Cry For Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 4 November 2016

“Saudara Jeon Jungakook, siapkah anda menjadi suami yang baik untuk Park Sooyoung?”
“Ya, saya siap”
“Saudari Park Sooyoung, siapkah anda menjadi istri yang baik untuk Jeon Jungakook?”
“Ya, saya siap”
“Silahkan sematkan cincin di jari pasangan anda”

Tanganku terulur untuk memasangakan cincin di jari jungakook, begitupun jungakook, ia menyematkan cincin di jari manisku, kemudian ia mencium punggung tanganku

“Dengan begini, kalian berdua telah resmi menjadi suami istri”

Jungakook lansung memelukku, tak terasa airmata ku mengalir, mulai sekarang dia adalah suamiku, dan dia kelak akan menjadi ayah untuk anak-anakku

Kenangan itu kembali menghampiriku, kenangan yang begitu indah, seandainya saja kenangan ini bisa kubagi bersama jungakook, sayangnya dia sudah pergi. Bukan, dia bukan meninggal, namun dia pergi bersama wanita yang lebih ia cintai, kenyataan pahit bukan? Orang yang selama ini kuanggap cinta sejatiku, ternyata mendua di belakangku.

“Mama” Panggil seorang anak perempuan kecil, mendengar suara itu aku segera menghapus airmataku, yap dia adalah anakku, anakku dan jungakook
“Iya sayang, ada apa?” Ucapku sambil mengelus rambut hitam pekat milik Bona, Ia tidak menjawabku melainkan menatapku
“Hei, kok gak jawab pertanyaan mama?”
“Mama abis nangis lagi ya?” Tanya Bona, aku tersentak, namun sesaat kemudian aku tersenyum
“Enggak kok, mama baik baik saja”
“Mama boong, pasti mama nangis karena kangen papa kan? Memang papa kerja apa sih? Kok gak pulang-pulang” Tanya Bona, memang selama ini aku membohonginya, aku mengatakan bahwa ayahnya sedang pergi untuk bekerja. Dengan segera aku memeluknya, aku tak dapat membendung airmataku lagi, aku terisak di pelukannya

“Kok mama nangis? Bona salah ngomong ya? Maafin bona” Ucap Bona dengaan suara bergetar, ia ikut menangis
“Loh kok mama sama kakak nangis? Ucap dua orang anak kecil yang mempunyai wajah yang mirip dengan Bona, -Ara dan Lena-
“Ah mama, gak papa nak” Ucapku sambil menghapus airmataku dan mengelus pipi Bona yang masih terus dibanjiri air mata
“Sudah bona, jangan nangis lagi, bona gak salah kok” Ucapku sambil mengelus rambutnya, ia mengangguk, aku menoleh ke arah jam, sudah pukul 9 rupanya
“Ayo kalian tidur ya, besok sekolah kan?, besok mama akan nganterin kalian” Ucapku dengan senyum lima jari, mata malaikat-malaikat kecilku berbinar-binar, memang sudah lama aku tidak mengantarkan mereka sekolah, karena tugasku sebagai direktur di salah satu agency terbesar di korea sangat padat
“Yeayyy” Ucap mereka serempak, aku tertawa melihat tingakah mereka yang lucu ini, kalau bukan karena mereka, mungkin aku sudah menyerah untuk hidup
“Ya sudah, ayo tidur” Ucapku sambil menggandeng mereka bertiga ke kamar
“Goodnight princess” Aku mencium kening mereka dan mematikan lampu kamar, segera aku bergegas menuju kamarku

YG Entertaiment adalah agency yang menghasilkan begitu banyak artis-artis yang populer sehingga kami menjadi salah satu agency terbesar di Korea, kini aku sedang berjalan di lobby gedung YG, sambil sesekali tersenyum kepada seluruh pegawai yang memberikan sapaan kepadaku. Aku masuk ke ruanganku dan mulai mengecek dokumen-dokumen yang sudah tertumpuk di mejaku

Tok.. Tok.. Tok
“Masuk” Setelah berkata demikian, Chanmi -sekretarisku- masuk kedalam ruanganku dan membungakukan badannya
“Ada apa chan?”
“Direktur dari perusahaan Cube Entertaiment ingin bertemu, dia sudah ada di depan, ibu ingin menemuinya?”
“Tentu saja, suruh dia masuk sekarang chan”
“Baik bu”

Setelah chanmi ke luar, aku kembali mengecek dokumen dokumenku, tak kusadari seorang pria sudah masuk ke dalam ruanganku
“Annyeong Mrs. Park”

Deg
Suara itu, suara hangat yang amat aku rindukan terdengar di telingaku, Ah ini mungakin halusinasiku saja, aku mendongakkan kepalaku, dan ini bukan halusinasi.

Aku masih belum percaya bahwa sekarang aku bertemu dengan Jungakook lagi, Sejak aku dipaksa dia untuk ke Cafe aku memilih untuk tidak membuka mulut. Ia menatapku namun tidak berkata apa-apa. Hening itulah yang dapat menggambarkan suasana kami
“Jadi, apa kabarmu yi?” Akhirnya ia membuka mulutnya, tak kusangaka dia memanggilku Joyi, itu nama kesayangan yang ia berikan kepadaku
“Ya, seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja” Ucapku sambil tersenyum getir, pandanganku sedikit buram karena genangan airmata di pelupuk mataku
“Kau semakin cantik saja” Ucapan dia membuatku sedikit malu, aku tak yakin jika kini pipiku tidak memerah
“Gomawo”
“Apakah kau masih mencintaiku?”

Deg
Aku terdiam, aku menundukkan kepalaku menatap lantai café ini, mencegah agar airmataku tidak keluar, aku meremas kuat ujung blazerku
“Ah, kau pasti tidak mencintaiku kan yi? Bahkan kau mungakin membenciku”
Tidak, aku masih mencintaimu sangat
“Aniya, aku tidak membencimu, lupakanlah kejadian yang dulu” Ucapku sambil menatap wajah manisnya
“Jeongmal mianhae yi” Ucapnya sambil menggenggam tanganku
“Gwenchana kookie-ya” Ucapku lirih sambil melepaskan genggaman tangannya, ia tersentak, kemudian kami berdua menjadi kikuk, selang beberapa lama ia kembali memulai pembicaraan
“Bisakah kita berteman?” Ucapnya sambil tersenyum, munafik jika aku bilang senyum itu tidak manis, senyum itu begitu manis, dan karena senyum ini aku terpikat kepadanya
“Ah tentu saja” Ucapku sambil tersenyum, kemudian aku melirik jam di tanganku, sudah waktunya aku menjemput anakku
“Ah baiklah kookie, mungakin lain kali kita bisa bertemu lagi, aku harus pergi, sepertinya anakku sudah menunggu di sekolah”
“Eh, bagaiman jika aku mengantarmu? Aku sudah merindukan anakku”

Deg
Hatiku tersentak mendengar pernyataan jungakook, aku senang karena setidaknya dia masih merindukan putri kecilnya
“Eung, oke” Jungakoook tersenyum lalu menggandeng tanganku, Jantungaku sudah berdegub tidak beraturan, namun aku tidak ingin melepaskan genggaman ini, genggaman dari tangan yang begitu aku inginkan

“JUNGYI Elementary School” Di sekolah ini lah anakku disekolahkan, apakah kalian tahu apa arti kata JUNGYI? Itu adalah gabungan dari nama Jungakook Joyi, ya sekolah ini adalah milikku dan jungakook setidaknya sebelum aku dan jungakook berpisah, karena setelah berpisah kami sepakat menjualnya namun hingga kini aku tetap menjadi donaturnya, sepertinya jungakook pun seperti itu

“Mamaaa” Sehabis ke luar dari mobil jungakook, aku langsung disambut dengan teriakan malaikat-malaikatku
“Hello princess” Ucapku sambil memeluk mereka satu persatu, mereka pun membalas pelukanku, namun kini mereka tengah menatap jungakook dengan tatapan “siapa ini?”
“Ahjussi ini siapa mama?” Tanya Lena, aku diam saja, aku bingung ingin menjawab apa, haruskah aku menjawab “ahjussi ini ayah kalian yang selingakuh” Hah, mungakin aku gila jika berkata seperti ini
“Ah, bukannya dia yang ada di foto?” Tanya Bona
“Oh iya, foto yang selalu mama peluk sebelum tidur” Ucap Ara, aku terkejut mendengar penuturan Ara, aku merasakan pipiku memanas, aku melirik sekilas ke arah Jungakook, dia tersenyum tipis
“Hei cheonsa, aku jeon jungakook, appa kalian” Ucap Jungakook, kurasa dia sudah gila, dengan santainya dia berkata seperti itu. Lihat wajah anak-anakku yang terheran-heran mendengar penuturan Jungakook
“Appa kita? Benar ma?” Tanya Ara
“Eung.. ah.. iya” Aku menjawab dengan gemetar, Mata mereka berbinar-binar, dengan segera mereka “menerkam” ayah mereka
“Papaa, bona kangen”
“Ara juga kangen”
“Ih papa ganteng, coba aja papa jadi pacar Lena”
Sial, perkataan Lena membuatku sedikit ehm cemburu, hah dia sudah milik mama tau, eh itu dulu ding. Aku menatap miris ke arah mereka, bukankah dari dulu ini yang aku impikan? Keluargaku berkumpul lagi.
“Yi, kok diam saja?” Aku tersentak, kemudian aku menggelengakan kepalaku, kini aku melihat jungakook sedang menggendong Lena
“Kajja kita pulang” Ucapku, kemudian mereka semua mengangguk, kami pun masuk ke dalam mobil hitam milik jungakook

Kini, aku, jungakook dan anak-anakku sedang berada di halaman rumahku, Aku dan jungakook duduk di pondokan, sedangakan bona, lena dan ara sedang bermain kejar-kejaran
“Yi, Kau mengurus mereka dengan sangat baik”
“Benarkah?”
“Tentu saja, terimakasih sudah mengurus anak-anakku dengan baik”
“Itu sudah tanggung jawabku, ngomong-ngomong dia anakku juga”
“Lebih tepatnya anak kita”
“Hah iya”
“Yi, aku mau anak-anakku mempunyai ayah lagi” Aku tersentak mendengar pernyataan jungakook, apa dia menyuruhku melupakannya dan mencari lelaki baru?
“Kau menyuruhku mencari suami baru?”
“Tidak, aku yang akan menjadi suamimu untuk kedua kalinya”

DEG
Oh astaga, ucapan jungakook tadi hanya mainan atau serius sih? ah tentu saja hanya mainan, lagian kini ia sudah mempunyai Suzy
“Yak, kau lucu sekali kookie” Ucapku sambil tertawa, namun jungakook tidak tertawa, dia malah menatapku lekat
“Hei, aku tidak bercanda” Aku langsung berhenti tertawa, eh dia serius?
“e-em ah, bukankah kau sudah bersama suzy?” Belum sempat ia menjawabnya, tiba-tiba Lena dengan jailnya menyemprotkan air ke arah kami
“YAK, LENA MAMA JADI BASAH KAN” Ucapku dengan nada 3 oktaf, namun kemudian jungakook dengan sialnya menyemprotku kembali, ah aku tak bisa membiarkan mereka aku berlari mengejar mereka, akhirnya kami pun bermain air tak sadar posisi jungakook kini tengah memelukku dari belakang
“Ciee, mama sama papa” Ucap Bona, mungakin kini pipiku sudah seperti tomat busuk, sialnya jungakook malah mengeratkan pelukannya
“Saranghae” Ah kata-kata ini, kata-kata yang sudah lama tidak kudengar, kini aku mendengarnya kembali dari mulut jungakook
“Eh, udah ah, mama mau mandi, kalian juga mandi ya” Ucapku kepada mereka, dengan muka memerah aku berjalan ke kamar mandi, aku masih mendengar mereka masih tertawa

Kurasa jantungaku sebentar lagi copot, karena mereka berdetak dengan begitu cepat, bagaimana tidak, kini jungakook sedang tidur denganku, ehm seranjang, Tadi dia memutuskan untuk tidur di rumahku, sialnya tak ada kamar kosong lagi di rumahku, kamar yang lain sudah dipenuhi oleh para maid, dan akhirnya kami tidur berdua

“Yi, udah tidur?”
“Engg belum”

Klik,
Lampu kamarku dihidupkan oleh jungakook, tak disangaka ia menggenggam tanganku
“Yi, untuk kejadian yang lalu aku minta maaf dengan sangat, aku begitu bodoh telah melukaimu, tak dipungakiri setelah kau memutuskan untuk berpisah, aku masih sangat mencintaimu bahkan sekarang” Mendadak badanku terasa lemas, darahku mengalir begitu cepat, aku mulai meneteskan airmata
“Aku sudah memaafkanmu dari dulu, namun rasa sakit ini masih ada sampai sekarang, tapi sialnya, semua itu tertutup oleh rasa cintaku kepadamu, dan jujur aku sangat mencintaimu dan merindukanmu” Aku terisak, akhirnya aku bisa mengatakann semua, jungakook menarikku ke dalam pelukannya, aku bersandar di dada bidangnya sambil terisak
“Kau masih mencintaiku?”
“Sangat”
“Kau merindukanku?”
“Lebih dari yang kau tahu”
“Maafkan aku”
“Gwenchana”
“Jeongmal Saranghae”
“Nado Jeongmal Saranghae”

Jungakook menempelkan bibirnya di bibirku, jika waktu harus behenti, saat inilah aku ingin waktu berhenti, aku merasakan kehangatan dari bibirnya ini, aku membalasnya dengan perasaan, tak ada rasa nafsu diciuman ini, yang ada hanya cinta dan rindu
“Mari kita tidur” Ucap Jungakook, aku mengangguk, ia menari kepalaku ke dadanya, aku ingin memberontak namun ia dengan sigap memelukku dengan erat
“Biarkan seperti ini yi” Aku mengangguk, akhirnya mataku terpejam.

Seminggu semenjak peretemuanku dengan jungakook, kini kami makin dekat dan aku kembali menaruh harapan di pemuda tampan itu, kini aku sedang dalam perjalanan menuju kediaman jungakook, dengan membawa makanan kesukaannya strawberry cake. Namun saat sampai disana kenyataan pahit kembali kuterima
“Kookie-ya” Ucapku lirih, tak sadar genggamanku di plastik berisi strawberry cake terjatuh. Jungakook yang tengah bercumbu dengan Suzy –wanita yang dulu membuat jungakook pergi dariku- menoleh kearahku
“Joyi..” Ucapnya, mungakin dia tak menyangaka aku sedang berada di rumahnya dan menyaksikan kebohongan yang dia lakukan entah keberapa kali
“Maaf menganggu” Ucapku sambil tersenyum lirih, lalu segera berjalan ke arah mobil. Sakit. itulah yang kini kurasakan, harapan yang sudah kutaruh kini kembali hancur, seperti beberapa tahun yang lalu.

Setelah beberapa hari semenjak kejadian perih itu, jungakook masih terus meminta maaf kepadaku, namun sama sekali tak kugubris, aku sudah memutuskan untuk melupakannya. Kini aku sedang merefreshingkan otakku dengan meminum coffe latte di café langgananku

TING.
Suara pintu café berbunyi bertanda ada pelanggan yang masuk, aku menoleh sebentar, wajahnya seperti sudah kukenali, ia menatapku juga, lalu tersenyum dan berjalan ke arahku
“Hei joy” Sapanya ramah, aku menatapnya dengan pandangan menyelidik, namun sesaat kemudian aku membalas sapaanya
“Eh hai”
“Kau ingat siapa aku?”
“Tidak”
“Dulu kita lumayan dekat joy” Aku memejamkan mataku mencoba menemukan memoriku tentang dia, aku membelalakan mataku
“KRIS” Teriakku, membuat pengunjung café menatapku dengan tatapan heran, aku tak mempedulikan tatapan mereka, aku hanya memikirkan pria di hadapanku. Dia Kris, sahabatku dari junior high school hingga kuliah, namun setelah lulus dia tiba-tiba hilang.

“Kris, aku butuh penjelasanmu” Ucapku dengan nada datar, dia tersenyum lebar, lalu mulai menjelaskan mengapa ia tiba tiba menhilang, dan akhirnya aku memaafkannya setelah ia memohon kepadaku. Dia masih seperti dulu, konyol. Di café ini, kami saling melepas rindu dan bersenda gurau, entah mengapa aku tiba-tiba menaruh harapan pada pemuda di hadapanku ini. Semoga harapanku tak hancur seperti sebelumnya dan semoga ia mampu menghapus nama Jungakook di hatiku.

Cerpen Karangan: Cintya
Facebook: facebook.com/cintya.bstarzbismaniac

Cerpen Cry For Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Just You (Part 1)

Oleh:
Normal pov Mata seohyun terus memandangi langit yang sepi, tanpa bintang satu pun yang menghiasinya. Seperti hatinya yang selalu saja sepi, ia selalu berharap yoona, eonni nya akan kembali

Dalda (Sweet)

Oleh:
“Baekhyun! Bersiap-siaplah… setelah ini giliranmu” seru Manajer Lee. Aku segera menganggukan kepala dan sesuai perintahnya, aku bersiap-siap. Aku melatih vokalku. Sebagai seorang penyanyi solo yang sudah banyak dikenal orang,

Ketika Kau Memandangku (Part 1)

Oleh:
Pagi ini akan menjadi pagi yang paling ku takuti, tapi mau bagaimanapun aku harus melakukannya karena aku seorang reporter, yang harus mengungkap kasus pembunuhan yang sering terjadi di salah

Saranghae

Oleh:
Bentangan canvas biru indah di udara yang tertutup kegelapan malam terindahkan dengan sorotan indah purnama bulan. Malam itu angin malam berhembus tenang membiarkan helai demi helai rambut hitam panjang

The Story of Two Daughters (Part 2)

Oleh:
Lily masih bingung. Begitu juga dengan Anggrek. Tapi berbeda dengan Lily, jika Lily bingung karena munculnya Arwah Melati dalam mimpinya, namun Anggrek jauh berbeda kebingungannya dengan Kakaknya. Dia malah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *