Hidup Adalah Pilihan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 30 September 2016

Ada saatnya kamu harus menangis, ada saatnya kamu tertawa, ada saatnya kamu harus marah, ada saatnya kamu harus sabar dan masih banyak hal lagi yang harus terjadi sesuai dengan tempat dan waktunya. Itulah kehidupan bagiku kehidupan itu tidak selamanya pahit dan bagiku kehidupan itu juga tidak selamanya manis. Ada kalanya kamu akan berada di bawah dan ada kalanya juga kamu harus berada di atas. Tapi jangan khawatir karena itu semua adalah proses kehidupan dan setiap keputusan yang kamu ambil akan menentukan sejauh mana kamu akan melangkah. Saat kamu mengambil langkah yang tepat maka kamu akan berjalan lebih jauh dari pada orang-orang di sekelilingmu namun saat kamu mengambil langkah yang salah maka kamu akan tertinggal jauh dari orang-orang yang ada di sekelilingmu. inilah hidupku, menjadi seorang hamba Tuhan adalah pilihan yang terdengar asing bagi remaja seusiaku. Bagaimana tidak, disaat remaja seusiaku mengejar ambisi pribadi mereka namun aku memilih mengikuti apa yang diinginkan Tuhan. aku juga tidak mengerti apa yang ada di fikiranku kenapa tiba-tiba saja aku memutar arah yang sangat jauh dari rencana awalku.

Arkeolog itulah ambisi pribadiku. Mimpi yang sebenarnya terdengar aneh juga memang tapi bagiku ini sangat mengasikkan dan aku berjuang mati-matian untuk mengujudkan semua ini dari aku melihat edaran youtube tentang penemuan-penemuan baru hingga aku masuk pada sebuah bimbingan belajar yang menurutku sangat mendukung ambisi pribadiku ini. Saat jalur prestasi dan undangan tidak terdapat namaku aku masih bisa tenang dan tetap optimis bahwa aku bisa meraih impianku ini Karena masih ada kesempatan terakhir yaitu SBMPTN. Aku menambah jam belajarku dan menambah buku soal-soal untuk kukerjakan agar persiapanku lebih matang lagi. Dengan ditemani secangkir kopi dan omelan ibuku yang memarahiku karena aku belajar hingga larut malam menemani minggu-minggu persiapan SBMPTN ku. Hingga pada akhirnya waktu yang ditunggu-tunggupun tiba dengan rasa percaya diri dan optimistis yang tinggi menghantar langkahku ke ruang ujian untuk mempertaruhkan segala harapanku ini. Dengan semangat yang tinggi ditambah hati yang bersuka cita aku mengerjakan soal-soal SBMPTN dengan yakin. Perasaanku mengatakan bahwa 1000% aku akan bisa mengejar dan mencapai ambisiku tersebut.

Hingga tiba saatnya waktu yang ditunggu-tunggu yaitu pengumuman kelulusan SBMPTN pun tiba. Dengan semangat juang yang tinggi aku melihat daftar kelulusanku. Setelah beberapa saat aku mencari daftar nama, aku pun menemukan namaku aku mulai menggeser jariku ke kolom universitas yang kutuju. Namun, aku tertunduk lesu ketika aku mendapati kenyataan yang sangat jauh berbeda. Ambisiku seolah-olah sirna ketika namaku tidak tercantum satu pun pada tiga universtitas tujuanku. Saat ini aku benar-benar kehilangan sebuah harapan bukan saja harapan masa depanku namun juga harapan hidupku.

Aku pulang ke rumah dengan segala kekecewaaanku, aku datang membawa sebuah kabar yang sangat sia-sia di pendengaran orangtuaku. Saat aku tiba di rumah perasaanku bercampur aduk tidak menentu. Aku takuk mengatakan yang sebenarnya pada orangtuaku dan akupun juga berfikir sampai kapan nantinya aku bisa membohongi semua ini. Di tengah-tengah perasaanku yang terus berkecamuk tiba-tiba aku mendengar suara yang tidak asing menghampiriku. “nak, bagaimana hasilnya? Apakah kamu lulus?” Tanya ibuku. Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa sekarang aku termenung sangat lama hingga ibuku menyadarkan aku kembali. Bagiku laki-laki tidak sepantasnya meneteskan air mata karena dalam alam fikiranku laki-laki adalah manusia yang tuhan ciptakan sangat tangguh jadi tidak ada alasan apapun untuk air mata menetes. Tapi, untuk saat ini teori tersebut tidak berlaku sama sekali. Bukan hanya tetesan air mata yang jatuh namun aliran air matalah yang sekarang terjadi dalam diriku. Untuk saat ini aku tidak bisa membohongi diriku bahwa sesungguhnya laki-laki itu juga adalah manusia yang lemah. “ma, maafin aku ya udah ngecewain mama, aku gagal ma, semua udah berakhir sekarang mama boleh memperlakukan apa saja terhadap diriku.” Kataku sambil mencium kakinya. Aku merasakan ada sesuatu yang jatuh ke atas kepalaku dan aku percaya itu juga tetesan air mata mamaku. Namun aku tidak berani menoleh ke atas karena aku yakin mamaku pasti akan benar-benar memarahiku.

Saat ini suasana benar-benar dibanjiri air mata dan aku tidak tahu sampai kapan berakhirnya hal ini. Namun tidak berselang kemudian aku merasakan ada yang memegang kedua tanganku dan menarik ke atas. “nak tidak apa-apa, semua belum berakhir. Masih banyak kesempatan yang bisa kamu pakai, sudahlah tidak ada gunanya menyesal” kata mama. Mendengar perkataan tersebut hatiku menjadi sedikit lega dan aku pun memberanikan diri untuk menoleh mamaku saat ini mamaku memelukku dengan erat dan aku merasakan sebuah kasih yang benar-benar tulus dalam pelukan erat mamaku ini. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi Karena aku sadar diriku benar-benar tidak berguna lagi aku hanya bisa menagis dan menagis. Hingga aku mendengar perkataan yang sangat membuat hatiku terharu bahagia “mama sayang kamu”. Namun perkataan itu tidak cukup membuatku ke luar dari rasa bersalahku. Aku merasa hidupku ini tidak berguna sama sekali, aku merasa inilah akhir dari perjalanan hidupku dan aku merasa aku sudah tidak punya masa depan lagi. Aku sudah tidak tau lagi bagaimana harus menangis karena air mata ini sudah habis ditelan padang gurun hatiku, aku sudah tidak tau lagi bagaimana harus tertawa karena tawaku sudah direbut oleh badai kesedihan yang tidak pernah berakhir, aku tidak tau lagi bagaimana cara untuk marah karena marah kurasa tideak ada guna sama sekali dan tidak bisa merubah kenyataan hidupku dan Sekarang hidupku benar-benar berantakan hingga aku melampiaskan tangis, tawa dan marahku dengan sering bangun kesiangan, aku jarang makan dan sepanjang hari kerjaku hanya berjalan-jalan menyusuri kota hinga larut malam. Hingga suatu saat aku mendengar kabar yang sangat membuat hati ini pilu. Saat ini aku harus menerima kenyataan bahwa aku harus hidup sebatang kara. Keluargaku tewas dalam sebuah kecelakaan maut yang membuat mobil yang mereka tumpangi masuk ke jurang.

“ma… pa… jangan tinggalin riko sendirian, riko gak tau lagi harus berbuat apa. Kenapa kalian begitu egois ningalin riko.. kenapa!!!” tangisku yang penuh dengan emosi.
“sudah riko, tidak ada guna lagi kamu menangis, semua sudah terjadi. Bersyukurlah atas semua yang terjadi pasti ada sebuah rencana yang indah yang sedang Tuhan persiapkan untuk hidupmu” jawab bibiku sambil merangkul aku.
“rencana indah kata bibi? Indah dari mananya bi, aku kehilangan masa depanku dan sekarang aku kehilangan keluargaku. Fikir bi.. darimananya indah? Omong kosong Tuhan mengasihi aku bi.” Jawabku
“bibi mengerti apa yang sedang kamu rasakan rik, tapi kamu tidak sepantasnya berkata seperti itu. Bibi percaya setiap apa yang terjadi dalam kehidupan kita tidak pernah keluar dari izinya Tuhan, saat kamu diberi cobaan ini maka Tuhan tau kamu pasti bisa melewatinya karena cobaan yang Tuhan berikan tidak pernah melampaui batas kekuatan kita rik” nasehat bibiku
“izin Tuhan bi? Ternyata Tuhan benar-benar egois ya bi.. mengambil semua yang berharga dalam hidupku. Tuhan gak sayang lagi denganku dan aku rasa aku juga tidak membutuhkan Tuhan, aku bisa mengatur hidupku sendiri!!!” bentakku sambil meninggalkan rumah.

Aku tau Tuhan itu baik, aku tau Tuhan itu Kasih dan aku tau Tuhan itu adil tapi entah mengapa aku tidak merasakan hal tersebut dalam kehidupanku. Aku rasa semua yang ada dalam Alkitab yang aku telah baca itu semua hanya omong kosong dan cerita dongeng belaka. Omong kosong Alkitab mengatakan Tuhan itu baik jika aku dipenuhi rasa kesedihan, omong kosong Allah itu kasih jika Dia merusak impianku, dan omong kosong Tuhan itu adil jika Dia mengambil orang tuaku.
“Tuhan… Tuhan… Tuhan dimana Engkau?” teriakku sambil ditemani hujan air mata
“Tuhan kenapa Engkau tidak adil, kenapa Engkau mengambil masa depanku. Kenapa engkau mengambil orangtuaku kenapa tidak membiarkanku hidup bahagia.. kenapa dan kenapa semua terjadi dalam hidupku? Jawab aku Tuhan!!! apakah engkau tidak mempunyai telingan untuk mendengarkanku atau engkau tidak mempunyai mulut untuk menjawabku?” keluhku sambil melemparkan batu ke langit.

Kali ini aku benar-benar kelelahan hingga membuat aku terduduk di tanah dan masih saja belum bisa menerima kenyataan yang ada. Di tengah kegelapan hati ini dari kejauhan aku melihat ada warung dan aku mulai berfikir apakah mungkin ada warung di jalanan yang sepi seperti ini? Tapi namanya anak muda tidak mau dihantui rasa penasaran maka dengan cepat aku menghampiri warung tersebut. Setibanya di warung tersebut aku tidak menyangka bahwa isi warung tersebut orang-orang yang sedang mabuk-mabukan. Saat aku bermaksud untuk ke luar dari warung tersebut orang di sana pun mencegatku.
“hey anak muda… siapa kamu?” Tanya seorang bapak yang sedang memegang botol minuman
“sa… sa…ya riko om. Sa… sa…ya ha.. ha…nya kebentulan le… le…wat saja dan se.. se…pertinya sa.. sa…ya salah masuk” jawabku yang tiba-tiba saja gagap kepada mereka.
“ha… ha… ha… jangan takut anak muda, bergabunglah dengan kami, saya tau kamu pasti sedang banyak masalah.. mari minum bersama kami ini cara yang baik untuk membuatmu tenang” sahut seorang om yang lain.

Aku pun memberanikan diri untuk bergabung dengan mereka dan duduk di sebuah kursi yang masih kosong. Mereka pun menanyakan darimana asalku dan kenapa aku bisa berada di tempat yang seperti ini. Kurasa aku mulai menikmati komunitas baruku ini, dengan minuman aku merasa tenang, dengan minuman aku bisa melupakan masalahku hingga tidak terasa aku sudah menghabiskan 3 botol minuman. Sekarang aku binggung entah kepalaku atau dunia yang sedang berputar-putar, mataku mulai kabur dan melihat ribuan orang ada di sekelilingku. Di tengah kebingunganku aku mendengar suara yang samar-samar yang tidak aku ketahui siapa yang mengatakannya “nak… jangan biarkan kamu salah melangkah, Karena ketika kamu mengambil keputusan yang salah maka semua akan berakhir dengan sia-sia. Kamu seorang anak muda yang luar biasa dan kamu masih bisa menaklukan dunia ini dengan mimpi-mimpimu. Minumman bukanlah segalanya karena ini hanya akan membuang waktumu yang berharga itu”. Saat suara itu berhenti aku pun langsung tidak sadarkan diri karena sudah tidak tahan menahan mata ini. Ditengah tidurku aku merasa sedang berada di ruang yang gelap sekali dan disana aku tidak jenti-hentinya berjalan aku sangat binggung karena aku tidak pernah melewati jalan ini sebelumnya. Ditengah kebingunganku yang terus mencoba mencari jalan keluar tempat tersebut aku mendengar suara yang entah darimana asalnya.
“ada kalanya Aku akan berbicara dan ada kalanya Aku harus berdiam” sahut suara tersebut
“siapa engkau? Tunjukan wajahmu” seruku menanggapi suara tersebut
Namun suara itu tidak kunjung terdengar kembali, aku terus saja memanggil-manggil suara itu tapi tetap saja tidak muncul hingga aku melihat sebongkah sinar putih dan aku berlari menuju cahaya itu dan aku pun berhasil menggapai cahaya itu dan aku mendapati sebuah pintu. Ketika aku ingin membukanya seketika itupula aku terbangun dari tidurku. Ketika aku melihat sekelilingku aku menyadari aku sedang berada di rumahku sendiri dan aku melihat bibiku sedang tertidur lelap di sampingku.
“bi…bi… bangun bi..” sahutku sambil mengoyang-goyangkan tanganya
“ehhh riko.. kamu udah bangun syukurlah. Bibi siapin sarapan buat kamu dulu ya” jawab bibi yang bangkit dari kursinya menuju ke dapur
“tunggu dulu bi… kenapa aku bisa berada di rumah perasaan aku semalaman berada di tempat yang lain” tanyaku bingung
“sudahlah rik.. kamu tidak perlu mengetahui apa yang terjadi yang penting kamu sudah kembali ke rumah sekarang” jawab bibiku sambil tersenyum
“bi maafin aku.. aku sudah banyak salah sama bibi.. aku sudah banyak salah dengan Tuhan, bi aku sangat menyayangimu” seruku sambil memeluk erat bibiku dan aku tersadar momen ini pernah aku rasakan bersama mamaku.
“iya riko.. bibi sangat menyayangimu.. ingat nak kamu bisa memulai semua dari awal kembali karena masih banyak kesempatan buatmu, jangan pernah berhenti berjuang. Dan kamu boleh menggap bibi dan paman seperti orangtuamu sendiri” Jawab bibiku yang juga memeluk erat diriku.

Hari itu menjadi hari yang paling bersejarah dalam hidupku. Aku mungkin boleh kehilangan segalanya tapi yang aku tahu bahwa aku masih punya kesempatan untuk membangun semua dari awal kembali. Dengan warisan yang ditinggalkan oleh alm orangtuaku aku mencoba membuka bisnis kecil-kecilan sambil mencoba bermain saham. Aku membuka bisnis rumah makan karena aku terinspirasi dengan hobbyku sendiri. Awal yang cukup baik bagiku bagaimana rumah makanku digemari oleh banyak orang. Hingga dari mulut ke mulut rumah makanku menjadi salah satu rumah makan yang paling digemari di kotaku.

Setelah dua bulan berjalan tempatku tidak mencukupi lagi untuk menampung kebanjiran pelanggan yang tidak hanya berasal dari dalam kota namun banyak juga yang berdatangan dari luar kota. Dengan kebanjiran dana yang ada aku memutuskan untuk merenovasi rumah makanku menjadi lebih besar lagi. Ditengah kesuksesanku aku kembali merefleksi kehidupanku. Terkadang aku tertawa dan menyesal sendiri mengapa dahulu aku mengatakan Tuhan itu jahat, Tuhan itu tidak adil. aku bersyukur karena memiliki paman dan bibi yang sangat luar biasa dan aku memutuskan untuk membawa mereka jalan-jalan ke bali liburan lebaran ini.

“ma… pa.. liburan lebaran kali ini kita pergi ke bali yuk” pintaku kepada mama dan papa keduaku
“lah… kerjaan kamu bagaimana? Apalagi lebaran kan tentunya akan banyak pelanggan yang berdatangan” sahut papa
“haduh.. papa gak usah fikirin macem-macem deh.. urusan kerjaan mah gampang, kapan lagi kita punya waktu seperti ini kan” lanjutku
“ya sudah kalo begitu kami akan nurutin deh permintaanmu” jawab mamaku
“terimakasih ma.. pa.. aku sayang kalian berdua.” Akupun langsung memeluk mereka.
Aku pun mempesiapkan semua dengan matang dari keadaan mobil yang prima, pemesanan hotel dan terakhir menyerahkan rumah makanku untuk sementara kepada tangan kananku. Dan aku optimis semua akan berjalan dengan baik dan menyenangkan.

Cerpen Karangan: Gleam Pratama
Facebook: Gleam Pratama Sihombing Part Ii

Cerpen Hidup Adalah Pilihan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mantan

Oleh:
Aku terduduk lesu di depan laptop sambil menahan perih dan sakitnya perasaan yang baru saja dilukai oleh seorang pujaan hati yang mungkin tak bisa ku miliki lagi. Ku tatap

Perasaan Di Teras Gereja

Oleh:
Saat ini aku ingin sekali duduk di sebelahmu, menatap indah mata hitammu, menceritakan tentang kisah kita menurut sudut pandangku. Jika kau mengatakan ini adalah pembenaran diriku atau kebohongan, aku

Payung Iman

Oleh:
Jauh di ujung pandangan mata, sebuah pulau terpencil ada di sana. Nama yang terdengar sangat asing di telinga kita, itulah Pulau Sumba. Sebuah pulau di Provinsi NTT. Di sanalah

Diantara Dua Pilihan

Oleh:
Seiiring berjalannya waktu, Tak terasa Masa putih abu-abu hampir selesai. Ujian nasional pun semakin di ambang pintu, aku mulai semangat belajar dan mengikuti les tambahan sebab hampir sebulan aku

Sadarkan Ayahku Tuhan

Oleh:
Keluarga yang harmonis dapat mereka rasakan, keluarga yang bahagia dapat mereka dapatkan, tapi tidak untuk diriku, aku tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah setiap hari ayahku pergi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *