Reset

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 24 November 2016

“Wah Cindy, kau mendapat peringkat kedua lagi.” kagum Kang Se Young yang berdiri di samping seorang gadis berwajah angkuh dengan senyum hambar menghiasi wajahnya.

Satu minggu yang lalu murid murid SMA ScreenSky baru saja mengadakan ujian tengah semester. Dan hasilnya baru saja keluar dan di tempel di papan pengumuman.

CINDY CHOI Kembali menempati peringkat kedua selama dua tahun berturut turut. Murid terpintar yang sangat disegani ini adalah anak tunggal dari seorang chaebol yang memiliki saham terbesar di SMA ternama ini. Kenapa disegani, karena siapapun yang berurusan dengannya akan mendapat ancaman dikeluarkan dari sekolah ini.
Ditemani dengan Kang Se Young, Cindy berjalan menuju toilet. Saat akan memutar knop pintu, dari luar Cindy dapat mendengar ada 2 orang siswi yang sedang membicarakan gosip miring tentangnya.

“Hei, apa kau tidak heran mengapa dia selalu mendapat peringkat kedua? Tidakkah kau pikir dia memanipulasi nilai ujiannya.”
“Ya, kau benar. Ini aneh sekali. Tapi tetap saja Jung Jin Young masih yang pintar.”
“MWO-RAGO!?”
Kedua murid yang baru saja membicarakan Cindy, dikejutkan oleh orang yang sedang mereka bicarakan. Cindy datang dengan raut wajah marah. Sontak kedua murid itu tertunduk takut melihat raut wajah marahnya.
“APA YANG BARU KALIAN BICARAKAN TENTANGKU!?” Bentaknya kasar menatap dingin satu persatu murid itu.
Tak ada yang berani bicara, bahkan Kang Se Young sekalipun. Kang Se Young hanya menunjukkan raut wajah senang, karena ini adalah kali kedua Cindy akan melakukan perilaku tidak menyenangkan pada 2 murid ini yang telah berani berurusan dengannya.
“Apa yang kalian maksud dengan memanipulasi nilai-oh?!” gertak Cindy dengan nada dan tatapan mata yang dingin seakan siap menerkam kedua murid itu dengan taringnya yang tajam.
“Ka.. Kami hanya..”
“Hanya apa? Kalian pikir aku tuli.. Dengar hanya ada dua pilihan untuk kalian berdua. Mengundurkan diri dari sekolah ini atau mendapat perlakuan buruk dariku.” Ucapnya mengancam puas hingga membuat kedua murid itu keluar dari toilet dengan air mata bercucuran.

Di loteng sekolah yang jarang didatangi para siswa, Cindy berjalan sambil menerima telepon dari seseorang.
“Oh-Eomma..”
Raut wajahnya terlihat cemas dan ketakutan saat mendapati suara ibunya di ujung sana. Berbeda dengan saat Cindy menggertak kedua murid tadi. Cindy terlihat kejam dan menakutkan.
“Bagaimana peringkatmu?”
“Aku diperingkat 2 lagi, Eomma.” jawab Cindy ragu ragu sambil menggigiti ujung kuku tangan kirinya.
Tuttt.. Sambungan telepon tiba tiba saja terputus. Cindy terlihat semakin cemas dan takut saat ibunya menutup telepon beberapa detik yang lalu. Ia mendapat firasat buruk akan terjadi padanya.

Keesokan harinya…
PLAKKK…
Tamparan keras itu tiba tiba saja mendarat di pipi kanan Cindy. Cindy baru saja tiba di parkiran yang agak gelap dan sepi untuk menemui ibunya, Karena jam pertama baru akan dimulai 15 menit lagi.
“Kau masih belum bisa mengalahkan Jung Jin Young. Dasar anak payah.”
“Eomma…” panggil Cindy lirih memegang pipi kanannya yang terasa panas dan memerah.
“Dengar, ibu sudah berusaha meminta kepala sekolah agar kau ditempatkan di peringkat pertama. Tapi kau ternyata malah membuat ibumu kecewa.”
“Eomma.. Mianhae.”
“Maaf?! Itu tidak cukup. Ibu akan menarik semua aset berhargamu.”
“Tidak ibu. Jangan.”

Tak ada yang tau bahwa Cindy selalu diperlakukan seperti ini oleh ibunya. Hanya saja ada dua orang yang mengintip dari kejauhan dan mendengar serta melihat semua yang dilakukan ibu dan anak itu.

Jam pertama akan dimulai..
Cindy masih melihat satu orang murid yang ia ancam kemarin di toilet masih berada di kelasnya. Sedangkan yang satunya lagi sudah pindah saat hari dimana Cindy mengancamnya.

Walikelas berjalan memasuki kelas bersama seorang murid baru pindahan.
Jung Jin Young si anak terpintar itu berada disatu kelas yang sama dengan Cindy. Jung Jin Young bertugas untuk memerintahkan teman temannya memberi hormat pada guru.

“Salam..”
“Annyeonghasseo”

Walikelas itu hanya tersenyum dan segera memperkenalkan murid pindahan itu. Lee Sa Na akhirnya resmi bergabung dengan siswa siswi lainnya di kelas itu. Sa Na menempati tempat duduk di sebelah Jin Young. Sejak menempati bankunya, Sa Na selalu mencuri pandang pada Cindy yang duduk di seberangnya. Saat Cindy balas menatapnya, Sa Na masih menatapnya dengan raut wajah iba.

Sa Na menempati tempat duduk yang masih kosong untuk makan siang. Tatapan mata Sa Na tiba tiba saja menangkap sosok Cindy yang berjalan diiringi beberapa temannya. Cindy menghampiri meja gadis kemarin yang diancamnya di toilet.

“Kau belum pergi juga?!” Ucap Cindy duduk diatas meja dihapadan gadis yang menunduk takut itu.
“Ibuku tidak bisa memindahkanku.” Jawabnya pelan.
“Benarkah? Kalau begitu selamat menikmati makan siangmu.. pecundang.”
Cindy kemudian bangkit dan memberikan kode kepada teman temannya. Teman temannya langsung menuruti perintah Cindy. Mereka menuangkan apa saja yang berada di atas meja pada makan siang gadis itu dan menyuapi gadis itu agar mau memakannya hingga gadis itu menangis menahan malu, karena semua orang yang berada di kantin memandanginya dengamw tatapan ngeri bercampur iba.

Sa Na terus memandangi perilaku buruk mereka pada gadis yang sedang dibully itu. Hingga tatapannya bertemu dengan tatapan Cindy.

“Jangan menatapnya!”
Tiba tiba saja sebuah tangan besar menghalangi pandangannya. Sa Na beralih pada si pemilik tangan besar itu yang ternyata Jung Jin Young.

“Kenapa mereka hanya diam saja dan memandangi gadis yang sedang diganggu itu?”
Jin Young hanya menggeleng dan menyantap makan siang Lee Sa Na.

“Aku tidak tau.”
“Tapi kau adalah ketua kelas.” sinis Sa Na
“Masa sih”

Giliran Sa Na yang menggeleng gelengkan kepalanya.

Pelajaran terakhir akan segera dimulai. Semua siswa sudah berada kembali di kelasnya masing masing.
Dikelas Sa Na sedang sibuk membaca novel miliknya tiba tiba saja Cindy melintas dan menaruh lipatan kertas di atas novel yang sedang dibacanya.

‘PULANG SEKOLAH TEMUI AKU GUDANG!!!’

Sekilas Cindy dan Sa Na saling beradu tatap. Cindy menatapnya dengan sinis dan senyum kecut tersungging di bibirnya.

“Kubilang jangan menatapnya.” Bisik Jin Young kembali menghalangi pandangan Sa Na.

Pelajaran selesai Sa Na segera menggendong tasnya dan berjalan mencari gudang yang dimaksud tulisan Cindy.
Gudang itu berada di sudut lorong dan pintunya sedikit terbuka. Tanpa ragu Sa Na masuk ke dalam gudang yang lumayan gelap itu.

“Kau datang?! Jadi selamat tinggal.”

Cindy rupanya hanya ingin mengerjai Sa Na dengan menguncinya di dalam gudang itu. Dari dalam Sa Na terus berteriak untuk dibukakan pintu. Dari luar Cindy hanya tersenyum devil dan pergi dengan kunci gudang yang digenggamnya.

Dari dalam gudang Sa Na tidak tau harus berbuat apa. Di dalam gudang rupanya sangat gelap begitu pintu ditutup dan sangat dingin. Sa Na hanya bisa duduk di sebelah pintu sambil menyadari kebodohannya.

“Kau sedang apa duduk di gudang?!”
Sa Na mendongak menatap Jin Young yang sedang menggenggam knop pintu. Sa Na segera bangkit dan tanpa sadar memeluk Jung Jin Young yang telah menyelamatkannya.

Keesokan harinya Sa Na berjalan dengan gusar mendekati Cindy yang tengah asik mengobrol dengan genknya.

“Cindy Choi..”
Cindy menoleh dan menatap Lee Sa Na yang memanggil namanya. Tampak kemarahan didalam mata Sa Na.
“Bagaimana caranya kau melepaskan diri?” Cindy bertanya sambil bangkit dari duduknya dan melipat kedua tangannya tanda menantang.
“Aku. Aku yang melepaskannya kemarin.” sahut Jin Young yang baru saja masuk ke dalam kelas.
Semua orang mulai berkumpul untuk menyaksikan perdebatan yang sangat seru dan jarang ini. Selama ini tak ada yang berani melawan apa lagi mendebat Cindy. Tapi Lee Sa Na dengan berani berbicara didepan Cindy seakan menantangnya.
“Kau..” tunjuk Cindy pada Jung Jin Young yang kini berdiri di belakang Sa Na.
“Hebat sekali. Seberapa jauh hubungan kalian?!” Cindy menyindir keduanya dengan senyum jahat yang selalu tersungging dibibirnya.
“Aku mau kau meminta maaf padaku dan juga gadis yang telah kalian ganggu kemarin saat makan siang.”
Cindy dan genknya melongo tak percaya namun segera disusul dengan ledakan tawa.
“Mwo-rago?! Atas dasar apa kau bicara seperti itu.”
Sa Na hanya menyunggingkan senyuman menang ke arah Cindy.
“Atau.. Kau mau aku menunjukkan semua rahasiamu.”
“Bicara apa kau brengsek.” Bentak Cindy.
Sa Na dapat melihat raut wajah Cindy yang panik, marah dan takut.
“Kau.. Kau dan ibumu mencoba memanipulasi nilai ujianmu agar kau berada di peringkat atas. Kau tau kepintaran yang kau miliki tidak cocok dengan perilakumu yang selalu membully siapa saja yang berani menantangmu. Kemarin kau melampiaskan kemarahanmu pada gadis itu sesaat setelah kau mendapat ancaman dari ibumu dan mendapatkan tamparan darinya. Benar begitu?!” Sa Na tak menunjukkan tanda tanda ia takut pada Cindy saat membeberkan rahasia kelam Cindy.
“Awalnya aku merasa kasihan padamu saat kau menerima perlakuan seperti itu dari ibumu. Tapi saat aku menyaksikan betapa kejamnya dirimu membully gadis itu di depan banyak orang..”
“SIAPA KAU BERANI BERBICARA DAN MENGASIHANIKU SEPERTI ITU!!!” Teriak Cindy mengangkat tangan kanannya hendak menampar Sa Na. Namun dengan sigap Jin Young mencengkram tangan Cindy yang terangkat itu.
“Melawan kekerasan dengan kekerasan, itu pengecut.”

Cindy berlari cepat meninggalkan kelas dan semua orang yang sedang menyaksikannya berdebat dengan murid pindahan dan murid terpintar. Mereka semua merasa terkejut mendengar ucapan Sa Na tadi.
Segera saja Sa Na berlari menyusul Cindy. Meski telah berkata seperti itu, tetap saja Sa Na mengkhawatirkan keselamatan Cindy.
Dari jarak yang cukup dekat, Sa Na melihat Cindy menyeberangi jalan tanpa melihat ada mobil sedang melaju ke arahnya.
Cindy tidak peduli lagi. Ia tidak mau menahan malu. Lebih baik ia mati saja tertabrak mobil. Ia tidak mau lagi melihat teman temannya. Ia tidak mau melihat ibunya yang telah membuatnya seperti ini. Karena ibunya, Cindy senang melampiaskan kemarahan atau kekesalannya pada orang orang di sekitarnya. Karena ibunya ia harus menanggung malu. Tapi tetap saja, Cindy tidak bisa menyalahkan ibunya. Itu karena ia terlalu takut ada ibunya. Dan hanya ada satu pilihan. Pilihan itu adalah.. Mati.

“CINDY AWASSS…”
Cindy masih dapat mendengar teriakan Sa Na saat mobil itu menghantam tubuhnya.
Sa Na berniat mendorong Cindy agar ketepi jalan. Tapi ia ditahan oleh Jin Young yang memeluknya erat.

“Kau mau mati juga ya..” bentak Jin Young saat itu.

Kini semua tak terelakkan lagi. Cindy segera dibawa oleh ambulan. Dan entah bagaimana caranya tabrakan Cindy menjadi berita yang paling dicari di media sosial.
‘SEORANG SISWA BUNUH DIRI KARENA TAK TAHAN OLEH IBUNYA.’

Di rumah sakit Sa Na termenung di kursi ditemani Jin Young. Sa Na merasa bersalah atas kejadian yang menimpa pada Cindy. Ia tidak tau bahwa semuanya akan menjadi seperti ini. Setetes air mata keluar dari pelupuk mata Sa Na.
“Tenangkan dirimu. Ini semua bukan salahmu. Kau tau.. Takdir selalu berjalan sesuai Kehendak-Nya.”

Sa Na sedikit tersenyum mendengar kata kata mutiara Jin Young. Dan itu membuatnya berpikir bahwa perkataan Jin Young benar tentang Takdir.

TAMAT

Terinspirasi oleh K-DRAMA “Who Are You: School 2015”
Hope you’re enjoy reading..
Gomawo

Cerpen Karangan: Miaa Fajri
Facebook: mia_fajriati[-at-]yahoo.com

Cerpen Reset merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gone

Oleh:
Keterbatasan yang dimiliki Lee Eun Seul ini membuat orang di sekitarnya menjauh. Tidak ada satu orang pun yang mau bahkan ingin berteman dengannya. Mungkin karena malu atau tidak ingin

Letter

Oleh:
Lagi, lagi lagi ada. Sampah apa yang telah orang kirimkan padaku. Kubuka dan kubaca lalu kuremas dan kuhempas. Siapa sih dia itu, fans atau haters. Walau baru dua kali

The Korean Girl (Part 1)

Oleh:
Andrea Loxia Karagiwa itu namaku. Aku anak kelahiran Seoul, 17 November 1998. Yap, aku gadis remaja berumur 16 tahun. Kamu tahu tempat Seoul? Tentu. Seoul adalah salah satu kota

Goodbye Summer

Oleh:
Musim panas selalu menjadi salam perpisahan di antara kita. “kita seperti kembali kemasa kita masih sekolah dulu. Kau masih ingat sewaktu kita dihukum karena tidak mengerjakan tugas dulu?” tanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *