Diantara Dua Pilihan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 9 October 2017

Seiiring berjalannya waktu, Tak terasa Masa putih abu-abu hampir selesai. Ujian nasional pun semakin di ambang pintu, aku mulai semangat belajar dan mengikuti les tambahan sebab hampir sebulan aku meninggalkan pelajaran semenjak kepergian ayah tercinta. Detik-detik terakhir di masa SMA aku bertemu dengan 2 orang tamu cantik yang tampilaannya sangat sederhana di sekolahku, aku sangat kagum pada mereka sebab mereka sangat menarik, pintar dan cara mereka berbicara sangat sopan dan ramah. Pokoknya menyenangkan sekali di hati ini. Baru ku sadar ternyata mereka adalah seorang biarawati dari kongregasi HATI KUDUS YESUS (RSCJ) dari Jakarta. Saat itu saya berpikir, kok mereka tidak mau menikah. Kelihatannya sangat aneh bagiku karena orang secantik dan sepintar mereka pasti mendapat pasangan hidup yang tampan dan baik, mereka itu adalah Suster Ino dan suster Heni. Mereka memperkenalkan tentang kongregasi mereka pada semua siswi-siswi kelas 3.

Cerita kehidupan mereka sangat menyentuh di hati saya, ketika ditanya “siapa yang mau jadi suster?” aku mengacungkan tinggi tanganku. Semua teman-teman kaget dan mengolokku… yeeeee, yang benar aja lho! Jadi suster itu tidak gampang Gays.. aku tidak menghiraukan apa kata mereka, aku segera maju ke depan kelas untuk mengambil formulir pendaftaran. Tanpa ragu-ragu kuisi semua formulir dan setelah itu aku mengisi lembar soal tes psikologi yang diberikan suster Ino dan suster Heni.

Sejak saat itulah benih panggilan mulai tumbuh dalam diriku, berawal dari pertemuan tersebut saya semakin yakin untuk menjawab panggilan Tuhan dan aku ingin mengikuti jejak kedua suster ini untuk menjadi pengikut kristus.
Keinginan itu semakin berkobar dan ujian nasional pun tiba, namun hal yang mengkwatirkan diriku adalah Lulus apa enggak.

Saat pengumuman kelulusan hatiku sangat gemetaran, sebagian anak-anak kelas bertaruh lulus atau tidak. Lulus, tidak, lulus, tidak, lulus terus-terusan mereka mengucapkan kata ini. Satu-satunya pelajaran yang aku kwatirkan adalah Matematika, apapun yang tejadi aku siap menerimanya. Secara perlahan-lahan kubuka amplok namaku dan huruf yang muncul adalah L besar… “LULUSSS”, Teriakku karena bahagia. kami pun memeluk satu sama lain sebagai ungkapan kegembiraan.

Aku pun kembali ke rumah dan ibuku sangat senang bisa mendengar kabar ini, harapan untuk bisa masuk biara bisa terwujud namun tinggal ibuku, pelan-pelan aku berusaha memasuki hatinya bertanya apakah rela jika anaknya ini mengambil jalan lain dari kebanyakan gadis lain di kampungku? Apakah rela hati untuk tidak mendapat menantu dan cucu dariku? Aku menceritakan panjang lebar tentang perjumpaanku dengan suster RSCJ 5 bulan yang lalu, dan niatku yang sudah mantap untuk mengikuti jejak mereka.

Kulihat ibuku tercengang saat aku melemparkan pertanyaan tersebut kepadanya. Aku pun jadi berdiam diri menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. “Ibu baik baik saja?” tanyaku dengan cemas. “Iya sayang”, jawab ibuku. “Ada apa bu, mengapa ibu berdiam seribu bahasa?” lanjutku. “Sayang maaf aku tidak bisa menjawabmu sekarang ini, aku belum bisa membuat keputusan secepat itu. “Dulu, sebelum ayahmu meninggal aku berjanji padanya untuk membiayai kuliahmu sehingga kamu bisa menjadi anak yang sukses” jawab ibuku dengan jujur. “Saat ini engkau sedang membuat keputusan yang sangat besar dalam hidupmu, kuharap pikirkanlah sekali lagi jangan terburu-buru mengambil keputusan”.
Lalu ibu pergi meninggalkanku dan menuju dapur. Aku memang tak tega meninggalkannya sejak di tinggal ayah setahun yang lalu, apalagi ibu hanya ditemani Fransiskus adikku yang bungsu. Dan aku satu-satunya yang sangat mungkin untuk tinggal di rumah merawat ibu apalagi kakak-kakakku sudah menikah, namun ada hal lain yang ganjal di hati saya. Yaitu pilihan untuk hidup membiara.

Malam selasa ibu datang ke kamar dan menghampiriku, suara lembut keluar dari mulutnya. “Mar, apakah kamu sudah mempertimbangkan keputusanmu?” “Iya ma, Aku sangat yakin akan pilihan hidup saya, tapi kalau mama tidak setuju terpaksa aku mengurung niatku ini” Jawabku. “Mar, maafkan ibu selama beberapa hari ini membuat kamu bergulat dengan pilihanmu, sekarang mama mengerti dan mama berjanji akan selalu mendukung panggilanmu” kata ibuku sambil membelai rambutku. “Jadi mama setuju kalau enu masuk biara?” tanyaku dengan wajah cerah. “Iya sayang, apapun pilihanmu, itu yang terbaik untukmu jadi ikutilah kata hatimu”. Lanjut ibuku. Aku sangat senang mendengar apa yang baru saja ibu katakan padaku, ternyata Tuhan menjawab doaku dan meluluhkan hati ibuku.

Kupeluk ibuku dan mencium pipi berkali-kali, sungguh aku merasakan kebahagiaan yang mendalam. Aku langsung meraih handpone dari saku celana lalu menulis pesan kepada suster rscj bahwa aku mau masuk biara RSCJ, respon para suster juga membuat kebahagiaanku bertambah, mereka menerima dan akan datang dari jakarta untuk menemui keluargaku.

Satu minggu kemudian suster Ino datang ke rumah dan bercerita banyak hal tentang kongregasi RSCJ kepada ibuku, ibuku semakin yakin setelah mendengar penjelasan dari beliau. Keinginan untuk mewujudkan impian masuk biara mendorongku untuk secepat mungkin mengurus semua dokumen yang diperlukan untuk berangkat ke Jakarta.

Satu minggu sebelum keberangkatan, aku mengejutkan semua orang di kampung ketika mendengar rencana kepergian tersebut. Hampir semua orang yang mendengar tidak percaya. “Masuk biara?. Jakarta yang jauh itu?. Tanya mereka kembali, saya mengangguk mengiakan pertanyaan mereka.

Saya berdebar-debar menantikan hari yang di tentukan oleh para suter untuk berkumpul di pastoran paroki. Akirnya hari pun tiba suster ino menjemput saya. Kali ini saya benar-benar pergi meningggalkan semuanya, meninggalkan tanah kelahiran, orangtua, saudara/i, sahabat dan cara hidup lama untuk mencari Tuhan dan mempersembahkan diri seutuhnya.

Cerpen Karangan: Ermenilda Ahus Lewur
Blog: Enunhylewur.blogspot.co.id

Cerpen Diantara Dua Pilihan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perasaan Di Teras Gereja

Oleh:
Saat ini aku ingin sekali duduk di sebelahmu, menatap indah mata hitammu, menceritakan tentang kisah kita menurut sudut pandangku. Jika kau mengatakan ini adalah pembenaran diriku atau kebohongan, aku

Gadis Yang Berbakat

Oleh:
Namaku Gabrelia, aku tinggal di kota kecil bersama kedua orangtuaku dan ketiga ketiga saudaraku, kita hidup berdampingan dan saling melengkapi satu sama lain. Ya, aku memang anak yang berbeda

Hidup Adalah Pilihan (Part 1)

Oleh:
Ada saatnya kamu harus menangis, ada saatnya kamu tertawa, ada saatnya kamu harus marah, ada saatnya kamu harus sabar dan masih banyak hal lagi yang harus terjadi sesuai dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *