Semboyan di Musim Dingin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 14 October 2016

Desember memang bukanlah bulan yang tepat untuk berada di Seoul, sebuah kota metropolitan yang selalu hidup di Korea Selatan. Setelah berlarut dalam nuansa salju, kini cuaca itu berubah telak menjadi dingin. Tak lupalah pepatah lama mengatakan “habis jatuh, tertimpa tangga pula”. Ya, pepatah yang cocok digunakan oleh Bili Kalahari, pemuda yang berdiam diri di sebuah taman di tengah kota indah itu, seperti menikmati kedinginan.
Setelan jas itu kembali terbalut dalam jaket super besar, menutupi tampilan elegannya. Tangannya juga tak tampak, telah tertutup sarung tangan yang tak pernah dipakainya. Saat ini, hanya rambut yang mengeras juga wajah kedinginan yang tampil.

Wah gila, dingin banget nih kota. Kagak ada mataharinya apa. Matanya berkelut menatap setiap orang yang datang, yang muncul dari balik pohon, turun dari mobil, juga dari pinggiran jalan.
Boleh juga nih orang-orang, tahan banget tinggal di kota kayak gini.
Sesekali tangan Bili saling bergelumat, menyibak rasa dingin yang begitu terasa.

“Anyeong,” suara lembut seorang wanita berdesis pelan mengenai pelupuk telinganya. Ia cepat menoleh ke kanan.
“Kim Ha Na?” Kata Bili sedikit ragu-ragu. Tampilan mereka berdua hampir serupa, hanya saja wanita itu telah menutup rambutnya dengan jaket full body itu.
Wanita itu cepat menundukan kepalanya, tanda perkenalan. Bili sedikit lega, waktu tunggunya kian berakhir. Ia berharap cepat pergi dari cuaca aneh ini pikirnya.
“uli… ga sija… ghagi jeon-e joesong…habnida, na…neun algo issda, wae yeo…gie?” Bili terbata-bata, matanya tak lepas dari buku kecilnya.
“aleumdaun yeohaeng-eun jayeon-ui aleumdaum eseo sijaghal su issseubnida,” jawab wanita itu cepat, membuat Bili tak karuan.
“jamkkan, dasi malhal su-issda,” tukas Bili, tangannya sudah mengeluarkan handphonenya, mencari terjemahan online.
“Sebuah perjalanan indah itu biasanya yang dicari kalau bukan kecantikan alam berarti kecantikan penghuninya. Terus, kenapa tidak kita mulai dari sini, Olympic Park.”
“Eh?”
“Udah, kalo nggak bisa bahasa Korea, pake bahasa Indonesia aja. Masih ngerti aku kok,”
Bili menelan ludah, menahan malu, tangannya perlahan menyimpan catatan kecil juga buku tulis itu. Sepintas senyum kerdil menutupi canggungnya.
“Jadi ki…”
“Nggak disuruh duduk nih,” tukas Kim Ha Na.
“Aduh maaf, gugup, gara-gara bahasa Koreamu, jadi lupa deh,” kata Bili cepat mengambil tas ransel di sebelahnya.
Kim Ha Na tertawa kecil, ia cepat duduk di bangku yang telah terbalut hawa dingin. Ia mengeluarkan sebuah coffee cup dari saku besarnya, lalu tangan kirinya ia sibakan pada jaket yang menutup rambutnya, terlihat jelas rambut setengah panjang berwarna hitam kemerahan.
“Nih, untuk mas…”
“Bili,” jawab Bili cepat.
“Oke, mas Bili. Ini minuman hangatnya, tubuhnya disini tapi arwahnya kok di Antartika,” ledek Kim Ha Na.
Bili yang masih terbalut rasa malu, sedikit elegan cepat menyapu coffee cup di sebelahnya. Hangat minuman, begitu menyegarkan tenggorokannya, cepat menenangkan tubuh dinginnya.
“Gimana?” Tanya Kim Ha Na, wajahnya sedikit maju menatap Bili yang sedang asyik sendiri.
Ukhkhkuh ukhhk
Suara batuk keluar dari mulut Bili, ia tahu ini adalah pemandangan yang tak biasa. Memang tak bisa dipungkiri. Kim Ha Na memang memiliki wajah imut nan menggemaskan, wajar perusahaannya mengirimkan dia untuk mewawancarainya. Bili juga orang yang memiliki loyalitas tinggi. Perwakilan kepercayaan perusahaannya.

Bili bangkit, berdiri. Ia cepat membenahi suara seraknya. Tak lupa, jaketnya ia dekapkan, penghalang rasa malunya. Lalu duduk kembali, menata tiap pertanyaan yang akan diajukan.
Kim Ha Na yang bersiap untuk ditanya ‘pun cepat membenahi kegugupannya barusan.
“Kita pake bahasa Indonesia aja ya,” Kim Ha Na mengangguk. “Kalau boleh tau, sudah berapa lama mbak Kim Ha Na di Korea?”
“Nggak usah pake mbak, mas. Canggung dengernya. Satu lagi, panggil aja Ha Na,”
Suara lembut itu kembali mendesir di cuaca yang dingin, sedikit melegakan tubuh kakunya. “Ok, silahkan dijawab, Ha Na.”
“Kalo nggak salah hitung sih, kira-kira udah hampir 8 tahun.” Matanya ikut berpikir. “Wah, udah lama. Kok aku tiba-tiba nggak nyangka begini ya, kayaknya kemarin masih di tempat temen main petak umpet. Masih bau kencur, hehehe.”
Loh, kok jadi nggak formal begini wawancaranya. Bili sibuk mencatat inti kata-kata Ha Na, tak lupa handphonenya tersanding. Merekam tiap suara lembut yang keluar.
“Waw 8 tahun, tapi bahasa Indonesia-nya masih aktif aja ya,” kata Bili sedikit memalingkan wajahnya ke Ha Na.
“Tiap malem hampir full bahasa Indonesia kok. Kan teleponan sama mama di Bandung, jadi wajar masih bisa,”
“Oh orangtuanya di Bandung ya, bisa dong aku mampir ke sana,”
“Mau ngapain?” Tanyanya.
“Ya apalagi kalo bukan nanya-nanya tentang anaknya yang kerja di Korea,” jawab Bili dengan nada sedikit tertawa kecil.
“Nggak usah deh kesana,” tawa Bili sedikit terhenti. “Langsung tanya aja disini.”
Wajah Bili yang bingung sedikit canggung mendengar kalimat itu. Apakah itu sungguhan, atau lelucon semata. Entahlah. Ia hanya mengikuti arus tawa Ha Na yang muncul dengan perkataannya.

“Eh, gimana orang-orang disini pas pertama kamu dateng?” Tanya Bili sedikit mengalihkan tawa Ha Na.
“Sama kayak kita, kalau ngeliat orang asing bawaannya pingin tau aja. Hampir minggu pertama aku jadi artis, banyak yang wawancarain.” Gelak tawa Ha Na masih mengalir. Bili ikut tertawa, matanya cepat membayangkan kata-kata Ha Na. Hampir sama saat ia akan dikirim ke Korea, teman-temannya berubah profesi menjadi reporter.
“Kalo boleh tau kenapa harus Korea ya, napa nggak ke Jepang, Malaysia, Amerika atau yang lain?”
“Awalnya sih aku tuh seneng banget sama drama-dramanya, pas kebetulan banget ada beasiswa kuliah di Korea, aku ikutin deh. Eh nggak taunya lulus, ya udah langsung kesini.” Mata Ha Na bercerita seolah suasana itu masih berlangsung.
“Sekarang lagi S2, ya?” Ha Na mengangguk.
“Di Universitas mana?”
“Di Seoul National University”
“Kalo udah lulus mau disini atau pulang?”
“Kalo itu sih kurang tau. Kayaknya ngikutin calon pasangan aja deh.” Jawab Ha Na sambil terkekeh.
“Emang mau nyari orang sini atau orang Indo?”
“Ya meskipun dramanya bagus-bagus, cowoknya cakep, romantis. Tapi kenyataannya nggak sesuai sama di realnya.” Ha Na menghela nafas. “Aku sih senengnya cowok Indonesia aja.”
Bili cepat menelan ludahnya.
“Wah kalo gitu, bisa dong daftar.” Kata Bili sambil mengalihkan matanya pada buku kecil di depannya.
“Gimana ya…?” Ha Na seolah mikir. “Loh, ini wawancara kerja apa wawancara pribadi ya?”
“Melihat kenyataannya kayak gini sih, mungkin kedua-duanya lebih cocok.” Jawab Bili tegas, matanya mencoba berani memandang mata cokelat di depannya.
“Aduh… Mas Bili ini, bisa aja candaannya…”
“Aku nggak bercanda kok.” Tukas Bili cepat. “Aku hafal tanggal lahir Lee Min Ho, atau Yona-nya SNSD. Kalo emang hobi yang sama bisa menyatukan. Why not.”
Kim Ha Na tertunduk, wajahnya tak bereaksi. Bulu-bulu pada jaketnya terlihat kaku. Seolah hati dan perkataan Bili ikut menyihirnya. Hanya angin dingin yang masih bergema, melantunkan suara-suara kecil pada telinga yang kosong. Buku kecil berwarna hitam pekat itu telah ada di pangkuan Ha Na, bukan sebuah kata-kata penolakan atau mungkin arah persahabatan yang tergores. Sebuah nomor telepon juga catatan kecil tertulis pada baris kertas itu.

“Nomor apa ini?”
“Itu nomorku, khusus untukmu.” Ha Na melantunkan senyum kecilnya.
“Terus ini bacaannya apa?” kata Bili sambil memperhatikan tulisan Korea di bawahnya.
“Oh itu bacanya saranghae, artinya semoga kita bisa terus kontakan.” Jawab Ha Na.
“Oke. Kalo gitu saranghae juga.”
Kedua mata itu saling menyahut. Makin lama, tak ada kata-kata keluar. Hanya sekecil senyum dan tawa kecil yang kadang muncul. Jika sebelumnya Bili merasa bahwa musim dingin ini bukanlah suasana yang cocok untuk bertemu, apalagi di taman. Mungkin setelah ini, kata-kata itu akan ia hapus seumur hidup. Karena dengan musim dingin inilah, sebuah ikatan akan berlangsung. Ikatan yang akan menghangatkan musim dingin mereka.

Cerpen Karangan: Deni Hardianto
Blog / Facebook: dtkisland.blogspot.com / sinici.denny
Hello…. Yuk jafi sahabat penaku, biar kita bisa saling sharing ilmu kepenulisan sambil bermesra manjah. Hihihi

Cerpen Semboyan di Musim Dingin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saranghae Appa (Part 2)

Oleh:
“Hidup sendirian, inilah yang aku rasakan. Gadis umur 16 tahun yang baru saja kehilangan Appanya. Sebelumnya, hidupku selalu bergantung padanya. Jika aku bisa menarik kembali kata-kata terakhirku padanya, akan

K-Pop in Pesantren (Part 1)

Oleh:
“Sungguh..!!! aku tak tau kalau dia adalah seorang maknae!” “percayalah ini info baru yang ku dapat dari lab komputer secara sembunyi-sembunyi” “lalu info apa lagi yang kamu dapat..?” “begini…”

Bernafas

Oleh:
Park Chanyeol membeli tiga kotak cokelat dan 15 tangkai bunga mawar merah. Meski benci dengan hal-hal yang berbau romantis Chanyeol harus menurunkan egonya untuk hari ini. Seul Gi sedang

You Are My Korean Love (Part 2)

Oleh:
Detik-detik pesawat jalan akan terjadi. Sementara para penumpang cari tempat duduk, aku dengarkan musik dari mp3-ku. Di sebelahku duduk cowok Korea yang gak asing buatku. Wajahnya ganteng, manis lagi.

Love Is Moment (Part 1)

Oleh:
Di matamu, di pikiranmu, cinta sedang digambar Meskipun kita terpisah, meskipun kita tersembunyi, cinta adalah dirimu Kuharap kerinduan yang datang bersama angin dapat memberitahumu tentang hatiku Cinta adalah momen,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *