Sepeda dan Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 7 December 2016

“Aa..akh!”
Bukh!
Namja tampan bernama kim nam soo itu menjerit ketika tubuh dan sepeda kesayangannya terperosok ke dalam selokan air. Ia meringis kesakitan begitu tubuhnya terjatuh. Tulang keringnya membentur tepian selokan hingga ia sudah menjerit-jerit kesakitan.
“Jeongmalnaeyeo?” Tanya seorang gadis yang ekspresinya menunjukan ketakutan.
“yakk! Tinggalkan saja nomor ponsel atau… alamat rumahmu!” Teriakan itu membuat Na young bergidik ngeri sekaligus terkejut.
“Ayo, cepat! kenapa malah diam!”
“Untuk apa?” Tanya Na young bergetar. Nam Soo menggetarkan giginya. Ia sungguh kesal terhadap yeoja yang sudah ceroboh lalu menabraknya.
“Seandainya kakiku patah siapa yang harus bertanggung jawab, ya pasti kaulah. Cepat berikan padaku alamat yang bisa dihubungi. Ingat, jangan beri alamat palsu, kalau tidak kau akan menyesal” ancam nam soo histeris.
“Kau kira jatuh begitu saja bisa membuat kakimu patah, aku tidak mau!” Ucapnya young ketus sekaligus kesal karena nam soo membentaknya.
“Hey, kalau begitu kita saling impas saja. Bagaimana jika aku menabrakmu gantian?” Tawar nam soo geram. Na young memerah, kemudian ia menendang kaki nam soo geram. Itu membuat nam soo menjerit kesakitan.
“Kau jadi begini bukan sepenuhnya kesalahanku kau yang mengerem mendadak di depanku. Dasar idiot!” Dengus na young merasa tidak bersalah.
Na young meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan panggilan nan berisik dari Namja yang ditabraknya tadi.

“Kau kenapa sih. Aku pusing, jadi berhentilah sejenak dari mondar-mandirmu itu.” Desis Ji min merasa bosan dengan tingkah laku na young.
“Sepedaku, aku harus bagaimana?” Tutur Na young kemudian. Ji min terdiam sambil berpikir. Sepeda?
“ada apa dengan sepedamu?”
“diambil orang, aku pusing.”
“Kau pusing? Nah, sekarang duduklah dengan manis nona manis ”
Na young mendelik kesal terhadap Ji min yang berekspresi santai itu.
“beli baru saja, kan selesai.”
“Kau tidak tau, di sepeda itu ada buku pemateri yang baru saja aku ambil dari perpustakaan.”
“kenapa tidak kau ambil sebelumnya, kau ini aneh.”
Na young hanya bisa melihat sobatnya itu dengan kesal di hati. Bukan membantu malah mengalahkannya juga. Bagaimana sih, apa dia tidak sayang padaku lagi? batin na young merasa tidak bisa menerima kenyataan.

Sudah seminggu lebih Na young tidak bersepeda lagi. Ia menggunakan angkutan umum terkadang juga lebih memilih menumpang pada Ji min. Bahkan ia pernah sekali berjalan kaki ketika Ji min bahkan angkutan umum tak sedia menjemputnya.
“Ouk! Bukankah itu lelaki sinting itu!” Tiba tiba saja Na young melihat pria bertubuh jenjang dengan senang sekali mengayuh sebuah sepeda. Sepeda Na young.
“Kau, apa kabar?” Nam Soo menyeringai kepada Na young yang terlihat begitu jengkel melihatnya.
“Hahaha, lihat wajah jeleknya memerah.” Seru Nam Soo begitu ia telah berada di dekat Na young. Na young mengepal tangannya. Rasanya ingin sekali Na young mendaratkan kepalan tangannya ke wajah orang yang sudah mempermalukannya begini.
“‘Hey, jangan begitu. Kau ini cantik kok. Tapi bodoh. Oh ya ini sepedamu. Aku kembalikan, bokongku sakit karena joknya murahan.” Mendengar ocehan ringan yang terlontar dari bibir tipis milik nam soo, na young semakin ingin saja memusnahkanya.
“Ayo, kenapa diam saja, selain bodoh apa Kau juga telah bisu..”
“dasaa..ar, kau! Lelaki gila.” seru na young dengan suara yang membuat nam soo membekap mulut na young. Na young memukul nam soo yang telah berani berbuat begitu padanya.
“Sstt! Kuberi tau saja ya, aku pria baik baik. Dan ingat jangan sampai kau menyesal telah memarahiku seperti ini.”
Na young merinding begitu suara lembut nam soo berdengung tepat di telinga kirinya. Bisikan itu membuatnya terlena, dan membuat jantungnya berpicu. Nam Soo melepaskan tangan na young yang hampir saja mendarat bebas ke pipinya.

Na young meninggalkan kelas ketika Ji min mengajaknya untuk pulang bersama. Na young tau pasti Ji min sedang tidak mood untuk pulang sendirian seperti biasanya. Kalau seperti ini biasanya mereka akan berakhir di sebuah rumah pohon yang selalu mereka kunjungi di akhir minggu.
“sepedamu.” Seru datar Ji min menunjuk sepeda na young dengan matanya. Na young langsung mengerti. Ia mendapati kedua ban sepedanya kempes. Na young menjejakkan kakinya.
“sebaiknya kita buang saja sepeda ini. kau tau, sudah berapa kali kau memperbaikinya, hampir setiap hari” ucap Ji min mencoba menyadarkan sobatnya itu.
“ya, hampir saja tabunganku habis dibuatnya” akhirnya na young mengerti. Tapi kemudian ia tersenyum simpul.
“kurasa aku tau siapa yang telah menganiaya sepedaku.”
“Apa Namja yang pernah mengambil sepedamu?” Tebak ji min menduga.
“siapa lagi!” Na young menuntun sepedanya perlahan untuk pulang. Seraya mengobrol mereka masing masing menuntun sepedanya dengan senang bahkan mereka lupa tentang apa yang telah membuat mereka harus berjalan kaki.
“Hey hey.. apa..apaan ini?” Pandangan kedua mata gadis tersebut terkalahkan kepada dua gadis sebaya mereka. Na young memberi isyarat pada Ji min untuk waspada.

Seperti direncanakan salah satu gadis di hadapan mereka menyiramkan sesuatu pada Na young. Sontak Na young terkejut hingga sepedanya terlepas.
“Wae…?”
Plakk!
Gadis itu murka ketika sekejab saja Ji min menamparnya hingga teman gadis itu juga terkejut bukan main.
“Hey, kau ini siapa? kenapa malah menyerang begitu saja, apa sekolahmu mengajarkan hal begitu” seru Ji min berapi-api. Bukan menjawab atau bertanggung jawab kedua gadis itu berlari pergi meninggalkan tempat itu. Ji min tersadar akan keadaan na young. Na young mengkatupkan mulutnya ketika Ji min menyadarkannya.
“Kau menamparnya barusan.”
“Kurasa itu sudah pantas untuk mereka rasakan.” Ucap Ji Min datar. “Ayo!”
“Eoh? Kau tau jantungku hampir saja lepas melihat itu tadi, sekarang aku bahkan masih lemas begini.”
“Terus?”
“aaakh! Aku mau mati bodoh!” Teriaknya jengkel terhadap Ji min. Ji min menendang sepeda Na young yang tergeletak di sisinya.
“Lihatlah tubuhmu penuh dengan oli, apa Kau tidak malu?” Spotan ucapan Ji min membuat na young mendelik memandangi tubuhnya yang berlumuran noda hitam.

“Kau tau siapa mereka?”
“Ku rasa mereka dari sekolah GS Art school.
“oh, pantas saja tampang mereka seperti artis.”
Na young meninggalkan tempat tidurnya ketika suara bunyi kaca pecah.
“mereka mungkin balas dendam, tapi apa untungnya untuk mereka?”
Ji min mendesah begitu melihat kaca jendela berserakan. Ji min mengisyaratkan pada Na young agar tak keluar. Karena bisa saja bukan lagi kaca yang pecah melainkan juga keselamatan mereka berdua.
“terlalu kekanak kanakan. Apa mungkin Namja tersebut membayar mereka?”
“Aku pikir mereka hanya salah orang saja, apa mungkin?” Gumam Na young seraya memunguti pecahan kaca. Ji min menarik nafas dalam, ini sungguh mengganggu ketenangan.

“Hai, apa kabar!”
Na young menoleh ke arah suara yang rendah di sampingnya. Na young menghentikan langkahnya, memandangi wajah orang itu dengan pandangan yang menyiratkan adanya sebuah kebencian. Na young melanjutkan perjalanan pulang, namun tetap saja namja tersebut masih setia di sampingnya. Awalnya Na young ingin rasanya tidak mau berbicara. Namun mengingat ini menyangkut keselamatan mereka Na young angkat bicara.
“Sungguh aku tak habis pikir, kenapa kau tega melakukan hal yang memalukan.”
“apa maksudmu, bukan sudah kukatakan padaku.”
“Orang baik?” Na young tersenyum licik.” Jika menyuruh dua orang yeoja untuk meneror kami. Masih bisa dipercayai?” Ujar Na young memancing Nam Soo. Nam Soo tersenyum kecil seraya bertanya dalam hati.
“dua yeoja? Apa aku tak salah dengar?”
Na young menghentikan langkahnya, nam soo berikut. Mereka saling pandang.
Na young mengepal telapak tangannya. Nam Soo melirik ke arah dua tangan mungil yang telah mengepal di sisi tubuh gadis itu.
“Hey jelaskan padaku, kau pikir apa yang bisa kau lakukan demi memukulku. Maka jelaskan saja padaku.” Ucap nam soo mencoba membujuk na young yang begitu tajam menatapnya.
“sebentar, aku rasa aku tau siapa yang telah menganiaya kalian, tapi harus kau beritahu dulu siapa yang telah membuat kau beranggapan kalau akulah yang selalu mengerjai kalian”
“sepedaku selalu rusak ketika saja aku pulang sekolah, kedua ada dua orang yeoja yang telah menyiramkan pelumas padaku dan tadi malam kami mendapati kaca jendela telah berserakan di lantai.” Jelas Na young dengan nada kesal. Sebenarnya Na young enggan bercerita.
“Hahaha…!”
“Kenapa malah tertawa!?” Na young mendelik kesal. Bukan menjawab malah tertawa. Apa pria ini benar benar idiot. Pikir Na young menduga.
“Hey jangan marah dulu, kau ini selalu marah marah padaku. Padahal setiap wanita biasanya akan bersikap manis padaku jika mereka bersamaku.”
“karena aku tidak begitu menyukaimu, kau lelaki idiot yang pernah ku tau, dan ingat! Aku sama sekali bukan para gadismu itu!” tegas na young tak mau kalah.
“baiklah.” Gumam nam soo akhirnya. “Dia adikku, aku tidak tau bahkan tidak sadar akan hal aneh yang dimiliknya. Dia adikku satu satunya bahkan aku juga kakak satu satunya. Mungkin dia merasa kau telah menyakiti aku makanya dia berani melakukan itu”
“menyakitimu? yang benar saja.” Seru na young tak habis pikir dengan keterangan dari nam soo. Kurasa benar, mereka memang keluarga aneh. Bisik hati na young merasa ngeri. Betapa horornya kelakuan adik kakak ini.
“maaf ya, aku tidak tau dia akan bertindak seperti itu.”
“Kau katakan saja padanya jangan berani berbuat kegilaan itu, kalau tidak ingin kedua pipinya menempel di tangan Ji min!”
“Kurasa itu sudah pantas ia dapatkan, hanya sebenarnya aku menyayangkan sikap kalian kepadanya.”
Na young meninggalkan nam soo yang berdiri tegak memandangnya. Sungguh yeoja itu telah membuat hatinya berdebar. Membuat Na na adiknya membuat perhitungan pada yeoja itu karena dia kakanya patah hati.
Nam Soo melambaikan tangan ke arah na young yang sudah pasti tak mungkin melihatnya. Bibirnya menyingsingkan senyum yang manis sekaligus kesal terhadap dirinya sendiri yang bak pecundang.

Na young telah menceritakan segalanya pada Ji min tentang apa yang telah membuat mereka harus ketakutan akan diteror. Ji min mendecak kesal ketika saja na young begitu mudahnya memaafkan kelakuan pria dan adiknya itu.
“Dia sudah meminta maaf, lalu apa yang harus dipermasalahkan lagi.”
“terserah kau saja, lihat saja jika gadis gila itu menyerang kita. Maka kau yang akan ku telan hidup hidup.”
Na young hanya tertawa begitu mendengar ancaman dari ji min yang menurutnya hanya sebuah candaan. Namun tidak bagi Ji min, menurutnya sebelum gadis itu benar benar meminta maaf langsung baginya masih belum dipastikan keselamatan mereka berdua dalam keadaan baik.

Ketika itu ji min sedang mencari obat herbal radang tenggorokan yang sedang dideritanya. Saat keluar toko dengan menenteng kantong plastik ia meninggalkan toko itu dan segera pergi dengan mengayuh sepedanya.
Ji min mengerem mendadak sepedanya begitu dua gadis menghadangnya dengan anggunya. Ji min memandangi mereka lekat lekat seraya waspada dengan situasi seperti yang tak terduga nantinya.
“ada apa, apa kita ada masalah lagi? atau kau akan kembali menamparku?” Seru Ji min menampakan seringai sindiran bahwa ia tak takut pada mereka.
“Kau teman gadis itu kan?” Bukan menjawab Na na malah bertanya. “Na young.” Na na meralat ucapannya.
“ya, lalu?” Tanya Ji min seraya beranjak dari jok sepedanya dan berdiri tegak bagai tak takut akan dua gadis yang bisa saja mengeroyoknya.
“bisakah kau tidak bersikap begitu, aku hanya ingin menjelaskan semuanya dan minta maaf padaku.” Ucap Na na sedikit ragu. Wajah baby face Na na bersemu merah sedang Yura mengangguk membenarkan ucapan Na na barusan.
Akhirnya Ji min menurunkan kadar amarahnya, dawn ia mengikuti dua gadis itu yang menuju sebuah cafetaria yang tak jauh dari toko obat yang baru beberapa saat ia hampiri.
“Kim Nam Soo. Dia kakakku. Aku sangat terlalu over protective padanya sehingga reaksiku ketika ada yang membuatnya terluka selalu berlebihan.” jelas Na na yang duduk di samping Ji min. “tapi kali ini reaksi berlebihan yang telah membuat kau dan Na young terganggu ternyata mendapat peringatan keras dari Nam Soo.”
“Maksudmu biasanya kakakmu tidak memarahimu jika orang lain yang kau aniaya!” Dengus Ji min merasa aneh.
“bukan begitu, kali ini dia benar benar marah. Kurasa dia menyukai Salah satu diantara kalian” ungkap Na na kemudian. Terlukis pula semburat rasa senang di wajah Na na ketika ia sudah mengatakan yang sebenarnya.
Ji min termenung berusaha mencerna kata demi kata yang baru saja terlontar dari mulut Na na. Apa gadis bocah ini dapat dipercaya? Tanya Ji min dalam hati.
“tak apa, tapi ngomong ngomong aku juga minta maaf padamu karena pernah menamparmu.” Senyum Ji min mengambang di bibirnya yang marah tanpa pewarna itu.
“Seharusnya aku yang meminta maaf karena selalu membuat kalian takut.” Gumam Na na turut membalas senyuman Ji min.

“Apa kabar?”
“Kau. Apa yang lakukan di sini?” Tanya Na young terkejut. Ia sungguh sangat kesal apabila Nam Soo selalu datang begitu saja tanpa tanda tanda sebelumnya.
“Hahaha! Kau ini, lucu.”
“lucu apanya, dasar Namja idiot!”
“ralat lagi ucapanmu itu!” Dengus NAM soo pura pura marah.
“iya. Namja baik baik!” Ralat Na young dengan nada di buat buat.
“Kurasa kita memang sudah ditakdirkan untuk bertemu.” Gumam Nam Soo memandang lurus ke depan. Na young melirik dari sudut matanya. Nam Soo membalas lirikan itu dengan pandangan dan sebuah kerlingan dari Nam Soo.
“Aku jadi bersyukur, karena sepedamu yang buruk itu aku jadi bisa lebih dekat denganmu.”
“Apa yang kau katakan, apa selain aneh apakah kau juga seorang mesum?” Tanya Na young waspada.
Nam Soo hanya tersenyum mendengar ocehan dari Na young. Apakah ia benar benar jatuh hati pada Na young? Tanya hati Nam Soo. Sungguh ia tidak menyangka kalau ia akan luluh pada gadis yang sangat sensitif terhadap kaum adam.
“Kau ini, tak seorang pun berani mengatakan bahwa aku ini mes*m kenapa malah gadis aneh sepertimu berani sekali.” Balas Nam soo seraya mengacak rambut Na young. Na young menjejakkan kakinya merasa kesal terhadap Namja tersebut.
“Hey, Na young!” Panggil Nam Soo lembut pada Na young yang sedang asyik pada pikirannya sendiri. Na young menoleh.
“Wae?”
“mari kita saling jatuh cinta.” Gumam Nam Soo hampir tak terdengar. Na young berkerut karena tak mendengar dengan jelas apa yang di katakan Nam Soo barusan.
“Apa yang kau katakan barusan?”
“ah. Selain bodoh ternyata kau juga tuli”
“katakan saja terus semuanya, kau kira kau sempurna? Dasar pria menjijikan!” Seru Na young histeris. Ia terus memukuli tubuh Nam Soo yang berusaha menghindar. Nam Soo selalu berhasil menghindar. Ia terus saja mengecoh na young sehingga mereka tak ubahnya sepasang anak kecil yang sedang berebut mainan.
“Hahaha..”
“dasar…!” Suara na young meninggi. Ia mengejar nam soo yang telah jauh meninggalkannya.

End

Cerpen Karangan: Nuriana
Facebook: Nuriana Teen Pumpkins
Hai, nuriana kembali. Apa kabar sahabat cerpenmu.com. Harap baik baik saja ya. Saya bawa karya saya yang lumayan berantakan. Hehehe. Mohon kritik dan sarannya ya. Salam manis untuk anak bangsa semuanya.

Cerpen Sepeda dan Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gone

Oleh:
Keterbatasan yang dimiliki Lee Eun Seul ini membuat orang di sekitarnya menjauh. Tidak ada satu orang pun yang mau bahkan ingin berteman dengannya. Mungkin karena malu atau tidak ingin

Firework Dinner

Oleh:
Di suatu sore yang cerah, dua sejoli sedang duduk di taman kota. Mereka asyik mengamati anak-anak kecil yang berlarian juga anak muda seperti mereka yang sedang berpacaran. Taman bunga

Langit Hitam dan Anyelir

Oleh:
“Jika ini adalah masa depan yang kau gambarkan, aku ingin menatap langit yang sama dengan perasaan yang sama. Bersamamu…. Tapi, jalan takdir ini berbeda”. Aku benci hujan, harusnya hujan

Need More Chance

Oleh:
Kubenahi letak kaca mata hitam yang menutupi sebagian wajahku. Banyaknya orang yang menegur, seperti sebuah dengungan yang sama sekali tak ingin kutanggapi. Retina mataku hanya terfokus pada satu titik.

Anyang Art School

Oleh:
Pagi ini di sebuah sekolah bernama Anyang Art School (ini sekolah asli ada di Seoul lho…) anak-anak berkumpul di sebuah ruangan didampingi orang tuanya. perlu kalian ketahui bahwa hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *