Oppa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 11 April 2017

Jiyeon POV
Wae? Kenapa harus terjadi? Aku sangat benci dengan semua ini. Aku ingin cepat menghilang dari semua ini, sudah cukup beban yang kutanggung selama ini. Kuputuskan mengambil kursi lalu aku naik dan memegang tali yang sudah kuikat tadi dan kugantungkan di leherku.

Author POV
SREETT… seorang namja menarik tangan Jiyeon sehingga yeoja itu turun dari kursi dan dia sangat kesal terhadap namja itu.
“Yak, apa kau gila?” Tanya namja itu sambil berteriak marah
“Yak, seharusnya itu pertanyaanku!” ucap Jiyeon dingin dan menatap namja itu dengan tajam
“Jangan mencoba hal bodoh seperti itu lagi!” ucap namja itu
“Siapa kau? Bahkan aku tak mengenalmu dan jangan pernah mencampuri urusanku!” ujar Jiyeon dengan nada tinggi
“Kau tak kenal denganku? Jeongmal? Naega Kim Myungsoo, sahabatmu.” Ucap Myungsoo syok setelah mengetahui Jiyeon tak mengingatnya.
“Sahabat?! Ciihh…” kata jiyeon sarkatis “Bahkan teman aja tak punya.” Jawabnya sedih
“Mwo? Jiyeon-ah aku ini sahabatmu, masa kau lupa pada sahabatmu, kau tampak berubah belakangan ini tapi tak apa aku bisa membantumu mengembalikanmu seperti yang dulu” ucap Myungsoo menyemangati dirinya.
“Apakah kau yakin ingin membantuku?” Tanya Jiyeon ragu, sebenarnya Jiyeon kenal dengan Myungsoo hanya saja dia berpura-pura agar Myungsoo tidak mengetahui jika dia mempunyai penyakit.

FLASHBACK
Jiyeon POV
At Seoul Hospital
Nah, sekarang di sinilah aku. Aku berjalan menuju lorong rumah sakit dan aku menduduki diriku di sebuah kursi terdekat. Tak lama lagi, namaku di panggil oleh suster dan kusegera mengikuti dari belakang. Aku pun disuruh duduk di hadapan dokter yang memeriksaku.
“Bagaimana hasilnya dokter? Apakah ada yang salah dengan tubuhku?” tanyaku ingin tau dan langsung to the point
“Ekhm.. begini.. hasilnya sudah keluar dan anda mempunyai penyakit jantung stadium akhir.” Katanya dengan tampang serius
Mwoya? seketika dunia tempatku berada runtuh mendengar perkataan dokter. Hajiman, otteokhae? Wae irae?
FLASHBACK END

Myungsoo POV
“Ne, aku yakin.” Ujarku mantap sambil melihat matanya dan memegang tangan Jiyeon berusaha untuk meyakinkan ucapanku.
Sebenarnya aku sangat menyukainya, ani aku sangat mencintainya. Dari kecil aku dan Jiyeon selalu bersama dan aku merasa nyaman jika dekat dengannya, hanya saja Jiyeon tak merasakan perasaanku sebenarnya padanya. Dia hanya menganggapku sebagai oppanya saja tidak lebih. Tapi tidak apalah yang terpenting aku bisa dekat dengannya saja sudah cukup untukku. Akhir-akhir ini aku secara diam-diam memerhatikan Jiyeon dari kejauhan untuk memastikan jika Jiyeon baik-baik saja. Entah hanya perasaanku saja atau sebaliknya aku merasa jika Jiyeon sekarang menjauhiku. Aku kira dia menjauhiku karena kelelahan saja atau hanya sehari saja, ternyata sudah berhari-hari bahkan berbulan-bulan Jiyeon menjauhiku.

Seiring berjalannya waktu, Jiyeon semakin menutup diri pada siapapun dan hanya berdiam diri di apartementnya. Aku sering melihatnya mengeluarkan lelehan air mata, aku jadi tak tega melihatnya begitu banyak mengeluarkan air mata, aku ingin segera datang ke tempatnya untuk menghapus air matanya dan berkata “Uljima” tapi kaki ini tidak mau mengikuti apa yang kuperintahkan. Kuputuskan datang ke apartemennya untuk berbincang dengannya namun apa yang kulihat? Sontak kuhentikan aksinya yang benar-benar diluar dugaanku dan aku membentaknya. Aku tersenyum miris melihatnya yang mencoba hal nekat. Kemana perginya sosok yang selalu ceria, polos, lugu yang selalu mewarnai hari-harinya? Mengapa sosok yang aku sukai sudah berubah? Apakah dia ada masalah? Biasanya dia selalu menceritakan masalah yang dihadapinya kepadaku dan tak biasanya dia menyimpannya sendiri. Apakah selama ini dia tak tau jika aku selalu ada untuknya? Jiyeon-ah jebal.. Jangan membuatku merasa bersalah padamu.

Jiyeon POV
Jeongmal mianhae, oppa. Aku sengaja menyimpan masalahku ini padamu, aku takut oppa mengkhawatirkan aku, sudah cukup aku buat oppa susah. Hajiman, hanya oppa yang ada di dunia ini yang menjagaku setelah kedua orangtuaku pergi meninggalkan aku.

FLASHBACK
Di pagi hari yang indah, segera kubangkit dari tempat tidurku dan kuraih handuk yang bertengger di dalam lemari. Akupun masuk ke dalam kamar mandi, setelah badanku segar aku keluar dari kamarku yang terletak di pojok atas.
“Eomma appa eodisseo?” tanyaku pada pelayan yang melewatiku
“Tuan dan nyonya berangkat ke Osaka pagi-pagi sekali.” Ujarnya sopan sambil membungkukkan badannya
“Arraseo.” Ucapku lemas dan segera menuruni anak tangga
Hhaahhh… Kuhembuskan napas panjang. Yah beginilah hidupku, aku selalu kesepian di rumah besar nan mewah. Walaupun di rumah ini banyak pelayan tapi tidak membuatku merasa bahagia. Yang kuinginkan hanyalah kedua orangtuaku yang selalu berada di sisiku, sepertinya tuhan berkata lain. Orang tuaku seorang pengusaha terbesar ke-2 di Korea Selatan dan itu menyebabkan kedua orang tuaku berbolak balik ke luar negeri hanya untuk bisnis dan bisnis.
Hhaahhh… Kuhembuskan napas panjang lagi. Aku berada di samping rumah yang di sana ada taman kesukaan eommaku. Ku berdiri sambil menatap air mancur yang berada di depanku. Kurenungkan kenangan lama saat bersama eomma dan appa di sini. Saat itu kami bertiga mengadakan piknik di taman. Aku sangat senang bisa menghabiskan waktuku bersama mereka. Tapi sekarang sudah berubah, tidak ada lagi kenangan yang indah maupun piknik bersama. Sejak mereka sibuk dengan bisnisnya, mereka melupakanku seolah-olah aku ini bukanlah siapa-siapa mereka. Aku sangat sedih jika mengingat itu.

Ddrrtt… Ddrrtt… segera kuraih handphoneku yang berbunyi dan aku melihatnya sekilas lalu aku mengernyitkan kedua alisku saat melihat sebuah nomor eomma yang meneleponku. Apakah eomma ada masalah? Tak biasanya eomma meneleponku, mungkin ada hal penting yang ingin eomma ucapkan. Tapi apa? Apakah ada hal buruk yang terjadi? Tak mungkin. Segera kutepis pikiran buruk yang melintas di otakku dan kuangkat.
“Yeobseyo eomma”
“…”
“Ne, aku putrinya. Apakah ada masalah dengan eommaku?”
“…”
Sontak badanku kaku dan mengeluarkan cairan bening di pipiku. Aku sangat terkejut dengan perkataannya yang terakhir. Bagaimana mungkin orangtuaku kecelakaan? Pasti mereka hanya bercanda kan? Aku segera bangkit dan masuk ke dalam rumah. Aku pun menyuruh pelayan membawaku ke Seoul Hospital.

At Seoul Hospital
Aku memasuki ruangan dengan tergesa-gesa dan menabrak orang yang berlalu-lalang, aku tidak peduli dengan mereka yang mengucapkan kata sumpah serapah kepadaku. Saat ini tujuanku hanya satu yaitu mencari sebuah ruangan yang menempati kedua orangtuaku. Setelah lelah mencari, akhirnya aku dapat dan kusegera masuk ke dalam yang di ikuti pelayanku. Aku merasakan jantungku yang berhenti berdetak dan kedua mataku memanas, air mataku membasahi pipiku tanpa kuperintahkan. Aku masih tak mempercayai ini dan segera ke ranjang orangtuaku.

“Appa… hiks… eomma hiks… ireona… hiks ppali…”
“Nona, jangan seperti ini, relakanlah mereka pergi dengan tenang “ ucap pelayanku yang memegang pundakku. Kutepiskan tangannya.
“Andwae… aku yakin eomma dan appa pasti ingin memberikan kejutan untukku.” Ujarku berteriak
“Jiyeon-ah jebal.. relakan kedua orangtuamu, jika kau seperti itu maka orangtuamu sedih melihatmu.” kata Myungsoo yang tiba-tiba datang menghampirinya. Awalnya aku terkejut melihatnya yang tiba-tiba datang. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku ada di sini. Ah, itu tidak penting. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukkan Myungsoo oppa. Myungsoo hanya membelai lembut kepalaku dan berusaha menenangkanku.
FLASHBACK END

Author POV
Myungsoo berusaha menjadi yang terbaik buat Jiyeon. Ia tak ingin Jiyeon sedih maupun terluka. Seminggu kemudian, keadaan Jiyeon mulai membaik. Sejak insiden itu, Jiyeon menjadi sakit selama berhari-hari. Hari ini adalah hari dimana Jiyeon dan Myungsoo akan berjalan-jalan. Jiyeon meminta Myungsoo untuk menemaninya berkeliling.

Myungsoo POV
Whua… hari ini aku merasa senang. Bagaimana tidak? Aku bisa berjalan bersama orang yang kusayangi, Jiyeon. Kami sudah mengunjungi beberapa tempat yang indah. Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore, sudah waktunya untuk pulang. Namun entah mengapa, seluruh tubuhku merasakan sakit luar biasa. Rasanya sangat sulit untuk melangkah apalagi berbicara. Omo… percobaan macam apa lagi yang harus kulalui.
Aku menatap di sebelahku dengan tatapan nanar. Bagaimana bisa dihari yang indah ini, aku merasakan sesak di dadaku. Aku harus bisa bertahan demi dia. Hanya dialah kekuatanku.
Myungsoo POV end

Karena takut, Myungsoo menautkan jari-jarinya dengan Jiyeon erat. Ia terlalu takut saat ini, lalu mereka jalan. Tiba-tiba, Myungsoo ambruk diatas aspal dan pingsan. Jiyeon terkejut mendapatkan Myungsoo yang terjatuh. Sontak Jiyeon cemas dan jongkok sambil menepuk pipi Myungsoo berkali-kali.

“oppa, kau kenapa? Oppa… Ppali… ireona… jangan buat aku menjadi panik seperti ini!” Ucap Jiyeon yang sudah terisak sambil mengoyang-goyangkan tubuh Myungsoo berkali-kali
“Op..ppa… Op…ppa… ire…oonna…” Kini Jiyeon makin deras menangisnya dan tidak memerdulikan segerombolan orang yang kini mendekati mereka dan hanya melihat saja tanpa memanggil ambulan

30 menit kemudian…
Jiyeon dengan setia menunggu Myungsoo untuk membuka matanya. Saat ini mereka sudah berada di Rumah Sakit. Bahkan Jiyeon enggan untuk meninggalkan Myungsoo satu menit pun, ia terlalu takut jika ia pergi keluar sebentar maka Myungsoo akan menghilang atau apapun. Jiyeon terus memegang tangan kanan Myungsoo dengan erat dan kedua air matanya tak henti-hentinya mengalir dengan deras di kedua pipinya, bahkan kedua matanya sudah membengkak akibat terlalu lama menangis.
“oppa… bagunlah… apa kau tak khawatir padaku? Oppa… Jebal… Ireona… hiks… hiks…” Jiyeon dengan cepat menghapus lelehan air matanya
“Ji-ah… gwae…ncan…ha…” ucap Myungsoo dengan terbata-bata, bahkan untuk berbicara saja terlalu sulit untuknya
“Oppa…” Jiyeon begitu terkejut mendapati Myungsoo yang sudah bangun
Mungsoo hanya tersenyum tipis. Jiyeon dengan cepat memeluk Myungsoo dengan erat.
“oppa… Kenapa kau bisa seperti ini? Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tak bilang padaku kalau kau sakit hiks… hiks… napeun namja” ucap Jiyeon dengan terisak

Myungsoo mengangkat tangan tangannya dengan lambat dan mulai mengelus rambut Jiyeon dengan lembut.
“gwaencanha… aku hanya tak ingin kau khawatir. Lagipula aku Cuma pingsan saja kan?” ucap Myungsoo dengan guraunya, Jiyeon memukul dada Myungsoo berkali-kali
“akh… appo… akh…” Myungsoo memegang dada yang dipukul Jiyeon tadi dan memasang muka sebalnya menatap Jiyeon
“Mianhae oppa. Mana yang sakit? Apa perlu aku memanggil uisa?” tanya Jiyeon panik sambil melepas pelukannya
“bwuahahaha… aku hanya bercanda hehehe” kata Myungsoo dengan cengegesan
Jiyeon hanya menatap Myungsoo dengan datar bahkan memukul dada Myungsoo dengan keras dan berkali-kali tanpa memerdulikan Myungsoo yang mengeluh sakit
“Rasain tuh!” kata Jiyeon sambil berdiri membelakangi Myungsoo dan melipat kedua tangannya didada
“Ji, mianhae… aku tau kalau aku salah. Sekali lagi mian” ucap Myungsoo menyesal
“hahh… arraseo, kalau kau sekali lagi seperti ini maka tak akan kuampuni sampai kapanpun!”
“baiklah… baiklah”
“Oh iya, Jiyeon-ah jangan sekalipun kau meninggalkanku sendirian dan memendam masalahmu sendiri arraseo? Kalau kau ada masalah, jangan sungkan untuk menceritakan masalahmu padaku arraseo?” tanya Myungsoo dengan wajah seriusnya
Jiyeon hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Myungsoo. “Arraseo oppa.” Ucap Jiyeon dengan senyum tulusnya

‘Biarlah dia menganggapku sebagai oppanya, yang terpenting dia berada di sisiku saja sudah cukup untukku. Aku akan membuatmu tersenyum seperti ini mulai sekarang. Cinta? Cinta itu masih bisa dicari lagi dan bukan hanya dia satu-satunya yeoja yang ada di dunia ini. Aku akan berusaha mencari yeoja sebaik dia dan cantik untuk menjadi istriku kelak. Jiyeon-ah… Semoga kau selalu bahagia bersamaku walaupun aku bukanlah oppa kandungmu, tapi aku bisa menjadi pengganti Appa dan Eommamu.’ Batin Myungsoo dengan tatapan sedihnya namun berubah menjadi tersenyum lebar menatap Jiyeon

Cerpen Karangan: Sintia Paramita
Facebook: Sintia paramita gotama

Cerpen Oppa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gue Mimpi Aneh

Oleh:
Nama gue Bella, dan loe bisa manggil gue Bell atau Abel. Biasanya sih, gue lebih sering dipanggil Abel dari pada Bell. Dan kalau kalian mau manggil gue Bell kek,

Bus Desa Jungdul

Oleh:
Aku Lin ji. Hal yang terindah bagiku adalah hari pertama di sekolah baru. Penyebab kepindahanku ke desa ini karena suatu pekerjaan orangtuaku. Aku duduk di sebuah halte yang tampak

Kitchen And Velvet Cake

Oleh:
30 menit berlalu, saatnya velvet cake diangkat dari oven, untuk memperindah tampilan velvet cake ini Kim Bum musti menghias bagian luar kue dengan krim putih. Dengan profesional ia pun

Psychopath

Oleh:
“Kang Min-Suk” Teriak Hwa-Yeon memanggilnya dari kejauhan. “Waeyo Hwa-Yeon?” Jawab Min-Suk. “Min-Suk, kamu… Kamu… Dengar kabar kalau Hye-Soo meninggal kan?” Tanya Hya-Yeon Kepada Min-Suk. “Aku Sudah Dengar. Waeyo?” Jawabnya.

I’m Your Brother

Oleh:
Annyeong Haseyo, naneun Kim Shin Jung imnida. Kalian bisa memanggilku Shin Jung. Aku tinggal di Seoul bersama kedua orangtuaku. Terkadang aku merasa kesepian. Andaikan saja aku punya Kakak, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *