Boyfriend

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 1 July 2018

Aku berlari menjauh. Air mataku sudah tak lagi terbendung. Hatiku terasa sangat sakit. Dia, orang yang sangat kucintai telah mengkhianatiku. Sakit.

Mama yang melihatku menangis saat memasuki kamar, datang dan memelukku.
“Apa yang terjadi?” tanyanya lembut.
“Eomma, ayo kita pindah ke Korea menyusul appa! Aku merindukan appa!” ucapku sambil memandang mama. Mama tidak menjawabku, dia terlihat bingung.
“Kenapa sangat mendadak? Bukankah kamu masih sekolah di sini?”
“Aku ingin pindah!” ucapku kekeuh.
“Baiklah jika itu keinginanmu!”
Mama keluar kamar dan menelepon papa yang berada di korea. Aahh.. maaf menyusahkan kalian. Ucapku dalam hati.

Pukul 20.03 wks, kami sampai di bandara Incheon. Karena masih liburan semester, aku memiliki waktu beberapa hari untuk bermain.

Seorang pria tampan menghampiri kami. Mungkin salah satu pegawai papa.
“Selamat malam noona. Biar saya bawakan tasnya!” ucapnya dengan bahasa korea yang sangat fasih.
“Gomawo.” aku sedikit tersenyum.
“Silahkan masuk!” pria itu membukakan pintu mobil untuk kami. Tanpa menjawab aku dan mama langsung memasuki mobil itu.

Sampai di sebuah rumah yang terlihat sangat megah. Kami turun dari mobil dan langsung disambut oleh beberapa pelayan.
“Tuan Park sedang ada rapat, nyonya dan nona bisa langsung masuk kekamar untuk beristirahat.” ucap seorang wanita paruh baya. Dia menunjukkan kamar yang akan kami tempati.
Hari ini sangat melelahkan. Aku langsung tertidur saat merebahkan diri di kasur.

Matahari bersinar sangat terang. Aku terbangun dan langsung melihat jam weker di atas meja. Pukul 7, masih sangat pagi.
Sudah satu bulan sejak kedatanganku di korea. Dan sudah 2 minggu sejak aku belajar di sini. Sekolah dimulai pukul 9. Aku bersiap-siap. Setelah terlihat rapi, aku turun ke lantai satu untuk sarapan bersama.
“Selamat pagi..” sapaku kepada kedua orang tuaku.
“Pagi..” jawab mereka berdua.
Aku sarapan dengan cepat. Setelah selesai, aku berangkat ke sekolah bersama papa.

“Hana!!” panggil seseorang. Aku berbalik menuju sumber suara.
“Tae Hee..” aku tersenyum kearah gadis yang duduk di samping bangkuku itu. Kami berjalan bersama menuju kelas. Sampai di kelas, kami saling berbagi cerita. Sangat menyenangkan.

Seorang pria memasuki kelas. Kim Seul Gi, sangat dingin dan jarang berkumpul dengan siswa lain. Tapi entah kenapa, aku melihat dia seperti orang yang rapuh.
“Pagi Seul Gi..” aku mencoba untuk akrab dengan semua orang. Yah.. walaupun aku tahu dia tidak akan menjawab sapaanku.
“Pagi..” aku terkejut saat mendengar ia membalas sapaanku.
Tae Hee yang berada di sampingku juga tidak kalah terkejutnya. Aku tersenyum.

Pulang sekolah. Aku biasanya dijemput papa, tapi hari ini papa telat. Aku memutuskan untuk menunggu di depan gerbang sekolah. Suara deru motor menyadarkanku dari lamunan. Seul Gi terlihat tampan berada di atas motornya.

“Kamu belum pulang?”
“Appa belum menjemputku!”
“Ayo kuantar!”
“Hah?”
“Kalau tidak mau kutinggal nih!”
Aku berpikir sejenak. Papa mungkin lupa menjemputku, aku juga tidak tahu jalan. Seul Gi kembali mengagetkanku dengan deru motornya.
“Ikut nggak?”
“I..iya!” aku langsung naik keatas motornya. Seul Gi menjalankan motornya setelah kuberitahu alamat rumahku. Ternyata kami bertetangga.

Mama berada di depan rumah sedang mengobrol dengan seorang wanita, saat kami sampai.
“Seul Gi.. kalian kok bisa bareng?” tanya wanita itu.
“Kami satu kelas.” jawabku. “Dia siapa?” tanyaku setengah berbisik kepada pria yang tubuhnya sangat tinggi ini.
“Ibuku.” jawabnya. “Eomma, aku pulang dulu.”
Astaga, ternyata rumahnya berada tepat di samping rumah kami.
“Aku pulang dulu ya.” pamit ibunya Seul Gi.

Hari berikutnya, aku kembali pulang bersama Seul Gi. Sekarang kami sudah mulai dekat. Seul Gi ternyata orang yang sangat menyenangkan, tapi dia merasa susah mendapatkan teman. Aahh.. andai saja aku tidak berani menyapanya saat itu, mungkin sampai sekarang kami belum berteman.

Hari ini libur, kami akan pergi menonton bersama. Seul Gi terlihat sangat tampan hanya dengan t-shirt dan celana jeansnya. Jantungku berdetak sangat kencang hanya dengan menatapnya. Tidak, tidak.. ayolah Hana.. jangan tertarik pada siapapun. Tidak boleh!!

Kami sudah sampai di bioskop. Filmnya agak membosankan. Tapi Seul Gi terlihat begitu menikmatinya. Dua jam terasa sangat lama.

Setelah menonton kami makan di sebuah cafe. Dan entah kenapa, Seul Gi terlihat sangat mempesona saat sedang makan.
“Waeyo? Apa ada sesuatu di wajahku?”
“Hah? Ti.. tidak kok..” aaahhh.. aku pasti sudah gila.
“Kau mau jalan-jalan ke mana lagi? Atau.. kita langsung pulang saja?”
“Kita pulang saja. Hari ini sangat menyenangkan tapi, juga melelahkan!”
“Owh..” hanya perasaanku saja, atau tadi dia memang terlihat kecewa?

“Besok lagi ya!” ucapku sebelum turun dari motornya.
“Oke!” jawabnya dengan tersenyum. Dia sangat tampan.
“Daahh..” aku melambaikan tangan kepadanya. Dia membalas lambaian tanganku.
Aaahhhh.. aku berlari memasuki rumah. Wajahku pasti sudah sangat merah.

“Hana!!” panggil sebuah suara yang sangat kukenal. Tapi itu tidak mungkin kan, sekarang aku berada di korea, bukan indonesia. Aku membalikkan badanku.
“Reno..” gumamku. “Kamu ngapain di sini?” ucapku sedikit kasar.
“Kenapa kamu pergi?”
“Lepasin!” aku meronta saat dia berusaha memelukku. Aku menampar wajah Reno. “Dasar pengkhianat! Aku tidak pernah melirik laki-laki lain hanya untuk menyukai pengkhianat sepertimu!” aku berteriak.

Ji sung, pria yang menjemputku di bandara datang saat mendengar teriakanku.
“Noona, apa ada masalah?” tanyanya.
“Tolong usir dia!” aku menunjuk kearah Reno.
“Hana, dengarkan penjelasanku. Aku tidak mengkhianatimu, kamu salah paham!”
“Pembohong! Aku selalu berusaha untuk sabar! Tapi kamu benar-benar menjijikkan! Kamu melakukan sesuatu yang sangat menjijikkan!”
Aku berlari memasuki rumah. Aku tidak ingin mengingat dia lagi. Air mataku mengalir.

Aku terbangun dengan mata yang sembab. Papa dan mama tidak ada di rumah. Seul Gi yang datang untuk bermain melihatku dengan tatapan bingung.
“Hari ini kita bermain di dalam rumah saja, mataku terlihat sangat sembab.”

Sepanjang hari aku mengajaknya untuk bermain video game. Dan, aku bisa melupakan kejadian kemarin. Kami bermain sampai malam hari. Orangtuaku belum juga pulang.
“Hana, aku harus pulang. Sampai jumpa besok!”
“Daahh..” aku melambaikan tangan ku. Dia membalasnya sambil tersenyum.
Ah, aku sangat mengantuk. Besok juga harus sekolah. Aku mandi terlebih dahulu baru merebahkan diri di atas kasur.

Banyak pasang mata yang menatap ke arah kami. Yap, aku berangkat ke sekolah bersama Seul Gi, karena papa belum pulang.
“Gomawo Seul Gi!” ucapku yang hanya dibalas anggukan olehnya. Kami berjalan ke kelas bersama. Tae Hee langsung menarik tanganku saat kami sampai.
“Kamu berangkat bareng Seul Gi?” tanyanya setengah berbisik. Aku mengangguk. “Kok bisa?”
“Appa belum pulang, jadi dia menawarkan bantuan. Daripada telat, aku mau saja!”
“Tapi kan kamu punya supir!”
“Ji Sung bukan supir, dia oppaku!” ucap setengah kesal. Yah..aku dan kak Ji Sung sudah saling mengenal sejak masih kecil. Dia sudah seperti kakak, bagiku.
“Iya iya.”

Kami pulang sekolah bersama. Seul Gi mengajakku ke sebuah cafe dekat sekolah. Hari ini dia terlihat sangat gugup.
“Anu.. Hana.. aku mau mengatakan sesuatu..”
“Iya?”
“A..a..aku suka sama kamu, kamu mau nggak jadi yeojachingu-ku?”
Aku terdiam sesaat. Pacar? Seul Gi nembak aku. Aahhhh.. aku tersenyum malu. Mengangguk. Seul Gi tersenyum senang. Dia maju menuju panggung kecil di depan. Seul Gi menyanyikan sebuah lagu. Suaranya sangat merdu.

Tepuk tangan terdengar begitu meriah saat dia selesai bernyanyi. Eh.. tunggu bukankah mereka semua teman sekelas kami? Aku baru menyadarinya.
“Kalian?”
“Cie Hana.. selamat ya!” ucap Tae Hee dengan senyuman manis. Aahhh.. Seul Gi sangat romantis. Aku tersipu malu.
Akan seperti apa kami di masa depan aku belum tahu, tapi yang pasti aku sangat mencintai Seul Gi. Aku memeluk pria itu dengan erat dan tepukan tangan kembali terdengar.
Seul Gi menatapku tajam. Dia mencium bibir ku secara tiba-tiba. Sempat terkejut, tapi aku langsung membalas ciumannya itu.

Tamat

Cerpen Karangan: Hilya
Blog / Facebook: Hilya

Cerpen Boyfriend merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Don’t Look The Mirror

Oleh:
Suatu hari di Distrik Gangnam, di sebuah rumah mewah terlihat 4 orang remaja putri yang sedang berdiskusi untuk membuat tugas proyek sains yang diberikan oleh guru mereka. Mereka mengerjakannya

Ketika Hati Harus Memilih

Oleh:
Siang ini surya begitu semangat menerangi bumi. Sepulang sekolah kulemparkan tas merahku ke atas kasur. Kurebahkan badanku yang terasa lesu di sofa dekat jendela sembari merasakan dahaga yang menggerogoti

Break Up

Oleh:
“Tidak, bukan.. Bukan begitu..” Pria itu menggeleng dan mengisyaratkan agar gadis di depannya berhenti. “Aku salah lagi?” Tanya gadis itu. Wajahnya terlihat lelah karena berulang kali melantunkan nada yang

Paris Say Goodbye

Oleh:
“Saranghaeyo Jung-In” ungkap Jin-Hyuk. “Saranghae Jin-Hyuk” balas Jung-In, salju pun turun dan membuat romansa keromantisan semakin kuat. Jin-Hyuk pun Mencium Kening Jung-In dan mengatakan “Aku akan Mencintaimu Selalu.” 5

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *