Sorry, I Love Him (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 18 April 2015

Taman, Korea.
“Ahh.. aku merindukan taman ini. Dulu aku dan Soohyun selalu ke sini, kami berdua.. ahh.. aku sangat sen-.” Suzy terdiam, saat melihat ekspresi Wooyoung berubah jadi sedikit dingin. “Ah sial, aku salah bicara.” Kata Suzy dalam hati.
Wooyoung tersenyum yang membuat Suzy lega.
“Maaflkan aku.” Kata Suzy.
Wooyoung mengangguk sambil tersenyum.
“Aku selalu mendengarkan kalimat dari mulutnya tentang kenangannya dengan Soohyun. Kenapa? Apakah aku gagal? Apakah aku gagal membuatnya melupakan Soohyun? Apa yang harus kulakukan selanjutnya?” Batin Wooyoung.
“Hmm.. bagaimana kalau kita makan ice cream.” Ajak Suzy sambil menarik tangan Wooyoung.
Mereka berdua pun berakhir di sebuah bangku panjang dengan ice cream di tangan mereka.
“Haccimm..” Suzy bersin dan ice creamnya terhambur, bajunya kotor karena ice creamnya mengenai bajunya.
Dengan cepat Wooyoung mengambil saputangan dari kantungnya dan melap mulut istrinya lalu bajunya.
“Arrgg.. kenapa aku harus bersin? Kau pasti malukan karena istrimu begitu jorok.” Kata Suzy kesal.
Wooyoung menggeleng sambil tersenyum. “Kenapa mesti malu?” katanya lalu melap mulut istrinya lagi yang masih ada bekas ice creamnya.
“Aku mau pulang.” Kata Suzy.
“Baiklah.”

Mereka berdua menuju mobil mereka.
“Di mana kau simpan mobilnya? Aku lupa.” Kata Suzy.
“Tidak begitu jauh.” Kata Wooyoung.
Mereka berdua berjalan di trotoar.
Suzy berjalan di pinggir, dekat jalan raya.
“Kau jangan berjalan di situ.” Kata Wooyoung dan menarik istrinya untuk berjalan di sampingnya.
“Kenapa?” Tanya Suzy bingung. “Ini masih trotoar.”
“Kalau kau tertabrak? Aku tidak mau kehilanganmu.” Kata Wooyoung sambil menggenggam tangan istrinya.
Suzy terdiam. “Sungguh, aku sangat bahagia, dia sangat baik padaku.. sangat baik.. dia selalu melindungiku, dia dengan sigap menolongku kalau aku kesusahan, dia selalu menuruti apa yang kumau.” Batin Suzy.
“Apa kau sangat menyukaiku?” Tanya Suzy.
Wooyoung tersenyum dan mengangguk. “Aku juga mencintaimu.”
Suzy tersenyum dan memeluk lengan suaminya.
“Dia bertanya seperti itu padaku. Aku ingin bertanya balik, tapi.. aku takut dia tidak ingin menjawab dan lebih parahnya lagi ia mengatakan kalau ia belum bisa melupakan Soohyun.” Batin Wooyoung.

Malamnya, Eunjung dan Soohyun berada di langit dengan pesawat. Eunjung tertidur.
“Suzy.. apa kau masih menungguku? Kumohon jangan!! Tapi kalau kau tidak menungguku hatiku pasti sakit, tapi hatimu mungkin lebih sakit kalau kau menungguku. Suzy.. aku bingung. Aku sungguh masih mencintaimu.” Batin Soohyun, Soohyun menatap istrinya. “Kenapa kau mengacaukan semuanya?”

Sekitar 5 jam, mereka akhirnya sampai di bandara di korea. Di korea telah pukul 09:00 am
“Huuaahh..” Eunjung menguap di mobil. “Perjalanan yang melelahkan.”
“Ya.. kau benar.”
Soohyun segera menelpon Wooyoung.

Wooyoung terbangun mendengar suara handponenya. Suzy istrinya telah bangun dari tadi.
“Yeboseo?” Sapa Wooyoung.
“Hei..”
“Soohyun?”
“Ya.. bagaimana keadaanmu?”
“Baik..”
“Kalau dia?” Soohyun melirik istrinya.
“Siapa? Suzy?”
“Ya..”
“Baik.”
“Oh syukurlah. Di mana kau sekarang? Aku ingin bertemu denganmu.”
“Dia belum tahu kalau Suzy sekarang adalah orang yang sangat penting bagiku, dan Suzy sekarang adalah istriku. Aku takut dia akan mengatakan padaku kalau aku adalah penghianat, aku juga takut kalau Suzy masih mencintainya dan mengejarnya sampai ia mendapatkan Soohyun. Aku takut.” Batin Wooyoung.
“Wooyoung-a…”
“Oh.. aku? Aku di rumah. Apa kau di korea sekarang?”
“Ya..”
“Hmm.. kita ketemu di mana?”
“Di cafe biasa.”
“Oke, baiklah.”

Wooyoung mencuci wajahnya.
“Hacciimm..” Ia mendengar suara orang bersin dan itu pasti istrinya. Wooyoung dengan cepat menuju ke sumber suara.
“Ada apa denganmu? Apa kau sakit?” Tanya Wooyoung khawatir sambil memegang dahi istrinya. “Kau demam dan flu. Ayo ke dokter!”
“Tidak usah, aku di sini saja. Aku tidak suka bau rumah sakit.”
“Baiklah, kalau begitu ayo ke kamar, kau istirahat saja.”
“Tidak.. kau pasti lapar.”
“Kau tidak usah memikirkanku dulu.. kau harus menjaga kondisi tubuhmu, kau sakit!” Kata Wooyoung dengan lembut dan mengantarkan Suzy ke kamar.
Suzy berbaring, Wooyoung menambil air es dan mengompres dahinya.
“Apa yang kau rasakan sekarang?”
“Kepalaku pusing.”
“Ahh. Apa yang harus kulakukan?” Wooyoung bingung.
Suzy menggenggam tangan Wooyoung. “Kau tidak usah melakukan apapun..”
Wooyoung kesal pada dirinya sendiri,
“Aku akan membeli obat.” Kata Wooyoung.
“Jangan! Aku tidak suka sendiri.”
“Baiklah, aku akan di sini.”
Wooyoung menemani Suzy sampai Suzy tertidur. Wooyoung keluar dari kamar.
Mengambil handponenya dan menelpon Soohyun.
“Yeoboseo?” Sapa Soohyun dari ujung sana.
“Aku tidak bisa menemuimu hari ini..”
“Kenapa?”
“Ada urusan penting.”
“Baiklah.. besok saja.”
“Oke.”
Wooyoung mengintip, Suzy masih tertidur. “Kalau dia tahu Soohyun telah di korea, apa yang dia lakukan? Apa dia akan memaksaku untuk membawanya ke hadapan Soohyun?” Batin Wooyoung.
Wooyoung keluar rumah untuk membeli obat.

Besoknya. Soohyun dan Wooyoung bertemu, mereka saling menyapa dengan ramah.
“Sudah sangat lama kita tidak bertemu.” Kata Soohyun.
“Ya, benar.” Kata Wooyoung.
“Hmm.. aku ingin sekali bertemu dengannya.”
“Suzy?”
“Ya. Aku sangat merindukannya.”
“…”
“Apa dia sudah menikah?” Wooyoung terkejut dengan pertanyaan Soohyun.
Wooyoung mengangguk.
Soohyun terkejut. “Dia telah menikah? Dengan siapa?”
“Denganku.” Jawab Wooyoung.
“Ap-apa?”
“Aku menikah dengannya beberapa hari setelah kalian ke Paris. Dia sangat sakit hati, jadi aku menawarkan diriku untuk membantunya melupakanmu. Kemarin, saat aku menunda kita bertemu.. itu karena dia sakit, dia melarangku untuk pergi.”
Soohyun terdiam.
“Kau tidak berhak mengatakan kalau kau merindukanya, kau ingin betremu dengannya.. aku tidak suka mendengarnya.”
“Sepertinya tidak ada yang dibicarakan lagi.” Kata Wooyoung dan pergi.
Soohyun terdiam, hatinya hancur, ia kesal, ia marah. Tapi..
Wooyoung pulang dan tidak menemukan Suzy.
“Di mana dia? dia sedang sakit..” Kata Wooyoung dan berlari keluar mencari Suzy.

Di mobilnya, Soohyun mengendarai dengan hati kesal.
“Arghh.. ini semua karena Ayah. Kenapa harus ada perjodohan? Kenapa aku harus menikah denga perempuan yang tidak kucinta, kenapa?” Soohyun berteriak kesal di dalam mobilnya sampai tiba-tiba ia menghentikan mobilnya dan keluar.
“Suzy-a..” Ia melihat Suzy. Suzy berbalik saat ada yang memanggil namanya.
“Soohyun?” Suzy merasa bahagia melihat Soohyun.
“Suzy-a..”
Mereka berdua pun berada di taman yang sama dan di tempat duduk yang sama saat Suzy dan Wooyoung memakan ice cream.
“Kau sudah menikah? Dengan Wooyoung? Aishh.. kau bahkan tidak memanggilku ‘oppa’ lagi.” Kata Soohyun kesal sambil menatap lurus kedepan, rasanya ia ingin menangis tapi ia terus menahan.
“Maaf, aku rasa ini adalah akhir, oppa.” Kata Suzy.
“Maaf oppa, aku tidak bisa bersamamu lagi. Wooyoung, kurasa dia adalah jodoh sesungguhnya untukku, dia sangat baik padaku, kemarin saat aku sakit dia menjagaku..”
“Suzyy-a.. aku masih mencintaimu.” Kata Soohyun lirih.
Soohyun mendekatkan wajahnya ke wajah Suzy, Suzy bingung namun ia menutup matanya dan Soohyun mencium lembut bibir Suzy.

Wooyoung berlari mencari Suzy dan terhenti, pipinya panas matanya merah dan air mata pun tidak bisa dibendung lagi. Wooyoung berjalan mendekat ke arah Suzy dan Soohyun lalu menarik tangan Suzy dan meninju wajah sahabatnya, ini pertama kalinya.
Suzy terkejut. “Oppa..”
“Kau sudah tahukan kalau dia istriku.. kenapa kau melakukan itu?”
“….”
Wooyoung menarik tangan Suzy pergi. Soohyun menatapnya kesal.

Wooyoung masuk ke rumah. Suzy merasa sangat bersalah.
“Oppa~” Seru Suzy.
Wooyoung berbalik dengan tatapan dingin.
“Maafkan, aku.” Kata Suzy. Wooyoung masuk ke kamar tanpa mengatakan apapun.
Suzy terdiam. Dia mengingat semuanya yang dilakukan Wooyoung untuknya.
“Oppa, mianhe..” Kata Suzy dalam hati.

Soohyun pulang ke rumahnya, pukul 23:00 pm. Istrinya telah tertidur. Soohyun memandang Eunjung dengan dingin.
“Kenapa kau mengacaukan semuanya, Eunjung-a?” Tanya Soohyun dalam hati, hatinya benar-benar hancur, ia kesal dan marah.
“Aku sangat menyayangi orangtuaku, aku tidak ingin menjadi anak durhaka, karena itulah aku lebih memilih menikah denganmu dibandingkan orang yang benar-benar kucintai.”
Soohyun duduk diam di ruang kerjanya.

Suzy berjalan masuk ke kamar, Wooyoung telah tidur duluan, biasanya Wooyoung membiarkannya tidur duluan, namun kali ini dia berbeda. Suzy dengan mata berkaca-kaca tidur di samping Wooyoung yang membelakanginya.
Ternyata Wooyoung tidak tidur, saat melihat mata istrinya tertutup, ia berbalik menatap wajah Suzy.
“Aku hancur, sungguh.. sangat sulit memafkanmu. Aku sangat mencintaimu, namun kau lebih memilih dia.”
Tengah malam, Suzy berkeringat dingin. Ternyata Suzy belum sepenuhnya sembuh dari demamnya. Dia panas dingin, batuk dan bersin. Wooyoung mendengar semuanya. ia sangat khawatir.
Suzy berusaha turun dari tempat tidur untuk mengambil air minum. Wooyoung benar-benar tidak tahan. Wooyoung bangun.
“Ada apa denganmu? Apa kau haus?” Tanya Wooyoung masih dengan tatapan dingin sambil memeriksa keadaan Suzy. “Demam, kau demam lagi.” Simpul Wooyoung. “Kau di sini saja, aku akan mengambilkan obat.”
“Tidak usah.” Kata Suzy. Tapi Wooyoung tidak mendengarkan dan berjalan keluar kamar.
“Masih dengan tatapan dingin.. aku tahu dia masih marah padaku, walau dia khawatir.. dia tetap marah. Aku menyesal dengan apa yang kulakukan tadi, aku mengkhianati cintanya demi orang itu.” Batin Suzy.
Wooyoung kembali dengan air dingin untuk kompres, air hangat dan obat.
Suzy meminum obat, lalu Wooyoung mengompresnya, kemudian Wooyoung kembali tidur, ia tampak tidak memperdulikan Suzy, namun.. semuanya hanya pura-pura.. ia tiduk tidur, ia tetap siaga menjaga Suzy, matanya tertutup namun ia tidak benar-benar tidur. Berkali-kali ia mengganti kompresnya, hingga pagi.. Wooyoung tidak tidur sama sekali.

Suzy bangun. Kepalanya masih terasa sakit, ia tidak menemukan Wooyoung.
“Oppa, di mana kau?” Tanya Suzy.
Tidak ada jawaban, kepala Suzy terlalu sakit untuk bangun jadi ia lebih memilih bersandar menunggu Wooyoung datang.
Pintu kamar terbuka dan Wooyoung datang dengan sebuah roti bakar dan susu.
“Kau sarapan lalu minum obat!” Perintah Wooyoung masih dengan tatapan dingin dan nadanya semakin tidak bersahabat.
Suzy hanya diam, Wooyoung menyimpan makanan itu dimeja, lalu keluar kamar.
“Kau mau ke mana?” Tanya Suzy.
“Hanya ingin nonton tv.” Jawab Wooyoung tanpa berbalik.
“Semuanya tlah berubah, Wooyoung yang murah senyum padaku sekarang menjadi dingin dan hanya sesekali menatap mataku. Dia tidak peduli lagi denganku, hatiku rasanya sakit.. apa ini? Apakah aku mulai menyukainya? Apakah aku mulai mencintainya? Apa iya? apa secepat itu? Apa aku tlah melupakan Soohyun dan beralih ke Wooyoung. Oppa, kenapa kau begini?” Batin Suzy sedih, air matanya mengalir.

Wooyoung tertidur di sofa. Suzy masih merasa pusing namun memaksakan keluar dari kamarnya. Dia berhenti saat melihat Wooyoung tertidur disofa. Suzy duduk di lantai yang beralaskan karpet di samping Wooyoung.
“Apa dia mimpi buruk?” Wooyoung mengeluarkan air mata. Ia menangis dalam tidurnya.
“Oppa” Suzy mulai ikut menangis sambil memeluk tangan Wooyoung. Wooyoung terbangun.
“Ada apa denganmu?” Tanya Wooyoung bingung.
“Maafkan aku.. aku tidak akan mengulanginya lagi. aku bersalah.. aku mohon jangan seperti ini padaku, kau sudah sangat jarang tersenyum padaku.. kau sangat dingin padaku, kau tidak perduli lagi padaku.. aku sangat sedih.” Kata Suzy sambil menangis.
“Kau tahu? Aku hancur, aku gagal.. aku gagal membuatmu melupakannya, aku sangat kesal pada diriku sendiri. Ini sebenarnya bukan salahmu, ini salahku.”
“Bukan.. ini salahku. Harusnya aku menyadari apa yang kau lakukan padaku, kau selalu melindungiku.. kau sangat baik padaku, kau selalu tersenyum tulus padaku, namun aku selalu memikirkan orang lain dan bukan kau. Aku yang salah..”
“Aku gagal Suzy.. kalau kau menyukainya, kalau kau mencintainya, aku akan melepasmu. Aku akan membantumu.. karena aku gagal membuatmu melupakannya jadi lebih baik aku membantumu mendapatkannya. Harusnya aku tidak menawarkan diri, aku yang bodoh. Aku terlalu narsis..”
“Oppa.. aku menyukaimu!! Aku mencintaimu!! Aku merasakan sakit di sini.” Suzy menunjuk hatinya. “Aku merasakan sakit saat kau mengabaikanku, saat kau tidak tersenyum lagi padaku.”
Wooyoung terkejut. “Tapi ciuman itu?”
“Oppa.. maafkan aku. Saat itu aku tidak berfikir dengan jernih.”
Wooyoung tersenyum dan meneteskan air mata, lalu memeluk Suzy. Tiba-tiba handpone Suzy berdering, terdengar dari dalam kamar.
“Biar aku yang mengambilnya.” Kata Wooyoung dan masuk ke kamar.
Di layar handpone Suzy terpampan –SooHyun-
Wooyoung duduk di samping Suzy.
“Siapa?” Tanya Suzy.
“Soohyun.”
“…” Suzy terdiam. Wooyoung memberikan handpone itu kesuzy.
“Kau saja yang mengangkatnya!”
“Kau yakin?”
Suzy mengangguk.
“Yeoboseo?..” Kata Wooyoung.
“Mana Suzy?” Tanya Soohyun.
“Ada apa? Kenapa kau mencarinya?”
“Berikan ponselnya padanya!” teriak Soohyun
“Tidak akan. Apa yang ingin kau bicarakan?”
“Biarkan aku bicara padanya!” Bentak Soohyun.
“Sepertinya penting.” Kata Wooyoung dan memberikan handpone itu pada Suzy.

“Hm?.”
“Suzy, dengarkan aku baik-baik.. aku telah memutuskan, ayo lari bersamaku. Tinggalkan semua ini. Aku sudah tidak tahan lagi, aku tersiksa melihatmu digenggam oleh orang lain dan bukan aku.” Kata Soohyun.
Wooyoung yang mendengarnya khawatir Suzy akan berubah fikiran dan pergi bersama Soohyun, tapi.. bila dia memang benar-benar akan pergi, Wooyoung akan melepaskannya.
“Apa kau mau?” Tanya Soohyun.
Suzy memandang Wooyoung yang terdiam.
“Maafkan aku, aku.. aku tidak bisa.”
Soohyun terkejut. “Kenapa? Apa kau terlanjur menyukainya?”
“Maafkan aku, aku tidak ingin meninggalkan Wooyoung oppa, aku.. mencintainya.”
Wooyoung tersenyum kecil.
“Kau salah Suzy.”
“Tidak. Aku menyukai orang di sampingku. Maafkan aku.. lebih baik kau bersama istrimu yang sekarang, dia sangat mencintaimu. Sudah dulu..”
Klik, Suzy memutuskan pembicaraan di telepon.
Suzy tersenyum pada Wooyoung dan Wooyoung membalasnya..

TAMAT!

Cerpen Karangan: Latifah Ramadhani
Facebook: latifahramadhani06[-at-]gmail.com
Selalu menulis cerita yang tidak sesuai dengan judul. hahahaha

Cerpen Sorry, I Love Him (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sarangheyo X-Cool

Oleh:
Teriakan dan sorak kegirangan sudah tak terdengar lagi, berganti dengan hening yang membelenggu hati, membuat beberapa pasang mata terlihat memerah karena air mata yang terus mengalir. Begitu menyentuh di

Saranghae Sunbae

Oleh:
“Berdiri! Lakukan sekali lagi!” Sungguh gila Sunbaeku yang satu ini, tak ada hentinya dia meremehkanku. Meskipun aku tahu seberapa keras aku berusaha melawannya aku juga tak akan pernah menang.

A Broken Glass

Oleh:
Matahari mulai mencium bumi bagian tengah dengan sinar ultra violet yang selalu mengiringinya dalam setiap sorot cahaya yang dia sorotkan ke arah bumi. Sayang sekali, sepertinya sang mentari terlalu

Telepon

Oleh:
Waktu sudah menunjukkan 12 malam. Sebentar lagi jam akan berdentang beberapa kali. Ina sedang mencoba menghubungi Hita, teman akrabnya. Kamar mereka letaknya berjauhan. Jadi, daripada Ina menuju ke kamar

Bimbimbab Bulgogi

Oleh:
“Cincah!, njang! salamdeul-eun wae eojjaessdeun e naleul ttaleula ida?! ttohan sonsil, yeogi seong su issseubnida! jenjang jenjang! salamdeul-eun wae eojjaessdeun e naleul ttaleula ida?!,” hardiknya kepada dirinya sendiri sembari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sorry, I Love Him (Part 2)”

  1. Dhini says:

    Terharu ;(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *