Aku Ingin Memeluk Mu Seperti Dulu Oppa (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 24 March 2015

Kasih sayang Hyun Hwa kepada sang adik sangat lah besar, karena menurut pemuda berpostur tubuh tinggi tegap itu hanya adik nya lah sisa nafas nya yang ada di dunia saat ini. Kepergian kedua orangtua mereka dan sang kekasih, saat adik nya berusia 7 tahun bukan lah kenangan bahagia yang bisa diingat dalam memori nya, hanya tetesan air mata lah yang terkadang menetes dari sudut mata sipit itu. Hyun Hwa tak pernah menyangka jika sekarang adik perempuan nya sudah dewasa dan tumbuh menjadi gadis yang sangat manis, masih teringat dengan jelas di ingatan pemuda itu, bagaimana hari-hari Lee Hye In sang adik saat pertama kali menjalani hidup nya tanpa kehadiran kedua orangtua mereka, gadis berparas manis itu hanya mengurung diri di dalam kamar, sambil terus memanggil kedua orangtua nya sungguh saat itu ingin rasa nya Hyun Hwa memeluk adik nya, tapi kaki nya tak memiliki tenaga untuk melangkah ke kamar sang adik, sekarang kenangan sedih itu telah sirna setelah Hye In memiliki seorang kekasih, kepribadian Hye In yang ceria, ramah perhatian, tidak memilih teman, mudah bergaul kembali lagi semua itu bisa sedikit mengurangi beban yang dirasakan oleh pemuda bernama lengkap Lee Hyun Hwa. Bagaimana kah kelanjutan kisah antara kakak beradik ini, dan apa sebenarnya yang disembunyikan oleh Hyun Hwa dari sang adik?, akan kah cerita ini memiliki akhir yang bahagia, atau akan sebalik nya ayo kita baca cerita selanjut nya.

“Oppa…, aku sangat menyangi mu lebih dari apa yang oppa tau, boleh kah aku memeluk mu lagi seperti dulu saat aku masih kecil?” Lee Hye In
“Mianhae Hyenie ya, jika oppa bukan lah kakak yang baik untukmu, tapi satu yang perlu kau tau saengie sampai kapan pun oppa akan tetap menyayangi mu, tetep lah tersenyum Hye, ada atau tanpa ada oppa di sisi mu, jangan pernah kau membahasi pipi mu dengan air mata lagi sayang, oppa benci akan hal itu, mian Hye ya oppa harus pergi, oppa sangat menyayangimu saengie, Saranghae Lee Hye In” Lee Hyun Hwa

Hari sudah mulai malam, jam menunjukkan tepat pukul 23.30 malam sudah lebih dari satu setengah jam Hyun Hwa menunggu kepulangan sang adik, cuaca di luar yang begitu dingin membuat pemuda itu khawatir dengan keadaaan adik nya, seharusnya Hye In sudah kembali dari satu jam yang lalu tapi sampai sekarang gadis berusia 21 tahun itu belum juga pulang ke rumah. Perasaan khawatir, takut, merasa tidak berguna bercampur menjadi satu dalam hati pemuda berlesung pipi itu. Pemuda itu memandang nanar ke arah ponsel nya yang terletak di atas meja, sudah 20 kali dia mengirim pesan singkat untuk adik nya, dan 32 panggilan yang sama sekali tak mendapatkan jawaban. Mata pemuda itu mengarah ke pintu masuk di rumah nya, berharap jika sang adik masuk dari pintu itu, tapi seperti nya Hyun Hwa harus kembali menelan kekecewaan yang sangat dalam, karena sampai sekarang Hye In belum juga kembali ke rumah, tanpa pikir panjang dia langsung mengambil jaket dan kunci motor yang terletak di kamar nya, saat Hyun Hwa baru keluar dari kamar nya, mata nya menatap ke arah seorang gadis yang sedang duduk di sofa membelakangi nya, dapat di pasti kan jika gadis itu adalah Hye In adiknya. Namja itu menghembuskan nafas lega dan melangkahkan kaki nya mendekati sang adik yang masih belum menyadari keberadaan nya. Merasa ada yang menyentuh bahu nya membuat tubuh Hye menenggang seketika, tanpa melihat siapa orang yang ada di belakang nya gadis itu sudah mengetahui jika itu adalah tangan sang kakak, kakak yang selama ini selalu menemaninya, menjaganya, menyayangi nya dengan tulus, dan merawat nya dengan cinta dan kasih sayang yang besar. Gadis itu mencoba menghirup nafas nya yang masih tersisa karena tangisan nya, Hye sama sekali tak ingin melihat sang kakak terbebani karena kembali melihat dirinya menangis, setelah merasa cukup tenang gadis itu menatap ke arah sang kakak dengan senyuman yang terlukis di bibir nya. Mata Hyun Hwa sedikit menyipit melihat ada sesuatu yang ganjil dari adik nya, pemuda itu melihat jejak air mata di pipi Hye In, tapi mau tak mau dia ikut membalas senyuman yang diberikan sang adik, Hyun Hwa mengambil tempat untuk duduk di samping Hye In, membuat gadis itu sedikit menggeser tubuh nya.

“Kau baru pulang?”, tanya Hyun Hwa sambil membelai rambut hitam sang adik.
“Ne”, jawab Hye In singkat.
“Gwaenchanayo Hyennie?”, kali ini pertanyaan Hyun Hwa tersirat akan ke khawatiran.

Hye In hanya membalas dengan senyuman dan anggukan kepala, dan berdiri dari sofa. Hyun Hwa hanya menatap sang adik dengan tatapan ke khawatiran, dia tahu jika Hye In baru saja menangis, tapi gadis itu tak ingin membebani pikiran nya, Oh God… apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis berambut hitam panjang itu, mungkin kah dia benar-benar baik-baik saja seperti yang dia isaratkan kepada sang kakak, Hyun Hwa sangat memahami bagaimana sifat adik nya, dan saat ini 100 persen dia bisa memastikan jika adik nya habis menangis.

“Lee Hye In, oppa berbicara pada mu?!”, nada yang sedikit meninggi.

Tubuh gadis itu menenggang seketika, dia sangat tau jika sang kakak tidak mudah untuk dibohongi sungguh, gadis itu tak bermaksud menutupi apapun dari kakak nya, hanya saja dia tidak ingin menambah beban yang dirasakan Hyun Hwa, jika dia menceritakan yang sebenarnya, Hye memutar kembali tubuh nya menghadap sang kakak, hati gadis itu kembali teriris saat melihat tatapan antara sedih, dan amarah dari paras tampan kakak nya.

“Bukan kah sudah ku katakan oppa, nan gwaenchanayo oppa”
“Gotjimal!!”, Hyun Hwa tak mampu lagi menahan emosi nya.

Air mata yang tertahan sudah terlihat dari kedua bola mata gadis manis itu, dia juga menggigit bibir nya, satu saja gerakan mata dapat dipastikan airmata itu sukses membahasi pipi gadis itu.

“JIKA AKU MENGATAKAN AKU BAIK-BAIK SAJA, ITU BERARTI AKU BAIK-BAIK SAJA OPPA!!”

Hye In langsung berlari menuju kamarnya dan menutup pintu kamar dengan keras, sementara Hyun Hwa hanya mampu memejamkan mata nya, karena emosi dia membuat adik nya merasa takut dan sedih, tanpa gadis itu katakan Hyun Hwa bisa melihat saat mata Hye In sudah berlinang air mata dan menggigit bibir, kebiasaan yang sering dilakukan seorang Lee Hye In jika sedang merasa takut, pemuda itu hanya mampu memandang sendu ke arah kamar sang adik.

Dengan langkah pelan Hyun Hwa mendekati kamar Hye In dan mengetuk pintu kamar berwarna biru langit itu, sementara di dalam kamar Hye In hanya mampu meringkuk di balik selimut nya dan menangis, dia sama sekali tak menyangka jika Hyun Hwa akan semarah ini, tapi sungguh dia tak bermaksud untuk berbohong, suara ketukan pintu dari arah luar membuat Hye menyikap sedikit selimutnya, suara sang kakak lah yang terdengar setelah ketukan pintu itu. Bukan nya tidak tau sopan santun, tapi Hye tak ingin kakak nya mengetahui jika dia sedang merasa tertekan, detik berikut nya ketukan di pintu terdengar lebih keras namun gadis itu sama sekali tak bergerak sedikit pun dari atas tempat tidur nya, dia semakin menenggelamkan wajah nya di balik selimut dan menangis sepuas nya, sambil sesekali memanggil kedua orangtua nya dan menggumamkan kata maaf untuk sang kakak. Hyun Hwa hanya mampu mengacak rambut nya frustasi karena Hye sama sekali tak mau membuka pintu kamar nya, sayup-sayup pemuda itu mendengar suara isakan tangis sang adik sambil memanggil orangtua mereka, hati Hyun Hwa semakin teriris mendengarkan semua itu tapi tak bisa melakukan apa–apa, ingin rasa nya memeluk tubuh rapuh sang adik didalam dekapannya, tapi dia tak memiliki keberanian untuk melakukan itu dengan rasa bersalah yang sangat besar Hyun Hwa meninggal kan kamar sang adik melangkah ke kamar nya.

Mata Hyun Hwa tertuju pada sebuah meja di samping tempat tidurnya, di buka laci meja itu dan mengambil sebuah foto seorang gadis, mata nya kembali memanas saat ingatan kejadian beberapa jam tadi kembali berputar, hanya gumaman kata maaf yang mampu di ucapkan oleh pemuda itu.

Malam yang dingin dan sangat menyakit kan bagi Hye In sudah berganti menjadi pagi yang cerah untuk memulai hari yang baru, sudah lebih dari 2 jam yang lalu Hye terbangun tapi gadis itu masih enggan untuk keluar dari kamar nya, kejadian semalam saat Hyun Hwa marah masih sangat sulit untuk diterima gadis itu, baru kali ini sang kakak membentaknya tak pernah terlintas sedikit pun dalam pikiran gadis itu jika Hyun Hwa akan semarah itu hanya karena dia tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, menurut Hye sosok kakak nya adalah sosok yang lembut, baik, perhatian, penuh cinta dan ramah, tapi kejadian semalam seolah-olah merubah pemikiran Hye In tentang kakak nya, getaran ponsel di samping kiri nya membuat gadis itu tersadar dari lamunannya, nama seseorang yang tertera pada layar ponsel berwarna hitam itu mampu mengembalikkan senyuman Hye In dalam seketika. Setelah menjawab panggilan telefon gadis berparas manis itu langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

20 menit setelah mandi Hye In sudah siap dengan dress selutut berwarna biru dengan sepatu dan jepit rambut yang senada, rambut nya yang panjang yang biasa diikat kini dibiarkan tergerai begitu saja membuat tampilan gadis manis itu terkesan lebih fresh. Hyun Hwa yang baru keluar dari kamar nya menatap sang adik tanpa berkedip sedikit pun, pemuda itu semakin menajam kan pengelihatan nya, jika yang berdiri tak terlalu jauh dari tempat nya saat ini adalah adik nya. Menatap dari atas ke bawah gadis yang sedang membelakangi nya membuat dia ragu jika gadis itu adalah Hye In adik nya, dengan keberanian yang ada, Hyun Hwa mencoba untuk memanggil gadis yang berdiri tak jauh dari nya.

“Nuguseyo?”, suara Hyun Hwa yang biasa nya terdengar tegas kini sedikit bergetar.
“Ini aku oppa, kenapa kau bertanya siapa eoh?”, jawab Hye In menatap sang kakak.

Pemuda itu hanya mematung seketika saat melihat paras dari gadis kurus tinggi yang tadi membelakangi nya itu memang benar adik nya Lee Hye In, tapi kali ini penampilan gadis itu sedikit berbeda itu yang membuat Hyun Hwa bertanya siapa gadis itu, make up tipis, dress selutut berwarna biru dengan sedikit aksen bungan yang melingkar di pinggang, sepatu berhak rendah berwarna senada, dan jangan lupakan jepit rambut bergambar kelinci yang sedikit menjepit poni gadis itu, hari ini Hye terlihat sangat cantik di depan Hyun Hwa, mata pemuda itu kembali menatap ke arah jepit rambut yang dikenakan gadis itu, jepit rambut itu adalah pemberian dari yeojachingu nya saat Hye berulangtahun yang ke 5, merasa sang kakak hanya diam saja membuat gadis itu menatap penampilan nya apakah ada yang salah batin gadis itu, Hyun Hwa berjalan mendekat ke arah sang adik membuat senyuman manis yang dari tadi Hye berikan semakin terlihat jelas, pemuda itu membelai lembut wajah sang adik, tangan nya berhenti di jepit rambut yang dikenakan adik nya, tanpa disadari Hyun Hwa, air mata sudah membasahi pipi nya, senyuman yang tadi nya menghiasi wajah manis Hye kini berubah menjadi gurat kekhawatiran, tangan gadis itu terulur mengusap wajah sang kakak.

“Uljimayo, oppa”, ucap Hye sambil menghapus air mata kakak nya.
“Hai siap yang menangis Hyenie?”, tanya Hyun Hwa dengan senyumannya.
“Babo, oppa tak menyadari eoh jika oppa menangis?”
“Hahahaha, oppa tak menangis saengie”, jawab Hyun Hwa dengan mengerlingkan mata.
“lalu jika oppa tak menangis, apa?”
“Ne…?, ah air mata tadi, itu air mata kebahagian Hye ya?”
“Jangan berbohong oppa?”
“Mwo, gotjimal, aniya Hye”, jawab Hyun Hwa sambil membelai rambut hitam sang adik.
“Katakan yang sesungguh nya oppa?”, kali ini mata gadis itu sudah berlinang air mata.

Cerpen Karangan: Dany Diniyah
Facebook: https://www.facebook.com/NIASGFCOMUNITY

Cerpen Aku Ingin Memeluk Mu Seperti Dulu Oppa (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Bawah Pelangi

Oleh:
Sore ini hujan begitu deras, aku menunggu bus di halte depan sekolah. Ada seorang laki-laki yang berlari ke arahku dengan tas di kepalanya. Aku tidak bisa melihat dengan jelas

Anyang Art School

Oleh:
Pagi ini di sebuah sekolah bernama Anyang Art School (ini sekolah asli ada di Seoul lho…) anak-anak berkumpul di sebuah ruangan didampingi orang tuanya. perlu kalian ketahui bahwa hari

This is My Love Story

Oleh:
Seperti biasanya aku selalu bangun, menyiapkan sarapan dan berangkat kuliah. Aku kuliah di KAIST salah satu universitas terkenal di Korea Selatan. Selain kuliah, aku juga bekerja di sebuah café

Pulau Jeju

Oleh:
Mama dan Papa sudah janji akan mengajakku berlibur ke gunung, kami akan berkemah, senang sekali. “Sayang, kamu sudah siapkan apa saja? besok kan kita berangkat” tanya Papa. “Bawa baju,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *