Geography Couple (Love Lesson)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 18 July 2016

Semalam mereka menghabiskan waktu untuk berkencan dan saling menukar rindu. Dan hari ini tepat setelah sepulang sekolah, Nara akan belajar privat bersama Heind. Tidak, lebih tepatnya belajar privat dengan Heind yang akan mengajarinya di apartement lelaki itu. Nara sudah berdiri di luar kelas menunggu Heind, tapi kenapa Heind lama sekali? Dan satu hal yang harus kalian ketahui bahwa Nara tidak suka menunggu, dan dia tidak mau berjamuran menunggu Heind disini. Sebaiknya ia langsung saja ke parkiran, duduk di motor lelaki itu lalu menunggu lagi. Yah, sebaiknya seperti itu.

Sekolah sudah sangat sepi, tapi entah kenapa rasanya aura sekolah begitu mengerikan bagi Nara. Nara takut takhayul. Nara berlari lari kecil agar bisa sampai keluar dari lorong sekolah ini, tiba tiba ada tepukan di bahunya

“AAAAAA!!!” Nara langsung saja berteriak ketakutan.

“Yaa yaa kau kenapa eoh?”
Nara kenal suara itu, itu suara Heind. Nara menghembus napas lega dia kira yang menepuk bahunya tadi adalah hantu, setan atau apalah itu yang mengerikan.

“Huh, kau kemana saja sih?! Aku menunggu mu dari tadi dan sekarang kau mengagetkan ku dengan tepukan mu itu!! Aku kira kau hantu tadi!” Nara baru saja membentak Heind. Sungguh ia tidak bermaksud seperti ini tapi ia hanya merasa takut.

Heind langsung menarik Nara dalam pelukan, ia sangat tahu Nara takut akan hal hal takhayul seperti itu. Gadis itu ketakutan dan otomatis akan membentak cemas dan khawatir. Dan Heind semakin terenyuh ketika terdengar isakan kecil keluar dari mulut Nara.
“Mianhe, aku tadi mengantarkan beberapa buku di perpustakaan. Seharusnya kau menunggu ku saja di luar kelas, sayang.” Tangan Heind membantu mengusap kepala Nara agar gadis itu bisa tenang.

“Kau kann tahu aku tidak suka menunggu dan aku… Sangat takut” Kalimat terakhir Nara diakhiri dengan bisikan, ia masih mengeratkan pelukannya di pinggang Heind. Heind kembali meminta maaf dan perlahan menyuruh Nara agar melangkah pergi bersamanya keluar dari gedung sekolah.

DI APARTEMENT
“Aku haus, tolong buatkan aku minum!” Perintah Nara pada Heind yang kini menatapnya tajam. Lihatlah bahkan tangan Nara melambai lambai mengisyaratkan agar Heind segera pergi di hadapannya lalu membuatkannya minuman. Cih, apa apaan dia. Umpat Heind batin.

“Hello~ sebenarnya disini siapa sih yang tuan rumah?”

Hahaha, Nara menahan tawanya saat mendengar nada bicara Heind terkesan kesal padanya. Memang enak menjahili Heind. Walaupun begitu, Heind tetap menuruti perkataan Nara. Apapun itu untuk gadisnya Heind rasa tidak masalah ya kan?

Selama Heind masih membuat minuman untuknya, Nara bermaksud mengitari apartemen baru milik kekasihnya ini. Katanya hadiah pemberian ayah Heind atas keberhasilan Heind saat di Brazil, taulah olimpiade Geografi. Kalau Nara berhasil apakah ia juga akan diberi apartemen oleh orangtuanya? Entahlah, orangtuanya pelit. Nara melihat sebuah pintu dengan kenop emas sepertinya itu kamarnya Heind deh, Nara mengedikkan bahu daripada ia kepo lebih baik masuk saja.
“Woaah” Nara berdecak kagum melihat isi kamar itu, yang benar saja kamarnya begitu mewah, rapi dan elit sekali. Sungguh baik hatinya orangtua Heind memberikan apartemen semewah ini, kalau begitu Nara boleh dong berbarter orangtua dengan Heind? Hahaha, jangan deh Nara tidak mau di cap sebagai anak durhaka nantinya.

“Sudah cukup kekagumannya?” Suara Heind menginterupsi kegiatan Nara, dilihatnya Heind yang sedang membawa segelas jus jeruk buatannya. “Ini, diminumlah” Ucap Heind. Nara mengangguk.

“Orangtuamu baik ya, sampai-sampai memberikanmu hadiah semewah ini kalau begitu aku juga kepingin” Ucap Nara lalu meneguk jusnya lagi. Lalu tatapannya terantensi pada Heind yang kini sudah bertelanjang dada di depannya. DI DEPANNYA!

“Omo! Yaak! Ap-apa yang kau lakukan? Cepat pakai baju mu eoh!” Nara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, rasanya terlalu malu untuk melihat pemandangan seperti tadi, apalagi mereka sedang berada di kamar Heind. Astaga! Di kamar?! Nara pabo-ya. Sedangkan Heind hanya tersenyum geli melihat tingkah laku gadisnya, gadis itu sekarang pasti memikirkan yang tidak tidak. Ayolah! Dia hanya ingin mengganti bajunya saja bertelanjang dada di depan Nara tidak masalah kan?

“Yaa gadis bodoh, buka matamu” Perintah Heind sembari membuka paksa tangan Nara yang masih menutupi seluruh permukaan wajah gadis Kwon itu.

Nara menggeleng keras “Shireo!”

Heind menghela napas jengah. Gadis yang ada di depannya ini memang sensitif dan keras kepala sekali sih. “Sayang, aku sudah memakai baju kok”

“Jeongmallyeo?” Nara bertanya untuk memastikan lagi manatau Heind berbohong padanya. Nara perlahan membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya tadi dan yang tampak hanya Heind yang memakai kaos oblong, ya ampun dia tampan sekali.
Heind tersenyum lembut, mengacak rambut Nara sebentar sebelum ia beralih pada tasnya untuk mengambil buku buku yang akan ia ajari pada Nara.

“Baiklah, mari kita mulai belajarnya!”

SATU JAM KEMUDIAN…

TUK!
Heind mengetuk kepala Nara menggunakan pulpen yang sedari tadi tidak bisa memahami materi Kontur garis tinggi tanah. Padahal Heind sudah memberikan beberapa contoh yang jelas kepada Nara dan langsung dibalas anggukan kepala oleh gadis itu, dan itu artinya dia paham kan?

“YAA! Jinjja! Kenapa kau mengetuk kepalaku ha?!”

“Aku mengetuk Kepalamu ada alasannya, sayang. Kau ini kenapa dari tadi tidak paham paham juga tentang Kontur hm? Come on! Fokus!”

“Bagaimana aku bisa fokus? Kau begitu tampan hingga dalam sedetik saja menghancurkan kosentrasiku” Gerutu Nara memanyunkan bibirnya, gerutuan Nara memang pelan namun dapat terdengar jelas di pendengaran Heind. Heind tersenyum senang. Apakah memang begitu?

“Nara” panggil Heind

“Ya?” Jawab Nara menoleh ke arah Heind. Apa yang sedang pria itu lakukan? Bukannya membolak balikkan buku seperti tadi untuk mencari materi selanjutnya kini malah memandangnya sambil menopang dagu.
“Ada apa? Kenapa memandangku seperti itu?” Tanya Nara

“Aniya” Heind menggeleng ” Yeppeodah”

“Ne?”

“Kurasa sudah cukup belajarnya dan aku ingin mengajarimu tentang love lesson”

“Love lesson?” Nara membeo. “Apa itu?”

Heind mulai mendekat pada Nara, menarik satu tangan nara agar melingkar dilehernya dan kedua tangannya ia lingkarkan di pinggang ramping milik gadisnya. Nara berusaha agar tidak terlihat gugup di depan Heind, ia menundukkan kepalanya supaya tidak bisa bertatap langsung dengan tatapan nan mempesona Kim Bang Heind. Ya ampun sebelumnya ia dan Heind tidak pernah seintim ini.

“Wae?” Tanya Nara ketika merasakan kecupan ringan di area lehernya. Sanggup membuat jantung Nara copot.

“Kau tahu apa maksud aku katakan love lesson?” Suara Heind yang berbisik pelan ditelinganya mampu membuatnya lemas dan merasa geli. Nara menggeleng tak tahu.

“A-apa itu?” Nara malu malu bertanya
“Love lesson itu, mari kita bercinta!” WHAT?! Apa katanya barusan? Bercinta?! Dasar pria mes*m! Akan kubunuh kau

“Aw-yaak! Sayang ja-Aww! Sakit!” Heind mengaduh kesakitan meringis saat mendapatkan tumbukan bertubi tubi dari Nara, bukan hanya tumbukan tapi juga cubitan, cekukan dan lain sebagainya.
“Dasar pria mes*m! Mau mengajak ku bercinta eoh?! Ni namanya bercinta, rasakan ini!” Nara kembali memukul Heind, dirinya belum merasa puas sekarang dia harus mendapatkan energinya kembali agar ia siap memukul Heind lagi jika pria itu mengajak apa tadi? Bercinta? Yang benar saja, awas saja kalau lelaki ini mengajaknya berkencan ia tidak akan sudi menerima ajakan tersebut.
“Aku hanya bercanda sayang Aww- aww y-yaak!” Heind kabur dari kamarnya kabur akan pukulan bertubi tubi pacarnya, kalau kalian merasakan pukulan Nara ya ampun seperti batu saja tangan kecil nara itu. Mereka berdua akhirnya saling kejar-kejaran di dalam apartement yeah love lesson huh?

THE END

Cerpen Karangan: Niki Fitriana
Facebook: N Fitriana

Cerpen Geography Couple (Love Lesson) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Illusions

Oleh:
Malam ini angin berhembus tidak biasa. Terlalu liar untuk hanya disebut sebagai angin semilir. Entah apakah aku tengah mengambil keputusan yang tepat dengan duduk di serambi depan, sementara cuaca

A Liar, A Fool, And A Ring

Oleh:
“Kenapa kemarin kau tak datang? Kau bahkan tak menjawab telepon atau membalas pesan singkatku. Kau tahu? Hampir seharian aku menunggumu di sini kemarin.” Itulah segerombolan ucapan yang dilontarkan Sungmin

Saranghae Appa

Oleh:
“Ayahku bilang, Ada sesuatu yang lebih berharga dari pada harta, kebahagiaan dan segala-galanya. Dia bilang orang yang menyayangi kitalah yang paling berharga. Tapi, akankah aku sebagai anaknya menjadi yang

Bus Desa Jungdul

Oleh:
Aku Lin ji. Hal yang terindah bagiku adalah hari pertama di sekolah baru. Penyebab kepindahanku ke desa ini karena suatu pekerjaan orangtuaku. Aku duduk di sebuah halte yang tampak

Bismillah Eonni

Oleh:
Aku seorang yang senang menjelajah dunia. Aku menyukai segala hal berbau keindahan. Aku suka foto sampai suatu hari perjalanan berhenti di Kota Seoul. Kota yang sangat diindamkan oleh adikku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *