Nerd (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 21 December 2015

Namaku Kyungsoo. Ah, atau sebut saja aku dengan MongKyung, StupidKyung, atau PabboKyung. Terserah kalian saja, aku sudah sangat terbiasa dengan panggilan itu. Jangan heran dengan semua perlakuan teman-temanku terhadapku, bahkan aku heran masih pantaskah mereka ku jadikan teman. Ya, aku memang bodoh. Aku Nerd.

Aku suka membaca, makanya hingga sekarang minus di kacamataku terus bertambah hingga minus 4. Aku juga bisa menyanyi, namun siapa yang mau melihat seorang lelaki yang menyanyi dengan suara indah, aku selalu diejek. Jangan tanya soal pelajaran, bahkan aku sama sekali lupa tentang rumus Phytagoras. Guru di sekolahku pun menanggap bahwa aku tidak akan lulus ujian tes perguruan tinggi setelah lulus ini. Namun siapa peduli, aku memang tidak ada niat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Aku punya cita-cita yang lain. Tapi, cita-citaku terhambat dengan sebuah janji. Sebodoh apapun diriku, aku harus tetap menepati janji.

“StupidKyung!! Kemarilah!!” Chanyeol, si Ketua Geng itu memanggilku dengan ciri khasnya mengayunkan tangannya itu seolah-olah aku binatang. Aku tidak marah, dia memang pantas melakukan itu terhadapku. Dia terpilih menjadi ketua Geng salah satu anak berandal di sekolahku, karena memang dia secara fisik yang hampir sempurna. Tubuh yang tinggi menjulang, suara yang berat, dan salah satu anggota club basket di sekolah. Sementara aku berkebalikan.

“Yaa!! Aku Memanggilmu PabboKyung!!” aku menunduk berjalan ke arahnya pelan. Aku sial, mulai besok aku tidak akan berangkat sepagi ini lagi. Chanyeol menujuk toilet di sebelahnya sambil menyodorkan beberapa ember berisi air sabun. Aku tidak memliki telepati, tapi aku mengerti maksudnya, aku sudah biasa.
Aku mengangguk, lalu dia tersenyum, “Good boy.” katanya, sambil mengacak-acak rambutku. “Kau harus membersihkannya sampai bersih StupidKyung!! kalau aku melihat kotoran sedikit saja, kau tidak akan pulang siang ini!!” ancamnya. Aku mengangguk. Lalu dia menendang betisku dan pergi bersama anggota gengnya yang terlihat seperti pengawal pribadi tanpa perasaan bersalah sedikit pun.

Sekarang hanya tinggal aku dan toilet kotor ini. Aku mendesah pelan lalu menaruh tasku ke atas westafel, sebenarnya toilet ini masih bersih, tapi karena setiap hari ada jadwal piket kelas 11 dan kelas 10, toilet ini tetap dibersihkan walaupun sudah bersih. Aku mengelap kaca di atas westafel ini, air sabun membuat suara decitan yang unik, aku sengaja berjinjit untuk menggapai bagian paling atas dari kaca ini. Andaikan ada chanyeol di sini, dia pasti akan menertawakanku. Selain mendengar suara decitan kain lap dan kaca yang beradu aku juga mendengar decitan suara sepatu yang menuju ke mari, beberapa saat kemudian pintu toilet terbuka, aku melihat pantulan bayangan dari kaca karan arah pintu yang membelakangiku.

“ah, Kyungsoo-ah.” sapanya sambil membasuh tangannya terburu-buru.
“Suho Sunbaenim.” aku menghentikan pekerjaanku dan memberi salam kepadanya. Suho adalah Sunbae-ku di sekolah, dia satu-satunya orang yang tidak memanggilku dengan sebutan yang dipakai Chanyeol. Dan dia juga satu-satunya yang tahu kenapa aku tidak pantas dipanggil begitu.
“aku tidak menyangka bertemu dangan calon bintang sepertimu.” katanya sambil membasuh wajahnya dengan air keran.

“Yaa, jangan mengatakan itu di sini hyung ” kataku was-was. Suho lalu membersihkan wajahnya dan tersenyum di hadapanku.
“aku baru pertama kali bertemu dengan trainee yang tidak sombong sepertimu, biasanya mereka akan memamerkan dance mereka yang kaku itu.” Ujar Suho menyindir tidak suka. Aku terkekeh, “mereka tidak akan mempercayai bahwa aku trainee, hyung.”
“ah, ya nanti malam kau ke tempat latihan.” Suho mengingatkanku, aku tidak mungkin lupa.
“aku selalu ingat hyung.”
“eng.. baiklah, aku harus kembali sekarang ada hal yang harus aku lakukan.” Suho memberikan salam dan aku juga begitu. Dia berlalu setelah mengucapkan beberapa kata yang membuatku semangat lagi. “Tak lama lagi kita akan debut.”

Aku tersenyum-senyum sendiri mendengarnya. Dia adalah Sunbae yang sangat disegani di agency yang ku ikuti, suatu keberuntungan jika bisa dekat dengannya seperti tadi. Ya, benar beberapa bulan lagi aku akan debut satu grup dengannya, jadi wajar saja aku terlihat cukup akrab. Setelah selesai membersihkan kaca, aku beralih ke arah jajaran toilet yang jumlah 5 bilik. Aku menggeser ember berisi sabun ini dengan kakiku ke arah toilet di bilik nomor 5.

Bilik toilet yang paling gelap dari bilik lainnya. Di tempat inilah coretan-coretan banyak ditemukan, coretan dengan karya seni tinggi. Aku menyebutnya begitu. Aku masuk dan menyikat kuat-kuat dinding toilet ini karena dilapisi dengan tinta permanen. Karena tempat yang sempit aku terpaksa untuk masuk ke dalam toilet dan menguncinya agar aku bisa leluasa bergerak. Tak berapa lama aku mendengar langkah kaki yang menuju ke mari. Aku memperlambat gerakanku.

“Hyung, apa rencanamu?” kata seseorang di sana. Lalu keran air dibuka, sepertinya ada dua orang yang masuk.
“Mana cat yang aku minta?” tanya seseorang yang lain. Aku meneruskan membersihkan dinding toilet ini, mungkin mereka sedang melakukan hal jahil. Aku tak mendengar selebihnya. Tiba-tiba pintu dari arah bilik nomor satu ditendang kuat hingga menimbulkan suara benturan keras. Setelah itu terdengar hal serupa dari bilik nomor dua.

Aku membeku. Pasti mereka akan menemukanku di sini. Perlahan, aku naik ke atas toilet duduk dan mengintip sedikit dari atas, dari pantulan cermin aku bisa melihat dua orang yang tak lain anak buahnya Chanyeol. Woohyun dan Hoya. Woohyun menyebarkan sesuatu yang kental dari dalam kaleng itu berupa cairan berwarna merah darah ke lantai, sementara Hoya yang menendang pintu bilik seperti memastikan tidak ada orang. Mereka pasti merencanakan sesuatu. Aku berjongkok di atas toilet duduk ini, mencoba mempertahankan keseimbangan. Suara keras terdengar lagi di bilik nomor tiga.

“Hyung, sudahlah, tidak ada orang lagi di sini!!” Hoya menendang keras di bilik nomor 4. Aku menunduk, pasti aku tidak akan selamat.
“Periksalah dengan baik!! MongKyung tadi baru saja membersihkan toilet ini!!” kata Woohyun yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Hoya dengan malas menendang bilik nomor lima, tanganku dingin. Namun pintu itu tertahan dengan ember sabun yang ku tempatkan.
“Benar-benar tidak ada hyung. Tidak ada yang berani sembunyi di toilet nomer 5 itu.” Hoya menunjuk toilet yang ku tempati. Aku bersyukur dalam hati.

“Apa yang kau lakukan hyung?” Woohyun tidak menjawabnya, ia sepertinya kesal dengan ribuan pertanyaan yang Hoya lontarkan. Ia melakukan apa yang dikerjakannya.
Aku tidak mendengar apa-apa lagi selama 10 menit. Mereka melakukannya tanpa suara.
“Ayo pergi!” ku rasa itu adalah kode bahwa aku sudah aman untuk ke luar. Perlahan aku membuka pintu dan melihat keadaan sekitar.
Retina mataku terfokus ke cermin di toilet yang baru saja ku bersihkan.

“Kau harus mati Park Chanyeol!”

Aku dipanggil ke ruang kepala sekolah. Bukan sebagai saksi melainkan pelaku utama. Alhasil, aku harus membersihkan lagi cat yang masih basah di kaca tersebut sepulang sekolah ini dan menulis 100 kali kalimat yang sama sebagai hukuman. Di ruang kepala sekolah sekitar dua jam pelajaran membuatku lapar. Aku selalu saja dipaksa untuk mengaku hal yang bukan perbuatanku bahkan mereka mengungkit nilai-nilai burukku di kelas, karena aku tidak tahan lagi dengan terpaksa aku mengakui perbuatan itu. Tapi aku lupa kalau aku harus berhadapan dengan seorang lagi setelah aku membersihkan kaca itu. Chanyeol. Dia tidak akan pernah memaafkanku.

Dan di sinilah aku sekarang. Di antara meja yang kosong di kiri dan kanan. Aku mengambil jatah makan siangku lebih awal dari yang lainnya, karena memang pelajaran belum berakhir setelah aku ke luar dari ruang kepala sekolah. Aku memakan sandwich yang ada di nampanku perlahan. Kadang aku berpikir aku terlalu bodoh karena mau dibodohi, dan selalu saja mau melakukan apa yang orang lain minta. Tapi sebentar lagi semua itu akan berakhir. Mereka akan menyesal setelah aku menjadi bintang internasional yang akan tampil di channel TV terkemuka. Dengan style yang berbeda dan dancing yang memukau mata bersama grup kebanggaanku. Perlahan, bibirku menarik garis lengkungan yang sempurna.

Satu persatu kelas mulai memenuhi kantin sekolah, tentu saja mereka selalu memberiku tatapan aneh, meja yang mulanya kosong perlahan menjadi padat, kantin menjadi ribut sekali. Itu kekuatan yang misterius. Setelah selesai dengan makan siangku, aku mulai beranjak pergi. Disertai dengan tatapan aneh dari sekitar. Entah karena apa, aku kehilangan keseimbangan. Dan di antara ratusan orang yang berada di kantin, kenapa aku harus menabrak dirinya? Moon Ga Young. Kekasih Park Chanyeol. Atau lebih tepatnya aku terlibat dalam dua masalah sekaligus.

“Maafkan aku.” kataku sambil membereskan makanan yang terjatuh ke lantai.
“Tidak apa-apa, Kyungsoo-ah, kau boleh pergi.” Ga Young membersihkan makanan yang tertumpah ke bajunya dan sesekali dia juga membantuku membereskan makanan yang terjatuh.
Dia baik. Tidak seperti kekasihnya, Chanyeol. Ga Young adalah gadis yang baik. Dia sama sekali tidak pernah memanggilku dengan sebutan StupidKyung atau sebaginya. Dan dia jugalah yang terkadang menyelamatkanku ketika aku ada masalah dengan Chanyeol.

Pasti Chanyeol akan luluh. Bahkan aku bingung bagaimana Chanyeol bisa mendapatkan gadis sebaik Moon Ga Young ini. Aku membungkuk sekali lagi di hadapannya, saat aku melangkah tidak jauh dari tempat kejadian, seseorang jakung menghalangi jalanku. Sudah jelas, itu Park Chanyeol. “Yaa!! Apa yang kau lakukan huh!! Dasar bodoh!! Cepat minta maaf kepadanya!!” Aku hanya bisa menunduk, tangannya yang besar itu memegang kepalaku disertai ancang-ancang untuk memukul.

“Chanyeol oppa, hentikan!” Ga young menahan tangan besar Chanyeol itu sebelum ubun-ubunku menjadi korban.
“Dia sudah meminta maaf tadi, aku yang salah tidak memperhatikan jalan.” ungkap Gayoung, ia selalu menyalahkan dirinya di hadapan orang lain agar tidak ada yang tersakiti.

Chanyeol menggerutu ke udara, sementara aku masih menunduk. “Anggap ini peringatan! Jangan lagi kau membuatku marah setelah kejadian tadi!! Sore ini kau harus menyelesaikannya denganku!!” Ancamnya memasukan unsur kejadian tadi pagi -ehm maksudku perbuatan yang sama sekali bukan perbuatanku. Aku mengangguk. Tanganku gemetar, bukan karena aku takut untuk berhadapan dengan Chanyeol, tapi aku takut jika urusanku dengan Chanyeol belum berakhir hingga tengah malam. Bisa-bisa aku tidak latihan di ruang training malam ini.

Aku seorang trainee. Siapa yang menduga? Hal itu wajar. Gelar trainee biasanya diperuntukkan bagi para remaja yang berbakat dan memiliki wajah serta kepribadian yang baik. Menjadi seorang trainee adalah kebanggaan tersendiri bagi setiap murid. Tidak dipungkiri lagi, bahkan lima murid dari angkatanku adalah seorang trainee dari agency yang berbeda-beda. Aku tidak.

Aku melakukan ini bukan karena aku ingin dicap baik, tapi karena ada sebuah janji yang harus ku tepati. Aku membereskan laci mejaku dan berniat beberapa buku yang tertinggal di loker. Aku memakai kacamataku dan memasangnya, cukup sulit memang membiasakan diri untuk tidak memakai kacamata di saat sudah terbiasa. Tak sengaja aku berpapasan jalan dengan mereka. Woohyun dan Hoya yang menggandeng tas dengan wajah yang berseri-seri, tanpa perasaan bersalah sedikit pun.

“Hei! StupidKyung!! Kau melakukan hal berbahaya tadi pagi, berani sekali kau membuatnya marah… haha!” Woohyun menepuk kepalaku dengan mudah, karena memang tinggi badanku dengannya sangat berbeda jauh. “Aku tidak akan membiarkanmu lolos siang ini! Kau memang bodoh Stupid Kyung! Haha!!” Hoya segera menarik lengan Woohyun sambil tertawa dan berjalan menjauh dariku sebelum mengatakan sesuatu.
“K-kalian i-ingin m-membunuhnya?” kataku terbata. Aku tidak berani mengangkat wajahku ke hadapan mereka. Tawa mereka terhenti, Woohyun dengan cepat memukul bagian belakang kepalaku.

“Apa maksudmu! Itu tidak mungkin!” aku mengadu, lalu mengusap bagian yang terkena pukulan cukup keras itu. Lalu aku menangkap hal yang ganjil.
“kita tidak mungkin mau membunuh Chanyeol, benar kan, hyung?” tanya Hoya yang disertai tatapan tajam Woohyun. ‘Kau ketahuan!’ ungkapku dalam hati.
“Jangan menuduh kami melakukan hal bodoh itu! Sudah jelas pelakunya itu kau, bodoh!” bantah Woohyun menutupi. “Sudahlah, kalau kita terlalu lama di sini kita akan menjadi bodoh sepertinya.” Hoya menarik Woohyun untuk pergi menjauh, sudah jelas Woohyun menampakkan tatapan mata yang takut.

Aku mengusap bagian belakang kepalaku yang masih sakit sambil berjalan ke arah toilet, dan sepertinya aku tidak sendiri. Di sana ada JongDae.
“Jongdae-ya, apa yang kau lakukan di sini?” Jongdae terlihat sedang membersihkan kaca yang terkena bercak cat merah yang seharusnya aku bersihkan.
“Pulanglah dan temuilah Chanyeol!” Jongdae berbicara tanpa melihat ke arahku sama sekali.
“Bukankah ini tugasku? Biar aku bersihkan.” aku mencoba meraih beberapa kain yang berada di ember namun Jongdae menahanku.

“Jangan! Biarkan aku saja yang melakukannya. Kau pulang saja dan temui Chanyeol. Tolonglah!” katanya memelas sambil merebut kembali kain yang telah ku pegang.
“Tidak apa-apa. Aku sudah biasa.” aku memaksa mengambil kain ditangannya. “Ku mohon Pulanglah!!” Jongdae berteriak. Aku terdiam, tidak bisa berkata-kata. “Kau harus pulang dan segera temuilah Chanyeol !! Biarkan aku yang membersihkan kaca ini. Pulanglah! Aku tidak butuh bantuanmu!!”

“Ada apa denganmu Jongdae-ya?” aku malah memegang pundaknya.
“Pulanglah!” perintahnya lemah, “kau hanya harus pulang dan biarkan aku membersihkan ini sendiri, jangan memperburuk masalahku!!” aku mundur beberapa langkah dan membungkuk beberapa saat.

Mungkin masalahnya bisa lebih buruk dari masalahku. Jongdae adalah anak yang bekerja di tempat Chanyeol, setiap hari Chanyeol selalu menganggap bahwa Jongdae adalah bawahannya yang sudah menjadi budak yang paten. Kedua orangtua Jongdae telah meninggal dan setelah itu Jongdae diangkat menjadi anak tiri di keluarga Chanyeol. Tapi setelah kedua orangtua Chanyeol meninggal, kini Jongdae harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Aku tahu banyak tentang keluarga Park.

Bersambung

Cerpen Karangan: Sahira Fara Nabila
Blog: sahirafaranabila.blogspot.com

Cerpen Nerd (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bridge of Love

Oleh:
Semilir angin malam berhembus menerbangkan helai demi helai rambut panjang seorang gadis cantik berkulit putih dalam balutan mantel cokelat tua dengan aksen bulu di leher dan kedua ujung lengannya

Cinta Musim Dingin

Oleh:
Pagi itu aku terbangun, aku berjalan ke arah jendela, selangkah, dua langkah, dan “PRAKkk” aku pun segera mempercepat langkahku, kubuka tirai berwarna silver itu. Ku lihat Pria tinggi, berkulit

My Oppa, My Namja

Oleh:
Mobil ayah Seung Ho sedang melaju di sekitar kawasan kumuh Gunyong pada jam 11 malam saat melihat seorang gadis dengan wajah yang berlumur darah berjalan dengan menyeret kakinya ke

Painkiller

Oleh:
Cklek! Uhukk!! Debu langsung menyambut indera penciumanku begitu aku masuk rumah yang beberapa waktu lalu kutinggalkan itu. Sempat terpikir dalam benakku untuk menjual rumah ini, namun hati kecilku menentangnya.

Maafkan Aku

Oleh:
“Kau benar-benar menyukaiku Baek?” Baekhyun mendongakkan kepala =nya menatap Chanyeol, sungguh kali ini Baekhyun sangat takut. “Jawab aku Baek!!” “Kau tidak perlu membentakku Chan!!” Air mata Baekhyun turun semakin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *