Lollipop (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 15 June 2016

Aku telah sampai di rumah besar dengan tembok tinggi yang mengelilinya. Yang kata oppa inilah rumah Jay. Terletak di tempat yang sangat nyaman, jauh dari bising suara kendaraan. Memang, jaraknya cukup jauh dari jalan utama. Aku harus berjalan untuk sampai di sini, tapi menyenangkan sekali rasanya, karena sepanjang jalan pohon-pohonan masih bebaris rapi. Juga sepetak hamparan rumput tinggi masih bertahan di sana. Benar-benar asri.
Di sini tidak ada rumah lain selain yang berada di hadapanku. Di sisi jalan yang lain diisi oleh rerumputan setinggi setengeh meter kira-kira. Daunnya sudah mulai kekuningan menjelang musim gugur. Sejenak kupandang kotak besar yang kubawa. Barang ini benar-benar berat, aku juga tidak tahu apa isinya. Oppa tidak mau memberitahuku apa yang di berikannya untuk Jay.
“Sebentar lagi juga kau akan tahu.”
“Jika hanya menunggu sebentar, kenapa tidak sekarang saja” proteku pada oppa.
“Belum waktunya, nanti kau akan mengerti dengan sendirinya.”
Aku sangat membenci teka-teki seperti itu. Jadi begitu Jay sudah menerimanya, aku tidak akan membiarkannya membuka sendiri. Setidaknya aku harus tahu barang apa isinya. Oh tapi aku belum memikirkan bagaimana aku memintanya, kami belum bicara lagi. Rasanya akan aneh tiba-tiba aku datang ke rumahnya setelah kami bertengkar. Bertengkar dengan alasan yang tidak jelas. Bagaimana bisa terjadi? Jika hanya karena sikap Jay yang mendadak dingin membuatku seperti ini, juga alasan sok sibuknya yang bahkan mungkin dia berbohong. Jay seperti menghindariku, tapi juga tidak ada alasan untuk itu. Aku merasa sudah tidak tahan lagi jika Jay terus menghindar seperti ini. Aku harus mengakhiri sekarang juga, ia, aku harus bertanya alasannya. Tuhan, semuanya terasa aneh.
Suara bel berdenting semenit yang lalu, tapi tidak ada yang keluar. Mungkinkah tidak ada orang di rumah?
“Jin Rae”
Suara yang tidak asing lagi di telinga, Jay. Aku berbalik ke arahnya dan mendapati sesuatu yang sangat asing. Jay mengenakan setelan jas lengkap dengan sepatu kulit yang mengkilat, juga selembar dasi yang mengikat leher. Bahkan rambut coklatnya tertata rapi.
“Jangan melihatku seperti itu”
Aku tersenyum malu “Kau berbeda sekali”
“Aku tahu yang kau pikirkan, aku sangat tampan bukan?”
Senyum malu-malu itu berubah menjadi tawa yang tidak bisa kutahan, meledak begitu saja.
Jay mencibir kesal “Mau apa kau ke sini? Itu untukku?”
“Kenapa kau berpakaian seperti itu?” tanyaku penasaran.
“Jawab dulu pertanyaanku!”
“Tentu saja, untuk siapa lagi kalau bukan kau”
“Ayo masuk” Jay menarik tanganku. Namun, aku menahannya. Melihat itu, Jay menatapku bingung. “Oh ini, aku membatu ayah bekerja. Sudahlah tidak penting. Ngomong-ngomong kau tahu alamatku dari siapa? Oh aku tahu, dari pacarmu iakan? Bagaimana keadaannya? Aku sibuk sekali sampai tidak sempat ke sana akhir-akhir ini, tapi tidak masalah bukan. Aku yakin dia akan baik-baik saja saat kau tetap tinggal di sisinya. Emm, aku penasaran sekali apa yang dia berikan untukku…”
Senyumku mengembang puas, melihat Jay yang banyak bicara sambil terus berjalan seperti ini. Mengingatkanku ketika pulang sekolah. Hah, rasanya lega sekali. Akhirnya, semuanya kembali seperti sediakala. Aku sangat merindukan Jay, Jay yang seperti ini. Jangan diam lagi ya, kumohon.
Dering ponselku menghentikan langkah kami berdua. Seketika Jay menghentikan pembicaraannya dan memandangku menyuruh. Buru-buru kutarik ponsel dari saku celana dan mendapati nenek yang tertera di sana. Aneh, nenek menelponku?
“Tidak apa-apa angkat saja!”
Kuaktifkan speakernya agar kami dapat mendengarnya bersama, maksudku biar Jay nanti yang menjawab.
“Jin Rae kau di sana?”
“Ia nek, Jin Rae sedang bersamaku. Nenek ingat, aku Jay teman Jin Rae. Kami mendengarkan nenek bersama”
“Jin Rae bersamamu nak?” nenek mengulangnya. Suaranya hampir seperti berbisik. Jay memandangku mengangkat alisnya, keningnya berkerut.
“Dia di sebelahku”
“Kalian berdua datanglah segera”.
Ada yang terjadi dengan oppa, pasti begitu. Nenek tidak mungkin menelponku dengan alasan lain.
“Apa yang terjadi dengan Jun So nek?” Jay bertanya pelan. Aku bisa merasakan Jay yang khawatir, sama sepertiku.
“Dia sudah pergi.”

“Seharusnya kau bilang dulu kalau mau pulang. Nenekkan bisa menjemputmu di stasiun atau paling tidak menyiapkan masakan kesukaanmu. Bukan seperti ini.”
Aku baru turun ke dapur saat nenek memotong sayuran untuk makan malam. Sore tadi aku baru sampai di rumah, setelah hampir satu tahun pergi. Tidak ada yang berubah sedikitpun dari rumah ini. Masih di tempat masing-masing, tidak bertambah ataupun berkurang. Hanya saja, sekarang tidak ada lagi seorang yang ketiduran di kamarku karena menunggu. Tidak ada yang mengacak-acaknya, semuanya rapi tanpa tersentuh. Dan rumah di sebelah telah di tempati pasangan suami istri dengan anaknya yang baru belajar mengayuh sepeda. Mereka langsung menyapaku sore tadi, ramah sekali. Setidaknya nenek tidak sendirian.
“Nek, sebelum makan malam aku ingin pergi dulu”
Nenek memandangku sejenak, menerawang apa yang sedang kupikirkan. Sebelum akhirnya tersenyum dan mengangguk “Pergilah.”
Cahaya bulan benderang malam ini, kemilaunya terpantul dari air danau yang penuh. Dengan sangat pelan aku mengayuh sepeda melewatinya, hingga tempat tujuanku terlihat di depan mata. Rumah pohon. Kusandarkan sepeda sebelum bergerak naik, tapi butuh waktu sejenak untuk menarik pintunya. Memenuhi janjiku, untuk tidak menangis.
Meja kecil di sudut ruangan masih tetap berada pada tempatnya, sudah tidak ada buku apapun yang tersisa. Hanya sebuah bingkai kaca bersih yang tinggal, sebuah gambar diri pemiliknya. Jin Rae, Jun So dan Jay park. Berlatar langit malam yang gelap, senyum kami masing-masing begitu mengembang. Saat itu, dari kami pasti tidak menduga akan melewati masa seperti sekarang. Terlalu mengejutkan.
Seharusnya, malam ini akan menjadi malam yang paling bahagia. Saat aku duduk bercengkrama di sini bersama dua laki-laki itu. Bercerita panjang lebar, melepas kerinduan dan tertawa hingga pagi. Semuanya menjadi senyap.
Hal yang sangat kusesali, gambar kampus itu. Kampusku sekarang. Mimpi–mimpi kami. Kadoku yang belum sempat terulur. Waktu menghentikan semuanya, oppa pergi sebelum kami masuk ke kampus itu bersama. Mimpi itu pecah, hancur berkeping. Tanpa bisa kurangkai kembali. Dan meninggalkan banyak sekali perubahan pada diriku.
“Jin Rae”
Buru-buru kuseka air mata yang mengalir, berbalik ke arah sumber suara. Jay berdiri di sana, masih bertahan dengan setelan jasnya. Aku menatapnya dalam-dalam sebelum kusunggingkan senyum termanis yang kupunya.
“Kau berjanji tidak akan menangis kembali.”
Seharusnya bukan Jay yang mengatakan itu, seharusnya laki-laki yang berjalan di sampingnya yang harus mengatakan kepadaku. Tapi Jay jelas-jelas berjalan sendiri, tidak ada siapapun di sisinya. Tidak ada laki-laki yang kutunggu. Jadi inilah kenyataannya, oppa benar-benar telah pergi. Pergi untuk selamanya.

Cerpen Karangan: Wulan Aprilia
Facebook: Wulan Aprilia

Cerpen Lollipop (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cry For Love

Oleh:
“Saudara Jeon Jungakook, siapkah anda menjadi suami yang baik untuk Park Sooyoung?” “Ya, saya siap” “Saudari Park Sooyoung, siapkah anda menjadi istri yang baik untuk Jeon Jungakook?” “Ya, saya

520 (I Love You)

Oleh:
Marie POV Angin bergembus lembut menerpa wajahku. Kupincingkan mata untuk menantang angin dan menatap kearah aula musik yang terbuka melalui sisi samping pohon maple yang besar. Ini adalah kegiatanku

We Are Artis Bangkrut (Part 1)

Oleh:
Pernahkah kamu punya sahabat? Aku pernah. Namanya Han Go An. Dia seorang laki-laki labil. Kalau bicara seperti perempuan. Dia suka memakai pakaian berwarna cerah yang sangat mencolok. Dia suka

The Story of Two Daughters (Part 2)

Oleh:
Lily masih bingung. Begitu juga dengan Anggrek. Tapi berbeda dengan Lily, jika Lily bingung karena munculnya Arwah Melati dalam mimpinya, namun Anggrek jauh berbeda kebingungannya dengan Kakaknya. Dia malah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *