Urineun Mwoya (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 15 November 2017

Author POV
Seminggu Kemudian…
Sehun kembali mencat warna rambutnya seperti semula, pirang. Kini Sehun banyak berubah. Dia gampang emosian, memperlakukan yeoja dengan kasar dan sering melamun. Itu semua karena yeojachingunya, Irene. Sejak kepergian Jiyeon, seisi kampus sempat heboh dan Sehun hanya cuek saja saat temannya bertanya padanya. Di saat itu pula dia merasa dunia runtuh saat tanpa sengaja dia melihat yeojachingunya yang bersama namja lain dan mereka tampak akrab. Awalnya dia merasa biasa aja dan berpikir kalau mereka tidak punya hubungan apa-apa tapi itu semua terbanding terbalik dengan pikirannya. Tepat hari ini, dia ingin bertemu yeojachingunya namun langkahnya berhenti saat tanpa sengaja dia melihat yeojachingunya yang ketahuan berciuman dengan namja lain dan itu tepat di depan nya. Sehun merasa hatinya teriris dan dengan cepat ia menarik tangan Irene dengan kasar dan membawanya ke taman dimana jarang dilalui oleh orang. Irene dan namja itu sempat terkejut dengan kedatangan Sehun yang secara tiba-tiba namun dia tidak tau kalau Sehun bakal menariknya pergi menjauh dari namja itu, sedang namja tadi langsung pergi dan seakan tidak terjadi apa-apa.

Sehun masih memegang tangan Irene dengan kasar bahkan namja itu mencengkram tangannya sehingga Irene meronta kesakitan.

“Oppa… appo… Akh… lepaskan oppa…” mohonnya sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Sehun darinya

Sehun segera melepaskan cengkramannya dengan kasar sehingga tangan Irene memerah namun Sehun hanya cuek saja tanpa melihat tangannya yang memerah. Kini ia merasa marah, kesal, kecewa, sakit hati yang terlalu dalam yang digabung menjadi satu, itulah yang dirasakannya saat ini. Sehun juga menatap Irene dengan tajam dan dingin. Ia juga tidak mempedulikan kalau dihadapannya itu yeojachingunya yang ia sayangi dan cintai. Egonya terlalu besar sehingga ia tidak bisa berpikir tenang.

“Oppa… tadi yang kau lihat itu hanya salah paham.” ucapnya santai sambil mengelus tangannya yang sakit
“Uh? Salah paham kau bilang? Tadi jelas-jelas kau berciuman padanya dan kau bilang itu salah paham? Jelaskan padaku kalau itu hanya salam paham!” Bentaknya sambil mendorong pundak Irene
Yeoja itu hampir jatuh kalau saja ia tidak seimbang, dengan sedikit takut Irene menatap Sehun dan menundukkan kepalanya.
“Mianhae oppa… tadi ada debu yang masuk ke mataku jadi aku minta tolong padanya untuk membersihkan debunya namun kau datang dan kau salah paham oppa.” ucapnya sambil memberanikan diri menatap Sehun dengan mata yang berkaca-kaca

Sehun sempat merasa bersalah telah membuat yeojachingunya takut namun kembali kejadian itu terlintas di kepalanya dengan jelas sehingga ia mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya dengan kuat.

“Jangan pernah coba membohongiku Bae Joo Hyeon. Karena aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri dan kau juga membalas ciuman namja br*ngs*k itu!!” ucapnya sambil menutup kedua matanya dengan geram lalu menatapnya tajam
“Ani oppa, kenapa kau sungguh tidak percaya padaku eoh?” tanyanya dengan tajam
“Karena kau, aku jadi kehilangan sahabatku dan karena kau juga aku telah menyakiti hatinya Joo Hyeon-ssi. Mulai hari ini kita putus dan anggap saja masa-masa indah kita itu tidak pernah terjadi.” bentaknya sambil menahan amarahnya dan menutup kedua matanya untuk mengurangi amarahnya
“Mwo oppa apa maksudmu berbicara seperti itu eoh? Mengapa kau jadi menyalahkanku eoh? Apakah kau ingin putus denganku karena Park Jiyeon itu eoh? Beraninya dia membuatku seperti ini!” desisnya geram sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat
“Yak Mengapa kau jadi membawa-bawa nama sahabatku eoh? Aku minta putus bukan karena sahabatku tapi karena kau yang berani selingkuh dariku!!” bentaknya marah dan tak terima nama sahabatnya yang dijelek-jelekkan oleh mantan yeojachingunya

Plakkk…
Satu tamparan berhasil mengenai pipi kiri Sehun sehingga Sehun dengan geram menatapnya tajam.
Plaakk… Pllaakk…
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Irene terdiam. Ia menangis dalam diam, hatinya terlalu pedih saat Sehun yang menampar pipi kiri dan kanannya dengan kuat hingga ia merasakan nyeri pada kedua pipinya.

“Jangan pernah lagi kau menampakkan batang hidungmu di hadapanku!! Kalau tidak bukan hanya tamparan yang kau dapatkan tapi lebih dari ini!!” ancam Sehun sambil pergi dari Taman, tak lupa ia menyengol pundak Irene seperti ia menyengol pundak sahabatnya dulu dan Irene jatuh terduduk sambil meratapi nasibnya
“Apa yang kulakukan? Gara-gara yeoja jal*ng itu aku jadi seperti ini! Hiks… Hiks… mianhae Sehun oppa…” gumamnya lirih sambil menatap kepergian Sehun dengan tatapan menyesal

Sehun terus berjalan melewati koridor yang sepi. Setelah dirasa hanya dirinya yang berada di sana, ia melampiaskan kekesalannya dengan cara terus memukul dinding dengan kasar hingga tangannya berdarah.

‘Hiks… Mengapa aku begitu bodoh? Mengapa setelah ia pergi aku merasa ada yang kurang di hatiku? Dan lebih parahnya mengapa aku begitu bodoh yang baru tau kalau aku menyukai sahabatku dari awal eoh? Aku lebih senang saat bersama sahabatku daripada yeojachinguku. Saat aku bersama Irene, aku merasa detak jantungku terus berdebar tapi saat aku bersama Jiyeon entah mengapa berdebarnya terasa dua kali lipat.’ Batinnya sambil badannya jatuh merosot sehingga ia menangis untuk kedua kalinya

“Yeonnie, mianhae hiks… tapi perasaan ini terus muncul saat bersamamu dan aku baru menyadarinya. Awalnya aku mengira hiks… aku menyukai Irene ternyata aku salah, aku hiks… hanya menganggapnya sebagai dongshaeng saja. Mengapa aku begitu bodoh eoh? Akkhhhhhhh…” ucapnya menyesal sambil mengacakkan rambutnya frustasi

Dua hari kemudian…
Sehun terus mengurung dirinya di dalam kamar tanpa berniat untuk datang ke kampus. Dirinya terus terbayang oleh rasa bersalah yang besar kepada sahabatnya, Jiyeon. Sehun terus menangis dan menangis sampai-sampai kedua matanya membengkak dan ada kantung mata yang membesar karena dia tidak tidur selama dua hari itu.

“Arggghhh… kenapa aku terus memikirnya eoh? Park Jiyeon kau harus bertanggung jawab kepadaku karena kau terus muncul di kepalaku!!” teriaknya frustasi sambil melempar barang-barangnya yang ada disekitarnya hingga kamarnya tampak seperti kapal pecah

Di sisi lain…
Irene, mantan yeojachingunya Sehun terus tersenyum manis pada namja di hadapannya. Yeoja itu maupun namja itu tampak membolos untuk kesekian kalinya. Kini mereka sedang duduk di café yang tak jauh dari kampus keduanya yang ditemani dengan secangkir Hot Chocolate.

“Jadi gimana chagi?” tanyanya yang memulai obrolan sambil menatap serius pada yeoja di hadapannya, Irene
“Oppa… aku berhasil telah membuat Jiyeon pergi dari sisinya dan juga aku berhasil telah menfaatkannya.” Jawabnya senang sambil memegang tangan namja itu dengan erat
Namja di hadapannya hanya tersenyum penuh kemenangan lalu membalas memegang tangan yeoja itu.
“Kerja bagus chagi. Kau yeojachinguku yang terbaik. Jadi namjachingumu kayak mana?” tanyanya sambil membelai lembut rambut yeojachingunya
“Ciihh… Kami sudah putus gara-gara yeoja itu! Gara-gara dia juga aku ditampar oleh Sehun! Tapi tak apa yang penting Sehun sudah menjauhi yeoja itu hahahaha” ucapnya geram sambil mengepalkan tangannya erat, sedetik kemudian dia tersenyum mengerikan
“Dasar namja berengs*k itu! Akan kutinju dia karena telah berani melukai yeojachinguku!” geramnya sambil memukul meja dengan keras sehingga pelanggan lainnyapun menatap arah mereka dengan kesal
“Ani Kai oppa… biarkan saja dia! Aku tidak mau berurusan dengannya lagi! Lagipula kau juga pernahpun melukaiku dulu!” cibirnya sambil menatap namja dihadapannya yang bernama Kai atau yang lebih lengkapnya Kim Jongin itu dengan tajam
Sedangkan namja itu, Kai hanya cengegesan saja tanpa berniat membalas perkataan yeojachingunya.

Di lain tempat…
Sehun telah menetapkan hatinya untuk menyusul Jiyeon ke Amerika. Ia tidak mempedulikan lagi jika Jiyeon bakal menatapnya tajam, benci, dan dingin. Ia hanya ingin cepat-cepat menemuinya dan memeluknya dengan erat. Ia menarik koper miliknya dan memberikannya pada supir taxi dan masuk ke dalam mobil. Mobilpun melaju menembus jalanan Seoul yang luas. Sepanjang jalan ia hanya duduk gelisah sambil menatap jendela mobil dan terus menatap jam di pergelangan tangannya.

Park Jiyeon POV
Aku berjalan keluar dari apartementku menuju minimarket yang tak jauh dari sini. Aku merapatkan jaket yang kugunakan saat angin malam berhembus ke tubuhku. Aku percepat melangkah saat tinggal satu langkah lagi sampai, tap. Akhirnya sampai juga, segera ku dorong troli yang tersedia di sana sambil membilah-bilah barang yang akan ku beli. Lantas kedua kakiku berhenti tepat di depanku ada rak yang berisi Chocolate, segera kuambil sebanyak lima bungkus dan menaruhnya di troli. Entah mengapa, tapi aku merasa aku harus membeli coklat sebanyak itu dan aku juga mengambil lima bungkus permen. Setelah dirasa cukup akhirnya aku kembali mendorong troli ke kasir dan membayarnya.

Aku makin mendesah saat angin malam terus berhembus dan segera kupercepat langkahku untuk kembali ke apartement namun dari jauh tanpa sengaja mataku menatap seorang namja yang berdiri tepat di depan pintuku sambil mengedornya berkali-kali. Namja itu tampak tak asing.

‘Seperti Sehun.’ gumamku sambil terus berjalan dengan langkah diperlambat
‘Tapi tak mungkin itu Sehun. Apa mungkin aku sedang rindu padanya makanya aku berpikiran seperti itu?’ gumamnya lagi sambil terus menatap postur tubuh belakang namja itu dengan intens

Author POV
Tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai ke apartementnya namun langkahnya lantas berhenti saat sosok namja itu yang secara mendadak memutar badannya sehingga tanpa sadar kedua mata mereka saling bertemu dan keduanya sempat berhenti sebentar.
Saat tersadar, Jiyeon dan Sehun sama-sama membulatkan matanya tak percaya.
‘Benarkah dia Sehun? Namja di hadapanku itu sahabatku bukan? Tapi mengapa penampilannya begitu berantakan? Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Mata yang membengkak, kantung mata yang terlihat jelas dan rambut yang berantakan. Benarkah itu dia?’ batinnya sambil meneliti Sehun dari atas ke bawah

Lantas Sehun berjalan mendekatinya dengan senyum mengembang sempurna dan memeluknya dengan erat. Jiyeon hanya terdiam sambil masih memegang barang belanjaannya dengan erat. Setelah dirasa puas Sehun melepas pelukannya sambil menatap Jiyeon dengan intens. Jiyeon yang ditatap oleh seperti itu hanya menundukkan kepalanya malu.

Sehun mengangkat kepalanya Jiyeon dengan pelan.
“Sehun-ah, mengapa kau bisa kemari?” Tanya Jiyeon sambil menatap manik mata Sehun dengan lembut
“A-aku merindukanmu Yeonnie. Mianhae… Aku telah membuatmu terluka. Apa kau baik-baik saja?” Ucapnya cemas sambil membelai lembut pipi Jiyeon yang terkena tampar
“Mmm… Sehun-ah kejadian itu sudah berlalu dan aku baik-baik saja. Tapi aku tidak salah dengar bukan kalau kau merindukanku?” sindirnya sambil melipat kedua tangannya di dada sedangkan barang belanjaannya ditaruhnya di lantai dekat pintu
“Hahh… aku benar-benar merindukanmu Yeonnie.” Ucapnya lirih sambil menghela nafas dan menundukkan kepalanya dalam dan berlutut di depan Jiyeon lalu menatap mata Jiyeon dengan dalam
“Sehun-ah, apa yang kau lakukan eoh? Berdirilah.” Tanyanya panik sambil berusaha mengangkat lengan kokoh Sehun namun namja itu seakan menulikan telinganya
“Yeonnie, aku tau ini sudah terlambat tapi aku menyukaimu. Maukah kau menjadi pacarku?” tanyanya sambil mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya dan menatap Jiyeon dengan tatapan menyesal dan ragu
Sontak tubuh Jiyeon menegang kaku, ia menatap Sehun tak percaya sambil mundur satu langkah.

‘Mwo? Bagaimana bisa ia menyukaiku? Apa yang harus kulakukan? Eomma… Bantu aku…’ batinnya sambil menatap Sehun lekat lalu menundukkan kepalanya dalam, Sehun juga menundukkan kepalanya dalam

“Mianhae Sehun-ah, tapi… Tapi… aku bukanlah orang yang pantas untukmu. Kau bisa mencari lagi yeoja yang lebih baik dariku.” Ucapnya lirih
Sontak Sehun mendongakkan kepalanya dan menatap Jiyeon dengan tatapan miris.
“Wae? Mengapa harus orang lain? Kau… Kaulah yeoja yang tepat untukku. Jebal Yeonnie… jangan seperti ini padaku. Bukankah kau juga menyukaiku lantas mengapa… Mengapa kau tolak eoh?” tanyanya sambil berkaca-kaca
Jiyeon menatap Sehun, ia tersenyum miris melihat Sehun yang memohon padanya. Ia tampak menyedihkan pikir Jiyeon. Lantas Jiyeon menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis lalu maju satu langkah dan menepuk bahu Sehun berkali-kali

‘Apa begitu susah eoh kau melepaskanku? Mengapa kau tampak semenyedihkan seperti ini eoh? Kemana perginya Sehun yang kukenal eoh? Sehun yang kukenal bukanlah seperti ini, Sehun yang kukenal itu selalu ceria, usil, kekanakan. Tapi mengapa kau sekarang datang padaku dengan mukamu yang menyedihkan? Apakah kau terlalu menyukaiku sehingga kau rela memohon padaku dan berlutut eoh?’ batinnya merasa bersalah

“Ani Sehun-ah… Aku bukanlah yeoja yang tepat untukmu. Aku memang menyukaimu tapi itu dulu Sehun-ah sekarang sudah berbeda. Aku tidak lagi menyukaimu. Mianhae Sehun-ah. Sekarang aku hanya menganggapmu sebagai teman bukan lagi orang yang kusukai.” Ucapnya tersenyum manis
“Tapi tak bisakah kau menerimaku eoh? Aku bahkan rela jauh-jauh dari Seoul datang kemari hanya bertemu denganmu. Kau berubah Yeonnie…” ucapnya lirih sambil jatuh terduduk
“Ani Sehun-ah cinta itu tidak bisa dipaksakan, kau bakal bahagia dengan yeoja yang lain. Aku tidak berubah Sehun-ah tapi dirimu yang berubah.” Jiyeon mengambil barang belanjaannya dan mengambil lima bungkus coklat dan permen lalu ditaruhnya di tangan Sehun yang terbuka
“Makanlah coklat itu, kau pasti bakal tenang.” Ucapnya pelan sambil membuka bungkus coklat itu dan disodorinya ke Sehun

Lantas Sehun mengambil coklat itu dan memakannya dengan pelan, tanpa disadarinya lelehan air mata membasahi pipinya. Jiyeon menghapus air mata itu dengan lembut.

“Uljima…”
“Tapi apakah kita tidak bisa bersama?” Tanya Sehun sambil berharap, Jiyeon hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis dan duduk di sebelah Sehun
“Apa kau masih ingat prinsipmu dulu?” Tanya Jiyeon sambil ikut memakan coklat
‘Kalau sahabat ya tetap sahabat dan kalau cinta ya cinta… jadi prinsipku itu sahabat tidak bisa menjadi cinta.’

Sehun hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil terus mengingat perkataannya yang dulu, bagaikan film yang memutar di kepalanya. Sehun kembali menundukkan kepalanya dalam sambil merutuki kebodohannya sendiri

‘Bodoh!! Mengapa aku mengatakan itu dulu? Aku sungguh bodoh…’ batinnya

“Yeonnie… Bisakah kita menjadi sahabat lagi?” tanyanya memohon sambil menghapus lelehan air matanya
“Tentu, bukankah kita masih bersahabatan? Kau saja yang memutuskan tali persahabatan kita” ucapnya kesal sambil menekuk wajahnya
“Mianhae Yeonnie.” Ucapnya lirih
Jiyeon menatap Sehun dengan senyuman manis namun terbanding terbalik dengan hatinya yang sedih.

‘Mianhae Sehun-ah bukannya aku tak mau jadi pacarmu hanya saja aku merasa jika aku menjadi pacarmu maka aku takut kau makin terluka. Biarlah aku menyimpan perasaan ini dengan baik agar kita tak lagi saling menyakiti satu sama lain, cukup kita bersahabat saja. Juga biarlah aku menanggung rasa sakit ini sendirian. Aku juga tidak mau lagi merasa sakit untuk kedua kalinya cukup waktu itu saja Sehun-ah. Aku bahagia kalau kita cuma sahabat dan aku lebih bahagia berada di Amerika. Mianhae… jeongmal mianhae Sehun-ah.’ Batinnya tersenyum miris

Keduanya saling terdiam sambil menikmati indahnya langit malam. Mereka sama-sama sibuk dengan pikiran mereka.

Setelah kejadian itu, masing-masing dari mereka pada berubah. Jiyeon, yeoja itu tampak menikmati hari-harinya di kampus. Setiap hari ia selalu merasa nyaman dengan runtinitasnya. Walaupun dia tidak memiliki teman ataupun sahabat, dia tetap menjalaninya dengan bahagia. Dia merasa dia sudah menemukan kebahagiaannya di Amerika, kampung halaman eommanya walaupun dia tidak tinggal bersama orangtuanya. Ia hanya ingin hidup mandiri selama dia di Amerika.

Berbeda dengan Sehun, kini namja itu sering kosong tatapannya namun ia selalu datang ke kampusnya dan menemukan seorang teman yang bisa diajaknya ngobrol, Lee Jieun. Hanya yeoja itu yang mau berteman dengan seorang Oh Sehun. Sehun melakukan runtinitasnya dengan datar, seperti bangun pagi, mandi, makan, berangkat, pulang, dan tidur. Setiap hari dia melakukannya dengan hambar. Tidak ada lagi Sehun yang ceria. Tidak ada lagi Sehun yang usil. Sehun juga sering menangis secara diam-diam di apartementnya berharap suatu keajaiban datang padanya namun ia tahu kalau itu mustahil.

‘Sehun-ah kuharap hidupmu baik-baik saja.’
‘Yeonnie… Aku berjanji akan mencari yeoja yang lain tapi tidak sekarang. Mianhae… karena aku kau jadi terluka dan karena aku juga kau menyimpan perasaanmu seorang diri. Mianhae…’
‘Andai waktu bisa diulang, aku tak ingin ada perasaan yang muncul dihatiku kalau saja akhir-akhirnya sangat menyiksaku.’
‘Andai waktu bisa diulang, aku tak ingin memiliki sahabat seorang yeoja yang ujung-ujungnya menjadi cinta. Cinta itu membuatmu saling melukai perasaan orang. Aku hanya ingin memiliki sahabat sesama jenis agar tidak saling menyakiti perasaan satu sama lain.’
‘Andai aku terlahir kembali, aku ingin Park Jiyeon menjadi yeojachinguku sekaligus istriku kelak.’
‘Andai aku terlahir kembali, aku ingin mempunyai anak seperti Oh Sehun karena namja itu begitu menyedihkan sehingga aku tak sanggup melihatnya.’

The End

Cerpen Karangan: Sintia Paramita
Facebook: Sintia Paramita Gotama
Namaku Sintia Paramita Gotama, tahun kelahiranku 2000. Saat ini aku masih kelas xi jurusan Akuntansi. Aku suka menulis cerita sejak aku smp. Thanks.

Cerpen Urineun Mwoya (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepeda dan Cinta

Oleh:
“Aa..akh!” Bukh! Namja tampan bernama kim nam soo itu menjerit ketika tubuh dan sepeda kesayangannya terperosok ke dalam selokan air. Ia meringis kesakitan begitu tubuhnya terjatuh. Tulang keringnya membentur

Lollipop (Part 3)

Oleh:
“Jin Rae kau bisa membantuku” suara bu Young Mi di ujung telepon memaksaku untuk berhenti menangis. Sudah tiga kali bu Young Mi menelfonku dan aku mengabaikannya. Tapi tidak dengan

Gone

Oleh:
Mobil hitam mengkilap terparkir di halaman. Tak berapa lama munculah sesosok gadis cantik beserta pengawalnya. Namanya you jung. Saat masuk ke halaman ia disambut beberapa pengawal dengan menunduk tanda

Geography Couple (Miss You)

Oleh:
Hai semuanya. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji kepada Tuhan, eh sepertinya gak usah lah ya. Perkenalkan nama ku Nara, Kwon Nara. Kalian boleh memanggilku Nara Cantik, Nara imut, pokoknya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *