Lollipop (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 12 June 2016

Menjemput yang terakhir aku tidak tahu harus bagaimana? Rasanya baru kemarin aku duduk di belakangmu yang mengayuh sepeda, bersama dalam bayang-bayang sinar bulan yang berkilauan, menembus malam dan bisikan angin yang menerpa. Tapi sekarang, tinggallah aku seorang diri di sini, duduk dalam rangkian gerbong besi yang melaju cepat seperti peluru, tanpa sinar bulan ataupun canda tawa yang membuatku tersenyum seperti dulu.

Mungkinkah senyummu menyambutku ketika telah sampai? Atau bahkan pelukan hangat yang sanggup mengobati kerinduanku yang teramat? Di sana, di tempat kita mengikat janji, akan kutunggu hadirmu seperti dulu. Akan kuceritakan sebuah kisah dari tempat yang jauh, dari tempat yang penuh dengan cahaya lampu yang tidak pernah padam, juga tempat dimana gedung pencakar langit berdiri kokoh. Seperti tempat dimana kita gantungkan mimpi-mimpi terindah tempo dulu, bersama dimasa SMUku.

“Di tahun ini seluruh dewan guru hanya berharap kalian dapat lebih fokus belajar dan bekerja lebih keras lagi. Itu semua demi kebaikan prestasi diri kalian sendiri, tidak semata untuk sekolah. Tapi yang lebih penting, jangan lagi membuat keributan yang mempersulit hidup dimasa mendatang, baik hidup kalian atau hidup sekolah ini. Seperti yang sudah kalian ketahui, sekolah akan ditutup tahun ini jika angka kriminalitas siswa tidak berkurang. Lalu apa artinya jika nilai kalian nanti dapat melampaui sekolah nomor satu di negeri ini? Jauh lebih baik lulus dengan tenang dibanding lulus dengan banyak catatan, walupun nilai kalian tetap di peringkat semula”.

Bu Young Mi, aku sering merasa kasihan kepadanya. Wanita yang bahkan masih muda dan baru pindah ke Sungsaemin tahun lalu, sudah mendapat tugas menjadi wali kelas di 3-3, kelas terburuk di Sungsaemin, kelas dimana aku duduk sekarang. Sungsaemin sendiri juga sama buruknya diseluruh Korea. Banyak siswanya yang terlibat kasus kriminalitas di luar sekolah. Lebih buruk lagi tahun lalu, dimana salah seorang siswa terlibat perdagangan obat-obat terlarang dalam jumlah yang cukup besar. Dan hasilnya seperti yang sudah bu Young Mi sampaikan, sekolah terancam ditutup secara paksa.

Seharusnya kami para siswa, khawatir tentang keadaan yang demikian. Terutama karena kami harus melaksanakan ujian akhir untuk bisa melanjukan ke universitas. Lalu apakan ujian akhir tetap bisa dilanksanakan dengan ancaman? Tapi itu haya berlaku untukku, tidak untuk yang lain. Mereka semua tidak peduli dengan sekolah, jangankan untuk sekolah untuk diri mereka sendiri saja mereka tidak memperdulikannya. Termasuk saat ini, banyak diantara mereka yang tertidur di meja, berbicara sendiri, juga berdandan. Bukannya memperhatikan. Pada awalnya aku sedikit risih dengan kelas yang tidak kondusif seperti ini, tapi sekarang aku memilih tidak peduli dengan semuanya. Itu sebabnya aku tidak mempunyai teman. Karena mereka semua tidak seperti teman, melainkan seperti pengganggu belaka.

“Dan untuk mempersiapkan diri menuju ujian akhir, kalian akan dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk saling membatu satu sama lain. Pembagian anggota kelompok berdasarkan prestasi akademik masing-masing individu. Bagi nama yang tertulis dengan tinta merah, kalian akan menjadi leader yang bertanggung jawab penuh terhadap satu teman yang lain. Bekerjasamalah dengan baik dan pastikan mendapat manfaatnya”.

Bel berbunyi tanda pelajaran telah usai. Setelah ketua kelas memberi aba-aba untuk memberi salam, semua siswa berhamburan keluar dengan terburu-buru. Sementara bu Young Mi hanya memandangi siswanya satu persatu keluar, tanpa ada seorang pun yang menengok kertas pembagian kelompok tadi. Mereka memang sangat keterlaluan.
“Jin Rae, kau masih ingin tinggal di kelas?”
Aku menggeleng menjawab pertanyaan bu Young Mi. Wanita itu, masih saja menyunggingkan senyum ke arahku, padahal tidak sekalipun mendapat balasannya.
Aku menuliskannya “Apa aku termasuk orang yang bisa diajak bekerja sama?”
Bu Young Mi tertawa mendapati pertanyaanku “Kenapa tidak? Sejak dulu kamu selalu lebih unggul, bahkan sekolah selalu mengandalkanmu. Jangan hanya karena harus banyak berinteraksi, nyalimu menjadi menciut. Jin Rae dengarkan ibu, fisik bukanlah satu-satunya hal yang selalu harus kau fikirkan, kesempurnaan tidak membutuhkan fisik yang sempurna. Apa yang bisa kita berikan kepada orang lain agar hidup menjadi lebih berarti, itulah yang seharusnya kita pikirkan”.
Jariku yang sejak tadi bergerak mencari sebuah nama terhenti mendengar perkataan itu. Menjadi koreksi untuk diriku sendiri. Berguna bagi orang lain, terdengar sulit untuk orang sepertiku yang egois, yang selalu memikirkan diriku sendiri dan mengatasnamakan kekurangan untuk menutupi kepeduliannya pada sesama. Bagaimana bisa aku hidup seperti itu selama ini? Padahal sejak dulu, mati-matian ingin kugapai hal besar yang tidak lagi membuatku dipandang sebelah mata. Tapi bagaimana bisa kugapai, jika hal-hal kecil di sekelilingku saja kuabaikan. Jadi sebenarnya, apa saja yang kupikirkan selama ini selain meyalahkan takdir?
“Tularkan sedikit kecerdasanmu padanya” bu Young Mi menepuk lenganku sebelum melangkah pergi melewati pintu.
Kepadanya? Bahkan namaku saja belum kudapati. Siapapun itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengecewakan bu Young Mi.

“Kau sudah pulang?” nenek menyapaku di ambang pintu. Aku mengangguk dan melepas senyum yang sedikit dipaksa. Bagaimanapun sulitnya hidupku, hidup nenek jauh lebih sulit lagi. Bertahun-tahun merawatku seorang diri, bergantung dari rumah makan sederhana harus menutup segala keperluan untuk melanjutkan hidup, nenek bahkan masih sempat memikirkan pendidikan cucunya yang sama sekali tidak bisa mengucapkan kata terimakasih. Jadi hanya dengan senyum aku mengisyaratkannya.
“Hari akan segera hujan, tapi anak itu masih juga belum kembali” nenek mengikutiku keruang ganti.
Aku menoleh cepat “Apa dia datang mencariku?”
Seolah mengerti sorot mataku, nenek menjawabnya “Tadi siang dia datang mencarimu kemari. Wajahnya masih pucat, sepertinya semalaman dia tidak bisa tidur. Nenek khawatir dia akan sakit jika terus memikirkannya. Kau bisa mencarinya?”
Aku mengangguk dan mengurungkan niat melepas seragam, segera berlari dan mengayuh sepeda kuat-kuat menuju tempat kami, rumah pohon itu. Jun So oppa, dia pemuda yang sangat baik, tetangga pada umumnya dan teman satu-satunya yang kumiliki. Kami berteman sudah sejak kecil, dan ahjussilah yang membangunkan rumah pohon ini untuk kami berdua. Sejak saat itu kami akan selalu menghabiskan waktu luang bersama di sana, oppa akan membantuku belajar, melihat langit bersama, bermain air di sungai sampai dimarahi nenek jika kami pulang terlambat. Oppa benar-benar orang yang sangat baik, juga ahjussi. Mereka sudah seperti keluarga untukku.

Awan hitam sudah bergerumul ketika aku telah sampai, tapi tidak kulihat oppa di sana. Dia tidak mungkin akan datang kemari, oppa tidak akan pernah menginginkanku melihatnya bersedih. Dia orang yang hanya membagi kebahagiaannya dan menyimpan kesediahan untuk dirinya sendiri, bahkan termasuk kepadaku. Benar, aku bahkan tidak bisa mengingat kapan dia menangis, aku tidak pernah tahu. Kenapa oppa menjadi sekuat itu?

Hari ini untuk pertama kalinya, saat matahari seharusnya membawa senja menawan yang dapat menghangatkan hati, seolah tenggelam dalam kesedihan yang tak terbendung, senja keemasan itu tertutup awan hitam yang membawa air mata. Termasuk di pipi seorang yang tek pernah meneteskannya. Bersandar disebuah pohon tepi sungai, aku melihat dengan jelas, cairan bening itu turun dari matanya secara perlahan. Mengalir ke rahangnya yang kokoh dan berakhir menjadi riak-riak kecil yang terbawa arus sungai. Jun So oppa, dia menangis sendirian di sana. Memeluk lutut dan terus menangis tanpa mengeluarkan suara. Kesedihan di hatinya begitu mendalam, walaupun aku tidak pernah merasakan apa yang dirasakannya, tapi aku tahu seperti apa itu. Kehilangan satu-satunya orang tua. Seharusnya aku duduk di sampingnya untuk menenangkan, tapi apa yang bisa dilakukan adikmu ini oppa? Hanya sekedar menepuk punggungmu dan mengatakan tidak apa-apa saja aku tidak bisa.

“Appa” oppa bereteriak mendongkakkan kepala. Air matanya yang mengalir tersapu rintik-rintik air hujan yang turun dari langit. Aku segera berlari dan mendekapnya kuat-kuat.
“Maafkan aku, maafkan aku” oppa berbisik pelan di pelukanku.

Hari sudah gelap ketika aku duduk di belakang oppa yang mengayuh sepeda. Baju kami sama-sama basah, terasa dingin sekali jika angin tiba-tiba berhembus. Tapi aku bersyukur, Jun So oppa sudah tidak terlihat sedih kembali. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya bisa cepat sekali berubah, seolah kejadian sore tadi tidak pernah dialaminya, tawanya kembali.

“Jin Rae apa kau tahu kita selalu mengulangi hal-hal yang sama?”. Aku diam tidak mengetahui maksudnya.
“Berapa kali baju kita basah bersama dan selalu pulang seperti ini?”.
Aku tidak tahu. Itu jumlah yang sangat banyak. Lebih dari puluhan kali kita melakukannya, seolah sudah menjadi kebiasaan, bahkan saat kita menjadi dewasa. Oppa, aku ingin terus melakukannya bersamamu, tapi tidak seperti hari ini. Aku takut akan hari-hari seperti ini. Aku berharap dapat selalu tertawa dalam kebahagian bersamamu, nenek dan orang-orang yang kusayangi. Tapi tidak ada yang lain, selain kalian berdua, sedang ahjussi saja telah pergi. Oppa, ahjussi orang yang sangat baik. Dia pasti telah bahagia sekarang, jadi jangan mengingatnya dengan tangisanmu, ingatlah kebaikan hatinya yang akan membuatmu tersenyum. Cukup itu saja. Karena sejujurnya aku menjadi sangat takut untuk kehilangan orang-orang yang ku sayang.
“Apa kau tidak merasa bosan?”
Aku menepuk kaki oppa tanda tak setuju. Aku tidak bosan dan tidak akan pernah merasakannya. Aku ingin terus mengulanginya, sebanyak yang kita bisa.
Jun So oppa tertawa “Baiklah-baiklah ayo terus ulangi itu setiap hari?”
Kuulangi tepukan itu lebih keras. Ingin terus mengulanginya bukan maksudku setiap hari. Kita akan kelihatan seperti anak-anak jika terus saja begitu. Kapanpun kita ingin mengulanginya, semoga akan selalu mendapat kesempatan. Karena saat seperti inilah yang nantinya tidak akan bisa kulupakan oppa, seandainya kau tahu.

“Cepatlah masuk dan ganti baju. Katakan pada nenek aku tidak apa-apa”.
Aku mengangguk sambil tersenyum sebelum melangkah meninggalkan oppa.
“Jin Rae?” oppa menarik tanganku tiba-tiba.
Aku berbalik kembali menghadapnya. “Selamat malam, tidurlah dengan nyenyak” oppa mengusap-usap rambutku yang basah. Aku tersenyum melambaikan tangan kearahnya.

Aku seperti dua orang yang berbeda, atau mungkin dua kepribadian. Hatiku penuh dengan cinta yang membuatku selalu ingin tersenyum ketika di rumah. Tapi jantungku selalu berdebar hebat ketika aku berada di sekolah, seolah menjalani hidup yang sulit. Padahal waktuku lebih banyak kuhabiskan di sekolah, tapi tidak pernah seharipun aku merasa nyaman di sana. Tertekan, mungkin begitulah rasanya. Juga seperti orang asing. Mungkin memiliki setidaknya satu sahabat, akan membuatku merasa baik. Namun apa boleh buat, aku tidak melakukan itu sejak awal. Sekarang aku tidak tahu bagaimana cara melakukannya.

Apalagi orang yang menjadi tanggung jawabku itu Jay Park. Dia orang yang paling suka membuat keributan di kelas. Bahkan semua orang di Sungsaemin takut padanya, termasuk bu Young Mi. Jay orang yang tidak peduli dengan sekolah dan selalu membolos, dia akan memukuli habis orang-orang yang melawannya. Yang ku dengar dari bu Young Mi, alasan mengapa sekolah tidak berani megeluarkannya, karena orang tua Jaylah satu-satunya yang mau mensponsori acara-acara di sekolah. Dan sekarang aku dalam masalah besar. Bertanggung jawab atas brandalan seperti itu, aku tidak bisa melakukannya. Sampai hari kelulusanpun aku yakin tidak akan berhasil melakukannya. Tapi bu Young Mi menaruh kepercayaan itu padaku, apa yang harus aku lakukan?
“Hwaa” oppa datang tiba-tiba dan mengagetkanku dari belakang. Aku memekik hebat yang membuat oppa malah tersenyum lebar.
“Mianhae, mianhae Jin Rae”. Bagaimana mungkin oppa sungguh-sungguh minta maaf, jika dia masih saja menertawakanku.
Aku menggerakkan kedua tanganku dengan lincah untuk mengatakannya “ Aku sudah sejam menunggumu di sini, tapi kau datang mengaggetkanku”
“Baiklah-baiklah aku akan pergi saja” oppa beranjak bangkit dari duduknya.
Aku memperotes “Bagaimana bisa seperti itu?”
“Kenapa tidak?”
Aku menekuk wajah “Aku sudah menunggu lama tapi oppa justru cepat-cepat pergi”
“Lalu?”
“Sudahlah, ayo sana pergi!” aku memerintahkannya. Oppa diam menatapku. “Pergi sana!” aku mendorongnya menjauh “Cepatlah pergi”.
“Hey benar kau menyuruhku pergi?” tiba-tiba oppa berbalik dengan mengacungkan lollipop ke arahku. “Kau yakin hari ini tidak mau ini?” sebelah alisnya terangkat sambil terus menyodorkan lollipop kesukaanku untuk menggoda.
“Baiklah aku tidak akan memaksamu, sampai jumpa”

Sebelum oppa melangkah pergi, aku sudah merentangkan kedua tangan menghalangi. Kuambil lollipop itu dari tangannya dan dengan cepat telah berpindah ke mulutku. Lollipop, oppa memang harus memberiku lollipop itu setiap harinya. Entah sejak kapan, tapi setiap harinya oppa memang selalu memberiku satu lollipop rasa coklat. Jika dia melupakan itu, aku akan marah dan meminta dua kali lipat untuk hari selanjutnya.
Tapi kali ini bukan itu tujuan utamaku, aku ingin bertanya bagaimana cara menghadapi orang seperti Jay. Kupikir sesama laki-laki, oppa bisa memberiku saran yang baik. Minggu depan akan ada ulangan matematika, itu alasanku kenapa harus segera menangani Jay. Karena bu Young Mi ingin melihat hasil belajar kelompok yang seharusnya sudah berjalan dua minggu. Sementara aku, untuk mendekati Jay saja aku belum bisa. Bukan berarti aku belum pernah mencoba, tapi setiap kali kukatakan padanya untuk belajar bersama, justru dia mengabaikanku. Dan akhir-akhir ini Jay malah sering membolos dengan kedua temannya. Apa yang bisa kulakukan?

“Jadi dia anak yang suka berkelahi?”. Aku mengangguk menjawab pertanyaan Jun So oppa.
“Ayo kita ke sana”. Oppa menarikku ke tempat Jay dan teman-temannya biasa menongkrong. Aku tidak tahu akan menjadi baik atau buruk jika membawa oppa dalam masalah ini, tapi mari mencoba.
Jay dan kedua temannya sedang asik merok*k ketika aku dan oppa sampai disana. Dimejanya juga ada beberapa botol alkohol yang sudah kosong. Aku sempat tercengang melihat kelakuan mereka seperti ini, jika tidak dengan oppa mungkin aku sudah lari dari sini.
“Heh kau, masih berani mengajakku belajar hah?” Jay berjalan ke arahku sambil mengacungkan jari telunjukknya. Jalannya sempoyongan ke kanan dan ke kiri, pasti dia banyak meneguk alkohol. Dua temannya ikut menghampiriku dan oppa. Aku menjadi sangat takut.
Oppa melepas tanganku yang dari tadi memeganginya “Tidak apa-apa”.
“Wow kau ternyata punya pacar juga anak bisu”
“Jaga bicaramu baik-baik” oppa balik mengacungkan jari telunjuknya kearah Jay. “Rupanya kau orang yang selalu mencari keributan itu hah? Mengandalkan kekuatan ototmu saja?” aku memegangi tangan oppa kuat-kuat. “Orang yang merasa hebat dengan kekuatan ototnya saja”. Oppa jangan katakana apapun lagi. “Kau benar-benar bisa berkelahi?”
Aku makin erat memegangi lengan oppa dan menariknya mundur saat wajah Jay mejadi merah padam. Aku yakin Jay tidak bisa diremehkan dalam masalah berkelahi. Tapi Jun So oppa, aku belum pernah sekalipun melihatnya berkelahi. Ditambah lagi kedua teman Jay, jelas-jelas oppa akan kalah dengan mereka.
“Ingin mencobanya denganku”. Tidak, ini gila. Bagaiman mungkin oppa menantang Jay.
“Sebenarnya aku tidak ingin berurusan dengan mereka berdua, aku hanya berurusan denganmu Jay Park. Itu juga jika kau berani melawanku sendiri”
Dengan cepat Jay menginsyaratkan kedua temannya yang sudah siap berkelahi untuk mundur.
“Kau berani bertaruh padaku?”
“Untuk apa takut?”
Oppa dengan santai menjawabnya “Baiklah, jika kau menang kau harus mau belajar bersama dengannya sampai lulus”
“Apa? Sampai lulus?”
Oppa tersenyum “Kau takut?”
Tidak, aku tidak setuju itu. Kenapa oppa dengan mudah menantang Jay berkelahi. Aku membawanya kesini bukan untuk mencari keributan seperti ini.
“Gantinya jika aku kalah, apapun yang kau mau dariku akan kupenuhi”. Oppa benar-benar gila.
“Tenang saja oppamu ini bukan orang yang mudah di kalahkan” oppa meyakinkanku. Aku mengenggam erat tangan oppa agar dia tidak melakukan ini.
“Tidak apa-apa. Tunggu disini dan akan oppa bawakan dia untukmu” oppa menepis tanganku dan melangkah pergi mengikuti Jay yang berjalan lebih dulu.
Oppa dan Jay benar-benar berkelahi, jantungku serasa mau copot melihat mereka saling memukul di hadapanku. Pertama Jay berusaha memukul oppa, tapi dengan cepat oppa menghindarinya. Lalu dengan mataku sendiri, kulihat oppa membuat darah menetes dari hidung Jay. Aku menjerit dan menutup wajahku saat itu. Sungguh aku tidak pernah menyangka oppa akan sekuat ini. Dia sangat hebat. Tak ku sangka, kakiku yang bergemetar hebat sejak tadi sudah lebih baik sekarang. Aku begitu mengkhawatirkan oppaku yang hebat itu.

Cerpen Karangan: Wulan Aprilia
Facebook: Wulan Aprilia

Cerpen Lollipop (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hate Make Me Love You (Part 1)

Oleh:
“Ye Na, cepat bangun! Nanti kita terlambat ke sekolah,” ucap seorang gadis yang berusaha sedari tadi membangunkan saudara kembarnya, “Yakk, Ye Seul! Memangnya hari ini kita ke sekolah? Wae?,”

Bus Desa Jungdul

Oleh:
Aku Lin ji. Hal yang terindah bagiku adalah hari pertama di sekolah baru. Penyebab kepindahanku ke desa ini karena suatu pekerjaan orangtuaku. Aku duduk di sebuah halte yang tampak

From Korea With Love

Oleh:
“Joheun achimieyo (selamat pagi). Annyeonghaseyo (apa kabar?). Naneun Miranda Adilla-imnida (saya Miranda Adilla). I’m from Indonesia. Nice to meet you.” Hari ini aku mulai bersekolah di salah satu Senior

This Love (Part 1)

Oleh:
Suara piano terdengar dari dalam sebuah ruang musik di salah satu Universitas Seoul Korea Selatan. Suara seseorang bernyanyi juga terdengar dari dalam ruang musik tersebut. Jari-jemari Song Hye Kyo

The Korean Girl (Part 1)

Oleh:
Andrea Loxia Karagiwa itu namaku. Aku anak kelahiran Seoul, 17 November 1998. Yap, aku gadis remaja berumur 16 tahun. Kamu tahu tempat Seoul? Tentu. Seoul adalah salah satu kota

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *