Lollipop (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 12 June 2016

“Aaa” Jay meringis kesakitan saat aku membersihkan luka di pipinya. Oppa membuatnya terluka dan berdarah di beberapa bagian wajah dan tangannya. Melihat Jun So oppa, aku senang dia tidak terluka. Tapi melihat Jay, aku cukup kasihan padanya.
“Heh anak bisu, kubilang pelankan tanganmu” Jay menepis tanganku, yang kemudian membuat kapas di tanganku terjatuh. Mendengar itu, oppa yang sejak tadi duduk di luar rumah pohon segera masuk menghampiri.
Aku segera menggelengkan kepala saat oppa berniat menarik tangan Jay. Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa mendengarnya. Karena memang itu kenyataannya. Aku tidak keberatan oppa, asal kau tidak memukulnya kembali. Aku tidak mau oppa menjadi terbiasa untuk memukul. Aku tidak menyukainya.
“Keluarlah” oppa menarik tanganku menjauh. Tentu aku tidak menurutinya, aku tidak mau mereka berkelahi kembali.
“Oppa janji tidak akan memukulnya”. Setelah oppa berjanji padaku, aku tidak lagi khawatir meninggalkan mereka berdua. Seperti halnya perempuan, mungkin laki-laki akan lebih saling mengerti.

Menunggu entah apa yang dibicarakan oppa dan Jay, aku duduk bersandar di bawah rumah pohon sambil mendengarkan musik dari ponsel. Belum juga satu lagu selesai, oppa sudah keluar diikuti Jay yang mengekor di belakang.
“Datanglah setelah pulang sekolah bersama Jin Rae kemari” oppa menepuk pundak Jay dari belakang. Tanpa berkata apapun Jay berjalan pergi meninggalkan kebingungan di kepalaku.
“Oppa kau hebat” aku mengisyaratkannya dengan mengangkan kedua ibu jariku ke arah Jun So oppa. Kami tersenyum bersama kembali, melihat deretan gigi putih dari senyum oppa yang mengembang, aku menyukai itu. Dan sekali lagi, oppa mengusap-usap rembutku membuatnya berantakan.

Entah apa yang oppa bicarakan pada Jay, pasti itu sangatlah hebat. Karena apa, Jay benar-benar datang bersamaku ke rumah pohon setelah pulang sekolah. Tidak mudah untukku mengajari Jay, apalagi aku bukanlah orang yang langsung dapat menjelaskan banyak hal dari mulutku sendiri, aku harus menyampaikannya melalui kertas dan tinta, akan lebih sulit bagi Jay untuk menerima dan memahaminya. Untunglah ada oppa di sana, yang akan membantuku menjelaskan banyak hal pada Jay. Tapi tidak lantas semuanya menjadi mudah, karena Jay bukanlah orang yang selalu mengikuti pelajaran di kelas. Aku harus mengajarkan banyak hal padanya dari yang paling dasar, yang seharusnya sudah ia hafal di luar kepala.

Yang mulai ada hasil, bukan Jay bisa dalam pelajaran atau tidak. Tapi absen kehadiran Jay di kelas, walaupun masih banyak tidur, setidaknya 3 hari terakhir dia full mengikuti pelajaran. Sebelum sampai di sana, sebenarnya Jay pernah tidak menepati janji. Dia tidak datang ke rumah pohon sehingga oppa lagi-lagi harus mencarinya untukku. Dan yang membuatku senang, tenyata Jay mulai memikirkan nilainya sendiri tanpa disadari. Mendapat nilai terendah di kelas saat ulangan matematika membuat Jay merasa sia-sia belajar dengan keras bersamaku. Bukankan sudah biasa jika Jay mendapatkan nilai terendah? Sedang kali ini dia merasa kecewa, itu berarti dia memikirkannya dan tidak menutup kemungkinan bagi Jay untuk tekatnya mendapat nilai yang jauh lebih baik.

Hari ini, Jay mengirim pesan padaku tidak bisa datang. Mungkin sedang berkumpul bersama teman-temannya. Walaupun untuk sekali-kali aku tidak mempermasalahkannya, tapi aku juga kawatir. Jay sudah berkembang lebih baik dari sebelumnya, tapi bukan berarti dia sudah benar-benar berubah. Jika sering mereka berkumpul, aku takut Jay kembali seperti dulu karena pengaruh teman-temannya.
“Hey” oppa menepuk punggungku dari belakang. Aku tersenyum membalasnya.
“Hanya belajar sendiri?”
“Jay tidak datang” kataku dengan jari.
Oppa duduk di sebelahku sambil tersenyum “Kau merindukannya ya? Kau tahu rindu itu awal mula dari cinta”.
Mataku memincing tidak percaya. Memang apa yang oppa lihat selama ini. Walaupun Jay berubah dan aku menyukai itu, aku tidak akan mempunyai rasa cinta untuknya, oppa. Mengajari Jay, itu hanya seperti sebuah tugas untukku, yang harus kupertanggungjawabkan kepada bu Young Mi. Jika pada akhirnya kita berteman, itu juga seperti teman bisa, oppa. Seperti mereka yang mempunyai teman, seperti oppa dan yang lainnya. Bukan cinta.
Aku begitu takut dengan ketidaksempurnaan dalam diriku. Itu sebabnya aku tidak mau hatiku tersakiti dengan rasa itu, cinta. Kupikir aku tidak berhak merasakannya, bahkan kepada oppa. Aku mencoba menghapusnya dari hatiku, oppa. Mungkin kau tidak melihatnya dariku, tapi entah bagaimana aku merasakannya dengan kuat. Aku mencintaimu oppa, sangat mencintaimu. Aku selalu merindukan senja bersamamu di rumah pohon, tersenyum bersama dan belain lembut itu di rambutku. Walau hanya dalam diam, aku ingin menghambiskan waktu ke ujung yang tidak bertepi, bersamamu oppa.
Tapi itu hanyalah keegoisanku. Oppa kau orang yang sangat baik, yang selalu tersenyum dan berbagi kebahagiaan, kau sangat ramah, pandai, juga tampan. Sedangkan diriku bukanlah apa-apa, oppa. Aku tidak sebanding denganmu. Itu sebabnya aku memilih untuk menghapusnya. Kau dicintai banyak orang, ada banyak perempuan cantik dan baik hati di luar sana yang menunggumu. Kau bisa mendapatkan yang terbaik, bukan dengan orang cacat sepertiku.
“Hey oppa hanya bercanda, kau tidak perlu menekuk muka seperti itu jika memang tidak merindukannya”. Oppa kembali tersenyum dan aku memukulnya pelan.
“Aku tidak ingin merasakan itu”.
Oppa melepas kedua tanganku yang sejak tadi ditahannya “Kenapa tidak?”
“Katanya cinta akan membuat kita menangis”
“Kata siapa? Justru cinta itu akan memberimu perasaan yang hangat seperti musim panas. Mungkin pada awalnya akan membuatmu menangis, tapi pada akhirnya dia akan membawa kehangatan pada hidupmu dan kau akan merasa sangat nyaman dengannya. Kau harus merasakannya, kau tahu itu!”
“Apa orang seperti itu benar-benar ada?”
“Setiap orang mempunyai satu untuk dirinya, cinta yang sesungguhnya. Begitu juga kau. Dia orang yang mencintaimu, tidak akan melihat cintanya hanya dari fisik, tapi dari sini” oppa menempelkan telapak tanganku ke dadanya. Membuatku merasakan detak jantungnya.
“Dari sini dia akan merasakan cinta yang hangat itu”. Oppa menatap kedua bola mataku dengan serius.
Tidak mau menjadi gugup, aku segera menarik tanganku kembali “Kau sok tahu oppa”
“Kau tidak percaya?”
Aku menggeleng cepat “Memang kau pernah merasakannya?”
Oppa hanya diam tidak menjawab.
“Oppa ini gaya barumu itu?” aku tersenyum melihat oppa yang tanpa kusadari merubah penampilannya dengan topi.
“Bukankah kelihatan keren?” oppa meminta pendapatku.
Aku tidak begitu suka oppa memakai topi. Jadi kutarik saja topi itu.
“Aku membeli sampo yang salah” oppa tersenyum sambil mengambil kembali topi di tanganku. “Itu sebabnya aku memakai topi, agar rambutku tidak terlalu banyak rontok”.

Sudah dua minggu aku menghabiskan waktuku sendiri, sangat membosankan. Oppa, dia sedang melaksanakan kegiatan kampus di luar kota. Hanya lollipopnya yang menemaniku setiap hari. Waktu itu, saat matahari baru saja terbit, oppa mengetuk pintu rumahku dan mengatakan akan pergi. Tas telah digendong di punggunggnya serta berpakaian rapi. Aku hampir saja menangis karena oppa tidak memberitahu sebelum hari keberangkatannya. Tapi dia memberiku sejumlah lollipop yang harus kumakan setiap pagi seperti biasa, oppa tidak melupakannya. Oppa telah mengaitkan jari kelingkingku kepadanya, saat lollipop itu habis tidak tersisa, tepat saat matahari terbit dengan tangannya sendiri dia akan memberiku lollipop selanjutnya. Dan hari ini lollipop terakhir telah kumakan, hanya tnggal menunggu janji oppa esok hari, semoga dia tidak melupakannya.

Oppa mencium keningku untuk pertama kalinya di hari itu juga. Dia memegangi kedua tanganku dan menatap bola mataku, aku tidak tahu apa maksudnya, tapi cukup membuat jantungku berdegup kencang. Oppa bilang aku tidak boleh terlalu merepotkan nenek dan merindukan oppa, saat ku tanya kenapa? oppa menjawabnya “jika kau merindukanku aku menjadi tidak berkonsenterasi kuliah, karena aku pasti juga akan merasakan hal yang sama. Aku pasti sangat merindukan adikku ini. Aku akan sangat merindukanmu” kemudian dia mencium keningku sebelum pergi.
“Jin Rae” suara Jay yang sedikit meninggi mengaggetkanku dari belakang.
“Oh rupanya kau sudah disini”.
Jay duduk di sampingku “Kau sedang memikirkan apa?”
Aku menatapnya bingung “Aku tidak sedang berpikir”
“Begitu ya kelihatannya?”
“Memangnya apa?” aku bertanya tidak mengerti.
“Kau merindukan Jun So. Ia kan ayolah mengaku saja”
“Tidak, aku tidak merindukannya”
“Kau bohong”
“Tidak”. Perdebatan seperti ini dengan Jay memakan waktu yang cukup lama. Dia orang yang tidak suka mengalah. Jadi kalau bukan aku yang sengaja mengalah, kami bisa menghabiskan satu jam hanya untuk hal sepele seperti ini. Seperti hari ini, hari-hari sebelumnya dia juga bisa menebak perasaanku, walaupun aku tetap bohong menutupinya, tapi tetap saja begitu, aku merindukan Jun So oppa. Dan Jay memanfaatkan situasi ini. Hampir satu minggu kami hanya mengobrol saja di rumah pohon, tanpa sedikitpun berniat membahas pelajaran. Tapi aku tidak merisaukan lagi masalah Jay, dia sudah menjadi anak yang pandai sekarang, bahkan peringkatnya tepat lima tingkat dibawahku.
“Apa harus aku yang memberitahu pada Jun So oppamu itu?” Jay berceletuk.
“Apa maksudmu?”
“Hah kau berbohong lagi, kau mencintainyakan?”
Aku menggeleng mengelaknya.
“Ayolah aku sudah duduk lama disini, kau tidak perlu menyembunyikan perasaanmu sendiri. Dari caramu menatap Jun So saja itu sudah sangat kelihatan kalau kau mencintainya”
Apa perasaanku benar-benar tidak dapat ditahan lagi hingga terlihat seperti itu?
“Dia oppaku, jadi tidak mungkin kami menjadi seperti itu. Dia bahkan bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku jika dia menginginkannya” aku mengaku dan terdengar menyedihkan.
Jay menepuk pundakku “Kau wanita yang paling baik. Kau tidak perlu takut pada yang lain, kau adalah dirimu sendiri dengan banyak kelebihan. Jika kau menyukai seseorang, katakana saja padanya, dibanding harus menyimpannya sendiri dan menahannya, lebih baik jika kau mengatakannya bahkan jika nanti dia tidak membalas perasaan itu. Setidaknya perasaan kalian masing-masing menjadi jelas. Kalau kulihat Jun So juga mempunyai perasaan yang sama sepertimu”.
“Dari mana kau tahu?”
“Aku ini laki-laki. Jadi tahu dengan jelas bagaimana jenisnya akan merespon seseorang yang disuka”.
“Sok tahu” aku beranjak bagkit dari duduk. Memikirkan kata-kata dari mulut Jay, menyatakan perasaanku pada oppa. Aku tidak pernah berpikir untuk demikian, tapi sekarang aku meragukannya. Hatiku dipenuhi dengan rindu yang meluap-luap, kepalaku dipenuhi dengan banyak hal yang ingin kulakukan setelah oppa pulang nanti. Menyatakan perasaan, mungkin jika detik ini kudapati oppa yang duduk di rumahnya seperti biasa, aku akan berlari secepatnya ke sana, menghampirinya dan akan kulakukan apa yang Jay perintahkan. Kerinduan membuat ku tidak lagi bisa menahan rasa itu sendiri, aku ingin oppa mengetahuinya. Aku tidak ingin berpikir banyak, aku hanya ingin oppa mengetahuinya, itu saja. Tapi kenyataannya tidak seperti itu, oppa berada entah dimana. Apakah dia juga merasakan kerinduan sepertiku atau tidak, aku tidak mengetahui. Dan yang terpenting, aku tidak bisa berlari kesana dan mengatakan semuanya. Itu yang membuatku akan terus berpikir apakah aku benar dengan mengatakan perasaanku? Atau lebih baik aku memang menahannya seperti dulu? Waktu akan menuntutku untuk mempertimbangkan semuanya. Aku membenci itu, saat kepercayaan diriku terangkat, kesempatan tidak menjadi milikku.
“Ngomong-ngomong tempat apa itu?” Jay yang sejak tadi duduk kini sudah berada di sampingku dengan jari telunjuknya yang menunjuk-nujuk gambar yang tertempel di dinding. Suara papan kayu dari ketukan jari Jay mengingatkanku pada oppa yang menggebu-gebu menyemangatiku untuk pergi ke sana. Ke tempat yang tertempel di dinding.
“Kau tidak tahu?”
Jay menggeleng. “Itu Seoul National University, universitas ternama yang sangat kuimpikan” tuturku lugas.
“Kau ingin kuliah disana?”
Aku menangguk mantap “Jika aku punya kesempatan. Kami, aku dan oppa mempunyai kesepakatan. Kami akan belajar bersama di sana, setidaknya begitu mimpi-mimpi masa kecil kami berdua. Tapi oppa tidak diterima tahun lalu. Mulai dari hari itu, oppa menggemblengku untuk belajar dengan keras agar bisa suatu saat mewujudkan mimpi kita bersama. Untuk bisa masuk menjadi mahasiswa disana. Kami berlari bersama untuk mencari gambar ini di toko, berkeringat dan dengan nafas terputus-putus, lalu kami kembali ke sini dan memasangnya bersama, berharap saat kami melihatnya semangat untuk menggapainya akan terus bergelora. Dan itu telah mendarah daging dalam diriku, saat aku melihat oppa kecewa dengan dirinya sendiri karena tidak lolos seleksi, aku berjanji akan membuatnya tersenyum melihatku lolos seleksi suatu hari. Aku sangat memimpikan hari-hari itu, hari saat aku akan membuat oppa tersenyum bangga kearahku”.
“Manis sekali” Jay berkomentar.
Aku memilih mengabaikannya dan terus bicara “Kau tahu disana seluruh mata kuliah akan diajarkan dalam bahasa inggris?”
Tanpa menunggu jawabannyapun aku tahu dia sudah pasti tidak mengetahuinya “Itu hebat bukan”
Jay mengangguk malas “Merepotkan. Jadi kau akan pergi?”
“Kenapa?” aku bertanya heran.
“Kau akan meninggalkanku?”
Aku mengangguk mengiyakan.
“Lalu siapa yang akan mengajariku belajar lagi, aku takut menjadi bodoh kembali”
Aku tertawa mendengar jawaban Jay “Kau sudah pandai sekarang, malah sekarang aku takut kau akan menyaingiku di kelas” aku tersenyum “Kau tidak akan membutuhkanku lagi, aku percaya kau sudah berubah Jay. Kau bukan lagi Jay yang dulu, tanpa akupun kau akan menjadi Jay yang pandai dan baik hati, begitukan?”
Jay mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Begitu juga denganku, rasanya air mataku sudah mengalir di pipi dengan sendirinya. Aku menangis, entah karena apa. Aku tidak lagi bisa menahan air mata itu, padahal hatiku tidak dalam suasana buruk. Tapi kenapa aku menangis?
“Kau akan baik-baik saja”. Itu kedengaran seperti salam perpisahan, aku tidak tahu kenapa mengatakan demikian. Aku hanya mencoba meyakinkan Jay, dia akan baik-baik saja, aku ingin mendengarnya seperti itu saat nanti aku benar-benar pergi. Aku ingin mendengar kabar baik tentangnya di masa depan, sehingga membuatku mengingat masa-masa SMU ini. Aku ingin seperti itu.
“Nyatakan perasaanmu pada Jun So, kau gadis yang baik. Aku yakin dia memiliki perasaan yang sama. Aku pergi dulu.” Jay pergi begitu saja.

“Kau sudah bangun?” nenek yang sedang sibuk di dapur melihatku keluar dari kamar.
Aku mengambil alih pekerjaan nenek yang sedang memotong sayuran. Hari ini hari minggu, biasanya aku akan membantu nenek setengah hari di rumah makan, setelah itu aku akan pergi ke perpustakaan. Tapi aku tidak berniat melakukannya kali ini, aku merasa ingin sedikit bermalas-malasan di rumah. Aku ingin melakukan itu sebelum waktuku menjadi sangat sibuk. Karena sebentar lagi kuyakin, aku akan sering memiliki kantong hitam di bawah mata, aku akan terjaga sampai pagi untuk belajar, sebentar lagi ujian dan aku harus bekerja keras untuk itu.
“Kau sudah tahu oppamu kembali?”
“Tidak nek, dia tidak memberi kabar jadi aku tidak tahu kapan dia kembali”
“Apa maksudmu?” nenek menatap bingung ke arahku. Aku menjadi semakin tidak mengerti. “Maksudku, aku memberitahumu kalau Jun So sudah kembali”.
“Benarkah?” aku tidak percaya dia tidak memberitahuku, kenapa oppa?
“Apa dia tidak menemuimu?”
Aku menggeleng menjawab pertanyaan nenek.
“Tadi pagi-pagi sekali aku melihatnya. Sepertinya dia sangat sibuk sampai membiarkan badannya menjadi kurus. Sup ini untuknya, kau segera antarkan kerumahanya selagi masih hangat”
Aku hanya menyetujui perintah nenek sambil terus memotong sayuran dengan sedikit canggung. Masih tidak percaya kenapa oppa tidak menemuiku seperti janjinya waktu itu. Apa dia benar-benar sibuk dan melupakan janjinya? Atau memang begitu skenarionya? Semuanya membuatku bingung dan terus berpikir, aku membenci itu.
“Ini, antarkan sekarang Jin Rae!” nenek menyerahkan panci dengan sup panas di dalamnya.
“Pastikan dia memakannya”.
Hanya dengan beberapa langkah kaki, aku sudah sampai di depan pintu siap mengetuk. Kuketuk beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Cukup canggung sebenarnya, karena biasanya aku akan segera masuk tanpa mengetuk ataupun menunggu jawaban dari pemilik rumah. Rumah oppa memang sudah seperti rumahku sendiri dan begitu juga sebaliknya, malah terkadang kamarku akan lebih menjadi milik oppa jika aku belum pulang dari sekolah. Aku akan menemukan oppa yang tertidur pulas di ranjangku karena lama menunggu. Itu sudah menjadi kebiasaan kami sejak kecil, selalu menunggu satu sama lain. Kecuali di malam hari, belum pernah sekalipun oppa menginap di rumahku. Aku juga tidak tahu kenapa, dia akan selalu kembali kerumahnya walaupun seharian sudah dirumahku. Nenek benar-benar seperti memiliki dua cucu.
Aku masuk begitu saja seperti biasa saat menemukan pintu yang tidak terkunci.
“Jun So, maafkan ayah, maafkan ayah”. Dari ruang tamu kudengar suara ahjussi yang tidak asing di telinga. Suara itu terdengar seperti pesan suara yang sengaja ditinggalkan ahjussi untuk oppa. Aku berjalan ke kamar oppa untuk mendengar dengan lebih jelas, dari balik pintu yang tidak sepenuhnya ditutup aku melihat oppa yang duduk di meja belajar berbalik arah denganku berdiri. Kepalanya menunduk dalam-dalam, dia menangis, aku dengan jelas mendengarnya sesenggukan.
“Maafkan ayah yang tidak berterus terang kepadamu ataupun Jin Rae” suara ahjussi yang menyebut namaku menghentikan langkahku untuk masuk ke dalam.
“Ayah takut kau akan kecewa dan membenci ayah. Itu pasti akan terjadi. Ayah memang bajingan, selalu menyuruhmu berbuat kebaikan tapi ayah sendiri melakukan pembunuhan. Tapi Jun So, kumohon kau mau memaafkan ayahmu ini. Mungkin tidak saat ini, tapi suatu masa mohon maafkan ayahmu. Juga Jin Rae, katakan padanya ayah meminta maaf. Ayah sungguh-sungguh menyesal telah membunuh kedua orangtuanya”
Kedua tanganku bergetar hebat, membuat sup di tanganku terjatuh ke lantai. Air panasnya menegenai kakiku, tapi tidak lagi terasa panas. Aku tidak bisa merasakan apapun, kecuali air mata yang mengalir di pipi.
“Jin Rae?” oppa berbalik memandang kearahku.
Sejenak aku memandang oppa yang juga masih menangis, aku tidak bisa berpikir apapun saat ini. Kecuali pergi, ya aku harus pergi.
“Jin Rae” oppa berteriak memanggilku yang sudah berlari.

Hatiku dipenuhi kekecewaan dan ketidakpercayaan. Ahjussi, kupikir dia orang yang sangat baik. Dia menyayangiku seperti dia menyayangi oppa. Tapi kenapa dia seorang pembunuh? Dan apakah sayangnya selama ini hanya sebuah perasaan bersalahnya saja. Kenapa dia membunuh ayah dan ibuku yang tidak pernah bisa kulihat? Kenapa dia melakukan itu Tuhan? Apa salahku sehingga dia membunuh orang yang kusayang?

“Ahjussi aku membencimu” aku ingin berteriak seperti itu. Aku ingin berteriak sampai kerongkonganku terasa sakit. Tapi aku tidak bisa melakukannya, aku tidak memiliki suara untuk mengungkapkannya. Aku tidak bisa mengungkapkannya. Suaraku hanya memekik diredam arus derasnya sungai. Kenapa ahjussi masih tega melakukan itu padaku? Kenapa ahjussi?

Cerpen Karangan: Wulan Aprilia
Facebook: Wulan Aprilia

Cerpen Lollipop (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Reset

Oleh:
“Wah Cindy, kau mendapat peringkat kedua lagi.” kagum Kang Se Young yang berdiri di samping seorang gadis berwajah angkuh dengan senyum hambar menghiasi wajahnya. Satu minggu yang lalu murid

Firework Dinner

Oleh:
Di suatu sore yang cerah, dua sejoli sedang duduk di taman kota. Mereka asyik mengamati anak-anak kecil yang berlarian juga anak muda seperti mereka yang sedang berpacaran. Taman bunga

Paradise of Love (Part 1)

Oleh:
Awalnya hidupku sangat nyaman dan tenang, hidup dengan kedua orangtua dan kaya raya di kota busan, korea selatan, dan mengambil pendidikan di universitas busan. Seketika semua hancur karena Ayahku

Your Eyes

Oleh:
Hari ini, adalah hari yang sangat melelahkan bagi wanita mungil yang sedang duduk di halte untuk menunggu bus jurusan rumahnya tiba. Suasana di halte itu sangat sunyi, sehingga ia

Sorry, I Love Him (Part 1)

Oleh:
“Aku tidak ingin putus.” Seseorangg dengan mata berkaca-kaca berkata lirih. Dia adalah Suzy, seorang gadis dengan wajah bulat, putih dengan tinggi 160 cm. “Maafkan aku. Aku harus menikah dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *