Urineun Mwoya (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 15 November 2017

“Oppa, mengapa kau biarkan dia pulang sendiri eoh? Apa kau tak khawatir pada sahabatmu? Hari sudah malam oppa dan itu tidak baik untuk yeoja cantik sepertinya. Bagaimana kalau ada yang mengganggunya eoh?” tanyanya bertubi-tubi dengan raut cemas namun terbanding terbalik dengan hatinya yang tidak menyukai Jiyeon

‘Ciihhh… Sehun oppa tidak boleh mengkhawatirkannya. Biar aja dia diganggu atau diculik, yang penting aku bisa bersama Sehun oppa hahahaha.’ batinnya sambil tersenyum mengerikan

“Chagi tenang saja, mana mungkin ada orang yang berani mengganggunya. Dia juga bisa jaga diri, jadi jika kita sedang berduaan jangan pernah kau membahasnya oke? Itu bisa merusak suasana romantis kita arra?” ucapnya panjang lebar dan dijawab Irene dengan satu jempolnya sambil memegang tangan kanan Sehun sedang tangan kirinya sibuk dengan kemudinya

‘Yes… Hahahaha kasihan sekali dirimu Park Jiyeon. Kali ini akan kubuat Sehun hanya menatapku bukan denganmu lagi!’ gumamnya sambil evil smirk lalu merubah ekspresinya menjadi senyuman manis saat Sehun menatapnya.

“Hiks… Hiks… Eomma… apakah keputusanku untuk menepis perasaanku sudah benar? Tapi mengapa sulit sekali? Rasanya begitu sesak… Sesak… Di sini… Hiks… hiks…” tangisnyasambil memukul dadanya sendiri berkali-kalitanpa mempedulikan orang yang berlalu lalang maupun jalanan yang menatapnya aneh. Bagaimana tak aneh? Jiyeon begitu cantik dan putih, menangis pilu, rambut yang acak-acakkan dan berbicara sendiri sepanjang keluar dari gerbang kampus sampai sekarang

Bahkan segerombolan preman yang ingin mengodanya pun membatalkan niatnya dan hanya menatap kepergian Jiyeon dengan hati sedih, segerombolan preman menatap Jiyeon yang menangis seperti itu juga membuat hati mereka teriris. Sehingga tanpa mereka sadari ada beberapa petugas polisi yang berlalu lalang memborgol mereka secara diam-diam.

Setelah Jiyeon sudah makin jauh dan tak nampak bayangannya lagi barulah para preman itu berhenti menatap Jiyeon.

“Ekhem… Sudah puas melihatnya?” Tanya ketua petugas polisi itu dengan senyum miringnya sontak para preman itu tersadar akan situasinya dan hanya menundukkan kepalanya pasrah

Seminggu kemudian
“Jiyeon-ssi, apa kau mendengarkan penjelasanku?” Tanya Lee Jieun sambil menatap Jiyeon dengan cemas
“Ne, kau teruskan saja.” Ucapnya sambil menatap kosong buku yang dipegang Jieun
“Ah, ne.”

Semenjak kejadian itu Jiyeon sedikit berubah, dia sering melamun, menatap kosong seperti tadi dan juga lebih pendiam. Selama seminggu itu juga Sehun lebih sering berduaan dengan yeojachingunya daripada sahabatnya. Bahkan waktu mereka hanya beberapa menit untuk saling menatap terus Sehun pergi meninggalkan Jiyeon seorang diri sampai akhirnya Jieun, yeoja yang pernah tertabrak dengan Jiyeon menjadi lebih dekat dengannya. Juga Sehun sekarang mencat warna rambutnya yang berwarna merah yang awalnya warna pirang.

Jiyeon berjalan seorang diri di koridor kampus menuju ke kelasnya dengan tatapan yang kosong, ia terus berjalan tanpa berhenti dan tidak menyadari ada sepasang mata yang menatapnya puas. Sepasang mata itu berjalan berlawanan arah dengan Jiyeon sehingga mereka berpapasan dan dengan sengaja pula sepasang mata itu menyengol Jiyeon sehingga terjatuh dan sepasang mata itu berpura-pura jatuh saat melihat dari arah belakang Jiyeon ada namja yang kini menatapnya cemas.

“Chagi-ah…” Teriaknya cemas sambil berjalan cepat mendekati kedua orang yang terjatuh itu dan segera mengeceknya
“Auuwwww appo…” ringis Jiyeon sambil menatap kakinya yang terluka dengan tatapan kosong dan mulai berdiri
“Auuuwww appo… Oppa hiks…” sepasang mata itu Irene, yeoja itu berpura-pura menangis sambil mengeluh sakit
“Mana yang sakit?” Tanyanya cemas, Jiyeon kembali melanjutkan jalannya yang sempat tertunda tanpa membalikkan badannya

‘Kau bahkan tidak mempedulikanku Sehun.’ batinnya lirih

“Ini… hiks..” tunjuknya pada kaki kirinya yang tidak ada merah sedikitpun

Sehun dengan geram menarik kerah Jiyeon dari belakang sehingga tubuh Jiyeon limbung dan kembali jatuh, kini luka itu makin parah sampai darahnya mengucur keluar. Jiyeon hanya menatap Sehun dengan raut bingungnya sedangkan Sehun menatap Jiyeon dengan tajam juga tatapan bencinya, Irene menatap Jiyeon dengan puas.

“Yak, neo… kau apakan yeojachinguku huh? Lihatlah dia terluka gara-gara kau Park Jiyeon!” bentaknya sambil menunjuk yeojachingunya yang menangis, sudah beberapa kali Jiyeon mendapatkan bentakan keras dari sahabatnya namun Jiyeon hanya diam saja selama satu minggu ini namun tidak dengan hari ini, ia merasa sia-sia diam saja kalau dia juga ikut terluka.

‘Apa kau hanya melihatnya saja eoh? bahkan dia tidak terluka sedikitpun! Sehun-ah kau berubah! Coba kau buka matamu lebar-lebar dan lihat siapa yang terluka di sini eoh? Aku atau yeojachingumu?’ batinnya miris

“Seharusnya kau yang nanya pada yeojachingumu itu Oh Sehun! Bukan padaku!” ujarnya pelan sambil melanjutkan langkahnya namun Sehun tak tinggal diam, dia kembali menarik Jiyeon dan

Plaakk…

Irene tersenyum senang melihatnya, Sehun menampar Jiyeon dengan begitu kerasnya sehingga Jiyeon jatuh terduduk sambil memegang pipinya yang merah dan mulai membiru. Jiyeon menatap Sehun tak percaya, dirinya begitu syok karena ini kali pertamanya Sehun menamparnya sehingga ia tak bisa berkata apapun lagi. Sedang Sehun masih menatapnya dengan benci dan tak mempedulikan lagi jika dihadapannya itu yeoja atau bukan dan terlebih dia tidak peduli kalau itu sahabatnya.

Lantas Jiyeon bangkit dari jatuhnya walau terasa sakit namun itu tidak membuatnya terasa sakit karena ia tidak mempedulikan kakinya dan pipinya yang sakit. Baginya hatinya yang terlalu sakit sehingga luka pada kakinya maupun pipinya mengalahkan hatinya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan sahabatnya. Ia maju satu langkah dengan kaki yang terpincang dan berdiri berhadapan dengan Sehun lalu menatapnya tajam.

Plaakk… Seketika semua terdiam. Tampak koridor kampus begitu sepi dan hanya ada mereka bertiga yang ada di sana. Tangan Jiyeon bergetar sambil menundukkan kepalanya dan tanpa disadarinya ada lelehan air mata yang membasahi pipinya. Bahkan seluruh tubuhnya bergetar hebat sambil tak mempercayai ini semua. Sehun hanya terdiam sambil menatap Jiyeon kosong. Irene dengan geram segera berdiri dan berjalan mendekati mereka dan ingin menampar Jiyeon, sedikit lagi akan kena jika saja Jiyeon tidak menahan tangan Irene lalu Jiyeon menatap Irene dengan tajam sambil mencengkram tangannya sehingga membuatnya meronta kesakitan. Tampak wajah Jiyeon masih basah akibat air matanya namun segera menghapusnya secara kasar dan menatap Sehun sekilas lalu kembali menatap Irenedengan tajam dan dingin. Irene menatap Jiyeon dengan benci sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Jiyeon.

“Yak lepaskan tanganku brengsek” ucapnya dengan nada tinggi sambil meronta kesakitan

Dengan kasar Jiyeon melepaskan tangannya dari Irene dan segera membersihkan tangannya yang bekas memegang tangan Irene dengan jijik lalu melenggang pergi. Namun Irene tak tinggal diam, dia menarik tangan kiri Jiyeon secara kasar sehingga badannya terhuyung ke depan namun tak terjatuh dan membalikkan badannya kesal.

“Yak apa maumu eoh?” bentak Jiyeon kesal

Seketika Sehun tersadar akibat bentakan suara Jiyeon yang keras dan menatapnya tajam sambil memegang pipinya yang membiru. Yah, tadi Jiyeon menampar pipi kiri sehun.

“Park Jiyeon!! Berani sekali kau menamparku huh?! Sebenarnya apa maumu eoh? Setelah yeojachinguku terluka sekarang kau membuatku terluka eoh? Lebih baik kau pergi dari hadapan kami juga!! kalau bisa menghilang saja dari hadapanku! Kajja chagi-ah kita obati lukamu ne.” bentak Sehun sambil menunjuk-nunjuk Jiyeon tepat di depan wajahnya dan mengajak yeojachingunya menjauhi Jiyeon tak lupa Sehun menyengol bahu Jiyeon sehingga Jiyeon jatuh terduduk lagi dan ia hanya melihat Irene yang memandangnya jijiklalu menghilang dari hadapannya

Kembali Jiyeon menangis sambil meratapi kesedihannya dan memukul dadanya berkali-kali. Hari sudah sore namun koridor kampus itu tampak sepi seolah-olah hanya ada dirinya yang berada disitu. Seketika hujan tujun dan membasahi dirinya. Seakan-akan hujan ikut sedih melihatnya yang hanya menangis seorang diri.

‘Wae? Hiks… Apakah aku ini bukan sahabatmu lagi eoh? Hiks… Mengapa kau begitu kejam padaku? Mengapa kau terus menyalahkanku eoh? Memangnya apa salahku sehingga kau dengan tega membentakku juga menamparku eoh? Kau berubah Sehun-ah… hiks… hiks… Apakah seperti ini sakitnya saat orang yang kita cintai memarahimu eoh? Mengapa rasanya begitu sakit sekali eoh?’ batinnya yang seakan tidak mempedulikan dirinya yang masih di tengah koridor kampus

“Baiklah, kuputuskan untuk pergi dari hadapannya sesuai yang ia pinta. Aku udah lelah dan menyerah.” gumamnya dengan isakkan kecilnya sambil mencoba berdiri dan berjalan menuju ke kelasnya dengan kaki yang terpincang-pincang

Jiyeon memasuki ke ruangan kelasnya yang sepi. Kelasnya baru saja selesai tiga jam yang lalu dan Jiyeon menatap ruangannya dengan teliti lalu menghela nafasnya secara berat dan dengan cepat ia mengambil tasnya lalu mengeluarkan sepucuk surat yang berwarna baby blue dengan hati-hati. Satu senyuman terukir di bibir indahnya lalu keluar dari ruangannya dengan kaki yang masih terpincang.

At Apartement
Tok… tok… tok…
“Nugu?” Tanyanya sambil membuka pintu
“Neo! Untuk apa kau datang kemari eoh? Mau membuatku terluka lagi huh?” ucapnya sinis
“Sehun-ah aku datang kemari bukan bermaksud melukaimu tapi aku hanya ingin memberikan ini padamu. Kuharap kau membacanya nanti.” Ucap Jiyeon lirih yang masih memakai pakaian saat di kampus lalu memberikan sepucut surat itu pada Sehun namun namja itu hanya menatapnya sinis tanpa menatap surat itu
“Untuk apa kau memberikanku sampah! Lebih baik kau pergi dari sini dan jangan pernah lagi menginjak kakimu di Apartementku!” ucapnya sinis sambil mendorong tubuh Jiyeon tanpa berniat mengambil surat itu maupun melihatnya, Jiyeon sempat mengepalkan tangan kirinya dan ingin meninjunya namun ditahannya agar tak lagi melukai sahabatnya

Jiyeon hanya tersenyum miris saat ia terjatuh lagi dan segera ia berdiri lalu meletakkan sepucuk surat itu tepat di atas nakas yang berada di sebelah kiri pintu. Sehun bahkan enggan menatap surat itu dan hanya menatap tajam Jiyeon.

“Gomawo Sehun-ah… Kuharap kau baik-baik saja eoh dengan yeojachingumu dan aku pergi dulu. Annyeong.” ucapnya tersenyum palsu sambil menepuk pundak Sehun pelan namun segera ditepis kasar oleh Sehun dan Jiyeon hanya bisa tersenyum palsu lagi di depannya dan membungkukkan badannya lalu pergi dari apartementnya

Sehun hanya menatap kepergian Jiyeon dengan datar lalu ditutupnya pintu secara kasar dan menatap sekilas surat itu.

“Ciihh… sampah!!” ucapnya lalu masuk ke kamarnya dan mandi

Jiyeon terus menundukkan kepalanya sambil berjalan menuju ke Apartementnya yang hanya belok kiri. Hiks… satu isakkan berhasil lolos dari mulutnya. Kembali ia menangis.

“Hiks… pabonya diriku. Mengapa aku begitu lemah eoh? Seharusnya aku senang bukan? hiks… Tapi mengapa aku merasa tak rela eoh? HIks… eomma… aku sudah melakukannya dengan benar bukan?”

Di lain tempat
Sehun terus menatap sepucuk surat itu dengan ragu. Entahlah sejak ia selesai mandi tak sengaja matanya menatap surat itu dan memegangnya sampai sekarang. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk membaca surat itu namun lagi-lagi egonya mengalahkan hatinya dan alhasil ia hanya melihatnya.
“Akh…” geramnya sambil mengacakkan rambutnya kesal

Di lain tempat
Jiyeon menatap lantai dengan sendu. Diliriknya jam di tangan kanannya dan mendesah pelan. Jiyeon mengedarkan padangannya kesekeliling dan tersenyum miris. Diriliknya namja dan yeoja yang tampak akrab sambil berpelukan tepat di depannya membuatnya mengingat kebersamaannya bersama sahabatnya.

“Neo pabo… mana mungkin Sehun akan datang menemuimu!! Aku saja yang terlalu berharap dengan kedatangannya!! Hahh… Mengapa waktu cepat sekali berlalu? Dimana dia? Mengapa dia tidak datang? Apa dia masih marah padaku tentang kejadian tadi eoh? Baiklah… sepertinya aku harus menerima kenyataan ini. Annyeong Sehun-ah.” gumamnya tersenyum miris sambil berjalan mengikuti segerombolan orang dengan kaki terpincang

Oh Sehun POV
Kulihat sepucuk surat itu dengan lama. Aku penasaran dengan isinya, kira-kira isinya apa ya? Dengan segera aku merobek ujung surat itu lalu kubuka surat itu dengan pelan lalu kubaca dengan teliti. Sontak kedua mataku membulat sempurna saat membacanya. Aku merasa tidak percaya dengan semua ini. Lantas aku menyambar jaket kesayanganku dan segera pergi keluar. Aku terus berlari dan berlari. Aku sudah tidak mempedulikan lagi kejadian di kampus itu. Otakku terus mengatakan ingin menemuinya dan meminta penjelasan lebih padanya. Kuharap ini hanyalah kebohongan belaka.

Kini aku telah sampai di apartementnya. Dengan nafas yang terengah-engah aku mengedor pintu itu berkali-kali tanpa mempedulikan tanganku yang akan sakit ataupun terluka. Saat ini otakku dipenuhi dengan satu nama, Park Jiyeon. Dengan geram aku memukul pintu itu dengan kasar saat pintu itu tak kujung buka juga. Lantas aku memasukkan beberapa digit angka dan

Ting.. Pintu terbuka. Dengan cepat aku masuk ke dalam. Aku merasa aneh dengan apartement ini. Rasanya sepi, gelap, hampa dan bersih. Kulihat sekelilingku dengan tatapan tak percaya. Tanpa kusadari air mataku menetes. Untuk pertama kalinya aku menangis. Yah… menangis hanya karena dia, Park Jiyeon. Aku terus memukul dinding dengan kasar dan aku baru tersadar, aku terlambat. Aku sudah terlambat untuk menemuinya. Mengapa aku begitu bodoh? Tak kupedulikan tanganku yang berdarah. Aku mengambil handphoneku yang berada di saku dan kucoba meneleponnya berkali-kali namun tidak tersambung. Dengan geram aku membanting handphoneku dengan kasar sehingga handphone itu hancur berkeping-keping. Sontak aku teringat dengan isi surat itu, bagaikan film yang memutar di otakku.

Untuk sahabatku, Sehun
Annyeong Sehun-ah… Bagaimana kabarmu eoh? Kuharap kau baik-baik saja. Hehehehe…Oh iya aku lupa mengucapkan selamat padamu. Chukae karena kau sudah punya yeojachingu. Aku bakal mengira kau tak laku karena tak ada satu yeojapun yang kau sukai. Hahaha… Jangan marah padaku ne? Aku hanya bercanda. Oh iya, Kalau boleh jujur aku senang menjadi sahabatmu. Apa kau merasa senang sama sepertiku? Kuharap iya. Sehun-ah mian ne… aku tau kalau aku salah. Seharusnya perasaan ini tidak hadir, aku tau seharusnya perasaan ini tidak ada. Tapi entah sejak kapan perasaan ini hadir di hatiku, awalnya aku tidak percaya kalau aku cinta padamu. Tapi sejak kau berdekatan dengan orang lain entah mengapa membuatku cemburu. Tapi aku tau kalau aku tidak bisa bersamamu karena kau pernah bilang bukan kalau seorang sahabat tidak bisa menjadi cinta. Awalnya aku sedih karena tidak bisa bersamamu tapi apa boleh buat. Tenang saja aku bakal menghapus perasaanku padamu jadi kau tak perlu khawatir. Sehun-ah, mian kalau aku tidak bercerita padamu. Malam ini juga aku akan berangkat ke Amerika dan aku tidak akan pernah balik ke Korea lagi karena eommaku menyuruhku untuk pulang ke kampung halaman eommaku. Aku mau untuk terakhir kalinya kau datang ke bandara, jam 9 aku sudah berangkat. Sehun-ah, kuharap kau melupakan perasaanku padamu eoh!! karena itu tidak penting bagimu bukan? Oke, kutunggu kedatanganmu eoh! Jangan telat ya hehehe.

Sahabatmu,
Park Jiyeon

Aku menangis sejadi-jadinya sambil jatuh terduduk dan meremas dadaku kuat. Aku menyesal telah memperlakukannya seperti itu. Aku juga menyesal karena tidak peka padanya, andai aku tau perasaannya pasti aku tidak akan menyakitinya. Aku terus merutuki kebodohanku karena telah menyia-yiakan sahabat terbaikku sepertinya. Tapi aku juga marah mengapa dia malah pergi meninggalkanku sendiri! Juga mengapa dia pergi tanpa menceritakannya padaku. Huh… untuk apa aku menangis bodoh seperti ini. Ini hanya membuang-buang waktuku saja yang menangis tanpa alasan. Segera kuhapus kasar sisa-sisa air mata di pipiku lalu bangkit dan pergi keluar dari apartement Jiyeon dengan dingin. Lagi-lagi egonya mengalahkan hatinya yang cemas pada Jiyeon namun karena kejadian di kampus itu seakan berputar-putar di kepalanya dan memaksanya untuk membenci sahabatnya sendiri.
Oh Sehun POV end

Cerpen Karangan: Sintia Paramita
Facebook: Sintia Paramita Gotama
Namaku Sintia Paramita Gotama, tahun kelahiranku 2000. Saat ini aku masih kelas xi jurusan Akuntansi. Aku suka menulis cerita sejak aku smp. Thanks.

Cerpen Urineun Mwoya (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Who Are You

Oleh:
Malam mulai menampakkan kebengisannya. Aku memaksakan diri untuk tetap berdiri meski kakiku sudah tak kuat lagi, napasku mulai tak beraturan dan jantungku pun mulai berdetak cepat. “Mau apa kau!!!”

My Young Sister

Oleh:
Aku berjalan menyusuri jalan dengan menenteng tasku yang cukup berat karena tugasku sangat banyak hari ini, musim semi hampir berakhir bunga-bunga sakura mulai berguguran. Saat aku sampai pada ujung

Kiss Me or I Kiss You

Oleh:
“Chanyeol, oper bolanya ke Tao! Tao oper padaku! Argh sial bolanya direbut Yoon” “Yeay, aku menang lagi. Nah, Baekhyun, Chanyeol, Tao, sudah kukatakan berapa kali, kalian tidak akan bisa

Crazy Love (Part 1)

Oleh:
“Eotteokhae?” isak tangis perempuan paruh baya itu dalam dekapan suaminya. “Jwesonghamnida. Kami sudah melakukan hal yang terbaik, tetapi kecelakaan itu membuat saraf pada otaknya tak berfungsi.” ujar seorang dokter

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *