Diamond Eyes

Judul Cerpen Diamond Eyes
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 3 November 2016

Jea membaca sebuah papan reklame besar di hadapanya. Ia kemudian mengeluarkan kameranya. Tak berapa lama ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Jea terburu-buru.

“ini?”
Jea mengangguk lemah kemudian menghirup udara demi mengisi paru-parunya yang kurang pasokan oksigen. Soo yeon meletakkan kamera milik Jea yang sedari tadi di tangannya.
“lalu apa yang akan kau lakukan, bukankah sudah jelas semuanya. Apa kau masih ingin menunggu oppa Baek?”
“Aku tidak tau, aku tidak bisa berpikir saat ini” urai Jea menjelaskan keadaanya. Kening Soo yeon berkerut mendengar penuturan Jea. Soo yeon berdehem.
“yang pasti aku tidak akan menunggunya, lebih baik aku pulang ke rumah ibu atau ayah. Jika boleh..!”
Soo yeon berkerut kening karena mendengar ucapan Jea yang telah patah semangat.
“sebaiknya tunggu oppa Baek. Dia itu kakakmu, tunggulah sampai ia merespon. Dan tinggallah disini!”
Jea memandang Soo yeon yang telah memberinya sedikit harapan. Jea beranjak tanpa berkata sedikit pun mengenai tawaran Soo yeon. Soo yeon mendengus mendapati sikap Jea seperti anak kecil yang tak mendengar ucapannya.
“Jangan kemari kalau hanya membawa masalah!” dengus Soo yeon pada Jea yang telah berjalan ke luar rumahnya.
“terserah aku mau apa!” ketus Jea dari kejauhan dan itu membuat Soo yeon kesal saja. Soo yeon menggeram kesal sekali atas sifat sahabatnya itu.

Mataku terbelalak ketika saja kornea mataku menangkap pemandangan familiar di seberang jalan. Dengan sedikit menyipitkan mata, aku sudah yakin dengan penglihatanku. Refleks kuangkat kamera kesayanganku. Tapi..
“apa yang kau lakukan bodoh!” runtukku pelan menyadari sesuatu yang akan aku lakukan. Kuturunkan kamera tak jadi mengabadikan apa yang sejak tadi kupandangi.
Ah, kenapa banyak mobil berlewatan sih. Bagaimana ini. Kucari cara agar aku dapat tepat waktu sampai ke seberang jalan yang mempunyai badan yang sangat lebar.
“oppa! op..oppa” akhirnya dengan susah payah aku telah sampai di seberang jalan yang kumaksud. Nafasku terengah-engah lantaran terburu-buru.
“loh?” raut wajahku berubah muram mendapati fakta yang sebenarnya. Dia bukan oppa Baek. Bagaimana bisa sih aku salah lihat begini. Apa ini halusinasi karena terlalu memburu kakakku itu? Aduh, pria di depanku memandangku dengan harapan aku mengatakan sesuatu padanya.
“kau siapa?” tanya pria itu pada akhirnya. Hahaha, ternyata dia bukan pria penyabar!
“aku… akh maksudku maaf. Aku salah orang ternyata. Sekali lagi maaf ya.” ucapku seraya sedikit membungkuk. Kekeke. Dia kenapa bertambah bodoh seperti itu. Aku segera meninggalkan pria itu sebelum ia bertanya yang aneh-aneh.

“bagaimana bisa?”
“Bagaiman bisa kau berteriak begitu di telingaku yang sudah hampir tuli karena selalu kau teriaki begini!” dengusku kesal. Bukan merasa bersalah, Soo yeon menjitak kepalaku.
“kau tau, Baek oppa bilang dia tak akan membatalkan pernikahnya dengan gadis sakau itu.
Kulihat Soo yeon yang sedang mencerna kata-kataku. Baiklah, sejak kapan ia sok serius begitu?
“Bagaimana ini, kau tahu sekali bukan. Kalau wanita itu sangat berbahaya!”
Aku meliriknya tajam kepada Soo yeon. Aku sangat tidak suka jika dia menyebut Shin yoo dengan sebutan ‘wanita itu’, bagaimana pun Juga kalau Shin yoo adalah seorang teman yang pernah berjasa padaku.
“Apa! kau marah jika aku menyebutnya seperti itu!?” dengus Soo yeon kesal. “Pergilah, sepertinya kau benar-benar bodoh. Sampai-sampai tak bisa membedakan mana kawan mana lawan!” lanjutnya terlihat kesal atas sikapku terhadapnya. Ia meninggalkanku begitu saja enyah ke kamarnya.
Aku tau ini bukan masalah yang gampang untuk dihadapi. Aku bahkan bingung membagi waktu antara kuliah, mencari pipa baek oppa bahkan pekerjaanku. Kupejamkan mata berharap aku dapat tertidur dengan nyenyak sekali.

Kulihat gadis itu mendekati dengan terburu-buru. Aku gelisah antara takut serta marah. Tapi kucoba untuk tetap menjaga ketenanganku.
“annyeonghaseyeo! Mian!” Shin Yoo menyapaku dengan sedikit membungkuk. Aku tersenyum simpul membalas sapaannya.
“langsung saja, aku tau bahwa kan dan keluargamu sangat tidak menyukaiku bahkan keluargaku” ia menarik nafas. “Sungguh jika boleh memilih aku tidak ingin ada di situasi semacam ini.” Kini raut wajah Shin Yoo berubah muram. Kulihat beban berat yang tak mungkin ia hindari dari ekspresi wajahnya.
“Sungguh! Aku harus melakukan ini karena hanya inilah yang dapat aku lakukan untuk menyelamatkan keluargaku. Ya, jika saja perusahaan ayahku tidak mengalami hal sepelik ini. Mungkin aku bisa menghindari pernikahan ini” jelasnya meyakinkanku untuk mempercayainya. Aku percaya padanya, karena aku tau bagaimana keadaanya sekarang.
“arraseo. Tapi dimana oppa Baek, kenapa ia sangat susah untuk dihubungi disaat kau dan dia akan menikah?” tanyaku penasaran.
“dia sedang berada di kantor ayahku, mengcleaning up masalah perusahaan ayahku” jelasnya kemudian. Aku menarik nafas dalam mendengar penjelasan Shin Yoo.
“Sungguh? Apa tidak karena melarangnya bertemu padaku” selidikku menekan kejujurannya. Ia malah tersenyum simpul.
“tidak.. bahkan aku sendiri sangat susah untuk bertemu padanya. bagaimana aku bisa melarangnya bertemu dengan adiknya sendiri.”
“Baiklah, bilang padanya aku hanya ingin berbicara padanya barang semenit saja, aku harap kau bisa membujuknya” aku segera meninggalkan Shin Yoo tanpa berpamit padanya. Kurasa itu sudah tidak diperlukan lagi olehnya.

Aku mendapat pesan singkat dari oppa Baek. Akhirnya manusia itu menyerah juga. Segera aku bergegas meninggalkan sarapan pagi dimana makan, bahkan yeon soo terkejut mendapatiku seperti orang gila pergi tanpa bersuara.
Aku melihat pria bertubuh jenjang dengan jaket wol abu abu yang melekat di tubuh atletisnya. Ia tersenyum menyambutku. Ia bahkan memelukku dan mencium keningku. Oh, sungguh ia adalah pria yang sangat pintar memanjakan seorang adik sepertiku.
“pulangkan oppa!” Rengekku padanya.
“Anniya, aku belum bisa pulang.”
“Apakah kau menunggu ibu mati dahulu baru kau pulang”
“apa maksudmu, apa ibu sakit?” Tanyanya berubah menjadi cemas. Aku tersenyum mengoloknya.
“itu kau tau, lalu kenapa masih bertanya. Dari itu pulanglah, jangan sampai ada penyesalan pada akhirnya.” Ia terdiam menatapi segelas teh hijau yang baru saja dipesannya. Dalam situasi seperti aku ingin ia lebih berpikir jernih. Berpikir bahwa keputusan untuk menikahi gadis anak seorang musuh ayahku sendiri adalah keputusan yang keliru.
“Tidak, pasti kau bohong. Aku tau kalau ini hanya siasat untuk menyuruhku pulang lalu ketika aku pulang maka kalian akan bersikeras melarangku untuk menikahinya.” Aku tersenyum simpul mendengar penuturannya. Oh, mata indah itu akhirnya pergi juga. Aku akan membawaku pada keluarga kita lagi oppa.
“Lalu?”
“Aku tau kalau kau berbohong. Aku tau itu. nah sekarang pergilah. Aku tidak mau pernikahanku jadi kacau karena sifat egois kalian.” Setelah berbicara begitu ia segera beranjak meninggalkan aku. Namun segera kutahan tangannya.
“Sungguh, aku tidak berbohong. Kau akan menyesal. ingat ucapannya ini.” Dilepaskan tanganku dari tangannya. Tatapan matanya sedikit meredup, kemudian ia segera beranjak pergi.

Setelah bertahan dari penyakit yang membuat ibu menderita, kini kami harus merelakannya. Kista itu membuat aku harus menjalani hidup sendiri tanpa ibu di usiaku yang masih terbilang muda. Tapi, aku harus bertahan demi ayah.
“Jea-ssi! Soo yeon meneriakiku seperti biasanya karena aku melamun lagi.
“apa?” tanyaku datar.
“Hey.. baca ini. Aku mendapatkan pesan singkat dari Myung soo. ayo baca.” katanya bersemangat. Dengan malas aku menerima ponsel yang disodorkan oleh soo yeon.
“Myung soo?”
“apa? Kau lupa. Dia teman oppa Baek dulu yang pernah menemanimu pergi ke toko buku kesukaannya. Bagaimana bisa!” Seru soo yeon sedikit kesal.
Aku teringat akan sebuah memori bersama Myung soo. Namja tampan yang telah aku lupakan akhir akhir ini.
Isi pesan itu adalah memintaku untuk menemuinya secepatnya. Aku tersenyum simpul lalu membalas. Aku akan segera datang, kataku dalam hati.
“Kau ikut atau tidak?”
“Sebenarnya aku mau tapi kan kau tau hari ini aku harus menyelesaikan tugas akhir tahun. Tapi.. Kau jangan marah ya!” Ulas soo yeon sedikit kecewa. Aku tersenyum ringan.
“arraseo!” Aku meninggalkan soo yeon yang masih asyik dengan makan siangnya. Aku segera menuju tempat dimana Myung soo menungguku. Di perjalanan hatimu terus bertanya mengapa tiba-tiba Myung soo ingin bertemu denganku setelah hampir dua tahun berlalu.

Namja itu tersenyum renyah menyambut kedatangan. Ia langsung berdiri dan memberi salam secara membungkuk begitu pula sebaliknya aku.
“Kau terlihat lebih cantik dari pada sebelumnya” aku tersipu malu mendengar ucapannya.
“Hahaha.. Kau bisa saja. Kau juga semakin tampan dan gagah.” kataku menyeimbangi pujian Myung soo.
“Aku minta maaf atas ibumu. Dan aku turut berduka cita atas itu. Sungguh tidak terduga sebelumnya.”
“Nae. Tidak mengapa.” kataku dalam suara yang rendah. Ia mempersilahkan aku untuk menyeduh green tea yang dipesannya. Aku melakukannya dengan senang hati.
“Lalu apa yang akan kau katakan.. ehmm Apakah ada yang penting”
Myung soo mengangguk kemudian memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman.
“Ini menyangkut kakakmu.” Huft! Hampir sama terlepas jantung mendengar nama itu. Tapi aku berusaha untuk lebih tenang disaat seperti ini. Aku ingin tau apa yang akan disampaikan oleh Myung soo tentang orang bernama Baek ji sung itu.
“Sungguh aku sangat menyesali sikap Baek ketika Ia mengambil keputusan untuk menikahi gadis bernama Shin Yoo tanpa berpikir panjang.” Aku berusaha untuk lebih teliti mendengarkan setiap kalimatnya.
“Sungguh aku tak tau apa yang bisa membuat Baek begitu terpercaya. Tapi.. Aku tidak bisa menyalahkan diri Baek sepenuhnya mengingat ia sedang di mabuk kepayang oleh gadis picik itu.” Jantungku terus berdenyut tak karuan ketika Myung soo terlalu ekspresif menekan perasaannya. Ia menekan berkali kali keningnya dengan ibu jarinya.
“sekarang Baek telah bercerai dengan Shin Yoo. Kau tau Tidak?” Aku menggeleng cepat. Oh tidak, kurasa tubuhku mulai melemah. Tanganku mulai terasa dingin.
“Sekarang Baek sepenuhnya menyesali.. Ia hanya dimanfaatkan oleh gadis picik itu. Keluarga besar mereka hanya ingin perusahaan maju tapi Baek tidak dibutuhkan lagi ketika perusahaan itu.”
“jinja-yeo? Omo, ap..”
“ya benar, Baek malu untuk menemui kalian.”
“Apapun dan bagaimanapun juga ia tetap kakakku satu-satunya. Kami menyayanginya walaupun dia sekalipun tak pernah menganggap kamu bukan siapa-siapa.” Aku menyeka air mata yang akan terjatuh dari mataku.
“Sungguh kami..” Aku tergagap sekaligus terkejut dengan sebuah pelukan yang entah siapa yang melakukannya. Aku menatapp wajah orang sudah sangat lancang memelukku.
“op..pa, kau?” tanyaku sambil tersedu. Aku berdiri lalu memeluknya erat, tak lagi aku pedulikan mata para pengunjung tempat makan itu. Dan aku menemukan sebuah permata yang pernah hilang. Ia kembali, walau tak seutuhnya dahulu tapi aku sungguh bahagia. Airmata Baek oppa juga mengalir ke pipi halusnya.
“Jeoseonghamnida, aku… menyesal.” misalnya telingaku. “aku menyesal telah meninggalkan kalian, Ibu, aku menyesal telah menjadi salah seperti ini” aku melepaskan pelukan lalu membimbing ia untuk duduk. Matanya tidak secerah dulu. Mata berlian itu telah pudar bersama dengan pengkhianatan istrinya.

Aku tersenyum simpul bahkan mataku berkaca-kaca ketika Baek oppa merengkuh kaki ayah yang terduduk di kursi rodanya. Ayah menangis dalam kebahagiaan yang tak bisa aku tau.
“Appa, aku menyesal telah menjadi salah seperti ini, aku bodoh. Maukah kalau memaafkan aku?”
“Chereom. Kau tidak bersalah dan aku berharap kau mau bersama kami lagi, walau tanpa” ayah dengan paksa menarik Baek oppa dari kakinya untuk kemudian memeluknya.

“ayo kita harus pulang, Ibu tak akan suka jika kau terus seperti ini.” Kataku lembut membujuk Baek oppa untuk meninggalkan makan ibu. Yah, Mungkin ia menyesali hari-hari dimana ia mengabaikan ibu. Dimana ia hanya peduli pada keluarga musuh ayah. Teman yang berkhianat hingga ayah mengalami hal buruk pada karir juga kesehatannya.
Aku merengkuh lengan Baek oppa ia pun menurut padaku. Mata sembab bahkan wajahnya yang memerah entah mengapa malah membuatku merasa ingin tertawa.
“Kau jangan begitu, selalu saja tertawa melihatku menangis begini.” Serunya dengan suara yang sengau. Aku semakin tertawa begitu ke luar dari pemakaman.
“jinjayeo, kau memang lucu tau.”
“Boda.. akan ditarik hidungmu itu” serunya sambil berlari mengejarku yang berlari menjauhinya.
Ibu, Baek oppa telah pulang. Aku telah berjanji padamukan bahwa aku akan membawanya kembali? Sekarang sudah aku tepat jamjiku. Aku mencintai keluarga ini ibu. Terima kasih telah menciptakannya untukku.

Cerpen Karangan: Nuriana
Facebook: Nuriana Teen Pumnkins

Cerita Diamond Eyes merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Is This My Fault?

Oleh:
“Lihatlah tanganku ini chagi ya, ini sakit…” “Mana oppa? Bagian manakah yang sakit? Oh ya ampun, ini memar. Pasti sakit sekali?” “…..” Yah, seperti itulah kira-kira percakapan romantis dari

Chingu

Oleh:
Hyejin ke luar dari rumahnya sembari menikmati angin yang berhembus. “Ah, cuacanya sejuk,” ujarnya sembari tertawa pelan. Hyejin berjalan-jalan di sekitar halaman rumahnya, namun secara tidak sengaja Hyejin melihat

You Are My Korean Love (Part 2)

Oleh:
Detik-detik pesawat jalan akan terjadi. Sementara para penumpang cari tempat duduk, aku dengarkan musik dari mp3-ku. Di sebelahku duduk cowok Korea yang gak asing buatku. Wajahnya ganteng, manis lagi.

Gloaming

Oleh:
Sebuah padang rumput ilalang yang luas, memancarkan cahaya coklat keemasan di senja hari seperti ini. Diselingi bunga-bunga yang merekah di sekitar padang itu. Gemericik air sungai yang mengalir kecil

I Miss You

Oleh:
Angin semilir menelusup celah-celah helai rambutnya. Menikmati sore yang menggantungkan matahari di ujung barat untuk segera menyembunyikan dirinya. Menebarkan kilau emas keoranyean di langit kala itu. Ia bangkit dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *