Painful Smile

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 8 April 2017

“Hyejoo-ya, mianhae.” ujarnya sambil menatapku nanar.
Kata-kata itu selalu terngiang di benakku dari 4 tahun yang lalu. Kata-kata perpisahanku dengan Kangwoo oppa.
“Aku mencintaimu Hyejoo-ya. Menikahlah denganku.” Kata-kata itu hanyalah omong kosong belaka. Kata-kata itu hanyalah sebagian kecil dari sandiwara yang dimainkannya bersama istrinya dan juga kakak kandungku, Haejoo. Sekarang kuyakin ia bahagia bersamanya.
Aku tertawa pahit saat melihat fotoku dengannya yang ada di meja kamarku.
Hari ini aku berniat untuk membuang semua yang ada hubungannya dengan Kangwoo oppa dan pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliahku.

Musim Gugur, Oktober 4 tahun lalu
“Hyejoo-ya. Pemandangan daun berguguran bagus ya?” tanyanya dari belakang.
Musim gugur kali ini sepertinya berbeda dari musim-musim gugur sebelumnya. Sebelumnya, aku tidak mempunyai seorang pun di sisiku.
Aku menatapnya.
“Kangwoo oppa.” panggilku.
Ia tersenyum sambil menatapku.
“Ada apa?” tanyanya.
“Ani, aku ingin melihat wajah oppa saja.” jawabku malu.
“Bukankah sudah 3 tahun kau melihat wajahku yang tampan ini?” tanyanya bangga lalu duduk di sebelahku.
Aku tertawa mendengarnya.
“Pulanglah oppa. Sudah jam setengah 11 malam.” ujarku.
“Baiklah. Aku akan meneleponmu.” pamitnya lalu keluar dari rumahku.

Aku masuk ke kamar tidurku dan memainkan handphoneku.
“Hyejoo-ya. Eomma sakit. Sepertinya kau harus pulang ke Cheongju.” Aku membaca pesan yang dikirimkan kakakku dengan terkejut. Aku segera menelepon kakakku, Haejoo.
“Eomma sakit apa?” tanyaku langsung.
“Besok aku akan membawanya ke rumah sakit.” jawabnya.
“Aku akan pulang, eonni.” ujarku.
“Kau memang harus pulang. Sudah 1 tahun setengah kau tidak pulang.” sahutnya kesal.
Aku terdiam.
“Kapan kau akan pulang?” tanyanya.
“Aku akan naik bus pertama ke Cheongju.” jawabku.
“Baguslah.” ujarnya puas lalu menutup teleponnya.
Aku menghembuskan nafasku dan tertidur.

3 minggu kemudian
Keadaan eomma makin memburuk. Dokter memvonisnya terkena kanker usus stadium 4. Aku sekarang sering pulang pergi Cheongju untuk merawat eomma dan jarang bertemu dengan Kangwoo oppa.
Pagi itu ia mengirimiku pesan singkat.
“Hyejoo-ya. Sepertinya kita harus bertemu.” bacaku.
“Baiklah. Aku akan kembali ke Seoul besok.” balasku lalu aku melanjutkan merawat eommaku.

Keesokan harinya
Kangwoo oppa sudah menunggu di taman yang sudah kami janjikan.
“Sudah lama tidak bertemu oppa.” sapaku lalu duduk di sampingnya.
“Apa kabar?” tanyanya lembut.
“Baik-baik saja.” jawabku.
“Ada apa mengajakku bertemu?” tanyaku penasaran.
“Aku hanya penasaran bagaimana keadaan ibumu.” jawabnya.
“Kankernya sudah menyebar ke mana-mana. Sudah tidak ada harapan lagi.” jelasku sedih.
Ia memelukku dari samping.
“Aku berharap aku bisa merubah hidupku.” gumamku.
Ia tersenyum sambil melepaskan pelukannya.
“Hidup tidak akan berubah hanya jika kau menginginkannya untuk berubah.” ujarnya.
Ia mengajakku ke restoran yang kami sering pergi dulu ketika aku masih benar-benar tinggal di Seoul.
“Bagaimana kuliah oppa?” tanyaku sambil memakan menu favoritku, Nasi Kare.
“Begitulah.” jawabnya tak peduli.
“Tidak se-seru ketika kau masih ada di Seoul.” tambahnya.
“Aku juga ingin tinggal di Seoul, oppa. Tapi bagaimana? Ibuku sakit. Haejoo eonni juga sibuk dengan pekerjaannya.” curhatku.
“Aku tahu kau sedang susah sekarang. Tapi kau juga harus mengingat hubungan kita.” sahutnya.
Aku tersenyum.
“Aku akan mencobanya.” jawabku.

1 Minggu kemudian
Aku menabur abu ibuku di sebuah sungai dekat rumahku di Cheongju.
“Hyejoo-ya. Eomma sangat menyayangimu. Kau harus tahu itu.” ingat Haejoo eonni sambil memelukku dari samping.
“Aku tahu eonni. Karena itu aku merasa lebih sedih.” sahutku sambil menangis.

Kami sampai di rumah pada sore hari. Saat aku memasuki rumah, aku mengenang kenanganku kepada rumah itu. Dulu saat aku masih kecil, selalu ada makanan yang dibuat eomma ketika aku pulang dari sekolah bersama Haejoo eonni. Aku menangis saat melihat ranjang eomma yang sekarang kosong.

“Hyejoo-ya.” panggil eonni sambil menyuruhku duduk di kursi meja makan.
Aku menatapnya.
“Maafkan aku Hyejoo-ya. Aku tidak bisa menemanimu tinggal di Cheongju lagi. Seminggu lagi mungkin aku akan pindah tinggal ke Seoul. Songho oppa mempunyai pekerjaan di sana.” jelasnya.
Secara tak sadar, aku mengangguk. Aku memang tidak bisa menghentikannya pindah. Lagian aku juga akan pindah ke Seoul setelah ini.
“Kau mau pindah ke Seoul lagi?” tanya Haejoo eonni.
Aku mengangguk.
“Pindahlah. Kita bereskan barang-barang eomma dan segera pindah.” ujarnya.
“Ne.” jawabku singkat.

“Lelah sekali.” keluhku sambil menaruh kotak barangku yang terakhir di dalam rumah baruku. Aku baru saja pindah ke Seoul, begitu juga dengan Haejoo eonni walaupun kami tinggal berbeda rumah.
Seseorang memencet bel rumahku.
Aku membuka pintunya. Ada Kangwoo oppa di sana.
“Masuklah.” ujarku sambil mempersilahkannya masuk.
Ia duduk di sofa dan menyuruhku duduk di sampingnya.
“Hyejoo-ya.” panggilnya lirih.
Aku terkejut dengan nada bicaranya.
“Ada apa oppa?” tanyaku khawatir.
“Maafkan aku Hyejoo-ya. Sepertinya sebentar lagi kita harus putus.” jawabnya menyesal sambil menundukkan kepalanya.
Aku terkejut.
“Kenapa?” tanyaku.
“Ibuku menjodohkanku dengan seorang gadis, anak temannya.” jawabnya.
Aku menatapnya tak percaya.
“Aku sangat ingin menikah denganmu.” ujarnya dengan nada menyesal.
Aku memeluknya.
“Kita akan memperjuangkan hubungan kita, bukan oppa?” tanyaku.
Ia mengangguk.
“Tentu saja.” jawabnya.
“Hyejoo-ya. Aku mencintaimu.” ujarnya.
“Aku juga.” balasku.
Aku membiarkannya memelukku dari samping.
“Aku pulang dulu, Hyejoo-ya. Sampai jumpa besok.” pamitnya lalu keluar dari rumahku.
Diam-diam aku masuk ke dalam kamarku dan menangis. Aku tidak percaya bahwa hubungan yang telah kujalin bersama Kangwoo oppa akan hancur karena satu hal yang paling kami benci, perjodohan.

Aku dan Kangwoo oppa semakin menikmati hari-hari yang tersisa sebelum ibunya benar-benar menikahkannya dengan seorang gadis.
Ia sampai di rumahku, kami menonton TV dan akhirnya Kangwoo oppa tertidur.
Aku menatap wajahnya yang tertidur sampai sebuah SMS masuk ke handphone Kangwoo oppa. Aku membuka SMS itu.

Dari: Haejoo-ku Tersayang
Kangwoo-ya. Apa kau sudah memutuskan adikku? Kalau kau sudah melakukannya, datanglah ke rumahku. Kita akan membicarakan tentang pernikahan kita bersama ibumu.

Aku tersentak membaca pesan itu. Tanpa kusadari air mataku jatuh. Hatiku sakit. Sakit dengan amat sangat. Aku meletakkan handphonenya dan segera masuk ke kamarku. Betapa teganya ia mengkhianatiku, lebih parahnya lagi ia melakukannya dengan kakakku.
Aku meninggalkannya di rumah dan segera pergi ke rumah kakakku.

“Kang..” panggilnya terputus saat melihatku di depan pintunya.
Aku menerobos masuk rumahnya.
“Bagaimana kau tega melakukan hal ini, eonni?” bentakku.
Ia menatapku.
“Kau sangka ia benar-benar mencintaimu?” tanyanya balik dengan sinis yang membuat hatiku semakin sakit.
“Eonni. Apakah kau benar-benar kakakku?” tanyaku tak percaya dengan omongannya.
Ia menatapku tak suka.
“Bagaimana pula kau bisa melihat SMS Kangwoo?” tanyanya heran tetap dengan tatapan tak suka.
“Ia tertidur di rumahku. Apa?” bentakku sambil menangis.

Sesaat kemudian, Kangwoo oppa muncul di rumah Haejoo eonni.
“Haejoo-ya.” panggilnya sambil merangkul eonni dari samping.
“Oppa.” panggilku tak percaya.
Ia tersenyum dingin.
“Hyejoo?” tanyanya acuh tak acuh.
“Dibanding kakakmu kau jelas bukan apa-apa.” lanjutnya yang membuatku terkejut sekaligus patah hati.
“Maaf, Hyejoo-ya.” ujar Haejoo eonni tak berperasaan sambil membuka pintu rumahnya.
“Hyejoo-ya, mianhae.” ujar Kangwoo oppa lalu menutup pintunya.

3 bulan kemudian
Aku benar-benar putus kontak dengan Haejoo eonni maupun Kangwoo oppa. Hari ini aku menerima undangan pernikahan mereka berdua. Sekali lagi aku merasakan sakit hatiku saat membaca nama mereka berdua. Aku memutuskan untuk pergi sejenak ke pesta itu. Bagaimanapun juga Haejoo eonni tetap kakakku. Aku melihatnya tersenyum ke banyak orang, begitu juga dengan Kangwoo oppa. Aku memandang mereka dengan senyum tersakit yang pernah kubuat. Air mata kembali mengalir dari kedua mataku. Bukan karena aku tak rela Haejoo eonni menikah, melainkan karena ia menikahi Kangwoo oppa.
Aku berlari pergi dari pesta itu.

4 tahun kemudian, sekarang
Aku selesai membereskan rumahku. Aku memandang sebuah kotak sebelum membuangnya. Kotak itu berisi semua kenanganku dengan Kangwoo oppa.
Aku berpikir. “Memang benar yang kau katakan, oppa. Hidup tidak akan berubah hanya jika kau menginginkannya untuk berubah.” pikirku lalu membuang kotak itu.

The End

Cerpen Karangan: CharmersNA

Cerpen Painful Smile merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Eye

Oleh:
New York, Desember, 15, 2013 Porsche putih itu melaju kencang. Pengemudinya membanting setir ke kiri menghindari truk tronton di depannya, mengakibatkan mobil menabrak pagar jalan. Benturan terdengar memekakkan telinga.

Sampai Jumpa

Oleh:
Tiada hari tanpa pergi ke kedai, sebuah tempat menjadi awal pertemuanku dengannya. Dimana kami telah menghabiskan waktu kami di sana hanya untuk berbagi cerita dan bersenda gurau. Cukup lama

Saudara Di Korea

Oleh:
Annyeong, nae ileum hani. (Halo, namaku Hani) Aku tinggal di Indonesia, tepatnya di Pulau Jawa bagian timur. Aku benar-benar orang Indonesia, tapi banyak yang bilang wajahku wajah orang-orang korea.

Gue Mimpi Aneh

Oleh:
Nama gue Bella, dan loe bisa manggil gue Bell atau Abel. Biasanya sih, gue lebih sering dipanggil Abel dari pada Bell. Dan kalau kalian mau manggil gue Bell kek,

Urineun Mwoya (Part 3)

Oleh:
Author POV Seminggu Kemudian… Sehun kembali mencat warna rambutnya seperti semula, pirang. Kini Sehun banyak berubah. Dia gampang emosian, memperlakukan yeoja dengan kasar dan sering melamun. Itu semua karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *