Urineun Mwoya (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 15 November 2017

Tak terasa sudah belasan tahun kami bersama…

Bersamanya aku merasa senang
Entah mengapa aku merasa nyaman berada di sisinya…
Tanpa kusadari perasaan aneh muncul dalam diriku yang entah sudah berapa lama muncul

“Yeonnie…coba kau lihat yang ada di belakangmu.” Ucap namja yang sedang duduk sambil menunjuk sesuatu yang berada di belakang Jiyeon
Lantas yeoja yang bernama Jiyeon itu mengikuti arah tunjuk namja di hadapannya dengan raut bingung.

Sreet
Hap…
Hihihihi…

Jiyeon kembali menghadap ke depan dengan raut kesal sambil memukul pelan lengan namja yang duduk di hadapannya
“Yak Sehun… mengapa kau selalu mencomot makananku eoh?? Padahal punyamu masih ada!” Ujar Jiyeon kesal sambil memakan makanannya dengan cepat agar namja yang bernama Sehun tak lagi mencomot makanannya
“Heheheh… punyamu lebih enak dibanding punyaku. Jangan makan terlalu cepat nanti kau bis…” ucapan Sehun berhenti saat mendengar suara tersedak
Uhuk… Uhuk…
“Igeo… ckckckck baru saja kukatakan dan terjadi.” Ucap Sehun sambil memberikan Jiyeon secangkir air putih miliknya lalu dengan cepat Jiyeon mengambil cangkir itu dan meminumnya tanpa sisa lalu cangkir itu diletaknya di meja tepat di depan Sehun
“Yak itu semua gara-garamu babo!” Ucap Jiyeon sambil melanjutkan makannya dengan pelan
“MWO? NAEGA??” Ucap Sehun dengan suara meninggi yang mengundang banyak pasang mata menatapnya penasaran
“Yak Yeonnie… memangnya apa salahku eoh?” Tanyanya pelan sambil mendekatkan diri dengan Jiyeon
“Andai saja kau tak mencomot makananku, pasti aku tak akan tersedak babo!!” Jawab Jiyeon dengan kesalnya
“Itu kan bukan salahku…”

Kriiing… kriiing. …
Sreetttt…
“Ayo cepat kita pergi ke kelas.” Ajak Jiyeon sambil menarik tangan Sehun dengan kasar
“Yak lepaskan tanganmu itu babo!!”

Park Jiyeon POV
Hahh… Dia selalu saja membuatku kesal. Tapi aku gak bisa marah padanya. Entahlah yang pasti aku gak berani memarahinya. Perasaanku menjadi aneh saat aku berada di dekatnya. Ada perasaan senang sekaligus tidak rela saat dia bersama orang lain. Awalnya aku berpikir kalo aku ini punya penyakit aneh namun setelah kucek di rumah sakit, katanya aku itu jatuh cinta. Sungguh… aku merasa ini mustahil, bagaimana bisa aku menyukai dia. Emang sih kuakui kalo sahabatku itu tampan dan baik padaku namun ada satu hal yang sampai sekarang aku tak bisa menyatakan perasaanku kepadanya karena perkataannya yang dulu membuatku hanya bisa memendam perasaanku sendiri. Miris memang namun apalagi yang harus kulakukan? Menyatakan perasaanku padanya? Hah… itu konyol…

FLASHBACK ON
“Sehun-ah ada yang ingin kutanya padamu.” Ucap Jiyeon berjalan mendekati Sehun yang kini duduk di bangku taman sekolah dan menduduki dirinya di sebelah sahabatnya, Sehun
“Mwo?” Tanya Sehun malas tanpa menatap sahabatnya melainkan fokus dengan komiknya yang sempat dibawanya dari rumah
Jiyeon dengan wajah berseri-serinya memandang Sehun sekilas lalu bertanya tanpa menatap Sehun.
“Bagaimana kalo seseorang yang menyukai sahabatnya sendiri? Apakah hubungan mereka bisa lebih serius lagi atau tetap menjadi seorang sahabat?” Tanyanya penasaran
Sehun sempat berhenti membaca komiknya dan menatap Jiyeon sekilas lalu berpikir sejenak dan kembali membaca komiknya.

“Kenapa kau bertanya tentang itu?” Tanya Sehun
“Aku hanya ingin tau aja. Palli… katakan padaku.”
“Mm… baiklah kalau kau memaksa. Kalo sahabat ya tetap sahabat dan kalau cinta ya cinta… jadi prinsipku itu sahabat tidak bisa menjadi cinta.” Jawab Sehun sambil berhenti membaca komiknya dan menatap langit-langit yang cerah
Sedangkan Jiyeon dia hanya berdiam diri yang bagaikan patung lalu dipegangnya dadanya yang terasa sakit bagaikan tertusuk pisau tajam itu dan sedikit meremasnya dan bangkit dari kursi lalu pergi meninggalkan Sehun seorang diri di taman itu.
Sehun hanya menatap kepergian Jiyeon dengan bingung lalu diangkatnya kedua bahunya dan kembali membaca komiknya yang sempat berhenti itu.
FLASHBACK OFF

‘Apakah prinsipmu tidak bisa diubah Sehun-ah? Apakah aku harus menyimpan perasaanku sendiri eoh? Ini sungguh menyakitkan.’

“Yeonnie, mengapa kau melamun eoh? Apa kau sakit? Apa perlu aku membawamu ke UKS eoh? Biar aku minta izin dengan kim seosaengnim.” Tanya Sehun yang duduk di sebelahku sambil menatapku dengan cemas, aku baru tersadar kalau aku ini masih di kelas dan ini masih pelajaran kim seosaengnim, Matematika. Segera kugelengkan kepalaku agar dia tak meminta izin ke kim seosaengnim
“Andwae Sehun-ah aku tak apa, hanya sedikit pusing aja.” Ujarku sambil tersenyum tipis agar dia mempercayaiku
Kulihat ia hanya menghela nafasnya lalu menganggukkan kepalanya.

Oh Sehun POV
Kulihat ia hanya melamun. Entah apa yang dipikirnya sehingga ia lebih sering melamun dan tidak fokus dengan pelajaran. Aku merasa kalau dia agak berubah, apa mungkin itu hanya perasaanku. Entahlah… saat ini aku dan sahabatku, Park Jiyeon sudah memasuki ajang yang lebih tinggi yaitu kuliah. Sudah dari kecil kami bersahabatan, jadi aku sudah mengenalnya dengan sangat baik begitu juga dengan dia. Kami sama-sama sekolah dasar yang sama sampai sekarang kami kuliah di Kyunghee University dan mengambil jurusan seni dan kami baru memasuki semester 2.

“Sehun-ah…” panggil Jiyeon dengan tangan yang melambai tepat di depan wajahku
“Eum.. wae?” Tanyaku heran
“Apa yang kau lamunkan eoh? Sampai-sampai kelas sudah kosongpun tak kau sadari huh!” Kesal Jiyeon sambil melipat kedua tangannya didada
‘Eh? Kelas sudah kosong? Kapan? Cepat sekali kelas sudah kosong, apa aku terlalu lama melamun?’ Gumamnya sambil menatap kelasnya yang kosong tanpa melakukan apapun

Author POV
“YAK OH SEHUN JANGAN MELAMUN BODOH! MAU SAMPAI KAPAN KAU MELAMUN EOH?” Teriak Jiyeon tepat di telingga kanan Sehun
Sontak Sehun terlonjak kaget sambil mengusap-usap telinga kanannya yang berdengung dan menatap Jiyeon dengan tajam.
“Yak apa kau gila eoh? Mengapa kau berteriak di telinga ku eoh? Bagaimana kalo telingaku rusak eoh?” tanya Sehun dengan wajah menahan marah
“Mianhae Sehun-ah, tapi siapa suruh kau melamun eoh?! Sudahlah aku nak pulang dulu bye.” Ucap Jiyeon kesal sambil menghentakkan kakinya dan melenggang pergi meninggalkan Sehun seorang diri
Sehun tersenyum bodoh menatap kepergian Jiyeon dan seketika ia tersadar saat kelas sudah kosong
“YAK PARK JIYEON TUNGGU AKU…” Teriaknya sambil membereskan alat tulisnya lalu ikut keluar dan menyusulnya

At Apartement
Tok… tok… tok…
“Nugu?” Tanya yeoja yang kini membuka pintu setelah keluar dari kamarnya
Ceklek…
“Neo… untuk apa kau datang kemari eoh? Kha… Ppali… Kha…” usirnya sambil menutup pintu dengan keras sehingga menimbulkan suara yang cukup keras
“YAK PARK JIYEON BUKA PINTUNYA…” Teriak namja yang berada di luar sambil mengedor pintu berkali-kali namun yeoja itu seakan menulikan telinganya dan melangkah memasuki kamarnya
“Yak cepat buka pintunya kalau tidak aku akan…” Teriak namja itu sambil menggatungkan bicaranya sambil tersenyum miring
“Kalau tidak apa eoh? Sudahlah lebih baik kau pergi!” ucapnya ketus sambil menduduki dirinya di bangku lalu kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda, menonton drama

Jiyeon seakan melupakan keberadaan Sehun yang masih di depan pintu apartementnya. Dengan santai ia mencomot makanan yang ada di tangannya. Ceklek.. sontak Jiyeon menatap ke arah pintu kamarnya dengan tajam. Sedangkan orang yang ditatap tajam seperti itu hanya tersenyum lebar. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

“Annyeong Yeonnie… kau sedang apa? Eoh kau sedang menonton drama? Mengapa aku gak diajak-ajak sih? Cha… mari kita nonton bersama.” Sapanya ceria sambil ikut menduduki dirinya tepat di sebalah Jiyeon dan menekan play pada remot dan juga tanpa rasa bersalahnya, Sehun mencomot makanannya yang ada di tangan Jiyeon, sedang Jiyeon terus menatap Sehun tajam
“Hahahaha lucu sekali yeoja itu. Ah… dia sungguh mengemaskan. Andai aku menjadi namja itu pasti sudah kuhabisi tuh yeoja.”
Sehun yang tersadar ada yang menatapnya terus hanya berdekhem kecil.
“Aigoo… aku tau kalau aku tampan tapi bisakah kau tidak terus menatapku eoh? Bisa-bisa kau suka pula padaku.” Candanya sambil tersenyum kecil
“YAK PARK JIYEON LEPASKAN TANGANMU DARIKU. Akkkhhhh… APPO…” Jiyeon terus menjambak rambut Sehun dengan kasar tanpa mempedulikan Sehun yang kesakitan sambil berdiri dari duduknya
“AKKHHH… RAMBUTKU… YAK PARK JIYEON AKU MASIH SAYANG SAMA RAMBUTKU…” Teriaknya panik sambil berusaha melepaskan tangan Jiyeon dari rambutnya
“AKHHH… ANDWAE…” Teriaknya kesakitan sambil pergi keluar dari kamarnya juga aprtementnya sambil menutup pintu dengan keras

Kini tinggallah Jiyeon seorang diri di kamarnya sambil menahan tangisnya, kedua kakinya terasa lemas sehingga tidak bisa menopang berat tubuhnya dan jatuh terduduk di lantai sambil memegang dadanya kuat
“Wae… Wae… Hiks… Mengapa di sini begitu sakit eoh? hiks… Mengapa kau membuatku semakin sulit untuk melepaskanmu eoh? Apa kau tau seberapa sulit menepis perasaanku padamu eoh? Wae? Sehun-ah…” racaunya sambil menangis deras dan memukul dadanya berkali-kali
“Eomma… Hiks… Mengapa begitu susah eoh? Apakah aku sudah benar melakukan ini? Tidak taukah dia hiks… Kalau aku sudah berusaha untuk menepis perasaanku sendiri eoh?” racaunya lagi

Jiyeon terus berjalan lunglai memasuki gerbang kampusnya. Dia terus berjalan sambil menundukkan kepalanya dan melewati segerombolan yeoja yang bergosip. Dirinya terlalu malas untuk mengetahui apa yang dibicarakan oleh mereka. Namun langkahnya sempat berhenti saat tanpa sengaja ia mencuri dengar dari orang bergosip itu. Ia kembali melangkah sambil berpikir dalam hati.

‘Sehun? mengapa nama Sehun disebut-sebut?’ batinnya bingung sambil terus melangkah sampai akhirnya tanpa sadar Jiyeon telah menabrak seseorang sehingga mereka terjatuh

“Auuuwww… Appo.”
“Auuwwww… Eh Jiyeon-ssi? Neo gwaencanha?” Tanya orang itu cemas sambil berdiri dan mengulurkan tangannya tepat di depan wajah Jiyeon
“Ah ne, nan gwaencanha. Gamsahamnida Jieun-ssi” ucapnya sopan sambil menerima uluran tangan yeoja itu yang bernama Jieun atau yang lebih lengkapnya Lee Jieun
“Mmm… Jieun-ssi kalau boleh tau ada apa dengan Sehun? Tadi aku mencuri dengar jadi apa kau tau soal itu?” Tanya Jiyeon penasaran sambil menatap yeoja itu dengan penuh harap
“Mmm… Aku hanya tau sedikit saja dan itu pun dari temanku. Katanya Sehun-ssi punya yeojachingu yang bernama I-iren… Ah… Mianhae Jiyeon-ssi aku lupa nama yeojachingunya, yang kutau dia satu jurusan juga denganmu dan Sehun-ssi tapi beda kelas dan Sehun-ssi sudah lama menyukai yeoja itu namun baru berani menembak yeoja itu.” Ucapnya panjang lebar sambil menatap Jiyeon dengan cemas

Soalnya sejak Jieun cerita, Jiyeon hanya diam mematung dan bagaikan pisau tajam yang menusuk tepat di hatinya. Itulah yang dirasakannya sekarang.

“Neo gwaencanha Jiyeon-ssi?” Tanya Jieun sambil memegang pundak Jiyeon
“A-ah n-nan g-gwaencanha Jieun-ssi, gomawo sudah menceritakannya padaku. Aku pergi dulu ne. Annyeong Jieun-ssi” Jiyeon membungkuk hormat lalu pergi menuju ke kelasnya dengan langkah yang dipercepat

‘Mwoya? Apa itu benar Sehun-ah? Tapi kau tak pernah bercerita padaku. Kau anggap aku apa Sehun-ah? Mengapa cuma aku yang tidak tau soal itu? Aku ini sahabatmu bukan?’ batinnya kesal dan kecewa dan kedua matanya memerah menahan tangis

Sepanjang jalan Jiyeon makin menundukkan kepalanya saat gosip itu terus terdengar olehnya dan Jiyeon makin percepat langkahnya menuju kelas.

‘Sial mengapa aku merasa kelasku begitu jauh eoh? Padahal tidak terlalu jauh saat aku bersama Sehun. Kenapa kelasku berada di ujung eoh?’ batinnya kesal

‘Yeojachingu Sehun cantik sekali. Mereka tampak serasi.’
‘Tampan dan cantik. Wah… Aku iri sama mereka ‘
‘Akhirnya Sehun punya yeojachingu juga, aku kira dia bakal selamanya bersama sahabatnya.’
‘Park Jiyeon, itukan nama sahabatnya? Wah aku iri dengan Sehun yang punya sahabat secantik dia.’
‘Park Jiyeon? Bukankah itu yeojachingunya?’

Ceklek…
Hahh… hahh… tampak Jiyeon sedang mengatur nafasnya saat ia berlari menuju ke kelasnya sambil mencari Sehun dan tak mempedulikan orang lain yang menatapnya bingung.

“Oh Sehun.” panggil Jiyeon sambil berjalan menuju bangkunya yang bersebelahan dengan Sehun
“Ne. Waeyo?” Tanya Sehun yang kini memainkan handphone miliknya dan tak menatap Jiyeon
“Apa benar kau punya yeojachingu yang bernama I… I… ah aku lupa namanya?” Tanyanya sambil mengingat-ingat nama yeojachingunya dan menduduki dirinya di bangku
“Ne. Kok kau tau? Wah… kau benar-benar sahabat sejatiku. Kau tau segalanya tentangku padahal aku belum cerita padamu. Oh iya… nanti kukenalkan yeojachinguku padamu.” Ucap Sehun salut pada Jiyeon dan menatapnya dengan senyuman lebarnya, tampak Sehun merona saat menyebutkan ‘yeojachinguku’
Jiyeon hanya tersenyum palsu di depan Sehun dan menganggukkan kepalanya lalu menatap ke depan.

‘Jadi benar? bukankah kita ini bagaikan magnet yang tak terpisahkan? Lantas mengapa kau seperti ini padaku eoh? Mengapa hati ini merasa sakit kali seakan tidak rela untuk melepaskanmu pada yeoja itu eoh? Apakah aku egois jika tidak ingin melepaskanmu padanya? Aku harus menghapus perasaanku padamu agar aku tidak sakit lagi saat melihatmu. Aku juga harus membiasakan diri di depan kalian seolah-olah aku bahagia jika kalian bersama. Biarlah aku sakit yang penting aku bisa lihat wajah bahagiamu, itu sudah cukup untukku.’ Batinnya menahan tangis yang berada di pelupuk matanya

Kriiinggg… Kkrrriiinngg…
“Oke sampai di sini pertemuan kita dan kita sambung minggu depan. Sampai jumpa minggu depan.” Ucap Kim seosaengnim sambil membawa beberapa buku tebal di tangannya dan pergi keluar diikuti para siswa

Kini di dalam kelas itu tinggallah Jiyeon dan Sehun yang tampak membereskan alat tulisnya dan bersiap-siap pulang.
“Yeonnie-ah, kajja kita ke ruangan sebelah akan kukenalkan yeojachinguku.” Ucap Sehun sambil merangkul pundak Jiyeon dan melangkah ke luar kelas dan berjalan menuju ruangan sebelah.

Jiyeon hanya bisa menampilkan senyum palsunya saat orang berlalu lalang yang menyapa Jiyeon maupun Sehun.
‘Apakah kau begitu semangat untuk mengenalkannya padaku eoh? Apakah kau bakal seperti itu jika aku yeojachingumu?’

“Di mana ya? Ah itu dia… Kajja.” Ajaknya sambil melepas rangkulannya di pundak Jiyeon dan berjalan meniggalkan Jiyeon

‘Mengapa hati ini begitu sesak eoh? Apakah kau terlalu semangat untuk menemuinya sehingga kau meninggalkanku eoh?’

Jiyeon hanya tersenyum miris lalu mengikutinya dari belakang. Tampak yeoja yang dimaksudnya sedang berdiri membelakangi mereka sehingga Jiyeon tak bisa menatap bentuk wajahnya. Sehun memeluknya dari belakang sehingga yeoja itu terlonjak kaget dan membalikkan badannya lalu tersenyum manis saat mengetahui itu namjachingunya.

“Ahh… Oppa kau mengejutkanku.” Ujarnya sambil merona malu dan memukul pelan lengan kokoh Sehun
“Aigoo… Kau sungguh mengemaskan eoh?” godanya sambil mencubiti kedua pipi yeojachingunya bahkan Sehun melupakan Jiyeon yang berada di belakangnya
“Ahh… oppa berhenti… di sini ada orang.” Ucapnya malu-malu sambil menatap Jiyeon yang kini menundukkan kepalanya

Terlalu sakit baginya untuk menatap kebersamaan mereka, pikir Jiyeon.

“Di sini tidak ada orang chagi, lihatlah bahkan kampus ini sudah sepi. Apa kau membohongiku biar kau bisa menjauh dariku eoh?” tanyanya sambil mencubit pelan hidung yeojachingunya

‘Kau bahkan melupakanku di sini Oh Sehun’ batinnya tersenyum miris

“Ani oppa di sini ada orang, aku tak membohongimu oppa lihatlah di belakangmu.” Tunjuknya sambil menatap Jiyeon lantas Sehun mengikuti arah tunjuknya sambil membalikkan badannya dan terkejut mendapati Jiyeon yang menundukkan kepalanya
“Eoh neo Yeonnie. Kau belum pulang? Mengapa masih ada di sini?” Tanyanya bingung

‘Kau sangat aneh Sehun-ah. Bukankah kau yang dengan penuh semangat menarikku sampai ke sini? Apa cinta itu membuatmu seperti melupakan keberadaan seseorang eoh?’
Lantas Jiyeon mengangkat kepalanya dan tersenyum palsu sambil menahan tangisnya.

“Aku menunggumu Sehun-ah dan kau bilang kau akan kenalkan yeojachingumu padaku. Apa kau lupa?” tanyanya dengan suara yang mulai berubah karena menahan tangis sambil menatap mereka secara bergantian
“Ah mianhae Yeonnie aku lupa. Chagi-ah ini sahabatku Park Jiyeon dan Yeonnie ini yeojachinguku Bae Joo Hyeon dipanggil Irene.” Ucapnya sambil tersenyum lebar dan tidak sadar dengan perubahan suara Jiyeon

‘Aish pabonya diriku, mengapa suaraku bergetar eoh? Bagaimana kalau dia sadar aku menahan tangis eoh? Pabonya diriku.’ Batinnya sambil merutuki kebodohannya

“Ah Yeonnie mianhae ne hari ini aku tak bisa pulang denganmu. Lagipula aku tak terlalu khawatir padamu karena kau menguasai taekwondo bukan?” tanyanya santaisambil merangkul pundak yeojachingunya, Irene

‘Mengapa dadaku merasa sesak sekali eoh? Bukankah itu wajar kalau dia tidak bisa pulang denganku karena ada yeojachingunya? Tapi mengapa hati ini tidak bisa diajak kompromi eoh?’ batinnya sambil menatap Sehun dengan senyuman palsunya

“Ne gwaencanha Sehun-ah, kalau begitu aku pulang dulu ne.” pamitnya sambil berjalan menjauhi pasangan itu dengan miris, tanpa disadarinya ada lelehan air mata yang membasahi kedua pipinya

Cerpen Karangan: Sintia Paramita
Facebook: Sintia Paramita Gotama
Namaku Sintia Paramita Gotama, tahun kelahiranku 2000. Saat ini aku masih kelas xi jurusan Akuntansi. Aku suka menulis cerita sejak aku smp. Thanks.

Cerpen Urineun Mwoya (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sampai Jumpa

Oleh:
Tiada hari tanpa pergi ke kedai, sebuah tempat menjadi awal pertemuanku dengannya. Dimana kami telah menghabiskan waktu kami di sana hanya untuk berbagi cerita dan bersenda gurau. Cukup lama

Your Eyes Oppa

Oleh:
Namaku Kim Taeyeon, aku baru kelas 2 SMA. Aku memiliki seorang sahabat yang bernama Jung Min-hyuk. Sebenarnya, aku sudah lama mencintainya diam-diam. Aku tidak tahu apakah dia juga mencintaiku

I Miss You Yoona

Oleh:
Yoona terbaring lemah di kasur rumah sakit. Ia mengidap kanker otak stadium 2. Menurut dokter, kanker Yoona sudah termasuk parah. Orangtua Yoona selalu mendoakan yang terbaik untuk Yoona. Pada

That’s XX

Oleh:
Aku tak percaya bahwa aku akan menjadi tua setiap harinya. Ini seperti dejavu. Tapi semuanya hanya pergi. Semua terlihat nyata. Bagaimana aku mengelak? Bahkan aku terlihat baik. Namun keadaan

Semoga Bahagia Cinta Pertamaku

Oleh:
Aku berjalan di bawah awan yang teduh, sambil memakai earphone warna putih milikku. Sambil mendengar lagu kesukaanku, kini langkahku menuju satu tempat yang aku sukai. Tempat beribu kenangan diriku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *