Dalam Dirinya Ku Temukan Panggilanku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 21 May 2016

Pena ini tak bergerak sendiri. Ada akal sehat yang menuntunnya. Ada berbagai memori yang ingin ku tuangkan. Ada rasa yang menggebu-gebu ingin ditoreh di atas lembaran putih polos yang rela dinodai. Ku rangkai segala kisah ini, walau sebenarnya logikaku tak cukup mengerti tentang kisah-kasih yang sulit terdefinisikan. Kadang-kadang kita harus meninggalkan cinta. Bukan karena cinta itu tak mencintai kita lagi, tapi mungkin cinta itu akan bahagia bila kita melepaskannya. Karena cinta tak harus memiliki.

Ah.. Bohong! Tak ada cinta yang bahagia bila tak memiliki. Tak ada dewa-dewi yang berseri-seri tanpa memiliki cinta. Begitu pun dengan peri-peri mungil yang menari-nari. Karena derita yang paling menyakitkan adalah mencintai tapi tak bisa memilikinya Segenap rasa dan tuturku bodoh, berargumen bahwa cinta tak harus memiliki. Lama egoku memuncak, tapi aku tak pernah rapuh untuk mencapai angan-anganku merangkai kata-kata berisikan cinta dan kasih bersampulkan kesetiaan yang dibutuhkan pengorbanan..

“Dalam Dirinya Ku Temukan Panggilanku,”

Berawal dari perkenalan itu. Sungguh ku tak menyangka akan terjadi seperti ini. Mungkin landasan teori pun tak mampu untuk mendefenisikannya. Begitu pula dengan kehangatan akan cinta yang selalu mendekapku. Bahkan terlalu indah bila ku putar ulang memoriku yang pernah membungkus cerita sedih akan cinta. Namun, fakta seakan tak mau mengalah dariku. Memori indah itu pun perlahan-lahan mulai menghilang. Memang pahit rasanya. Namun, terasa ringan saat ku mulai memahami, bahwa inilah jalan panggilanku yang sesungguhnya.

Hawa yang panas di siang itu membuatku mempercepat derap langkah kakiku menuju aula. Apalagi ketika itu, ada pengumuman mendadak dari Si Headmaster Romo Samuel. Jadi, bukan hanya aku saja yang terlihat terburu-buru, tapi seisi seminari juga demikian. Memang harus ku akui, bahwa ini pengumuman yang begitu luar biasa. Pastinya bukan sekedar pengumuman tentang seseorang yang malas belajar, terlambat ke gereja, kedapatan mengambil makanan di meja dapur, kedapatan merok*k, ataupun pelanggaran lainnya. Akhirnya beliau pun membuka pembicaraan dengan sapaan manis.

“Selamat siang semuanya,” ucapnya diselingi dengan senyuman.
“Siang juga Romo,” jawab kami serempak.
“Ada beberapa hal penting yang akan saya sampaikan. Jadi, semuanya diharapkan untuk tenang,”

Ruang aula pun menjadi sunyi, tak ada satu orang pun yang berani bersuara. Sang Headmaster pun melanjutkan pembicaraannya. “Mungkin kalian sudah jenuh dengan segala sesuatu yang tak lazim lagi. Jadi, singkat saja kita akan mendapat kunjungan dari SMAN 1 Langke Rembong. Dimana kalian akan menjumpai banyak kepribadian, yang tentunya berbeda dan menarik. Diharapkan agar kita dapat menerima mereka selaku saudara, sahabat, dan tamu yang baik. Berperilakulah yang baik, sopan, dan berwibawa. Sekian!” Pernyataan yang singkat. Namun, tertutur tegas diwakili dengan akhiran yang pas. Semuanya diam. Namun, aura semangat pun terpancar sempurna dari raut wajah para seminaris yang tengah membayangkan first moment bersama gadis-gadis SMANSA sebagai para Juliet masa kini.

08 Juni 2013
Seminari bergelora menyambut tamu istimewa asal Ruteng itu. Hawa panas pun berubah drastis, menjadi sejuk. Seolah-olah turut menyambut musim semi yang gagal. Detik demi detik penantian pun terbalas dengan sangat indah. Waktu menunjukkan tepat pukul 10.00 a.m. Rombongan yang kami nantikan pun muncul. Samar-samar bayangan bus imut SMANSA Langke Rembong pun membangkitkan semangatku. Para seminaris pun beranjak menyambut anak-anak SMANSA. Fantastic.. Para Juliet SMANSA begitu anggun, cantik, dan mempesona. Tiga kata yang cukup menggambarkan isi hatiku di awal perjumpaan. Ditambah setelan baju kaus putih berpadu dengan warna merah hati yang bertuliskan “SMAN 1 LangkeRembong,” sungguh pancaran nyata yang terbilang sempurna.

Waktu menunjukkan tepat pukul 16.00 p.m. Aku pun memberanikan diri untuk berkenalan dengan para Juliet tersebut. Ku pikir nyaliku cukup kuat sebab diimbangi dengan tampangku yang terbilang “lumayanlah,” Namun, semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Aku terpaku, seakan menyaksikan sesuatu yang dahsyat menggetarkan jiwa yang sedang terjadi. Gaya yang amat simple, enak ditatap dengan kepribadian yang.. huh so perfect. Walaupun ku tahu tak ada manusia yang sempurna. Sesosok gadis yang tingginya pas-paslah, berkulit hitam manis, dengan rambut panjang yang terurai lurus sepinggang, cantik dan manis sekali. Ku mulai merasakan sesuatu yang berbeda dengan hatiku, saatku melihatnya. Apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama? Waktu yang terbilang begitu cepat. Namun, seakan tak ingin hilang dan tertutup apa pun.

10 Juni 2013
Aku memberanikan diri untuk menemui gadis black sweet itu. Aku tak ingin dikenal pecundang untuk kedua kalinya. Tepat sekali, pertemuan yang tak terduga sebelumnya. Aku diam terpaku dengan wajah memerah di samping gadis black sweet yang tengah duduk sambil menggambar di bawah naungan pohon besar dekat Gua Maria.

“Hai,” terdengar suara yang membuyarkan lamunanku.
“Gila! Dia menyapaku? Suaranya begitu merdu. Aku terhipnotis oleh kemolekannya. Jantungku berdegup tak menentu, dan jiwaku seakan melambung tinggi sampai ke lapisan ozon,” batinku. “Maaf ada yang bisa ku bantu?” ucapnya. Untuk kedua kali, pancingan awalnya tak ku gapai. “Maaf ada yang bisa ku bantu kak? Oh iya hampir lupa, aku Grace,” ujarnya lagi sembari menyodorkan tangan diselingi seutas senyuman manis.

Pikiranku menerawang jauh saat ku dengar namanya. Baru ku ingat Dia adalah mantan KETOS SMPN 1 LangkeRembong, yang kabarnya tak pernah mau pacaran dan setiap lelaki yang datang padanya pasti kembali dengan tangan hampa karena katanya dia sudah memiliki pacar abadi, yaitu “Yesus,” Dia juga dikenal sebagai pribadi yang ceria, ramah, kreatif, pintar, humoris, dan sopan. Tapi, ternyata dia orangnya pemalu dia sungguh berbeda dengan setiap wanita yang ku kenal. Ini pembuktian besar bahwa aku menginginkannya.

“Halo.. mengapa melamun?” lagi-lagi suaranya membuyarkan lamunanku tentangnya.
“Oh iya maaf Grace, aku Geri.. iya Geri,” jawabku canggung sembari menjabat tangannya.
“Tak apa-apa, salam kenal Geri. Senang bisa berkenalan denganmu,” ujarnya diselingi senyuman manis, sembari meninggalkanku.
“Ya Tuhan, sungguh bahagia yang ku rasakan dan ini menjadi awal sebagai next story,”
Setelah peristiwa tersebut. Aku pun tak canggung-canggung lagi untuk menyapa bahkan bercanda bersamanya. Untunglah kedatangan mereka mengisi hari-hari kami di awal liburan kenaikan kelas. Jadi, pikiran utamaku basicnya hanya mencari cara untuk mengejar cinta pertamaku yaitu “Grace,”.

14 Juni 2013
Tak terasa tinggal sehari lagi kebersamaan kami. Terbayang setelah hampir seminggu telah bersama dan berkenalan jauh, begitu pun dengan perasaanku yang kian tak menentu. Ku aku ini memang tak mudah. Namun, bukankah ini adalah saat yang tepat untuk mencari dan menemukan jati diri akan cinta? Tekadku pun bulat, ku siap menelan semua pahit resikonya. Ku ambil gitar, lalu mencari Grace. Ku berharap dapat dengan cepat mengatakan apa yang menggerogoti hati dan jiwa ini. Dari kejauhan ku lihat gadis manis itu sedang duduk di bawah pohon sembari menggambar ditemani tiupan angin yang menetralkan suasana.

“Grace. Apakah Aku mengganggu waktumu?” tanyaku.
“Tentu tidak Ger,” ucapnya sambil menarik tanganku.
“Grace.. Aku ingin menyanyikan sebuah lagu yang berjudul ‘MASIH’ untukmu, sebelum kau pulang esok,” ucapku.
“Bernyanyilah kakak Romo hamba siap mendengarkan, hehehe,” jawabnya sembari tertawa.
Ku mulai memetik senar gitar kesayanganku dengan petikan klasik.

#Ipang
“Masih Ku tak berdaya, melupakanmu di hatiku berkata apakah sebenarnya cinta di hati ini hanya mainan semata”
Ku mulai mencuri pandangan padanya. Wajahnya memerah dan masih saja menunduk.
“Namun kau tak mengerti, apa sebenarnya yang telah terjadi di diri ini. Kau yang masih di hati, tidak berdaya untuk membendung diri darimu..”
Dalam hati ku bertanya. Apa yang ia rasakan? Tuhan.. aku begitu mencintainya, namun aku juga cinta kau Tuhan. Namun, kenapa Dia hanya diam dan menunduk saat ku mulai mengungkapkannya dengan caraku?
“Setelah engkau pergi tiada apa yang ada di diri ini, ku harap kau kan berubah hati, semoga kau kan kembali di diri ini?”

Lagu pun berakhir dengan petikan santai. Aku telah memberinya cinta dengan caraku walau bertepuk sebelah tangan.
“Wah.. keren sekali Ger, aku tak akan lupakan hari ini, 2 jempol untukmu,” pujinya.
“Grace.. Sebenarnya ada hal penting yang ingin ku tanyakan padamu,”
“Penting?” tanyanya.
“Iya Grace,” jawabku.
“Hehehe.. ok yo’i do’i Ger, aku siap menjawab pertanyaanmu,” ucapnya diselingi tawa manjanya.

“Oh iya, bagaimana perasaanmu selama berada di sini?” tanyaku sambil mencari kata-kata.
“Aku merasa sangat senang Ger, karena dapat berjumpa dan berkenalan dengan pribadi calon penggembala umat, serta selalu merasa tenang dan damai saat berada di Gua Maria plus di bawah pohon ini Ger, hehehe,” jawabnya sambil tertawa. “Grace.. Grace, Ku kira kau jenuh dan tak nyaman di sini,” ucapku.
“Jenuh? Tidak mungkin Ger, Aku nyaman dan bahagia berada di sini,” jawabnya.
“Hmm.. Boleh ku tanya sesuatu padamu Grace? Tapi, ku mohon kali ini saja kau tak menunduk,” ucapku sambil menatapnya yang punya kebiasaan suka menunduk itu.
Dia pun mengangkat wajahnya, kemudian menatapku sambil berkata, “Iya Ger,”

Dengan rupa wajah tak pasti, aku pun memulainya. Memulai mengungkapkan rasa yang telah lama terpendam. “Grace.. Ku akui pertemuan kita terhitung sangatlah singkat. Namun, ku telah tahu banyak tentangmu dari sahabat-sahabatku bahkan sepupumu. Jujur.. Awalku memperhatikan dan berkenalan denganmu. Ku merasakan kebekuan panjang yang sulit untuk dicairkan. Namun, sebuah keadaan mampu menenangkan dan merapikan semua perasaanku. Kau terlalu hebat, karena sudah menyita segala perhatianku, dan meluluhkan titik-titik cinta dengan segenap keanggunanmu. Grace. Aku tak sedang bersandiwara, rasa ini tulus untukmu dan aku ingin kau tahu, bahwa aku. Aku.. Aku menyukaimu Grace. Aku menyukai semua yang ada padamu. Adakah ruang kosong di hatimu, untuk Kuisi Grace?” Tanyaku.

Namun, wajah cerianya berubah menjadi merah. Tak ada sepatah kata pun yang terucap. Hanya hening dan sepi yang menyelimuti suasana penghapus deretan sukma. Tiba-tiba, kata-kata yang halus namun menyakitkan terucap dari bibirnya. “Aku harus pergi Ger, maaf,” Grace pergi meninggalkanku sendiri, di saat yang tidak tepat. “Apakah waktu yang salah?” batinku seolah berhenti merangkai kata karena kehampaan mulai bertahta. Terngiang jauh dan tak terobati. Tapi, tekadku harus terbalas. Bagiku tak ada kesia-siaan apalagi menyukai Grace, aku hanya ingin kepastian yang terucap dari bibirnya. Bila memang tak bisa, aku akan kembali dan mundur,” tukasku dalam hati.

15 Juni 2013
Sang mentari pagi, mulai menyunggingkan senyumnya yang manis dari balik bebukitan. Sedangkan aku? Aku hanya sanggup merenung. Mencoba mencari dan menemukan apa yang semestinya tidak berakhir. Hari ini adalah saat terburuk bagiku, ditambah dengan kembalinya sang pujaan hati. Ternyata, sudah sepekan berlalu. Sungguh ku tak sanggup, sepertinya aku gugur untuk mendapatkannya. Semua keinginan dan harapanku akan dia memang konyol yang membuatku merasa sendiri, dan nampak bodoh. Tanpa ku sadari Ani -Sahabat Grace- sudah berdiri di hadapanku sedari tadi.

“Hai Geri.. Rupanya kau di sini. Wajahmu nampak sedih, ada masalah?” tanya Ani.
“Huft.. tak ada aku baik-baik saja,” jawabku.
“Ok.. oh iya, ini ada titipan surat untukmu. Jangan dibuka sebelum kau menyadari apa yang sebenarnya tak kau sadari. Dan aku juga ingin pamit Ger. Makasih sudah mau menjadi sahabat serta patner yang baik. Ku harap kau jangan pernah melupakan apa yang sudah terjadi selama sepekan ini,” ucapnya. Dan Ani pun berlalu dengan begitu cepat.

Akhiran kata-kata yang ia ucapkan menambah luka di hati dan mereka akan segera pulang. Huft.. Sampai-sampai ku tak sanggup berbicara apa pun, apalagi membalas perkataan Ani. Bahkan surat yang Ani berikan pun, tak sempat ku minta kejelasannya. Ku berharap ada ucapan terakhir darinya, ku ingin menemuinya kembali. Dan untuk terakhir kalinya, ku hanya ingin melihat senyum manisnya tanpa harus mengungkit rasa itu.

Pukul 10.30 a.m
Jarum jam menunjuk angka 10 dengan anak menitnya telah menunjuk ke arah angka 6. Jenuh.. Ku telah lama mencari jauh, namun tak kunjung dapat. Di tempat favoritnya diseminari yaitu Gua Maria dan pohon besar dekat aula pun dia tetap tak ada. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa Grace menghilang? Ataukah ia telah mendahului yang lain? Kau membuatku cemas Grace, harus ku cari ke mana lagi dirimu? Apakah kau tak mendengar jeritan hati ini yang memanggil namamu? Tiba-tiba..

“Geri.. Geri.. Geri,” Sesosok pria telah mengganggu kecemasanku. Ia terus berlari lalu menghampiriku dengan tatapan serius. “Geri, maafkan aku, maafkan kebodohanku yang tak memberiku kesempatan,” katanya sembari menghapus keringat di keningnya.
“Apa maksudmu Kevin?” tanyaku.
“5 menit yang lalu, bus SMANSA Langke Rembong telah berangkat,” jawabnya.
“Lalu?” tanyaku semakin tak mengerti.
“Selama ini, kau telah banyak membantu. Membantu mengisi hari-hari sepupuku. Ini terlalu membingungkan, aku bingung cara untuk menjelaskan semuanya,” ujarnya dengan napas terengah-engah.

“Apa yang kau bicarakan? Jangan membuat semuanya menjadi rumit,” cetusku marah.
“Kau tak tahu bahwa sepupuku juga menyukaimu. Kau akan tahu setelah semuanya terkecap manis. Terima kasih sebab kau telah memotivasinya untuk mencoba bertahan,” jawabnya. Dan Kevin pun pergi menjauh. “Ia sangat keterlaluan, ini membuatku menjadi sangat bingung dan marah. Apa ini? Apa maksudnya ‘Sepupu’ atau itukah Grace?” batinku tak berhenti bertanya-tanya.

Setelah kejadian tersebut aku menjadi tak nyaman, dingin, canggung, dan hampa yang ku rasakan. Kebiasaan menyendiri dan kutu bukuku semakin menjadi-jadi. Di layar bayang selalu terlintas wajah lugu, ceria, dan humoris sang pujaan hati ‘Grace’. Tapi, tidak hari itu..

23 Juni 2013
Saat ku dengar kabar duka yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Tepat di hari bahagiaku ‘Sweet Seventeen’. Ku mendengar bahwa Grace meninggal dunia akibat penyakit leukemia yang dideritanya kurang lebih 5 tahun terakhir.

Frustasi..
Hari bahagiaku mendapat kelipatan duka yang tak berujung. Semua harapan dan rencanaku telah buyar dan pudar. Kesadaran akan pedih pada waktu yang salah. Ketika itu aku sangat terpukul dan tak sadar meneteskan berlian murni dari sudut mata ini, setelah mendapat kabar dari Romo Samuel. Tak tahan aku di sana, aku pun berlari meninggalkan ruangan Romo Samuel. Cepat-cepat ku masuk kamar dan membuka koper pakaianku. Di sana ku teringat akan sepucuk surat mungil beramplopkan kertas biru bergambar bungan mawar pemberian Ani, nampaknya ia telah lama menungguku untuk membaca informasi yang ia ketahui. Perlahan-lahan ku membuka surat itu, lalu sekejap saja melupakan kenyataan yang ada.

“Untukmu, Gheri. Daun manggis nempel di kaca, salam manis buat yang baca.. hehehe. Mungkin ketika kau membaca surat ini, aku sudah tak ada lagi di dunia ini? Ku tahu kau marah dan kecewa Ger. Namun, harus ku akui ini terlalu berat untuk dilalui. Awal pertemuan kita memang sangat singkat adanya. Kedekatan dan hangatnya sentuhanmu membuatku ikut bertahan dan mulai berpikir keras. Jujur, tindakan yang ku lakukan ketika itu, tentu kau tahu maksud dan tujuanku yang sebenarnya. Mengapa aku yang salah? Ini karena aku tak bisa jujur pada kondisi yang ada. Aku hanya ingin kau tak menyesal. Jika suatu saat kau tahu, bahwa cintamu padaku hanya butiran kasih yang sementara. Aku terlalu egois. Seharusnya lembaran harapan hidupku bisa ku lalui dengan kehadiranmu. Sekalipun aku tak pernah menyalahkan keadaanku, apalagi pribadi yang telah mencintaiku.”

“Ger. Aku hanya ingin kau tersenyum bahagia bersama panggilan dan tanggung jawabmu, bersama mereka yang kau layani nanti. Cintailah panggilanmu Ger, selayaknya kau mencintaiku. Percayalah, saat itu kau akan merasakan bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu. Walau aku tak sanggup menyapa hidupmu, namun hatiku tetap milikmu
satu yang perlu kau tahu, bahwa cinta sejati akan, dan selalu abadi. Jika aku telah pergi, ingatlah Ger aku tak akan pernah berubah, paras, tutur kata, sifat, dan senyuman yang akan selalu ku persembahkan untukmu. Akhir kata di surat ini, ku ingin kau tahu dan mengerti bahwa akan selamanya cintaku abdi untukmu. Salam penantianku untukmu di indahnya taman surgawi. Jawablah panggilan Tuhan. ‘Nec beneficii immemur injuziae because experlengia est optima verum masyibra,’ Aku yang juga mencintaimu, GRACE.”

Karamnya cinta ini, tenggelamkanku dalam duka yang mendalam. Hampa hati terasa, saat kau tinggalkanku meski aku tak rela. Tak ada kata yang mampu untuk merangkai gambaran hatiku. Mataku berbicara selayaknya luapan emosi yang tak terlampaui. Hening meliputi diriku, ku rasakan Roh Tuhan telah bersamaku. Menggenggam kedua tanganku dengan erat dan menguatkanku. Di saat yang sama, aku kembali menangis.

“Apa yang telah ku perbuat Tuhan?” Bergegas ku berdiri lalu berlari menuju ruang kapela. Aku bersujud dan menyadari dosa yang telah ku lakukan. “Ya Tuhan Allah Bapa di dalam surga, ku bersyukur atas anugerah yang telah Engkau anugerahkan kepadaku Tuhan, aku telah bersalah kepada-Mu. Aku jatuh dan lamban untuk maju.. Tuhan, Engkau sungguh baik karena sudah menganugerahkan dia untukku. Ku akui rasaku ini tak dapat berbohong.. Aku malah mendengar dan mengetahui yang sebenarnya.. Apalagi Engkau telah mengambilnya kembali. Tuhan.. Aku akan berusaha untuk janji yang ia ucapkan. Kehadiran-Mu di dalam dirinya membuatku sadar akan apa yang menjadi tugasku. Terima kasih Tuhan, Engkau sungguh baik,”

Perlahan ku membuka mata, dan ku tahu bahwa aku telah menjadi bagian karya keselamatan Tuhan. Engkau benar Tuhan, dia terlalu indah untuk ku miliki. Dalam dirinya ku temukan panggilan hidupku, dan selamanya kan tetap menjadi bagian dari hidupku. Sekarang ku mengerti maksud-Mu Tuhan. “Engkau sungguh mencintaiku, dan ku yakin inilah jalan hidupku yang tepat. Ku sadar, bahwa ku tak bisa memilikinya di dunia ini melainkan besarnya cinta di surga telah membuatku tetap dicintai olehnya demi kelangsungan karya misi di dunia,”

Thanks Grace. Saat ku ingat dirimu, dan itu selalu, kan ku alunkan lagu kesukaanmu yang berjudul ‘MASIH’. Serta akan ku gapai mimpimu yang mulia. Mimpi untuk ku melayani Tuhan yang ada pada setiap pribadi yang akan ku layani nanti. Niatku menjadi imam semakin kuat, dan ku tak akan rela hati ini dimiliki yang lain kecuali ‘Grace’ dan Engkau ‘Tuhan’.

Lupakan kepedihan, jangan lupakan kebaikan. Karena pengalaman adalah guru terbaik.

SELESAI

Cerpen Karangan: Melania Marsela Kongen
Facebook: Sheila.Kongen.71[-at-]facebook.com

Cerpen Dalam Dirinya Ku Temukan Panggilanku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ekaristi Utuh

Oleh:
Sudah dua tahun aku tidak pernah mengikuti perayaan Ekaristi setelah kepergian ibuku. Sudah lama sekali aku merindukannya. Hari ini, minggu kedua dalam kalender Liturgi. Aku bergegas. Aku ingin sekali

Suara Aneh Membawa Keselamatan

Oleh:
“Ssssshhhh… Daniiii… tap… tap… sssshhh… Daniiii…” “Siapa itu?” tanyaku heran. Aku ingin mencari asal dari suara itu, tapi aku takut… takut… dan takut. Aku takut karena aku sendiri di

Jeratan Kutuk

Oleh:
Suara tangisan yang tak berhenti membuat aku semakin merinding. Tepat hari ini, ibu dari ibuku, yah biasa dipanggil nenek, meninggal dunia. Nenek meninggal di usia 97 tahun. Semasa hidupnya,

Hidup Adalah Pilihan (Part 1)

Oleh:
Ada saatnya kamu harus menangis, ada saatnya kamu tertawa, ada saatnya kamu harus marah, ada saatnya kamu harus sabar dan masih banyak hal lagi yang harus terjadi sesuai dengan

Puisi Untuk Biru

Oleh:
Libur kuliah panjang seolah membuatku berhibernasi. Ya, pekerjaanku sehari-hari hanya merupakan rutinitas yaitu bangun, memasak nasi dan menggoreng lauk, setelah matang kumakan sendiri dan sisanya bermalas-malasan. Sesekali kubenahi kamar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *