Piteopaen

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 19 July 2016

Seseorang pria terduduk menyembunyikan wajahnya. Ia mengambil posisi duduk berada di ranjangnya. Menarik nafas lalu menghembuskannya dengan keras. Dan matanya tertutup seketika. Kedua tangannya mencengkram rambut sekaligus kepalanya. Mulut merekah lalu meringis hingga semua gigi pada kedua rahangnya tampak.
Bagaimana tidak? kehidupannya akhir akhir ini sedang bermasalah. Ia pun lalu menyeka satu aliran butiran butiran kecil dari matanya yang sebelah kanan. Mencoba menenangkan hati dan berpikir.
GELAP sejenak… Bagaimana tidak? Chanyeol mengedipkan matanya. Bekas air matanya masih terlukis di salah satu pipi kirinya.
‘mengapa tidak aku saja yang jadi mereka. Satu persatu dari mereka telah melupakan yang dulu dan berhasil move on. Sedangkan aku masih terduduk di ranjangku memikirkan gadis yang dulu kita rebutkan. Aku rindu dengan semua itu. Masih ingatkah kau dengan wajah cantiknya? Dan menawan. Tapi dia tak punya hati nurani karena gadis itu tak menerima cincin dariku. Sedangkan Jong In berhasil menaklukkannya karena teleportationnya yang mampu memindahkan hati gadis itu ke dirinya. Dan Kyungsoo yang hanya dengan senyum berbentuk lovenya dapat menaklukkan hati gadis itu’
Chanyeol lalu mendesah. Dan kemudian berteriak sekeras kerasnya.
‘Argh’. Kembali mengusap usap rambutnya hingga berantakan.
Sungguh suasananya memang sedang tidak menyenangkan. Hatinya sangat kelu, Chanyeol tak diterima dengan gadis yang ia tembak tadi. Ditambah Chanyeol kehilangan pekerjaannya hanya gara gara gadis jelek yang tidak menerimanya itu. Gadis itu memang licik sekali
Begitu bodohnya Chanyeol. Bisa bisanya ia berhutang pada atasannya hanya untuk memenuhi gadis yang hanya sedang dalam massa pendekatan. Hingga akhirnya Chanyeol dipecat karena hutang yang terlalu menumpuk. Dan sialnya lagi gadis itu tak menerima Chanyeol dengan semena mena.

Chanyeol POV
Aku kemudian menghampiri kotak kecil di meja pekerjaanku, dan mengambilnya. Aku membuka kotak kecil tersebut. Mengambil catatan usang yang sisinya tereletak di kempat sudut pada kotak tersebut dan aku mmengusap debunya. Halaman pun terbuka dan masih jelas terlukis gambar dirimu yang sangat menawan.
Bergetar tubuh ini, saat memori tentangmu yang selama ini kulupakan kembali menyapa. Dan ini sungguh menyedihkan, karena aku tidak bisa kembali ke masa itu. Massa ketika senyummu masih berada di hadapanku. Aku ingat tentang itu, walaupun kau tak menerimaku sekaligus cincinku dengan alasan yang jelas. Tetapi bodohnya aku, dan aku memakluminya. Hatiku tetap saja marah. Tapi tetap saja kau adalah wanita tercantik yang pernah aku temui.
Aku lalu mengambil gitarku dan masih sembari membuka catatan usang itu dan mengingat semuanya. Aku menangis bergetar dan aku pun mulai bernyanyi
“Neol chajaganda chueogi bonaen tingkeobel ttaranaseotdeon neverland
Geu gose naega neowa barabomyeo utgo isseo
Nan yeongwonhan neoui piteopaen. Geu sigane meomchun ne namja
Seotuljiman neomu saranghaetdeon naui neoege danyeoga”
Chanyeol PoV end

Chanyeol POV
Aku kembali menjadi sosok pangeran berbalut jas hitam lengkap dengan jahitan jahitan jelas yang terbentuk menjadi sebuah hiasan dan menyatukan kain coklat bak baju coboy di atasnya. Tapi menurutku itu tidak cocok kupakai. Karena disini aku sedang tidak dalam pesta pernikahan yang berlangsung dengan membawa bunga mawar biru yang cocok dengan langit biru yang bisa kita lihat diatas.
“Hei wahai Nonnaku bagaimana jika kita terbang kesana” Aku pun menunjuk langit biru di atas. Tapi itu hanyalah khayalan belaka, mungkin aku terlalu kagum dengan langit itu.
Kupikir aku akan melepas jasnya dan mempertahankan baju coboyku. Saat itu aku terlihat tampan dengan kudaku. Dan bagaimana menurutmu?
Aku pun menggerakkan kudaku, dan melecut jauh. Aku mengendalikan kudaku hingga kudaku berhenti di sebuah tempat berpohon pinus. Yah.. sepertinya itu adalah hutan. Aku menyusuri sungai yang ada di pinggirnya.
Hei lihatlah!! Sosok berambut pirang itu. Ia sedang duduk merangkul lututnya mempehatikan pemandangan indah diseberang sana hingga ia bisa tersenyum gembira. Aku mendekatinya, seperti pernah mengenalnya? Ah tapi siapa aku lupa.
“Anyeong” sapaku dengan senang.
“Chanyeol-ah” sapanya kegirangan sekaligus terkejut. Lantas ia berdiri menjajari posisiku
“kau kenal denganku?” aku menyernyit bingung. Benar saja dia memanggilku, aku seperti pernah mengenalnya.
“Kau tak ingat aku, tega sekali kau Chanyeol-”
“Hei kau terlihat tampan dengan baju coboymu” lanjut gadis itu.
“Gomawo, kau juga terlihat cantik dengan gaun dan bunga yang melingkar di kepalamu”. Gadis itu pun tersenyum.
“Oh ya kenalkan namaku-” gadis itu memberi jabatan tangan.
“Kau tak perlu memberi tahu namamu” Potongku dengan tersenyum. Ia juga ikut tersenyum. Senyumnya manis sekali.
Chanyeol POV end

“Ngomong ngomong, kenapa kau bisa ada di sini” tanya gadis itu penasaran. Chanyeol dan gadis itu berjalan jalan memandangi pemandangan sambil berbincang.
“aku tak tahu, tiba tiba saja aku menjadi sosok pangeran seperti ini” Chanyeol menyunggingkan kedua bahunya dan melihat tubuhnya yang berbeda itu.
“kau tahu kita sedang dimana Chanyeol?” Tanya gadis itu bermaksud akan memberi tahu Chanyeol tentang keberadaan mereka.
“kita sedang berada di alam, tepatnya di hutan pinus” jelas gadis itu.
“apakah ini khayalan?” tanyaku sambil mencubit pipiku memastikan kalau ini benar.
“tidak, ini nyata, tetapi kau harus hati hati disini banyak penjahat”
“tenanglah aku dapat menggunakan kekuatan apiku untuk melawannya” Chanyeol pun menunggangi kudanya, dan tiba tiba kekuatan api itu benar benar datang padanya. Buktinya tangannya tiba tiba mengeluarkan api.
“Hei aku benar benar memiliki kekuatan api” Chanyeol mencoba kekuatannya berulang ulang. Gadis itu pun tertawa.
“hati hati Chanyeol kalau pulang!, sampai ketemu lagi!” teriak gadis itu sambil melambaikan tangan setelah melihat Chanyeol semakin kecil di hadapannya.
“tenang saja aku sudah punya kekuatan api!” teriak Chanyeol membalasnya.

Chanyeol duduk di batu besar memandangi hilir sungai di bawahnya. Sesekali, ia memegang gemericik sungai yang dingin. Chanyeol menghembuskan karbon dioksidanya dengan keras ke udara dan menggantikannya kembali dengan oksigen, lalu ia memandang kudanya dan kemudian memandang sungai lagi. Orbs lentik Chanyeol sedikit memicing, memandang keatas awan. Awan berbentuk peri, oh tidak! Itu sungguh nyata. Tiba tiba ia teringat dengan gadis tadi
“gadis itu! Ya aku ingat gadis itu, sangat cantik sekali. Walau aku tak mau tahu namanya. Sungguh aku seperti senang berada di dekatnya. Senyumnya lembut dan manis semanis sungai ini andaikan sungai ini menjadi sungai susu atau sungai madu. Pipi meronanya, seperti membuatku berjalan di atas awan. Hei sepertinya aku suka padanya? Yah aku tahu kalau ini perasaan suka. Hei atau jangan jangan ini cinta? Gadis itu sungguh hebat, aku membuatnya suka secepat ini. Aku dulu seperti pernah mengenalnya, atau jangan jangan dari dulu aku sudah suka padanya. Bagaimana jikalau aku bertemu lagi dengannya dan aku akan…”

Chanyeol memacu kudanya dengan cepat, secepat mungkin. Benar saja, ia memiliki perasaan tidak enak dengan gadis itu. Chanyeol menemukan gadis itu sedang dikelilingi buronan penjahat. Gadis itu terlihat takut dan kebingungan. Chanyeol pun turun dari tunggangannya. Ia bergegas melawan buronan itu. Chanyeol mengepalkan kedua tangannya dan membukanya kembali sedikit demi sedikit, ia mencoba kekuatan apinya tetapi tidak bisa. Ia mencobanya berkali kali, oh tidak kekuatan api itu hanya sesaat datang padanya.
“Argh”. Chanyeol mendesah
Chanyeol tak mau menyerah. Ia lantas mendekati buronan itu, dan terpaksa menggunakan jurus silat dan pukulannya. Gadis itu mundur karena takut. Sedangkan pertarungan pun dimulai.
BUGH
Chanyeol terkena pukulan Si Buronan paling besar. Ia mengusap sedikit dari darah yang tercucur di mulutnya. Dan membalasnya hingga ia berhasil menaklukkan ke lima penjahat itu dengan pukulan mautnya. Buronan itu pun menyerah dan melarikan diri.
“Chanyeol!” gadis itu pun sontak memeluk Chanyeol. Dan Chanyeol sedikit mengelus rambut pirang itu.
“kkau.. terlihat ketakutan” kata Chanyeol canggung saat di peluk gadis itu. Raut wajah gadis itu terlihat takut.
“aku takut sekali” jawab gadis itu sedikit mencucurkan air mata dan masih memeluk Chanyeol. Chanyeol tersenyum simpul. Lalu Chanyeol berdehem.
“Mianhe” gadis itu lantas melepaskan pelukannya karena refleks dengan deheman Chanyeol. Chanyeol kembali tersenyum simpul.
“Jeongmal Gomawo” ucap gadis itu dengan tulus.
“Ne” jawab Chanyeol singkat namun sedikit gugup.
“biar kubersihkan luka di mulutmu, lukamu terlihat parah” gadis itu menggerakkan dagu Chanyeol bermaksud ingin melihat darah chanyeol di mulutnya. Gadis itu pun membopoh Chanyeol mendekati sungai. Lalu gadis itu mengambil sapu tangan lusuh dan mencelupkannya ke air sungai yang dingin. Ia memeras sapu tangan yang sudah basah. Kemudian, mengusapkan sapu tangan itu ke mulut Chanyeol. Gadis itu sungguh perhatian sekali, sampai sampai ia terus memperhatikan luka Chanyeol tanpa berkedip.
“argh” Chanyeol sedikit terkesiap karena gadis itu membersihkan lukanya sedikit kasar.
“Mianhe akan kulakukan lebih halus”. Gadis itu lantas terfokus pada luka Chanyeol. Ia tak sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan Chanyeol. Chanyeol melihat gadis itu dengan detailnya. Setiap matanya, mulut lembutnya, dan pipi merona yang seakan membuat Chanyeol seperti di puncak awan. Chanyeol sedikit mendekati gadis itu, semakin dekat, dan semakin dekat. Gadis itu tersadar dan hatinya tercelos ketika Chanyeol berhasil lekat dengannya, walau hanya dalam waktu singkat
Gadis itu bereaksi dengan melarikan diri di hadapan Chanyeol dan melemparkan sapu tangannya. Gadis itu berlari dengan cepat, berharap secepat kilat karena ia tahu bahwa Chanyeol mengejarnya. Sepertinya jarak mereka sudah jauh. Gadis itu pun terhenti di sebuah pohon pinus yang tebal. Ia terlihat ngos ngosan.
Ia menutup manik cantiknya, lalu membukanya kembali. Gadis itu terhenyak. Ia belum bisa percaya bahwa apa yang barusan terjadi itu benar. Gadis itu menutup matanya kembali dan sedikit tersenyum. Ia bertanya pada dirinya sendiri. Apakah Chanyeol benar benar melakukannya? Oh tidak! Hal itu memang ia harapkan sejak dari dulu.

“Hei gadis yang tak ku mau tahu namanya” Chanyeol tiba tiba datang dan berhasil membuat gadis itu terkaget. Gadis itu tak merespon dan hanya diam saja. Ia sedikit menegok pada Chanyeol namun ia lalu merubah posisi kepalanya kembali ke semula. Chanyeol mengambil tangan gadis itu. Gadis itu menurut tetapi masih tak merespon.
“kkauu pas..ti marah dengan ke..jadian kemarin” sahut Chanyeol dengan suara bervibra karena ia sangat gugup. Gadis itu masih dengan rupa datarnya dan masih tidak menggubris Chanyeol.
“Maafkan aku, dan lupakan kejadian itu” ucap Chanyeol sedikit menunduk. Gadis itu terus dengan sifatnya yang aneh dan tanpa ada sahutan. Namun dalam hatinya sangat berdebar.
“Hei kenapa kau diam! Mari berbincang” ajak Chanyeol bermaksud menghibur.
“Apa aku harus mengeluarkan aegyoku agar kau tersenyum?” Chanyeol menyolek dagu gadis itu. Gadis itu menahan senyumnya. Chanyeol lalu melakukan aegyo buing buingnya. Gadis itu masih menahan senyumnya.
“Sudahlah jika kau ingin tersenyum, tersenyumlah” lanjut Chanyeol yang akhirnya berhasil membuat kedua sudut bibir gadis di depannya tertarik ke atas. Bahkan gadis itu tertawa ditemani aegyo dari Chanyeol.

“Kau bisa membersihkan lukaku?” Chanyeol mendatangi gadis itu. Gadis itu pun menganguk. Ia kembali melakukan apa yang dilakukannya dahulu ketika membersihkan luka Chanyeol. Gadis itu membersihkannya. Matanya pun memicing pada darah yang tercucur di mulut Chanyeol. Raut wajahnya pun terlihat cemeberut. Ia lalu, sedikit menjauh dari muka Chanyeol.
“sial” batin Chanyeol

Chanyeol menerobos jaring laba laba dengan kuda yang ditungganginya. Ia sangat gembira hingga ia tak sadar kalau ada jaring laba laba di depannya. Bajunya menjadi kotor karena jaring laba laba menempel seluruh badannya, tepaksa ia harus membersihkannya karena hari ini adalah hari spesialnya bersama gadis cantik itu.
Gadis cantik itu tampak menaruh untaian mawar biru memutari kepalanya. Ia harus cantik dan terlihat elegan hari ini. Karena Chanyeol akan memberinya kejutan indah. Gadis itu mendengar suara rengekan kuda. Sepertinya itu Chanyeol. Ia pun menengok. Benar, dia akui hari ini Chanyeol begitu sangat tampan.
“Ha..i cantik” sahut Chanyeol dengan gugup.
“Hai juga tampan” balas gadis itu sambil melihatkan senyumnya. Hening sejenak.
“sudahlah tak usah gugup padaku” kata gadis itu memecahkan keheningan dan mengetahui kegugupan Chanyeol. Bibir Chanyeol sontak berbentuk seperti bulan sabit yang berotasi menghadap ke atas. Karena ia tersenyum malu.
“eumm, aku hanya ingin mengajak kau ke suatu tempat”. Chanyeol menggandeng kelima jari gadis di dekatnya.
“Kajja!” ajak Chanyeol. Gadis itu pun mengangguk.

Mereka berdua terbang ke langit biru. Hei! Kenapa mereka bisa terbang? Itu karena mereka terbang bersma Tinkerbell. Dan ini sungguh nyata. Mereka melewati berbagai bentuk awan, atmosfer bumi dan bahkan mereka hampir sampai ke milkey way.
Mereka pun berhenti di suatu tempat. Dekat sekali dengan Milkey Way. Milkey Way adalah salah satu lubang di atas langit dimana kita bisa menerobosnya dan kita bisa ditempat yang berbeda dan kembali lagi ke tempat yang semula. Mereka berdua berdiri diatas langit dan memandang air terjun nyata di depan manik mereka.
“Kau tahu tempat ini?” tanya Chanyeol memberi kejutan
“Sungguh, ini di Neverland” gadis itu teragum sekaligus tak percaya. Ia memandang indahnya Neverland yang tiada tara.
“lihatlah air terjun itu” Chanyeol menginterupsikan gadis di sampingnya untuk melihat air terjun itu. Gadis itu pun menggerakkan matanya sesuai yang Chanyeol maksud.
“kupikir aku akan menghentikan deras dan aliran airnya” Chanyeol mulai berkhayal
“apa kau bisa?” tanya gadis itu dengan membenarkan untaian mawar di atas kepalanya.
“Mungkin bisa karena aku akan menjadi Peterpanmu, lelaki yang berhenti di tengah waktu”
Kata Chanyeol di iringi kegugupannya. Gadis itu berusaha mencerna kata kata Chanyeol.
“SARANGHAMNIDA EOH NONNA CANTIK”.
DEG
Gadis itu terkaget, hatinya mencelos. Ia tak bisa mengedipkan mata. Ia memandang Chanyeol dengan tatapan tak biasa. Ia benar benar terkejut, gadis itu menjadi seperti beku. Jantungnya sangat berdebar, hingga ia kesulitan untuk mengatur degupnya dan menetralisir kegugupannya.
“aku akan selalu mencintaimu meski canggung kadang menyapaku karena bagiku kau lebih cantik dari Cinderella ataupun Wendy-”
“dan maukah kau jadi kekasihku” lanjut Chanyeol dengan keringat dinginnya. Gadis itu masih terkejut, ia bingung ingin mengatakan apa. Gadis itu terus berpikir.
“tetapi aku tidak bermaksud melukaimu” kata gadis itu akhirnya dengan suara seraknya dan raut wajah sedihnya.
“Jadi?” Chanyeol benar benar penasaran dengan jawaban gadis itu.
“Maafkan aku tak bisa menerimamu” toreh gadis itu dengan menunduk. Chanyeol pun ikut menunduk bersedih, ia menghembuskan nafasnya keras di udara yang sebagian besar bernitrogen itu.
“Kumohon!” pinta Chanyeol benar benar berharap.
“maafkan aku, karena saat itu aku tahu kalau darah itu hanya darah binatang, kau membohongiku kan, kau hanya ingin mengambil kesempatan kan? Aku hanya ingin kau belajar dari kebohonganmu itu dahulu” jelas gadis itu yang sontak membuat Chanyeol terkejut
“kau tahu itu?” tanya Chanyeol yang terkejut. Gadis itu benar benar mengetahui kebohongannya. Chanyeol dulu memang mengambil darah binatang dan mengoleskannya di mulutnya hingga menyerupai luka.
“karena aku sungguh tahu darahmu” gadis itu beralasan. Lantas gadis itu memegang kedua tangan Chanyeol dan menatapnya dengan serius.
“Tetapi sebenarnya itu bukan alasanku-” sahut gadis itu dengan gugup. Chanyeol pun menyernyit bingung tetapi ia diam.
“Kita tak akan pernah bersama, karena kau hanya dalam kisah dongengku saja” lanjut gadis itu menafsirkan. Chanyeol terbelalak. Sedangkan gadis itu lalu menjauh dan menjauh, hingga menjadi terlihat kecil. Entah tak tahu dimana, Chanyeol berdoa, semoga ia berada di Mikey Way dan menemukan keindahan bak surga.

“Chanyeol!” teriak seseorang membuatnya terkaget. Chanyeol terbangun.
“Aihgoo!” teriak Chanyeol tak terlalu keras.
“oh tidak gadis itu!”
“hanyalah mimpi!”. Chanyeol menghembuskan nafasnya keras keras dan mencoba menenangkan pikirannya. Ia telah kembali lagi ke dunia nyatanya. Ternyata ia tertidur.
Chanyeol kembali memandangi catatang usang yang berada di meja kerjanya. Chanyeol telah membacanya hingga halaman terakhir tentang kisahnya dengan gadis itu. Tetapi ia lalu tak berani membacanya lagi. Chanyeol sadar melalui mimpinya tadi, ia akan menghapus semua kalimat sedih itu karena gadis itu telah berubah seiring berjalannya waktu. Tetapi, cerita ini tak akan pernah berakhir. Karena Chanyeol yakin, ia dan gadis masa lalunya akan bertemu lagi.
~ Kuulurkan tangan ini – tapi kau pergi menjauh

~ THE END ~

Cerpen Karangan: Haya

Cerpen Piteopaen merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penerbangan Terakhir Menuju Busan

Oleh:
Kata orang, Keluarga akan menjaga kita sampai Nafas Terakhir, namun tidak untuk Yeoja cantik Keturunan Korea-Indonesia, Kim Kara. Seoul at. 19:00 KST “Amma, Appa Palli” “Nde Chagiya” Kara, Yeoja

Gloaming

Oleh:
Sebuah padang rumput ilalang yang luas, memancarkan cahaya coklat keemasan di senja hari seperti ini. Diselingi bunga-bunga yang merekah di sekitar padang itu. Gemericik air sungai yang mengalir kecil

Illusions

Oleh:
Malam ini angin berhembus tidak biasa. Terlalu liar untuk hanya disebut sebagai angin semilir. Entah apakah aku tengah mengambil keputusan yang tepat dengan duduk di serambi depan, sementara cuaca

Hate Make Me Love You (Part 2)

Oleh:
Hampir setiap hari Ye Seul selalu membalas chat dari S.Coups dan mengabaikan chat dari Wonwoo. Di sekolah, Jung ssaem memberi tugas kelompok tentang sejarah korea dengan 1 kelompok terdiri

Ketika Kau Memandangku (Part 1)

Oleh:
Pagi ini akan menjadi pagi yang paling ku takuti, tapi mau bagaimanapun aku harus melakukannya karena aku seorang reporter, yang harus mengungkap kasus pembunuhan yang sering terjadi di salah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *