Dalda (Sweet)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 18 March 2013

“Baekhyun! Bersiap-siaplah… setelah ini giliranmu” seru Manajer Lee. Aku segera menganggukan kepala dan sesuai perintahnya, aku bersiap-siap. Aku melatih vokalku.
Sebagai seorang penyanyi solo yang sudah banyak dikenal orang, aku tidak boleh memberikan penampilan yang membuat fans kecewa. Begitulah kata-kata Manager Lee yang pastinya akan selalu aku ingat.

Aku menatap gitarku. Aku mengeluarkannya dari tasnya.

Aku perhatikan benda pemberian Kakekku itu. ”Ini adalah gitarku. Aku menggunakannya saat aku menyatakan cinta kepada nenekmu. Kau harus menjaganya, dan nyanyikan lagu romantis saat kau menyatakan cinta kepada yeoja yang kau suka. Dulu, aku menyanyikan lagu milik Nat Kingcole, When I Fall In Love” itulah kata-kata Kakek yang aku ingat sampai sekarang… sampai dia sudah tidak ada lagi di dunia ini. “Baekhyun! ayo silahkan… penggemarmu sudah tidak sabar melihat penampilanmu” kata Manager Lee dengan tersenyum. Kami saling berhadapan, dan Manajer Lee memelukku. Dia menepuk-nepuk punggungku. “buatlah penggemarmu tersenyum, Baekhyun” dia sedikit terharu dan mengeluarkan air mata tulusnya. “ne Manajer Lee… aku akan menghibur mereka” jawabku. Lalu aku keluar dari backstage. Sudah terdengar banyaknya teriakan histeris dari para penggemarku, belum lagi ada yang membawa spanduk dan lightstick yang berwara-warni.

Aku duduk di sebuah bangku bar yang didepannya sudah ada microphone. Dan gitar itu aku selempangi. “ehem…” aku melemparkan senyuman kepada semua penonton, teriakan mereka semakin histeris bahkan aku perhatikan ada yang menangis, sekeren itukah aku sampai membuatnya menangis? Ahahaha… kidding. “selamat sore… aku harap kalian menyukai lagu yang akan aku bawakan sore ini” kataku sambil mengatur posisi duduk dan mulai bermain gitar. Malam ini aku membawakan lagu milik CN Blue berjudul Eclipse. Walaupun sedikit kesulitan karena lagu itu berbahasa Jepang, tapi aku tidak akan membuat penonton kecewa dan bosan dengan lagu Korea yang biasa aku nyanyikan.

Selama aku menyanyi, semua penonton yang membawa lightstick melambaikan tangan mereka, bahkan gerakannya kompak. Hal itu membuatku tambah semangat bernyanyi. Tapi mataku tertuju pada 3 orang yeoja sedang berbicara dengan seorang yeoja di luar ruangan. keluar dari ruangan konser. Tapi aku harus profesional, aku tidak boleh terpaku dengan pandangan aneh atau apapun, aku tetap lanjut menyanyi lagunya sampai selesai.

Tepuk tangan yang banyak membuatku untuk membukukan badanku dan mengucapkan “gamsahamnida” sambil tersenyum. Aku kembali ke belakang panggung, dan kembali bertemu dengan Manajer Lee. “penampilan bagus Baekhyun… aku tidak menyesal mengontrakmu selama 5 tahun” ucapnya sambil memelukku. “Gomawoyo Manajer Lee…” ucapku sambil mengusap punggungnya.

Aku dan staff-ku berjalan di koridor menuju tempat parkir. Tapi aku rasa aku harus ke kamar kecil sebentar. “Manajer Lee, dan semuanya… kalian tunggu di tempat parkir. Aku harus ke Toilet” aku berjalan ke Toilet, tapi setelah keluar dari toilet aku mendengar suara jeritan yeoja yang cukup menyentil telingaku sehingga aku penasaran dan melihatnya di balik tembok.

“Hah! Kau pikir aku tidak tahu?! Sekarang cepat berikan tiket itu” kata seorang yeoja.
“aku tidak mau… aku membelinya mahal sekali dan ini dengan uang tabunganku sendiri” kata seorang yeoja lagi, yang sedang dikepung oleh 3 orang yang aku lihat tadi. “kau pikir aku peduli? Teman-teman! Ambil tiketnya” perintah yeoja yang berambut sepinggang itu. “wow! Tiket yang VIP ya?” ucap yeoja tadi dengan nada meledak. “bye-bye” ketiga yeoja itu berjalan dengan centilnya meninggalkan seorang yeoja yang hanya bisa pasrah dan menyandarkan tubuhnya di tembok. Pelan-pelan dia mulai jongkok dan memasang wajah murung.

Aku berpikiran untuk menghampirinya. “ehem… apa kau tidak apa-apa?” tanyaku. Dia tidak menoleh sama sekali, dan dia juga tidak menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba aku teringat, Manajer Lee sedang menunggu di parkiran, aku segera berjalan kesana tanpa memikirkan yang lain.

“Manajer Lee… ayo kita pulang” ajakku sambil naik ke mobil Saturn berwarna hitam mingkilap. Sebenarnya kalaupun aku hanya diberikan sebuah sepeda juga tidak masalah, lagipula kan hanya untuk pribadi. Selama diperjalanan aku melihat-lihat pinggir jalan yang penuh dengan toko-toko yang baru buka. “Baekhyun… kau mendapatkan tawaran di sebuah acara mencari bakat bernyanyi. Korea Got Tallent kau menerimanya atau tidak?” tanya Manager Lee sembari membolak-balik buku catatan yang isinya adalah jadwal tampilku. Aku berfikir sejenak sambil menggenggam pegangan yang adanya persis di atas jendela mobil. Aku bersandar dan menarik nafasku. “iya… aku mau” jawabku. “oke… kalau begitu kau mulai bersiap-siap pukul 7.00 malam. Karena acaranya mulai pukul 7.30” kata Manajer Lee. Seakan-akan perkataan itu hanya sebuah tulisan yang melintas cepat di depan mataku, aku sudah terlajur terpaku dengan kasur Hotelku yang empuk.

Aku keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutku. Aku melihat layar ponselku yang terdapat 1 SMS baru.

(Dari: Manajer Lee)

Besok Jurinya adalah, Taecyeon 2PM, kau dan Park Chanyeol. Penyanyi pendatang baru…
aku mau besok kau jangan menyakiti hati peserta… jika kau tidak menyukainya kau tinggal bilang “NO” sebagai tanda tidak lolos, dan sebaliknya jika kau menyukai penampilannya jawablah “YES”.

“Park Chanyeol?” ucapku. Aku berusaha mengingat nama itu. Tapi sudahlah… tidak penting. Lagi pula aku bertemu dengannya besok. Dengan cepat aku mengetik balasan SMS untuk Manajer Lee.

(untuk: Manajer Lee)

Ne Manajer Lee. Aku mengerti. Sebaiknya kau tidur sekarang, sebelum kau sakit karena begadang. mimpi indah~ V^_^V

“Send!” ucapku pelan. Manajer Lee sudah aku anggap sebagai Ayahku sendiri. Maka aku selalu memperhatikannya dan bermanja-manja dengannya. Karena… aku tidak merasakan bagaimana hidup dengan seorang Ayah. ah! Abaikan… aku tidak mau membahas itu.

Saat aku berbaring aku merasakan sesuatu ada di balik jaketku. Lalu aku melihat benda itu, adalah sebuah FLASHDISK berwarna putih dengan gantungan yang ada huruf Kanjinya. Aku tidak mengerti apa tulisan itu, tapi untuk menghilangkan rasa penasaran, aku membuka laptopku untuk melihat apa saja isi FLASHDISK itu.

Byun Baekhyun…
Byun Baekhyun…
Byun Baekhyun…

Aku sedikit mengerutkan alis, “kenapa isi FLASHDISK ini hanya fotoku dan lagu-lagu berbahasa Jepang?” kataku berbicara sendiri. Klik! klik! Aku membuka sebuah dokumen yang bertuliskan

!

Entahlah… aku tidak dapat membacanya. Tapi dokumen itu berisi tentang diri si pemilik FLASHDISK ini. Untung saja dokumen ini bertuliskan bahasa Korea.

Kapan aku bisa melihat konser Baekhyun oppa? aku belum sempat melihat. Aku tidak sempat pergi ke Korea. Aku sekarang ada di Festival Nagasaki Kunchi. Ini menyenangkan! Andai saja Baekhyun oppa ada disini dan merasakan Nagasaki Kunchi tahun ini.

“hmmm… Jadi dia penggemarku ya? Tapi apa itu Nagasaki Kunchi? Setahuku Nagasaki adalah nama Kota di Jepang” gumamku. Aku langsung membuka Opera dan mencari dengan keyword “Nagasaki kunchi” dan aku klik Tombol search. Saat semua list sudah muncul aku mencari jawabannya di Wikipedia.

Nagasaki Kunchi (!)

Nagasaki Kunchi is big festival in Nagasaki. That’s Monstrous Creature festival. Nagasaki Kunchi flawed in Guiness Book Of Record in 2004 as “The Biggest Festival In The world”.

Aku membaca huruf Jepang itu satu-persatu, ternyata sesuai dengan judul dokumen si pemilik FLASHDISK ini, aku mengerti sekarang, berati otomatis pemilik FLASHDISK ini tinggalnya di Nagasaki, saat mengetik dokumen ini, dia baru saja ikut festifal itu.
Tapi tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah folder dengan tulisan Jepang yang bisa aku baca, karena basisnya Hiragana. Jujur saja, aku pusing jika melihat huruf Kanji. Apalagi menulis. Aku menyerah!

?^_^
(Yumi)
Hmmm… aku penasaran. Aku buka saja folder itu. Isi folder itu adalah beberapa foto seorang yeoja. “matanya bulat sekali… tapi Sepertinya aku mengenal dia” ucapku sambil terus meggerakan scrol di mouseku. “apa?! Dia kan… yang aku temui di bully dengan 3 orang temannya. Jadi namanya Yumi?” seruku. Tiba-tiba kelopak mataku terasa berat sekali, dan aku menyandarkan kepalaku diatas meja laptopku, hanya sebentar saja.

“Hoaaaam… ah! Aku tertidur disini rupanya” kataku sambil berjalan ke kamar mandi. Aku melintas didepan kaca wastafel, melirik sebentar dan lanjut berjalan. Tapi aku kembali melihat bayanganku dikaca. “aigoo! Mataku seperti panda!” aku memegang kedua pipiku dan menariknya kebawah. “aduuh… bagaimana dengan penampilanku nanti malam? Aku akan ditertawakan oleh Taecyeon hyung dan Park Chanyeol yang sama sekali belum pernah aku temui” aku kelabakan sendiri dikamar mandi, sampai akhirnya aku punya akal untuk cuci muka.

Setelah cuci muka.. “haah.. ternyata ini lebih baik” seruku. Aku mandi dengan air yang sejuk pada pagi hari. Setelah selesai, aku keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangku. Sekalian aku menggosok gigiku. Aku melihat koran hari ini. Aku menggigit sikat gigiku sebentar, semntara tanganku membolak-balik isi koran.

Byun Baekhyun: akan menjadi salah satu Juri di Korea Got Talent, apakah para peserta bersedia melihat wajah gaharnya?

“Aigoo.. kenapa judulnya seperti ini?” ucapku tidak jelas karena ada sikat gigi dimulutku.

Senin 10 Desember 2012, KBS mendapatkan info dari Manajer Lee, yaitu Manajer dari Byun Baekhyun, penyanyi solo tampan dan dikenal memiliki wajah yang Killer. Dikabarkan ia akan menjadi salah satu juri diantara Korea Got Talent, yaitu Taecyeon 2PM dan Park Chanyeol. Memang belum banyak yang tahu siapa itu Park Chanyeol, dia adalah penyanyi pendatang baru. Penasarankah kalian para Baekie (fans club Baekhyun)? kita Tunggu saja malam ini pukul 20:00 PM, setelah Asian Food Chanel.
Credit : Sung Hakyung

Aku tertawa melihat bacaan itu, apa benar wajahku gahar seperti yang diketik dalam koran ini? Hah.. ada-ada saja. Aku melempar koran itu kemeja, lalu kembali ke kemar mandi untuk membersihkan mulutku. Setelah itu aku mengganti pakaianku dan segera turun ke ruang makan untuk menikmati menu breakfast.
Didalam lift, aku melihat 2 orang yeoja yang senyum-senyum melihatku. “hihi.. iya.. itu Baekhyun oppa” seru mereka sambil menutupi mulutnya. Aku tersenyum kecil lalu saat sudah sampai lantai bawah aku keluar dari lift dan duduk di meja bundar yang sudah tersedia menu di atasnya.

BREAKFAST MENU

Screamble Egg + Milk (Low Fat)

Sweet tea

Sticky rice porridge

Mineral water

Indonesian Fried Rice

Aku menggigit telunjukku, dan berusaha memutar otakku “apa Indonesian Fried rice ini enak? ah! Aku coba saja… kalau enak aku akan memakan ini setiap aku sarapan” ucapku lalu aku memetikan jariku ke atas, dan segera datang seorang pelayan. “teh manis dan Indonesian Fried Rice” ucapku, pelayan itu menuliskan pesananku di sebuah buku catatan.

Aku perhatikan sekelilingku, ada seorang ayah yang sedang menyuapi anak laki-lakinya. Kapan aku bisa merasakan itu? Aku saja tidak mengenal ayahku, ibuku? Sudah meninggal dunia saat melahirkanku. Sekarang-satu-satunya keluarga yang aku kenal hanyalah hyungku, Byun Jangsun. Aku saja tidak tahu dia kemana.

“permisi tuan, satu Indonesian Fried rice, dan segelas teh manis?” tanya seoarang pelayan, “oh… iya. Terimakasih” ucapku. Aku mencium aroma fish preserves yang membuatku semakin lapar. Aku mulai menyendok nasi coklat itu dan akupun memakannya. “aigoo… rasanya…” aku memejamkan mataku. “rasa seperti meluncur di atas naga…” ucapku sambil terus menyuap fried rice itu.

ternyata makanan Indonesia memiliki cita rasa yang ‘meledak’.
Beep…beep.. ada SMS baru. Aku segera melihat ponselku. Dan ternyata itu dari Manajer Lee.

(Dari: Manajer Lee)

Baekhyun… jangan lupa nanti malam pukul 7.00 kau harus bersiap-siap. Oh iya… mulai malam ini aku tidur di samping kamarmu, agar kau tidak bangun kesiangan. Kalau saat aku bangunkan kau tidak bangun, aku akan memasukan satu bungkus es batu ke bajumu. >_< Aku tersenyum geli membaca SMS itu. Sering kali Manajer Lee aku anggap cerewet seperti kakek-kakek. Tapi aku sadar ucapannya benar. (untuk: Manajer Lee) Iya...iya... (: serahkan semuanya padaku. Kau boleh meletakan satu bungkus es batu di bajuku, bahkan 10 bungkuspun tidak masalah... hahahaha (Dari: Manajer Lee) Hah... terserah -_- Dari emoticon yang ia ketik, terlihat sekali dia pasrah dengan kata-kataku. Seandainya saja.. Manajer Lee adalah ayahku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kebaikannya. --- “Kita perkenalkan juri kita satu persatu. Park Chanyeol!” “huuuuuuuuuuu” semua penonton yang hadir dalam acara got talent itu berteriak dengan sosok Park Chanyeol. Yeah.. bagiku dia biasa saja. “kemudian... Byun Baekhyun!” aku melemparkan senyuman. Aku tersenyum karena bangga, teriakan penonton lebih kencang saat Seungri sang MC menyebutkan namaku. “dan terakhir... Ock Taecyeon dari 2PM!” “yeaaaaaaaah!” Kami bertiga duduk di meja panjang tepat didepan panggung. Aku duduk di pinggir sebelah Park Chanyeol. “baiklah pemirsa... kembali lagi dengan saya Seungri! Di acara Korea Got Talent. Penasaran bagaimana penampilan para peserta? Chek it out!” Peserta nomor satu, datang berdiri di tengah panggung. “halo... siapa namamu?” tanya Park Chanyeol dengan tersenyum. “aku Kyumin... bakat yang aku bawakan adalah fire dance” ucap anak kecil yang kurang lebih berusia 10 tahun itu. Dia mulai menunjukan kebolehannya menari dengan memainkan api. Taeceyon hyung, aku, dan Park Chanyeol langsung menekan bel berwarna merah secara bersamaan. “YES!” ucap kita bersamaan. Peserta selanjutnya... “NO!” “NO!” “NO!” Tapi setelah kata “NO” terus menerus terdengar, aku melihat seorang yeoja yang mengenakan kaos putih dan celana jeans panjang. “halo... siapa namamu?” tanyaku. “aku Yumi, dari Jepang. Aku mau membawakan lagu When I Fall in Love” katanya. ”Ini adalah gitarku. Aku menggunakannya saat aku menyatakan cinta kepada nenekmu. Kau harus menjaganya, dan nyanyikan lagu Romantis saat kau menyatakan cinta kepada yeoja yang kau suka. Dulu, aku menyanyikan lagu milik Nat Kingcole, When I Fall In Love” Deg! Aku merasakan sesuatu, aku mengingat kata-kata kakekku itu. Mataku terus memperhatikan yeoja itu, aku sudah tau dia adalah pemilik FLASHDISK yang semalam aku bawa tapi sayangnya aku tidak membawa FLASHDISK itu. Dia membawakan lagu itu dengan merdu sekali. Tapi tiba-tiba Park Chanyeol menekan bel merahnya. Aku sedikit heran, kenapa sebagus ini dia tolak. “oke... untukku... Yes!” ucapku tersenyum. “No” Park Chanyeol langsung menjawabnya tegas. “Yes!” ucap Taecyeon hyung. Aku hanya heran dengan disebelahku ini. Kenapa kita selalu beda pendapat. Tapi karena jawaban ‘No’ hanya satu, maka tetap saja dia tepilih. --- “Park Chanyeol! Kenapa tadi kau menjawab ‘no’ untuk gadis yang menyanyikan lagu when i fall in love itu?” tanyaku sambil duduk di sofa backstage. “itu bukan urusanmu” Aku sedikit kesal dengan jawaban singkat yang menyebalkan itu. “Jika ada orang yang menyolot, kau jangan melawannya. Lebih baik kau diam dan tetap pura-pura tidak peduli dengan jawaban menyebalkannya” itulah kata-kata Manajer Lee yang ada di pikiranku. “ehmm.. tapi, bukankah suaranya bagus?” tanyaku lagi. “ya! Kau jangan sok tahu! Aku tahu suara yang berkualitas atau yang bermerek tempel” jawabnya. “bermerek tempel?” “iya! Bermerek tempel, banyangkan saja wajah adalah merek yang menempel didirinya. Tapi sesuatu yang bermerek bagus dan pastinya belum tentu berkualitas. Wajahnya cantik tapi suaranya?” jawabnya. Aku berfikir sejenak, “hah... dasar aneh” ucapku pelan. Tapi sialnya Park Chanyeol menoleh dan berdiri di depanku, “kau bilang apa barusan?” tanyanya. Aku ikut berdiri dan bertolak pinggang. “aku tidak bilang apapun” aku langsung pergi meninggalkannya. Tapi dia menarik kerah bajuku lalu sebuah kepalan tangan mendarat kencang di pipiku. “argh! Kenapa kau memukulku?” ucapku sambil mengelus pipiku. “kau... kau benar-benar menyebalkan!” dia menonjokku sekali lagi. tapi aku tidak mau kalah, aku tarik rambutnya lalu aku banting ke tembok. “Chanyeol! Baekhyun! aku membawakan... omo!” Taecyeon hyung langsung meletakan dua coca-cola itu di meja dan berusaha memisahkan aku dan Park Chanyeol yang sudah mimisan. --- “Manajer Lee... maafkan aku! Aku tidak akan bertengkar lagi. aku mohon...” aku manarik tangan Manajer Lee, tapi dia tetap jalan terus ke kamarnya. “aku tidak akan pergi ke kamarku kalau kau memaafkanku. Dan aku akan terus ada disini” Tak lama kemudian, Manajer Lee membuka pintunya lalu kembali lagi ke kasurnya. Aku duduk di kasurnya, dia membelakangiku. “Manajer Lee..” panggilkuu pelan. Tapi dia malah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Aku mengitari tempat tidurnya, dan tidur disamping Manajer Lee. “Manajer Lee... kau adalah ayah bagiku. Kalaupun kau mendiamiku sampai 1 tahun tidak masalah” ucapku pelan dan memejamkan mataku. --- Aku memulai kebiasaan baru, yaitu lari pagi saat pukul 4 di halaman hotel. Kebetulan aku melihat koran di bangku taman. Aku duduk sebentar lalu membaca koran itu. Byun Baekhyun: Bertengkar dengan Park Chanyeol di backstage Korea Got Talent. Tertangkap kamera pada pukul 8.30 tadi malam, Byun Baekhyun dan Park Chanyeol, hanya karena berbeda pendapat, bertengkar. “Aku sudah memisahkan mereka. Baekhyun mimisan dan Chanyeol luka di lengannya. Itu karena Chanyeol memang orang yang suka menyolot. Tapi aku tidak sepenuhnya menyalahkan Chanyeol, keduanya sama-sama kepala batu” ujar Ock Taecyeon saat di temukan di J.Co Donouts daerah KBS Tower. Sampai sekarang belum ada keterangan lagi tentang masalah ini. Credit: Sung Hakyung “Apa? Aku kepala batu?” ucapku sambil meminum susu coklatku. “hari ini kan aku juga harus mendatangi Got talent itu, otomatis aku bertemu dengan Park Chanyeol lagi? aigoo... aku malas sekali” ucapku pelan. Brussss! Semua susu coklat yang ada di mulutku, aku semburkan. Ketika membaca berita yang tidak enak. Byun Baekhyun: Mencuri FLASHDISK milik penggemarnya. Apakah benar? Apa jadinya jika seorang idola mengambil FLASHDISK milik penggermarnya? Byun Baekhyun, artis papan atas ini diberitakan mengambil FLASHDISK milik fansya, dari Jepang. “Aku tidak tahu, tapi aku rasa tidak mungkin Baekhyun oppa yang mengambilnya. Lagi pula isinya tidak begitu penting kok” Jelas Ayumi, pemilik FLASHDISK. Credit: - “Tunggu! Kenapa tidak ada kreditnya? Siapa yang berani melakakukan ini? Agh! Tega sekali dia padaku...” ucapku pelan. Beep...beep... “SMS baru...” (Dari: Manajer Lee) Kau tetap aku izinkan untuk menjadi juri di Korea Got Talent. Tapi jangan membuat kerusuhan lagi dengan Park Chanyeol. SMS itu membuat aku harus meletakan gelas susu coklatku dan lebih fokus dalam membacanya. (untuk: Manajer Lee) Yang benar?! Yeaaaaah! Gomawo Manajer Lee...!*(tertawa) aku tidak akan bertengkar lagi dengan Park Chanyeol. ^_^ aku tidak akan mengecewakanmu Manajer Lee. Sekali lagi terimakasih Manajer Lee. I LOVE YOU! “YES! Yuhuuu! Yeah!” saking senangnya aku tidak sadar, aku berteriak sambil meloncat-loncat sehingga semuanya mengarahkan pandangannya kearahku. “apakah sejak bertengkar dengan Park Chanyeol, Baekhyun menjadi begini?” bisik seorang namja pada pacarnya. Lalu pergi. “aku tidak seperti itu...” keluhku. --- Ternyata aku harus tampil dulu di Mnet. Sialnya itu adalah acara dadakan dan aku belum persiapkan lagu apa saja yang harus aku bawa. Sekarang semuanya sudah ada didepanku. Aku benar-benar merasa nervous. Lagu apa yang harus aku bawakan? Aha! Aku tahu... Aku akan membawakan lagu milik Celine Dion, My heart will go on. Semuanya mebuka matanya lebar-lebar saat aku membawakan lagu Titanic itu dengan versiku sendiri dan sambil bermain gitar. Mereka begitu karena jelek? Atau mereka suka? Aku tidak tahu, yang jelas aku memikirkan bagaimana tanggapan Manajer Lee nanti. Prok prok prok prok... semua yang ada di studio memberikan tepuk tangan sambil berdiri. Apa-apaan ini? Aku merasa seperti artis Holywood saja. Hal ini memaksaku untuk tersenyum kaku dan membungkukan badan sebagai tanda terimakasih atas tepuk tangannya. Dibelakang panggung, Manajer Lee sudah menunggu. Dari kejauhan parasnya terlihat senang sekali, “kau hebat Baekhyun!” ucapnya sambil mengacukan dua jempolnya. “oh iya... ada seorang yeoja yang mencarimu. Aku kurang mengerti bicara dengannya, Bahasa Koreaya sedikit kurang” ucap Manajer Lee. Akhirnya aku menghampiri yeoja yang sedang duduk bersila di lantai, sambil membca buku dan bersenandung sendiri. “permisi...” ucapku sedikit membungkuk. “Baekhyun oppa?” dia langsung berdiri dan membungkukan badannya ke arahku, keluarlah kebiasaannya di Jepang. “Ini FLASHDISKmu kan?” tanyaku sambil menggantungkan FLASHDISK itu di jari telunjukku. “Haii!*(iya, dlm bhs Jepang) Oppa... arigatou... tapi aku tidak tahu siapa yang menyebarkan berita itu, aku sendiri belum pernah bertemu dengan wartawan. Apalagi bicara seperti yang ada di koran” ucapnya dengan wajah menyesal. “aku tahu... by the way... kau tidak latihan untuk penampilanmu malam ini di Korea got Talent?” tanyaku smabil ikut duduk bersila. “aku lelah, aku sudah terlalu banyak latihan tadi pagi. Ini... badanku sedikit panas kan” katanya sambil menarik tanganku, dan menempelkannya di keningnya. “aigoo... ini bukan sedikit. Tapi benar-benar panas. Ikut aku!” aku menarik tangannya, lalu membawanya ke Hotelku sebentar. “Manajer Lee... aku mau membawanya ke Hotel sebentar” “ya sudah... jangan macam-macam dengannya. Itu membuat namamu menjadi jelek. Oke?” “oke, Manajer Lee” jawabku. Lalu membawa Yumi pergi ke Hotelku yang bisa berjalan kaki dari gedung ini. Sesampainya di Hotel, aku sedikit bingung. Kenapa kamar Hotelku terbuka? “oppa! Pintunya terbuka” ucap Yumi pelan. “iya, aku sendiri tidak tahu. Kau tunggu disini, jangan pergi kemanapun” aku meninggalkannya di ambang pintu dan masuk ke kamarku. Benar saja, tertangkap ada seorang pria yang sedang mengacak-acak laci kabinet di bawah TV. “siapa kau?” ucapku yang membuatnya menoleh. Aku tidak bisa berkata apapun saat melihat dia adalah... Byun Jangsun, kakakku. “Hyung! Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku sambil menghampirinya. Hyung menarik bajuku, lalu menyodorkan pisau kearahku. “Kau! Adik tidak berguna... sekarang saat kau sudah terkenal, kau tidak mempedulikanku? Begitu?” bentaknya lalu mendorongku ke tembok. Dan ia tetap membongkar kabinet itu. “sekarang katakan dimana uang itu?! Dimana?!” “uang apa?” “Kau berikan aku uang itu, atau kau akan kubunuh?” ucapnya ngelantur. “hyung! Kau mabuk?” tanyaku lagi. “oke... aku akan berikan uang itu. Tapi aku mohon jauhi aku saat kau sedang mabuk. Aku akan diberitakan yang tidak-tidak oleh media” ucapku sambil menarik Yumi agar duduk disampingku. “hah! Begitu sombongnya kau... apalagi kau membawa seorang wanita ke kamar hotelmu. Kau mau menghamilinya? Huh?” “Hyung! ini! Kau ambil kartu kreditku” dia langsung merampasnya dari tanganku, lalu keluar dengan berjalan sempoyongan. Brak! Dan membanting pintu. “maafkan hyungku, ya. Kenapa kau tidak takut, Yumi?” tanyaku heran sambil melepas sepatuku, dan menggantinya dengan sendal hotel. “di Jepang orang yang mabuk seperti itu sudah sering. Biasanya dia akan menuduh yang tidak-tidak dan akan mengeluarkan seluruh masalahnya dengan memarahi setiap orang yang dia temui” jawabnya enteng. “a-apa?” ucapku pelan tak percaya. “haii... Aku juga sudah sering kena pukul ayahku di tangan. Setiap malam, chichi* (ayah, dlm bhs Jepang) pulang seperti choonan*(kakak laki-laki) yang tadi. Dan jika dirumah tidak ada makanan, semuanya harus bersedia terkena pukulannya menggunakan payung. Oppa bisa lihat sendiri, kenapa aku slelau menggunakan lengan panjang. Yaitu karena ini” dia menggulung sedikit lengannya, lalu aku bisa melihat pergelangan tangannya biru dan aku juga bisa lihat ada luka sepanjang betis. Aku menggelengkan kepala, dan berdecak. “kenapa kau tidak melawan? Atau melaporkan pada polisi mungkin?” “aku pernah berkata begitu dengan haha* (Ibu), tapi katanya chichi akan semakin menjadi, bahkan pernah berencana untuk membunuh polisi” aku menganga mendengarnya. Ternyata dibalik ketampanan wajah laki-laki Jepang, ada sifat kasar. Kenapa kehidupan di Jepang begitu kasar? “lalu kau tidak menyesal memiliki ayah yang begitu? Dan ibumu? Apa dia tidak menceraikan ayahmu yang selalu memukul kalian setiap malam?” tanyaku lagi. “walaupun banyak laki-laki yang kasar, tapi wanita Jepang terkenal berkelakuan sopan dan sangat setia. Aku sendiri tidak menyesal, karena biar bagaimanapun, chichi tidak boleh di sesali” jawabnya. “Sudahlah.. jangan biacarakan hal itu lagi, ini... kau makan permen ini. Itu akan membuat panasmu hilang. Ayo.. kita sekalian berangkat ke Korea Got Talent” ajakku. Dia hanya senyum-senyum dan berkata... “Arigatou..” sambil membungkukan badan dan menerima permennya. “Yumi... mau tidak kau berlatih untuk nanti malam denganku?” tanyaku. Dia menatapku, “kau serius oppa?” aku manjawabnya dengan tersenyum dan mengangguk. “kau mau lagu apa?” tanyaku. “hmmm... malam ini yang aku bawakan lagunya Utada Hikaru. Flavour of life” jawabnya. “tunggu disini” aku berjalan ke arah lemari sebentar untuk mengambil gitar. “Yumi... bernyanyilah, aku yang mengiringi. Aku mau dengar dan melihat dari dekat saat kau bernyanyi” kataku. Dia hanya tersenyum tak percaya. Dia mualai mengeluarkan suaranya, yang menurutku pantas mendapatkan julukan voice like an Angel. --- “kenapa kau tidak bersikap seperti fansku yang lain? Aku kan jadi tidak tahu kalau kau penggemarku” ucapku sambil mengunci pintu kamar. “inilah aku...aku tidak bisa menjerit-jerit saat melihat idolaku, walaupun aku seorang penggemar yang fanatik. Karena haha mengajarkanku, sebenarnya berteriak itu dianggap tidak sopan di Jepang. Aku harus mengembangkan yang namanya eitei artinya kesopanan. Dan cara bicara kami juga dikatakan aneh karena seperti tidak membuka mulut, di ajaran kami sendiri biacara terlalu lebar juga tidak sopan” ceritanya panjang lebar. “aku mengerti. Oh iya... soal pemalakan itu. Kau ingat kan, saat kau dimintai tiket oleh 3 orang temanmu?” “oh.. itu... mereka bukan temanku, aku tidak mengenal mereka” jawabnya. “apa?! Lantas kenapa kau memberikan tiket itu? Aku kan melihat kejadian itu, kau bilang kau menabung hanya untuk membeli tiket konserku” kataku sambil menekan tombol lift dan menunggu hingga pintu terbuka. “aku tidak bisa melawan. haha tidak mengajarkan untuk melawan” jawabnya lagi. “konser itu akan berlangsung setelah acara got talent selesai. Berati sebentar lagi... apa kau mau menonton?” tanyaku. “aku kan tidak punya tiket” jawabnya sambil masuk ke lift. “aku yang bayar...” jawabku. “ah... tidak usah, aku tidak menonton juga tidak masalah kok. Bertemu dengan oppa saja sudah cukup membuatku senang” katanya sambil mengelus tengkuknya. “ayolah... kau mau kan menonton idolamu ini secara langsung?” ucapku tersenyum lebar sambil menggerakan alisku naik turun. Dia mulai tersenyum, lalu menatapku. Bola matanya coklat, dan matanya bulat. “apa oppa serius?” tanyanyalagi, “kenapa kau masih ragu? Tentu aku serius” jawabku. “arigatou gozaimasu...” ucapnya sambil membungkuk. “kau kan sedang di korea, katakanlah ‘gomawoyo’.” “bukankah itu tidak sopan?” tanyanya polos. “itu sopan bagiku, kau boleh katakan itu hanya padaku. Selebihnya katakanlah ‘gamsahamnida’, tapi jika kau sudah dekat dengan seseorang kau boleh menggunakan gomawoyo” ucapku panjang lebar. “aku mengerti sekarang... gomawoyo oppa” Ting! Kita sudah sampai di lobi. Dan tinggal berangkat ke acara got talent itu. Tapi sayangnya aku tidak bisa menyetir mobil, jadi aku memilih untuk naik taxi saja. “Taxi!” teriakku. Taxipun berhenti didepan kami, dan aku mempersilahkan Yumi untuk masuk terlebih dahulu. “Yumi! Apa yang ada di tanganmu?” tanyaku saat melihat sesuatu di lengannya. “oh.. ini tulisan Jepang. Banyak orang mengiranya tato, padahal bukan, ini selalu aku tulis menggunakan spidol” jawabnya. Aku mengangguk-angguk. ! “kenapa kau menulisnya dengan huruf Kanji? Aku kan tidak bisa membacanya” jawabku sambil memanyunkan bibirku. “lalu oppa bisa baca huruf apa? Katakana? Hiragana?” “Hiragana, memang itu bacaannya apa?” tanyaku. “Ayumi Fukada” “namamu seperti Ayumi Hamasaki dan Kyoko Fukada. Ibumu sengaja atau bagaimana?” “haha sangat ingidolakan keduanya. Sehingga nama itu disatukan menjadi Ayumi Fukada” Jawabnya tersenyum. “ah.. kita sudah sampai. Ini uangnya pak” aku dan Yumi turun dan masuk ke gedung itu. “Yumi... tampilkan suaramu sebaik mungkin, seperti saat kita latihan” tanyaku sambil masuk ke ruang makeup. “baiklah oppa!” “oke... kalau begitu, do your best!” aku menepuk pundaknya lalu segera ke luar dari ruang makeup. --- “Jason... jujur saja aku lebih suka dengan penampilanmu kemarin dari pada hari ini” ucap Park Chanyeol kepada Break dancer itu. Dia aneh! Benar-benar aneh, padahal penampilan Jason jauh lebih baik hari ini. “menurutku... penampilanmu lebih baik hari ini... hanya saja tadi topimu terjatuh, tapi kau mengambilnya. Akhirnya koreografi menjadi rusak, seharusnya kau abaikan saja dan tetap lanjut dengan tarianmu. Itu saja komentarku..” itulah komentar yang aku berikan, dan Taecyeon hyung pun memberikan komentar yang sama denganku, tapi tidak kepada orang aneh disebelahku ini. Park Chanyeol menoleh kearahku dengan tatapan sisnis, kemudian dia melemparkan senyuman smirk. Saat giliran Yumi aku perhatikan dia menyanyi dengan posisi duduk . menggunakan baju selalu tangan panjang dan celana panjang. Untuk menutupi luka-lukanya. Jujur saja, aku lebih menyukai versi Yumi dari pada Utada Hikaru yang memiliki suara berat. “Yumi... aku suka kau yang malam ini... genbate* (semangat, dlm bhs Jepang)” ucap Park Chanyeol. Tumben sekali, biasanya aku dan dia selalu bertolak belakang. “hmm... apa kau sedikit grogi tadi?” tanya Taecyeon hyung. “euh... iya.. tadi aku sedikit lupa lirik. Jadi aku gugup” jawabnya tersenyum, tidak lupa melemparkan lambaian tangan kepada para pendunkukngnya di belakang para juri. Sekarang giliran aku yang berkomentar, “oke... Yumi... selain grogi, aku tahu kau sedang tidak enak bandan. Benar kan?” aku sebenarnya sudah tahu, tapi aku harus menjadi seorang yang profesional... saat dipanggung tidak boleh membahas yang dibelakang panggung atau bahkan yang diluar panggung. “iya... tadi aku juga agak panas. Tapi sudah membaik sedikit” jawabnya. “oke Yumi.. sialhkan kembali kebelakang panggung. Dan sekarang saatnya untuk menentukan siapa yang akan keluar dan siapa yang akan masuk ke putaran terakhir. Tidak terasa acara ini begitu cepat berakhir. Silahkan 3 finalis untuk masuk ke area panggung” ucap Seungri sang MC yang kali ini berpenampilan sedikit berbeda. Aku harap bukan Yumi yang berhenti menjadi finalis disini. Aku baru saja kenal dekat dengannya, tidak mungkin tiba-tiba dia hilang dari hadapanku begitu saja. “Jason...” “Andwae! Andwae!” para pendukung Jason berteriak saat Seung menyebutkan namanya. “maaf... Anda harus berhenti di babak ini” “huuuuuuuu...” semua bersorak, ada yang tidak terima ada yang senang karena Jason keluar. Semuanya yang ada dipanggung bersedih memeluk Jason, dari sisi meja, aku melihat Yumi tersenyum kearahku. Aku mengacungkan jempolku, dan begitu juga dengannya. --- “Park Chanyeol! Tumben sekali seleramu sama sepertiku” kataku sambil mendekatinya. “jadi ternyata sama ya? Aku menyesal kalau begitu” “kenapa kau menyebalkan sekali? Memang kenapa kalau kita sama?” kataku menyelak. “ishh... aku tidak mau sama denganmu. Wuee” katanya sambil menjulirkan lidah. Pak! Aku memukul bahunya. Pak! Dia membalasnya. Aku memasang wajah kesal, lalu mendorongnya pelan, lalu dia juga mendorongku. “ishhh! Kau seperti wanita! Mendorong-dorong” ucapnya. “kenapa aku membalasnya? Berarti kau juga seperti wanita” jawabku lagi. “HEEEII! Kalian berisik sekali!” ucap Taecyeon hyung. --- Taecyeon hyung bolak-balik dihadapan kami, dan mulai dengan ceramahnya. “kapan kalian bisa akur? Kalian ini bertengkar terus!” ucapnya dengan nada seperti orang yang memiliki jabatan tinggi sedang berpidato. Tapi sayang aku tidak bisa membela diri karena mulutku dan Park Chanyeol di lakban oleh Taecyeon hyung, sehingga kami hanya bisa berdehem. Dari kejauhan, aku melihat Yumi yang melambaikan tangannya ke arahku, dia sedikit tertawa karena melihat aku seperti ini. Kata-kata Taecyeon hyung tidak terdengar olehku, karena aku terlalu asik berbahasa tangan dengan Yumi, aku heran dia bisa bahasa tangan. Aku sendiri tidak mengerti apa yang dimaksud. “oke... kalian boleh melepas lakbannya” ucap Taecyeon hyung. Kami berdua masing-masing melepaskan lakban. “sekarang kalian pulang, dan ingat! jangan bertengkar” ucapnya. Aku dan Park Chanyeol langsung berlari ke arah pintu Exit dan berebutan memegang pegangan pintu. “hei! Hei! Hei! Baekhyun... kau lewat sana” Taecyeon hyung menunjukan pintu yang jaraknya masih jauh dari tempat aku berdiri. “issh.. kenapa harus aku? Kenapa tidak dia?” kataku sambil menunjuk ke arah Park Chanyeol. “apa kau tidak bisa mengalah sedikit?” Terpaksa aku jalan sambil menyeret kakiku. Tidak lupa dengan menjulurkan lidah ke arah Park Chanyeol. Di sebelah sana aku langsung menelepon Manajer Lee agar segera menjemputku. “Manajer Lee! Jemput aku.. aku sudah selesai” ucapku. “baiklah... gomawo Manajer Lee” Disebelah sana aku berpapasan dengan Yumi yang sedang membaca buku. “Hai Yumi! Penampilan yang AMAZING! Eh? Buku apa yang baca?” tanyaku sambil melihat sampul bukunya. “aku membaca cerita tentang kekejaman Jepang saat menjajah beberapa negara” jawabnya. Aku sangat pusing melihat tulisan di buku yang dibacanya, menggunakan huruf Kanji yang seperti benang kusut. “oh iya.. soal tadi. Aku lupa bertanya. Kenapa kau bisa bahasa tangan?” tanyaku sambil berdiri didepan lift. “Karena haha adalah seorang yang bisu tuli, sehingga aku belajar bahasa tangan dari buku” jawabnya. Aigoo! Ibunya bisu tuli? Ckckck... anak ini benar-benar tabah. “jadi... selama ini kau bicara dengan ibumu menggunakan tangan?” tanyaku. Dia hanya mengangguk dan tersenyum. Sekarang aku sudah tahu arti sebuah kehidupan, anak ini mencari uang sendiri dengan mengikuti acara got talent. Dia memilki ayah pemabuk dan ibu yang bisu tuli. Seharusnya aku beruntung memilki tubuh yang komplit dan bisa bicara serta mendengar dengan baik. --- Ayumi Fukada & Lee Kyumin: siapakah yang akan menjadi pemenangnya? Tersisa dua peserta lagi di korea Got Talent. 1 berasal dari Jepang dan korea. Apakah Kyumin pemenangnya, ataukah Ayumi? Berdasarkan hasil wawancara para juri kemarin, Ock taecyeon dari 2PM menjelaskan, “saya sebenarnya bingung Kyumin juga bagus, dan Ayumi juga bagus. Tapi kami akan berusaha sekeras mungkin agar mendapatkan siapa pemenangnya” ucapnya. Maka dari itu dukung terus mereka berdua, dan jangan lupa tontonlah Korea Got Talent siaran terakhir 2 minggu lagi. Credit:SungHakyung Manajer Lee melepar koran itu ke meja. Kemudian dimejanya aku melihat sebuah foto bayi. Otomatis aku emngambilnya dan melihat siapa bayi itu. “lucu bukan? Aku tidak tahu kemana anakku sekarang. Istriku meninggal dunia, dan sebelum bayi yang ada difoto itu lahir, dia juga memiliki seorang kakak laki-laki yang juga tidak aku ketahui keberadaannya. Mungkin sekarang bayi itu sudah besar sepertimu” kata Manajer Lee sebelum aku bertanya. “apakah Manajer Lee tahu namanya?” tanyaku. Manajer Lee menggeleng, “aku merasa saat itu kehidupan keluargaku sangat buruk, sehingga terpaksa aku memberikannya kepada orang tuaku” jawab Manajer Lee. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke laptop. Aku bermain Mumy maze deluxe, itu adalah permainan kesukaanku yang sering aku mainkan jika tidak ada jadwal panggung. Tiba-tiba ponselku bergetar dan aku yang hampir tertidur tidak jadi tidur karena getaran ponselku. (Jang Da Young) Aku angkat telepon dari sopirku. “halo?” “apa?! Baiklah.. aku segera kesana” segera aku menutup teleponnya, dan mengambil coat yang menggantung di balik pintu. “kau mau kemana?” tanya Manajer Lee, akan aku ceritakan nanti!” aku segera berangkat menggunakan mobil. Ini untuk pertama kalinya aku mengendarai mobil di jalan raya. Tapi aku terlalu panik sehingga aku langsung tancap gas menuju lokasi. --- “jadi bagaimana Byun Baekhyun? apa kau bersedia memutuskan kontrak dengan Manajermu, dan ikut ke Tokyo bersamaku?” ucap Kim Jonghyun sambil menopangkan kaki kirinya di kaki kanan. Sekarang aku dan Jonghyun sedang berada di suatu restoran Thailand. “aku tidak bisa... aku sudah dikontrak dengan Manajer Lee selama 5 tahun” jawabku. Tentu saja tidak bisa, karena aku harus memenuhi janjiku kepada Manajer Lee atas kontrak itu. “ya! Kau dengarkan aku dulu, di Tokyo banyak sekali yang berebut untuk mengontrakmu. Salah satunya adalah manajemen milikku disana. Aku akan membayarmu berapapun kau minta. Sekali pun kau minta 100.000 won per jam” “skak mat! Sekarang aku tidak bisa apa-apa. Inilah antara perjanjianku dengan Manajer Lee dan martabatku sebagai seorang penyanyi. Jika aku menerima kontrak dari Kim Jonghyun, aku akan diduga plinplan, dan jika aku tidak menerimanya, aku akan digosipkan sombong karena penolakan ini” ucapku dalam hati. “bagaimana? Choose one... you want to stay in Korea or you will join with my entertaiment at Tokyo?” tanyanya yang membuatku semakin ragu. Aku menyatukan jari-jari kedua tanganku dan kedua ibu cariku saling berpacu. “I need 2 days for give an answer” jawabku sambil menggit bibir bawahku. “ow... I see, you are very busy and have very much schedule. Ok.. I’ll give 2 days for you” katanya sambil pergi meninggalkanku. Dia menepuk pelan pundakku lalu kembali emmakai kacamata hitamnya. “apa yang harus aku lakukan?” ucapku bingung. “permisi... ada yang ingin anda pesan?” tanya seorang pelayan. Aku menoleh kearahnya dan.. “Yumi?!” tanyaku tak percaya. --- “Kenapa kau tidak bilang denganku kalau kau kerja disini?” tanyaku sambil meminum air mineralku. “aku rasa itu juga tidak begitu penting untuk oppa, lagi pula aku kan juga harus mencari pekerjaan untuk makanku sehari-hari” jawabnya sambil terus mengepal dompetnya yang berbentuk apel. “oh iya... ini tiket yang aku janjikan” kataku sambil menyodorkan tiketku untuknya. Dia berdengus sebentar, “mimpi apa aku semalam, diberikan tiket konser oleh artisnya sendiri. Gomawoyo oppa” ucapnya tersenyum sambil memainkan kancing dompetnya. “kau benar-benar senang ya?” tanyaku. Dia mengangguk sambil menatapku. “Yumi... aku minta bantuanmu” ucapku. “aku tidak ada maksud untuk menyogokmu dengan tiket ini, aku hanya benar-benar membutuhkan bantuanmu” ucapku lagi. “aku ditawarkan untuk bergabung dengan agensi musik di Jepang. Tapi aku bingung, pasti akan ada gosip aneh yang muncul setelah aku menerima tawaran itu. Menerutmu, aku menerimanya atau tidak? Aku bodoh sekali, aku memintanya waktu hanya 2 hari untuk jawaban itu.” tanyaku sambil membenarkan posisi dudukku. Kami sekarang ada di taman bermain anak-anak di belakang tempat kerjanya. Kami sekarang duduk di ayunan. “itu semua kembali kepada diri oppa, oppa harus memikirkan martabat oppa sebagai artis terkenal” jawabnya dengan aksen Jepang yang masih sangat terdengar, tidak semua orang Korea bisa paham dengan apa yang dikatakannya. “aku juga sebelumnya berpikiran sama denganmu. Tapi tetap saja aku bingung, aku kan juga memiliki janji dengan kontrak 5 tahun bersama Manajer Lee” “Yumi... kertas apa yang ada di dompetmu?” tanyaku. “aku tidak tahu... dua hari yang lalu seorang pria meninggalkannya di atas meja. Aku menemukan ini saat aku sedang membersihkan meja makan. Tapi sayang sebagian tulisannya hilang” jawabnya smabil memberikan kertas itu. Atas nama Lee Tae J... dinyatakan bahwa Byun B... Yang telah di tinggalkan bersama... “Lee Tae J...? apakah Lee Tae Jun? Jika iya itu adalah Manajer Lee, dan Byun B...? apakah itu Byun Baekhyun?” ucapku heran. “oh iya, apa kau mengenal sosok orang yang meletakan ini diatas meja?” tanyaku. “dia bebadan tinggi dan kulitnya tidak begitu putih, dan mengenakan kacamata hitam” jawabnya tanpa menatapku. “bukankah itu...” ucapku lirih. Aku mengingat sosok Kim Jonghyun yang barusan aku temui, tapi... entahlah. “seperti yang tadi oppa temui” deg! Setelah Yumi berkata begitu, aku tambah muncul pikiran tidak baik. “aku sebelumnya juga memikirkan itu, but i’m doubt, Yumi” jawabku. Sreet... aku menghentikan gerak ayunan itu dengan kakiku. “oppa... you’re boy. And the boy should be brave” kata Yumi membuyarkan lamunanku, “kenapa tiba-tiba kau bicara begitu?” tanyaku panik. “ahaha... tidak. Aku hanya melatih kemampuanku dalam berbahasa Inggris” jawabnya dengan tersenyum. Tapi aku tidak begitu yakin dengan jawabannya, karena senyuman itu terlihat begitu kaku dan... ada sesuatu dibalik perkataannya tadi. --- Aku membating tubuhku kekasur, aku menatap langit-langit kamarku sambil memikirkan sesuatu. “apa jadinya jika langit-langit ini menimpaku saat tidur?” gumamku. Aku mengubah posisiku jadi tengkurap, aku memainkan selimut putih itu. “kenapa hidup di dunia maya begitu aneh? Seram! Menyedihkan! Menyakitkan!” seruku. Pandanganku tertuju pada laptopku untuk membuka berita terbaru. BYUN BAEKHYUN:Tokyo atau Korea? Byun Baekhyun mendapatkan tawaran untuk ikut bersama dengan temannya ke Tokyo untuk pindah agensi. Bersediakah dia untuk itu? Berikut adalah video tentang wawancara tim kami bersama Kim Jonghyun, 5 hari yang lalu. Play Video Aku coba buka video itu. Aku klik kanan mouseku dan ada tulisan open link in new tab. Wartawan: Tuan Kim Jonghyun, apa benar Anda akan mengrekrut Byun Baekhyun ke Jepang? Kim Jonghyun : aku belum tahu, aku saja belum bertemu orangnya. Usahakan dia mau, karena aku pikir Manajer yang bersamanya sekarang ini harus ia jauhi. Wartwan : ada masalah apa memangnya? Kim Jonghyun : ya.. aku tidak bisa membukanya sekarang. Mungkin lain kali saat masalahnya sudah ditemukan. Oke.. terimakasih semuanya... aku pulang dulu. Dia masuk kemobil lalu durasi video itu selelsai. Harus di jauhi dengan Manajer Lee? Memang aku punya masalah apa dengan Manajer Lee? Ah! mungkin Manajer Lee lupa memberi tahu padaku, aku tanyakan saja saat makan malam nanti. Now Playing : (reff) Lyn – back in time “Manajer Lee!” panggilku saat melihat Manajer Lee. “Manajer Lee, kenapa kau tinggalkan aku?” tanyaku. “aku pikir kau sudah turun, ayo kita makan malam” ajak Manajer Lee. Saat pintu lift terbuka, wartawan langsung mengambil gambar kami, banyaknya cahaya kamera membuatku pusing. Tapi aku tetap tersenyum kepada mereka. Aku sudah mengatakan pada Manajer Lee, kalau Indonesian Fried rice itu enak, akhirnya akmi memutuskan untuk makan itu malam ini. Tiba-tiba aku teringat dengan sesuatu “Manajer Lee... tadi sore aku membaca berita...” aku menceritakan tentang berita yang tadi sore aku baca. Tapi entah kenapa tiba-tiba Manajer Lee tersedak “uhukk...uhukkk...” semua wartawan yang penasaran itu langsung mengambil video dan gambarnya. Iss.. apa mereka kehabisan berita? Sehingga Manajer Lee bantuk saja diambil gambarnya. --- Lee Tae Jun: Tersedak saat makan malam bersama Baekhyun. Lee Tae Jun, tersedak saat diajak bicara oleh Baekhyun. apa yang sebenarnya mereka bicarakan sehingga membuat Manajer Lee tersedak? “aku tidak tahu! Lebih baik kalian jangan ambil berita ini... memalukan” ucap sang sopir, Jang Da Young. Credit: Sung Hakyung “padahal Dayoung sudah memberi tahu, jangan menyebar berita ini. Tetap saja disebar. Uuh... aneh” gumamku. Tok tok tok Aku rasa akan ada orang Hotel yang mau membersihkan kamarku. Segera aku turun dari kursiku dan membukakannya pintu yang cukup berat itu. “pelayan.. nanti tolong bersihkan...” ucapanku berhenti setelah melihat Manajer Lee lah yang didepanku bukan pelayan. “Manajer Lee?” “Aku hanya ingin bertanya, memangnya siapa yang memberikan berita seperti yang kemarin kau bicarakan padaku?” tanya Manajer Lee. “aku tidak tahu, yang jelas ada yang berkata aku harus menjauhi Manajer Lee, namanya Kim Jonghyun” jawabku sambil duduk disampingnya. “aku tidak kenal dengannya, kenapa dia bisa seenaknya bicara begitu. Dan soal tawaran itu... aku serahkan semuanya padamu. Aku percaya denganmu” jawab Manajer Lee tersenyum. “Manajer Lee! Aku ...” kata-kataku terputus saat Manajer Lee harus menjawab panggilan. “halo? Oh iya... aku tahu.. baiklah-baiklah. Tunggu saja , aku akan segera kesana” ucap Manajer Lee keluar, sambil menelepon. “iss... membuatku tambah bingung saja!” ucapku sambil menarik resleting jacketku sampai menutupi wajah. Lalu berbaring ditempat tidur. Sreeet! (Now Playing : CN Blue – where you are) Aku langsung membuka jaketktu, “iss.. aku tidak bisa bernafas” ucapku. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, aku langsung membuka laci yang ada di sebelah tempat tidurku. Disana ada sebuah bungkusan plastik berwarna merah. Isinya tidaklah mewah, hanya boneka panda yang besarnya kurang lebih se bantal hotel. Aku mengeluarkan boneka itu dari bungkusannya dan meletakannya di kasur. Aku pandangi panda yang posisinya sedang menggigit daun. “hei... Panpan! Pasti kau tidak bisa bernafas di dalam laci itu. Maafkan aku, aku lupa kalau aku meletakanmu disana” inilah aku, dari aku masih kecil, aku terbiasa mengajak bicara boneka jika sedang kesepian. “Panpan, apa yang harus aku jawab? Aku tidak bisa meninggalkan Manajer Lee, aku juga tidak bisa menolak tawaran itu. Aku bingung! Aku bingung!” aku tahu Panpan hanya bisa mengigit daun, dan sampai kapanpun pertanyaanku barusan tidak akan dijawab. Sudah berapa lama aku menyimpan Panpan di laci itu? Sejak aku debut menjadi penyanyi. “Panpan... nanti malam aku kembali menjadi juri di Got Talent, doakan agar Yumi yang menajdi pemenangnya” ucapku sambil duduk di samping boneka superbesar itu. --- “Dan... pemenang Korea Got Talent, jatuh kepada...” semua orang yang ada di studiao terlihat tegang termasuk aku. Saat hening sejenak, banyak sekali pendukung mereka, entah dari Kyumin ataupun dari Yumi. “YUMI! YUMI! YUMI!” “KYUMIN! KYUMIN! KYUMIN!” “Ayumi...” Ucap Seungri. aku sedikit gemas karena tinggal menyebutkan siapa pemenangnya saja sangat lama. “kau juara Korea Got Talent! Selamat!” Yumi terlihat mengembangkan senyumannya, terlihat disana Kyumin juga menjabat tangan Yumi sebagai tanda selamat. “Panpan! Yumi menang! Jagoanku!” ucapku dalam hati. Aku melihat Chanyeol yang biasanya cemberut, kini juga ikut mengembangkan senyuman bersamaku dan Taecyeon hyung. --- Aku, Taecyeon hyung, dan Park Chanyeol, berjalan menuju belakang panggung . dan di sofa sebelah sana, aku lihat sosok Kim Jonghyun sedang duduk sambil menghisap sebatang rokok. Dia melihat kearahku, lalu mengangkat tangan kanannya. “Hei!” ucapnya. Aku hanya melihatnya dengan tatapan aneh. “Kim Jonghyun?!” ucap Park Chanyeol dengan mulut yang penuh dengan biskuit. Aku menoleh kearahnya, “kau mengenalnya?” tanyakku. Dia membalas tatapanku, lalu melepeh biskuit yang ada di mulutnya ke tempat sampah. Chanyeol menarikku ke tempat yang sedikit lebih jauh dari aku berdiri sekarang. “apa kau ada urusan dengan orang gila ini?” tanya Chanyeol dengan tatapan serius. “mwo?” ucapku tak mengerti. “kau...” Sebelum Chanyeol selesai bicara, tiba-tiba Jonghyun merangkul kami berdua. “heii... apa yang kalian bicarakan? Kenapa kalian tidak mengajakku. Tapi tidak apa-apa, kalau begitu ayo kita ke bar hari ini. Disana banyak sekali wanita bule yang cantik dan supers*xy” aiss.. tersnyata Jonghyun orang yang... euh... Chanyeol memberikan aba-aba dengan menepuk pundakku. Dari gerakan mulutnya aku bisa membaca, dia sedang mengatakan “satu...dua...tiga...” “LARI!” ucap Chanyeol langsung menarik tanganku dan berlari untuk bersembunyi dibalik tembok dekat pintu EXIT. “huuh...huh... apa...apa kau mengenalnya?” tanyaku sambil menyandarkan badanku di tembok. “tentu saja! Kau tahu kan? Dia itu ingin mencabut satu-persatu artis Korea untuk ikut agensinya di Jepang. Maka dia mengajak kita ke bar agar kita bisa menandatangani pemutusan Kontrak dan menandatangani kontrak baru saat mabuk, kita kan tidak sadar saat mabuk” “kenapa kau mau menolongku?” tanyaku heran dengan perubahan Chanyeol secara dadakan. “haah...” dia membuang nafas sebentar, lalu ikut duduk di sampingku. Dia menekuk kakinya dan memeluk lututnya “kau tahu Tom and Jerry?” tanyanya sembari menoleh kearahku, aku mengangguk. “Tom and Jerry memang selalu bertengkar, entah Tom yang memulai, ataupun Jerry. Tapi terkadang kalau mereka sedang ada yang menganggu, otomatis mereka bersatu walaupun sering bertengkar” kata Chanyeol tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di tembok. Aku cerna kata-katanya diotakku, apakah dia mau menjadi sahabatku? Baguslah... seumur-umur aku belum pernah memiliki sahabat yang dekat denganku. Malam itu aku pulang bersama Chayeol, karena Manajer Lee harus mendatangi Seminar di Mokpo. Aku menempelkan kartunya di pintu kamarku, lalu membuka pintunya. Aku menyalakan lampunya yang gelap dan berjalan ke kasurku. Aku lihat Panpan tetap setia menungguku. “aiss... kau masih menyukai boneka?”tanya Chanyeol sambil menepuk kepala panpan. “yaaa... itu karena aku kesepian” jawabku membating tubuhku ke kasur. “diamana ada kasur lagi? sepertinya tidak mungkin kalau aku tidur dikasur kecil itu bersamamu” ucap Chanyeol. “siapa juga yang ingin tidur denganmu? Aku masih normal. kau buka kabinet di bawah TV, disana ada kasur yang digulung, kau boleh memakainya” jawabku sambil memejamkan mata. “kalau begitu aku mandi dulu. Kalau ada yang menelepon kau boleh menjawabnya, tapi bilang kalau aku sedang mandi” ucap Chanyeol, “hmmm!” tegasku. 10 menit... Kriiing “aiss... kenapa suara ponsel Chanyeol begitu berisik?” aku melihat layar ponselnya, yang bertuliskan ... (Jinsil-ku sayang) “halo?” “Chagiya! Kau kemana saja? Aku rindu denganmu” ucap yeoja dengan suara sengau itu. “maaf... aku bukan Chanyeol. Dia sedang mandi” jawabnku. “AISSSHH! JINSIL CHAGIYA! KAU MENELEPONKU?!” Chanyeol yang baru keluar dari kamar mandi langsung merampas ponselnya dari tanganku dan duduk di kasur yang telah digelarnya. “Aigoo... chagiya! Kau kemana saja? Sekarang kau pasti terlihat lebih cantik...” “...” “ah! iya... aku sedang menginap di kamar hotel milik temanku, maka yang dia mengangkatnya” “...” “ahahahaa... kau ini lucu sekali chagiya! I love you.. mmmuuah!” Aku yang mendengar percakapan itu merasa terganggu, dan memilih untuk menutupi sekujur tubuhku dengan selimut. “Baekhyun!” panggilnya. “Hmm?” “aku senang sekali! Pacarku yang tercantik didunia meneleponku!”. “iya terserah kau, dia akan lebih cantik kalau kau tidur dan tidak mengeluarkan suara” ucapku bercanda. “oke”. --- “huaaaaaaam” aku menarik kedua kaki dan tanganku. Aku lihat Chanyeol tidak ada di kasurnya. Ah! paling dia sudah pulang. Aku segera mengganti piyama garis-garisku dengan kaos dan celana yang biasa digunakan orang untuk berolah raga. Aku kebawah menggunakan lift, dan seperti biasa aku bertemu dengan dua yeoja yang selalu tertawa saat melihatku. Aku berlari mengelilingi kolam renang, tapi aku melihat sosok Chanyeol dari belakang sedang berduaan dengan seorang yeoja di pinggir kolam. Mereka sedang memainkan kakinya di air. “Chanyeol?” tanyaku. “ah! Baekhyun, perkenalkan ini pacarku. Yang semalam aku telepon” aku hanya menyalami tangan yeoja itu dan menatap wajahnya. “apakah Chanyeol harus check mata? Yeoja ini seperti laki-laki... cara berdirinya, rambutnya yang dibiarkan berantakan, dan... kakinya. Besar sekali” batinku. “Baekhyun!” panggil seorang. Aku menoleh , ternyata dia adalah Kim Jonghyun. Dia mengajakku untuk duduk di Cafe yang ada di dekat kolam renang. “bagaimana jawabanmu?” tanyanya sambil melepas kacamata hitamnya. “aku...” aku melirik ke arah Chanyeol sebentar, dia berusaha memberikan isyarat dengan menganggukan kepala. “aku terima” jawabku datar. “oke... bagus sekali, Baekhyun” dia menepukan tanganya sejenak. Aku hanya melihatnya dengan pandangan aneh, kenapa dia senang sekali jika aku menerima tawarannya? Apa karena dia gay, sehingga ingin mendekatiku? Ah! tidak! Tidak! --- “kau kan sudah menerima tawarannya, nanti giliran aku yang bilang ke Manajermu kalau ini hanya untuk jebakan. Maka nanti kita akan bekerja sama dengan Manajermu. Kau mengerti?” jelas Chanyeol, aku mengangguk. “thank’s brother!” ucapku sambil menonjok dadanya. BRAK! Seorang memukul meja, “beri aku tahu dimana kalian menyembunyikan kertas itu?” semua yang ada di restoran itu menoleh kearahnya. “kertas apa maksudmu?” tanya Yumi yang dapat aku lihat dari mejaku dan Chanyeol. “kenapa orang gila itu, selalu ada dimana kita berada?” tanya Chanyeol. Aku tidak mempedulikan kata-kata Chanyeol, pandanganku tetap kepada Jonghyun yang sedang mengomel Yumi. “kau pura-pura tidak tahu kan?! Cepat berikan kertas itu! Atau aku akan menuntut restoran ini?!” “Tuan.. bisakah Tuan menjelaskan bagaimana wujud kertasnya, dan... Jonghyun tampak ingin memukul Yumi dengan cepat aku ke tempat mereka berdiri , tapi sayang terlambat. Yumi sudah terkena pukulannya. “Aigoo! Yumi... kau tidak apa-apa?” tanyaku dari dekat sambil mengusap hidungnya yang berdarah. “Ya! Kim Jonghyun! Kau seperti ayam! Beraninya dengan perempuan” ucap Chanyeol menghampiri kami sambil menggulung lengan bajunya. Dia memberikan isyarat agar aku membawa Yumi pergi ke ruang ganti para pegawai. --- “kenapa kau tidak memberikan kertas yang kemarin kau tunjukan padaku?” tanyaku sambil membersihkan darah dihidungnya. “aku tidak tahu kalau kertas itu yang dimaksudnya. Lagipula penampilannya berbeda, kalau penampilannya seperti kemarin aku bisa langsung tebak kertas mana yang dia maksud” Sambil membersihkan lukanya, aku mendekati wajahnya. (Now Playing : Juniel – Illa Illa). Dia tidak tahu, di Korea kalau seorang pria mendekati wajahnya ke wajah wanita, adalah adegan yang romantis. Dia hanya bingung menatapku “apa kau merasakan sesuatu?” tanyaku dengan jarak yang tatap. “tidak...” jawabnya polos. Aku tersenyum lalu kembali ke posisi awal. Aku mengembalikan betadine itu di kantong p3k. Saat aku mau mengembalikannya di kotak obat.. chu! Tidakku sangka, Yumi menciumku. Aku pandangi wajahnya tersenyum setelah melakukan itu. “Yumi? Maksudmu apa?” tanyaku heran. “kata haha mencium berati menyayangi seseorang. Aku kan menyayangi idolaku” jawab Yumi polos. “astaga... ternyata tradisi Jepang dan Korea jauh berbeda” batinku. Aku tersenyum tipis sambil mengelus tengkukku. “Yumi... usiamu berapa?” tanyaku sambil memeluk kantong obat yang tidak jadi aku letakan. “aku? 15 tahun” jawabnya santai. “lima belas...tahun?” tanyaku tak percaya. “kau masih kecil sekali...” tambahku lagi. “memang usia oppa berapa?” “aku 19 tahun” jawabku sambil meletakan kantong tadi ke kotak obat. Dan duduk disampingnya lagi. “ah! hanya berbeda 4 tahun” katanya. Aku tersenyum, aku mengusap pelan kepalanya. “Yumi... aku mau memberi tahu, kalau aku harus pergi ke... “BAEKHYUN!” tiba-tiba Chanyeol memotong perkataanku, dengan masuk ke ruang ganti mendadak. “ah! aku kira kau sudah duluan pulang. Ternyata kau ada disini” ucap Chanyeol duudk di antara aku dan Yumi. “hai! Selamat ya, gadis Jepang. Atas kemenanganmu kemarin” kata Chanyeol yang baru menyadari Yumi ada disampingnya. “gamsahamnida oppa” jawab Yumi. “wow... aksenmu luar biasa seksi, aku senang saat kau menyanyikan lagu yang berbahasa Korea” puji Chanyeol yang membuat Yumi menutupi wajahnya dengan baju. “eh? Chanyeol, bagaimana dengan Jonghyun?” tanyaku. “hah! Kau lihat tanganku...” dia menunjukan telapak tangannya yang penuh dengan baretan. “tadi dia menggores telapak tanganku dengan garpu. Dan aku yang tidak mau kalah, segera ke dapur dan mengambil pisau untuk menusuk urat nadinya. Tapi tiba-tiba ada yang memisahkan kita, yasudah... tidak jadi deh” jawab Chanyeol. “oh iya! Dengar-dengar kertas yang dimaksud dengan Jonghyun ada di tanganmu ya?” tanya Chanyeol menoleh kearah Yumi. Yumi hanya mengerutkan alis dan menatapku, “ah! kau bicara terlalu cepat, dia tidak mengerti” ucapku. “oh begitu... apakah kertas yang dimaksud Jonghyun ada ditanganmu?” tanya Chanyeol lagi dengan melambatkan bicaranya. “iya! Ini..” kata Yumi sambil memberikan kertas itu. Atas nama Lee Tae J... dinyatakan bahwa Byun B... Yang telah di tinggalkan bersama... “Byun B? Apakah ini Byun Baekhyun?” tanya Chanyeol. “aku tidak tahu... tapi yang bernama “BYUN B” itu kan bukan hanya Byun Baekhyun” jawabku sambil berpikir terus. “pasti ini ada hubungannya dengan ayam betina itu” ucap Chanyeol. “Ayam betina?” tanyaku dan Yumi bersamaan. “Jonghyun..” kata Chanyeol. “kenapa oppa menyebutnya ayam betina?” “kakekku berkata, seorang laki laki yang memukul perempuan adalah seorang penakut yang seperti ayam betina” kata Chanyeol. “Yumi! Kertas ini aku pinjam dulu, oke?” “oke oppa” “Ayo Baekhyun, kita bertemu dengan Manajermu” kata Chanyeol sambil menarikku keluar. --- “oh... baiklah, aku mengerti kalau itu hanya untuk jebakan. Berarti Baekhyun tetap menandatangani pemutusan kontrak kan?” tanya Manajer Lee, “tentu, dengan begitu Jonghyun akan semakin yakin akan keputusan Baekhyun” jawab Chanyeol. “kalau begitu, kau tanda tangani ini” Manajer Lee mengambil satu map, dan memberikan kertas beserta keterangannya. Dengan ini saya menyatakan, Akan memutuskan kontrak 5tahun atas nama Lee Tae Jun, Manajer saya. Oleh karena itu Saya bersedia menandatangani pernyataan Pemutusan kontrak di bawah ini. --- “ini pulpennya” kata Manajer Lee. Aku menarik nafas panjang sebentar, memang aku sangat berat untuk menandatangani ini, walaupun hanya jebakan untuk Jonghyun. Aku mengeluarkan air mataku sedikit dan menutup mulutku dengan punggung tanganku. Chanyeol berusaha menenangkan sambil mengusap pudakku dan memberikan pulpennya. (Now Playing : Taeyeon (SNSD) – Missing You like crazy). Aku menerima pulpennya, aku tatap sebentar ruang untuk tanda tangan itu, aku menekan mekanik pulpennya dan mulai menggoreskan sebuah tanda tangan. Baekhyun Byun Baekhyun. “Manajer Lee, lalu bagaimana dengan konser yang akan berlangsung 5 hari lagi?” tanyaku dengan lirih. “terpaksa dibatalkan. Aku akan mengembalikan semua uang fans. Percayalah...” jawab Manajer Lee. Walau bagaimanapun, aku tidak bisa melupakan ini, senyuman Manajer Lee yang selalu muncul walaupun aku bandel dan sulit diatur. “tenang, brother! Remember... this is just prank for Jonghyun, don’t afraid, ok?” ucap Chanyeol. Aku menghapus air mataku dan mulai mengembangkan senyuma “ok... thanks brother. I’m sorry when I hit you” jawabku sambil tersenyum “never mind” jawab Chanyeol. “Manajer Lee...” aku berdiri dihadapannya, dan memeluknya “maafkan aku Manajer Lee, maafkan aku saat aku bertengkar dengan Chanyeol dan membuatmu malu. Maafkan aku” (Now Playing : Taeyeon – Missing You like crazy(Reff)). Ucapku memeluknya tambah erat. --- “Ya! Kau memikirkan apa?” tanya Chanyeol sambil melihatku yang sedang melamunkan tentang pembatalan konser. “aku memikirkan bagaimana perasaan Yumi saat aku katakan ‘Yumi... konserku dibatalkan’ pasti dia bersedih” jawabku sambil bersandar di tempat tidur dan memeluk Panpan. “ya! Menyukainya ya?” tanya Chanyeol sambil duduk disampingku dan meletakan dua mangkok Ramyun yang masih panas. Deg! Pertanyaan yang membuatku merinding. “actually...yes” jawabku. “ahah kau ini... tenang saja, akan aku jelaskan semuanya kalau ini adalah jebakan” jawab Chanyeol, “sudahlah brother... jangan memikirkan itu terus. Sekarang kau makan dulu” “ya! Kanapa kau memegangi bibirmu terus? Kau habis berciuman?’ tanya Chanyeol dengan polos, aku diam saja dan hanya tesenyum. “IYA?” tanyanya lagi dengan mata membulat. Senyumanku semakin lebar hingga terlihat gigi. “ah sudahku duga, pasti dengan Ayumi kan?” tanyanya lagi. aku mengangguk. “tapi, kapan?” tanyanya lagi. “tadi, saat aku membersihkan mimisannya, aku hanya iseng mendekatkan wajahku, tapi setelah kembali keposisi awal dia menciumku,tapi dia bilang di Jepang mencium berati tanda sayang dan dia menyayangiku sebagai idola” jawabku. “ckckck... jangan-jangan deep inside-nya dia menyayangimu lebih dari seorang idola” kata Chanyeol, “ahahah.. aku bisa saja.” “oh iya, kapan kau berangkat?” tanya Chanyeol, “mungkin lusa, aku belum dapat SMS dari Jonghyun lagi” kataku. “kenapa kau menyimpan nomornya diponselmu, ponselmu bisa pecah saat dia meleponmu” jawab Chanyeol kesal, “kalau tidak aku simpan, bagaimana aku bisa tahu kapan aku berangkat?” “benar juga ya...” --- Aku perhatikan Jonghyun memotong perkataanku dan dia izin ke toilet sebentar. Tapi aku rasa dia kurang pandai dalam berbohong, dia berjalan bukan kearah toilet. “kenapa kau bodoh sekali?! Huh? Sudah aku bilang jangan sampai mereka beretemu lagi” “...” “Dia akan berangkat besok, jadi tolong kau sediakan surat Kontrak itu sebaik mungkin sehingga tidak terlihat bahwa itu... halo? Halo? Ish! Sial” Yah! Aku berhasi merekam percakapan itu di ponselku, aku langsung kembali ke tepat dudukku dengan berlari. “maafkan aku Baekhyun, tadi aku harus mencuci tanganku dulu” katanya. ”cuci tangan apanya? Tanganmu kering, sehingga jika kau berbohongpun, mesin pengering sedang dalam perbaikan di toilet” batinku. “oke... bisa kau tunjukan surat pemutusan kontrakmu?” tanya Jonghyun. “ini...” aku memberikannya. “oke... kalau begitu besok kau berangkat, Tiket sudah disediakan, dan besok berangkat dari hotelmu jam 6 pagi sampai ke Incheon Airport kurang lebih pukul 7.30 kerena departure menunjukan pesawat berangkat, mengerti?” aku menjawabnya hanya dengan anggukan. Karena, ini adalah hari terakhir dimana aku bisa bertemu dengan Manajer Lee, Chanyeol, dan Yumi. 3 orang yang selalu mendukungku, walaupun Chanyeol pernah membuat hidungku berdarah. “baiklah, kalau begitu kau pulanglah ke hotelmu, dan persiapkan semua kebutuhanmu” --- “Yumi sudah tahu tentang keberangkatanmu ke Tokyo, aku sudah menjelaskan semuanya.” kata Chanyeol sambil membantuku melipat baju dan meletakannya di koper. Lalu aku mengunci koperku dan duduk diatasnya. Aku terumenerus memeluk Panpan. “kenapa aku harus menjadi penyanyi? Bagiku dunia maya adalah dunia yang paling kejam! Paling jahat! Kau tahu? Aku harus merelakan atas pembatalan konser itu demi menjebak Jonghyun!” ucapku. “kau tidak boleh menyesali ini, ingat para fansmu yang setia dan selalu mengingat namamu, dan pastinya para fans tidak mau melihatmu susah seperti sekarang ini” jawab Chanyeol. “apa kau akan membawa Panpan?” tanya Chanyeol. Aku mengangguk. “apa kau tidak malu dilihat oleh orang-orang? ‘sudah besar kok masih menggunakan boneka?’” katanya sambil memperagakan cara orang sedang membicarakanku. “untuk apa aku malu? Aku merasa membawa boneka bukan hanya untuk anak kecil. Boneka itu setia karena dia tidak akan pernah menghianati (jelas saja, dia tidak bicara)” jawabku. “baiklah kalau begitu... semoga kau selamat sampai tujuan” kata Chanyeol sambil menarik tanganku dan menepuk pundakku. “ini... kau ambil!” dia melempar sebuah gantungan kunci berhuruf kanji. “apa ini?” tanyaku. “itu titipan dari Yumi, dia bilang ‘itu untuk Baekhyun oppa, agar dia tidak lupa dengan keberadaanku di Korea’ begitu katanya” “baiklah, ucapkan padanya ‘Arigatou’” ucapku lirih. “kalau begitu aku pulang dulu, besok aku dan Manajer Lee akan mengantarmu sampai ke Incheon Airport” aku membalasnya dengan anggukan. Lalu Chanyeol keluar dari kamarku. Sekarang sudah tinggal aku dan Panpan di ruangan ini. Aku terpikir untuk ke balkon. Akupun berdiri, dan membuka tirai serta pintu menuju balkon. Kedua tanganku memegang pegangan teras, dan aku melihat kebawah, melihat banyak orang yang sedang bermain air di kolam renang. Aku juga menatap langit sore yang jingga disertai banyaknya awan disana, “selamat tinggal langit indah, selamat tinggal Seoul Hotel, selamat tinggal balkon, selamat tinggal orang-orang yang ada di hotel ini” ucapku sambil menghirup udara sore yang tidak bisa aku lupakan. “walaupun hanya sementara... bagiku seperti bertahun-tahun” --- Aku mendorong troli-ku yang sudah ada koper dan Panpan pastinya. Diikuti dengan Chanyeol yang menjadi supirku selama perjalanan dari hotel ke Incheon Airport. “Chanyeol... aku akan mengirimkan sesuatu saat aku sudah sampai disana” ucapku, “dan Manajer Lee... bye... aku tidak akan melupakanmu” aku memeluk keduanya. “Baekhyun... ayo kita berangkat” ajak Jonghyun. Aku berjalan dibelakang Jonghyun, setelah aku memberikan posportku, lalu dari sisi aku berdiri aku melambaikan tangan (Now Playing: Lyn – Back in time (reff)). Aku dan Jonghyun mulai menaiki pesawat bersama dengan orang-orang yang lainnya. Aku duduk dipinggir dekat jendela. Pesawatpun mulai berjalan dan lepas landas. Tiba-tiba melintas dipikiranku untuk melihat isi kantongku, ada sebuah gantungan yang diberikan oleh Yumi. Dalam buku bahasa Jepangku, itu bertuliskan Ai yang berati cinta. Aku lihat Jonghyun sudah tidur di bangku belakang. Tiba-tiba seorang anak kecil yang (menurutku) baru bisa jalan, duduk disampingku. “hei...” kataku sambil mencubit kecil pipinya. Dia hanya mengeluarkan suara-suara kecil, karena dia belum bisa bebicara. “Hyungsoo? Hyungsoo? Ah! kau rupanya disini...” seorang kakek tua menggendong kembali cucunya itu, “eh? Apakah kau Byun Baekhyun” tanyanya, “ah.. iya, aku Byun baekhyun” “aigoo... cucukku ini tahu kalau kau ada disini, pantas saja dia berpindah tempat. Kau tahu, dia selalu senang jika melihat,mu di TV” katanya. “ah... dia pintar juga sudah bisa mengenalku, aku senang bisa memiliki seorang fans yang masih kecil seperti Hyungsoo” Akhirnya kakek dan cucu itu kembali ketempat duduknya. Dan aku mengambil Panpan di kakiku. Lalu aku menyandarkan bangku dan tidur sambil memeluk Panpan. --- Samar-samar aku mendengar suara, tapi entah dimana. “tuan... bangunlah. Tuan sudah sampai di Jepang” seorang pramugari membangunkanku, terilah dia sedang membawakan koperku. “oh, baiklah... aku akan turun” kataku sambil berdiri, ternyata Jonghyun sudah turun duluan. “oke... terimakasih. Biar aku yang membawa koperku” kataku smabil mengambil koperku dari tangannya. “Jonghyun, setelah ini kita kemana?” tanyaku. “hotelmu, dan besok aku jempuk ke kantorku” jawab Jonghyun. Dari Haneda Airport, aku dan Jonghyun naik Van yang sudah dipesannya. Sepanjang perjalanan, aku bisa melihat kondisi kota Jepang saat malam. Ini benar-benar aneh. Aku rindu dengan Seoul pada malam hari. Aku mengaktifkan ponselku, dan berfikir untuk mengirim pembicaraan Jonghyun yang aku rekam sehari yang lalu. (Untuk: Park Chanyeol) Chanyeol, ini yang aku akan kirimkan padamu. Aku mendengar Jonghyun berbicara dengan seseorang, Dan karena penasaran aku merekamnya. Jangan beri tahu Manajer lee Dulu, aku harap kau hanya memberitahunya kepada Yumi. Send! “Apa kau ingin beli Sake dulu?” tawar Jonghyun, “tidak, aku tidak minum” jawabku. “baiklah... ini hotelnya. Silahkan turun” aku turun dengan penuh keheranan. Karena semua benar-benar berbeda. --- Kamar nomor 1772 yang aku tempati. Saat aku masuk, ternyata ini benar-benar mewah dan, glamour. ish... aku tidak suka hotel ini, tidak ada balkon, tempat tidurnya terlalu empuk, dan... terlalu dingin. Aku mulai meletakan Panpan di kasur dan menata baju-bajuku di lemari. Koran apa yang akan aku baca? Semuanya bertulisan Jepang. Aku berfikiran untuk mengirimi Yumi E-mail. Tunggu dulu! Dimana colokan untuk kabel laptop? Ah! aku memutuskan untuk menelepon orang hotel. “Moshi-moshi...” “oh.. yeah, would you like to speak English please?” pintaku. “yes, sir. Can i help you?” “I can’t see the stopcontact in room 1772. Where’s that?” “Sorry, sir. Tokyo hotel not prepare that in room 1772, because in room 1772 always...” Aku kesal aku langsung menutup telepon itu. “kenapa hotel yang lebih besar dari hotel Seoul ini tidak menyediakan colokan!” --- “Sorry... do you have English pamplet?” tanyaku dengan security hotel. Dia menunjukanku ke sebuah rak yang penuh dengan pamplet berbahasa, Tagalog, Mandarin, Prancis dan... Inggris! Akhirnya aku menemukan pamplet ini. Aku keluar dari hotel sambil melihat pamplet tadi. “Internet cafe ada di sebelah Tomyam Restaurant. Sedangkan disini tidak dijelaskan ada restauran tomyam” ucapku pelan. “em... Sorry, would you like to...” kata-kata terpotong saat orang itu bicara “no! No English!” dia langsung berjalan menjauhiku. “sorry.. would you like to tell me, how I can go to the Tomyam restaurant?” tanyaku pada seorang ibu yang sedang duduk di tangga menuju mall. ibu itu hanya melihatku dan menjawab “Behind of you” jawabnya. “oh... thank you” jawabku. Ternyata benar disana ada Internet cafe. --- You: Yumi... bagaimana kabarmu? Ayumi: oppa?! Kau online? Aku baik oppa! You: aku kesulitan disini, banyak yang tidak bisa diajak bicara. Ayumi: kau benar oppa ? banyak yang tidak bisa bahasa Inggris disana.oh iya! Rencananya aku akan kembali ke Nagasaki pada hari selasa. You: kau serius?! Selasa ini? Ayumi: iya oppa... tapi aku rasa kita tidak bisa bertemu, karena kau kan di Tokyo. You: ah! aku akan usahakan agar bertemu denganmu, Yumi. Bagaimana kabar Chanyeol dan Manajerku? Ayumi: aku sedang di ajak makan dengan Chanyeol oppa dan Manajer oppa. You: lalu? Kau online dimana? Ayumi: aku membawa laptop, oppa. ? Tiba-tiba saat aku sedang asik, ada orang yang jalan sempoyongan. Aku rasa dia mabuk, dna dia memalaki penjaga warnet ini. Dia mengoceh dalam bahasa Jepang, aku tidak mengerti. “Kimio! Kimio! Teishoku!” dia menunjukku, tapi aku pura-pura tidak melihatnya. Aku takut terkena masalah. Seseorang yang juga sedang memainkan internet di sampingku, langsung menarikku keluar. Dia memberikan isyarat padaku ‘dia.. tukang mabuk kau harus hati-hati’, aku tahu dia tidak bisa bicara dalam bahasa Inggris. “I know.. thank you for your help”. Dia mengangguk. “siapa namamu?” tanyaku. “name... name” ucapku lebih jelas. “ohh... I’m Kazune” jawabnya dengan kemampuan bahasa Inggrisnya. “oke, Kazune. Terimakasih”. Dia mengangguk lalu membungkukan badannya dan pergi. Aku senang seperti ini, dia tidak mengerti bahasa Inggris tapi dia mau berusaha untuk paham. --- “hah... Panpan! Apa kau suka tempat barumu?” tanyaku sambil tengkurap disampingnya. Walaupun dia tidak jawab tetap saja aku ajak bicara, kerena aku kesepian. “aku juga tidak suka. Kolam renangnya terlalu dalam, tidak ada balkon, dapurnya terlalu modern, dan banyak pemabuk” ucapku. Aku hanya bisa melihat dari Jendela, Langit malam Jepang yang dingin dan sekarang baru turun hujan. What’s up bro! Bunyi ringtoneku.Tanda ada yang mengirim sesuatu di WhatsApp-ku (Park Chanyeol) Aku sudah menerima kirimanmu. Aku akan terus mengusut kasus ini. Kau tahu tidak? Disini aku menemukan seorang yang aku curigai sekongkol dengan Jonghyun. Namanya Park Sang Il. Park Sang Il? apa kau bisa untuk mengirimkan aku kabar setiap hari tentang Gerak-gerik Park Sang Il? Aku harus mengetahui penyebab Jonghyun melakukan ini. Tentu saja, aku berusaha cari tahu. Kemarin dia bilang dia sahabat dari Jonghyun, dan saat aku sekilas melihat SMSnya dengan Jonghyun, ada tulisan ‘aku akan menjebak Manajernya’ Balas Chanyeol dengan cepat. Aigoo... kenapa dua orang itu sangat ingin menghancurkan aku dan Manajer lee? Jahat! Jahat Balasku. Aku tidak sangka kenapa ada dua orang yang sangat ingin menghancurkanku dan manajer Lee, apakah ini ada hibungannya dengan kertas yang dipinjam Chanyeol? Ah! entahlah, aku malas membahas itu. (Now Playing : OST. Postman to heaven-Last days of autumn). --- Tok! tok! tok! Suara ketokan pintu yang memaksaku untuk bangun dari tempat tidur dan membukakan pintu. Cklek... “Baekhyun... nanti kau harus temui aku pukul 4 pagi di lobi dan siap untuk menandatangani kontrak barumu, oke?” kata Jonghyun yang membuatku bingung, “memang ini jam berapa?” tanyaku masuk kedalam lagi untuk melihat jam di ponselku. 2:00 a.m Aku kembali lagi ketempat Jonghyun berdiri, “sedang apa kau kesini pukul dua pagi? Apa kau gila?” tanyaku heran. “kau sekarang sudah ada di agensiku, kau harus menuruti peraturan. Bangun pukul 2 pagi, dan prepare untuk jadwal panggungmu, karena akan banyak sekali tawaran” kata Jonghyun sambil menepuk pudakku lalu pergi. “astaga...” ucapku lemas. Aku menutup kembali pintunya. “sekarang aku sudah tidak bisa tidur lagi. lebih baik aku menonton TV” aku duduk di sofa tempat Panpan duduk disana. “ah! Spongebob! Ini kan yang selalu aku tonton saat masih bersama Manajer Lee” ucapku, ah! tapi kenapa percakapannya di dubing bahasa Jepang? Aku diam saja, Patric dan Spongebob tertawa, sedangkan aku hanya mendengar tawa khas Spongebob yang paling dibenci oleh Squidward. What’s up bro! Bunyi Ringtone lagi. akh! Siapa yang mengirim what’s up pagi-pagi. Aku berjalan ke meja disebelah tempat tidurku, dan duduk di kasurnya. Aku biarkan TV menyala, lagipula yang membayar kan Jonghyun. Hahaha! (Manajer Lee) Morning, Baekhyun! ? apakah kau sudah bangun? Kemarin aku mengajak Chanyeol dan fansmu yang dari Jepang untuk makan. Dia bilang hari Selasa ini dia akan kembali ke Nagasaki. Aku tersenyum sejenak melihat kiriman WhatsApp dari Manajer Lee. (Kim Tae woo – he called the wings) Morning, Manajer Lee. Tentu aku sudah bangun, masalah Yumi ingin ke Nagasaki, aku sudah tahu, karena kemarin aku Chatting dengannya. By the way, kenapa jam segini kau sudah bangun? Tentu, aku sengaja bangun pagi karena aku akan menghadiri Seminar lagi di Busan. Hari ini aku juga harus kerumah sakit, kakakku sakit. ? Aigoo... Manajer Lee. Aku hrap kakakmu cepat sembuh, agar bisa kembali berkumpul dengan keluargamu lagi. Tiba-tiba, Chanyeol juga mengirimkanku WhatsApp. Kenapa semuanya bangun pagi-pagi? Hah... Baekhyun! tadi Yumi mengirimkanku WhatsApp, dia bilang dia hampir dibunuh. Dan kebetulan tetangganya bangun dan langsung menyelamatkannya. Mwo? Apakah benar? Aiih... bolehkah aku meminta nomornya? Aku ingin ber WhatsApp dengannya. Tentu... akan aku kirimkan nanti. 😀 Gomawo 😀 “semoga tidak terjadi apa-apa dengan Yumi” ucapku. Aku meletakan ponselku kembali dan mematikan TV. Aku mengambil handuk dan sikat gigiku. Hah! Aku lihat kamar mandinya yang luas namun licin sekali. --- Aku menatap diriku di kaca. Aku masih membayangkan sedang apa Manajer Lee sekarang. Lalu aku keluar kamar mandi sambil mengeringkan rambutku yang basah. Segera aku mengganti pakaian dan turun ke lobi untuk menemui Jonghyun. Aku lihat disini ada 2 yeoja, aku hanya ingat saat ada di Korea, pasti aku bertemu dengan 2 yeoja yang selalu tertawa saat melihatku. Sedangkan ini? Hanya lewat dan tidak menyadari kalau ada seorang Byun Baekhyun disini. Ting! “Baekhyun!” panggil Jonghyun yang sedang duduk di bangku. Dia berdiri dan menyalami tanganku, lalu menyuruhku untuk duduk. “oh iya... ini kontrakmu, silahkan ditandatangani” kata Jonghyun sambil mnyodorkan Map yang berisi surat Kontrak selama 10 tahun. Dengan ini, saya menyatakan. Akan Menerima kontrak 10 tahun dengan Kim Jonghyun. Dan saya aku mulai debut sebagai penyanyi solo. Untuk itu saya bersedia menandatangani surat kontrak ini Atas nama saya sendiri. Baekhyun Byun Baekhyun. Sudah aku tanda tangani dan sekarang aku tinggal menunggu tawaran dari panggung ke panggung. --- (Ayumi) Oppa! Akhirnya aku sudah mendapatkan tiket ke Jepang. Aku akan berangkat besok! ^^ asssiik! Aku bisa bertemu dengamu. Yumi? Maaf aku baru bisa membalas WhatsApp-mu. Aku baru naik ke atas. Kalau besok aku tidak ada tawaran panggung, aku bisa menjemputmu. Tidak apa-apa. Aku dijemput oleh Haha 🙂 Ah! baiklah kalau begitu, sedang apa kau sekarang Yumi? Apa kau tidak Apa-apa soal perampokan flat mu? Kepalaku tergores beling, tapi tidak apa-apa kok. Aku sudah menempelkan Plester 😀 Lain kali kau harus mengunci pintu flatmu dengan rapat, jika tidak itu akan membahayakan dirimu sendiri. Baiklah oppa. Kalau begitu aku akan membereskan keperluanku, dan tidur agar besok aku bisa bangun Pagi-pagi. Bye oppa. Hah... kenapa aku begitu senang saat mendengar dia akan kesini? Tentu saja, itu karena aku Menyukainya! Aku menyukainya! Aku berpikiran untuk ke dapur dan melihat ada apa yang bisa dimasak. “Ramyun? Huh.. bosan” “Bumbu bulgogi? Lebih dari sekedar bosan...” “Indonesian fried rice? Hmm.. bo..” sebelum aku melemparnya ke arah belakang, Aku merasa rindu dengan makanan itu. Aku membaca aturan memakainya. Hingga aku berhasil membuat Indonesian fried rice ala Byun Baekhyun. ___ Aku duduk dilantai, dan menyalakan TV. Sambil menikmati acara TV (yang tidakku mengerti) aku memakan makanan buatanku sendiri. Aku menyendoknya, dan menatap itu sebentar. Aku menoleh ke arah Panpan yang duduk disampingku, “Panpan! Kau pasti menyesal karena kau hanya terus memakan daun. Kau tidak akan bisa mencoba enaknya Indoensian Fried rice yang membuatmu lupa daratan. Bahkan kalau pacarmu lewat tidak akan kau sapa. Hahah” aku langsung memakannya. “wuaaah... ini benar-benar enak. walaupun bagi orang Indonesia tidak enak, tapi menurutku in rasanya seperti yang ada di hotel Seoul” (Now Playing: OST. Postman to heaven – hill). --- Sudah satu minggu aku disini, aku sudah tampil di beberapa acara. Tapi itu membuatku tambah rindu dengan Korea, karena penonton disini kurang besamangat dan lemas. Aku rasa mereka mengenalku karena terpaksa. “Baekhyun... aku akan ke Korea untuk sementara, kurang lebih 5 minggu. Kau bisa menikmati waktu luangmu, terserah kau mau kemana. Oke?” tring! Langsung melintas dipikiranku untuk langsung memberi tahu Chanyeol. Ini akan semakin mudah diusut. “baiklah... semoga kau selamat sampai tujuan” ucapku. Lalu aku menutup pintu kamarku dan... “YES! YEAH!” aku meloncat ketempat tidurku dan menarik-narik kuping Panpan. “Panpan! Aku bebas! Aku bebas!” teriakku. Yumi kau! sudah bangun?! Aku sedang libur, apa mau berjalan sama-sama? Kau sedang di Nagasaki ya? Tidak oppa. Aku sedang ada di Tokyo, dirumah bibiku. Aku akan ke Nagasaki, kampungku hari ini. Oppa mau ikut? Owwww! Tentu saja! Aku akan ikut denganmu. Aku tunggu kau didepan Tomyam Restaurant ya! Aku memang sedang ada disini oppa. Oppa kapan akan menjemputku? QUICKLY! Aku langsung emngambil Jaketku dan 1 baju ganti, siapa tahu aku akan menginap dirumah Yumi. “Panpan! Kau ikut denganku, aku akan tunjukan penggemarku yang cantik” aku menggendong Panpan. Kemudian aku kunci pintu kamarku dan langsung turun menuju Tomyam Restaurant dengan berlari. Karena aku picinta Spongebob... “aku siap! Aku siap! Aku siap! Aku siap!” ucapku semangat. Dari seberang sini dapat aku lihat seorang yeoja menungguku dengan manis didepan restoran itu. Dia mengenakan lengan panjang (selalu) dan rok sebetis. “YUMI!” panggilku. “oppa!” Akhirnya aku menyebrang menghampirinya. “oppa! Kau membawa boneka panda?” tanyanya heran, “ahah... iya ini Panpan. Boneka kesayanganku” “oh... halo Panpan!” kata Yumi. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang benar-benar seperti anak kecil. “Yumi, kalau boleh tahu, kondisi rumahmu seperti apa?” tanyaku sambil berjalan menuju halte. “aku tinggal ditempat yang masih perkampungan, dimana kalau pagi hari kita masih bisa mendengar ayam jantan berkokok, dan segarnya udara pagi” jawabnya sambil membernarkan tali tasnya. “wah... pasti menyenangkan!” ucapku. Lalu kami duduk di halte untuk menunggu bis. “tidak oppa, aku rasa tinggal di kota sepertimu lebih menyenangkan” “justru aku bosan tinggal di kota seperti ini” “kita harus 4x transit bis” ucapnya, “apa?! 4 kali? Kenapa lama sekali?” jawabku membeo. “tapi perjalanan akan terasa cepat kalau kita bawa senang” jawabnya, “begitu ya? Kalau begitu kita tidak boleh bosan, nanti” kataku. “Nah ini dia bisnya, ayo kita naik, oppa!” dia menarik tanganku, aku rasakan tangannya yang lembut dan harum pastinya. “kita duduk dimana?” tanyaku, “dibangku paling belakang saja, kita bisa melihat pemandangan. Kalau di depan kita hanya duduk berhadapan dengan penumpang lain. Tidak seru” jawanya, dengan tangan yang masih menggandengku. Akhirnya kami memutuskan untuk duduk dibangku paling belakang. Orang-orang di bis semuanya melihat kearahku, pasti batin mereke ‘ugh! Orang yang aneh, membawa boneka panda yang sebesar itu di bis’. Aku memperhatikan jalan raya Tokyo pada pukul 6 pagi. Sangat berbeda dari korea, aku sadar orang Jepang semangat kerja, sehingga pagi-pagi begini sudah banyak yang berpakaian kantor. Tapi tanpa aku sadari tangan Yumi masih saja menggandeng tanganku. Aku mulai menggerakan tanganku, sekarang jarinya ada di sela-sela jariku. Ia hanya senyum, apa dia tidak merasakan bahwa ini adegan romantis yang sering ada di drama Korea. “Yumi... kau pernah menonton drama Korea?” tanyaku. “tidak, oppa. Teman-temanku bilang, itu sangat romantis, tapi aku belum ada kesempatan untuk melihatnya” jawab Yumi sambil mengeratkan tangannya. “Kenapa kau tidak sadar, Yumi? Apa kau tidak sadar jantungku ingin keluar dari tempatnya?”ucapku dalam hati. (Now Playing : OST Postman to heaven – A letter to you) --- “Oppa! Bangun, kita harus transit ke bis yang lain” katanya sambil membangunkanku. “ini sudah bis keberapa?” tanyaku. “baru bis 2, harus ada 2 bis lagi agar sampai kerumahku” jawabnya sambil menarik tanganku. Dan kali ini Panpan dia yang bawa. Setelah duduk di posisi yang sama, aku mulai lihat pemandangan indah! indah sekali. Aku tersenyum tipis melihat pemandangannya, sawah dengan petani yang sedang kerja, belum lagi aku juga melihat pegunungan yang tidak nampat di Seoul. Ini benar-benar amazing! “oppa! Lihat!” Yumi menunjukan diluar jendela ada kumpulan orang-orang ang sedang menari menggunakan kimono. “sedang apa mereka?”tanyaku, melihat kumpulan tadi yang mulai menjauh. “aku juga tidak begitu tahu, tapi dengar-dengar itu adalah tradisi setiap desa, sebagai terimakasih kepada Tuhan atas karunia-Nya” Jawab Yumi. “Yumi... apa kau membawa air minum?” tanyaku. “tentu aku bawa, oppa mau?” tanya Yumi yang sudah bersedia membuka tasnya, “kalau kau memberikannya, aku mau” ucapku tersenyum. “aku pasti memberikannya. Jangan dihabiskan ya oppa, itu untuk kita” katanya sambil memberikan sebuah botol minum berwarna merah. “Yumi... kau menyukai apel ya?” tanyaku sambil meminum airnya. “iya oppa, aku sangat suka apel dan warna merah. Haha bilang merah itu seperti matahari terbit, yaitu Jepang. Atau yang biasa oppa tahu adalah negara matahari terbit, kami mengucapkannya Hinomaru.” Jawabny tersenyum. “jadi begitu ya... oh iya.. apa kau... “Oppa! Maukah kita bergandengan tangan lagi?” tanyanya memotong kata-kataku, “bergandengan tangan seperti tadi maksudmu? Tapi kita akan dikira sepasang kekasih” ucapku. “memangnya sepasang kekasih begitu ya? Setahu aku, bergandengan tangan adalah tanda kasih sayang sebagai persaudaraan ataupun persahabatan” jawabnya. “jadi bagimu, mencium bahkan menggandeng tangan bukanlah sepasang kekasih?” tanyaku lagi. dia mengangguk tersenyum. Aku juga ikut tersenyum, melihat betapa polosnya dia. Aku tahu, haha-nya pasti mengajarkan sebaik mungkin sehingga dia tidak berpikiran yang aneh-aneh diusianya yang sangat remaja. Aku menjulurkan tanganku kehadapannya, dia menatapku sebentar lalu mengepal telunjukku. Dia terlihat begitu senang sambil melihat pemandangan dan sambil memeluk Panpan. “Yumi...” panggilku. Dia menoleh, “ada apa, oppa?” tanyanya. Aku menepuk kakiku, agar dia menyodorkan kepalanya di pangkuanku. “oppa ingin aku tidur disitu?”tanyanya lagi. aku mengangguk lalu menarik pelan kepalanya hingga dia berhasil tiduran dipangkuanku. Tiba-tiba aku terbangun, aku terbangun karena ada SMS masuk. Dari Chanyeol ternyata. Baekhyun... 2 orang itu bertenmu. Jonghyun dan Sang il. Mereka terlihat serius membicarakan sesuatu. Apa? Aigoo... aku sungguh penasaran apa yang dibicarakan oleh mereka berdua. Chanyeol, bisakah kau rekam percakapan keduanya? Chanyeol belum membalasnya lagi. aku kembalikan ponselku di kantongku. Dan melihat Yumi yang masih tetap tidur di pangkuanku. Aku ganjal rambut hitamnya kebelakang telinganya. Dan aku usap pelan kepalanya. “apa yang kau mimpikan?” bisikku pelan ditelinganya. (Now Playing : OST Postman to heaven – last days of autumn ). Bis sudah sampai di transit ke tiga, butuh 1 kali transit lagi agar bisa sampai ke kampunya. Aku biarkan Yumi tertidur, dan aku menggendongnya dipunggungku, sedangkan aku juga harus membawa Panpan. Aku lanjut naik ke bis terakhir dan meletakan Yumi kembali ke pangkuanku. “oppa?” tiba-tiba dia terbangun, “kita baru saja pindah bis. Ini yang terakhir” kataku. Dia kembali duduk dan mengambil minumannya. (Now Playing : OST Postman to heaven – A letter to you). “kau haus ya?” tanyaku. Dia mengangguk, kalau begitu nanti kita beli minuman ya, disini ada toko kan?” tanyaku. “ada, oppa. Tapi toko itu hanya menjual teh hijau” jawabnya. “ah... tidak apa-apa. Lagipula cuaca disini dingin, ada baiknya kita meminum teh hangat” jawabku. “baiklah oppa, aku juga sudah mengenalnya. Jadi akan digratiskan” katanya lagi. “benarkah? Aku rasa kau orang yang mudah bergaul yah” jawabku. “iya oppa, tapi aku tidak bisa bergaul lagi sejak chichi berhenti kerja dan menyuruhku untuk tidak sekolah lagi” katanya. “mwo? Lalu dimana kau belajar bahasa Korea dan Inggris? Bukan dari sekolahmu?” tanyaku. “aku belajar dengan tetanggaku. Dia bisa bahasa Inggris, Jepang, Kanton, dan Korea” katanya. Aku tersenyum sebenatar, lalu menepuk pelan kepalanya. “seandainya aku bukan seorang selebriti, aku akan setiap hari mengalami seperti ini dengan Yumi. Tuhan... bantulah aku, kapan aku bisa lepas dari kejahatan Jonghyun?” batinku. “oppa!” panggil Yumi yang membuyarkan lamunanku. “kita sudah sampai” katanya sambil menarik tanganku. Setelah turun dari bis, dia terlihat girang meloncat-loncat sambil memeluk Panpan. “dimana rumahmu?”tanyaku. “kita masih harus menaiki bukit dan turun lagi, kemudian melewati desa-desa dan sebagainya. Apa oppa tidak lelah?” tanyanya. “tidak, aku tidak lelah. Apalagi kalu kau girang, aku makin semangat” Jawabku. --- Aku membantu Yumi menaiki bukit yang cukup tinggi ini. “ayo Yumi! Kau pasti bisa” kataku menyemangati. Ha! “yeah! Aku bisa! Sekarang, kita lakukan tradisi di kampung ini” katanya sambil membersihkan bajunya yang penuh dengan tanah. “Apa itu?” tanyaku lagi. “siapa yang berhasil turun dari bukut ini dengan berlari, dipercaya akan mendapatkan keberuntungan” aku setuju dengan tantangannya itu. “satu.. dua... tiga!” aku berlari duluan lebih kencang dari padanya, tapi ternyata aku menabrak pohon. Brak! “oppa... makanya hati-hati” ucapnya. “ah!Ayo kita lanjut jalan!” ajakku. Dan kamipun akhirnya melanjutkan perjalanan. --- “oh... tidak! Ponselku mati” ucapku. “nah oppa, sekarang kita harus melintasi sawah ini, tapi katanya sawah ini penuh dengan kodok kalau kita berjalan, akan banyak kodok yang melompat kearah kita” deg! Kodok? Aku takut dengan kodok. Bukan takut,tapi menjijikan. “permisi, bolehkah aku pinjam sepedamu?” tanyaku pada seorang anak yang seusianya. Lalu Yumi menerjemahkannya kedalam bahasa Jepang. Dan kemudian orang itu tersenyum padaku, dan menyerahkan sepedanya. “Yumi! Ayo naik, kita akan menyeberangi sawah ini” kataku, Yumipun naik sambil menggendong Panpan di punggungnya. Dan semuanya diletakan dalam keranjang sepeda yang cukup luar ini. “Yumi! Pegangan yang kuat” “oppa! Aku mengikat tangan Panpan dileherku, boleh kan? Agar aku bisa berpegangan denganmu” aku hanya menjawab “boleh Yumi!” aku pun mulai menggoes sepeda itu dan diikuti dengan angin-angin yang menyapu wajahku serta membuat rambutku ikut terkibas. Aku rasakan tangan Yumi yang melinting di pinggangku, aku mengendalikan sepeda dengan tangan kiriku, sedangkan tangan kananku menyentuh tangannya, “uhh, tangan oppa dingin sekali. Eh... oppa! Ada kodok!” karena aku kaget akhirnya aku, Yumi, beserta sepedanya jatuh kesawah. Ouuh! Panpan-ku kotor! “Yumi.. maaf, aku kaget saat kau bilang ada kodok” ucapku sambil membersihkan wajahku. “itu salahku oppa, seharusnya aku tidak bilang kalau ada kodok. “Kalau begitu oppa harus membersihkan semuanya di sumber air, nanti aku tunjukan tempatnya” kata Yumi. Yumi mengajakku ke sebuah tempat pemandian air panas. “Apa? Kau hanya memesan 1 ruangan? Lalu maksudmu...” “bukan oppa, kau siram saja semuanya tanpa membuka baju, setelah itu baru kau menggantinya dirumahku” jawabnya. “kau juga?” tanyaku lagi yang dijawabnya dengan anggukan. Dia mulai masuk kesebuah betap yang berisi air panas, akupun mengikutinya. “akhirnya aku merasa hangat juga” ucapku. “oppa!” panggilnya, aku yang sedang melamun langsung menengok ke arahnya. Dia ternyata ingin membawa Panpan yang masih kotor itu ke bak raksasa ini. “nah... sekarang Panpan sudah bersih, tinggal menunggunya kering” katanya sambil meletakan panpan kembali kepinggiran. “oppa...” dia menghampiriku di pinggiran, “kau harus mencuci rambutmu, rambutmu kan kotor karena lumpur” dia mengambil shampoo yang tersedia lalu dituangkan ke rambutku. Tanyannya yang kecil mengusap rambutku dengan lembut. Aku lihat wajahnya dari dekat, aku tersenyum. Apa daya tariknya hingga membuatku jatuh cinta? “wow... kotor sekali” katanya lalu membilasnya dengan air. “oppa, rambutmu bagus ya, lurus” pujinya yang membuatku tersipu (Now Playing: OST Postman to heaven – last day of autumn + a letter to you). “Apa rambutumu mau aku bilas juga?” tanyku, “iya oppa” dia menghadap belakang, dan aku menyiram rambutnya pela-pelan. “kau juga memiliki rambut yang bagus” pijuku, “ah, oppa bisa saja” --- Walau bagaimanapun, masa ini tidak akan aku lupakan walau aku harus berjalan sampai kerumahnya dengan baju yang basah dan Panpan Yang basah. “Yumi, setelah ini kemana lagi?” tanyaku. “ayo ikut aku, oppa!” katanya. Sepanjang jalan, aku melewati perkampungan dengan rumah tradisional Jepang, yaitu berbahan dasar kayu dan umumnya menggunakan pintu geser, orang-orang yang sedang duduk di depan rumahnya melihat kami, pasti karena aneh kami berjalan dengan baju yang basah. “Haha!” teriak Yumi kepada seorang wanita yang sedang menyapu daun-daun yang runtuh dekat halaman rumah. Yumi berlari kearahnya dan langsung memeluknya, aku perhatikan Yumi mulai memperagakan bahasa tangannya kepada wanita yang sudah aku duga adalah ibunya. Tak lama kemudia wanita ini tersenyum padaku, dan meletakan sapunya di dekat pohon. Aku masuk ke rumahnya yang benar-benar seperti rumah milki kartun Maruko-chan. Mejanya, karpetnya bahkan tangganya juga mirip. Yumi menunjuk kearahku sambil memperagakan bahasa isyaratnya, “oppa, kata haha, oppa boleh menginap dirumahku, haha-ku bilang aku beruntung karena artis yang aku idolakan bisa main kerumahku” kata Yumi. “kau serius, Yumi?” tanyaku senang, “tentu Oppa! Ayo, biar aku tunjukan kamarmu, sekalian kau mau ganti baju kan?” Yumi menggeser pintunya, lalu berjelan sebentar di koridor kecil,sekarang disebelah kirku adalah tangga kayu yang kecil. “nah... oppa, ini kamarmu. Nanti sore kita bisa bemain di sawah untuk meminum teh hijau” kata Yumi smabil meletakan tasnya. “lalu kamarmu dimana?” tanyaku heran, “disini” dia menunjukan sebuah kamar yang juga ada disebelah kamar ini. Akhirnya setelah dia masuk ke kamarnya, aku melepas bajuku dan menggantinya dengan kaus yang aku bawa. Aku rasa ini lebih nyaman. Lalu aku masuk ke kamarnya, “Yumi..” panggilku. Kasurnya ada dilantai tanpa sebuah tempat tidur, lantainya dilapisi karpet bercorak kayu. Ini benar-benar kamar impianku. Tapi aku pikir dia belum selesai mengganti pakaiannya. “aigoo! Yumi! Maafkan aku” aku langsung berlari keluar kamarnya karena melihatnya menggunakan kaus tangan buntung. “tidak apa-apa oppa, ini memang bajuku sehari-hari kalau dirumah” jawabnya yang membuatku kembali lagi ke kamarnya. Aku lihat sepanjang lengannya penuh dengan luka dan biru-biru. “Yumi, apakah ini semua masih sakit?” tanyaku melihat lengannya. “sebenarnya masih, tapi karena aku berusaha untuk tidak mereasakannya otomatis rasa sakit itu berkurang” jawabnya. Sambil duduk di kasurnya. Dan disana ada sebuah meja, “Yumi, ini foto siapa?” tanyaku sambil melihat sebuah bingkai foto. “oh, itu. Foto keluargaku. Ini saat chichi. dulu chichi bekerja sebagai buruh pabrik, tapi sejak pabrik terbakar, chichi jadi setres dan sering mabuk serta memukuli orang” jawabnya. “maaf Yumi, aku tidak bermaksud membuatmu sedih” kataku meletakan foto itu lagi. dan duduk disampingnya. “hei, bukankah ini posterku ya? Darimana kau mendapatkannya?” tanyaku smabil melihat ternyata ada posterku dibelakang. “dibelikan oleh haha saat aku belum kenal dengan kota, haha mengerti kalau aku suka dengan hal yang berbau Korea, maka haha membelikanku poster ini di Tokyo, sebagai hadiah atas nilai Bahasa Inggrisku yang bagus. Aku tidak mau menyia-nyiakan perjuangan haha, oleh karena itu aku memasang ini. Dan sebagai gantinya aku pergi ke Korea untuk mencari pekerjaan” jawabnya. Anak ini begitu menghayati hidupnya, dia mati-matian pergi ke Korea untuk mencari uang dan membantu hidup keluarganya. Aku benar-benar salut dengan perjuangannya. Aku menengok ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 2 siang. Siang saja dinginnya bukan main, bagaimana malam? “oppa, ayo kita turun! Haha akan membuatkan makanan untuk kita” Yumi turun dengan cepat dan lancar, sedangkan aku sangat tidak biasa dengan tangga yang seperti ini. “waah! Assiiiik! Haha membuat kentang goreng” kata Yumi sambil meloncat-loncat, hahanya ¬tersenyum. Hahanya seorang yang ranjin dan cantik sekali, sama wajahnya seperti Yumi. “oppa, kau coba ini. Kentang goreng buatan haha-ku” katanya sambil menyodorkan kentang goreng ke mulutku. Begitu aku memakannya, keduanya saling melihatku, aku menunjukan kedua ibu jariku dan mengatakan “oishi *(enak! dlm bhs Jepang)” keduanya saling tersenyum dan haha-menepuk pundakku dan melemparkan senyuman yang menunjukan lesung dikedua pipinya. Dia mempersilahkan aku untuk duduk bersila di lantai. Mejanya terbuat dari kayu berwarna coklat gelap. “oppa, setelah makan aku akan mengajak oppa ketempat minum teh dan taman yang indah” katanya. “baiklah” jawabku tersenyum sambil memakan kentangnya. --- Aku melihat layar ponselku, ternyata sudah ada kiriman dari Chanyeol. Baekhyun, ini rekamannya. Kau jangan terkejut, karena ini akan membuat kau melemparkan ponselmu. Aku akan membukanya nanti, karena aku sedang bersama... Yumi! 😀 Aigoo... kau pacaran ya? Kalau aku pacaran pasti aku memberi tahumu XD Baiklah kalau begitu. Nanti akan kuhubungi lagi~ “Yumi, kau sedang apa? Sepertinya seru sekali” kataku sambil menghampiri Yumi di pinggiran air terjun yang deras. “aku sedang menangkap ikan. Biasanya kalau udara sedang dingin, banyak ikan yang muncul dipinggiran sungai” katanya. Aku melihat aliran sungai yang lumayan deras, dan suara percikan air terjun itu terdengar indah sekali. Aku menggulung celanaku lalu turun ke kali itu, “Yumi ayo lepas sendalmu kita menangkap ikan disini” kataku. “apa kau bisa? Sini, biar aku bantu” aku memeganginya dari belakang, “oppa! Lihat! Itu ada ikan!” kata Yumi mengambil ikan itu. Kemudian ada seorang kakek tua yang memikul sesuatu di punggungnya. “Ojiisan! *(kakek! Dlm bhs Jepang)” panggil Yumi lalu menghampirinya. Aku mengikuti dari belakang dan ikut duduk bersama mereka. “oppa! Ini namanya Robatayaki yaitu masakan yang dimasak diatas perapian. Nah, oppa silahkan pilih mana yang oppa mau” katanya sambil mengipas asap yang keluar dari dagangan kakek ini. “kalau ini namanya apa?” tanyaku sambil menunjuk kesebuah makanan. “itu namanya meguro” jawabnya. “meguro..” ucapku membeo, keduanya tertawa karena aksenku yang aneh. Saat aku coba, rasanya benar-benar fantastis! Meguro adalah ikan tuna, ikan ini dibumbui dengan kecap Jepang dan tepung beras, aku pikir rasanya tidak enak karena dari wujudnya saja aneh. --- “oppa, bagaimana perasaanmu di kampungku? Aku harap kau betah disini” ucapnya sambil menggandeng tanganku. Sekarang kita berjalan menuju rumah Yumi, aku tidak sangka sudah pukul 6 sore. “aku lebih dari sekedar betah” Sreet! Yumi menggeser pintunya. Aku terkejut sekali saat melihat didalam haha Yumi sedang di maki-maki dan dipukuli oleh seorang pria. “aigoo... chichi sudah pulang. Oppa, kau lewat pintu belakang ya, ayo aku antar” ucapnya panik. Dia melewati tangga belakang untuk kekamarku, tangganya unik. Naik tangga langsung balkon, dan didalam sudah ada kamarku.. “oppa tunggu disini ya” dia langsung turun lagi. dari kamarku terdengar suara orang ribut yang menyeramkan. Lebih baik aku di balkon saja. Dari sini aku bisa melihat langit sore yang jingga, dan bisa aku lihat bukit dari sini. Udaranya juga semakin dingin. Aku mengingat di kantongku masih ada sebungkus roti. Ternyata udara makin dingin, aku memilih untuk masuk saja. Kebetulan saat aku masuk kamar Yumi juga baru masuk kamarnya sambil berlari. Aku ikuti saja dia, “Yumi? Kau dimana?” tanyaku. “aku disini oppa” ucapnya, tapi suaranya samar, aku heran dia dimana. Saat itu aku lihat dia ada dibalik selimut. Aku menghampirinya, “Yumi... kau kenapa? Apa kau kena pukul lagi?” tanyaku. Pelan-pelan dia membuka selimutnya, lalu aku lihat tulang pipinya memar. Dan telapak kakinya juga. “apa yang ayahmu lakukan? Apa dia tidak menyayangimu...” ocehku pelan. “mungkin begitu, oppa” jawabnya sambil duduk. “oh! Tunggu dulu, aku akan mengobati lukamu” aku kemabali lagi ke kamarku, lalu mengambil air hangat di termos yang aku bawa. Aku menuangkannya sedikit ke sapu tangan, lalu mengusapnya ke pipinya yang memar. “auw! Ini menyakitkan...” keluhnya. “maaf..” ucapku. “kau tidak menangis?” tanyaku sambil terus mengusap pipinya dengan air hangat. “pertama kali mengaami ini aku menangis, begitu juga dengan haha. Tapi aku sekarang sudah biasa, dan seperti yang aku katakan aku berusaha untuk menahannya” jawabnya tersenyum. “aigoo.. disuasana yang seperti ini kau masih bisa tersenyum?! Kalau aku jadi kau lebih baik aku pergi dari rumah ini sejauh-jauhnya” ucapku. WhatsApp bro! Mendengar suara ringtone WhatsApp itu, aku kembali ke kamarku lalu melihat nya. Dan ternyata dari Manajer Lee. Baekhyun! Apa benar Jonghyun sedang ke Korea? Aku hanya ingin memberi tahu, tadi dia meninggalkan sebuah kertas sepotong dimejaku. Aku tidak tahu apa maksudnya, tulisannya terpotong. Apa? Segera berikan kertas itu kepada Chanyeol, kalau Manajer Lee ingin mengerti yang lebih jelasnya, silahkan tanya saja dengan Chanyeol. Baiklah kalau begitu, aku akan memberikannya pada Chanyeol Aku meletakan ponselku, lalu kembali ke kamar Yumi. “siapa, oppa?” tanya Yumi, “Manajerku, katanya dia menemukan pasangan kertas yang kau temukan dimeja itu” jawabku sambil memeras sapu tangannya dan di usap ke kakinya. Aku mulai teringat dengan kata-kata Yumi pada waktu itu... “oppa... you’re boy. And the boy should be brave” mungkin maksudnya aku harus ‘brave’ dalam menghadapi cobaan berat ini. “oppa, apa aku merepotkanmu?” tanyanya, “tidak Yumi, kau tidak pernah merepotkanku. Malah aku yang merepotkanmu dan hahamu” jawabku. Sambil duduk di sampingnya. “oh iya! Oppa, tunggu sebentar ya” ucapnya sambil berjalan dengan pincang ke kabinetnya. “apa yang akan kau ambil?” tanyaku smabil menghampirinya. Aku melihat dibalik pintu kabinetnya banyak tempelan fotonya bersama dengan teman-teman sekolahnya. Kemudian ada topi pelaut di rak kabinetnya. “wah, topi pelaut” aku mengambilnya lalu memakaikannya di kepala Yumi. “haha-yang membelinya untukku, saat itu aku terinspirasi menjadi angkatan laut, maka haha membelikannya untukku” jawabnya. “nah.. oppa. Lihat! Aku mau menunjukan ini pada oppa, aku yang membuatnya lho” dia menunjukan sebuah tatami yang bertuliskan ‘Baekhyun’. “kenapa kau menulisnya di Tatami?” tanyaku sambil melihatnya. “kata haha tatami itu sudah rusak, maka aku gunakan saja untuk prakarya disekolahku, alhasil aku mendapatkan nilai tertinggi saat itu” jawabnya. “kau pintar sekali Yumi” ucapku sambil mengusap rambutnya. “terimakasih oppa” jawabnya tersipu. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, Yumi membukakannya, dan ternyata itu haha-nya. Membawakan makanan untuk aku dan Yumi. Aku menangkap sedikit apa yang dibicarakan Yumi dengan haha-nya menggunakan bahasa tangan. ‘kenapa haha membawanya kesini?’ ‘kalau dibawah chichi akan mengetahui keberadaan Baekhyun. dia akan marah-marah karena ada orang asing masuk rumah’ begitulah kurang lebih. “oppa! Ayo kita makan! Maaf oppa, makanan disini hanya seadanya” katanya sambil duduk di lantai. “makan apa memangnya?” tanyaku ikut duduk. “ini adalah ramen. Apa sebelumnya oppa sudah pernah makan?” tanyanya sambil mengaduk ramennya. “belum, aku rasa itu sama saja denga ramyun” jawabku, “tidak oppa! Rasa Ramyun lebih berempah, sedangkan ramen tidak” jawabnya. “ayo dimakanlah” --- Aku terbangun, samar-samar aku melihat seorang yeoja yang sedang bersih-bersih dikamarku. Saat pandanganku sudah mulai jelas, ternyata itu adalah haha-nya Yumi. Dia melihatku lalu tersenyum, dia menunjukan ke pojok tempat tidurku. Aku melihatnya, ternyata ada Panpan. “Panpan?” ucapku. Dia mengangguk, “apakah ahjuma yang yang memberihkannya?” tanyaku sambil menggunakan bahasa isyarat. Tapi aku rasa dia tidak mengerti. Dia mengambil kertas dan pulpen di rak, lalu memberikannya padaku. Apa yang harus aku tulis? Bahasa Jepang? Aku tidak bisa. Ah! aku tahu. Panpan. Itulah tulisan yang aku tulis. Dia lalu meletakan kain pelnya. Dan membaca kertas itu. Dia tersenyum dan mengangguk, syukurlah dia mengerti. “eum... arigatou gozaimasu” ucapku dengan bahasa Jepang. Dia mengangguk dan melanjutkan mengepel lantai. “Yumi...” ucapku, aku harap dia mengerti kalau aku bertanya ‘dimana Yumi?’. Dia menunjukan ke luar balkon. Akupun berjalan keluar balkon, untuk mencari yumi. “Yumi!” panggilku. Ternyata ini masih pagi buta, masih pukul 4 pagi. Ternyata pukul 4 pagi semuanya sudah bangun dan bekerja. Aku melihat Yumi sedang menyapu halaman. “Yumi!” panggilku sambil menghampirinya. “eh... Oppa sudah bangun” “Yumi... aku akan pulang hari ini. Lagi pula waktu liburku hanya 5 hari” “tapi aku tidak bisa mengantar oppa” jawabnya, “tidak apa-apa Yumi. Aku tahu jalan pulang” ucapku. --- Sesampainya di hotel... “aigoo! Aku lupa mendengar rekaman dari Chanyeol” aku langsung merogoh ponselku di saku. Dan mendengarkan rekaman itu. Jonghyun: kalau begitu kita harus pikir matang-matang. Pokoknya kedua orang itu tidak boleh bertemu, karena kau tahu Baekhyun sangat menyayangi Manajer tua itu. Jangan sampai ketahuan kalau mereka sedarah. Sang Il: apa kita bunuh saja Manajernya? Jonghyun: ide bagus! Tapi bagaimana caranya? Sang Il: begini saja, kau berikan minuman padanya. Dan minuman itu akan membuat dia tertidur, setelah dia tidur, kita akan sutik mati dirinya. Mudahkan? Tanganku bergetar, ingin sekali aku rasanya ke Seoul dan menancapkan pisau di kepala mereka. Maksudnya apa, aku dan Manajer Lee sedarah? Aku harus segera menghubungi Chanyeol. --- Chanyeol! Maksudnya apa? Mereka bilang aku dan Manajer Lee sedarah? Memang Manajer Lee siapaku? Baekhyun, aku baru ingin mengabarkanmu. Ini... aku sudah menyambungkan kedua kertas yang terpisah itu. Berikut tulisannya “ATAS NAMA LEE TAE JUN MENYATAKAN BAHWA BYUN BAEKHYUN ADALAH ANAKNYA YANG TELAH DITINGGALKAN BERSAMA AYAHNYA SENDIRI BERNAMA LEE NAM SOO PADA TAHUN 1991. NAMUN ISTRINYA MENINGGAL DUNIA SAAT MELAHIRKAN BAEKHYUN. Aku akan ke Korea! Hari ini juga! Baekhyun! kau jangan nekat! Aku tidak peduli dengan balasan Chanyeol. Aku segera membereskan semuanya. (tidak lupa dengan Panpan). Aku langsung berangkat ke Haneda airport. Dan disana aku memesan tiket ke Korea. Semuanya heran melihatku yang terlalu buru-buru. Sampai saat naik pesawatpun aku menyerobot orang. --- Setelah menunggu lamanya perjalanan, karena mengalami delayed. Setelah turun aku meletakan koperku di tempat security menjaga. “bisakah mesinnya dicepatkan?” tanyaku dengan buru-buru . “maaf Tuan, ini...” aku langsung menarik koperku dan pergi keluar. “Baekhyun!” panggil seseorang “Chanyeol? Kau menjemputku? Berati sudah dari jam berapa kau disini?” tanayku tanpa menengok ke arahnya, “kau tidak perlu tahu, yang penting sekarang aku harus menjaga agar kau tidak macam-macam” “begini Chanyeol, siapa yang tidak kesal dengan pembicaraan dua ekor ayam itu? Mereka berencana akan membunuh Manajer Lee. Sekarang tujuan kita adalah ke tempat Manajer Lee” aku segera berlari ke tempat parkir, “dimana mobilmu?!” tanyaku, “itu ada di sebelah...” belum selesai dia bicara aku langsung merebut kunci mobilnya dan berlari, untungnya aku tahu mana mobilnya. “aku yang menyetir” ucapku sambil naik ke mobilnya. Dia sekarang berada sebelah kananku, dan aku mulai menyalakan mobilnya. “KYAAA! BAEKHYUN! KAU MAU MEMBUNUHKU?” tanyanya panik saat aku mulai menginjak gas. Karena aku benar-benar ngebut. --- “Manajer Lee...” ucapku saat membuka pintu kantornya. Terlihat disana ada Jonghyun, Manajer Lee, dan satu orang namja yang tingginya lebih dariku, aku yakin itu yang bernama Park Sang Il. “Oh... Baekhyun... kau berlibur kesini?” tanya Jonghyun berdiri sambil menepuk pundakku. “kalian berdua... kemari. Ikut aku” aku mengajak mereka keluar dari kantor manajer Lee yang bingung melihat kedatanganku tiba-tiba. “kau... Park Sang Il?” dia mengangguk. Aku melihat kearah meja dibelakangku. Ada senjata api pajangan. Tapi aku ingat betul itu benar-benar ada pelurunya. Aku langsung pecahkan kaca dan mengambil senjata itu dan mengarahkan kemereka berdua. “DOWN!” perintahku. Dan mereka berdua secara bersamaan mengangkat tangan mereka dan berlutut. “apa yang akan kalian lakukan pada Manajer Lee?” tanyaku dengan suara lantang. Dan Manajer Lee pun keluar melihat keadaan. “kami.. tidak apa-apa” jawab Sang Il gugup. “kalian cepat jujur atau peluru ini merambat mulus ke lambung kalian” ucapku. “jadi.. kami...” “satu...dua...ti...” “aku mengaku! Aku dan Sang Il akan membunuh Manajer Lee” ucap Jonghyun yang membuat Manajer Lee membuka matanya lebar-lebar. “Chanyeol...” ucapku, Chanyeol yang sudah tahu langsung memberikanku sebuah kertas yaitu isinya kontrakku dengan Jonghyun. Aku menyalakan korek api, dan kertas itu aku dekatkan, “Jangan! Aku mohon! Harga kontrak itu 100 juta won!” kata Jonghyun dengan posisi tetap. “apa kau tahu, Jonghyun? 100 juta won atau bahkan bertriliyun-triliyun won tidak akan bisa membayar nyawa seorang Manajer Lee” Jawabku. “oke... oke.. aku tahu kau begini karena kau ingin tahu ada hubungan apa kau dengan Manajer Lee!” “10 Tahun yang lalu, Manajer Lee dan kau kecelakaan sehingga lupa ingatan. Dan Manajer Lee memutuskan untuk memberikanmu kepada kakekmu. Dan... aku yakin kau tidak akan ingat masa kecilmu kan? Aku jujur, aku sengaja melakukan ini, karena aku memang orang jahat. Dasarku adalah jahat maka aku tidak mau menyatukan kalian. Sekarang aku beritahu, kalian adah ayah dan anak! Ayah dan anak!” ucapnya. Aku membanting senjatanya, lalu menghampirinya dan menonjokinya hingga memar. “Baekhyun.. sudahlah...” kata Chanyeol sambil menarikku. “Kau kurang ajar! Apa perlu aku membakarmu!” Tak lama polisi datang dan memborgol kedua orang itu, aku baru tahu juga ternyata surat kontrak itu palsu, oleh karena itu dia ditangkap. “Manajer Lee...” aku menghampirinya, lalu memeluknya dengan erat. “aku minta maaf...” ucapku menangis. Chanyeol hanya tersenyum melihat aku dan Manajer Lee. --- “Positif! Kalian berdua memang anak dan ayah!” ucap seorang suster. aku tersenyum lebar dan memeluk Manajer Lee. “aku akan memanggilmu... aboji” ucapku dan memeluknya lagi. “aboji, aku mencintai satu orang fansku” .“Apakah itu Ayumi?” tanyanya, aku mengangguk. “aku merestuimu dengan Ayumi” ucapnya tersenyum. “aigoo.. aboji. Terimakasih, aku menyayangimu” kataku. --- Aku sedang berjalan di trotoar sambil menundukan kepalaku. Tiba-tiba.. “Yumi?!” ucapku. Yeoja yang ada disebrangku menoleh, dan tersenyum “BAEKHYUN OPPA!” dia berlari kearah ku dan memelukku, “oppa? Kenapa kau tidak bilang kalau ke Korea?” tanyanya. “aku lupa, Yumi. Kau tahu, aku dan manajer Lee postif sebagai ayah dan anak” “benarkah oppa?” aku mengangguk. Aku menggandeng tangannya lalu berjalan-jalan ke taman. “kenapa sepi sekali?” tanyaku. “tidak biasanya taman ini sepi” jawab Yumi. “bagaimana kalau kita bermain papan seluncur?” tawarku. “ayo!” kita berlari ke dua papan seluncur yang berdempet itu. Aku dan Yumi saling bergandengan. “ayo kita meuncur bersama! Satu... dua...” “TIGA!” ucap aku dan Yumi bersamaan. “menyenangkan!” ucapnya. Aku duduk di bawah, di pinggiran bak pasir. “Yumi, apakah kau mencintaiku?” tanyaku padanya. Dia menatapku sebentar, “sebenarnya, iya” jawabnya malu-malu. Aku mendekatinya lalu memeluknya dengan erat. “aku juga mencintaimu, Yumi” jawabku melepaskan pelukanku. “sekarang kau boleh menciumku melebihi sayang sebagai idola” dia memanyunkan bibirnya, tanpa pikirpanjang aku meciumnya untuk yang ke 3 kali. “apa kau mau menjadi pacarku?” tanyaku dari dekat. Dia tersenyum sebentar, “iya oppa” jawabnya pelan. Dan aku memeluknya lagi. (Now playing : Noo Min Woo – to as one (OST. My girlfriend is a Gumiho)) Inilah arti hidup bagiku. Penuh perjuangan, ada rintangan, dan pastinya setelah perjuangan akan merasakan kebahagiaan yang berarti. Apalagi setelah memiliki Yumi, dan Manajer Lee.. Oops! Aboji maksudku. Aku merasa senang dengan kehadiran mereka dalam hidupku, walaupun tidak ada ibu yang hadir didalam kehidupanku. Cast: Byun Baekhyun Park Chanyeol Ayumi Fukada Lee Tae Jun Kim Jonghyun Park Sang Il OST: Kim Tae Woo – He Called The Wings Vocabulary 1. Ne: Iya 2. Yeoja: perempuan 3. Gamsahamnida: terimakasih (Formal) 4. Gomawoyo: terimakasih (Informal) 5. Oppa: panggilan kakak laki-laki (untuk seorang perempuan) 6. Aigoo: astaga 7. Omo: ya Tuhan 8. Andwae: jangan 9. Ya!: hei! 10. Ramyun: Mie korea 11. Namja: laki-laki. 12. Aboji: Ayah Cerpen Karangan: Julliene Facebook: Maulidya Juliene Aku bener2 nggak tau kalo banyak yang bilang fanfictionku bagus. tapi entahlahlah, bagiku ini masih biasa banget. lagipula aku tuh bukan penulis yang WOW banget. aku harap banyak yang suka sama ceritaku 😀

Cerpen Dalda (Sweet) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Firework Dinner

Oleh:
Di suatu sore yang cerah, dua sejoli sedang duduk di taman kota. Mereka asyik mengamati anak-anak kecil yang berlarian juga anak muda seperti mereka yang sedang berpacaran. Taman bunga

The Star

Oleh:
Ku pandang langit malam yang kelam menampakkan beribu ribu bintang. Hingga terlihat sejuta titik warna bersinar terang. Aku tahu, bahwa sangat mustahil untuk meraih benda-benda langit itu. “Aku selalu

Superstar

Oleh:
“Cuaca Incheon saat itu sangat cerah. Matahari bersinar seakan-akan selalu menyinari setiap langkah kakiku. Angin saat itu berhembus lumayan kencang membuat rambut panjangku tersibak olehnya. Toko-toko mulai bersiap-siap menerima

Gue Mimpi Aneh

Oleh:
Nama gue Bella, dan loe bisa manggil gue Bell atau Abel. Biasanya sih, gue lebih sering dipanggil Abel dari pada Bell. Dan kalau kalian mau manggil gue Bell kek,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Dalda (Sweet)”

  1. sahira fara nabila says:

    Suka EXO ya.. suka Couple apa? Baekyeol? Ha..ha.. ha.. lw aku Taoris. Salam EXOtis 🙂

  2. Adila Megasih says:

    Cerita yang luar biasa! XD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *