Moonchild (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 12 June 2018

“Taehyung,” suara lembut Zian mengalun seperti alunan piano, dan aku mencoba mengerakkan tubuhku namun karena luka di sekujurnya membuat usahaku sia-sia.
“Taehyung, ayok kita menuju kamar, kamu harus diobati.”
Lagi-lagi aku bermimpi Zian ada di sini, benar-benar malang nasibmu, Taehyung.
Lalu aku mendengar suara tangisan.
“Aku di sini, Taehyung, aku di sini,”
Aku mengangkat wajah dan mendapati gadis yang paling kusayangi di dunia setelah nenek dan ibu sedang menangis, dengan wajah sesenggukan dia menatapku.
“Zian, bagaimana kamu bisa di sini?”
“Syuutt, diamlah, yang harus kita lakukan saat ini adalah mengobatimu. Ayok, berdiri.”
Dia memapahku berdiri dan kami berjalan sangat pelan ke arah kamar tidur Jimin yang jauh ke arah timur, apertemen ini cukup besar dan memiliki 2 kamar tidur namun biasanya aku akan tidur bersama Jimin karena aku akan mengigau saat tidur dan itu membuat Jimin khawatir.

“Buka bajumu,” kata Zian setelah kembali dari menyiapkan kompres serta sekotak P3K.
“A-apa? Melepas baju?” wajahku memanas.
“Ya, karena yang lebih banyak terluka itu di daerah belakang dan perutmu.”
“Ta-tapi,”
“Sini aku bantu.”

Dengan cepat Zian bergerak ke arahku dan itu membuatku dengan cepat munduk ke belakang, ketika kepalaku menyambar dinding, Zian sudah berada diatas kasur dan dengan airmata dia menangis sejadi-jadinya.
“Eh-Eh, Zian, kenapa menangis?”
“Tolong aku, Taehyung. Tolong jangan seperti ini, aku terlalu takut kamu terluka makin parah karena aku. Tolong, Taehyung.”
“Baiklah. Tapi berhentilah menangis, airmatamu itu lebih menyakitkan daripada luka-luka ini.” Aku menghapus airmata yang membanjiri pipi Zian, berharap waktu untuk kami lebih banyak lagi dari ini, berharap hari ini tidak akan berakhir sampai kapanpun.
“Ka-kakakku, tidak menyukaimu, dia dari dulu telah menyiapkan jodoh untukku dan aku tidak suka itu. Dia terlalu memaksakan kehendakku, aku tidak ingin terlepas darimu, Taehyung. Bagaimana ini?” dia kembali menangis dengan sangat sedih bahkan ranjang milik Jimin sudah basah akibat airmata.
“Ya, mau bagaimana lagi, aku tidak ingin dipisahkan darimu tapi perkataan keluarga itu lebih baik didengar karena kamu hanya memiliki dia kan?”
“Siapa bilang? Aku masih memiliki kamu, Jimin-ssi juga.”
“Kami berbeda, Zian.”
“Ta-tapi, a-aku, benar-benar tidak bisa. A-aku su-dah begitu menci-cintai kamu.”
“Aku mencintai kamu, Taehyung.” Dia terlihat histeris dalam teriakan dan tangisan, aku meraih kepalanya membawa menuju pelukanku, memangkannya untuk saat ini bahwa kami sedang bersama dan tak perlu ada yang dibahas.
“A-ak-u lebi-h menci-taimu lagi. Sangat mencintaimu.”

Kami beradu pandang dalam waktu yang lama, dan menghabiskan malam dengan bercerita setelah selesai mengobati lukaku. Zian tertidur di sampingku hingga waktu yang kami butuhkan bahkan benar-benar berhenti disaat itu.
Kami telah melakukannya.
Ketakutan kami bahkan menyatu.
Airmata yang tidak bisa dibagi menjadi bagian yang satu.
Kami beradu dalam dunia keindahan dengan hamparan cinta yang mengila.
Waktu kami berhenti disini.

“APA?”
Taehyung berdiri di hadapanku dengan wajah berbinar, kami sedang melarikan diri diatap dan dia sedang memberitahukan sesuatu yang benar-benar membuatku terkejut.
“Ka-kapan kalian—”
“Malam saat aku di apertemenmu.” Lagi-lagi dia berkata dengan penuh semangat, seakan sebelum itu tidak terjadi hal yang membahayakan nyawanya.
“Apa kau sudah gila? Bagaimana kalau XiuMin tahu? Kau bukan saja dipukuli tapi kau akan dihabisi dalam satu waktu.” Aku berteriak menjelaskan bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, sangat salah.
“Jimin-ssi, tolonglah mengerti, kami hanya membutuhkan bukti dari cinta kami.”
“Tidak, Taehyung. Tidak dengan cara seperti itu, itu salah. Ya Tuhan, Taehyung. Apa lagi ini? Kamu benar-benar akan membunuh nenekmu kalau sampai beliau tahu.”
“Jangan, Jimin. Tolong jangan beritahu mereka, aku janji akan mencari kerja begitu lulus sekolah, aku akan pergi ke Soul untuk mencari pekerjaan dan akan membawa serta Zian.”
Aku menggeleng histeris.
Barusan Taehyung memberitahu kalau Zian –? Aku tidak bermimpikan? Ya Tuhan, katakan sesuatu.
Kami terdiam dalam waktu yang lama. Hingga akhirnya aku merelakan apa yang sudah terjadi dan memaafkan perbuatan gegabah Taehyung.
“Sudah tiga bulan ya?” aku menebak untuk diri sendiri dan membuat Taehyung bergumam sendiri.
“Ngomong-ngomong, kenapa Zian tidak masuk? Tadi aku mengecek kelasnya dan katanya dia tidak masuk.”
Taehyung melonjak kaget, sejurus kemudian aku ditinggal seorang diri.

Taehyung tak lagi menelepon.
Aku berharap mobil ini bisa terbang sampai ke tempat dimana Taehyung berada namun aku tahu sampai kapanpun mobil ini tidak akan bisa terbang.

Aku ingat betul, setelah hari terakhir kami diatap itu, Taehyung menjadi serpihan debu, dia terus menangis dan bersembunyi di apertemenku, merapuh seperti kertas dan terus-terus menyalahkan dirinya sendiri.
XiuMin, kakak lelaki Zian berhasil mengetahui kalau Zian tengah hamil dan memaksa gadis malang itu mengugurkan kandungannya.
Setelah itu Taehyung dan Zian seperti boneka tak bernyawa dan tak berdarah, mereka tidak bersemangat, bahkan untuk makan. 1 bulan terakhir disekolah, Zian terus dikawali pengawal membuat mereka benar-benar tersakiti, dan membuat aku merasa sangat bersalah untuk apa yang mereka alami.
Setiap pulang sekolah, apertemenku adalah persingahan Taehyung. Kami menghabiskan waktu dalam diam, makan dalam tangisan, belajar dalam lamunan, tidur dalam kesunyian.

Sejak hari itu Taehyung berubah menjadi lebih pediam, hingga suatu hari dia pulang kerumah neneknya dan memutuskan untuk bangkit, melupakan apa yang menjadi bagian dari kesakitan dirinya, melupakan bahwa dia pernah memiliki darah dalam tubuh seorang wanita.
Setelah kelulusan Zian dibawa XiuMin meninggalkan kota kami, tidak memberikan sedikit waktu bagi Taehyung untuk meminta terima kasih karena sempat memberikan dia harapan meski akhirnya pupus, namun itu menjadi bagian terindah di dalam garis hidupnya, menjadi kisah yang sulit dihalau meski nanti dia menikah dan memiliki keluarga yang mampu memberikan kebahagiaan padanya.

Taehyung hanya ingin berterima kasih karena pernah menjadi wanitanya dan bahkan sampai saat ini masih menjadi wanitanya.
Ya, wanitanya.

Aku larut dalam ingatan masalalu, menangis seperti saat aku dan Taenhyung menghadapi masa-masa sulit. Kami benar-benar harus disembuhkan, luka di antara kami terlalu besar untuk bisa diobati.

Taman? Tempat yang dikunjungi Taehyung adalah Taman yang sudah tutup beberapa waktu lalu.
Aku keluar dari mobil dan berlari memasuki gerbang taman bermain itu, berharap langsung mendapati Taehyung disana, namun ternyata tak ada sahabatku itu.
Kuhubungi ponselnya namun ponsel itu tidak aktif.

Ketakutanku bertambah.
Dia ke mana lagi?
Ya Tuhan, jangan buat seorang Taehyung terluka lagi. Tolong.
Airmata itu terjatuh. Aku takut jika mereka menyakiti Taehyung lagi, kenapa dia begitu bodoh hingga ingin bertemu dengan Zian sendirian? Kenapa tidak mengajakku?
Aku berlari dalam tangisan yang memilu, mencari di mana sahabatku itu.
Jangan lagi. Dia sudah cukup merasakan kehilangan, jangan lagi saat ini Tuhan, jangan untuk Taehyung.

Jam 4 pas dan Jimin belum juga sampai.
Kemana dia? Apa dia tidak ingin mendengar ceritaku? Bagaimana aku membuat XiuMin menangis dengan perkataanku, bagaimana aku memukuli XiuMin dengan tanganku sendiri karena perkataannya yang pedas pada Zian, bagaimana akhirnya dia mengaku bahwa sebenarnya membenciku hanya karena aku berasal dari rakyat biasa yang tidak memiliki harta, hanya karena dia takut aku tidak bisa menghidupi saudara perempuannya.
Bagaimana itu membuat aku menangis seperti anak kecil dihadapan semua orang, dan bagaimana seorang bocah dari lelaki lain yang menikahi Zian datang dan memelukku memberikan kehangatan yang dulu tidak aku dapatkan dari anakku, yang-yang–

Ah, sial. Aku menangis lagi.
Nah, itu dia.
Jimin sedang berlari memasuki gerbang taman, dia terlihat lelah karena berlari, matanya dipenuhi airmata. Ah, maafkan aku, Sahabatmu yang selalu membuat kamu berada di posisi yang sulit.
Sesuatu terlintas di kepalaku, aku menyalakan ponsel dan mengaktifkan mode penerbangan.
Membuka notes dan menuliskan beberapa kata disana.
“4 O’Clock”

Lagu untuk Jimin.
Lagu untuk kami.
Lagu untuk Zian.
Lagu untuk Putra atau Putriku.

Semoga kalian bahagia.

“Hey, Moonchild!!!” aku memanggil Jimin dengan senyuman sebari melambai padanya menyuruh dia segera menghampirku.
Jimin menangis, lagi-lagi.,
“Ya, dasar, kau sendiri Moonchild!!!”
Taman itu dipenuhi suara tawa dan tangis yang kian menghilang.
Mulai hari ini kami harus memaafkan masalalu dan melangkah menyambut masa depan, begitulah perkataan Jimin yang aku ingat sampai hari ini.

SELESAI

Cerpen Karangan: Bunga Salju
Blog: velerianarahayaan.blogspot.co.id

Terima kasih sudah membaca.
Tolong, diberikan masukan.
terima kasih

Cerpen Moonchild (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hallucination

Oleh:
Bandara Incheon, 2.30 PM Suasana Korea masih sama seperti dulu. Tidak pernah berubah dan tidak akan pernah berubah. Sama halnya seperti pria tampan asal Korea ini. Pria yang bernama

Just Need Your Time, Oppa! (Part 1)

Oleh:
Aku hanya membutuhkan waktumu untukku. karena setiap hari, kau hanya berkutat dengan pekerjaanmu. Kumohon, berikan waktumu sedikit untukku. Karena aku tak yakin bisa menemanimu lebih lama –Kim Ji Woo—

Growing Pains

Oleh:
Cinta tak pernah mengenal kata lelah, tak pernah ada keingin untuk mendapatkan imbalan karena cinta tak pernah mengenal kata pamrih. Cinta sangat hangat saat kita mampu meresakan betapa lembut

Loser (Part 1)

Oleh:
Me Demian Joshua. Terkadang manusia hidup dengan mengandalkan harta, kecantikan, jabatan dan kepintaran. But me, hidup dengan mengandalkan kebodohan. Mungkin kalian bertanya bagaimana aku bisa hidup dengan mengandalkan kebodohan.

Urineun Mwoya (Part 2)

Oleh:
“Oppa, mengapa kau biarkan dia pulang sendiri eoh? Apa kau tak khawatir pada sahabatmu? Hari sudah malam oppa dan itu tidak baik untuk yeoja cantik sepertinya. Bagaimana kalau ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Moonchild (Part 4)”

  1. Yaya says:

    Kamu ngefans sama BTS YA??

  2. Rajwa Nabila Falakhiyah says:

    Army yak???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *