Lollipop (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 14 June 2016

“Jin Rae kau bisa membantuku” suara bu Young Mi di ujung telepon memaksaku untuk berhenti menangis. Sudah tiga kali bu Young Mi menelfonku dan aku mengabaikannya. Tapi tidak dengan alasan yang jelas bu Young Mi akan menelfon, apalagi dia tahu aku tidak bisa menjawabnya. Jadi dengan terpaksa kuangkat telefon darinya pada dering ke empat.
“Jin Rae kau ada disana?”. Kuketuk layar ponsel degan jariku sebangai tanda aku mendengarkanya.
“Ya aku tahu kau disana. Jay membuat kesulitan kembali. Dia mabuk sore tadi”. Sore? Bahkan aku tidak menyadari hari sudah gelap.
“Dan memukuli beberapa orang di jalan. Polisi menghubungiku karena Jay berseragam. Tapi Jin Rae, ibu sedang di luar kota. Ibu tidak bisa datang kesana. Kau mau membantuku? Ibu yakin kau mau membantu, sekarang pergilah ke kantor polisi dan jemput Jay di sana, ibu akan bilang kau wakil dari ibu. Kau mengerti. Maafkan ibu Jin Rae selalu merepotkanmu, terimakasih, maaf ibu sedang buru-buru.” Sambungan telepon diputus begitu saja.
Membawa Jay keluar dari kantor polisi bukanlah hal yang sulit. Sekarang dia sudah keluar dari sana dan berjalan mengekor di belakangku. Aku benar-benar kecewa, oppa dan Jay, mereka sama saja nyatanya. Hanya bisa mengecewakanku. Air mataku kembali tidak bisa ditahan, mengalir dengan suara sesenggukan.
“Maafkan aku” Jay menarik tanganku dari belakang.
“Pergi” isyaratku dengan tangan.
“Jin Rae”
“Pergi”

Hidupku menjadi berantakan dan sepi. Bukan hanya tidak bisa mendengar suaraku sendiri, tapi suara orang-orang yang dulu kusayang. Oppa, aku tidak pernah melihatnya sejak saat itu, seperti di telan bumi, aku bahkan tidak pernah melihatnya masuk ataupun keluar rumah. Dan aku tidak berniat melihatnya, aku tidak mau bertatap mata. Terlalu sakit jika kenyataannya orang-orang didekatkulah yang membunuh orangtuaku sendiri. Entah sampai kapan, aku tidak pernah tahu hatiku akan membaik.
Dan Jay, dia tidak lagi pergi ke rumah pohon ataupun belajar bersama kembali. Bahkan di sekolahpun kita menjadi dingin. Tidak saling bertukar pandang, justru saling mengacuhkan. Jujur saja, aku cukup menyesal untuk Jay. Hari itu aku tidak seharusnya menampar Jay, mungkin aku marah, tapi lebih karena oppa aku kecewa. Buruknya, aku tidak dapat mengontrol emosiku. Jika sudah begini, aku tidak bisa lagi memperbaiki semuanya.
Untuk sejenak aku punya Jay sebagai seorang teman. Aku akan memaksanya belajar saat jam istirahat, menghafalkan rumus sambil menelan makanan sampai pulangpun masih saja pelajaran yang kubicarakan. Aku mendengar suara ramah orang lain, cukup senang bagiku ada dilingkungan sosial seperti itu. Berguna bagi yang lain. Itu baru kusadari setelah Jay menjauhiku kembali. Ternyata hidupku dulu benar-benar membosankan, seperti hidup dalam planen berlainan rasanya. Sunyi dan kesepian, ya aku merasakan kesepian. Aku membutuhkan teman. Teman yang hidup dan bernafas bukan hanya abjat-abjat dalam lembaran.
“Nek…” aku duduk di sebelah nenek yang sedang duduk di balkon lantai dua.
“Apa aku orang yang membosankan?”
Sejenak nenek menatapku tidak mengerti “Kau bertengkar dengan oppamu?”
“Jawab dulu pertanyaanku!”
“Tentu saja tidak”
“Nek, apa nenek akan marah jika orang yang nenek sayang dibunuh oleh orang terdekat kita?”
Desah nafas orang tua itu terdengar berat. Aku tahu nenek mungkin sudah merelakan kepergian anaknya, tapi orangtua mana yang tidak mengingat ketidakadilan seperti itu. “Tidak adil bukan nek?”
“Bukan seperti itu. Jin Rae, sejujurnya nenek sudah mengetahuinya sejak dulu, bahkan sebelum orangtuamu dibunuh. Tapi ketahuilah nenek menyembunyikannya darimu hanya demi kebaikan, kebaikanmu Jin Rae. Ahjusshi, malam itu setelah mendapat perintah untuk menangkap orangtuamu, dia terlebihdahulu datang ke rumah ini. Bertanya pada nenek. Dia tidak akan melaksanakan perintah atasannya jika nenek tidak setuju.”
“Sekarang setelah kau mengetahui semuanya jangan sekali-kali menyalahkan ahjusshi, apalagi Jun So. Mereka semua tidak bersalah sama sekali. Orangtuamu memang pantas mendapatkannya, mereka melawan negara ini. Mereka seorang penjahat. Ahjusshi, nenek ijinkan untuk membunuh mereka setelah kau dibawa kabur dari rumah nenek. Kau satu-satunya harapan nenek Jin Rae, nenek tidak mau kau menjadi seperti orangtuamu. Sudah cukup mereka memalukan keluarga. Jadi dimalam saat mereka merencanakan terbang ke luar negeri, polisi berhasil meringkusnya.”
“Jadi…”
“Pergilah, temui oppamu. Dia membutuhkanmu.”
Setelah tak kutemui oppa di rumahnya, aku buru-buru mengayuh sepeda ke tempat kami. Tempat kami? Entah seharusnya kupanggil begitu atau tidak, aku melupakannya karena kekesalan yang teramat.
Kulambatkan sepedaku ketika pintu rumah pohon sudah terlihat, tepat saat hujan turun dengan lebatnya. Tidak, oppa tidak ada disana. Pintu masih tertutup. Meski begitu aku tetap memanjat tangga masuk. Masih seperti terakhir aku melihatnya, tidak ada yang berubah. Di meja kecil sudut ruangan, buku-bukuku dan oppa masih dengan urutan yang sama. Tidak tersentuh. Apa seperti juga denganku, oppa tidak pernah kembali ke sini?
“Jin Rae”.
Jay berdiri di ambang pintu. Badannya basah kuyup. Sejenak aku hanya menatapnya dalam-dalam. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dariku, begitu juga dengannya. Seolah menikmati keheningan dalam kepala masing-masing. Jay tampak kalut entah karena apa.
“Masuklah cepat!”. Tanpa mengindahkan perintahku, Jay justru turun tanpa berkata apapun.
“Aku menemukannya”.
Kalung yang kulempar jauh-jauh minggu lalu. Dengan bandul huruf triple J, yang artinya Jin Rae, Jun So dan Jay Park. Itu terjadi ketika kami bertiga pergi bersama kepasar malam. Oppa yang menemukannya. Dengan Jay yang tidak setuju karena namanya yang diikutkan. Dia berusaha mematahkan salah satu J di sana. Tapi oppa buru-buru memakaikannya padaku, sehingga Jay tidak punya kesempatan melakukannya.
Waktu itu, saat semuanya menjadi buruk. Kupikir dengan membuangnya tidak ada lagi yang akan mengingatkanku dengan dua laki-laki itu. Tentu saja tidak mungkin begitu. Karena mereka lebih kuat dari sekedar huruf-huruf mati, sangat-sangat lebih.
“Jin Rae” Jay memanggilku tanpa suara. Hanya hembusan nafas pendek yang keluar. Karena tepat dihadapannya, bentuk mulutnya yang mengucap dengan jelas kulihat.
Aku menatapnya menunggu. Tapi seperti tadi, tidak ada kata-kata lain yang terucap. Jay hanya menatapku dalam-dalam. Dari sorot matanya bisa kulihat Jay yang tengah kalut. Tampak ragu-ragu membicarakannya padaku. Aku berpikir masalah seperti apa itu, yang membuat Jay tampak pucat. Sejak dulu tidak pernah kulihat Jay seperti ini. Sampai di bawah matanya ada kantong hitam yang jelas sekali.
“Masuklah dulu, kita bicarakan di dalam”. Aku bergerak meninggalkan Jay yang masih mematung.
“Jun So” Jay menarik tanganku tiba-tiba.
Jantungku bergebuk mendengar nama oppa disebut.
“Dia, dia sakit”.
Seperti petir menggelegar di musim panas.
“Dia sakit Jin Rae” Jay mengulangi. Air matanya menetes, terurai bersama hujan.
“Apa?”
“Kanker.”

Tinggallah kaca putih yang membatasi ruangku dan oppa. Dia sedang duduk di kursi roda, membaca buku. Topi dari rajutan wol hitam di kepalanya, mengungkapkan keadaan sebenarnya. Lebih dari siapapun untuk dapat kupercaya. Oppa mengidap kanker.
“Jin Rae”
Detik ini, oppa telah menoleh kearahku berdiri. Mata kami saling bertemu, mengungkapkan lebih dari apapun yang dapat terucap oleh mulut. Penyesalan, itu yang memenuhi hatiku. Setitik kesalahan mengaburkan pandanganku dari kebaikan yang banyaknya tidak dapat terhitung.
Langkahku benar-benar terhenti, mematung begitu saja, saat tinggal selangkah lagi meraihmu oppa.
“Jin Rae, kau….”
Sebelum sempat oppa menyelesaikan kalimatnya, terlebih dahulu aku telah lemah. Bersimpuh dan memeluknya erat-erat. Tidak peduli pelukan itu akan membasahi oppa juga. Tidak peduli apapun, aku hanya ingin memeluknya, merengkuhnya lebih erat lagi.

Bel akhirnya berbunyi, tanda pelajaran telah usai. Matahari telah membenamkan dirinya lebih awal, sehingga jingga keemasan yang hangat memancar melalui candela kaca. Ini menjadi hari terakhirku di sekolah, karena besok tepat ujian itu akan berlangsung. Seharusnya aku senang akan segera mengakhirinya, bahkan aku telah menunggunya saat-saat seperti ini sejak dulu. Tetapi, hatiku tidak merasakannya. Justru merasa ada sesuatu yang hilang dalam diriku ketika telah sampai di titik ini. Kenyataan memang berbeda sekali ternyata.
“Jin Rae aku pulang dulu ya”.
Itu Yun Ae, teman sebelahku. Entah sejak kapan kami mulai menjadi sahabat. Saling membantu dan mengingatkan, bahkan sempat beberapa kali berjalan kesekolah bersama atau berbelanja setelah pulang sekolah. Aku merasa hangat memilikinya, meski dengan waktu yang terbatas.
Langkah-langkah kaki yang tidak sabaran keluar dari gerbang membuatku mendongkakkan kepala memperhatikannya. Aku sengaja tinggal sebentar di hari terakhir ini, agar sekali lagi dapat mengamati lebih banyak. Dan duduk di kursi pojok menjadi kesukaanku, sekali-kali pemandangan menarik dari luar menarik perhatian. Mereka, teman-teman sekolahku nyatanya lebih banyak dari yang kukira. Teman-teman tanpa nama. Meski begitu, dilain masa tanpa mengenal ataupun menyapa, mereka memaniskan cerita-cerita kita tanpa disadari.
Hanya gema sepatuku yang meninggalkan koridor satu-satunya bunyi yang terdengar. Hanya dalam beberapa menit sekolah telah benar-benar menjadi senyap tak berpenghuni. Langit juga telah berubah menjadi lembayung menutup hari. Bukan apa-apa ketika sekali lagi kutatap gedung sekolah ini, sesuatu yang tidak bisa kujelaskan lebih besar dari pada yang terlihat. Makna dari semuanya yang tidak akan pernah bisa kuulangi kembali.
“Jin Rae”
Aku berbalik ke arah sumber suara. Disana Jay berdiri menatapku. Entah bagaimana aku bisa merasakan Jay semakin dewasa dengan seperti itu. Memang juga kenyataanya seperti itu. Sejak sakitnya oppa menjadi alasan bagi kami untuk menjalin hubungan baik lagi, Jay berubah sangat banyak. Dia tidak lagi berbicara tanpa perlu bahkan juga kepada oppa. aku seperti menemukan Jay yang lain darinya. Sungguh begitu mengejutkan itu terjadi begitu cepat.
Masih sangat jelas bagaimana dulu Jay bersikap kekanak-kanakan, membuat keributan dan selalu saja absen dari kelas. Sikapnya tidak pernah peduli pada apapun. Aku menyebutnya seorang yang tidak peduli masa depan. Tapi bagaimana itu sekarang? Jelas-jelas tidak berlaku.
“Ayo pergi bersama”. Jay menarik tanganku bersamanya. Tanpa bisa menolak aku mengikuti di sisinya. Berjalan berdampingan ke tujuan yang tidak kutahu.
“Kita akan pergi ketempat oppa” Jay memberi keterangan setelah sesaat langkahku terhenti.
Aku mengangguk menyetujui. Kami berjalan kembali dalam hening. Sejujurnya aku tidak terlalu menyukai ini, Jay berjalan begitu lambat tanpa berbicara sedikitpun. Lebih nyaman jika dia bercerita tetang cerita konyol yang akan membuatku tertawa, sepertinya itu tertelah entah kemana sekarang. Padahal seminggu tidak mendengarnya terasa aneh bagiku. Sudah seperti menjadi kebiasaan ketika aku dan Jay tertawa saat pulang bersama.
Tidak bisa terelakkan, rasa sedih yang mendalam juga dirasa Jay begitu dia tahu keadaan oppa. Pernah suatu hari secara tidak langsung Jay memberitahuku bagaimana oppa sangat berarti baginya “Aku merasa memiliki seorang Hyung”. Dan melihat caranya menyembunyikan rahasia oppa dariku, membuatku tahu beartinya oppa untuk Jay. Jay menyembunyikannya dengan permintaan oppa, kenker itu, lebih dari berminggu-minggu. Dia menyimpan sedihnya sendiri sebelum mengatakan apa-apa padaku, berpura-pura tidak ada yang terjadi. Mungkin aku tidak akan sekuat itu jika aku berada di posisinya.
“Baru kali ini aku merasa menjadi malaikat saat aku menyerah”. Jay tersenyum simpul dengan perkataannya yang tidak kumengerti. “Padahal aku berpikir untuk menang. Aku berusaha dengan keras untuk mendapatkan itu. Bukan hal yang mudah juga untukku mengakuinya, sampai akhirnya menjadi sangat jelas.” Jay menarik nafas panjang “Tapi tidak apa-apa dengan ini, aku lebih ingin menyerah”.
“Kau bicara apa sih?”
Jay tersenyum memandangku yang begitu bodoh dengan perkataannya “Kau pasti tidak belajar?”
“Apa?” aku melotot kearahnya.
“Ngomong-ngomong kali ini oppa yang menyuruhku membawamu ke sana.”
“Kenapa kau biasa saja?” Jay menambahkan dengan nada tak percaya.
“Memangnya aku harus bagaimana?”. Jay meninggalkankanku di belakang

“Bacaan seperti ini benar-benar membosankan, bagaimana ini bertahan di tasmu?”.
Jay terus menerus mengomtari bukuku yang dipegangnya. Sudah hampir setengah jam dia mendominasi percakapan dengan kritikan, semua buku dalam tasku menjadi sasaran. Sekarang yang tersisa tinggal buku-buku berserakan di atas meja, semuanya menjadi lusuh. Jika tidak sedang menyuapi oppa, akan ku beri pelajaran Jay yang seperti itu.
“Jin Rae, kau akan tetap ikut tes seleksikan?” oppa bertanya.
Aku menagguk mengiakan. Itu akan menjadi kado untuk oppa.
“Kau sudah mempersiapkannya?”
“Sangat keras. Aku sudah lebih dari siap. Oppa tenang saja”. Aku terpaksa berbohong.
Oppa tersenyum puas “Bagus…”
“Aku yakin bisa lolos. Jadi emm” jantungku bahkan tidak seperti berhenti berdetak “Nanti saat tiba waktunya, aku ingin kalian berdua mengantarku”.
Jay yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya langsung memprotes “Tidak-tidak. Aku tidak setuju jika aku dibawa-bawa lagi.”
“Kalian tahu, aku mungkin tidak bisa lagi bermain-main seperti anak muda. Aku akan sangat sibuk dengan kesuksesanku dari hari terakhir ujian.”
“Omong kosong” jawabku singkat.
Oppa hanya tertawa melihatku dan Jay yang bertengkar. Jay benar-benar menyebalkan, aku tidak sungguh-sungguh ingin mengajaknya, tapi ditolaknya menah-mentah.
“Sudah malam, ayo cepat selesaikan urusanmu dan segera pulang. Kau lupa besok ujian ya? Jay bergegas bangkit “Kutunggu di luar”
“Aku bisa pulang sendiri!” Jawabku kesal. Tapi Jay lebih dahulu pergi. Syukurlah seperti itu, karena aku tidak benar-benar merasa berani pulang sendiri. Sikapnya menyebalkan sekali memaksaku cepat pulang, padahalkan dia juga tahu aku sangat merindukan oppa. Tidak menemuinya seminggu penuh, jelas saja aku masih ingin di sini.
“Jin Rae”. Oppa memanggilku yang tengah mengemas buku.
“Duduklah sebentar”. Aku menuturinya.
“Ada yang ingin oppa bicarakan. Sebenarnya sudah lama sekali oppa ingin memberitahumu, tapi entah mengapa baru kali ini waktu itu tiba. Jin Rae ini tentangmu. Aku mencintaimu lebih dari sekedar yang selama ini kau tahu. Lebih dari sekedar kakak dan adik. Lebih dari itu Jin Rae. Aku mencintaimu sebagai seorang wanita. Entah sejak kapan rasa itu muncul, tapi aku melihatnya begitu kuat, jauh sebelum kita memiliki rumah pohon itu bersama. Jin Rae apa kau juga memiliki perasaan yang sama?”
Saat semuanya menjadi begitu rumit, aku tidak lagi berpikir tentang hati dan rasaku yang sesungguhnya. Hanya melihat oppa yang baik-baik saja setiap pagi, sudah lebih dari cukup untuk membuatku tersenyum. Tidak lebih. Kupikir rasaku tidak lagi menjadi penting, namun malam ini tidak ada alasan untukku terus menahannya sendiri. Oppa memiliki perasaan yang sama sepertiku, maka aku akan memperjelas semuanya.
“Sangat, aku sangat mencintai oppa”.
Air mataku menetes tanpa bisa kutahan. Semuanya tumpah begitu saja di pundak oppa. Air mata yang tidak kutahu maknanya, entah kebahagiaan atau justru sebaliknya. Bukan berarti aku tidak senang atas rasa yang seperti ini, hanya saja ada sesuatu yang terasa aneh. Yang aku sendiripun tidak tahu apa itu.
“Pulanglah” oppa melepas pelukannya. “Dan jangan datang dulu selama ujian belum selesai”.
Aku mengangguk menyetujui.

“Kau pergi sendiri ya…”
“Kenapa?”
“Apa maksudmu dengan kenapa?. Kan sudah kubilang aku akan sibuk, termasuk hari ini.”
Sungguh sulit untuk dipercaya, perkataan Jay waktu itu menjadi kenyataan. Padahal aku sengaja menunggunya keluar dari ruang ujian, agar bisa pergi bersama. Tapi justru ditolaknya mentah-mentah. Benar-benar keterlaluan. Menyesal sekali aku berlama-lama di sini sejak tadi.
“Kenapa wajahmu seperti itu? Kau menyesal menungguku ya? Besok-besok jangan lagi menungguku, jika aku ingin pergi aku akan memintamu. Bukan wanita yang seharusnya menunggu.”
Tidak peduli apapun yang keluar dari mulut Jay, tanpa menanggapi sedikitpun waktu itu aku langsung berjalan pergi. Dan sejak saat kami kembali saling mendiamkan satu sama lain. Tidak saling berkomunikasi ataupun bertemu, bahkan sekarang Jay menjadi semakin jarang ke rumah sakit. Atau mungkin dia ke sana saat aku tidak ada. Terlalu enggan untuk menanyakannya pada oppa. Seharusnya tidak akan menjadi separah ini jika dia membalas pesan yang kukirim beberapa hari lalu. Apa boleh buat, dia mengabaikanku atau mungkin menjaga jarak, tanpa sebab yang kutahu.
Pernah sekali kami bertemu di rumah sakit. Dia datang setelah oppa sadar dari kritisnya. Aku sedang tertawa mendengar cerita oppa saat Jay membuka pintu. Mata kami langsung bertemu begitu saja, tapi anehnya Jay membalasnya dengan senyum. Dia menyapaku seperti biasa seolah tidak sedang bertengkar, juga tetap banyak bicara ini itu. Kupikir memang Jay telah melupakannya, tapi tidak begitu setelah keluar dari kamar oppa. Kembali menjadi Jay yang menyebalkan.
Satu lagi yang membuat Jay menjadi misterius, soal hal sibuk itu. Masih belum kutahu hal apa yang menyibukkannya sampai begitu menyebalkan. Sejak dulu dia tidak pernah banyak bercerita tentang privasinya. Aku juga baru sadar sekarang, tidak pernah sekalipun aku mencoba bertanya. Termasuk alamat rumahnya, aku tidak tahu itu. Selain menyesal, tidak ada lagi yang bisa kulakukan.
“Jin Rae.”
Suara oppa menarikku ke alam sadar kembali.
“Kau melamun lagi. Atau kau sakit?” oppa memeriksa keningku dengan sebelah tangannya.
Aku bergumam dalam hati “Apa yang terjadi dengan diriku? Bahkan oppa tepat dihadapanku, tidak ada alasan lain selain oppa yang membuatku melamun. Kenapa ini terjadi, kenapa Jay membuatku melamun? Apa mungkin aku khawatir dengannya? Mungkin begitu, dua minggu tanpa kabar, alasan yang tepat jika aku mengkhawatirkannya. Tapi aku sendiri tidak tahu apa yang kukhawatirkan. Menyebalkan sekali, apa yang terjadi dengan ini.”
“Tidak aku tidak sakit, hanya sedikit lelah setelah tes seleksi kemarin.”
“Maafkan oppa ya, oppa menjadi beban untukmu.”
Buru-buru aku menggelengg kepala dan memegangi kedua tangan oppa kuat-kuat. Meyakinkannya bukan seperti itu maksudku. Hanya aku tidak memiliki alasan lain yang bagus. Tidak mungkin kukatakan aku tengah memikirkan Jay, itu akan membuat oppa tahu aku dan Jay sedang bertengkar. Membuat oppa lagi-lagi harus berpikir cara mendamaikan kami berdua yang seperti anak kecil. Sementara oppa sendiri, keadaanya sangat tidak baik. Sempat kritis beberapa jam, oppa membuatku sangat khawatir, aku tidak ingin itu terulang.
“Seharusnya saat ini oppa bisa membuatmu tersenyum, membawamu kencan atau setidaknya pergi ke rumah pohon bersama. Begitu yang mereka lakukan saat menjadi sepasang kekasih.”
“Aku tidak memerlukan itu. Sebelum ini oppa sudah memberikan semuanya yang membuatku tersenyum, itu lebih dari cukup untukku. Semuanya itu bahkan lebih manis dari hanya sekedar kencan atau apapun yang mereka lakukan, jauh lebih dari itu oppa.”
“Jin Rae jangan menangis lagi setelah hari ini” oppa menatapku serius. “Oppa tidak mau lagi melihatmu menangis, kau harus menjadi wanita yang kuat dan tidak cengeng. Jangan mengeluh pada apapun, hadapi saja tanpa terlalu banyak berpikir.”
“Kenapa oppa bicara seperti itu?”
“Entahlah, oppa hanya ingin mengatakannya padamu.”
“Dengan satu syarat” pintaku menahan tangis. “Temani aku ke Seoul National University”
“Kau diterima di sana?” senyum mengembang begitu lebar dari bibir oppa.
Aku mengangguk. “Aku ingin mimpi kecil itu benar-benar terwujud oppa, aku ingin kita berdua benar-benar sampai di sana.”
Oppa mendekapku dan berbisik “Terimaksih, terimakasih Jin Rae”
“Boleh satu lagi permintaan oppa?”
“Apa itu?”
“Pergilah ke rumah Jay sekarang, antarkan barang untukknya”
Aku hendak menolah sebelum oppa memaksa “Ini bukan hanya permintaan tapi perintah”.
“Tapi bagaimana…”
Belum selesai kalimatku, oppa buru-buru menyela “Jangan khawatir nenek akan datang segera. Oh itu dia.”

Cerpen Karangan: Wulan Aprilia
Facebook: Wulan Aprilia

Cerpen Lollipop (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Miss You Yoona

Oleh:
Yoona terbaring lemah di kasur rumah sakit. Ia mengidap kanker otak stadium 2. Menurut dokter, kanker Yoona sudah termasuk parah. Orangtua Yoona selalu mendoakan yang terbaik untuk Yoona. Pada

Saranghae Sunbae

Oleh:
“Berdiri! Lakukan sekali lagi!” Sungguh gila Sunbaeku yang satu ini, tak ada hentinya dia meremehkanku. Meskipun aku tahu seberapa keras aku berusaha melawannya aku juga tak akan pernah menang.

Painful Smile

Oleh:
“Hyejoo-ya, mianhae.” ujarnya sambil menatapku nanar. Kata-kata itu selalu terngiang di benakku dari 4 tahun yang lalu. Kata-kata perpisahanku dengan Kangwoo oppa. “Aku mencintaimu Hyejoo-ya. Menikahlah denganku.” Kata-kata itu

Love Really Hurt (Part 1)

Oleh:
Ketika rasa itu sudah tak mampu untuk ku rasakan Ketika cinta itu terlalu sakit untuk ku kenang Hanya rasa sakit yang kini membekas dan abadi Yesung menggeliat saat cahaya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *