Last Wish (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Korea, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 26 September 2017

Dor dor!
Terdengar suara tembakan revolver yang menggema memecahkan keheningan malam. Asap putih mengepul dari lubang tempat keluarnya peluru yang kini telah bersarang di jantung sang pria paruh baya yang tengah terduduk di kursinya kantornya. Darah mengalir dari tempat peluru bersemayam membasahi kemeja putih sang pendosa dan menjadikan bercak merah yang sangat sulit dihilangkan. Ia terduduk di kursi takhtanya, tempat terakhir kali ia mengembuskan nafas.
Tampak seorang namja berdiri di tengah pintu sambil memutar-mutarkan alat pembunuh kesayangannya. Wajahnya yang penuh dosa tidak bisa tersentuh oleh cahaya bulan, namun senyumnya yang licik bisa terlihat dengan jelas di tengah gelapnya malam.
“Ck! dasar bedebah.” Ucap namja itu dengan suara beratnya seraya meninggalkan seonggok tubuh tanpa nyawa.

Drrrrt
Getaran ponsel di sakunya membuat pria itu berhenti melangkah sejenak, ia menghadapkan layar ponsel itu ke wajahnya. Jarinya yang kokoh menggeser icon hijau di layar ponselnya, lalu menempelkan ponsel hitam itu ke telinganya.
“Apa kau sudah melaksanakan tugasku dengan baik?.” Ucap seseorang dari seberang telepon.
“Sudah kulaksanakan dengan baik tuanku, langsung saja kirim uangnya ke rekeningku.”
“Baiklah dan tenang saja, kau akan mendapat bonus nantinya.”
“Baguslah kalau begitu.” Si pria langsung memutuskan teleponnya.

Ia berjalan melewati lorong-lorong gedung megah yang terbalut oleh gelapnya malam. Membuat setiap langkahnya terdengar menggema dalam kesunyian. Tatapan matanya yang tajam, serta ekspresi wajahnya yang dingin mengekspresikan bahwa ia adalah pembunuh bayaran tersadis yang pernah ada.

Dia melangkah dengan santai, seolah dia tidak takut pada sesuatu yang mungkin akan muncul nantinya. Karena percayalah, saat malam gedung itu tidak berpenjaga sama sekali. Itulah yang dimanfaatkan oleh pembunuh bayaran licik dan cerdik ini, karena dengan begitu ia bisa keluar masuk gedung tanpa ada satu pun orang yang tau.

Saat keluar dari gedung, ia telah disambut oleh mobil audi berwarna hitam yang terparkir tepat di depan pintu masuk gedung. Ia membuka pintu mobil itu dan langsung masuk ke dalam. Sesaat kemudian, mobil itu langsung melaju kencang meninggalkan gedung yang menjadi saksi mata sebuah kejadian berdarah yang ia lakukan.

“Apa semuanya berjalan dengan baik hari ini?.” Tanya seorang pria berkacamata hitam yang tengah menyetir.
“Sangat baik, bahkan lebih baik dari pada yang kupikirkan.” Jawab si pembunuh dengan menyunggingkan senyum liciknya.
“Bagaimana pembayarannya?.” Pria berkacamata hitam kembali bertanya.
“Dia bilang akan dikirim, mungkin saja aku akan mendapat bonus nantinya.”
Pria berkacamata hitam hanya mengangguk mendengarnya dan kembali fokus kejalan raya mengendarai laju mobil.
“Setelah ini aku akan membunuh seorang lagi.” Ucap si pembunuh kembali dengan senyum liciknya.
“Siapa? Apa ini perintah?.” Tanya Pria berkacamata hitam lagi.
“Bukan, aku hanya ingin sang pewaris harta si mafia bangsat itu mati. Supaya aku bisa mengambil alih kekayaannya.”
Pria berkacamata hitam itu menghentikan laju mobilnya, lalu menoleh ke arah si pembunuh. “Ternyata kau memang cerdik.” Ucap si pria berkacamata hitam. Lalu mereka berdua tertawa layaknya psikopat yang mendapat mangsa baru.

Tokyo, Jepang
Pagi yang cerah dihari minggu, diiringi suara kicau burung yang merdu dan langit cerah tanpa awan. Hari yang pas untuk bermalas-malasan untuk seorang remaja tujuh belas tahun yang masih berada di atas kasurnya. Jarum jam sudah menunjukan angka 10 waktu Jepang, dimana semua warga Tokyo telah disibukan oleh pekerjaan mereka masing-masing. Matanya masih terpejam tenang, sesekali ia menggeliat malas atau menarik selimutnya untuk menutupi bagian tubuhnya yang kedinginan.

“Woy! Kai! bangun! udah siang! Hari minggu gini acaranya tvnya bagus-bagus loh. Yuk nonton bareng!” Ucap seorang remaja tampan yang kini tengah mengetuk-ngetuk pintu di depannya dengan brutal. Dia berdecak malas setelah satu menit tak ada reaksi dari si pemilik kamar.

Sedangkan remaja yang merasa namanya dipanggil hanya menggeliat sambil mendengus pelan. Dia membuka matanya dengan malas. Ditatapnya jam dinding yang sudah menunjukan pukul 10 lewat 5menit. Kenapa waktu berlalu begitu cepat? Padahal ia masih ingin berlama-lama di tempat tidurnya.
Dengan enggan, Kai medudukan dirinya di tepi ranjang. Ia memijit ujung pelipisnya dan mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi. Ia masih merasa mengantuk karena harus mengerjakan tugas sampai larut malam selama enam hari berturut-turut. Dilangkahkannya kaki jenjang itu menuju pintu kamarnya.

Drrrrt
Ponsel Kai yang berada diatas meja bergetar, membuatnya membatalkan niat untuk keluar dari kamar. Ia berbalik, memutar tubuhnya dan berjalan meraih ponsel yang tergeletak diatas meja. Dilihatnya layar ponselnya dan melihat nama Eunhyuk -hyung Kai- tengah menelponnya. Digesernya icon hijau pada layar ponsel dengan jari jempolnya, lalu menempelkan ponselnya ke telinga.

“Hallo hyung? Ada apa?.” Sapa Kai pada orang di seberang sana.
“Kai pulanglah ke Korea, tinggalah bersamaku di Seoul.”
Kai terdiam. Merasa aneh pada ucapan hyungnya. Padahal sebelumnya, hyungnya itu tidak pernah memintanya kembali ke Korea, karena ia merasa, akan lebih baik jika Kai berada di Jepang dan fokus pada sekolahnya. Tapi mengapa tiba-tiba seperti ini? Kai merasa gelisah. Ada apa sebenarnya?
“Ada apa hyung? Kenapa tiba-tiba kau berkata begitu?.” Tanya Kai dengan raut wajah khawatir. Perasaannya bertambah tidak enak sekarang.
“Ayah…”. Eunhyuk tidak melanjutkan perkataanya.
Mereka berdua bungkam cukup lama. Kai menjadi tambah panik dan penasaran ketika hyungnya mengatakan prihal ayahnya.
“Ayah kenapa?.” Tanya Kai karena merasa khawatir.
Eunhyuk tidak segera menjawab pertanyaan Kai. Samar-samar terdengar suara isak tangis dari seberang telepon.
“Ayah kenapa? Ada apa dengan ayah?.” Tanya Kai sekali lagi.
“Ayah telah terbunuh.”
Bagai disambar petir dipagi hari. Kai merasa aliran darahnya terhenti, badannya tiba-tiba terkulai lemas. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh hyungnya itu. Semuanya tedengar seperti kebohongan belaka. Tanpa sadar, air mata Kai mengalir membasahi wajahnya.
“Kai kau pulanglah ke korea, tinggalah di sini bersamaku.” Ucap Eunhyuk dengan nada terbata-bata karena menangis.
“Baiklah hyung aku akan segera pulang ke Korea.” Jawab Kai dan langsung memutuskan sambungan telepon.

Kai mendudukan dirinya di pinggir ranjang. Ia menangis tanpa suara, sendirian. Ia sangat terpukul karena kabar kematian ayahnya. Tatapan matanya tertuju kesebuah bingKai foto yang menempel di dinding. Terlihat pria berusia 30 tahunan menggendong seorang bayi dengan tersenyum bahagia.
Itulah foto dimana ia bisa mengingat ayahnya setelah 3 tahun pergi meninggalkan Korea untuk melanjutkan sekolah di Tokyo, Jepang. Dalam hati Kai merasakan kesedihan dan kemarahan yang teramat sangat. tangannya mengepal kuat, giginya menggeretak, matanya menunjukan kebencian dan dendam.
“Aku akan kembali ke Korea dan aku akan membalas kematian ayahku. Siapapun dia akan kubunuh. Kalau bisa kukirim dia ke neraka.” Gumam Kai pelan.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Memperlihatkan seorang namja yang tengah membawa semangkok sup di tangannya.
“Oy hyung makanlah, kau belum sarapan, sekarang sudah hampir siang aku sudah membuatkannya dari tadi keburu dingin. Eh tapi kok kamu nangis? Pasti gara-gara diputusin sama pacar ya.” Ucap remaja itu menggoda Kai.
Kai lalu menatap seseorang didepannya itu dan langsung berdiri menghampirinya.
“Sehun, bagaimana kalau kita pulang keKorea?.” Ucap Kai sambil memegang pundak remaja yang bernama Sehun.
Sehun hanya terdiam. Ia tidak tahu maksud perkataan dari temannya itu.
“Sekolah kita kan belum selesai.” Jawab Sehun.
“Tidak apa-apa kita bisa melanjutkan sekolah di sana.”
“Apa yang membuatmu jadi ingin tiba-tiba pulang ke Korea. Apa yang terjadi Kai?. Apa cuman gara-gara kamu diputusin pacarmu?.” Tanya Sehun penuh selidik dan dengan tampang polosnya.
Kai hanya terdiam cukup lama sebelum menjawab. Membuat Sehun semakin penasaran apa yang membuat temannya itu tiba-tiba ingin pulang ke tanah kelahiran.
“Ayahku telah tiada hun ” Ucap Kai kembali menitikan air mata.
Mendengar jawaban dari temannya itu membuat darah Sehun tersirat. Ternyata sebab itulah temannya tiba-tiba ingin pulang ke Korea.
“Baiklah, kita pulang ke korea. Aku turut berduka atas kematian ayahmu.” Ucap Sehun.
“Kita berangkat malam ini juga, kemas semua barang-barangmu.”
Sehun hanya mengangguk sebagai jawaban.

Incheon International Airport
Mereka berdua telah sampai dibandar udara Seoul pada jam 10 lewat 15 menit malam setelah melakukan perjalanan sekitar 2 jam dipesawat. Keduanya memperhatikan keadaan bandar udara Seoul yang sudah tampak berbeda jika dibandingkan 3 tahun yang lalu. Hal ini membuat mereka berdua sedikit asing dengan keadaan kota Seoul yang sudah banyak berubah.
“Hyung, cewek di korea yang dulu sama sekarang udah beda ya. Sekarang makin cantik-cantik, buatan lokal emang top.” Ucap Sehun sambil melirik-lirik wanita yang berlalu lalang di sekitar mereka tanpa menghiraukan Kai yang menatapnya dengan tatapan ingin menelan seseorang hidup-hidup.

Mereka berdua terus berjalan menuju area keluar bandar udara yang sudah terparkir puluhan taksi yang siap mengantarkan siapa saja ke tempat tujuannya masing-masing. Kai lalu berjalan ke salah satu taksi yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdua berdiri.
“Pak, tolong antar saya ke alamat ini!.” Ucap Kai sambil mengetuk kaca pintu mobil.
Perlahan kaca itu terbuka memperlihatkan seorang pria paruh baya lengkap dengan balutan seragam supir taksi ala Korea Selatan. Supir taksi itu menerima kertas dari Kai.
“Baik, masuklah.” Ucap pak supir.

Setelah supir itu memasukan koper mereka berdua kedalam bagasi. Pak supir langsung menjalankan mobil ke arah yang dituju. Sehun yang merasa kelelahan memilih untuk tidur. Sedangkan Kai masih terjaga. Pandangan matanya tertuju ke gedung-gedung kota Seoul yang indah dari jendela mobil taksi yang ia buka. Ia tersenyum bahagia karena telah kembali ke tanah kelahirannya.
“Tiada yang lebih baik dibandingkan negeri sendiri.” Gumam Kai pelan.
Tiba-tiba ia jadi teringat kembali dengan ayahnya. Seseorang yang membesarkanya sendirian karena ibu Kai telah menceraikan ayahnya dan bersanding dengan pria lain. Air mata Kai mulai kembali mengalir, tapi sebisa mungkin ia menahannya. Ia tidak mau terlalu menunjukan kesedihannya nanti di hadapan hyungnya.

Ckiiiiiiiiit
Supir taksi menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba membuat kening Kai terantuk kursi depan. Sedangkan Sehun yang terkejut langsung terbangun dari tidurnya karena mengalami hentakan yang cukup kuat.
“Ada apa pak supir, kenapa berhenti dengan tiba-tiba?.” Tanya Kai sambil memegang keningnya yang melebam dan terasa sakit.
“Maaf ada razia di depan.” Jawab pak supir.
Kai merasa bingung kenapa cuman gara-gara razia pak supir sampai menghentikan mobilnya secara mendadak. Apa razia di Korea sekarang sangat mengerikan. Korea yang sekarang pasti angat berbeda dari yang dulu waktu Kai tinggalkan.
Kaca mobil diketuk oleh petugas kepolisian berkacamata hitam. Pak supir langsung membuka kaca pintu mobilnya. Sehun dan Kai melihat jelas hanya ada 2 polisi dirazia jalanan seperti ini. Dan nampaknya mereka bukan seperti polisi sungguhan.
“Bisa memeriksa kedua penumpang anda ini?.” Ucap petugas kepolisian dengan nadanya suaranya yang sangat serius.
Kai dan Sehun saling bertatap muka. Mereka heran kenapa razia hanya memeriksa penumpangnya saja, bukan surat-surat mobil dan supirnya juga. Akhirnya mereka berdua terpaksa keluar dari mobil taksi dan berjalan menghampiri petugas kepolisian. Badan Sehun bergetar hebat, keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya.
“Hyung, aku takut.” Ucap Sehun dengan nada seperti anak kecil yang ketakutan.
“Ssst, diamlah aku juga takut bodoh.” Jawab Ka sedikit pelan.

“Kami sedang mencari tersangka kasus pembunuhan yang terjadi di Lotte mall Seoul pagi tadi. Mohon kerja samanya.” Ucap polisi yang bertuliskan nama Kyuhyun di bednamenya
Kai dan Sehun hanya mengangguk menurut karena tak ada gunanya membantah. Polisi satunya lagi yang bertuliskan nama Siwon di badnamenya memeriksa kartu indentitas Kai dan Sehun serta barang-barang bwaannya yang berada di bagasi mobil. Dua polisi itu menggeledah barang-barang mereka seperti memang Kai dan Sehunlah pelakunya.

Setelah agak lama menggeledah dan memeriksanya satu persatu. Polisi Siwon menatap Kai dan Sehun dengan tatapan seperti harimau yang telah berhasil buruannya yang telah lama kabur.
“MEREKA PELAKUNYA TANGKAP DIA.” Ucap polisi Siwon.
Kai dan Sehun kaget atas perkataan polisi yang memeriksanya tadi. Kyuhyun dengan sigap langsung memborgol tangan mereka berdua. dan memojokan badannya di kap mobil.
“Tunggu kalian salah orang, bukan kami pelakunya. Kalian tidak bisa menangkap seseorang tanpa bukti apapun.” Ucap Kai sambil memberontak.
“SUDAH DIAM, ATAU KUTEMBAK KEPALAMU.” Bentak Kyuhyun sambil menyeret mereka berdua masuk ke mobil polisi.
Sekali lagi mereka berdua pasrah dan menurut. Kai mulai mengira bahwa kedua polisi ini adalah polisi korup yang suka memeras uang masyarakat.

Tiba-tiba ponsel Kai berdering, langsung saja polisi Kyuhyun mengambilnya dari saku Kai. Rupanya panggilan dari Eunhyuk, dengan santai ia lemparkan ponsel itu keluar mobil.
“Aku sudah menduga kalian adalah polisi korup yang suka memeras uang. Apa yang kau inginkan dari kami?.” Ucap Kai dengan nada penuh amarah.
Siwon memompa pistolnya dan menempelkan ujungnya ke kepala Kai.
“Kalau kau sudah tahu tentang kami, pasti kau juga langsung tahu keinginan kami.” Ucap Siwon dingin.
Mobil polisi itupun langsung berhenti. Kyuhyun mengambil dompet Kai disaku kemejanya dan Koper yang berisi uang hasil penjualan rumah mereka berdua di Tokyo. Semua barang barangnya diambil. Polisi Siwon keluar dari mobil dan membuka pintu tempat Kai duduk.
“Selamat tinggal kunyuk.” Ucap Polisi Kyuhyun dan langsung mendepak Kai keras-keras hingga terjengkang ke luar dari mobil.
“Jika ingin dia selamat. Jangan pernah melaporkan hal ini ke kepolisian. Jika tidak, dia akan mati.” Ucap polisi Siwon sambil menodongkan pistolnya ke kepala Sehun.

Mobil itu pun melaju meninggalkan Kai sendirian di jalanan yang sepi tanpa ada satupun mobil yang lewat. Kai berusaha berdiri dan berlari sekuat tenaga untuk mengejar mobil itu. Namun usahanya sia-sia. Mobil itu semakin lama kian menjauh, lampu belakangnya yang berwarna merah pun semakin tak terlihat di mata.

Kai terus berlari walaupun tahu usahanya tidak akan membuahkan hasil. Air mata Kai mulai berjatuhan membasahi wajahnya. Ia sangat khawatir dengan nasib Sehun yang telah diculik oleh dua polisi korup. Tiba-tiba Kai tersandung dan dirinya terjatuh di jalanan aspal yang dingin akibat udara malam.

Ia lalu memelankan larinya dan berjalan dengan pelan. Lama ia menangis di tengah jalanan yang sunyi dan gelap itu. Ia lalu menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ia sadar dirinya sedang berada di jalanan sepi dan tidak ada satupun mobil yang melintasi jalanan itu. Kai lalu merogoh sakunya untuk mengambil benda yang bisa menyelematkan keadaannya sekarang. Namun ia baru teringat bahwa polisi Kyuhyun telah melemparkannya keluar mobil saat menangkapnya tadi.

Ia berjalan lemas tanpa semangat, pandangannya mulai kabur karena kelelahan. Ia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Jarumnya menunjukan ke angka 2 lebih 10 menit. Pantas saja tidak ada satupun mobil yang melintas di jalanan itu. Langkah kaki Kai mulai terasa berat. Tubuhnya mulai tidak seimbang, ia memijat pelipisnya dan mencoba untuk terus berjalan. Pandangan matanya sudah terlihat sayu. Badannya sangat lemas, dan pada akhirnya tubuh jangkung itu ambruk ke permukaan aspal yang dingin sebab udara malam. Matanya perlahan mulai tertutup dan akhirnya hanya gelap yang dapat dirasakan.

“Di mana… Aku?.”
Kelopak mata Kai secara perlahan terbuka, mendapati dirinya telah terbaring disebuah ranjang dengan dibalut seperai putih. Matanya menyaksikan sebuah ruangan kamar dengan dinding bercatkan warna biru. Pandangan matanya tertuju pada sebuah foto yang terpampang di dinding kamar itu.
“Bukannya itu fotoku sewaktu SD.” Ucap Kai sambil terus memandangi foto seorang anak kecil dengan memaKai topi karnaval.

Ceklek
Pintu tiba-tiba terbuka membuat Kai menggantikan arah pandangnya keseorang Pria berbibir tebal membawa sepiring nasi di tangan kirinya. Ia adalah seseorang yang sangat Kai kenal dan sangat ia sayangi.
“Hyung.” Ucap Kai terus memandangi orang yang dipanggilnya hyung tersebut.
“Oh, kau sudah sadar rupanya. Ini makanlah dulu supaya tubuhmu enakan.”
Kai memandangi orang yang sangat ia rindukan itu. tubuhnya dipaksakan untuk bangun dan segera memeluk seseorang yang sangat berarti baginya setelah ayahnya. Air mata bahagia mengalir membasahi wajahnya.

“Selamat datang di rumah adikku.” Ucap Eunhyuk sambil membalas pelukan Kai.
Kai hanya terus menangis sambil memeluk erat hyungnya.
“Apa yang terjadi padamu semalam? Anak buahku menemukanmu tergeletak tak sadarkarkan diri di tengah jalan.” Tanya Enhyuk sembari melepaskan pelukannya pada Eunhyuk.
Kai terdiam sejenak menjeda beberapa detik perkataan mereka. “Aku yang sedang dalam perjalanan ke rumah. Tiba-tiba mobil taksi yang aku tumpangi dihentikan oleh dua orang polisi yang kemudian menangkapku dan mengambil semua harta dari hasil penjualan rumahku di jepang. Dan juga temanku.” Kata-kata terakhir Kai tadi diucapkan dengan sedikit pelan. Ekspresi wajahnya berubah menunjukan kesedihan.
“Apa polisi itu mengancamu?.”
Kai mencoba mengingat-ingat kata-kata polisi korup malam itu.
“Mereka bilang aku tidak boleh melaporkan hal ini ke kepolisian. Jika aku melaporkannya Sehun akan dibunuh.”
Eunhyuk mendengus pelan, seperti sedang memikirkan sesuatu. Tangannya memijit-mijit keningnya yang putih. Ia kemudian menatap Kai.
“Kemungkinan polisi itu akan terus mengejarmu. Dia akan memeras uangmu dan menjadikan temanmu itu sebagai umpan.” Ucap Eunhyuk.

Kai mencoba memikirkan sesuatu. Pandangan matanya sangat serius mencari ide untuk terbebas dan menyelamatkan sahabatnya.
“Bagaimana kalau kita mengerahkan beberapa anggota geng untuk menyerang dua polisi korup itu dan membebaskan Sehun?.” Ucap Kai yang tiba-tiba mendapatkan ide gila.
“Tidak bisa, biarpun mata duitan mereka itu tetap polisi. Jika kita menyerangnya, polisi lain pun tidak akan tinggal diam, mereka pun akan bergerak untuk membantu.”
Kai mencoba berpikir kembali. Ia mulai bisa meresapi perkataan hyungnya. Jika ia dan anggota geng menyerangnya, pastilah polisi lain akan turut membantu karena biarpun mata duitan, mereka adalah polisi.
Kai yang didera kebingungan dan kesedihan akhirnya melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari kamar. Enhyuk hanya terdiam dan mengerti bagaimana perasaan adiknya yang setelah kehilangan ayahnya kini dia juga harus kehilangan seorang sahabat yang ia sayangi.

Kai mendudukan dirinya pada sebuah kursi di taman yang berada di belakang rumahnya. Pandangan matanya hanya tertuju ke sebuah air mancur yang terletak tidak jauh darinya. Pikirannya terus memikirkan Oh Sehun yang sekarang bagaimana nasibnya?, apa yang dilakukan padanya?, atau mungkin dia sedang disiksa?. Kai selalu berharap supaya tidak terjadi apapun pada sahabatnya.

“Yo man!, bagaimana dengan kabarmu. Sudah lama kita tidak berjumpa.” Ucap seorang namja bersuara berat dengan memaKai topi snapback di kepalanya.
Kai membuyarkan lamunannya dan menatap seseorang yang tengah berdiri di sebelah bangku tempat diaduduk. Namja itu tinggi dan berkulit putih, dan memaKai pakaian ala rapper. Samar-samar Kai mulai mengingat wajah orang itu.
“Park Chanyeol.” Ucap Kai mencoba menebak nama namja itu.
“Wow!. Kau ternyata tidak lupa padaku, padahal sepertinya aku banyak merubah penampilanku.” Ucap namja yang bernama Park Chanyeol itu.
“Mana mungkin aku bisa melupakan teman masa kecilku. Kau sudah menjadi rapper sekarang. Impianmu telah tercapai.”
“Yah begitulah tetapi untuk menjadi seperti ini butuh usaha yang sangat melelahkan.”
“Tapi bukan Park Chanyeol kalau tidak bisa mengatasi itu ” Ucap Kai.
Mereka berdua menggunakan salam tinju ala rapper dan langsung berpelukan melepas rindu satu sama lain.
“Apa yang terjadi, sepertinya dirimu kelihatan tidak baik hari ini?.” Tanya Chanyeol.
Kai menjeda pembicaraan sejenak. “Kau tahu kan ayahku telah pergi meninggalkanku. Dan tak lama setelah itu aku harus bermasalah dengan polisi korup yang selalu ingin merasku.” Kai menghentikan perkataanku sejenak. “Temanku Sehun juga telah diculik oleh mereka, ini adalah hal-hal yang paling menyedihkan dalam hidupku.”
Chanyeol mendengus pelan. Tangan kirinya menepuk pundak Kai mencoba menenangkannya dan memberinya semangat supaya tidak bersedih lagi.
“Aku turut berduka atas semua kejadian yang sedang menimpamu sekarang.” Ucap Chanyeol masih menepuk-nepuk bahu teman masa kecilnya itu dan hanya dibalas anggukan Kai sebagai jawaban.
“Polisi hanya memihak uang, bukan keamanan dan ketrentaman.” Ucap Chanyeol.
Kai menganggukan kepalanya. “Ya. Mereka hanya memihak pada uang.”

Penjara Narapidana. Seoul, Korea selatan.
Seorang namja berkulit putih membuka matanya secara perlahan. Ia mendapati dirinya tengah berada di balik jeruji besi. Kedua tangannya menggelantung lemas terikat oleh borgol rantai yang kuat bagaikan seorang nara pidana yang akan dieksekusi mati.
Di sebelah kanan kirinnya terlihat orang-orang yang bernasib sama seperti dirinya. Yang membedakan adalah cara masuk ia dan mereka ke sini. Mereka harus terperangkap di sini karena melakukan suatu kejahatan atau kesalahan yang besar. Berbeda dengan dirinya yang masuk tanpa tau kesalahannya sedikitpun, ia juga merasa sepertinya dirinya tidak melakukan sebuah kesalahan apapun.

Cekieet
Pintu jeruji besi itu terbuka, membuat namja itu mengalihkan padangannya pada dua orang yang memasuki selnya. Ia melihat dua orang polisi yang membuat dirinya terperangkap di sini berdiri di ambang pintu, menatap datar ke arah dirinya. Seorang dari dua polisi itu nampak membawa sebuah ember berisikan air yang mengeluarkan uap panas.
“Oh Sehun! Jika kau ingin keluar dan bebas dari sini, bekerja samalah dengan kami. Berikan kami informasi temanmu yang rumornya adalah anak dari seorang mafia besar di kota ini.” Ucap polisi Kyuhyun.
Sehun tertawa sinis mendengarnya. “Cih. Tidak sudi aku bekerja sama kepada polisi yang culas seperti kalian. Lebih baik aku mati saja.” Ucap Sehun sambil mendecih.

Kyuhyun mendekatkan mulutnya ke telinga Sehun, lalu membisikan tawaran yang menarik. “Jika kau memberikan informasi temanmu itu saja. Kau akan mendapatkan kebebasan, harta yang melimpah, dan wanita-wanita cantik akan melilingimu. Bagaimana?. Tawaran yang menarik bukan?.”
Sehun menatap wajah Kyuhyun dengan tatapan benci. “Aku tidak tertarik dengan iming-iming murahanmu. Aku tidak akan pernah mengkhianati temanku sendiri.”
Kyuhyun mengangguk-anggukan kepalanya sok mengerti dan mulai memberikan tawaran kedua yang lebih menarik. “Bagaimana kalau kita membunuh temanmu itu dan harta kekayaan yang dimilikinya akan kita bagi dua. Ini tawaran terakhirku. Tidak biasanya aku menawarkan tawaran indah seperti ini.”
“Cuih.” Sehun meludahi wajah polisi Kyuhyun. “Jika aku menolak?.”

Kyuhyun mengelap air liur Sehun di wajahnya dengan sapu tangan lalu mulai berbicara lagi. “Kau akan mendapatkan ganjarannya! Siwon kerjakan tugasmu.” Perintah Kyuhyun sambil meninggalkan Siwon dan Sehun dibalik jeruji.
Polisi Siwon maju beberapa langkah dan kemudian menendang keras-keras perut Sehun hingga cairan merah pekat keluar dari mulutnya. Belum puas, Siwon pun mengambil pemukulnya dan memukuli Sehun hingga wajah tampan itu bertambah hancur. Ia juga memukuli badan Sehun supaya membuatnya makin tersiksa. Badan dan wajah Sehun banyak yang memar dan mengeluarkan darah. Nafasnya terengah-engah. Mulutnya meringis menahan kesakitan.

Disaat itu Sehun masih sempat mengejek Siwon. “Hahahahaha”. Sehun tertawa sekeras-kerasnya. “Ternyata cuma segitu kekuatan menyiksamu kunyuk. Kau benar-benar lemah. Yang membuatmu terlihat kuat hanyalah pin tanda polisi di dadamu itu.”
Merasa dirinya direndahkan membuat hatinya tak karuan. Ia kembali memukuli Sehun dengan pemukulnya yang sudah penuh bercak darah. Kali ini dia benar-benar menghajarnya. Sehun diam saja dipukuli. Lagi pula tangannya diborgol kuat hingga menggelantung. Hanya kaki dan badan saja yang bisa bergerak bebas.

Setelah puas la berhenti memukuli Sehun. Muka Sehun memar sana-sini matanya pun sampai mengeluarkan darah. Ia meludah kesamping, air ludahnya itu berwarna merah dengan ditambah benda-benda kecil berwarna putih yang tak lain adalah giginya yang hancur.
“Hahaha.” Seperti itu pun Sehun masih sempat tertawa.
Siwon sudah tidak bisa membendung kemarahannya. Ia berbalik meraih ember berisikan air mendidih dan kemudian berbalik menatap Sehun yang penuh luka dan darah.
“Apa kau mau menyiramku dengan air panas itu? Tidak akan ada efeknya bagiku. Mungkin kau sudah kehilangan banyak kekuatan dan bergantung pada seember air itu kan.” Ucap Sehun dengan nada sangat merendahkan.

Polisi Siwon makin memerah wajahnya. Hatinya panas dingin. Tangannya siap melemparkan air mendidih itu ke Wajah Sehun. Tidak bahkan ia juga ingin menyiramkannya ke tubuh Sehun. Ia sangat benci kepada anak itu. Ia tidak pernah selama ini diejek oleh tahanannya seperti ini.

DUAK, BRUK
SPLASH
“ARRRRRRRGGGGHHHH. PANAS WAJAHKU!!!.”

Cerpen Karangan: Geofanka
Facebook: geofanka antioglakz

Cerpen Last Wish (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


14 February

Oleh:
Empat belas Februari. Hari valentin yang paling menusuk bagi gadis yang sedang duduk termenung di bangku putih panjang. Bulir-bulir bening sedaritadi membasahi pipinya. Wajahnya memerah, efek dari tangisannya. Gadis

Gloaming

Oleh:
Sebuah padang rumput ilalang yang luas, memancarkan cahaya coklat keemasan di senja hari seperti ini. Diselingi bunga-bunga yang merekah di sekitar padang itu. Gemericik air sungai yang mengalir kecil

Oppa

Oleh:
Jiyeon POV Wae? Kenapa harus terjadi? Aku sangat benci dengan semua ini. Aku ingin cepat menghilang dari semua ini, sudah cukup beban yang kutanggung selama ini. Kuputuskan mengambil kursi

Penculikan

Oleh:
Malam ini hujan turun dengan derasnya, membuat malam yang dingin menjadi lebih dingin lagi. Rasanya sangat enak jika malam ini makan bakso lalu tidur. Namun, aku yang malang ini,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *