That’s XX

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 11 December 2015

Aku tak percaya bahwa aku akan menjadi tua setiap harinya. Ini seperti dejavu. Tapi semuanya hanya pergi. Semua terlihat nyata. Bagaimana aku mengelak? Bahkan aku terlihat baik. Namun keadaan jadi semakin rumit. Aku mencoba mengubahnya menjadi tenang dan sangat tenang. Berlalu tidur dengan nyenyak. Pikiranku berubah. Saat aku bangun, beranjak dari mimpi indahku. Terasa sesuatu menghilang. Atmosfer terasa dingin. Ke mana sebenarnya aku pergi? Ingatanku jadi semakin liar. Tubuhku pun tak bisa ku kendalikan. Lantainya seperti bergerak. Angin pun berhembus kencang. Aku berbeda, setiap kali aku terbangun dari mimpi yang tak bisa ku hindari. Dengan diubahnya ingatanku, maka berbedalah semuanya. Dan diriku yang sebenarnya jadi terabaikan. -Affa Jung-

– Kim Jeong Rin POV’s
Aku di sini. Duduk di bangku taman. Sedang menunggu seseorang. Entah itu siapa. Aku tak tahu. Tapi kemarin ada salah satu siswa menghampiriku dan berkata..

“Ah! Lokerku berantakan.” Bermonolog memang aneh. Tapi lihatlah lokerku penuh dengan kertas-kertas yang tak penting dan buku-buku ini, ck! Aku malas belajar!
“Apa benar kau jeong rin?” Tanya seseorang mengagetkanku. Aku hanya mengangguk kaku.
“Temui seseorang di taman sebelah sekolah besok pagi. Kalau tidak kau akan mati. Jam 8 pagi. Kau harus ingat itu. Ada hal yang penting.” Ku lihat dia seperti tertahan sesuatu. Dari cara bicaranya saja dia gemetaran. Seperti diancam seseorang… baru 2 minggu aku di sini. Apa aku akan mendapat masalah?
“Baiklah.” Kataku. Dia berlalu pergi begitu saja. Oh.. ternyata dia teman sekelasku? Tas itu.. dia.. orang yang selalu jadi pesuruh. Sungguh tak beruntung. Semoga dia hidup dengan sehat dan baik.

Aku memasang headsetku seperti ini. Tiba-tiba ku lihat seseorang laki-laki berjalan ke arahku dengan tergesa-gesa. Dia berdiri di hadapanku. Aku hanya menatapnya dalam diam.
“Lama menunggu?” Tak ada respon, dengan spontan dia mengambil salah satu headsetku dan duduk di sebelahku sambil memasang salah satu headsetku di telinganya.
“Kau suka lagu ini?” tanyanya sambil mencari sesuatu di dalam tasnya. Ternyata sudah ketemu. Dia mencoba membuka snack. Sepertinya itu baru saja dibelinya. Jadi anak laki-laki ini suka snack. Lama tak ada respon dariku, dia beralih menatapku. Karena dari tadi aku hanya menatapnya heran. Memangnya apa yang dia lakukan di sini?

“Kau anak basket di sekolah kan?”
“Bagaimana bisa kau tahu? Kau anak baru di sekolah kan?”
“Kau tahu? Dari mana? Mading sekolah yang berhamburan?” aku sedikit tersenyum miring kala itu, ternyata menjadi murid baru tidaklah bagus.
“Mendengar omongan yang terdengar.” Ah! Aku benar bukan? Apa murid baru itu penting dipublikasikan, menyebalkan.
Kami saling terdiam setelah itu. Mendengarkan alunan musik dari mp3 ini.

“Aku ingin pulang.” Kataku dingin. Dia tersentak lalu melepaskan headsetnya dari telinganya dan memasangkannya kembali ke telingaku. Aku sengaja mematikan musiknya, menunggu apa yang akan dikatakannya. Dia tak kunjung berbicara. Aku berdiri dan berjalan pelan. Sebuah tangan menahan langkahku. Kenapa?
“Mari kita beli es krim dan makan sosis bakar.” Kata yang ia lontarkan terlalu mengejutkanku.

Aku berbalik melihatnya. Ku lihat dia menunduk. Apa dia malu? Aku mencoba untuk melepaskan tanganku dari genggamannya. Ah! Nihil! Dia itu kenapa sih? Dan dengan tiba-tiba dia memelukku dengan erat. Aku tak tahu apa maksudnya ini. Tapi, biarkan aku mengambil napas. Daripada tak berbuat apa-apa, aku memukul dadanya kemudian menarik tangannya dan mulai melangkah pergi dari bangku taman sekolah ini. Ia sepertinya terkejut dan mencoba mensejajarkan langkahnya denganku.

“Lepaskan” Kataku datar. Dia hanya mendongakkan kepalanya dan menatapku. “Ku bilang lepaskan, kau tuli? Jangan menatapku seperti itu huh.” Lanjutku.
“A.. anu.. itu.. aku ti.. ti.. dak mau,” Dia mendadak gagap. Aku sangat terkejut mendengarnya. Hei! Bahkan kita belum berkenalan. Lalu aku memegang tangannya mencoba untuk melepaskan genggaman ini. Aku mulai takut. Kenapa dia menatapku seperti itu? Ku lihat ada tetesan air yang jatuh ke tanganku. Apa akan hujan? Ku lihat ternyata dia berkeringat.

“Kenapa denganmu? Kau berkeringat cukup banyak.” Tanyaku dan aku mengambil tisu dari dalam tasku dan mengusap keringatnya. Kenapa bisa begini.
“Uh? Suhu tubuhmu sedikit hangat. Apa kau sakit eoh?” Aku meletakkan tanganku di keningnya. Tiba-tiba ia jatuh ke tanah. Huh?
“Ya!! Bangun! Bajumu akan kotor!” Dia pingsan? Apa yang harus ku lakukan?
Tiba-tiba dia membuka matanya dan…
– Kim Jeong Rin POV’s End

– Min Suga POV’s
Sepertinya ada beban di keningku. Apa ini? Ini bukan kamarku. Seperti kamar anak perempuan. Ku lihat sekeliling, ia di sana. Duduk dengan novel di tanggannya dan memakai … headset? Merasa diperhatikan ia beralih melihatku dan menghampiriku..
“Akh! Kau merepotkan. Kau tahu kau itu berat. Untung saja kau masih bisa berjalan dengan mata tertutup. Ah! Yang benar saja. Pulang sana!” Dia mendengus kesal. Huh? Dia mengusirku?
“Lagi pula itu bukan salahku.” Jawabku asal.
“huh? Kau? Terse..”
“Jeong Rin ayo makan dulu.” Suara teriakan seseorang terdengar dari luar. Eoh? Itu Neneknya?
“Uh? Jadi namamu jeo..” belum sempat aku melanjutkan perkataanku. Dia pergi begitu saja. Huh.

Ternyata Neneknya sangat baik. Masakannya juga enak. Dia berkata bahwa aku bisa main lagi lain waktu. Tapi kenapa Jeong Rin sedikit galak sih?
“Pulang sana!” kata Jeong Rin datar. Ia membuyarkan lamunanku. Lalu, dia menutup pintunya. Ada hal yang harus ku lakukan yaitu.. ah.. yang pasti ini rahasia. Kalian penasaran bukan? Ah! Jangan seperti itu hehehe.
– Min Suga POV’s End

Esoknya.
– Author POV’s
“Pagi!! Kim Jeong Rin!” Suga berteriak di depan rumah Jeong Rin. Ia sengaja melakukannya. Dasar gula. Pintu terbuka dan Jeong Rin sudah cantik.
“eoh? Kau sudah siap rupanya? Ayo ke sekolah bersama.” Kata Suga antusias. Ia juga tersenyum manis semanis gula. Jeong Rin menatapnya datar. Tanpa menjawab, Jeong Rin langsung memakai sepatunya dan berjalan mendahului Suga.

Halte.
“Kau kedinginan? Kau memasukkan tanganmu ke saku terus.”
“Aku punya sapu tangan. Ini.” Lanjut Suga menyodorkan sapu tangan kepada Jeong Rin. Tapi Jeong Rin langsung masuk ke bus yang sudah sampai.
Ia tidak mempedulikan Suga. Suga pun ikut masuk dan duduk di samping Jeong Rin. Jeong Rin langsung menatapnya tak suka. Merasa diperhatikan, Suga menelan salivanya dengan susah payah. Ia pun berkata, “Ah! Aku ingin duduk di sini. Hei! Jangan menatapku seperti itu” Jeong Rin beralih menatap ke luar jendela. Bus pun mulai melaju.

Tetapi, kemudian Suga menyenderkan kepalanya ke bahu Jeong Rin dan berkata, “Aku menyukaimu, bolehkah?” Jeong Rin terkejut dengan pernyataan Suga yang secara spontan menyebalkan bagi Jeong Rin. Ia pun menatap Suga dan.. ‘Kau dalam masalah!’ batin Jeong Rin kesal.
“Kau sakit?” Kata Jeong Rin kepada Suga. Suga pun mendongakkan kepalanya heran menatap Jeong Rin.
“Tuan Sopir! di sini ada anak laki-laki yang sakit. Sebaiknya turunkan dia di sini dan biarkan dia istirahat di rumah!” Kata Jeong Rin berteriak kepada sang sopir.
Kemudian Bus tersebut berhenti dan Suga turun dari bus tersebut dengan perasaan kesal. Ia juga melihat bahwa Jeong Rin sedang menjulurkan lidahnya dan melambaikan tangannya ke Suga. Alhasil Suga berjalan kaki ke sekolah. Gula yang malang…

Kau membuatku menjadi berbeda dan jantungan. Kau membuatku ingin mengalah dalam alasan apapun. Kau satu-satunya dan sangat indah. Tapi, kenapa aku yang mencintaimu sendirian? -Min Suga

The End

Cerpen Karangan: Naili Noor Affa
Facebook: Affa Jeong
Nama: Naili Noor Affa
Ttl: Demak, 03 Mei 1999
Sekolah: Sman 1 Karangtengah Demak
Kesukaan: Dance, Kpop, Membaca Komik, Novel, Fanfiksi, Menjelajah Internet.
Agama: Islam
Gender: Perempuan

Cerpen That’s XX merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Your Eyes

Oleh:
Hari ini, adalah hari yang sangat melelahkan bagi wanita mungil yang sedang duduk di halte untuk menunggu bus jurusan rumahnya tiba. Suasana di halte itu sangat sunyi, sehingga ia

Bus Desa Jungdul

Oleh:
Aku Lin ji. Hal yang terindah bagiku adalah hari pertama di sekolah baru. Penyebab kepindahanku ke desa ini karena suatu pekerjaan orangtuaku. Aku duduk di sebuah halte yang tampak

Step Brother

Oleh:
Mempunyai kakak tiri yang tampan, tinggi, ramah, baik hati dan populer, mungkin menjadi impian semua adik tiri perempuan di dunia ini. Tapi tidak untukku. Aku membenci kakak tiriku. Aku

Saranghae Appa (Part 2)

Oleh:
“Hidup sendirian, inilah yang aku rasakan. Gadis umur 16 tahun yang baru saja kehilangan Appanya. Sebelumnya, hidupku selalu bergantung padanya. Jika aku bisa menarik kembali kata-kata terakhirku padanya, akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *