Bernafas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 22 June 2016

Park Chanyeol membeli tiga kotak cokelat dan 15 tangkai bunga mawar merah. Meski benci dengan hal-hal yang berbau romantis Chanyeol harus menurunkan egonya untuk hari ini. Seul Gi sedang menunggunya di luar sana, di bawah langit yang mulai berwarana keemasan. Chanyeol sudah berjanji bahwa mulai dari tanggal 14 februari tahun lalu dia akan selalu melakukan hal apapun yang dikatakan Seul Gi. Setidaknya dia harus menepati satu janji, tiga kotak cokelat dan 15 tangkai mawar merah untuk setiap tahunnya.

Chanyeol mengemudikan mobilnya dengan cepat namun penuh kewaspadaan. Mungkin jika dia menabrak salah satu dari mobil yang ada di depannya itu akan terasa menyenangkan. Tapi dia tidak mau ada orang lain lagi yang akan celaka karenanya.

Chanyeol melirik ikatan mawar di sampingnya. Kelopak merah itu sungguh menggoda, Seul Gi pasti akan suka, tapi dia tidak yakin jika mawar-mawar itu bisa meluluhkan hati Seul Gi agar mau memaafkannya.

Chanyeol terlalu sering melakukan kesalahan, Chanyeol terlalu sering lupa pada kata maafnya. Dia hanya sekedar berucap tanpa benar-benar menyadari hal apa yang telah dia lakukan ataupun menepati ucapannya.
Sama seperti hari ini. Untuk yang kesekian kalinya Chanyeol membuat Seul Gi menunggu. Mengingkari janjinya untuk bertemu tepat waktu. Membiarkan Seul Gi sendiri kedinginan di luar.

Chanyeol menatap jalan lurus di depannya. Sementara salah satu tangannya mengambil ponsel. Pada layar ponsel itu terlihat jelas wajah Seul Gi yang sedang memasang tampang cemberut karena Chanyeol belum juga tiba setelah lebih dari satu jam dia menunggu.

‘Cepat datang atau kau tidak akan pernah melihatku lagi’

Chanyeol meringis membaca pesan yang dikirimkan Seul Gi. Dulu dia berpikir itu hanya sekedar ancaman kosong. Tapi sekarang, setalah dia membaca lagi dan lagi rasanya kalimat singkat itu menjadi kutukan baginya.

Chanyeol memarkirkan mobilnya lalu berhambur keluar sambil membawa coklat dan bunga yang tadi ia beli. Hawa dingin langsung menyambutnya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana bisa Seul Gi bertahan di cuaca seperti ini.

Langit sudah hampir sepenuhnya gelap. Mengganti senja ceria menjadi malam yang berselimut duka. Sama seperti Chanyeol yang kehilangan senyumnya saat melangkah semakin dekat ke tempat seulgi berada.

Matanya mulai berkaca tapi dia tidak mau menunjukkan tangisnya. Seulgi benci jika melihat Chanyeol menangis terlebih jika hal itu disebabkan oleh dirinya. Karena itu Chanyeol harus pandai-pandai menyembunyikan isaknya.

Chanyeol bergerak maju. Kakinya terasa berat tiap kali dia memperpendek jarak di antara mereka. Tubuh Chanyeol mulai gemetar. Chanyeol menarik dan menghembusakn napas dalam untuk menenangkan diri. Dia berusaha untuk tidak meneteskan air mata, berusaha terlihat ceria di hadapan gadis yang sangat dicintanya. Tapi persaaannya tidak bisa di bohongi. Sekuat apapun dia mencoba bulir bening itu jatuh juga, mengalir melewati pipinya, terjatuh tepat di atas batu nisan bertuliskan nama Kang Seul Gi.

14 Februari 2015
Chanyeol masih sibuk dengan semua berkas yang ada di mejanya. Dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya itu. Sebagai seorang direktur dia harus memberikan contoh pada bawahannya, selain itu apa yang dikerjakan Chanyeol saat ini sangat berpengaruh untuk kemajuan perusahaannya.

Drrrtttt… Drtttt…

Ponsel Chanyeol bergetar. Dia sama sekali tidak menarik perhatian pada benda persegi panjang itu. Tanpa harus melihat nama pemanggil Chanyeol sudah tahu bahwa orang yang sedang meneleponnya di seberang sana adalah Kang Seul Gi, kekasihnya yang sudah dikencaninya selama dua tahun.

Drrtt…Drtttt…

Lagi-lagi ponselnya bergetar mau tidak mau akhirnya dia menjawab juga.
“Ada apa kenapa kau terus meneleponku?”
“Kenapa? Hey Park Chanyeol kau yang kenapa.. Sudah berapa lama aku menunggumu di sini. Kenapa kau belum juga sampai.”
“Aku masih banyak pekerjaan tungggulah sebentar lagi.”
Diam sejenak sambil Seul Gi mempertimbangkan.
“Baiklah berapa lama”
“Satu jam”
“APA?! Satu jam?! Hey apa kau gila di luar sini dingin. Aku bisa beku.”
“Memang siapa yang menyuruhmu menunggu di luar. Tunggu di dalam dan pesan makanlah lebih dulu aku akan segera ke sana setelah urusanku selesai.”
Chanyeol memutus teleponnya meninggalkan Seul Gi yang ternganga tapi gadis itu hanya mengangguk pasrah. Bagaimanapun dia Park Chanyeol pria super sibuk. Terlebih Chanyeol bukan tipe orang yang mau merayakan hal-hal yang menurutnya tidak berguna seperti Valentine.

Hampir satu jam setelah dia mengakhiri pembicaraannya dengan Seul Gi dan dia sama sekali belum mau beranjak dari tempat duduknya. Terlalu banyak pekerjaan, mungkin akan lebih baik jika dia membatalkan janjinya saja pada Seul Gi.

Tepat sebelum dia menelepon untuk meminta Seul Gi pulang dan tidak lagi menunggunya ponselnya kembali bergetar kali ini sebuah pesanlah yang masuk.
“Aku bosan dan di sini terlalu dingin jadi cepatlah selesaikan pekerjaanmu dan segera datang ke sini.”
Chanyeol membalas
“Kita batalkan saja, pekerjaanku tidak mungkin untuk ditunda dan ini tidak akan berakhir sampai jam sepulum malam.”
Seul Gi
“Batal?! Hey Chanyeol apa-apaan kau cepat datang atau kau tidak akan pernah melihatku lagi” tulisnya disertai foto cemberut menyatakan bahwa ia sudah tidak bisa mentolerir lagi.
Chanyeol tidak peduli dia meletakkan ponselnya asal, yang terpenting dia sudah memberi tahu Seul Gi bahwa malam ini dia tidak bisa menuruti permintaannya.

Waktu berlalu, Chanyeol baru sadar ketika dia mendapati teleponnya tidak ada pesan ataupun panggilan masuk lagi dari Seul GI. Mungkin gadis itu sudah menyerah sekarang dan kembali pulang ke rumah. Dilihatnya jam yang hampir menunjukan pukul sepuluh.

Dia sedikit merenggangkan tubuh lalu ponsel bergetar. Nomor tidak di kenal terpampang di layarnya. Ragu, Chanyeol kemudian mengangkatnya.
“Halo siapa ini?”
“Apa anda tuan Park” Suara wanita yang juga tidak di kenalnya berbicara.
“Ya benar. Maaf tapi saya berbicara dengan siapa?”
“Saya dari rumah sakit. Apakah anda mengenal nona Kang Seul Gi.”
Jantung Chanyeol berdegup kencang. Untuk apa seseorang dari rumah saki meneleponnya malam-malam begini dan menanyakan Kang Seul Gi.
“Ya… ada apa dengan Seul Gi, apa sesutu terjadi padanya?” Ucap Chanyeol cemas.
“Nona Kang dia… dia mengalami kecelakann…”
Saat itu juga Chanyeol berlari, mengemudikan mobilnya seperti orang gila. Begitu tiba di rumah sakit dia langsung bertanya di mana Seul Gi berada. Salah satu perawat mengantarnya membawanya pada tubuh Seul Gi yang tidak lagi bernyawa.

Chanyeol menenangkan dirinya, dia meletakkan bunga mawar itu, lima belas tangkai sebagai tanda penyesalan. Dan tiga kotak cokelat dia beli sebagai pengganti cokelat yang dulu sering dibuatkan Seul Gi untuknya. Biasanya setiap kali hari Valentine Seul Gi membuatkan cokelat menyerupai bentuk wajahnya. Dulu Chanyeol menyepelekan hal itu, menganggapnya sebagai tindak kekanakan tapi sekarang pria itu begitu merindukan hal-hal sepele itu.
“Maaf… aku benar-benar minta maaf padamu Seul Gi.” ucap Chanyeol setelah bersusah payah menyingkirkan isaknya.
“Aku tahu ini tidak cukup, aku bahkan datang terlambat dan membuatmu menunggu lagi. Tapi sungguh aku sangat mencintaimu. Aku hanya bodoh karena tidak bisa memperlakukanmu dengan baik. Maaf Seul Gi… maafkan aku.”
Lagi-lagi Chenyeol terisak. Kata-katanya terputus dia hanya bisa menyentuh batu nisan itu penuh harap. Berharap jika dia bisa memutar waktu, memberinya kesempatan untuk kembali pada malam di saat Seul Gi memintanya untuk datang. Jika saja malam itu dia bisa sedikit mengalah, jika saja malam itu dia bisa mengabaikan pekerjaannya, menemui Seul Gi, tidak membuatnya menunggu mungkin saat itu Seul Gi tidak akan berjalan seorang diri, tidak akan ada mobil sialan yang menabrak dan meninggalkannya begitu saja. Mungkin saat ini Seul Gi masih bersama dengannya, memeluknya, membelai wajahnya, berhadapan saling merasakan hembusan napas satu sama lain. Mungkin…

Tapi sayangnya sebesar apapun harap itu, tidak akan dan mustahil untuk terwujud. Karena waktu tidak akan pernah berbalik mundur untuk memberinya kesempatan memperbaiki keadaan. Sekarang yang bisa dia lakukan hanyalah melakukan hal-hal yang dulu tidak pernah dilakukannya. Bahkan meski Seulgi sudah tidak benar-benar ada disisinya sedikit kenangan bersama gadis itu akan mengisi penuh hatinya, menemani dia menjalani hari yang terasa menyakitkan. Dan akan terus berusaha membuat gadis itu ceria meski dia sudah tidak bisa lagi benar-benar mendengar suara ataupun merasakan hembusan nafasnya, karena Seul Gi memang sudah tidak lagi bernafas.

Cerpen Karangan: Phyeanna

Cerpen Bernafas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Step Mother

Oleh:
17 tahun yang lalu (1999), terjadi kecelakaan mobil yang sangat tragis hingga menyebabkan banyak sekali korban jiwa. Sekitar 10 orang dari 15 orang meninggal dunia. Sedangkan 5 lainnya luka

Cinta Musim Dingin

Oleh:
Pagi itu aku terbangun, aku berjalan ke arah jendela, selangkah, dua langkah, dan “PRAKkk” aku pun segera mempercepat langkahku, kubuka tirai berwarna silver itu. Ku lihat Pria tinggi, berkulit

14 February

Oleh:
Empat belas Februari. Hari valentin yang paling menusuk bagi gadis yang sedang duduk termenung di bangku putih panjang. Bulir-bulir bening sedaritadi membasahi pipinya. Wajahnya memerah, efek dari tangisannya. Gadis

Sweet 1st Anniversary

Oleh:
“Yak! (Hei!)” gadis itu berlari ke arah lelaki yang sedang bermain basket di halaman sekolahnya. Ya, gadis itu memang tidak satu sekolah dengan lelaki yang bermain basket tadi. Lelaki

Kopi Pahit

Oleh:
Sungguh, jika waktu itu tidak berlalu aku berjanji akan mengatakannya. Mengatakan yang sesungguhnya sedang terjadi di antara kau dan aku. Sekarang terlambat. Jauh di lubuk hatiku turut menyesali semua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *