Bridge Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 17 August 2016

“Hya, Kang Beom Sil!” teriak So Yeon dari belakang sambil berlari. Terik sinar matahari menguras peluhnya. Rambut panjangnya dibiarkan teruai tertiup angin. Langkah kakinya semakin cepat, berlari mengejar sosok laki-laki sebayanya. Mereka adalah teman baik sejak kecil sampai sedewasa ini. “Beom Sil-ah, aku akan jelaskan semua ini.. Kenapa kau berlari menghindariku!” ia terus berlari sampai ke jembatan yang berada tepat di atas sungai Han. Tiba-tiba ia terjatuh, kakinya terkilir. “Aaa..omo, hya Beom Sil! Kakiku terkilir. Bisakah kau berhenti?” teriakanya keras namun tak menggubris sahabatnya itu. Sejenak Sahabatnya berhenti namun tak membalikan badanya. “Aaaah, kenapa lagi dia. Sudah kubilang jangan mengejarku. Aigoo, aku sungguh tak tega,” keluhnya. Hatinya terasa tercabik-cabik. Badanya hendak berbalik, namun keraguan hatinya seperti akan menjegal kakinya jika ia berbalik. Perasaan apa yang sebenarnya ada di hatinya.

“Eomma, apakah temanku sudah datang?” tanya So Yeon pada ibunya yang sedang menyiapkan sarapan. So Yeon sibuk merapikan buku-buku yang akan ia kumpulkan hari ini. Banyak tugas yang ia harus selesaikan tadi malam. Mata pandanya kelihatan. “Beom Sil eoh? Bukankah dia kemari selalu tetap jam 7. Kenapa kau buru-buru sekali? Beom Sil tidak akan ke sekolah duluan. Dia pasti akan menunggumu..” ibunya menjawab tapi bukan itu jawaban yang diharapkan So Yeon. “Ahh, eomma. Aku segera berangkat dalam 5 menit. Bawakan saja sarapan ku eoh.” So Yeon menyiapkan sepatunya. Bus di halte tempat ia menunggu cepat datang sehingga tak memakan waktu lama untuk sampai ke sekolah. “So Yeon-ah! Mianhe, aku lupa tidak menjemputmu. Rantai sepedaku lepas. Mianhe So Yeon-ah..” sebenarnya So Yeon sedikit kesal mendengarnya. “Gwaencana, lagi pula busnya cepat datang jadi aku bisa menunggumu di kelas,” senyumnya merekah di depan laki-laki itu. Hwan Min Jeong namanya, teman sekelas So Yeon yang akhir-akhir ini didekatinya. Entah apa yang ada di pikirannya, ia selalu bersama Min Jeong kemana-mana tanpa memikirkan Beom Sil sahabatnya. Sudah 2 minggu ini Beom Sil terabaikan olehnya. Dalam hatinya pun tak terbesir untuk mengingatnya. Waktu istirahat tiba, Min Jeong mengajak So Yeon pergi ke kantin. “So Yeon-ah, Kajja ke kantin. Aku sudah lapar dan ingin makan bersamamu.” Min jeong menarik tangan So Yeon yang sedang asik dengan handphonenya. Dari luar Beom Sil memperhatikan mereka dengan perasaan sedih. Dia tak bisa berbuat apa-apa, hanya menahan dan menahan. “Wmo ya, kenapa dia? Apa aku berbuat salah padanya?” Beom Sil terus mengawasi sahabatnya itu. Kemanapun SoYeon pergi, Beom Sil akan terus mengawasinya. Dia takut So Yeon menyukai Min Jeong, dan dia tidak ingin melihat So Yeon disakiti. Lima hari berlalu, Beom Sil merasa kalau hatinya berkata “Cukup Beom Sil, biarkan dia.” Beom Sil merasakan sakit yang teramat saat So Yeon dan Min Jeong selalu pergi bersama. Hari ini Beom Sil memutuskan untuk tidak membuat dirinya sakit. “Beom Sil-ah, tolong belikan ibu daging sapi eoh di kedai Oh Ki Chul,” “Ne eomma.”

Beom Sil berlari ke kedai. Tiba-tiba ia berhenti tepat di samping pohon. “Aku harap kau bersabar, Hye Rie. Aku hanya memanfaatkanya saja. Sekarang cepatlah pulang sebelum So Yeon datang. Aku menyanyai mu.” perempuan yang bersama Min Jeong memeluknya erat kemudian berlari menghilang di tengah ramainya jalan. Beom Sil terkejut mendengar yang dibicarakan Min Jeong. “Apa yang harus ku lakukan, aku tak ingin So Yeon terluka. Oh Tuhan berikan kami kejelasan.” Beom Sil berbalik arah dan pergi. Ia terus memikirkan percakapa Min Jeong dihari itu. Dia merasa harus bicarakan semua ini pada So Yeon, tapi Beom Sil tidak yakin jika So Yeon akan mempercayainya. Keesokan harinya setelah bel berbunyi Beom Sil mengikuti So Yeon. “So Yeon-ah! Berhenti.” Beom Sil sedikit ragu, ia hampir jatuh karena kakinya terus bergetar. Angin musim dingin menerbangkan rambut So Yeon. Ia berbalik ke arah suara Beom Sil yang memanggilnya. “Hya, Beom Sil! Kemarilah. Aku merindukanmu, rencananya setelah pulang sekolah aku akan ke rumahmu. Ada yang ingin aku bicarakan (berbisik).” Beom Sil tersenyum. “Ne, bicarakan saja sekarang.” Beom Sil bersemangat untuk mendengarkan So Yeon. “Begini, kau tau Min Jeong? Teman satu kelasku. Dia mengajak ku Dinner malam ini. Aku rasa dia akan menyatakan cintanya. Bagaimana menurutmu, haa?” Beom Sil terkejut. Ia terdiam dan belum menjawab pertanyaan sahabatnya itu. “Beom Sil-ah! Kau selalu saja diam dan diam. Bagaimana aku tak bosan denganmu. Aiissh.” “Mwo? Kau bosan denganku? Baiklah, jika kau bosan denganku pergilah denganya. Jangan mencariku lagi, kurasa kau sudah terbiasa tanpaku selama ini. Mungkin jika kau tau apa yang ada dibalik semua ini, jangan mengejarku. Min Jeong hanya memanfaatkanmu, So Yeon-ah. Dia mencintai perempuan lain. Bukan dirimu!” kesabaran Beom Sil meledak menjadi amarah yang membuat So Yeon kesal. Beom Sil terdiam. Kini giliran So Yeon yang berbicara. “Kau tau apa tentangnya? Dia benar-benar mencintaiku. Sudah, percuma saja aku bercerita padamu. Sahabat macam apa kau ini.” hati Beom Sil terasa sakit mendengar perkataan So Yeon. So Yeon berlari meninggalkanya. Berjalan sendiri sudah terbiasa untuk Beom Sil. “So Yeon-ah!” ia berteriak.

Semenjak kejadian itu Beom Sil tidak pernah menemui So Yeon lagi. Begitu pula sebaliknya, So Yeon pun tidak pernah menemui Beom Sil. Sesekali mereka bertemu di koridor kelas, keduanya tidak memperlihatkan reaksi. Rutinitas mereka sekarang berbeda, tidak ada lagi Beom Sil dan So Yeon bersama. Beom Sil selalu sibuk pergi ke perpustakaan bersama teman-temannya yang lain. Saat ini So Yeon masih tertawa bersama Min Jeong teman yang mencintainya.

“So Yeon-ah, anak ibu.. cepatlah turun, ibu sudah membuatkanmu samgyetang kesukaanmu.” Harum samgyetang memenuhi ruang makan, namun So Yeon belum memenuhi panggilan ibunya. Ibunya masih sabar merapikan meja tempat biasa ia dan ibunya makan berdua. Di tempat pembaringan So Yeon menangis tanpa henti. Air matanya tumpah yang begitu deras melewati pipinya. “Ini salahku.. harusnya aku mendengarkan apa yang dikatakan Beom Sil. Apa yang harus kulakukan eomma..” ia memukul-mukul dadanya, terasa begitu sakit. Min Jeong yang berjanji akan terus mencintai dan menjaganya kini pergi dengan wanita yang benar-benar ia sayangi. Ini tidak ada dalam pikiran So Yeon sebelumnya. “Kenapa aku begitu mempercayainya, Ya Tuhan. Kenapa aku tidak percaya pada sahabatku sendiri.. wae!” ia sungguh menyesali kejadian ini.

Di rumah Beom Sil merindukan So Yeon, sangat bosan dan tidak ada kegiatan dihari libur ini. Tiba-tiba telepon di rumah berbunyi, Beom Sil segera mengangkatnya. Terdengar suara seorang ibu yang sedang merasa khawatir. “Yeoboseo, Beom Sil-ah. Tolong kau cepat kemari. So Yeon tidak mau keluar dari kamarnya. Ibu sangat khawatir, dia belum makan. Bisakah kau menolong ibu?”. “Ne, eommanim. Aku segera kesana”. Dia berlari menuju rumah SO Yeon. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. “Apakah Min Jeong meninggalkanya? Sudah ku duka Min Jeong akan melakukan ini pada So Yeon. Bagaimana bisa aku menatap wajah So Yeon.” sesampainya di rumah So Yeon. “Anyeonghaseyo,” “kajjha, masuklah. Aku menunggu mu dari tadi. Cobalah bujuk dia supaya turun dari kamarnya”. “Ne,” Beom Sil memberi salam untuk ibu So Yeon. Ia diberi pesan untuk membujuk So Yeon agar ke luar dari kamarnya. Langkahnya pelan menuju kamar So Yeon. Ketokan pintu lembut mengagetkan So Yeon dari tangisnya, ia mengusap sisa-sia air mata di pipinya. “Bukakan pintunya, aku mau masuk,” suara Beom Sil sedikit berat terdengar dari dalam kamar So Yeon. “Apakah kau marah pada ku? Apa kau kemari untuk memukul ku? Mianhe Boem Sil-ah.” tangis So Yeon pecah kembali mendengar suara di balik pintu kamarnya. Apa yang harus So Yeon lakukan, ia takut untuk membuka pintu kamarnya. “Hya, pertanyaan konyol macam apa ini?! Sudahlah semua sudah terjadi. Cepat buka pintu dan turunlah, ibu mu menunggu di bawah.” sedih dan kesal berkecamuk dalam hatinya, ia ingin menangis melihat sahabatnya disakiti. “Beom Sil-ah, jawab pertanyaanku.. aku tidak berani menatapmu.” seketika hening ada diantara mereka. Beom Sil terdiam, ia menyeka air mata yang hendak keluar. “Ne, kalau kau tidak mau keluar lebih baik aku yang keluar dari rumahmu. Apa itu membuatmu mau untuk ke luar? Jangan mencariku,” “Tunggu, aku akan keluar.“ So yeon membuka pintu kamarnya, namun Beom Sil sudah tak berdiri disana. So Yeon Menengok kiri dan kananya. “oh, eommanim aku pulang eoh. Cheosonghamnida”. Ibu So Yeon mengangguk bingung dengan sikap Beom Sil yang tiba-tiba pamit pulang. So Yeon menuruni tangga denga cepat. “Eomma, stop dia.” namun Beom Sil sangat cepat untuk berlari. So Yeon mengejarnya sampai ke jalan raya. “Beom Sil-ah, kenapa kau berlari sangat cepat.” Beom Sil tetap berlari dan So Yeon masih mengejarnya sampai ke jembatan sungai Han. Tiba-tiba So Yeon tersandung dan jatuh. Dipanggilnya Beom Sil untuk berbalik. Namun Beom Sil tidak berbalik dan hanya diam di tempat. Tanganya mengepal keras seperti hendak memukul sesuatu. “Beom Sil-ah, mianheyo.. aku memang mengabaikanmu. Ini salah ku, pukul aku saja!” So Yeon menangis keras. Ia sulit berdiri, dan tak bisa mengejar Beom Sil. Di seberang sana Beom Sil merasa tak tega meninggalkan So Yeon sendiri. “Percuma saja aku memberitau mu soal Min Jeong. sekarang, apa yang akan kau minta dariku.. So Yeon-ah.” “Beom Sil-ah, mianheyo.. aku ingin kembali padamu. Seharusnya aku mendengarkanmu waktu itu. Aku terbuai kata-kata Min Jeong,” “Aniyo, aku masih harus memikirkanya, rasa sakit ini tidak mudah hilang.” tangis So Yeon semakin menjadi, tidak ada yang bisa ia perbuat setelah mendengar perkataan Beom Sil. So Yeon menundukan kepalanya, ia sungguh menyesal. Bunyi bising jalanan tidak memecahkan keheningan di antaranya. “Beom Sil-ah, aku sungguh menyesal..” detik berjalan. Namun tak lama, Beom Sil membalikan badanya dan berlari memhampiri So Yeon. Diangkatkanya tubuh So Yeon kepelukanya. So Yeon masih menangis, bahkan semakin keras. “So Yeon-ah, maukah kau mengobati luka ini? Kau yang membuatnya, bukankah kau harus bertanggung jawab?”, “aku tidak bisa.. huuuhuu”, “Tatap wajah ku, lihat mata ini. Apa aku terlihat membohongimu? Sarangheyo, So Yeon-ah”. So Yeon diam menatap mata Beom Sil, ia merasa begitu bersalah. “Wae.. bukankah kau membenciku?”, “ahh aniyo.. aku tidak bisa membencimu, aku hanya bisa menjaga dan menyanyangimu”, “Beom Sil-ah, kau memang sahabat baik ku”, “Keunde, sebenarnya aku menginginkan sesuatu darimu. Bolehkah aku memintanya?”. Tiba-tiba So Yeon bingung, “Ne, apa yang kau inginkan? Akan kukabulkan”, “Aku ingin hubungan kita lebih dari persahabatan”, “Wae? Maksudmu, kau menembak ku? Ohh jinja eoh.. eotokhe, hehehe”. Tanganya menggaruk-garuk kepala, ia harus menjawab apa. So Yeon melihat ketulusan di mata Beom Sil. Ia tak bisa membiarkanya lepas dari genggamanya lagi. Saat ini adalah kesempatan untuk So Yeon agar bersama kembali. “Beom Sil-ah, saranghe..”, “Saranghee So Yeon-ah, aku akan selalu di sampingmu”, “Gomawo Beom Sil-ah, jeongmal gomawo.” Beom Sil memeluk erat So Yeon, seperti tak ingin kehilangan dunianya lagi. So Yeon tersenyum dalam pelukan Beom Sil, rasanya ia tak ingin pergi jauh dari Beom Sil. Ia tak ingin kejadian bersama Min Jeong terlulang kembali pada dirinya. Yang ia miliki saat ini adalah Beom Sil, ia ingin melakukan lebih banyak hal dalam hidupnya bersama orang yang ia cintai. “Hya, kau ini. Sudah-sudah jangan menangis lagi. Kajja, kita pulang.” Beom Sil mengacak-acak rambut So Yeon, dan menggendongnya. Mereka berjalan menyusuri jembatan sungai Han sambil tertawa bahagia melihat indahnya pesona sungai dan jembatan yang meraka lewati.

Cerpen Karangan: Zakiyah Nabilah
Facebook: Zakiyah

Cerpen Bridge Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Henry

Oleh:
“Jina-ssi, ini jaketnya..” “Jin, sabuk sama dasinya!” “Jina~ kaos kakinya yang biru doong masa coklat sih. Mana nyambung?” “Aaaaaaaa!!” Jina berteriak kesal. Terduduk dengan setumpuk barang di pangkuannya. Henry

Love Sick

Oleh:
Di era sekarang ini banyak sekali teman-temanku yang menjadi fangirl beberapa artis K-Pop yang mulai dari Shinee, Exo, Bts, atau bahkan penyanyi solo seperti Kangta, Henry, Yoona. Dan itu

Pacar Baru

Oleh:
Okey… Di mana gue? Eh, salah ngomong. maksudnya gue siapa. Jauh banget yak? So, nama gue Choi In Ha. Sekarang ini, gue lagi ngefans sama bintangnya sekolah gue. Eh,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *