Diabolik Lovers (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 1 January 2019

11 tahun kemudian …
“Eomma, dimana Woo Shin hyung?,” tanya Min Gyu pada eommanya yang sedang mempersiapkan sarapan, “Eomma tidak tahu. Kenapa kau mencari hyungmu? Biasanya kau selalu bertengkar dengannya,” tanya eomma pada Min Gyu, “Woo Shin hyung mengambil koperku,” jawab Min Gyu. “Ini, hyung. Pakai saja koperku, aku masih ada koper lain dikamarku,” ucap Hyun Kyung sambil memberikan kopernya pada Min Gyu, “Gomawo, Hyun Kyung. Saranghae,” ucap Min Gyu sambil membuat tanda hati dengan kedua tangannya yang hanya dibalas senyuman oleh Hyun Kyung.

2 jam kemudian …
16 namja telah sampai di depan rumah yang besar dan megah, “Apa ini tempat tinggal kita yang baru, hyung?,” tanya Hae Chan, “Iya, ini rumahnya. Yang terpenting disini tidak ada yang namanya batas wilayah. Jangan bawa kebiasaan kita sebagai vampir ataupun werewolf. Tujuan kita ke dunia manusia untuk mencari Pecinta Diabolik, bukan untuk mencari yeojachingu ataupun bersenang-senang. Arraseo?,” tanya Woo Hyun dengan nada tegasnya yang hanya dibalas oleh yang lainnya.

Mereka pun memasuki rumah tersebut. “Baiklah di sini ada 8 kamar, satu kamar terdiri dari 2 kasur. Sekarang aku memberi kalian kebebasan untuk memilih teman satu kamar kalian,” jelas Woo Hyun, “Hyung, apa tidak bisa 1 kamar untuk 4 orang?,” tanya Seok Jin, “Kalau kalian mau 1 kamar 2 atau 4 orang terserah kalian. Tapi, jangan sampai karena terlalu banyak orang dikamar, kamarnya menjadi berantakan atau hancur,” ucap Woo Hyun dan langsung pergi meninggalkan ruang tengah.

Setelah selesai meletakkan pakaian dan istirahat sebentar, mereka semua berencana untuk jalan-jalan sebentar. Mereka akhirnya memutuskan pergi ke cafe. Di cafe, mereka memilih di atap karena di atap juga disediakan meja untuk 20 orang. Mereka pun memesan makanan manusia, walaupun terdapat vampir diantara mereka. Vampir itu bisa memakan makanan manusia, tetapi itu hanya akan bertahan selama 4 jam. Jika selama 4 jam makanan manusia itu tidak dikeluarkan, maka vampir itu akan mati dengan sendirinya.

Di atap hanya ada mereka dan sekumpulan yeoja yang sibuk dengan aktivitas masing-masing, seperti bermain ponsel, bergosip, dan ada yang membaca novel. Tiba-tiba seorang yeoja berkata, “Kalian tahu tidak, kalau besok kita akan dipindahkan ke kelas 2-4?,” “Mwo?! Kita dipindahkan ke kelas 2-4? Wae?,” tanya seorang yeoja yang sedang bergosip dengan teman-temannya, “Karena akan ada 16 murid baru, jadi kita dipindahkan,” jawab yeoja tadi, “Kau jangan bercanda, Jo Ah Ra,” ucap yeoja yang sedang bergosip tadi, “Aku serius, Min Soo Jin,” jawab Jo Ah Ra.

Semua yeoja itu sekarang sedang membicarakan alasan kenapa mereka dipindahkan. Hal itu sontak membuat yeoja yang sedang membaca novel berkata, “Kalian bisa diam, tidak? Kalian ini berisik sekali. Yang ada disini bukan hanya kita tapi juga namja-namja itu. Apa pentingnya meributkan masalah itu? Bukannya kalian sudah pernah pindah kelas berkali-kali?,” “Mianhae, Baek Ma Ri. Kami tidak bermaksud mengganggu mereka. Kami ribut karena kami sudah 10 kali pindah kelas,” ucap Ah Ra. Kemudian yeoja yang bernama Baek Ma Ri fokus kembali pada novelnya.

Dari kejauhan 16 namja itu melihat semua yang terjadi pada meja diseberang mereka, “Yeoja tadi baik sekali, hyung,” ucap Myung Ho, “Iya baik, tapi galak,” timpal Jae Hyun. “Hyung, kita akan sekolah di mana nanti?,” tanya Won Woo, “Di Hyundai High School,” jawab Kog Yeol yang telah selesai memakan makanannya.

Setelah hampir 1 jam di cafe, 16 namja itu pulang ke rumah mereka. Sesampainya disana, mereka terkejut bukan karena rumah kemasukan pencuri, tetapi karena 4 harabeoji mereka datang. “Annyeong, harabeoji,” sapa Tae Yong pada harabeojinya yang hanya dibalas dengan tatapan mematikan.

“Mianhae, harabeoji,” ucap Woo Hyun pada 4 harabeoji mereka yang sekarang sedang duduk, “Darimana saja kalian?,” tanya Shin Won tanpa melihat ke arah mereka, “Kami tadi habis berjalan-jalan sebentar,” jawab Kog Yeol, “Benarkah hanya berjalan-jalan sebentar?,” tanya Woo Seok meminta kepastian, “Ne, harabeoji. Kami hanya berjalan-berjalan,” jawab Sung Yeol.

“Kami datang ke sini untuk memperingatkan bahwa Hong Ji Soo dan Noh Kang Min ada di dunia manusia. Kalian harus berhati-hati dengan mereka, karena mereka kesini untuk mempengaruhi Pecinta Diabolik untuk menghancurkan kita,” jelas Joon Myeon, “Tapi, bagaimana kami bisa menemukan Pecinta Diabolik itu?,” tanya Jung Kook, “Itu mudah! Pecinta Diabolik akan membuat kalian menyukainya, bahkan kalian tidak akan bisa jauh darinya,” jawab Min Seok, “Tapi, biasanya hanya sebagian kecil dari kalian yang bisa menemukan Pecinta Diabolik yang asli,” lanjut Min Seok.

“Sepertinya cara itu sulit,” ucap Woo Shin, “Memangnya tidak ada cara yang lebih mudah?,” tanya Jae Hyun yang hanya dibalas gelengan oleh 4 harabeoji mereka. Setelah pembicaraan itu, 4 harabeoji mereka pergi dan meninggalkan 16 namja yang masih berkutat di pikirannya tentang menemukan Pecinta Diabolik yang mereka tidak tahu bagaimana dia.

Keesokan harinya, di kelas 2-4 …
16 yeoja sudah menempati tempat mereka masing-masing, “Menyebalkan sekali. Kenapa harus kita yang dipindahkan? Kenapa bukan yang lainnya?,” keluh seorang yeoja atas apa yang menimpanya dan teman-temannya, “Benar, Ha Ra eonnie. Aku juga kesal kenapa nasib kita begini,” ucap seorang yeoja yang membela eonnienya, “Hei, Kwon Ha Ra, Kwon Ha Ru! Kalian bisa hari ini tidak mengeluh? Aku pusing mendengar suara kalian,” ucap seorang yeoja, “Baiklah. Kami akan diam Cha Eun Sang,” ucap Kwon Ha Ra.

Tiba-tiba bel berbunyi dan menampakkan sosok seorang guru, “Annyeonghaseyo, haksaeng. Kelas 2-4 sekarang sudah terisi. Akhirnya,” ucap Ko ssaem bernafas lega, “Ssaem harap kelas 2-4 bisa menjadi kelas terbaik nantinya. Baiklah, sekarang ssaem akan memanggilkan 16 murid baru. Silahkan masuk,” lanjut Ko ssaem mempersilahkan 16 namja masuk.

Saat mereka masuk, semua yeoja berteriak histeris kecuali 1 yeoja. Dan dia adalah Baek Ma Ri, dia sama sekali tidak peduli dengan adanya murid baru atau ia dipindahkan. Karena tujuannya hanya ingin sekolah. “Ssaem pikir tidak usah berkenalan karena akan memakan banyak waktu. Sekarang kalian bisa duduk,” ucap Ko ssaem mempersilahkan mereka duduk.

Setelah mereka duduk, Ko ssaem melanjutkan pelajarannya. “Hyung, apa kita pernah bertemu mereka sebelumnya?,” tanya Won Woo pada Jun Hui yang duduk disebelahnya, “Iya, seperti tidak asing. Bukankah mereka yeoja yang kemarin?,” tanya Jun Hui, “Oh! Iya, itu mereka,” jawab Won Woo dengan suara keras yang membuat semua orang menatap ke arah Won Woo, dan Won Woo hanya bisa menyembunyikan wajahnya dibalik buku. Dan pelajaran berlangsung kembali.

Saat istirahat, kantin sudah dipenuhi oleh siswa siswi yang lelah menguras otak mereka dengan pelajaran yang mereka hadapi tadi. Hal itu membuat 16 yeoja memilih untuk istirahat di taman belakang sekolah. “Ramai sekali tadi disana. Untung tadi aku mengantri lebih dulu. Jadi makanannya tidak habis duluan sama mereka,” ucap Song Sam Dong, “Memangnya kau beli berapa makanan?,” tanya Go Hye Ji, “Cukup banyak. Cukup untuk kita,” jawab Sam Dong. Kemudian Sam Dong membagikan makanannya pada teman-temannya.

“Ma Ri di mana?,” tanya Shin Se Kyung, “Seperti biasanya. Ke perpustakaan meminjam novel baru,” jawab Oh Cho Rim. Tak lama kemudian, Baek Ma Ri datang sambil membawa 2 novel fiksi, “Lama sekali kau pergi. Ini untukmu. Untung tadi aku menjaganya coba kalau tidak, pasti habis dimakan Choi Se Na,” ucap Sam Dong sambil memberikan makanan yang masih utuh padanya yang hanya dibalas senyuman olehnya.

Dari kejauhan 16 namja tengah memperhatikan mereka, “Sepertinya ada yang lain dari Baek Ma Ri,” ucap Tae Yong, “Iya, bukankah dia beda dari yang lain?,” ucap Jae Hyun, “Benar, disaat yeoja lain sibuk bergosip atau bermain ponsel. Tapi dia malah lebih membaca buku,” ucap Myung Ho yang langsung mendapat jitakan dari Tae Yong dan Jae Hyun.
“Bukan itu maksud mereka, Myung Ho. Maksud mereka ada yang beda dari yeoja itu, seperti mereka menemukan mate mereka,” jelas Won Woo yang hanya dibalas anggukan olehnya tanda bahwa ia mengerti. Ternyata bukan hanya Tae Yong dan Jae Hyun yang memiliki pikiran seperti itu, tetapi juga Hyun Kyung dan Min Hyuk.

Selesai istirahat, semua siswa siswi kembali ke kelas. Tetapi tidak dengan kelas 2-4 karena mereka harus ke ruang musik. Di ruang musik, Yang ssaem mengelompokkan mereka menjadi 4 kelompok. Kelompok I terdiri dari Kim Hyun Kyung, Lee Hae Chan, Park Min Hyuk, Mun Myung Ho, Shin Se Kyung, Ji Eun Tak, Baek Ma Ri, dan Oh Cho Rim. Kelompok II terdiri dari Kim Seok Jin, Park Chan Yeol, Lee Woo Hyun, Mun Kog Yeol, Jo Ah Ra, Yoon Ji Won, Go Hye Mi, dan Go Hye Ji. Kelompok III terdiri dari Kim Min Gyu, Park Won Woo, Lee Tae Yong, Mun Jun Hui, Min Soo Jin, Choi Se Na, Kwon Ha Ra, dan Kwon Ha Ru. Sedangkan kelompok IV terdiri dari Kim Woo Shin, Park Jung Kook, Lee Sung Yeol, Mun Jae Hyun, Cha Eun Sang, Jung Soo Jung, Song Sam Dong, dan Kang Ha Na.

“Baiklah, ssaem akan memberikan kalian tugas untuk membuat grup paduan suara dengan kelompok kalian. Ssaem akan memberikan kalian waktu 1 bulan. Setelah 1 bulan, kalian harus tampil. Dan kelompok yang mendapat nilai tertinggi akan ssaem beri hadiah. Sekarang kalian bisa berdiskusi dengan kelompok kalian,” ucap Yang ssaem kemudian keluar untuk menghadiri rapat. Sebelumnya Yang ssaem sudah memberitahu bahwa ia akan mengikuti rapat. Kemudian mereka berdiskusi tentang tugas kelompok mereka.

Setelah pulang sekolah, Ma Ri dan teman-temannya ingin pergi ke cafe langganan mereka. Sesampainya disana, “Bagaimana nanti tugas kita jika kita tidak berkomunikasi dengan namja-namja itu?,” ucap Ha Na, “Tenang saja. Kita diberi waktu 1 bulan untuk mengerjakan tugas ini. Jika kehilangan waktu 1 hari bukan berarti kita tidak mengerjakan tugas kan,” ucap Soo Jung enteng, “Aku mau ke toilet sebentar,” ucap Ma Ri, “Mau aku temani?,” tawar Ji Won, “Ani. Lagipula aku bukan anak kecil yang harus ditemani ke kamar mandi,” ucap Ma Ri kemudian meninggalkan mereka.

Setelah keluar dari toilet, tanpa sengaja Ma Ri menabrak seseorang, “Mianhae, ahjushi. Tadi aku tidak melihat,” ucap Ma Ri sambil menundukkan kepalanya, “Gwenchana. Lagipula aku juga salah,” ucap pria itu, “Namaku Noh Kang Min. Kalau boleh tahu siapa namamu?,” lanjut pria itu sambil mengulurkan tangannya, “Aku Baek Ma Ri,” jawab Ma Ri sambil menjabat uluran tangan Kang Min, “Permisi, Kang Min ahjushi. Aku harus kembali,” lanjut Ma Ri kemudian pergi meninggalkan Kang Min di sana.

“Kau lama sekali. Darimana saja kau? Apa kau tidur di toilet?,” ucap Cho Rim, “Tadi aku tidak sengaja menabrak seorang namja,” jawab Ma Ri, “Apa dia tampan?,” tanya Se Na,”Lebih baik kau tidak usah tanya hal itu. Karena bagi Ma Ri semua pria sama saja, biasa saja,” timpal Ji Won dengan menekankan di kata ‘biasa saja’ dan Se Na hanya mendengus kesal karena apa yang dikatakan Ji Won.
“Itu mereka! Kenapa mereka mengikuti kita?,” ucap Soo Jung sambil menunjuk ke arah 16 namja, teman sekelas mereka. Sontak hal itu membuat teman-temannya mengikuti arah telunjuk Soo Jung. Dan benar saja bahwa mereka juga ada disini. Saat mereka masih menatap 16 namja itu, tiba-tiba ada yang mengagetkan mereka, “Baek Ma Ri!,” “Kang Min ahjushi!,” jawab Ma Ri yang langsung mengalihkan pandangannya ke orang yang baru saja memanggil namanya, “Jadi kau kesini bersama teman-temanmu?,” tanya Kang Min yang hanya dibalas anggukan oleh Ma Ri.
“Perkenalkan ini temanku, Hong Ji Soo,” ucap Kang Min sambil memperkenalkan temannya yang hanya dibalas senyuman oleh Ma Ri. “Kalau begitu kami pergi dulu. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti,” ucap Kang Min kemudian dia dan temannya pergi. “Siapa mereka? Sepertinya mereka mengenalmu,” tanya Sam Dong, “Ahjushi yang menyapaku tadi adalah namja yang aku tabrak,” jawab Ma Ri, “Mereka tampan sekali. Siapa nama mereka?,” tanya Sam Dong lagi, “Yang menyapaku tadi namanya Noh Kang Min dan temannya Hong Ji Soo,” jawab Ma Ri. Kemudian mereka memakan makanan mereka yang sudah sampai.

Keesokan paginya di sekolah …
Di kelas 2-4 hanya ada 1 orang yaitu Baek Ma Ri dan dia sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba ada yang menyapanya, “Annyeonghaseyo, Baek Ma Ri,” kemudian Ma Ri menoleh dan mendapati Hyun Kyung di depannya, “Eoh, annyeonghaseyo. Tumben sekali kau datang sendiri,” sindir Ma Ri, “Tadi yang lainnya sedang mandi, jadi aku berangkat duluan,” jelas Hyun Kyung, “Bagaimana dengan tugas kelompok kita?,” tanya Hyun Kyung.
Kemudian Ma Ri menyodorkan kertas, “Ini! Kertas ini isinya lagu pilihanku dan teman-temanku. Dan disitu aku juga sudah membuat tatanannya,” jelas Ma Ri, “Letaknya sih lumayan bagus. Coba aku bicarakan dengan yang lainnya,” ucap Hyun Kyung setelah melihat isi kertas itu, “Ma Ri-ya! Bagaimana jika nanti pulang sekolah aku ajak ke toko buku? Aku ingin membeli buku tentang musik,” lanjut Hyun Kyung yang hanya dibalas anggukan oleh Ma Ri.

Setelah itu teman-teman Ma Ri dan teman-teman Hyun Kyung datang. “Hyung, ini kertas dari Ma Ri,” ucap Hyun Kyung sambil memberikannya pada Woo Shin, “Apa ini?,” tanya Woo Shin, “Usulan lagu dari Ma Ri dan teman-temannya. Dan itu juga ada penataan tempat untuk kita penilaian nanti. Jika kalian ingin merubahnya, aku bisa bicara ke Ma Ri,” jelas Hyun Kyung.

“Sejak kapan kau dekat dengan yeoja kutu buku itu?,” ledek Tae Yong, “Baru saja. Memangnya kenapa? Hyung suka dengannya?,” goda Hyun Kyung, “Dia bukan tipeku, jadi buat apa aku suka padanya,” ucap Tae Yong yang melanjutkan aktivitasnya lagi yaitu mendengarkan musik. “Boleh juga usulannya,” ucap Woo Shin yang mewakili semuanya yang menandakan bahwa mereka setuju. Kemudian bel masuk berbunyi dan Hwang ssaem masuk, “Annyeonghaseyo, haksaeng. Hari ini kita akan melanjutkan pelajaran tentang sejarah korea. Buka buku halaman 124,” perintah Hwang ssaem dan pelajaran pun berlangsung.

Pulang sekolah …
“Kau jadi menemaniku ke toko buku, kan?,” tanya Hyun Kyung yang berada di depan meja Ma Ri, “Ne, jadi. Lagipula aku ingin membeli novel baru,” jawab Ma Ri. Kemudian tanpa persetujuan Ma Ri, Hyun Kyung langsung menarik tangan Ma Ri untuk keluar kelas. Hal itu sontak membuat seisi kelas bingungdengan apa yang barusan terjadi.

Di toko buku, Ma Ri menemani Hyun Kyung yang berada di rak buku khusus pengetahuan musik. Setelah menemani Hyun Kyung, mereka berdua pergi ke bagian novel, “Novel apa yang ingin kau beli?,” tanya Hyun Kyung pada Ma Ri, “Aku ingin membeli novel misteri yang bercerita tentang vampir yang mencintai seekor werewolf,” jawab Ma Ri.

Saat Ma Ri sudah menemukan novel yang ia cari, tiba-tiba Ma Ri terpaku pada satu novel dengan judul yang belum pernah ia lihat, “Menurutmu ini bagus tidak?,” tanya Ma Ri sambil menunjuk satu novel kepada Hyun Kyung. Saat Hyun Kyung melihat judul novelnya, dia terkejut karena judul novel tersebut berkaitan dengan tugasnya, “Kenapa kau diam saja? Novel Pecinta Diabolik ini bagus tidak?,” tanya Ma Ri lagi dengan menyebut judulnya, “Mianhae, tadi aku memikirkan sesuatu,” ucap Hyun Kyung. Kemudian Ma Ri meninggalkan Hyun Kyung sambil membawa 2 novel ke kasir.

“Kau mau kuantar pulang?,” tawar Hyun Kyung, “Tidak usah. Lagipula rumahku cukup dekat dari sini,” jawab Ma Ri, “Soal kertas itu, kami menyetujuinya,” ucap Hyun Kyung, “Syukurlah kalau kalian suka,” ucap Ma Ri, “Kalau begitu terima kasih karena mau menemaniku kesini. Aku pulang dulu,” ucap Hyun Kyung kemudian melambaikan tangannya dan pergi dengan motornya.

Cerpen Karangan: Karimah
Blog / Facebook: Karimah Diponegoro

Cerpen Diabolik Lovers (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Boyfriend

Oleh:
Aku berlari menjauh. Air mataku sudah tak lagi terbendung. Hatiku terasa sangat sakit. Dia, orang yang sangat kucintai telah mengkhianatiku. Sakit. Mama yang melihatku menangis saat memasuki kamar, datang

Pria Itu

Oleh:
Sudah seminggu Nara melihat pria itu dengan sunglasses hitam dan jaket kulit yang terkesan mewah. Tampan, memesona dan muda. Nara akui itu, namun ada yang salah dengan pria itu

This is My Love Story

Oleh:
Seperti biasanya aku selalu bangun, menyiapkan sarapan dan berangkat kuliah. Aku kuliah di KAIST salah satu universitas terkenal di Korea Selatan. Selain kuliah, aku juga bekerja di sebuah café

My Oppa, My Namja

Oleh:
Mobil ayah Seung Ho sedang melaju di sekitar kawasan kumuh Gunyong pada jam 11 malam saat melihat seorang gadis dengan wajah yang berlumur darah berjalan dengan menyeret kakinya ke

Love Is Moment (Part 1)

Oleh:
Di matamu, di pikiranmu, cinta sedang digambar Meskipun kita terpisah, meskipun kita tersembunyi, cinta adalah dirimu Kuharap kerinduan yang datang bersama angin dapat memberitahumu tentang hatiku Cinta adalah momen,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *