Memory

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 2 February 2018

Semburat jingga pecah diufuk barat, air lautnya memerah lalu menelan si bola api jingga yang seharian memanas. Semua itu kusaksikan syahdu bersama dia yang kini di sampingku, menggenggam untaian jari-jari. Erat.

Sedetik yang tak kurasakan, malam menggusur penerangan dari cahaya terakhir di Pohang dengan ikon tangannya yang khas. Aku masih khusyu berdiri menghadap matahari terbenam tadi. Kekeuh bersama dia. Dia yang tak pernah lusuh dari fikiranku.

Laut berhambur mengantar buih ke tepian menyepuh kakiku yang sejajar dengan kakinya. Hatiku damai. Pecahan ombak turut berpacu dengan degupan jantung ini. Semakin dalam saja aku hinggap di hatinya. Bersama pantulan perak bulan dan desiran pasir lagi-lagi menuntutku larut dalam cintanya yang tentram. Jeon Jung Kook.

“besok aku kembali ke Seoul,” kata-kata itu membuyarkanku. Tak sampai hati untuk lepas dari surga ini, darinya.
“hmm,” lalu respon itu yang mengakukan suasana. Benar-benar berat saat terfikir harus beranjak. Ada rasa tak rela melepas genggaman ini. Tangannya perlahan merenggang dari gandengan, memegang bahuku seolah menegakkan nyaliku. Setelah penuh penantian. Ia kembali dengan kecemerlangannya sebagai bagian dari bintang-bintang. Masih dengan hati yang penuh namaku di sana.

“aku tidak akan jauh-jauh lagi,” ucapnya penuh penekanan. Kerling matanya berkilau bersama rembulan di ujung nyiur. Kaca di matanya pecah berurai lalu landas di pipinya. Sesak kembali menjerat antara kasih yang terborgol ini.
“aku anggap itu adalah janji!” mataku masih menahan perih yang kembali mengimbanginya pecah berkeping dalam air mata sesal. Lalu isakan beradu dengan ombak di antara karang-karang.
“janji!” usai penegasan itu kelingking kami bertaut mengikat sebuah janji untuk bertemu lagi. Di sini. Dengan cahaya bulan dan angin yang sama. Orang yang sama pula.
“sayang…” Desisnya. Berakhir sudah benteng yang kami bangun kuat-kuat agar tidak menangis. Keempat bola mata ini tidak lagi beradu selain mengucurkan beban rindu dari hati ke pipi. Sengau terbisik dari isakan-isakan yang tertahan.

“Jeon Jung Kook, saranghae!!!” kalimat itu terakhir sebelum aku menghambur ke pelukannya. Merasakan rasa sakit di dadanya yang sama sakitnya denganku sekarang. Sakit kedua saat dia yang tak lagi seutuhnya milikku, dia milik banyak di antara mereka para penggemar.

Pagi ini gemerisik arus laut membangunkan kami yang semalaman meringkuk di bibir pantai. Bukan kami! Aku sendirian! Yang sudah diguyur dengan rintik salju pertama. Sendirian. Suasana semakin mengerikan begitu mataku terbuka lebar dari fakta ini.

Pandanganku menerawang jauh, sejauh matahari terbit pertama kali di Korea berada di tempat ini. Salju yang menambah tamparan. Sedang apa dia? Setelah retak hatiku remuk redam bagai digilas tank perang selisih antara hati dan fikiranku. Kamu penyebabnya. Kamu di balik keterpurukan ini.

Seluruh salju telah puas menghujamku tak lekas pula aku lega, apalagi suara alam termerdu, ombak di laut Pohang! Bagai siulan romansa tahun baruku kemarin bersamanya. Aku bahagia! Tersisa remahan dari batin ini usai pernyataan itu yang sama sekali tidak benar. Sakit saat harus bangun dan menelan getir dari gumpalan nasib yang berduri.

“aku bahagia!” senyum pahitku terbit usai itu hancur oleh tangis yang tertahan sejak tadi.
“aku bahagia!”
“nanti, aku pasti kembali! Janji itu masih sama, masih ada!” terakhir, sebelum aku berpaling dan beranjak dari tempat ini dan menahan kepalaku dari menengok yang kemarin. Tapi faktanya aku gagal, bayangan paling indahnya ada di sini bersamamu. Sayang…

“JEON JUNG KOOK, SARANGHAE!!” teriakku tanpa jawaban, setelah itu tenggorokanku tercekat. Masih sama, tak berbeda seperti pertama kali aku mengatakan itu di hadapannya yang selalu dingin. Lalu aku harus menunggu jawabannya satu bulan kemudian, menunggunya bertahun-tahun untuk melihatnya meraih impian. Benar-benar panjang kisah itu. Betapa sesudah jawabannya dia menjadi pelukan dalam dinginku, payung dalam panasku, matras dalam jatuhku. Masih hangat ingatan itu ketika aku terpaksa beradu mulut dengan gadis lain yang mencoba menggodanya.

Kemudian waktu menegurku. Aku tersadar bahwa malam kemarin dan janji itu sudah hampir setahun berlalu. Dia yang kemarin bersamaku hanya delusiku, siluet yang kubangun demi mengisi tempatnya yang tak terisi cinta lain. Sadar sekali lagi aku, bahwa dia tenang. Di sana, bersama dengan bidadari yang mungkin lebih membuatnya bahagia dari di sisiku.

Insiden itu mencekikku untuk ke sekian kalinya. Waktu di mana ia harus mengadu nyawanya dengan mobil dan aspal. Mengulur senyum walaupun nafasnya berakhir dalam hitungan dan lelap dalam damai. Dengan memori terakhir dan terindah, bersama janji yang belum ia tepati.

Aku masih sama, penggemar dan kekasihmu. Bukan yang pertama tapi yang terakhir, berangsur menelan waktu bersama gandengan dan pelukan yang masih terasa nyata.

Cerpen Karangan: Sarirotul Ishmah
Facebook: Hanbee

Cerpen Memory merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sehun Bukan Bihun

Oleh:
Hidupnya selalu mengambang di antara kebahagiaan juga kepedihan. Nia, berada di pertengahan gejolak perasaan yang menggebu, bukanlah cinta. Sebagai seorang yang mudah baper, Nia adalah yang paling mudah menangis

Menjadi Raja Bajak Laut

Oleh:
“Kapten!” Seorang wanita berambut jingga memanggil seseorang yang ia panggil kapten itu. “Aku segera ke sana!” Suara yang tidak asing lagi menjawab panggilan wanita tersebut. Seorang pria yang tinggi

Diamond Eyes

Oleh:
Jea membaca sebuah papan reklame besar di hadapanya. Ia kemudian mengeluarkan kameranya. Tak berapa lama ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Jea terburu-buru. “ini?” Jea mengangguk lemah kemudian menghirup

Menunggumu

Oleh:
Mempunyai sahabat karib sejak kecil dan setia sampai sekarang memang membahagiakan bukan selalu ada disaat senang ataupun susah. Itulah yang terjadi pada Aliando Syarief dan Prilly Latuconsina. Mereka bersahabat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *