Ekaristi Utuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 10 June 2017

Sudah dua tahun aku tidak pernah mengikuti perayaan Ekaristi setelah kepergian ibuku. Sudah lama sekali aku merindukannya. Hari ini, minggu kedua dalam kalender Liturgi. Aku bergegas. Aku ingin sekali pergi ke Gereja bersama adikku. Kutenangkan diri dan jiwaku setelah seminggu kulalui. Banyak duka daripada suka yang kualami. “Dengan gembira bersama melangkah, kita semua menghadap Tuhan…” Belum semenit setelah sampai di Gereja, lagu pembuka segera dinyanyikan oleh anggota koor di sebelah kiri. Perarakan para Imam dari Sakristan mulai berjalan menuju altar kudus. “Inilah aku, Tuhan. Bersabdalah, maka hamba-Mu ini mendengarkan!” desisku dalam hati menenangkan diri.
“Dalam nama Bapa dan Putera…” Salam pembuka berjalan seperti biasa. Sekarang doa pembuka. Semua umat diam dan hening sambil menundukkan kepala. Namun, doa pembuka masih belum selasai. Lelaki yang duduk sederet di depanku menoleh ke arahku. Wajahnya memberi pesan, “Bawa adikmu itu keluar! Cepat!”.
Tak kusangka adikku akan seperti ini. Adikku tiba-tiba merengek menggangu ketentraman umat yang sedang khusuk berdoa. Aku menunduk menghindari tatapan lelaki itu. Kudekap adikku sambil mencium pipinya. Adikku diam sejenak, kemudian mulai rewel dan merengek-rengek lagi.
Meskipun aku bukan seorang ibu, tapi naluriku sebagai seorang kakak tahu sedikit bahwa adikku tidak betah. Ia tidak nyaman berada di antara kerumunan orang yang tidak ia kenal. Ia juga pasti ingin berjalan kesana-kemari sebagaimana layaknya seorang anak yang baru lancar berjalan. Sekali lagi adikku merengek keras dan panjang. Kali ini ibu yang berdiri di sebelahku menarik nafas panjang dan menggaruk-garuk telingannya. Dia mengatakan sesuatu kepadaku, namun aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya.

Umat berlutut. Aku ikut berlutut sambil terus mendekap adikku. Doa Syukur Agung mulai dipanjatkan. “Sabar ya, Dik…” bisikku perlahan-lahan. Kubantu adikku berdiri. Kukatupkan kedua tangan mungilnya dalam tanganku. “Kita berdoa ya, Dik…” bisikku sekali lagi pada telinganya.
Tentu saja, ia tidak bertahan lama dalam posisi sembah sujud itu dan mulai merengek-rengek lagi. Seorang wanita usia senja menoleh. Ia melihatku kemudian melirik ke arah pintu. Pesannya sama: “Keluar! Rengekan adikmu itu mengganggu Misa! Pergi saja dari Gereja ini!”. Aku menarik nafas panjang dan menunduk. Hatiku seperti ditusuk sebilah pisau. Sakit rasanya mendengar ucapan wanita itu. Aku tahu rengekan adikku pasti sangat mengganggu ketentraman umat, namun aku tak tahu bagaimana harus menenangkannya, karena ia masih kecil dan tidak tahu apa-apa.
Di tasku ada botol susu dan biskuit yang ia sukai. Itu bisa saja membuatnya diam, namun aku tidak mau memberikannya. Aku ingin ia tumbuh menjadi anak beriman yang dapat menghargai perayaan Ekaristi. Aku melirik ke arah pintu di sampingku. Di satu sisi aku merasa harus membawa adikku keluar agar tidak mengganggu ketentraman Misa, namun di sisi lain ada rengekan rindu dalam hatiku. Aku rindu memperdengarkan satu Misa utuh kepada adikku setelah kepergian ibuku dua tahun lalu. Aku menyesal bahwa aku pernah membiarkan Misa lewat begitu saja dalam hidupku. Aku tak pernah memaknainya. Sekarang aku tidak mau terulang lagi hal itu.

Hosti besar diangkat oleh Imam, diletakkan, diikuti dengan sembah sujud. “Itu Yesus, Dik…” bisikku pelan. Adikku tak peduli dan tetap merengek sambil menarik-narik bajuku. Sekarang wanita di sebelah kananku memberi pesan yang sama. “Kalau kamu tidak bisa mengurus adikmu itu, keluar saja dari Gereja ini!” Aku mulai tak berdaya. Hampir semua mata umat memandangiku. Kembali lagi menunduk menghindari tatapan mereka. Kudekap adikku dan kucium lagi.
Piala diangkat, diletakkan, sujud. “Itu Yesus…” bisikku untuk kedua kalinya. Adikku melihatnya tapi ia tidak tertarik. Ia malah melompat-lompat di bantalan tempat berlutut. Kembali kudekap. Aku bisa merasakan ia menjerit menolak. ‘Ya Tuhanku dan Allahku, bersabarlah dengan kami’ doaku dalam hati. Ini bukan pertama kalinya ia kuajak dalam Misa. Sekian Misa kami lalui bersama, namun tidak pernah tuntas. Aku selalu keluar sebelum Misa selesai karena adikku terlalu rewel dan orang-orang di sekitarku terganggu oleh rengekannya.
Seandainya ibuku masih di sini, mungkin ia tahu apa yang harus diperbuat. Tapi mau dikata, ibuku telah tiada.

Pikiranku melayang pada orangtua yang telah meninggalkanku dua tahun yang lalu. Gambaran wajahnya kembali menghantui pikiranku. Dia meninggalkan kami setelah insiden ledakan bom di kampung kami. Kepergian ibu membuatku seperti berjanji setia dalam untung dan malang. Ayahku sudah pergi entah ke mana. Kakak dan abangku juga pergi merantau semua tanpa ada pemberitahuan. Inikah jalan salib hidup, Tuhan?

Sejak insiden ledakan itu, telinga adikku juga sering sakit. Kedua gendang telinganya pecah karena suara yang begitu keras. Insiden itu terjadi saat aku sedang kuliah. Aku tidak tahu apa kaitannya. Namun yang aku tahu, sebelum aku diwisuda, dokter mengatakan bahwa adikku akan memiliki kecacatan mental. Ia tidak bisa berinteraksi dengan orang lain. Namun ada satu hal yang kusyukuri, yakni adikku masih bisa mendengar.

Air mata mulai menggenangi mataku. ‘Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat’ seruku dalam hati bersama dengan umat. Adikku mulai memukuli aku dan berteriak-teriak. Kembali ia kugendong dan kudekap. Seorang pemuda yang duduk di depanku menggeleng-geleng. Aku tidak mendengarnya, namun dari gerak bahunya yang naik lalu turun mendadak, aku tahu bahwa ia pasti mendengus kesal.

“Sabar ya, Dik. Ini bukan salahmu. Kamu memang belum tahu bagaimana bersikap dalam Misa” kataku dalam hati sambil menatap mata adikku. Ia tidak membalas tatapanku, malahan ia mulai meronta-ronta minta dilepaskan dari dekapanku.
Umat mulai bersalaman. Aku tersenyum sambil mengulurkan tanganku pada umat yang berdiri sekitarku. Mereka membalas. Namun aku bisa merasakan ada keterpaksaan dalam senyum dan salam itu. Mereka terganggu dengan rengekan adikku. Tapi mereka terpaksa melakukannya karena itu adalah bagian dari ritual Misa.
“Anak Domba Allah… kasihanilah kami… Anak Domba Allah… berilah kami damai…” Kudoakan ibu dan keluarga besarku. Namun, betapa tak pantasnya adikku didatangi Tuhan. Ia sering rewel dan nakal. Namun ia melakukannya karena butuh. Ia butuh didengarkan dan diperhatikan, lebih dari yang dapat diberikan oleh kakaknya ini.

Meski berontak, kugendong paksa adikku dan kami melangkah maju menyambut Komuni Kudus. Aku tahu adikku berteriak dan semua mata memandang kami. Kubenamkan wajahnya di dadaku. Tubuh Kristus kusantap. Kuturunkan dia dari gendonganku. Kupandangi ia yang diberkati ImamNya, lalu kutuntun kembali ke bangku umat. Kudekap dia erat-erat tanpa mempedulikan erangannya, tanpa peduli umat di sekitarku. “Terimakasih, Tuhan. Akhirnya aku bisa mengikuti perayaan Ekaristi Kudus ini sampai selesai bersama adikku” doaku pelan.

Berkat meriah diberikan. Umat berdiri dan mulai beranjak satu persatu. Beberapa di antaranya sempat menoleh kepadaku. Aku tak peduli. Aku berdiri sampai anggota koor selesai menyanyikan lagu penutup. Air mataku meleleh. Kerinduanku terpenuhi hari ini.
Ada rasa lega di dadaku, dan ada juga kekuatan baru. Kucium pipi adikku. “Selamat Ulang Tahun, Dik..! Hanya ini yang bisa kuberikan kepadamu. Satu Ekaristi utuh. Semoga kelak kamu tidak menyia-nyiakan setiap Ekaristi yang kamu dengarkan hari ini” ucapku pelan sambil mencium adikku lagi. Aku ingin, agar adikku mendengarkan satu perayaan Ekaristi utuh sekali lagi.

Cerpen Karangan: Marcellus Hia
Facebook: Marcellus Hia

Cerpen Ekaristi Utuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Traitor

Oleh:
Ini kisahku saat aku merasa dikhianati oleh temanku. Sebut saja Seryna dan panggil aku Bella. Seryna itu baik sekali sikapnya di depanku, tapi di belakangku Seryna membicarakanku. Entah apa

Malam Natal Jane

Oleh:
Hari ini malam natal. Jane dan teman-temannya sedang berkumpul di halaman gereja. Mereka membicarakan tradisi natal di keluarga masing-masing. “Setiap malam natal, aku dan keluargaku memasang pohon natal lalu

Kerisauan Hati

Oleh:
Hari tepatnya tanggal 3 maret dimana aku merasa sendiri di keramaian entah yang membuatku merasa sendiri kejadian apa yang membuatku seperti ini Tuhan. Aku mau mengeluarkan semua masalah apa

Pohon Mangga Dari Misionaris

Oleh:
Belum semenit aku sampai di rumah kami, tiba-tiba terlihat olehku anak gadis bermata teduh sedang berdiri memainkan biolanya. Anak-anak kecil sedang bergembira ria mengelilinginya. Gadis itu lebih suka memainkan

Ketika Cinta Terhalang Usia

Oleh:
Terimakasih. Hanya kata itu yang bisa Michella ucapkan. Segala sesuatu yang saat ini ia lihat sungguh tak pernah dibayangkannya. Berdiri di tempat ini dulu hanya sebuah angan. Namun kini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *