Just For A Moment

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 31 December 2014

“Yoon A. Kenapa Kau tetap disini?”
Aku mendongak, menatap wajah Pamanku yang nampak kesal.
“Apa?” tanyaku.
“Kau tidak lihat salju di luar?” tunjuknya keluar jendela. “Kau membiarkan benda putih itu merendam rumah Kita. Bukankah sudah kubilang Joon akan datang. Kenapa Kau masih bermalas-malasan?”
“Joon?” mataku melebar. “Akan datang? Benarkah?”
“Apa Aku lupa memberi tahumu? Dia akan makan malam dengan Kita hari ini, waktunya dipercepat.”
“Yeah!” Aku pun langsung melompat dari sofa dan meraih jaket lalu berlari menuju gudang di samping rumah untuk mengambil pengeruk.

Dua puluh menit kemudian, aku sudah berhasil menyingkirkan separuh salju yang merepotkan itu dari halaman rumah Pamanku yang sempit. Dan saat itu pula, sebuah mobil —dengan susah payah— masuk ke halaman.
Joon.
Aku segera memanggil Pamanku. “Paman, Dia sudah datang!”
Tergopoh-gopoh Ia berlari menuju pintu depan untuk menyambut kedatangan Joon.
“Joon! Bagaimana kabarmu?” Paman menepuk bahunya.
Dia melihatku, tanpa senyum —seperti biasa. Aku cepat-cepat berpaling, meneruskan pekerjaanku yang hampir selesai. Aku tak sanggup untuk menyapa Pria itu. Jadi, kubiarkan mereka masuk dan berbincang-bincang tanpa ada yang mengganggu.

Fyuh… selesai. Aku mengusap keringat di dahiku. Menjatuhkan tubuhku di atas salju yang tidak perlu kusingkirkan.
Joon… Hatiku berbisik kecil menyebut namanya. Sekarang aku harus memanggang kue dan memanaskan cokelat untuknya. Aku pun segera berlari ke dapur melewati pintu belakang. Dan ternyata Pamanlah yang sudah menyiapkannya.
“Yoon A, Kau kemana saja, kenapa lama sekali?” Tanya Paman. “Antarkan ini padanya.”
Segera kuterima baki berisi sepiring Biskuit Kacang dan tiga mug cokelat panas yang disodorkannya. Kutarik nafas panjang, lalu —berusaha— mantap berjalan. Saat tiba di ruang depan, aku melihat separuh badannya —Joon— menyembul dari balik sofa yang menghadap halaman depan.
Sedikit gemetar, kuletakkan nampan di meja.
“Silahkan…” Kusodorkan semug cokelat ke hadapannya, kemudian berlalu kalau saja Joon tidak memanggilku yang sudah melangkah.
“Yoon A,” panggilnya.
Kuhentikan langkahku.
“Kau tak ingin menyapaku?” tanyanya datar
Aku menelan ludah dengan susah payah lalu berbalik dan memaksa bibirku untuk tersenyum. “Hai, apa kabar?”
Joon berdiri, berjalan ke arahku dan berhenti dua meter di depanku. “Hanya itu?” Ia mengangkat sebelah alisnya.
“Um… bagaimana kabar…” aku bingung. “… Ibu?”
Ia mendengus. “Kau tahu sendiri kalau orangtuamu sudah pergi.”
Bodoh. Aku mengutuk diriku sendiri. Tapi tunggu, apa yang dikatkannya barusan? Orangtuamu? Oh, bagus. Jangan anggap mereka lagi!
“Mmm, benar.” Kurasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, jadi Aku berbalik.
Pasti Joon akan berbicara lagi. Pasti. Pikirku.
“Yoona,” lihat? “Kau tidak bertanya tentang…”
Jangan katakan!
“… sahabatmu?”
Tolong jangan..
“Ya… Kau tahu sendiri,”
Sudah… cukup,
“Dia merindukanmu — itu katanya,”
Berhentilah…
“Kau mengingatnya?”
Ya. “Tidak,”
“Ji Ya. Kau tak ingat?”
Baki di tanganku lepas, tubuhku gemetar. Kenapa Kau menyebutnya?
“Mengapa Kau tak bertanya tentangnya?”
Apa urusanmu! “Hanya kebetulan Aku tak ingat padanya.”
“Lantas?”
Aku berbalik. Terkadang seseorang harus marah! “Kenapa Kau tanyakan hal itu padaku? Lagipula, apa urusanmu kemari?!”
“Kau ingin tahu?” Ia maju selangkah dan mencondongkan wajahnya. Cukup membuatku mundur selangkah. Lalu Aku terkesiap.
Joon memelukku! “Aku merindukanmu… adik.” Katanya.
Adik?
Lama kurindukan kata itu. Air mataku mengalir lalu terisak pelan. “Aku juga…”
“Juga apa?”
Kulepas pelukannya lalu memukul lengannya pelan. “Juga… merindukanmu.” Aku tersenyum kecut.
“Yoona,”
“Apa?”
“Wajahmu memerah.” Ia tertawa.
Belum sempat aku menyemprotnya, Pamanku datang.
“Cukup basa-basinya. Yoona, apa Kau akan terus berdiri disana dan membiarkan Pamanmu yang tua ini kelelahan menyiapkan makanan?” katanya.
“Tentu tidak. Dan tadi itu juga bukan basa-basi!” jawabku. Aku menoleh pada Joon, memberi isyarat untuk menunggu sebentar.

“Makan malam yang menyenangkan, Paman.” Ucap Joon. Ia akan pulang.
Paman menepuk bahunya. “Datanglah kapanpun Kau mau.”
Joon memandangku, mendekat lalu memelukku, lagi. “Aku akan merindukanmu.”
Kubalas pelukannya. “Sampaikan salamku pada Ji Ya. Aku akan datang pada ulang tahunnya bulan depan, dan tinggal sepekan.”
Joon melepaskan pelukannya dan menatapku nakal.
Aku buru-buru menyanggah. “Jangan katakana apapun. Dia akan tetap menjadi sahabatku. Tidak lebih!”
Ia tertawa pendek. “Baiklah, sampai jumpa.” Ia pun masuk dan segera melajukan mobilnya hingga tampak semakin mengecil dan akhirnya menghilang di tikungan.
Paman mengalihkan pandangannya padaku. “Kau lekaslah tidur. Biar Aku saja yang membereskan semuanya.”
Aku menurut lalu melangkah menuju kamar dan berbaring di tempat tidur. Pikiranku berjalan.
Dulu, Setelah ditinggal mati Ayah-Ibu saat Aku dan Joon —Kakaku masih tinggal berdua di Seoul, seiring waktu aku semakin kagum padanya, menghidupiku dengan usaha pas-pasan, bekerja siang-malam, dan modal kecil kami yang memang dari keluarga yang berkecukupan.
Ji Ya. Ah…, rasanya sudah sangat bersalah. Dia sahabatku, Dia pernah menyukaiku, tapi Aku tak membalas perasaannya. Dan aku sempat marah dan membencinya entah mengapa.
Aku benar-benar tak menyangka dan tak habis pikir kalau aku akan menyukainya. Bukan, bukan Ji Ya. Tapi Joon —Kakakku sendiri. itu hal paling bodoh yang pernah kulakukan. Dan aku berusaha mencari alasan untuk menafsirkannya. Joon marah ketika tahu hal itu. Aku sangat takut, jadi aku memutuskan untuk pergi ke Belanda, rumah Pamanku. Dengan surat yang mewakili pamitku pada Joon.
Selama empat tahun terakhir, hubunganku dengan Joon sangatlah tidak baik. Namun Ia tetap memaksakan datang menjengukku setiap tiga bulan sekali pada musim yang berbeda.
Dan hal itu bukanlah ide yang bagus untuk dikenang kembali.
Tapi untunglah hari ini Dia datang dan Kami membenahi semuanya. Dan itu sangat baik.
Aku menarik selimut, menutup mataku dan berusaha untuk terlelap.

Cerpen Karangan: Zilvia Jamielah
Facebook: Zee
Nama: Zilvia Jamielah
Tetala: Sumenep, 20 Maret 1998
Alamat: Guluk-Guluk Sumenep Madura, PP. Annuqayah
E-mail: Zjamielah[-at-]yahoo.co.id
Facebook: Zee

Cerpen Just For A Moment merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sampai Jumpa

Oleh:
Tiada hari tanpa pergi ke kedai, sebuah tempat menjadi awal pertemuanku dengannya. Dimana kami telah menghabiskan waktu kami di sana hanya untuk berbagi cerita dan bersenda gurau. Cukup lama

Just Need Your Time, Oppa! (Part 1)

Oleh:
Aku hanya membutuhkan waktumu untukku. karena setiap hari, kau hanya berkutat dengan pekerjaanmu. Kumohon, berikan waktumu sedikit untukku. Karena aku tak yakin bisa menemanimu lebih lama –Kim Ji Woo—

Urineun Mwoya (Part 2)

Oleh:
“Oppa, mengapa kau biarkan dia pulang sendiri eoh? Apa kau tak khawatir pada sahabatmu? Hari sudah malam oppa dan itu tidak baik untuk yeoja cantik sepertinya. Bagaimana kalau ada

Keep Friends

Oleh:
Disebuah sekolah yang cukup megah, tepatnya Seoul Internasional High School. Terlihat Dua orang dengan senyum yang terpampang di wajahnya memasuki gerbang sekolah tersebut, sesekali keduanya tertawa dengan riangnya ditengah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *