Hidup Adalah Pilihan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 30 September 2016

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba kami bersiap-siap untuk berangkat ke kota bali untuk menikmati masa liburan kali ini.
“ayo rik… sebelum kita berangkat pimpin doa dulu” sahut mamaku
“Tuhan terima kasih buat hari yang begitu indah ini dan lindungi kami dalam perjalanan hingga kami boleh sampai pada tujuan dan kami boleh bersukacita terus di dalammu. Amin” doakami.
Dengan lagu-lagu jazz kesukaan papa mengiringi perjalanan kami melewati satu kota ke kota yang lain. Tidak terasa satu harian kami telah menempuh perjalanan dan perut ini terasa lapar.
“pa… di kota ini menurut papa tempat makan yang enak dimana” tanyaku
“di pondok ikan suharti aja rik.. papa pernah makan disana behhhh maknyus” jawab papaku yang juga tampaknya sudah kelihatan lapar
“oke laksanakan” jawabku sambil mengatur GPS untuk menuju tempat yang dimaksud papaku.

Kami pun tiba di tempat yang dimaksud papaku dan kamipun mulai memesan menu yang hendak kami santap untuk mengobati rasa lapar kami. “pa makan yang banyak perjalanan kita masih jauh lo.” Pintaku
“behh… tanpa kamu suruh pun papa mah bakal nambah-nambah” sahut papaku
“pa.. mana yang lebih enak masakan riko atau masakan tempat ini” Tanya mamaku
“kalo udah lapar begini mah semuanya enak ma, dikasih nasi putih aja pasti enak rasanya ma.” Jawab papaku dan kami pun tertawa menikmati hidangan yang telah di sediakan sambil di suguhi pemandangan alam yang begitu luar biasa sekali.

Ditengah kebahagiaan kami tiba-tiba ada sms masuk yang membuat aku sangat kaget tidak percaya “pak… rumah makan kita kebakaran semua ludes terbakar, cepat kemari pak” bunyi sms itu. Melihat wajah paman dan bibiku aku berfikir ingin menyembunyikan masalah ini karena aku tidak mau merusak momen bahagia yang sedang mereka rasakan ini. Setelah selesai makan kami pun melanjutkan perjalanan kami untuk menuju kota bali yang kira-kira 1 hari lagi kami akan tiba. Di mobil aku tiba-tiba saja diam tidak seperti biasanya ada perasaan sedih, kecewa dan ada juga perasaan gembira aku binggung dan sangat bingung. Mereka mencoba menanyakan ada apa yang terjadi tetapi dengan tenang aku menjawab semua baik-baik saja.
Hingga tiba malam papaku menyarankan aku untuk beristirahat jika aku benar-benar kelelahan tapi aku terus saja menolak karena fikirku aku ingin cepat tiba di kota bali. Aku tak sadar di tengah perjalanan mataku tiba-tiba saja tertidur dan boommm… Terdengar suara keras yang membuat mobil kami terhempas ke jurang yang dalam dan membuat aku tidak sadarkan diri.

Saat aku tersadar tubuhku sudah berada di rumah sakit dan aku melihat sahabatku sedang berada di sampingku dan memanggil-manggilku karena melihat aku telah membuka mata.
“riko.. riko… kamu sudah sadar? Kamu bisa mendengar suaraku” Tanya fandy
“iya fan.. kenapa aku bisa berada di tempat ini?” Tanyaku kembalu
“kamu tidak sadar kamu satu minggu yang lalu mengalami kecelakaan?” jawab fandy
“ha… Satu minggu? Dimana paman dan bibiku fan?” sekarang aku teringat kejadian itu
“sudah rik… yang terpenting kamu harus sembuh terlebih dahulu” pinta fandy
“tidak fan… aku ingin melihat keadaan mereka.. jika kamu tidak mau memberi tahu maka aku akan mencari tahu sendiri” jawabku sambil ingin mencabut selang infuse
“jangan rik.. jangan.. oke aku akan menceritakan apa yang terjadi. Karena kejadian itu mereka berdua meninggal dan mereka sekarang mereka ada di surga rik” jawab fandy lemas
Perasaanku benar-benar hancur sekarang aku tidak tau lagi maksud Tuhan. Dia sekarang benar-benar telah mengambil semuanya dariku dan aku benar-benar tidak mampu lagi bersyukur. Aku marah kepada diriku sendiri, aku menyesal mengapa aku tidak mendengarkan perkataan pamanku, aku marah kepada Tuhan mengapa Dia begitu kejam kepadaku, aku bertanya kepadanya apa dosaku hingga semua ini terjadi dalam hidupku.
“Tuhan…Tuhan.. dimana engkau? Jawab aku Tuhan… jawab” teriakku hingga dokter harus memberiku obat penenang
“Fandy kamu yang bisa membantu dia, kamu harus menemani dia dan membimbing dia hingga hidupnya benar-benar pulih apalagi saat dia sadar nanti dia kembali harus menerima kenyataan bahwa kakinya kirinya telah tiada.” Kata dokter yang membius riko
“baik dok saya akan berusaha” jawab fandy

Keesokan harinya aku pun tersadar dan aku ingin ke toilet. Tapi, aku merasa aneh dengan anggota tubuhku. Aku merasakan ada yang kurang saat aku hendak turun dari tempat tidurku. Aku mencoba membuka selimutku dan air mata ini kembali bercucuran ketika aku harus kembali menerima kenyataan bahwa aku harus kehilangan kaki kiriku. Aku benar-benar kehilangan harapan, tujuan hidup dan gairah hidup. Saat ini aku benar-benar menggap semuanya berakhir dan diriku tidak akan berguna kembali. Menurutku inilah akhir dari perjalanan kehidupanku. Karena diselimuti peraasaan yang gelap aku tanpa fikir panjang mengambil pisau buah yang ada di sampingku dan berusaha menggoreskan ke urat nadiku. Namun, tiba-tiba saja fandy terbangun dan dengan sigap dia mengambil pisau yang ada di tanganku.

“kenapa fan.. kenapa fan… lo gagal kan ini? Apa peduli lo fan.. gua udah gak ada guna lagi fan.. balikin pisau gua fan.” Teriakku sambil mengapai pisau yang ada ditangan fandy
“gak rik… lu gak boleh melakukan ini.. Tuhan sangat menyayangi lu. Dan yang boleh mengambil nyawalu hanya Tuhan” jawab fandy
“kasih lu bilang fan? Setelah ini terjadi dalam hidup gua lu bilang Tuhan mengasihi gua? Perkataan basi fan” jawabku
“benar rik… saat lu diberi kesempatan hidup yang harusnya lu udah sama dengan bibi dan paman lu itu pertanda Tuhan sangat mengasihi lu. Jangan anggap apa yang terjadi dalam kehidupan lu ini sebagai becanda tapi sebagai sesuatu yang indah ingin Tuhan siapkan buat lu. Lu harusnya bahagia rik bagaimana mereka sudah berada di surga sana artinya mereka sudah hidup bahagia selamanya” jelas fandy sambil merangku aku
“fan… sekarang gua gak ngerti siapa lagi yang gua punya dan siapa lagi yang akan nerima gua dengan keadaan seperti ini, gua benar-benar hancur fan… gua udah gak punya masa depan lagi dan mengapa Tuhan tidak pernah menjawab seruanku ini” tanyaku sambil meneteskan air mata
“rik ada saatnya Tuhan akan berdiam dan ada saatnya Tuhan akan berbicara tapi satu hal yang harus lu tau dari sebelum lu ada dan hingga saat lu ada sekarang ini Tuhan selalu baik. Jadikan ini pelajaran yang berharga buat lu. Luka yang sedang lu alami hari ini adalah modal yang berhaga yang dapat lu pergunakan untuk mengobati orang-orang yang mungkin mengalami seperti lu. selalulah mengucap syukur atas hiduplu merasakan atau tidak merasakan Tuhan. Tuhan tetap ada dan hadir bersama lu. Lu juga punya gue.. gue selalu ada buat sahabat terbaik gue ini” jelas fandy sambil meyakinkanku
“terimakasih ya fan… lu emang selalu bisa diandalkan tapi gua butuh proses untuk menerima kenyataan ini” jawabku

Dua minggu kemudian aku pun diijini untuk keluar dari rumah sakit tapi tetap saja perasaan minder ini selalu saja menghantui fikiranku. Aku malu sekarang karena aku tidak memiliki anggota tubuh yang lengkap tapi aku bersyukur karena aku memiliki sahabat yang luar biasa seperti fandy. Dia selalu memotivasi aku dan kalimat ini tidak pernah lepas dari ingatanku “kebahagiaan terbesar bukan ketika lu menjadi kebanggan banyak orang tetapi ketika lu bangga terhadap dirilu sendiri”.

Hari ini adalah hari minggu itu tandanya kami harus bersiap-siap ke gereja, aku benar-benar merindukan momen ini karena aku sadar aku sudah sangat jauh dari Tuhan karena kesibukanku dulu dan karena kecelakaan ini. Saat kami memuji dan menyembah aku merasakan hal yang biasa-biasa saja tapi aku tertegun dan menangis saat pendeta tersebut bercerita tentang sebuah kisah di alkitab tentang seorang anak yang buta sejak lahirnya. Dan murid-murid Yesus menanyakan “dosa siapakah yang harus ditanggungnya rabi? Dosa dirinya atau dosa orangtuanya?” tapi Yesus menjawab bukan dosa dirinya maupun dosa orang tuanya tapi kebesaran Tuhan harus dinyatakan atas anak tersebut. Aku tidak mempedulukan di sekelilingku lagi yang aku tau sekarang aku mau minta ampun kepada Tuhan karena aku selama ini lupa bersyukur dan selalu menyesali keadaanku.
“maafkan aku Tuhan… aku selalu saja memprotes dan memperotes rencanamu dalam kehidupanku. Aku selalu saja bersungut-sungut, mulai sekarang aku akan bersyukur dan bersukacita atas keadaan yang terjadi. Apapun yang terjadi Engkau selalu baik” kataku
“maukah Engkau menjadi hambaKu dan saksi-Ku. Engkau akan ku jadikan orang yang luar biasa yang bisa memberkati banyak anak-anak yang mengalami sepertimu” suara yang tiba-tiba saja datang dan sekarang aku mengenali bahwa ini adalah suara Tuhan.
“aku mau Tuhan, bawalah aku pada kehendakMu, aku siap..” jawabku dengan yakin

Saat aku tersadar aku menyedari di gereja hanya ada aku, fandy dan juga pendetaku. Aku pun menceritakan apa yang terjadi kepada mereka. Mendengar cerita tersebut mereka semua bersukacita dan saat itu aku memutuskan untuk menjadi seorang pendeta. Dan inilah hidup, dalam hidup ada saatnya kita mengais, ada saatnya kita tertawa, ada saatnya kita berduka dan ada saatnya kita terluka. Tapi pertanyaanya apakah kita mau terus menangis? Apakah kita mau terus terluka? Apakah kita mau terus terpuruk? Itu adalah pilihan bagi kita. Ada banyak alasan yang bisa membuat kita tersenyum, ada banyak alasan yang bisa membuat kita tertawa dan adan banyak alasan yang dapat membuat kita bahagia. Apapun pilihanmu yang pasti Tuhan selalu baik dahulu sekarang dan sampai selama-lamanya. Tuhan tidak pernah merancangkan sesuatu hal yang buruk dalam kehidupanmu rencana Dia selalu indah dan sangat indah bagi kehidupanmu karena Dia sangat mengasihi dan menyayangi engkau karena engkau adalah ciptaannya yang paling berharga. Untuk itu bersyukurlah atas apa yang terjadi dalam hidupmu baik itu suka maupun duka. Yang kutau sekarang adalah luka yang pernah aku alami adalah modal yang berhaga untuk megobati orang-orang yang sedang mengalami hal sepertiku dan TENTUNYA TUHAN INGIN BEKERJA JUGA LEWAT HIDUPMU. Maka dari itu tetaplah mengucap syukur dan tetap optimistis dalam menjalani hidup ini.

Cerpen Karangan: Gleam Pratama
Facebook: Gleam Pratama Sihombing Part Ii

Cerpen Hidup Adalah Pilihan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Izinkan Aku Mencintainya

Oleh:
Malam ini rasanya mataku begitu sulit untuk dipejamkan. Aku tak tahu apa sebabnya. Mungkin karena aku sudah tak sabar menantikan hari esok dan menyongsong Natal untuk yang kesekian kalinya

No Worry

Oleh:
“Roh Kudus, hadir disini. Tak perlu ku khawatir akan apapun. Ketika aku melangkah, berbicara, berpikir akan sesuatu, aku mau semua Roh Kudus yang menuntun. Amin.” Doa di pagi buta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *