Time

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 12 June 2017

“Kau terlambat lagi!” ucap Chanyeol lalu berbalik dan pergi dengan amarah yang sejak tadi ia coba untuk menahannya.
“Oppa, aku benar-benar minta maaf. Aku lupa. Aku benar-benar lupa.”
Chanyeol menghentikan langkahnya. “Jadi bagimu aku ini tidak penting sehingga dengan mudahnya kamu melupakan janji kita untuk bertemu di sini?”
“Bukan begitu, aku… a-aku…”
“Aku ingin hubungan kita berakhir saja!”
“Ah?” mata yeoja itu tampak membulat dan mengeluarkan air mata ketika Chanyeol tampa diduganya mengatakan hal yang jauh dari perkiraannya.
“Wae? Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?”
“Euna, kamu harusnya tau alasannya, aku… aku sudah bosan. Kamu selalu terlambat. dan aku bosan jika harus menunggumu terus.”
Euna berlari dan menghampiri Chanyeol lalu memeluknya dari belakang.
“Aku tau, bukan itu alasanmu.” Euna menutup matanya. “A-aku janji, aku akan tepat waktu, aku tidak akan terlambat lagi. Aku mohon. Aku mohon jangan jadikan ini sebagai akhir hubungan kita.”
Chanyeol berbalik dan memegang bahu Euna sambil menatap wajah Euna yang terlihat tidak baik untuk seorang yeoja sepertinya.
“Tenanglah. Aku hanya ingin menyadarkanmu. Tapi, kamu benar-benar janji tidak akan terlambat lagi?”
Euna mengangguk sambil menatap mata Chanyeol. “Ne, i am promise!”
Chanyeol memperlihatkan senyumnya dan menghapus air mata Euna. “Baiklah, kalau begitu temui aku di tepi Sungai Han. Aku akan memberitahumu sesuatu. Kuharap kamu tepat waktu. Kalau tidak kamu akan kehilanganku.”
“Tidak. Aku tak ingin kehilanganmu. Karena itu, aku akan tepat waktu.”
“Ya, kuharap juga begitu.” Chanyeol menggenggam tangan Euna. “Baiklah, aku banyak pekerjaan. Dan kurasa kamu juga. Aku pergi dulu. Ingat, besok jam 12 siang di tepi Sungai Han.” Sambung Chanyeol lalu melepaskan genggamannya dan melangkah pergi.
“Oppa!” Panggil Euna.
Chanyeol menghentikan langkahnya.
“Kamu terlihat kurang sehat. Sepertinya kamu lelah bekerja. Beristirahatlah dan jangan lupa makan.”
Chanyeol tersenyum dan melanjutkan langkahnya.

Euna mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke arah Sungai Han. Dia baru saja sadar kalau dia sudah sangat terlambat dan chanyeol pasti menunggunya dengan sangat marah.
Sampai di Sungai Han, Euna tidak melihat Chanyeol di sana. Diliriknya jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 14.30. Entah Chanyeol lupa atau memang sengaja pergi karena menunggu lama, yang pasti Euna sangat berharap Chanyeol tidak marah dan berpikiran untuk mengakhiri hubungan mereka.

Dhutt… Dhuttt…
Nada pesan berbunyi dari ponsel Euna. Ia segera meraih ponselnya dari dalam tas dan membaca pesan itu yang ternyata dari Chanyeol.
“Kamu terlambat lagi. Sudah kubilang, kamu akan kehilanganku.”
Euna mengeleng pelan dan segera membalas pesan Chanyeol.
“Oppa, kamu di mana? Aku ada di tepi Sungai Han sekarang. Temuilah aku dan katakan padaku apa yang ingin kau beritahu. Aku minta maaf.”

Sudah hampir tiga jam Euna mengirim pesan itu namun tak ada jawaban dari Chanyeol. Entah dia sibuk atau memang Chanyeol sudah sangat marah sehingga Chanyeol seolah tak peduli.
Hujan turun sangat lebat dan Euna terus menunggu kedatangan Chanyeol. Dia sama sekali tak peduli dengan hujan yang mengguyur tubuhnya dan bisa saja membuatnya sakit. Yang terpenting untuknya adalah kedetangan Chanyeol yang di nantinya.

Jam menunjukkan pukul enam sore dan Chanyeol masih belum datang juga. Apakah Chanyeol benar-benar marah?
`Hwanhage useoyo nan geogjeonghaji mayo,
Nan jigeomdo ireohge usjanhayo,
Nan mos ijeol tenikka…
Naman gieoghan yeon deonika,
Ijji anheolgeyo oseobwayo…`
Dering panggilan dari ponsel Euna berbunyi. Segerai ia mengangkatnya saat menyadari itu panggilan dari Chanyeol.

“Op…”
“Euna…” isak tangis wanita baya tergengar dari telpon Chanyeol yang sangat Euna kenal.
“Eomma, ada apa?”
“Chan-yeol, di dia ada di rumah sakit dan menjalani operasi, tapi…” ucapan itu terhenti sesaat.
Jantung Euna berdetak dua kali jauh lebih cepat saat mendengarnya.
“Ta-tapi apa?”
“Se-sebenarnya Chanyeol melarangku memberitahukan ini padamu. Tapi…”
“Eomma!” Euna mendesak.
“Baiklah. Sebenarnya sudah lama Chanyeol mengidap penyakit kanker hati. Dan… dan sekarang adalah operasi terakhirnya. Namun…” perkataannya terhenti beberapa detik. “…Namun operasinya gagal dan Chanyeol hanya memiliki waktu dua jam. Ja-jadi kuharap kamu ke sini dan menemuinya untuk terakhir kalinya. Aku mohon…”
Tet-tet-tet. Telepon terputus.
“Oppa?!”

Tanpa pikir panjang, Euna langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi tanpa memperdulikan resiko apa yang akan dia dapatkan jika dia mengendarai mobil tanpa terkandali.
Namun, semuanya menjadi sia-sia. Terjadi kemacetan di perjalanan karena cuaca yang hujan sehingga menyebabkan kecelakaan di tengah jalan yang menyebabkan kemacetan panjang yang cukup lama.
Euna sangat gelisah. Karena cukup lama menunggu, akhirnya Euna keluar dari mobilnya dan berlari menuju rumah sakit yang berjarak 2 kilometer dari kemacetan.

“Oppaaa!!”
Teriak Euna histeris saat melihat tubuh Chanyeol yang sudah tak bernyawa dengan balutan kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya.
“Oppa, maafkan aku. Aku tidak akan terlambat lagi. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku salah. Ini semua salahku!” lirih Euna.

“…?”
Euna tersentak saat seorang anak kecil menarik-narik bajunya dan menyodorkan sebuah surat dan setangkai mawar putih. Euna menerimanya, lalu anak itu lari entah ke mana.
Euna menatap surat itu dan menatap jasad Chanyeol saat menyadari surat itu dari Chanyeol yang di titipkan kepada anak kecil agar diberikan kepada Euna.
Euna mengusap airmatanya dan membaca surat itu.

“Dear My love…
Hi! Bagaimana kabarmu? Aku tahu, kamu pasti menangis saat melihat tubuhku yang sudah tak bernyawa, Iya kan? Cengeng. Kamu payah.
Kamu tadi ke mana saja? Aku sudah menunggumu di Sungai Han untuk memberi tahu semuanya padamu.
Aku tahu, kamu pasti akan terlambat lagi. Karena itu, aku menulis surat ini.
Euna. Tolong, lain kali sisakanlah waktumu untuk seseorang sebelum kamu kehilangannya.
Kamu jangan sedih. Tersenyumlah.
Mungkin aku telah ke surga saat kamu membaca surat ini. Tapi ketahuilah, aku akan selalu ada di setiap langkahmu.
Aku menyayangimu, karena itu… aku ingin kamu terus tersenyum. Walau tanpaku, kamu harus bahagia dan melupakan semuanya.
Aku menunggumu di sini. Aku tersenyum, jadi berhentilah menangis…
Kekasihmu
Chanyeol”

Euna menutup mulutnya yang seolah ingin berteriak. Airmatanya kini semakin menetes dan tak dapat ditahan lagi. Dengan penuh harapan, Euna menggenggam tangan Chanyeol dan membisikkan sesuatu.
“O-oppa, aku akan selalu tepat waktu. Selalu. Karena itu, hiduplah lagi untukku.”

Euna hanya bisa menyesali apa yang telah ia lakukan. Nasi sudah menjadi bubur. Karena itu, janganlah membuang-buang waktu dan bagilah waktumu dengan bijaksana sebelum kamu menyesalinya. Waktu akan terus berjalan dan tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Hargailah waktu dan pergunakan waktumu sebaik mungkin karena waktu tak dapat di putar kembali ataupun maju lebih cepat.

Cerpen Karangan: Rahmi Yana
Facebook: Konjiko Byul-Exo
Hi, ini adalah cerpen pertamaku. semoga kalian suka.

Cerpen Time merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Even Laughing Become Painful

Oleh:
Hanya memandang ke depan, melihat bagaimana hujan itu turun dengan derasnya. Ditambah ayunan angin yang membuat pohon pohon melambai lambai dan menciptakan suara khas yang benar benar menenangkan. terlihat

Just For A Moment

Oleh:
“Yoon A. Kenapa Kau tetap disini?” Aku mendongak, menatap wajah Pamanku yang nampak kesal. “Apa?” tanyaku. “Kau tidak lihat salju di luar?” tunjuknya keluar jendela. “Kau membiarkan benda putih

Her Password

Oleh:
Hei passwordmu apa? Aku hanya penasaran. Apakah nama Adikmu? Yura mulai menyumpal telinga dengan earphone Tosca favoritnya, kemudian tenggelam dalam semua lagu yang ada di playlist. Langkahnya perlahan saja,

My Lovely Classmate

Oleh:
Irene POV “Irene… Bangun! Ini sudah pukul 6!!!” Teriak Ibu dari depan kamarku. “Hmmmmm… Iya Ibu…” Kataku sambil bangun dan duduk di atas tempat tidurku. Saat aku mendengar suara

Is This My Fault?

Oleh:
“Lihatlah tanganku ini chagi ya, ini sakit…” “Mana oppa? Bagian manakah yang sakit? Oh ya ampun, ini memar. Pasti sakit sekali?” “…..” Yah, seperti itulah kira-kira percakapan romantis dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *