan Beliau, akhirnya saya pamit untuk pulang. Tak lupa aku memberi salam kepada Beliau sambil memeluk dan berkata “Terima kasih dengan semua kenangan yang sudah ibu bagikan, semoga di lain waktu kita bisa berjumpa lagi dengan keadaan yang sehat.“ Beliau hanya bisa tersenyum kecil. Perlahan aku mulai turun dan meninggalkan ibu itu sendiri. Sesekali aku menoleh ke belakang sambai melambaikan tanganku.

Di sepanjang perjalananku pulang, aku menyadari bahwa ada kenangan itu bukan tentang bagaimana kita hanya mengingat cerita yang bahagia saja, tapi kita juga perlu mengingat saat cerita itu membuatmu menangis. Itulah terakhir kali aku menjatuhkan air mata ini, karena sebuah tangisan tidak akan pernah mengembalikan waktu yang telah berlalu.

Cerpen Karangan: Vera Monica Simanjuntak
Blog / Facebook: Vera Monica Simanjuntak
Vera Monica Simanjuntak atau akrab disapa Vera ini adalah gadis berdarah Batak Toba yang lahir di Riau, 6 September 1992 dari pasangan J.Simanjuntak dan IF br. Matondang. dan saat ini dia bekerja sebagai karyawan di salah satu Perusahaan Migas di Riau.

Cerpen Yang Terakhir Kalinya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebungkus Rindu Untuk Sahabat Wanita

Oleh:
Tadi siang, di sekolah aku memperhatikan seorang wanita berpipi chubby itu. Dia menari di hadapan banyak orang, dia kurang tersenyum dalam setiap langkah yang ia tap, tap, tap kan

Menjelang Ujian Tengah Semester

Oleh:
Deni duduk termenung di meja belajarnya. Jam dinding menunjuk angka 4. petang ini, Ia berniat akan belajar semaksimal mungkin. karena besok akan diadakan UTS atau ujian tengah semester akan

TK Komplek ku Seram

Oleh:
Hay Guys, Namaku Natasya Qiftiyah. Umurku 12 tahun, aku kelas 2 SMP. Aku bersekolah di SMPN 16 SURABAYA. Hari ini aku ingin menceritakan kisah nyata tentang TK di komplek

Hidup Tak Seindah Surga

Oleh:
Di dalam gelapnya sebuah malam terdapat pemuda yang hidup dalam kesederhanaan. Ia hanya memiliki seorang ibu dan ditemani oleh 7 orang saudara-saudarinya. Ayahnya telah tiada sejak ia masih kecil.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *