Dia Penolong

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 24 January 2018

Dia penolong, tahu apa yang sedang kita alami dan dia mengasihi kita semua

Setamatnya dari SMA Charly meninggalkan desa tempat kelahirannya dan mencoba mengadu nasib di kota. Sebagai perantau dengan ijazah SMA sulit untuk mendapatkan pekerjaan apalagi jika tidak dibekali dengan keterampilan lengkap dengan sertifikatnya. Berkali-kali dia ditolak oleh perusahaan bahkan tidak jarang dipandang sebelah mata karena ijazahnya. Padahal itu baru mau memasukkan berkasnya belum untuk tes.

Tak terasa uang Charly sehari-hari semakin menipis. Dia berpikir jika tidak secepatnya bekerja uang kost bulanannya mau dapat dari mana. Benar, saat jatuh tempo bayar uang kost dia kebingungan mau bayar pakai apa. Uang di tangan masih ada tapi dia berpikir buat keperluan lainnya termasuk fotocopy berkas dan biaya angkotnya buat antar lamaran.

Dia berjalan sambil berpikir ke manakah pertolongan TUHAN. Bukannya DIA selalu menolong tepat pada waktunya. Bukankah ini waktunya sudah tepat? Jalannya benar-benar sudah buntu. Dalam keadaan terjepit seperti itu kadang ada yang berbisik menggoda kita untuk menjatuhkan iman percaya kita “Itu lihat apa kamu ditolongNya? Apa Dia tahu penderitaanMu? Apa Dia mengasihiMu? Tidak bukan. Sudah tinggalkan saja semua. Hiduplah sesuka hatimu saja. Jangan mau dibodohi”. Tapi tidak. Charly tetap yakin bahwa Dia pasti akan tolong, Dia tahu apa yang sedang dialaminya sekarang dan Dia selalu mengasihi anakNya. Dalam hati Charly memang musthail di kota besar seperti ini akan ada yang mau menolongnya. Tapi kembali lagi Charly berpikir bagi TUHAN tidak ada yang mustahil. TUHAN selalu menolong dengan caranya yang ajaib dan diluar pikiran kita.

Di jalan Charly tiba-tiba bertemu dengan temannya. Rupanya temannya itu (sebut saja namanya Leo) kuliah di tempat dimana Charly sedang berjuang mencari pekerjaan. Charly menceritakan tujuannya datang ke kota dan juga menceritakan kalau hari ini kostnya sudah jatuh tempo untuk dibayar. Sudah lama dia mencari pekerjaan tapi perusahaan selalu saja menolaknya bahkan tidak jarang mendapat bentakan dari security. Tergeraklah hati Leo dengan belas kasihan. Leo juga seorang anak miskin dari desanya. Dia dapat kuliah karena bantuan dari pemilik ladang yang ladangnya sedang dijaga oleh orangtua Leo. Setelah mendengar cerita teman Charly tergeraklah hatinya untuk menolong dan mengajak Charly untuk tinggal di tempat kostnya sampai dia mendapatkan pekerjaan. Charly sampai terharu dan menangis mengingat bahwa TUHAN itu memang selalu menolong tepat pada waktunya. Dia juga tahu apa yang sedang kita alami bahkan TUHAN sangat mengasihi kita.

Suatu kali Charly ada panggilan untuk tes. Charly dengan semangat yang sangat besar menuju ke tempat dimana dia akan ikut tes. Leo sahabatnya tidak dapat mengantar karena harus berangkat kuliah. Dia hanya menitip pesan agar temannya itu berhati-hati. Dalam perjalanan entah ada acara apa jalan jadi sangat macet. Charly merasa bersalah kenapa tidak cepat dia berangkat dari rumah. Tidak ada dalam hati Charly kalau akan mendapat halangan di jalan seperti ini. Ada pun di dalam bus dia harus berdiri berdesak-desakan. Karena saking padatnya di atas bus dan suara yang begitu ramai Charly tidak tahu kalau di belakangnya ada seorang pemuda yang sedang mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Penumpang yang lain tidak berani memberitahukan sebab pemuda itu mengancam mereka. Charly sangat gelisah pikirannya jadi kacau balau takut kalau dia terlambat. Ini merupakan panggilan pertamanya untuk tes.

Pemuda yang ada di belakangnya tadi sudah bertukaran posisi dengan orang lain entah mereka itu temanan atau tidak tapi saat itu juga Charly yang sudah sangat gelisah hendak mengambil hpnya untuk melihat sudah jam berapa karena seperti sudah berjam-jam dalam perjalanan. Kaget saat melihat tas handphobe bahkan dompetnya sudah tidak ada di dalam tasnya. Charly memperhatikan sekelilingnya dan orang-orang melihat dia. Mungkin mereka kasihan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka juga sedang terancam. Hatinya tambah kacau karena tidak tahu harus berbuat apa. Luar biasa apa yang dialaminya hari itu. Mungkin itulah yang dikatakan sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Charly menenangkan pikirannya sebentar sambil mengelus dada dia berkata dalam hati “Tenang Charly, sabar… Apa yang kamu alami hari ini merupakan sebuah berkat yang terindah karena kamu sudah menolong orang yang mungkin sangat membutuhkan handphone dan uangmu. Ikhlaskan saja. Suatu saat nanti kamu akan mendapat berkat tersendiri yang TUHAN sudah siapkan”. Setelah menenangkan hati dan pikirannya dia berkata pada orang sebelah sekarang sudah jam berapa. Dia sudah tahu jika sebenarnya melanjutkan perjalanan pasti sudah telat mengingat tinggal beberapa menit lagi ujian tes akan dimulai dan mungkin kali ini belum rejekinya.

Charly belum mau turun dari mobil karena bingung mau dibayar pakai apa. Harus kuatkan mentalnya dulu buat menerima kata-kata dari pak sopir atau malah dipukul nantinya karena dipikir berbohong. Pemuda yang mengambil miliknya meminta pak sopir untuk berhenti. Pemuda itu sempat menoleh kepada Charly dan berkata maaf tadi saya dengan sengaja menginjak kakimu. Charly merasa selama dalam perjalanan tidak ada yang menginjaknya meski berdesakan. Tapi biarlah mungkin memang dia injak tapi saya tidak rasakan karena saking padatnya. Dalam hatinya lagi kenapa dia menginjak saya dengan sengaja apa salah saya. Belum sempat bertanya pemuda itu sudah turun.

Tidak lama setelah pria itu turun, seorang ibu yang duduk tepat di samping Charly berkata “mau ke mana?” Jawab Charly dia hendak ikut tes hari ini tapi karena sedang mengalami musibah dia tidak jadi ikut karena mengingat waktu yang terus berjalan membuatnya terlambat untuk sampai. Bahkan dia menceritakan kalau sekarang hendak turun tapi bingung mau bayar ongkos bus pakai apa. ibu itu tahu kalau barang milik Charly diambil pemuda yang berdiri di belakangnya tadi tapi dia tidak mau menceritakannya karena mengingat nyawanya dan nyawa Charly juga terancam. Wanita itu tak terasa sampai di tempat tujuan dan dengan penuh kasih juga mengajak Charly untuk turun karena mengingat Charly memang akan turun karena sudah tidak bisa melanjutkan perjalanannya. ibu itu membayar ongkos untuk mereka berdua.

Ibu itu mengajak Charly mampir di rumahnya dan di sana mereka banyak berbincang-bincang. Rupanya wanita itu juga satu keyakinan dengan Charly dan berjemaat tepat dekat dengan tempat tinggal dimana Charly sedang tinggal sekarang. Charly juga banyak bercerita dengan apa yang sedang dialaminya sejak hari pertama tinggal dikota sampai hari ini dan menceritakan tujuannya datang ke kota. Ibu itu mengajak Charly jika mau boleh ikut ibadah di tempat dimana dia sedang berjemaat. Jaraknya sangat dekat dari tempat tinggalnya. Pintu gereja selalu terbuka jika ingin ikut beribadah.

Saat Charly hendak pulang ibu itu sekali lagi menolong Charly dengan membantu biaya ongkosnya sampai di tempat tujuannya sambil berpesan di jalan harus hati-hati jangan lengah. Apa yang sudah terjadi hari ini ikhlaskan, jadikan pelajaran yang sangat berharga dan lebih berhati-hati lagi terutama andalkan TUHAN selalu. Charly pun pamit dan setibanya di rumah Charly masih berharap sekiranya ada mujizat semuanya kembali. Dibongkarnya kembali tasnya dan memang dia harus ikhlaskan semua.

enam hari kemudian Charly teringat kalau Ibu yang pernah menolongnya itu berkata hari ini digerejanya tempat dia berjemaat ada ibadah. Bergegas dia mandi dan menuju tempat ibadah. Sesampainya di sana dia tidak melihat ibu itu tapi dia terus saja masuk karena baginya gereja terbuka untuk siapa saja yang mau beribadah. Tiba saatnya ruangan kesaksian dibuka. Karena dorongan Roh Kudus Charly pun naik dan bersaksi atas semua yang sudah terjadi. Dengan kesaksiannya itu banyak orang yang diberkati bahkan ada seseorang yang duduk di pojok paling belakang sedang mengusap airmatanya seperti sedang menyesali perbuatan yang tidak berkenan selama hidupnya.

Saat selesai beribadah seseorang menepuk pundak Charly dan berkata di belakang ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Charly pun menoleh dan seperti tidak asing baginya dia merasa bahwa pernah bertemu orang itu tapi dimana. Setelah mendekat pria itu memeluk Charly dan meminta maaf karena sudah menjahatinya. Charly masih bingung. Di abaru sadar setelah pria itu berkata “maaf saya tadi sengaja menginjakmu”. Sontak Charly kaget. Apakah ini secara kebetulan atau TUHAN sudah merencanakan semuanya? Pria itu mengajak Charly duduk dan menceritakan semuanya. Bahwa dialah yang menyebabkan Charly kehilangan kesempatan untuk bekerja bahkan dengan tega mengambil uang dan juga handphonenya. Itu semua dilakukan karena jalan satu-satunya untuk mendapatkan uang biar bisa membeli obat terlarang dan juga membeli minuman keras. Hampir setiap hari itu saja yang dilakukannya bersama teman-temannya karena orangtuanya sudah tidak bisa menghadapinya lagi. Dan semua miliknya termasuk kendaraan sampai kartu kreditnya disita oleh mereka. Belum sempat banyak bicara pemuda itu ada telepon masuk dan dia harus segera pulang karena sesuatu yang sangat penting.

Sebelum berpisah pemuda itu meminta Charly untuk datang esok hari ke rumahnya seraya memberikan kartu namanya. Keesokan harinya Charly dan Leo ke alamat tersebut. Rupanya pemuda itu seorang yang sangat kaya raya. Dia anak satu-satunya. Orangtuanya mengambil kendaraan dan kartu kreditnya karena ingin anaknya tahu artinya hidup. Di sana juga Charly banyak mendengar kalau pemuda itu bertobat saat sepulangnya dari tempat penjualan handphone dia membuka dompet milik Charly karena belum sempat membuangnya. Dan alangkah terkejutnya karena dalam dompet itu ada banyak ayat-ayat firman TUHAN yang sangat menyentuh hatinya sekali. Dia kemudian berpikir dan mengingat-ingat apa yang selama ini sudah dia lakukan dengan berfoya-foya. Harusnya dia sangat bersyukur dengan apa yang TUHAN sudah berikan. Dia sadar dan selama berhari-hari hatinya sangat gelisah dan ingin bertemu dengan pemilik dompet itu. Dia berdoa dan meminta sekiranya mungkin diberikan kesempatan untuk bertemu dengan pemilik dompet itu dan meminta maaf.

Hari keenam dia hendak menemui teman kuliahnya dulu dimana temannya itu tinggal dekat dengan gereja. Belum sampai rumah temannya dia mendengar sedang ada ibadah dalam gereja. Hatinya tergerak dan dia pun masuk. Tiba saatnya ruang kesaksian terbuka dari situ dia tahu kalau Charly yang ebrsaksi itu adalah pemilik dompetnya. Dia menangis sejadi-jadinya karena menyadari luar biasa apa yang tidak mungkin TUHAN jadikan mungkin. Rupanya selama mengalami hati yang gelisah itu pemuda itu kembali ke rumahnya dan menceritakan semua kepada orangtuanya. Luar biasa orangtuanya sangat senang melihat perubahan anaknya dan turut berdoa agar dipertemukan dengan pemilik dompet itu.

Tak terasa hubungan antara Charly dan keluarga pemuda itu sangat dekat bahkan mereka sangat ingin menjadikan Charly sebagai anak angkat. Meskipun begitu Charly tidak ingin tinggal di rumah itu karena memang dari semula dia ingin hidup mandiri tapi setiap hari sabtu mengunjungi orangtua angkatnya. Luar biasa tanpa dites pun Charly mendapatkan pekerjaan di kantor orangtua angkatnya bahkan menjadi orang kepercayaannya. Apa yang hilang dulu TUHAN gantikan berlipat kali ganda. Mengingat hal itu Charly pun meneteskan airmata dan berkata “Sungguh TUHAN itu adalah seorang penolong, tahu penderitaan anak-anakNYA bahkan sangat mengasihi kita semua. Karena kasihNya itulah DIA rela disalibkan. Yang tadinya tidak berdosa dijadikan dosa karena kita.”

SELAMAT MEMPERINGATI PASKAH. GB US

Cerpen Karangan: Esra Elsi Runalti
Facebook: Esra Elsi Runalti

Cerpen Dia Penolong merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Satu Jam Untuk Selamanya

Oleh:
Kisah ini antara aku, dia dan satu jam saja. Entah mengapa manusia selalu merasakan yang namanya alfa dan omega, bahagia dan sakit hati dan semua dijadikan berpasangan. Awal kisahku

Pentakosta

Oleh:
Bersimpuh dan bersujud memanjatkan doa serta lagu pujian di hadapan altar Allah. Aku merasakan ada sebuah cahaya yang begitu terang dan membuat hati begitu gundah. Apakah sosok Tuhan hadir

Kado Natal, It’s a Great Miracle

Oleh:
Semuannya diam, tak ada satupun yang bicara. Padahal di sana ada Papa, Tere, dan Sera adiknya. Mereka masih dalam balutan kesedihan. Kepergian sang mama mebuat mereka sangat terpukul. Kini,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *