Love Really Hurt (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 26 December 2013

Ketika rasa itu sudah tak mampu untuk ku rasakan
Ketika cinta itu terlalu sakit untuk ku kenang
Hanya rasa sakit yang kini membekas dan abadi

Yesung menggeliat saat cahaya matahari yang menembus tirai tipis itu menerpa wajahnya. Malam memang sudah berlalu dan sekarang giliran matahari yang akan menggantikan bulan melaksanakan tugasnya menyinari bumi ini. Yesung beberapa kali mengerjapkan matanya yang masih terasa berat, rasa kantuk seolah menyuruhnya kembali bermalas-malasan di kamarnya yang di dominasi warna putih itu. tapi seolah tak rela bekerja sendirian, matahari semakin semangat memanasi bumi yang membuat para penghuninya untuk segera beranjak dari tempat tidur mereka. Dengan masih memejamkan matanya yesung melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut.

Yesung sudah bersiap pergi ke kampusnya, celana jins dan sweeter tipis yang dipadukan dengan kaos putih membalut tubuh rampingnya. Pakaian apapun yang di kenakannya tidak mengurangi ketampanan yang di miliki yesung. Ya dia memang tampan bahkan di kampusnya dia menjadi idola para gadis. Wajah dingin yang dihiasi sepasang mata kecil namun bisa berpengaruh besar untuk sistem kinerja jantung siapapun yang menatapnya. Sedikit berlebihan tapi begitulah kenyataannya. Yesung tersenyum saat menatap pantulan dirinya dicermin “ah aku memang tampan” desisnya sambil mengenakan topi dan kacamata andalannya.

Suasana kampus pagi itu sudah ramai dan seperti biasa saat menelusuri koridor kampus, yesung akan mendengar teriakan-teriakan tak jelas dari gadis-gadis centil itu. atau tatapan-tatapan yang sama sekali tak membuat yesung tertarik.
“hyuung” yesung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara itu. suara yang sudah tak asing lagi, siapa lagi yang akan teriak-teriak seperti itu kalau bukan si evil. Dan benar saja dia adalah Cho kyuhyun sahabat yesung.
Kyuhyun menghampiri yesung dengan senyuman khasnya. Senyuman yang mampu membuat para gadis yang berdiri di sekitar mereka menahan nafas sejenak.

“wae geurae? Sepertinya kau terlihat senang hari ini.” Yesung melepas kacamatanya sambil melanjutkan perjalanan.
kyuhyun mengikuti yesung dan mensejajarkan langkah mereka. “aniyo, aku hanya ingin senyum saja hyung, dan lihatlah para gadis-gadis itu terpesona dengan senyuman ku” kyuhyun semakin mengembangkan senyumannya yang memang sangat menawan.

Yesung memperhatikan para gadis-gadis yang memang dari tadi tak pernah melepas pandangannya dari mereka berdua. “ah kau sama saja dengan eunhyuk, kerjaan kalian hanya menggoda para gadis”
“cobalah kau lebih sering senyum hyung, biar kau terlihat tampan seperti ku. Aku bahkan bisa menghitung berapa kali kau tersenyum sejak bulan lalu” kyuhyun menggerak-gerakan jarinya seolah-olah memang sedang menghitung. Plaakk… sebuah jitakan berhasil mendarat di jidatnya yang lebar itu.
“aahhh appooo” kyuhyun memegang jidatnya yang sedikit berdenyut.
“ya.. tanpa senyum pun aku sudah terlihat sangat tampan. Apakah kau tak pernah memperhatikanku eoh? Coba lihat ini…” yesung berdiri di depan kyuhyun dan membuka topinya agar kyuhyun bisa melihat wajahnya yang memang sangat tampan.
“aaiisshh shireo… wajahmu itu tak tampan sama sekali hyung” kyuhyun mengalihkan pandangannya.
“mworago?” plaakk…. satu jitakan lagi mendarat dengan mulus di puncak kepala kyuhyun.
“aappoo…” kyuhyun meringis sambil mengelus-ngelus kepalanya. “yaa hyung, kenapa kau senang sekali memukulku?” kyuhyun meringis frustasi.
“karena kau memang pantas mendapatkan jitakan mautku. Bisa-bisanya kau mengatakan aku ini tak tampan. Asal kau tau saja aku ini hyungmu yang paling tampan. Arraso?” yesung memperjelas kalimat terakhirnya itu denagan sedikit penekanan.
“jinja? tapi kau tak lebih tampan dari ku” kali ini kyuhyun langsung kabur menyelamatkan jidatnya yang malang itu.
“yaa…. mau kemana kau bocah setan?” yesung mengejar kyuhyun yang sudah melesat dari tadi. Kyuhyun hanya tertawa melihat yesung yang kesal karena ulahnya itu.

Flashback
Setangkai bunga mawar segar sudah di tangan yesung. dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, yesung mengarahkan mobilnya menuju rumah Lee jung rim. Wanita yang 2 tahun terakhir ini mengisi hari-harinya. Memang sudah menjadi kebiasaan dari awal mereka pacaran, setiap hari yesung akan memberikan jung rim setangkai bunga mawar sebagai tanda cinta yesung yang setiap hari bertambah dan bertambah.

Mobil yesung sudah terparkir di depan rumah yang berpagar warna coklat itu. dan tak lama kemudian seorang gadis cantik keluar dari rumah itu. mini dress warna baby pink membalut tubuh indahnya. Dan tas mungil dengan warna senada menggantung indah di pundak kirinya.

Jung rim melambaikan tangannya ke arah yesung dan seperti biasa senyum manis selalu menghiasi bibir mungilnya. Yesung keluar dari mobil dan menghampiri jung rim.
“untukmu..” yesung memberikan bunga mawar itu kepada jung rim dan mengecup dahi jung rim lembut.
Jung rim mencium bunga favoritenya itu dan membiarkan wanginya menjalar ke dalam rongga hidungnya.
“kyeopta… gomawo oppa” jung rim menggandeng tangan yesung manja.
“kajja..” yesung menggenggam tangan jung rim menuju mobil dan membukakan pintu untuknya.

Mobil mulai melaju di jalanan kota seoul yang sudah ramai. Canda tawa nampaknya selalu menghiasi perjalanan mereka. Rona bahagia terpancar dari wajah dua anak manusia yang saling mencintai ini. Tak lama kemudian mobil yesung sudah terparkir di depan sebuah pusat perbelanjaan. Ya, tujuan mereka hari ini adalah toko buku. Yesung hendak menemani sang kekasih mencari buku untuk tugas kuliahnya. Mereka memang kuliah di universitas yang sama tapi berbeda jurusan.
Jung rim mulai memilih-milih buku yang hendak di carinya, sedangkan yesung dengan setia mengikuti dari belakang. Beberapa buku sudah di tangannya, jung rim kembali mengelilingi toko buku itu untuk mencari beberapa buku lagi.
Saat keluar dari toko buku, tanpa terasa perut mereka sudah meminta untuk di isi. Dan sepasang kekasih itu mulai melangkahkan kaki mereka menuju tempat makan yang ada di pusat perbelanjaan itu dengan tangan yang tak pernah terlepas satu sama lain.

Yesung sedikit menarik kursi itu dan mempersilahkan sang kekasih duduk
“gomawo oppa…” jung rim tersenyum.
Saat sedang makan tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang menatap mereka tanpa henti. Dua orang paruh baya itu nampak geram melihat jung rim dan yesung.
“yaa… lee jung rim” lelaki paruh baya itu menghampiri jung rim dan yesung yang di ikuti wanita di sebelahnya yang kemungkinan adalah istrinya.
Mendengar seseorang menyebut namanya, jung rim menoleh.
“a appa eomma..” jung rim gelagapan melihat kedua orang tuanya yang sudah berdiri di hadapan mereka kini.
Menyadari hal itu yesung langsung berdiri dan sedikit membungkukan badannya memberi salam kepada orangtua jung rim.
“sedang apa kau disini?” tuan lee menaikkan suaranya tanpa peduli dengan tatapan-tatapan orang-orang yang sedang berada di tempat itu.
Tuan lee melirik yesung yang sedari tadi berdiri di samping anaknya. “lagi-lagi kau bersama lelaki ini, apa kau tak punya malu eoh?” nyonya lee menarik tangan anaknya agar menjauhi yesung dan yesung hanya membalas tatapan mata ayah jung rim yang terlihat begitu merendahkannya tanpa berkata apa-apa.
“dan kau, apa kau merasa pantas bersama anakku?” tuan lee menunjuk yesung
“appaaa..” jung rim menarik tangan ayahnya agar menghentikan kata-katanya yang sangat merendahkan yesung.
Tuan lee menepis tangan jung rim “diam kau lee jung rim. Mulai sekarang jauhi anakku. karena dia sudah di jodohkan dengan lelaki yang jauh lebih baik dan lebih pantas hidup dengannya” suaranya menggelegar dan begitu memekikan telinga.
Deg… seperti di sambar petir di siang hari, yesung hanya diam terpaku mendengar kata-kata ayah jung rim. Ribuan jarum menusuk-nusuk hatinya. Sakit bahkan teramat sakit.
“appaa” hanya itu yang mampu keluar dari bibir jung rim, air matanya sudah meluncur dengan indah di pipi mulusnya.
Tuan dan nyonya lee menyeret jung rim pergi dari tempat itu, tanpa memperdulikan jung rim yang dari tadi meronta tak ingin dipisahkan dari yesung tanpa memperdulikan perasaan anaknya yang teramat sangat mencintai lelaki yang mereka hina itu.
“eomma appa lepaskan aku jebal…” jung rim memelas berharap orang tuanya mau berbaik hati melepaskan tangannya dan membiarkannya tetap bersama dengan yesung.

Dari kejauhan dia bisa melihat yesung yang masih terpaku di tempatnya berdiri tadi. Dia bisa merasakan sakit yang di rasakan yesung kini. Hatinya pun sama sakitnya. Sekuat tenaga jung rim berusaha melepaskan tangannya tapi tentu saja tenaganya kalah kuat dengan tenaga kedua orang yang kini terlihat begitu kejam di mata jung rim.

Yesung hanya menatap nanar kepergian jung rim dan kedua orang tuanya tanpa bisa berbuat apapun. Hubungan jung rim dan yesung memang tak pernah di restui oleh kedua orangtua jung rim. Selama ini mereka pacaran sembunyi-sembunyi dan ini untuk kedua kalinya mereka kedapatan sedang bersama.

Sudah 1 minggu sejak kejadian itu yesung dan jung rim tak pernah bertemu. Bahkan di kampus pun yesung tak pernah bisa menemui kekasihnya itu. setiap hari dia mendatangi rumah jung rim tapi sekalipun dia tak pernah bisa bertemu dengan jung rim.

Sama seperti hari ini, mobil yesung sudah terparkir di depan rumah jung rim. Sedikit ragu yesung membuka pintu mobilnya, tapi rasa rindu yang sudah tak terbendung lagi dan khawatir yang sudah tak bisa yesung tahan meyakinkannya untuk memasuki rumah mewah itu.
Tuan lee membuka pintu “mau apa lagi kau datang ke sini?” tuan lee menyambut yesung dengan sambutan yang tak bisa di bilang ramah tanpa mempersilahkannya masuk.
“aku hanya ingin bertemu jung rim, apa dia ada di rumah” yesung membalas tuan lee datar. Dia seolah sudah terbiasa dengan sikap tuan lee yang tak pernah bisa menerima keberadaannya.
Tuan lee menatap yesung dengan tatapan mematikannya. “cih.. berani-beraninya kau mencari anakku. Bukankah aku sudah pernah bilang, jangan menggangu jung rim lagi.”
Tanpa memperdulikan tuan lee yesung berteriak memanggil-manggil nama jung rim. Berharap wanita itu keluar dan menemuinya.
“jung rim-ah.. lee jung rim. Oppa di sini. Apa kau ada di dalam” yesung berteriak sekeras yang dia bisa. Tapi nihil, sama sekali tak ada balasan dari jung rim.
“yaa.. apa kau sudah gila? Bisa-bisanya kau teriak-teriak di rumah orang seperti itu” tuan lee geram
“JUNG RIM-AH…” lagi-lagi yesung tak memperdulikan tuan lee.
Kesabaran tuan lee sudah mencapai batasnya “yaa… kau akan pergi sendiri dari tempat ini atau aku panggilakan keamanan”
Nekat, yesung hendak menerobos masuk ke dalam rumah itu sebelum keamanan menyeretnya untuk meninggalkan rumah jung rim.
“LEE JUNG RIM KELUARLAH… OPPA DATANG MENJEMPUTMU. JUNG RIM-AHH..” yesung teriak seperti orang kesetanan. Dia sudah tak tahan dengan gemuruh di dadanya. Tuan lee hanya menyeringai melihat tingkah yesung yang membuatnya begitu muak.
Yesung tersungkur di depan pagar itu. Satu persatu butiran bening itu meluncur di pipi yesung. Entah kenapa dia begitu cengeng kalau sudah menyangkut jung rim. Dia sudah benar-benar tak tahan dengan sesak yang memenuhi rongga dadanya. Tanpa memperdulikan tatapan-tatapan orang yang melewatinya dia tetap membiarkan posisinya seperti itu.

Hari-hari bahkan minggu sudah berlalu kali ini yesung mendatangi rumah jung rim lagi. Saat sudah sampai di depan rumah jung rim, yesung tak langsung memasuki rumah itu. yesung akan menunggu orang tua jung rim meninggalkan rumah baru dia akan keluar dan menemui jung rim.

Hari sudah hampir gelap sudah seharian yesung berdiri di depan rumah itu tapi sama sekali tak ada tanda orangtua jung rim keluar dari rumah mereka. Bahkan tak ada tanpa ada orang yang menghuni rumahitu. Yesung sudah hampir putus asa, saat hendak meninggalkan rumah jung rim, nampak seorang ahjjuma yang hendak memasuki rumah itu yang membuat yesung mengurungkan niatnya.

Yesung menghampiri ahjjuma itu hendak menanyakan di mana keberadaan jung rim. Ahjjuma yang menyadari keberadaan yesung menghentikan langkahnya. Seolah sudah paham dengan tujuan yesung mendatanginya, ahjjuma itu hanya menyerahkan sepucuk surat yang membuat yesung mengernyitkan keningnya bingung.
“surat ini di titipkan untuk anda tuan, sudah beberapa hari ini saya menunggu anda tapi sepertinya ada jarang datang kesini lagi” hanya itu yang di katakan sang ahjjuma sebelum dia memasuki rumah itu kemudian menutup pagarnya kembali.
Yesung terpaku melihat surat yang ada di tangannya itu. tangannya bergetar entah perasaan apa yang membuatnya begitu gugup. Yesung menarik nafas panjang sebelum akhirnya membuka surat itu dengan rasa penasaran yang sudah membuncah.
Satu persatu kata-kata yang tertoreh di kertas putih itu mulai memasuki kepala yesung. Dengan susah payah yesung mencerna setiap kata demi kata. Kalimat demi kalimat.

Dear oppa
Kau adalah sosok pria yang mampu menciptakan warna di hidupku yang abu-abu bahkan tak berwarna. Kau adalah sosok pria yang mampu mendobrak dinding hatiku yang sudah terlanjur mengeras. Kau adalah sosok pria yang mampu mencairkan hatiku yang sudah terlalu lama membeku. Yaa.. hanya kau yang mampu melakukan itu oppa.
Senyumanmu yang begitu indah adalah senyum favoritku dan selalu ku rindukan. gelak tawamu, tingkahmu yang begitu menggemaskan selalu mampu menciptakan tawa di bibirku. Hari-hari yang telah berlalu bahkan tahun-tahun yang telah kita lewati bersama, semuanya begitu indah. Aku tak akan pernah bisa melupakan itu semua
Oppa, aku begitu mencintaimu amat sangat mencintaimu. Maafkan aku tak bisa mempertahankan cinta kita lagi. Aku benar-benar tak bisa menolak keinginan orang tua ku. Mereka sudah menjodohkan ku dengan lelaki pilihan mereka. Dan penikahanku akan berlangsung satu minggu lagi.
Maafkan aku oppa, selama ini aku tak pernah memberikan kebahagiaan kepadamu. Terima kasih untuk semua cinta yang telah kau berikan untukku. Terima kasih sudah menjadi kenangan terindah di hidupku.
Aku berharap semoga kau cepat mencari penggantiku dan menemukan kebahagiaamu. Mianhae jeongmal mianhae
Saranghae…

Lee jung rim

Tangan yesung bergetar, selembar surat itu pun tak mampu untuk di genggamnya. Matanya mulai memanas, air matanya sudah menggantung di pelupuk mata yesung. sekali saja dia mengedipkan mata bisa di pastikan air mata itu akan meluncur dengan deras. Mengingat wanita yang amat di cintainya akan menikah dengan lelaki lain satu minggu lagi. Tunggu, yesung kembali memungut surat yang sudah terbawa angin. dia melihat tangggal yang tertera di surat itu. tidak, surat itu sudah di buat beberapa hari yang lalu.

Yesung mengingat ingat tanggal berapa sekarang. satu hari lagi. Ya pernikahan itu akan berlangsung besok pagi. Yesung langsung merosot, kakinya seolah tak mampu menopang berat badannya. Langit seolah runtuh dan menimpanya kini. Bahkan untuk berdiri pun dia sudah tak sanggup. Yesung terduduk di depan rumah jung rim, gagal sudah pertahanannya. Menangis, yesung hanya mampu menangis. Dia menangis sejadi-jadinya berharap air mata itu mampu membasuh luka yang teramat perih di dalam sana. Dan yang lebih membuatnya sakit, dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan cinta mereka.

Yesung berteriak sekencang-kencangnya berharap jung rim mampu mendengar suaranya dan membatalkan pernikahan itu. tapi percuma semua itu sia-sia, jung rim tak akan bisa mendengar suaranya.

Flashback off

Sejak berpisah dari jung rim, yesung tak pernah lagi terlihat dekat dengan yeoja. Dia bahkan menutup dirinya. Setiap ada wanita yang mendekatinya dia selalu menghindar. Sahabat-sahabatnya pun selalu berusaha mencari kan pacar untuk yesung, mereka bahkan setiap hari selalu punya rencana mengatur kencan untuk yesung. Tapi selalu gagal. Satu tahun sudah berlalu sejak kejadian itu. sampai saat ini pun yesung masih belum bisa melupakan jung rim. Dia berjanji akan selalu menunggu jung rim sampai kapanpun. Tak peduli wanita itu sudah menikah bahkan hampir mempunyai anak, yesung akan tetap menunggunya.

Gila, ya dia memang gila. Gila karena terlalu mencintai sosok wanita yang bernama Lee jung rim. Begitu juga dengan jung rim, walaupun dia sudah menikah, bahkan kini perutnya sudah membuncit dan sebentar lagi akan melahirkan. Dia masih amat sangat mencintai yesung. Kalau bukan karena paksaan orangtuanya dia tak akan pernah mau menikah dengan lelaki yang tak pernah ia cintai.

Ke empat pria yang memiliki ketampanan di atas rata-rata itu berjalanan menelusuri koridor kampus mereka. Lee eunhyuk sang casanova, yang terkenal playboy. Si tampan Lee donghae. Si cool Kim yesung dan sang maknae Cho kyuhyun. Tujuan mereka kali ini adalah kantin tentu saja.
“oppaa…” mereka menoleh saat seorang gadis cantik menghampiri mereka.
Siapakah gadis itu?

Seorang gadis terisak di sudut ruangan. Entah masalah apa yang menimpanya, namun isakan itu semakin menjadi-jadi dikala temannya menghampiri dan berusaha menenangkannya.
“Seung Mi, tak apa-apa. Laki-laki masih banyak di dunia ini.” Temannya mengusap-usap pundak gadis yang dipanggil Seung Mi itu.
Seung Mi menangis di pelukan temannya.
Mereka berdua sudah berdiri di lantai tertinggi sebuah gedung. Pemandangan begitu indah dan jelas. Matahari sore hari sepertinya juga sudah bersiap untuk istirahat.

Seung Mi meneguk sebotol minuman yang sempat dibelikan oleh temannya. “Go Eun, apa cinta selalu berakhir seperti ini?”
Temannya yang ternyata bernama Go Eun itu menoleh, menatap Seung Mi penuh prihatin. Seung Mi masih memandang ke depan tanpa harapan. “Seung Mi, cinta tidak seperti yang kau bayangkan. Mungkin untuk saat ini, cinta itu belum datang padamu.”
“Sampai kapan? Sepertinya aku memang tidak ditakdirkan untuk mencintai seseorang.”
“Hei, kenapa kau bicara seperti itu? Takdir itu hanya Tuhan yang tahu. Aku yakin kau akan menemukannya.”
“Sewaktu SMA, orang yang aku anggap lebih dari teman, memilih gadis lain yang lebih cantik, kaya dan pintar dariku. Sialnya lagi, dia mencurigaiku karena aku iri pada gadis yang ia sukai itu.” Seung Mi tersenyum getir mengingat kisah cintanya. “Dan sekarang, aku kira dia orang yang akan menjadi jodohku, cinta sejatiku, tapi ternyata, dia hanya memanfaatkanku untuk bisa mendekati Han Ye Jin. Bodohnya aku…” Seung Mi menutup muka dengan kedua tangannya.
Go Eun merangkul pundak Seung Mi. “Kawan, kau pasti akan menemukan laki-laki yang kau cari. Pasti itu.”
“Entahlah. mungkin aku akan menyendiri terus untuk waktu yang lama. aku sudah trauma dengan laki-laki, dan tidak ingin mempercayai mereka lagi. Terlalu sakit.”

“Ayah, bolehkah aku melanjutkan studi ke Inggris?” Seung Mi sudah duduk di ruang kerja ayahnya.
Sang Ayah yang sedang sibuk menulis agendanya tiba-tiba menghentikannya, “Kenapa tiba-tiba kau berubah pikiran?”
“Aku hanya ingin menambah ilmu dan pengalaman, ayah. Aku pikir belajar mengurus peternakan keluarga kita tidak cukup hanya melihat ayah bekerja, tapi aku juga harus menemukan sesuatu yang penting untuk kemajuan peternakan kita ayah. Kumohon..”
Tanpa sedikit keraguan, ayahnya menyetujui permintaan Seung Mi. Seung Mi langsung memeluk ayahnya senang. Dalam hati ia juga merasa bersalah, ‘Ayah, maafkan aku. Aku tidak ingin meninggalkan ayah sendiri disini, aku juga tidak ingin meninggalkan peternakan ini. Maafkan aku tidak mengatakan hal sejujurnya padamu. Aku akan benar-benar belajar rajin untuk menjadi seorang veteriner yang berkompeten demi malangsungkan peternakan ini, ayah.’

Seung Mi kembali ke kamarnya. dia sedikit lega tapi juga bersalah pada sang ayah. Tujuan ia ke Inggris sebenarnya bukan karena ia ingin melanjutkan studinya, namun ia hanya ingin melupakan masalah yang menimpanya selama ini. Sebenarnya, sangat berat hati meninggalkan ayah seorang diri dan peternakan yang sudah menjadi ladang ilmu baginya melebihi ilmu yang ia dapat semasa kuliah.

Siang itu, Seung Mi sudah siap dengan kopernya. Ia akan berangkat ke Inggris.
“Kau mau kemana?” Saudara tirinya yang bernama Jin Yi berdiri di hadapan Seung Mi. Sedikit terlihat kontras dengan pakaian yang dikenakan oleh Seung Mi. Meski dia akan pergi ke Inggris, tapi ia tetap memilih pakaian yang sederhana dan casual. Sedangkan Jin Yi, memakai dress yang cukup glamour. Maklum, dia seorang model.
“Jin Yi, aku akan ke Inggris.” Seung Mi tetap menunjukkan senyum meski tatapan tidak suka dari Jin Yi. Seung Mi berjalan meninggalkan Jin Yi.
“Tidak mungkin.”
“Kenapa? Bukankah ini yang kau harapakan? Jika aku tidak ada, kau akan mendapatkan segalanya. Bukankah kau harusnya senang, adikku?” Seung Mi menoleh kembali ke Jin Yi yang lebih muda 1 tahun darinya.
“Maksudmu?” Jin Yi merasa sebal dengan senyuman Seung Mi yang terkesan mengejeknya. Ia terbakar api emosi melihat punggung Seung Mi yang semakin menjauh.
Jin Yi duduk di kursi makan dan meminum sebotol air putih dingin. Ibunya datang membawa sekantong belanjaan dari supermarket.
“Kau kenapa?” Ibunya memagangi wajah anaknya yang memerah karena teredam emosi.
“Ibu, ini tidak adil. Kenapa gadis itu yang diijinkan ayah untuk ke Inggris? Padahal aku yang jelas-jelas mendapat beasiswa tidak boleh kesana. Kenapa ibu?”
“Jin Yi, kau tenangkan pikiranmu. Ibu juga awalnya kaget dengan berita itu. Tapi setelah ibu pikir-pikir, ada baiknya juga dia pergi.”
“Jadi ibu mendukung dia? Ibu berpihak padanya?” Jin Yi berdiri kesal. Semakin kesal dengan kata-kata ibunya.
“Bukan begitu maksud ibu. Saat dia pergi, kesempatan yang bagus untukmu mencari perhatian ayah. Kau tahu kan, selama ini, perhatian ayahmu lebih ke gadis sial itu?”
Jin Yi duduk kembali dan tersenyum. Sepertinya dia tahu maksud perkataan ibunya itu. Ya, dia bisa mendapatkan perhatian ayah tirinya itu. Ayah tirinya yang tidak suka akan profesinya sebagai model, dia yakin bisa menunjukkan hal-hal yang menarik untuk membuat ayah tirinya lebih perhatian padanya.
“Kau harus menunjukkan minatmu pada peternakan ini. Bagaimanapun juga, ini akan menjadi aset yang menguntungkan bagi kita jika dia meninggal.”
“Ibu, kenapa ibu bicara seperti itu..” Seung Mi tersenyum.
Tanpa mereka sadari, asisten ayah mendengar percakapan kedua orang itu. Dia memang tidak terkejut dengan hal semacam itu, karena dari awal kehadiran mereka dalam keluarga ini sudah menimbulkan kecurigaan dan sikap yang tidak senang dengan keluarga ini.

Inggris, pemandangan yang luar biasa. Kota-kota yang tertata rapi dan indah. Seung Mi mengitari pandangannya, dan semua berwajah asing. Ya, ia sadar sekarang bukanlah di Korea atau Asia, tapi Eropa.
Dia sudah berada di Hotel. Sebenarnya dia menolak layanan ini dari ayahnya, namun sang ayah memintanya untuk menginap di hotel sembari mencari apartemen yang layak huni. Ya, dia hanya menerima bantuan dari sang ayah itu saja, selebihnya dia sendiri yang akan mengurusnya.
“Excusme, I need some room. Not VIP but middle class.”
Sang resepsionis yang memakai seragama berwarna coklat itu tersenyum, dia membuka komputernya untuk mengecek kamar yang masih kosong.

Seorang laki-laki berwajah Asia berdiri di sebelah Seung Mi. Dia juga memesan kamar. Seung Mi tampaknya kesal begitu tahu bahwa sang resepsionis itu lebih memilih melayani laki-laki di sebelahnya. Memang tampan wajahnya, tapi masalah pelayanan seharusnya jangan dicampr adukkan dengan masalah perasaan.

“Yes, this is your key’s room Mr Park.” Resepsionis tadi memberikan kunci pada laki-laki itu. Seung Mi terbengong melihatnya. Dia yang sudah datang sebelumnya masih harus menunggu, sedangkan dia?.
“I’m sorry Miss, hanya tersisa satu kamar VIP. Tuan itu sudah memesan kamar non VIP tadi.” Ucapnya dengan bahasa inggris yang cukup Seung Mi pahami meski sulit.
“Apa?” Seung Mi lemas seketika. Laki-laki yang masih berdiri di sebelahnya itu langsung pergi namun dicegah oleh Seung Mi.
“Tunggu, kau orang Korea kan?” Seung Mi bertanya dengan bahasa Korea.
“Excusme?” Dia memandang heran Seung Mi.
“Tidak bisakah kita tukaran kamar?” Kali ini Seung Mi memakai bahasa Inggris lagi.
“I’m sorry, this is mine.”
“But, I come here first.” Seung Mi masih ngotot dengan pendiriaannya.
“Silahkan kau tanyakan pada resepsionis itu. Aku sudah memesannya sebelum sampai kemari.” Laki-laki itu pergi, meninggalkan tatapan kesal dari Seung Mi.

Dengan terpaksa, ia harus memberikan semua jatah uang penginapan untuk mengambil kamar VIP itu.
Semua badannya terasa pegal. Seung Mi merebahkan badannya ke kasur empuk dan luas itu. Tiba-tiba perutnya terasa lapar. Ia memilih pergi langsung ke restoran di bawah daripada memesan ke pelayan untuk diantar ke kamarnya.
“Oh.. ” Seung Mi terkejut begitu bertemu dengan laki-laki menyebalkan itu lagi di koridor hotel. Tapi sepertinya dia tampak cuek dengan reaksi Seung Mi. “Dasar, laki-laki sialan.” Seung Mi mencerca laki-laki itu dengan bahasa Korea. “Merasa sok keren, sok cool. Padahal?” dia masih berjalan sambil berbicara sendiri.
Sepertinya laki-laki itu mendengar dan memilih tidak bereaksi. “Kau pikir aku tidak tahu maksudnya?” ucapnya dalam bahasa Korea.

Cerpen Karangan: Oktafia Mega Nanda
Facebook: Oktafia Mega Nanda

Cerpen Love Really Hurt (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Superstar

Oleh:
“Cuaca Incheon saat itu sangat cerah. Matahari bersinar seakan-akan selalu menyinari setiap langkah kakiku. Angin saat itu berhembus lumayan kencang membuat rambut panjangku tersibak olehnya. Toko-toko mulai bersiap-siap menerima

Need More Chance

Oleh:
Kubenahi letak kaca mata hitam yang menutupi sebagian wajahku. Banyaknya orang yang menegur, seperti sebuah dengungan yang sama sekali tak ingin kutanggapi. Retina mataku hanya terfokus pada satu titik.

520 (I Love You)

Oleh:
Marie POV Angin bergembus lembut menerpa wajahku. Kupincingkan mata untuk menantang angin dan menatap kearah aula musik yang terbuka melalui sisi samping pohon maple yang besar. Ini adalah kegiatanku

Gwiyeoun, Saranghae

Oleh:
Hari itu cuaca sangat dingin, salju mulai berjatuhan mengenai rambutku dan jaket tebalku ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.50, sebentar lagi pukul 23. Namun, aku masih berada di sini,

Return

Oleh:
Tak peduli kau itu apa. Entah itu Vampire, Werewolves, Zombie atau yang lainnya, aku tetap akan mencintaimu dan akan terus begitu sampai aku mati nanti. “Aku tahu kau mencintaiku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Love Really Hurt (Part 1)”

  1. Secret* says:

    next dong . pingin tau selanjutnya ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *