Step Mother

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 18 July 2016

17 tahun yang lalu (1999), terjadi kecelakaan mobil yang sangat tragis hingga menyebabkan banyak sekali korban jiwa. Sekitar 10 orang dari 15 orang meninggal dunia. Sedangkan 5 lainnya luka parah dan dirawat di sebuah rumah sakit ternama. Salah seorang yang selamat adalah seorang bayi serta ayahnya. Sedangkan ibu bayi tersebut tewas secara mengenaskan. Tubuh ibu sang bayi hangus terbakan api dan bahkan hampir semua anggota tubuhnya menghilang. Walaupun begitu, sang bayi tidak memiliki cedera sedikit pun. Sedangkan ayahnya memiliki luka di bagian tangan dan kakinya. Nama bayi tersebut adalah Na Hae-Young, seorang bayi perempuan yang canti dan lucu. Hae-Young adalah putri dari pengusaha ternama Kim Mon-Suk dan Kang Hae-Ra. Semenjak Hae-Ra meninggal, Mon-Suk lah yang menjaga, menyayagi, dan mengasuh Hae-Young hingga iya tumbuh cantik seperti ibunya.

17 Tahun telah berlalu. Kejadian kecelakaan tersebut pun sudah dilupakan banyak orang. Kini Hae-Young telah menjadi seorang gadis remaja yang cantik jelita. Hae-Young dan ayahnya Mon-Suk selalu bersama dalam suka maupun duka. Suatu ketika, Mon-Suk bertemu dengan Han Sun-Won, seorang wanita yang dulu pernah menjadi cinta pertamanya. Mereka berdua pun mengobrol di sebuah taman.
“Han Sun-Won, lama tidak berjumpa.”
“Anda siapa? Ah Kim Mon-Suk. Benar sudah 25 tahun kita tidak bertemu”
“Ya. Sudah 20 tahun lamanya. Kamu apa kabar Sun-Won?”
“Aku baik. Mon-Suk, aku turut berduka cita atas meninggalnya Istri kamu Hae-Ra 17 tahun yang lalu.”
“Biarlah. Itu sudah berlalu. Oh ya, kamu sudah menikah?”
“Aku sudah menikah namun kami bercerai 4 tahun yang lalu.”
“Kamu mempunyai anak?”
“Ya. Nama anak perempuanku Park Bo-Na. Kalau kamu punya anak?”
“Ya. Namanya Na Hae-Young. Ia tumbuh cantik seperti ibunya.”
“Mianhae Mon-Suk, aku pulang dulu. Soalnya Bo-Na sendirian di rumah.”
“Biar aku antarkan.”
“Nggak usah. Aku bisa naik taksi.”
“Nggak apa-apa. Ayo lagian aku mau tahu rumah kamu dimana.”
“Baiklah Mon-Suk.”

Mon-Suk mengantarkan Sun-Won sampai ke rumah. Di rumah Sun-Won, ia ingin memperkenalkan putrinya, Bo-Na kepada Mon-Suk.
“Mon-Suk, mari mampir dahulu.”
“Gomawo. Sun-Won, lain kali saja.”
“Sebentar saja, aku ingin memperkenalkan putriku kepadamu.”
“Baiklah kalau begitu.”
“Bo-Na, Park Bo-Na, kesini sayang.”
“Ada apa bu? Perkenalkan ini teman ibu namanya Park Mon-Suk. Mon-Suk, ini putriku Park Bo-Na”
“Annyeonghaseo Paman. Salam kenal.”
“Ya. Annyeong. Kalau begitu aku pulang dulu. Jika ada waktu, aku akan mempir ke rumah kamu. Aku akan membawa Putriku Hae-Young sekalian.”
“Baiklah. Hati-hati di jalan Mon-Suk.”
“Ya. Selamat malam.”
Mon-Suk pun pergi dari rumah Sun-Won. Setelah Mon-Suk pergi, Park Bo-Na bertanya sesuatu kepada Sun-Won.
“Ibu, Itu ayah baruku?”
“Sepertinya begitu. Sebentar lagi kamu akan mempunyai ayah baru dan kita akan kaya raya. Tidak seperti ini miskin.”
“Jeongmal? Gomawo Eomma.”
“Tak lama Lagi kita akan kaya seperti dahulu. Tunggu saja saatnya tiba nanti.”

Keesokan harinya, Mon-Suk dan Hae-Young pergi berkunjung ke rumah Sun-Won. Bukan hanya memperkenalkan anaknya kepada Sun-Won. Min-Suk juga melamar Sun-Won di depan anak-anak mereka. Sun-Won dan Bo-Na tampak bahagia sedangkan Hae-Young terkejut dan hanya tersenyum kecil. Beberapa hari kemudian, Sun-Won dan Min-Suk mengadakan pesta pernikahan yang super mewah. Tampak raut wajah keduanya sangat bahagia hingga Hae-Young tidak bisa menggagalkan acara ayahnya. Sewaktu acara berlangsung, Park Bo-Na mendekati Hae-Young untuk mengatakan sesuatu kepada Hae-Young.
“Hei, sekarang kita sudah resmi bersaudara. Karena aku lebih tua dari pada kamu, kamu harus nurut semua perintah aku. Kamu mengerti!”
“Ya Unnie.”
“Ayo kesana, soalnya ayah sudah memanggil untuk foto bersama.”
Mereka berempat pun berfota bersama untuk menjadikan foto keluarga.

1 bulan kemudian… Ketika Sun-Won mempersiapkan makan malam, Hae-Young melihat Sun-Won memasukan racun tikus ke 2 makanan dari 4 makanan yang disediakan Sun-Won. Mengetahui hal tersebut, Hae-Young pun memberi tahu ayahnya tentang perbuatan ibu tirinya. Tetapi, ayah Hae-Young tidak mempercayainya dan malah mengatakan kalau Hae-Young berbohong. Jam makan malam pun tiba. Makanan yang beracun tersebut ternyata diberikan kepada Mon-Suk dan Hae-Young. Karena Hae-Young tahu kalau makanannya beracun, ia pun langsung membuangnya kelantai. Setelah itu, Hae-Young langsung masuk ke kamarnya. Di kamar, Hae-Young menangis karena tidak dapat mencegah ayahnya untuk tidak makan makanan beracun itu. Diruang makan, Sun-Won cukup kecewa karena tidak dapat membunuh Hae-Young. Tetapi ia senang karena Mon-Suk akan segera meninggal dan ia bisa menguasai seluruh kekayaan Mon-Suk
“Akhirnya Mon-Suk mati juga.”
“Kerja bagus Eomma. Sekarang tinggal anak sialan itu saja lagi.”
“Benar kata kamu sayang. Setelah pemakaman Mon-Suk, kita akan membunuh Hae-Young.”

Keesokan harinya… Setelah pemakaman Mon-Suk selesai, Sun-Won dan Bo-Na merencanakan sesuatu untuk mencelakai Hae-Young.
“Eomma, aku ada rencana untuk membunuh Hae-Young.”
“Apa rencananya? Nanti Eomma akan tahu.”
“Beri tahu Eomma.”
“Nanti saja. Eomma pulang naik taksi saja ya. Soalnya aku ingin membawa Hae-Young.”
“Baiklah. Eomma pulang pakai taksi saja. Sebaiknya cepat kamu bawa Hae-Young.”
“Hei, Hae-Young, ikut aku cepat.”
“Ya Unnie.”

Bo-Na membawa Hae-Young pergi bersamanya mnggunakan mobil. Bo-Ra membawa mobil dengan kecepatan tinggi dan sengaja menabrak pagar pembatas jalan untuk membunuh Hae-Young. Sebelum melanggarkan mobilnya ke pagar pembatas jalan tersebut, Bo-Ra ingin keluar dari mobil. Tetapi, kesialan menghampirinya. Ia juga ikut terperosok ke jurang bersama Hae-Young. Hae-Young dan Bo-Ra pun dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Hae-Young hanya mengalami luka kecil di bagian kening. Sedang Bo-Ra mengalami luka parah dan hampir merengut nyawanya. Akibat dari kecelakaan itu, menyebabkan Bo-Ra kehilangan penglihatannya. Mengetahui hal itu, Hae-Young pun bersedia mendonorkan matanya untuk Bo-Ra tapi dengan satu syarat. Bo-Ra dan ibunya tidak boleh mengetahui tindakannya untuk mendonorkan matanya kepada Bo-Ra. Dokter pun setuju dengan syarat yang diberi Hae-Young dan langsung melakukan operasi. Operasinya pun berjalan lancar dan membuat Bo-Ra bisa kembali melihat. Tetapi, Hae-Young harus meninggal dunia demi Bo-Ra agar ia bisa melihat lagi.

Beberapa hari kemudian… Bo-Ra sadar dari komanya dan merasa senang karena berhasil membunuh Hae-Young. Tetapi, pada suatu ketika, Bo-Ra dan Ibunya, Sun-Won mengetahui kalau Hae-Young meninggal karena mendonorkan matanya untuk Bo-Ra. Bo-Ra sedih dan mengingat kelakuannya kepada Hae-Young yang buruk. Sambil menangis Bo-Ra mengucapkan “Mianhae Hae-Young. Jeongmal Mianhae… Mianhae tentang perbuatan kasarku kepadamu. Mianhae tentang kelakuanku kepadamu, yang ingin membunuhmu, yang sudah meracuni ayahmu. Aku sunguh minta maaf Hae-Young. Maafkan aku.” Bo-Ra pun mengajak ibunya untuk pergi ke makan Hae-Young untuk meminta maaf secara langsung dengannya.

THE END

Cerpen Karangan: M. Andhika Pratama
Facebook: Andhika Pratama (Dhika)
Nama Lengkap: M. Andhika Pratama
Panggilan Dhika
Lahir di Tembilahan, Riau, Indonesia pada 22 mei 2001

Cerpen Step Mother merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


A Meow Story

Oleh:
Rasanya suntuk sekali. Sejak tadi aku hanya tidur-tiduran di atas sofa sambil iseng memainkan gulungan wol. Aku sudah melakukan apa saja supaya tidak bosan. Mengejar-ngejar mainan tikus, lari-larian ke

My Oppa, My Namja

Oleh:
Mobil ayah Seung Ho sedang melaju di sekitar kawasan kumuh Gunyong pada jam 11 malam saat melihat seorang gadis dengan wajah yang berlumur darah berjalan dengan menyeret kakinya ke

Just You (Part 2)

Oleh:
Seo pov Sesungguhnya aku sangat merindukannya, saat ku melihat ia bersama namja itu lagi, hati ku terasa sakit, ia tampak bahagia bersama namja itu, apa mugkin ia telah melupakan

Penyesalan Ketika Dia Pergi

Oleh:
Darimana ku harus memulai? Sungguh sulit bagiku mengutarakan, segenap isi hati yang lama ku pendam, Apakah ada kata yang pantas untukku menggambarkan? Sosok kekasih yang begitu berarti dalam kehidupan,

Vegetarian Boy

Oleh:
17 tahun yang lalu (1999), Di Kota Seoul, korea selatan, ada sebuah acara yang menampilkan model-model cantik dengan Busana yang sangat indah di tubuh mereka. Salah seorang Model di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *