After Coma

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 13 June 2021

Suara alat medis hampir saja tercabut. Gadis itu belum ada tanda jika dia sudah sadar. Segala cara telah dilakukan. Dengan susah payah. Tetap saja Hwang Rim tidak terbangun. Perlahan airmata jatuh membajiri pipi. Mata terbuka. Dan gadis itu terkejut berusaha memberontak. “Kau sudah sadar Nak?”
“Siapa aku?”
“Kau Hwang Rim dan ini Jung Mi adikmu.” Jung Mi menatap penuh tidak suka. Sekarang begini rasanya ketika punya saudara yang membenci sejak lahir tanpa alasan pasti.

Belum bisa mengingat peristiwa terjadi. Eomma berusaha membantu. Di tengah malam hari perut Hwang Rin terasa lapar mampir ke sebuah supermarket dan gadis itu menabrak sesuatu. Rasa panik menghampiri akibat seseorang menggunakan hoodie penutup kepala terus mengejarnya ia menggunakan kacamata hitam. Sekelebat bayangan samar-samar muncul di kepala.
Lalu di tambah ada sebuah mobil dari arah jalan melaju kencang. Sehingga terkapar jauh kepala terbentur mengeluarkan banyak darah.

“Aku sama sekali tidak ingat siapa aku?” Raut kesedihan membajiri mata Eomma.

Berhari-hari Hwang Rin dirawat belum ada perubahan. Semakin kesal malah memilih berjalan ke taman membawa kursi roda. “Noona, Dokter ingin bertemu anda…” Suster mendorong kursi roda membawa bertemu Dokter sehabis merawat pasien.
Di sanalah mata tertuju pada seorang lelaki tampan.
“Kau bisa pulang, dengan begitu dapat membantumu mengingat semuanya.” Hwang Rin mengangguk.

Setelah semua koper berisi pakaian dimasukan. Di rumah ramai ada beberapa orang berkumpul. Tapi wajahnya sungguh asing. Pertanyaan muncul di benak gadis itu mengapa tak ada satupun yang dia kenali. Rasa frustasi ada Hwang Rin ingin sekali menonjok diri-sendiri. Perlahan melangkah ke dalam kamar mengunci diri meninggalkan pesta ttaebokki dan mencari kesibukan menemukan beberapa cd jadul dari Lee Sun Hee, S.E.S, Shinwa, dan juga H.O.T, Lee Juk. Terus menatapnya lalu memutar dengan radio. Benar sekali di zaman modern masih ada koleksi begini.

“Ini hadiah dari ayahmu semenjak menonton drama Reply ayahmu ingin membelikan hadiah kaset tersebut.” Suara ibu ada di balik pintu.
Bertanya mengapa ayah belum nampak? Kemudian kembali bersuara. “Di mana dia?”
“Dia siapa?” tanya Eomma.
“Appa,”
“Kau tenang saja dia sedang lembur kerja sebentar lagi pulang.” ucap Eonma dengan senyum tulus.

Baru saja dibahas di luar sudah ada suaranya membawa kantung plastik berisi nasi goreng kimchi, beberapa soju dan juga buah-buah. Kata Dokter tubuh harus terisi makanan bergizi begitulah saat perbincangan terdengar.

Keluar dari kamar benar saja tampilannya begitu berantakan terkena rintik hujan. Dan basah sekali kemudian gadis itu refleks mengambil handuk. Perlahan segera menuju meja makan cuma Appa, Eomma, satu lagi adik, dan tentunya Hwang Rim.

Jung Mi menatap kesal penuh kebencian sejak dulu semua kemauan Hwang Rin selalu dipenuhi sedangkan dirinya merasa seperti anak tiri. Ketika lolos tahap seleksi menjadi model Jung Mi dianggap kurang berprestasi, lalu disaat lomba menari tarian modern tak ada satu pun memberi selamat. Semua orang punya kemampuan masing-masing bukan? Belum habis makanan menaruh sumpit di meja.

Benci sekali pada kehidupan ini terlalu menyakitkan mengunci kamar terpajang poster Bts, Exo, Super Junior, The Boyz, Treasure. “Kapan aku bisa jadi idol aku ingin sibuk dan tak ada di rumah ini?”
“Aku bisa pindah ke apartemen, suaraku kan bagus.” Pede Jung Mi mulai menutup mata.

Hwang Rin penasaran kenapa sang adik begitu ketus? Dan meninggalkan makanan. Apakah mereka pernah bermasalah? Terus berputar di benaknya.

Pagi cerah kemudian gadis itu segera pergi keluar demi menghirup udara segar sembari berolahraga. Tiba-tiba ada lelaki tampan menyapa.
“Kau baru saja bangun dari koma, kau amesia, jadi kau tak ingat saat kita mabuk bersama.” Siapa dia? Gerutu Hwang Rin bertanya dalam hati.
“Aku Lee Hyun Soo, kau panggil aku Hyun Soo.”
“Kau Hyun Soo… Hyun Soo siapa? Aku sama sekali tidak mengingatmu.”
“Kau ingat kencan buta yang pernah direkomendasikan seseorang sehingga kita berkencan, tapi kau malah mabuk dan kita hampir melakukan…” Menampar keras sehingga berbekas merah.
“Aish! Dasar tak berguna kau pergilah aku muak padamu.” ujar lelaki tersebut menyeretnya pergi.
“Mudah saja dibodohi, dia memang mabuk tapi Hyun Jae mengantarmu pulang dia menyalamatkanmu teman yang bodoh.” ucap Hyun Soo memengagi bekas tamparan.

Di tengah ketakutan dan duduk di sebuah kursi taman sebuah tangan memberikan kain. Menoleh dan menatap wajah itu. Namja lagi? Aniyo ini menakutkan bisa saja orang jahat. Segera berlari.

“Aku Hyun Jae… kau lupa ya?”
“Hyun Jae, permisi aku tidak ingat.” Berjalan cepat sebuah suara kencang terdengar. “aku Hyun Jae orang yang menyelamatkanmu dari klub berbasis hotel itu, di sana kau selamat karenaku aku hanya ingin mengembalikan ini…” Menatap ke sana menemukan ponsel berwarna pink ada gantungan kunci ponsel lipat berbentuk kecil.
“Gomawo.” Membungkukkan badan lalu pergi.
“Ne.” Hyun Jae perlahan juga menjauh.

Sejak hari itu pula Hyun Jae selalu menemani hari-hari di kampus dan ia kelihatan bahagia. Sampai di mana?
Hyun Jae datang dan membawakan setangkai bunga menyatakan cinta. Kami resmi menjadi sepasang kekasih. Di satu sisi mantan kekasih Hyun Jae selalu meneror memaksa putus.

Airmata mengalir di pipi. Sepanjang perjalanan menuju rumah berjalan kaki gadis itu menangis. Bukan lagi keceriaan kata-kata tadi begitu menusuk di toilet kampus.

“Jauhi Hyun Jae, atau bisa saja rumahmu akan hancur, apa saja bisa aku lakukan untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.”

Berasal dari keluarga miskin memang menyakitkan sebuah mobil menabrak Hwang Rim hingga kembali terjatuh ke jalan. Dan pingsan. Semua terasa kunang-kunang.

Perlahan mata terbuka kemudian gadis itu menemukan dirinya sadar. Lalu berkata “aku di mana? Kenapa kepalaku terasa sakit? Ibu di mana?” Sang Ibu ada disisi Hwang Rim memeluk erat.

Selepas kejadian tersebut Hwang Rim menjalani hidup normal. Berjalan ke kampus menyinggung senyuman. Tidak ada perasaan aneh, tiba-tiba lelaki tampan menghampiri.

“Kau ke mana saja?”
“Kau memanggilku, aku sama sekali tidak mengenalmu.” ucap Hwang Rim kurang nyaman.
“Apakah ingatanmu kembali, oh kenalkan aku Hyun Jae aku sudah tahu semuanya tentang hari itu.” Mendadak bingung. Hwang Rim menggaruk kepala menjabat tangan. Setelah mengobrol singkat, mereka berjalan beriringan. Tanpa saling membahas apa pun. Ini cara Hyun Jae untuk belajar mengejar kembali dari awal. Sampai gadis itu tahu akan keseriusannya.

Bukan suatu permainan bisa saja berubah. Hyun Jae tulus mencintai Hwang Rim segenap hati baginya cinta harus dikejar. Belum ada kata bosan pada hati, sulit untuk berdusta kalau Hyun Jae menyayangi gadis itu tanpa ada sesuatu.

“Aku akan mencoba mengembalikan harimu, menjadi warna cerah supaya kau tetap padaku, aku yakin kau akan mencintai aku lagi.” ujar Hyun Jae memberikan seulas senyum tipis.

Bahagia terpancar.

Sedangkan Hwang Rim terus bertanya ada apa sebenarnya? Kenapa ini terjadi? Apa maksud tujuan dari lelaki itu? Benarkah dia serius. Sepanjang menikmati makanan cepat saji, dan minuman soda Hwang Rim masih memikirkan rencana diperbuat Hyun Jae padanya. Perhatian kecil diberikan membuat dirinya merasa tergugah.

Sekelebat bayangan muncul seperti menarik Hwang Rim pada cerita kosong perlu isi. Mengatakan jika Hyun Jae pernah mencintainya secara tulus. Saatnya dia membuktikan kalau ingatan bukan cuma sekedar mengetahui, namun ingatan menjadi kunci bahwa mereka pernah saling jatuh-hati. Meski sebatas ingatan lalu, namun Hwang Rim akan menyimpan erat-erat gengaman cinta ini.

Selesai

Cerpen Karangan: Hardianti Kahar
Blog / Facebook: TitinKaharz
Nama pendek: Titin
Usia: 26 Tahun
Akun Wattpad: @titinstory yang lama tidak bisa login @titinghey
Akun NovelToon: Titin Kahar

Cerpen After Coma merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salju Pertama Bulan Desember

Oleh:
Cinta tak akan pernah saling melupakan, tetapi cinta bukan pula sebuah ingatan yang menjadi sebuah kenangan, itulah yang kini ada dalam pikiran Park Rin Rin, bukan karena ia ingin

Tasya Meet Suju

Oleh:
Lama tidak melihat super junior, membuatku kembali terpukau malam ini. Penampilan mereka di super show 5 in jakarta, membuat aku merasa jatuh cinta lagi. Sempat aku merasa tidak suka

Is This My Fault?

Oleh:
“Lihatlah tanganku ini chagi ya, ini sakit…” “Mana oppa? Bagian manakah yang sakit? Oh ya ampun, ini memar. Pasti sakit sekali?” “…..” Yah, seperti itulah kira-kira percakapan romantis dari

Psychopath

Oleh:
“Kang Min-Suk” Teriak Hwa-Yeon memanggilnya dari kejauhan. “Waeyo Hwa-Yeon?” Jawab Min-Suk. “Min-Suk, kamu… Kamu… Dengar kabar kalau Hye-Soo meninggal kan?” Tanya Hya-Yeon Kepada Min-Suk. “Aku Sudah Dengar. Waeyo?” Jawabnya.

Winter Love Korea

Oleh:
“Annyeong! Chae Yoo! Song Mi!” Seru seorang gadis sambil menghampiri 2 gadis lainnya. “Annyeong, Jung Eun. Adik bermasalah lagi?” Balas Chae Yoo. “Ne,” jawab Jung Eun sambil mengatur napas.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *